BAB II KAJIAN PUSTAKA
TELAAH MATAN HADIS
E. Kritik Matan Hadis tentang Keabsahan Nikah Tanpa Wal
Kata kritik berarti upaya untuk memisahkan antara apa yang benar dan apa yang salah, yang terdapat dalam materi (matan) hadis. Kritik matan sebenarnya telah dilaksanakan pada masa hidup Nabi SAW. Akan tetapi kritik matan pada masa itu hanya sebatas pergi menemui Nabi SAW untuk membuktikan apakah sesuatu yang dilaporkan benar-benar telah disabdakan, ditetapkan, atau dilakukan oleh beliau (Azami, 196:82).
Upaya kritik matan hadis merupakan upaya yang harus dilakukan oleh seorang peneliti hadis. Kritik matan akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai materi hadis, bahkan akan menghasilkan pemahaman yang bertolak belakang dengan pemahaman sebelumnya.
Sehingga hal ini berakibat hukum yang berbeda dengan hukum sebelum dilakukan kritik matan.
Sebelum melakukan pengkritikan, terlebih dahulu penulis akan mencantumkan matan hadis tentang keabsahan nikah tanpa wali. Matan hadis dimaksud adalah sebagai berikut:
ﻲ ﺒ ﻨ ﻟ ا ﻰ ﻟ إ ة ﺎ ﺘ ﻓ ت ء ﺎ ﺟ
ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺻ
ﺖ ﻟ ﺎ ﻘ ﻓ
ﻲ ﻨ ﺟ و ز ﻲ ﺑ أ ن إ
ﻊﻨﺻ ﺎﻣ تﺰﺟأ ﺪﻗ ﺖﻟﺎﻘﻓ ﺎﮭﯿﻟإ ﺮﻣﻷا ﻞﻌﺠﻓ لﺎﻗ ﮫﺘﺴﯿﺴﺧ ﻲﺑ ﻊﻓﺮﯿﻟ ﮫﯿﺧأ ﻦﺑا
ﻦﻣ ءﺎﺑﻵا ﻰﻟإ ﺲﯿﻟ نأ ءﺎﺴﻨﻟا ﻢﻠﻌﺗ نأ تدرأ ﻦﻜﻟو ﻲﺑأ
ء ﻲ ﺷ ﺮ ﻣ ﻷ ا
Artinya: ”telah datang seorang gadis kepada Nabi SAW, lalu gadis
berkata : “sesungguhnya ayahku telah mengawinkan aku dengan anak
laki-laki saudaranya agar hilang kehinaannya sebab aku”. Maka
Rasulullah SAW menyerahkan perkara tersebut kepada kemauan si gadis.
Gadis berkata : “aku benarkan apa yang diperbuat ayahku, akan tetapi
aku ingin kaum wanita mengetahui bahwasanya tiada kuasa apapun bagi para bapak dalam perkara ini”.
Pada ungkapan si gadis yang mengatakan : ” sesungguhnya ayahku telah mengawinkan aku dengan anak laki-laki saudaranya” sebenarnya merupakan ungkapan yang telah jelas makna dan maksudnya tanpa membutuhkan pemahaman secara mendalam. Ungkapan tersebut jelas-jelas menyiratkan sebuah perkawinan yang memakai wali, yaitu seorang bapak bertindak sebagai wali nikah bagi anak gadisnya sendiri.
Materi hadis yang dijadikan dasar hukum oleh orang yang berpendapat bahwa nikah tanpa wali itu adalah sah secara mutlak, baik bagi wanita yang masih gadis maupun sudah janda merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh
pemahaman mereka sendiri. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Rasulullah SAW menyerahkan urusan kepada kemauan si gadis disebabkan adanya illat yang berupa perkawinan secara terpaksa, sesuai dengan bunyi redaksinya, “ agar supaya hilang kehinaannya sebab saya, sedangkan saya tidak menyukainya “. Seharusnya sebuah perkawinan itu didasari atas rasa saling cinta dan saling sayang dari kedua belah pihak tanpa ada unsur keterpaksaan.
