• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITERIA UNTUK MENENTUKAN DIREKTUR TELAH

KRITERIA UNTUK MENENTUKAN DIREKTUR TELAH

MELAKUKAN KESALAHAN DALAM PENGELOLAAN

PERSEROAN YANG MERUGIKAN PEMEGANG

SAHAM MINORITAS

Pada prinsipnya direksi bertanggungjawab secara pribadi tidak hanya terhadap tindakan yang dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai pribadi, tetapi juga dalam hal-hal tertentu, terhadap perbuatan yang dilakukannya dalam kedudukannya sebagai direktur perusahaan. Bahkan dalam kedudukannya sebagai direktur, dalam hal-hal tertentu direktur bertanggungjawab tidak hanya atas tindakan yang dilakukannya sendiri melainkan juga tindakan direktur lainnya, bahkan sampai batas-batas tertentu direktur bertanggungjawab juga atas tindakan orang lain yang bukan direktur yang dilakukan untuk dan atas nama perseroan.

Setiap konsekuensi yuridis atas tindakan perseroan, baik atau buruk, akan dipikul sendiri oleh perseroan tersebut. Namun demikian, undang-undang mengenal juga beberapa pengecualian dimana walaupun itu merupakan tindakan perseroan, namun tidak tertutup kemungkinan bukannya perseroan yang bertanggung jawab akan tetapi pihak direktur, baik secara pribadi maupun secara renteng.108

Untuk dapat menentukan dapat tidaknya seorang atau beberapa orang direktur dikatakan telah melakukan kesalahan dalam mengelola perusahaan, maka dapat dilihat dari doktrin-doktrin berikut.

108

3. Duty of Loyality

Direksi adalah trustee bagi perseroan yang akan bertindak mewakili Perseroan dalam segala macam tindakan hukumnya dilakukan dengan itikad baik untuk mencapai tujuan dan kepentingan Perseroan (duty of loyalty and good faith). Tugas dan tanggung jawab ini merupakan tugas dan tanggung jawab Direksi sebagai suatu organ, yang merupakan tanggung jawab kolegial sesama anggota Direksi terhadap Perseroan.109 Direksi tidak sendiri-sendiri bertanggung jawab kepada Perseroan. Ini

berarti setiap tindakan yang diambil atau dilakukan oleh salah satu atau lebih anggota Direksi akan mengikat anggota direksi lainnya. Namun ini tidak berarti tidak diperkenankan terjadinya pembagian tugas diantara anggota Direksi Perseroan, demi pengurusan Perseroan yang efisien. 110 Philip Lipton dan Abraham Herzberg111

membagi duty of loyalty and good faith ke dalam, the duty:

a. to act bona fide in the interest of company; b. to exercise power for their proper purpose; c. to retain their discrenatory power;

d. to avoid conflicts of interst.

a) to act bona fide in the interest of company

109

Fred BG Tumbuan, Op. Cit, h. 11. Ketentuan mengenai tanggung jawab kolegial ini dapat dilihat dalam Penjelasan Pasal 83 ayat (1) UUPT.

110

Ibid. Baca juga rumusan Pasal 97 ayat (4) UUPT.

111

Philip Lipton ang Abraham Herzberg, Understanding Company Law, (Brisbane: The Law Book Company Ltd., 1992), h. 297.

Duty to act bona fide in the interest of the company ini mencerminkan

kewajiban Direksi untuk melakukan kepengurusan Perseroan hanya untuk kepentingan Perseroan semata-mata. Untuk menentukan sampai seberapa jauh suatu tindakan yang diambil oleh Direksi Perseroan telah dilakukan untuk kepentingan Perseroan, maka hal tersebut harus dipulangkan kembali kepada Direksi Perseroan. Direksi Perseroan harus mengetahui dan memiliki penilaian sendiri tentang tindakan yang menurut pertimbangannya adalah sesuatu yang harus atau tidak dilakukannya untuk kepentingan Perseroan. Suatu putusan yang dikeluarkan oleh Lord Greene MR dalam Smith and Fawcett Ltd (1942) 1 All ER 542 telah mengambil pertimbangan bahwa “They must exercise their discretion

bona fide in what they consider – not what the court may consider – to be in the interest of the company, and not for any collateral purposes”. 112 Dalam hal demikian, maka berarti Direksi harus semata-mata memperhatikan kepentingan dari Perseroan sebagai satu kesatuan dan bukan hanya untuk kepentingan masing- masing pemegang saham.113

Dengan berkembangnya kegiatan dunia usaha yang ditandai dengan semakin banyaknya Chairman perusahaan-perusahaan terkemuka yang menyatakan bahwa “this company recognizes that it has duties to its members,

employees, consumers of its products and to the nation”,114 maka nilai-nilai

112 Ibid. 113 Ibid, h. 298. 114

kepentingan perusahaanpun mulai bergeser menjadi lebih luas hingga meliputi seluruh pihak-pihak yang terkait dengan perseroan, yang antara lain terdiri dari :

a. pemegang saham (shareholders); b. karyawan atau pegawai (employees);

c. managers; d. pelanggan (customers); e. pemasok (suppliers); f. kreditor (debtholders); g. masyarakat (communities); h. pemerintah (government).115

b) Duty to Exercise Power for Power Purposes

Direksi adalah satu-satunya organ dalam Perseroan yang diberikan hak dan wewenang untuk bertindak untuk dan atas nama Perseroan. Ini membawa konskuensi bahwa jalannya Perseroan, termasuk pengelolaan harta kekayaan Perseroan bergantung sepenuhnya pada Direksi Perseroan. Artinya tugas pengurusan Perseroan oleh Direksi juga meliputi tugas pengelolaan harta kekayaan Perseroan. 116 Sebagai trustee bagi Perseroan, maka sudah selayaknya

jika dalam melakukan tindakan atau perbuatan yang mengatasnamakan kepentingan Perseroan, Direksi harus melakukannya secara benar dan tidak memihak untuk kepentingan manapun juga. Direksi diberikan kepercayaan oleh seluruh pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham untuk menjadi organ Perseroan yang akan bekerja untuk kepentingan Perseroan, serta kepentingan seluruh pemegang sahan yang mengangkat dan

115

Arnoldo C. Hax and Nicolas S. Majluf, The Strategy Concept and Process-A Pragmatic Approach (Ney Jersey: Prentice Hall, 1991), h. 5.

116

mempercayakannya sebagai satu-satunya organ yanmengurus dan mengelola Perseroan. Setelah Rapat Umum Pemegang Saham menyetujui pengangkatan Direksi Perseroan, maka (seluruh) pemegang saham tidak lagi berhubungan dengan Direksi Perseroan, dan oleh karena itu maka Direksi tidak dapat mempergunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya tersebut untuk dipergunakan dalam kapasitasnya, untuk merugikan kepentingan satu atau lebih pemegang saham tertentu dalam Perseroan, meskipun tindakan yang dilakukannya tersebut baik bagi Perseroan, menurut pertimbangannya. 117

c) Duty to retain discretion

Direksi oleh Perseroan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham telah diberikan kewenangan fiduciary untuk bertindak seluas-luasnya (dalam koridor Undang-Undang dari Anggaran Dasar) untuk kepentingan Perseroan, dan oleh karena itu maka tidak selayaknyalah jika Direksi kemudian melakukan pembatasan dini, atau membuat suatu perjanjian yang akan mengekang kebebasan mereka untuk bertindak untuk tujuan dan kepentingan Perseroan. Dalam hal ini tidak berarti Direksi tidak boleh mengadakan, membuat atau menandatangani suatu perjanjian pendahuluan (seperti misalnya perjanjian pengikatan jual-beli),

117

Lipton and Herzberg, Op. Cit., h. 306, dimana dikatakan bahwa “The constitution of limited company normally provides for Directors, with powers of management, and shareholders, with defined voting powers having power to appoint the director, and to take, in general meeting, by majority votes, decision on matters not reserved for management. Just it is established that directors, within their management powers, may take decisions against the wishes of the majority shareholders, and indeed that the majority of the shareholders cannot control them ini the exercise of this powers whil;e they remain in office … so it must be unconstitutional for directors to use their fiduciary powers over the shares in the company purely for the purpose of destroying an existing majority, or creating a new majority which did not previously exist …”