Dengan demikian, redaksi hadis yang berbunyi, “ bahwasanya tidak ada kuasa apapun bagi para bapak dalam perkara ini “ bukanlah menyiratkan seorang bapak tidak mempunyai kekuasaan terhadap urusan perkawinan anaknya, termasuk berwenang menjadi wali nikah. Adapun yang dimaksud “tidak mempunyai kekuasaan”, adalah seorang bapak tidak mempunyai kewenangan untuk mengawinkan dengan pasangan yang tidak disukai oleh anak gadisnya. Seorang bapak tidak boleh memaksakan kehendak anaknya dalam urusan apapun, apa lagi dalam masalah perkawinan. Bukankah perkawinan ibarat bahtera yang akan mengarungi samudera kehidupan untuk menggapai kebahagiaan hidup yang kekal. Bagaimana mungkin sepasang suami istri akan bersama-sama menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia jika mereka tidak saling mencintai.
Merupakan kekeliruan yang berakibat sangat fatal jika ungkapan tersebut diartikan bahwa para bapak tidak memiliki kekuasaan apapun dalam perkawinan anaknya. Karena hal ini berarti seorang ayah tidak boleh campur tangan dalam urusan perkawinan anak gadisnya, tidak berhak menjadi wali
nikah, dan tidak berhak sedikit pun untuk menentukan calon pasangan hidup anak gadisnya.
Fenomena masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat muslim mewajibkan adanya wali nikah dalam setiap perkawinan. Masyarakat muslim di Indonesia memandang wali nikah merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi ketika melangsungkan akad nikah. Hukum Islam yang berlaku di Indonesia, dalam hal ini kompilasi hukum Islam (KHI) mengatur masalah wali nikah secara jelas dan tegas pada bab IV bagian ke tiga, pasal 19 sampai dengan pasal 23. Pasal 19 KHI menyebutkan bahwa wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun nikah yang harus dipenuhi oleh calon mempelai wanita. Adapun pasal 20, 21, 22 dan 23 KHI mengatur tentang orang yang berhak menjadi wali, sayarat sah wali, dan urutan wali dalam perkawinan.
Seandainya hukum keabsahan nikah tanpa wali diterapkan di dalam masyarakat Indonesia, tentu hal ini akan menimbulkan bencana di dalam masalah hukum. Hukum keabsahan nikah tanpa wali sudah pasti ditolak bahkan mendapat perlawanan dari umat muslim di Indonesia karena hal ini bertentangan dengan dasar hukum yang mereka gunakan, yakni KHI. Andaipun hokum keabsahan nikah tanpa wali diperbolehkan di negara kita, tentu akan menimbulkan perseteruan antara anak dan orang tua. Para bapak akan merasa tertindas, terhina, dan kehilangan martabatnya sebagai orang tua karena mereka tidak diperkenankan campur tangan dalam masalah perkawinan anak gadisnya. Kaum wanita akan semakin brutal karena mereka punya kebebasan tanpa batas untuk mengurus dirinya sendiri. Mereka bebas kawin-
cerai dengan lelaki yang mereka suka, karena hukum keabsahan nikah tanpa wali memberi kesempatan dan kebebasan dalam masalah perkawinan tanpa campur tangan dan pengarahan dari pihak keluarga dan orang tua.
Hukum keabsahan nikah tanpa wali akan memberi manfaat dan keuntungan yang besar kepada kaum lelaki. Seorang suami bisa melakukan kawin cerai sesuka hati. Jika suami telah bosan terhadap istrinya, atau sebaliknya seorang istri telah bosan terhadap suaminya, dengan mudah ia melakukan cerai dan kawin lagi dengan pasangan yang baru. Tidak akan ada istilah perselingkuhan jika seorang laki-laki yang sudah beristri kemudian menikahi wanita lainnya, dengan mudah ia bisa menikahinya. Sungguh manusia tidak berbeda dengan binatang jika hanya menuruti kemauan hawa nafsunya, yang bisa kawin kapan saja dan dengan siapa saja yang ia inginkan. Fenomena seperti ini akan banyak merugikan kaum wanita, karena mereka akan dicerai oleh suaminya sedang ia harus menanggung hidup anak-anaknya. Mana mungkin seorang lelaki mampu mengurus anak-anaknya sedang ia sibuk mengurusi istri mudanya. Jikapun ia mampu, ia tak mungkin mau melakukannya karena hal itu akan mengganggu kenyamanan dan kebahagiaannya bersama istri barunya. Begitulah kiranya gambaran yang akan terjadi jika hukum keabsahan nikah tanpa wali diterapkan.