namun sebelum perjanjian tersebut diadakan, dibuat atau ditandatangani Direksi harus memiliki suatu pandangan hidup, sikap, dan kepastian bahwa tindakan yang dilakukan tersebut akan memberikan manfaat bagi kepentingan Perseroan.118

d) Duty to avoid conflict of interest

Dalam konsep fiduciary duty ini, Direksi memiliki kewajiban untuk menghindari diadakan, dibuat, atau ditandatanganinya perjanjian,atau dilakukannya perbuatan yang menempatkan Direksi tersebut dalam suatu keadaan, yang tidak memungkinkan dirinya untuk bertindak secara wajar demi tujuan dan kepentingan Perseroan. Kewajiban ini bertujuan untuk mencegah Direksi secara tidak layak memperoleh keuntungan dari Perseroan, yang mengangkat dirinya menjadi Direksi. Lebih jauh lagi kewajiban ini sebenarnya melarang dengan mencegah Direksi untuk menempatkan dirinya pada suatu keadaan yang memungkinkan Direksi bertindak untuk kepentingan mereka sendiri, pada saat yang bersamaan mereka harus bertindak mewakili untuk dan atas nama Perseroan. 119

Jadi sesungguhnya kewajiban tersebut bukan untuk melakukan penghukuman atas terjadinya suatu tindakan yang mengandung unsur benturan

118

Philip Lipton and Abraham Herzberg, Op. Cit., h.314-315.

119

kepentingan tersebut dilakukan, dilaksanakan atau diambil. Dalam hal ini perlu diperhatikan bawa “the duty is breached whether or not they had fraudulent

motives”. 120

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, salah satu contoh dari beberapa perbuatan yang tidak dilandasi dengan itikad baik, dikatakan bahwa tindakan anggota Direksi yang mengakibatkan perseroan membeli barang atau properties dari pihak lain dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga wajarnya, sedangkan Direksi memperoleh keuntungan pribadi dari transaksi itu. 121

4. Duty of Care

Tugas mempedulikan (duty of care) yang diharapkan dari direksi adalah

duty of care sebagaimana dimaksud dalam hukum tentang perbuatan melawan

hukum (onrechtmatige daad), dalam arti direksi diharapkan untuk berbuat secara hati-hati sehingga terhindar dari perbuatan kelalaian (negligence) yang merugikan pihak lain.122

Menurut Pasal 97 atat (1) UUPT, direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Sejalan dengan ketentuan Pasal 97 UUPT, oleh Pasal 97 ayat (2) UUPT ditentukan bahwa setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas

120

Ibid.

121

Sutan Remy Sjahdeni, Op. Cit., h. 423-424.

122

untuk kepentingan dan usaha perseroan. Dengan kata lain, “tugas dan kewajiban direksi yang ditentukan dalam Pasal 97 ayat (1) UUPT, yaitu melakukan kepengurusan perseroan, dan Pasal 97 ayat (2) yaitu mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan, harus dijalankan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab”.123

Berdasarkan ketentuan Pasal 97 UUPT, terdapat 2 (dua) unsur pokok yang harus diperhatikan oleh direksi perseroan dalam menjalankan tugas kepengurusan perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) UUPT yaitu melakukan kepengurusan perseroan, dan Pasal 98 UUPT yaitu mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Unsur-unsur tersebut adalah kepentingan dan tujuan/usaha perseroan dan itikad baik dan penuh tanggung jawab. “Kedua unsur tersebut harus dipenuhi secara kumulatif dan bukan alternatif, artinya harus dipenuhi kedua-duanya”.124

Apa yang dimaksud dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab tersebut, dalam UUPT baik dari pasal-pasalnya maupun penjelasannya tidak memberikan jabaran lebih jauh mengenai maksud atau kandungan dari konsep itikad baik dan penuh tanggung jawab itu. Namun di negara-negara yang menganut common law system acuan yang digunakan adalah standard of care atau standar kehati-hatian.

123

Sutan Remy Sjahdeini, 2002, Hukum Kepailitan, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, hal. 425

124

“Apabila direksi telah bersikap dan bertindak melanggar standard of care, maka direksi tersebut dianggap telah melanggar duty of care-nya”.125

Direksi sebagai organ kepercayaan perseroan diharapkan dapat menjalankan Perseroan hingga memberikan keuntungan bagi Perseroan. Direksi diberikan fleksibilitas dalam bertindak untuk melaksankan fungsi kegiatan manajemen, dengan mengambil resiko dan peluang di masa depan.126

Beberapa prinsip hukum yang terbit dari adanya duty of care dari direksi adalah sebagai berikut:

a. Agar terpenuhinya unsur duty of care, maka terhadap direksi berlaku standar kepedulian (standard of care) sebagai berikut:

a) Selalu beritikad baik.

Contoh dari perbuatan-perbuatan yang tidak dilandasi dengan itikad baik itu adalah :

1. Perseroan memberi barang atau properti dari pihak lain dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang wajar, atau 2. Perseroan menjual harta kekayaan perseroan kepada pihak lain

dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga wajarnya. Sedangkan direksi memeproleh keuntungan pribadi dari transaksi itu, atau

3. Apabila direksi dari suatu lembaga kredit, seperti misalnya bank atau perusahaan pembiayaan (multi finance company), telah memberikan kredit kepada pihak lain dengan tidak melakukan analisis yang baik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dimana sekalipun permohonan kredit itu sebenarnya tidak layak (fesible), tetapi direksi bank atau perusahaan pembiayaan tersebut memutuskan untuk memebrikan kredit yang dimohon oleh

125

Ibid, h. 426-427

126

nasabah dan ternyata kemudian kredit menjadi macet yang sangat merugikan bank atau lembaga pembiayaan itu.

4. Seorang anggota direksi atau para anggota direksi dapat pula memperoleh manfaat pribadi dari jabatannya apabila mereka memanfaatkan kesempatan transaksi yang seyogianya dilakukan dengan dan untuk kepentingan perseroan yang dipimpinnya, tetapi transaksi itu disalurkan kepada perseroan lain dimana anggota direksi yang bersangkutan mempunyai kepentingan.

b) Tugas-tugas dilakukan dengan kepeduliannya seperti yang di- lakukan oleh orang biasa yang berhati-hati (ordinarily prudent

person) dalam posisi dan situasi yang sama, atau seperti yang

dilakukan oleh orang tersebut untuk kepentingan bisnis pribadinya. c) Tugas-tugas dilakukan dengan cara yang dipercayanya secara logis

(reasonably believe) merupakan kepentingan yang terbaik (best interest) dari perseroan.

b. Secara hukum, seorang direktur perseroan tidak akan bertanggung jawab semata-mata atas salah dalam mengambil keputusan (mere

errors of judgement). Bahkan, asalkan dia beritikad baik dan cukup

berhati-hati, keputusan yang salah tidak dapat dibebankan kepada direksi, sungguhpun kesalahan tersebut akibat kurang pengalaman atau kurang komprehensif dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, suatu honest mistake yang dilakukan oleh direksi masih dapat ditoleransi oleh hukum. Bahkan, hakim tidak diperkenankan untuk melakukan penilaian bisnis yang berbentuk second guess terhadap keputusan direksi. Hal ini sesuai pula dengan prinsip-prinsip hukum yang terdapat dalam "teori keputusan bisnis" (business judgement rule). c. Secara hukum, seorang direktur tidak diharapkan tingkat keahlian

(degree of skill) kecuali hanya setingkat yang dapat diharapkan secara wajar dari orang yang sama pengetahuan dan sama pengalaman dengannya, atau yang dalam bahasa hukum populer dengan istilah

degree of skill that may reasonably be expected from a person of his knowledge and experience.

d. Terhadap tugas-tugas direksi yang dapat didelegasikan kepada bawahannya, maka berlaku asumsi hukum bahwa pihak bawahan telah melakukan tugasnya secara jujur (kecuali ada kecurigaan sebaliknya). e. Direksi akan bertanggung jawab secara hukum manakala dia gagal

dalam mengarahkan (failure to direct) bawahannya dan jalannya perusahaan.

f. Direksi akan bertanggung jawab secara hukum manakala dia

tentangan dengan hukum, sungguhpun hal tersebut semata-mata untuk kepentingan perseroan yang dipimpinnya.127

Dalam teori ilmu hukum perseroan, prinsip kepedulian (due care) dari direksi terhadap perseroan memiliki 2 (dua) persyaratan sebagai berikut:

a) Syarat prosedural

Syarat prosedural yang dipersyaratkan oleh hukum kepada direksi dari suatu perseroan adalah bahwa seorang direksi haruslah selalu menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh kepada jalannya perseroan. Di samping itu, dia juga harus selalu mendapatkan informasi yang lengkap

(well informed) terhadap perseroannya.

b) Syarat substantif

Syarat substantif yang terbit dari prinsip kepedulian (due care) terhadap seorang direktur perusahaan adalah bahwa dalam mengambil keputusan perseroan, pihak direktur haruslah dilakukannya berdasarkan pertimbangan yang rasional. Akan tetapi, standar rasional tersebut tidak berarti bahwa direksi harus mengambil keputusan yang benar-benar optimal. Yang dibutuhkan bahwa munculnya (appearance) dari keputusan tersebut terlihat sebagai respon yang wajar terhadap situasi yang ada, yang oleh hukum dilarang adalah manakala pihak direksi bertindak begitu sangat tidak bijaksana, sangat tidak rasional, dan di luar diskresi direksi yang dibenarkan oleh hukum.128

Keahlian yang diharapkan dari Direksi dapat dilihat dari pendapat Neville J. dalam re Brazillian Rubber Plantation & Estates Ltd (911) 1 Ch. 425 sebagai

“reasonable care to be measured by the care an ordinary man might be expected to take in the circumstances on his own behalf”. 129 Selanjutnya dikatakan juga bahwa:

130

127

Munir Fuady, II, Op cit, h. 50-51

128

Ibid, h. 49-50

129

Sutan Remy Sjahdeini, Op cit, h. 332.

130

“whether of not the directors exceede the powers entrusted to them or whether if they did not so exceed their powers they were cognizant of circumstances of such a character, so plain, so manifest, and so simple of appreciation, that no man with any ordinary degree of prudence, acting on their own behalf, would have entered into such a transaction as they entered into ?”.

Tidak semua orang diharapkan dan dihadapkan pada keadaan untuk memiliki suatu standar keahlian yang sama antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam beberapa hal, seorang diangkat sebagai anggota Direksi karena keahliannya dalam bidang tertentu. Misalnya seorang akuntan diangkat sebagai anggota Direksi karena keahliannya dalam bidang akuntansi atau keuangan. Dalam hal ini, standar yang diharapkan dari anggota Direksi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan anggota Direksi lainnya, yang tidak memiliki kemampuan dan keahlian yang sama. Dalam hal demikian maka anggota Direksi tersebut patut diharapkan dapat bertindak dan melakukan perbuatan yang dapat menghasilkan keuntungan bagi perseroan dari keahliannya tersebut.131 Dalam beberapa kejadian, seorang anggota Direksi dapat

dianggap telah melanggar duty of care, jika dalam menghadapi suatu persoalan yang kompleks dan rumit, ia tidak mencari pendapat ahli untuk memberikan masukan dalam mengambil keputusan terhadap persoalan yang dihadapinya. 132 Hal ini adalah

konsekuensi logis dari prinsip duty of care tersebut.

Direksi dianggap telah memenuhi kewajibannya menjalankan prinsip duty of

care apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

131

Ibid, h. 333.

132

1) membuat keputusan bisnis yang tidak ada unsur kepentingan pribadi, berdasarkan informasi yang mereka percaya didasari oleh keadaan yang tepat, dan

2) secara rasional mempercayai bahwa keputusan bisnis tersebut dibuat untuk kepentingan terbaik bagi perusahaan.133

Salah satu tolok ukur memutuskan apakah suatu kerugian disebabkan oleh keputusan bisnis (business judgement) tidak tepat sehingga dapat menghindar dari pelanggaran prinsip duty of care adalah: 134

1) Memiliki informasi tentang masalah yang akan diputuskan dan percaya bahwa informasi tersebut benar;

2) Tidak memiliki kepentingan dengan keputusan dan memutuskan dengan itikad baik;

3) Memiliki dasar rasional untuk mempercayai bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi perusahaan.

Di negara Amerika Serikat yang menganut common of law system acuan yang dipakai adalah standar of care atau “standar kehati-hatian”. Apabila Direksi telah bersikap dan bertindak melanggar standar of care, maka Direksi tersebut dianggap telah melanggar duty of carenya. Sebagai contoh dari “standar kehati-hatian” itu antara lain sebagai berikut : 135

1) Anggota Direksi tidak boleh melakukan kegiatan-kegiatan atas beban biaya perseroan, apabila tidak memberikan sama sekali, atau memberikan

133

Heidi Mandanis Schooner, “Fiduciary Duties” Demanding Cousin: Bank Director Liability for Unsafe or Unsound Banking Practices, “George Washington Law Review”, (Januari 1995), h. 180.

134

Detlev F. Vagts, Basic Corporation Law Materials-cases Text, (New York: Th Foundation Press, Inc. 1989), h. 212.

135

sangat kecil manfaat kepada Perseroan dibandingkan dengan manfaat pribadi yang diperoleh oleh anggota Direksi yang bersangkutan. Namun demikian, hal ini dapat dikecualikan, apabila dilakukan atas beban biaya representasi jabatan dari anggota Direksi yang bersangkutan berdasarkan keputusan RUPS.

2) Anggota Direksi tidak boleh menjadi pesaing bagi perseroan yang dipimpinnya, misalnya dengan mengambil sendiri kesempatan bisnis yang seyogyanya disalurkan kepada dan dilakukan oleh perseroan yang dipimpinnya tetapi kesempatan bisnis itu disalurkan kepada perseroan lain yang di dalamnya terdapat kepentingan pribadi anggota Direksi itu.

3) Anggota Direksi harus menolak untuk mengambil keputusan mengenai sesuatu hal yang diketahuinya atau sepatutnya diketahui akan dapat mengakibatkan Perseroan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku sebagai Perseroan terancam dikenai sanksi oleh otoritas yang berwenang, misalnya dicabut izin usahanya, atau digugat oleh pihak lain. 4) Anggota Direksi dengan sengaja atau karena kelalaiannya telah

melakukan atau telah tidak cukup melakukan upaya atau tindakan yang perlu diambil untuk mencegah timbulnya kerugian bagi Perseroan.

5) Anggota Direksi dengan sengaja atau karena kelalaiannya telah melakukan atau telah tidak cukup melakukan upaya atau tindakan yang perlu diambil untuk meningkatkan keuntungan Perseroan.

Dalam sistem hukum civil law, tanggung jawab tidak terlalu didasarkan pada

standard of care tertentu, tetapi semata-mata didasari atas hubungan pemberian

kuasa, yakni seberapa jauh kekuasaan diberikan oleh anggaran dasarnya. Dapat dikatakan juga, jika dalam common of law system basis tanggung jawabnya merupakan “kaedah hukum” sedangkan menurut sistem hukum civil law basisnya adalah “perjanjian” diantara pihak. Hanya saja terdapat restriksi tertentu terhadap “kebebasan” dalam melakukan perjanjian tersebut terhubung dengan adanya ketentuan hukum perseroan dalam UUPT No. 40 Tahun 2007. 136

136

Di Amerika Serikat standar bagi Direksi yaitu melakukan “duty of care” terhadap perusahaan dapat dilihat klarifikasinya misalnya dalam RMBCA di mana tugas-tugas Direksi harus dilakukan: 137

1) dengan itikad baik

2) dengan kehati-hatian dengan mana manusia biasa yang berhati-hati

(ordinarily prudent person) pada posisi yang sama akan melakukannya

pada situasi yang sama.

3) dengan cara-cara yang diyakininya merupakan kepentingan terbaik (best

interest) bagi perusahaan.

Hukum civil law yang pada prinsipnya tidak terlalu menonjolkan standar tertentu, tetapi lebih mendasarinya pada perjanjian pemberian kuasa di antara para pihak, yang tercermin dalam Anggaran Dasar perusahaan. Karena itu seorang Direksi haruslah melakukan tugasnya sesuai dengan ketentuan dalam Anggaran Dasarnya. Apabila dia melakukan tindakan di luar dan atau tidak sesuai dengan batas kewenangan yang diberikan kepadanya oleh Anggaran Dasar, maka dia pribadi akan

Dokumen terkait