• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRONOLOGI ARAB SPRING

Dalam dokumen INDONESIAEMAS BERKELANJUTAN 2045 (Halaman 40-43)

Kronologi Arab Spring dan Pelajaran Moral bagi Indonesia

C. KRONOLOGI ARAB SPRING

Gelombang Arab Spring dimulai dari negara Tunisia, ketika seseorang pemuda 26 tahun, Mohammad Bouzizi, melancarkan protes kepada pemerintah daerah setempat karena kekejaman yang ia terima dari aparat. Bouzizi menarik perhatian seantero Tunisia, bahkan dunia, dengan melakukan aksi bakar diri pada 17 Desember 2010. Pagi itu, Bouzizi keluar dari rumahnya menuju gerobak tempatnya berjualan sayur-sayuran di Kota Sidi Bouzid, 190 mil (300 km) selatan Kota Tunis. Namun, Bouzizi dan gerobaknya memang sudah menjadi target razia aparat keamanan karena dianggap berjualan tanpa izin (Angrist, 2011).

Ketika sedang menata sayur-mayur yang akan dijualnya, seorang oknum aparat wanita bernama Faida Hamdi (45 tahun) bersama dua rekannya mengusir Bouzizi karena tidak memiliki izin. Selain itu, ia juga diperintahkan untuk membayar denda. Bouzizi tidak terima dengan keadaan tersebut dan sempat terjadi perdebatan antara kedua pihak. Bouzizi ditampar, wajahnya diludahi, timbangannya disita, dan gerobaknya diamankan. Tak hanya itu, mendiang ayahnya pun dihina oleh tiga oknum aparat tersebut (Tamburaka, 2011).

Bouzizi yang mendapat perlakuan tidak manusiawi tersebut datang mengadu ke kantor pemerintah daerah setempat. Ia melapor-kan tiga oknum aparat yang berbuat hal keji kepadanya. Namun, pihak pemerintah daerah tidak menggubris laporan Bouzizi. Ia kecewa dan mengancam jika laporannya tidak ditindaklanjuti maka ia akan melakukan aksi bakar diri. Kalimat tersebut ternyata bukan hanya gertakan semata, tak lama Bouzizi kembali ke kantor tersebut sembari membawa dua botol bensin. Ia menyirami sekujur tubuhnya dengan

Buku ini tidak diperjualbelikan.

bensin dan membakar tubuhnya. Aksi yang benar-benar jauh dari nalar manusia pada umumnya (Tamburaka, 2011).

Seusai aksi tersebut, Bouzizi sempat dilarikan ke rumah sakit dan dirujuk ke rumah sakit Kota Ben Arous, dekat Kota Tunis. Di sana ia menjalani perawatan intensif penyembuhan luka bakar. Presiden Tunisia, Zein Al-Abidin, sempat menjenguk pemuda 26 tahun tersebut di rumah sakit (Tamburaka, 2011). Tepat 17 hari setelah aksi bakar diri, Bouzizi mengembuskan napas terakhir. Sebanyak lebih dari 5000 orang ikut ambil bagian dalam proses penyelenggaraan jenazahnya.

Keesokan harinya, Bouzizi dimakamkan di pemakaman Benoour Garat, 10 mil dari Sidi Bouzid (Tamburaka, 2011).

Aksi bakar diri ini segera mendapat perhatian internasional.

Media-media terkemuka meliput berita ini. Selanjutnya, terjadi demonstrasi besar-besaran yang mengguncang kekuasaan rezim ta-ngan besi di negara-negara Arab, bukan hanya di Tunisia (Campante &

Chor, 2012, 167). Kemarahan publik sebenarnya meluas sehari setelah aksi bakar diri Bouzizi. Massa yang berunjuk rasa menyebabkan kerusuhan, dan pihak aparat kewalahan menghadapi massa. Jejaring sosial, seperti Facebook dan YouTube, menyorot beberapa gambar dari aksi unjuk rasa. Dalam upaya memadamkan kerusuhan, Presiden Ben Ali mengunjungi Bouazizi di rumah sakit sebelum meninggal (Tamburaka, 2011).

Harapannya, dengan kunjungan tersebut, aksi massa dapat dire-dam. Nyatanya, tindakan itu tidak berhasil memadamkan semangat para demonstran. Setelah kematian Bouzizi, gelombang perlawanan terjadi terus-menerus hingga kekerasan meningkat begitu banyak, bahkan semakin mendekati ibu kota, Tunis. Pada 27 Desember 2010, kurang lebih 1000 warga Tunis bergabung bersama masyarakat Sidi Bouzid menyerukan aksi solidaritas menentang kekerasan pemerin-tah. Pada saat bersamaan, 300 pengacara mengadakan aksi demo di dekat istana di Tunis. Gelombang demonstrasi kembali dilanjutkan pada 29 Desember 2010 (Tamburaka, 2011).

Merespons aksi itu, Ben Ali menyatakan negara sedang berada dalam kondisi darurat dan berjanji akan memperbaiki situasi sebaik

Buku ini tidak diperjualbelikan.

mungkin. Ia juga menjanjikan pemilu legislatif akan diadakan dalam waktu enam bulan ke depan. Kemudian, ia berjanji akan membuka 300.000 lapangan pekerjaan dalam 2 tahun. Janji-janji itu diucapkan Ben Ali saat kondisi makin memanas. Demonstrasi terus berlang-sung di seluruh penjuru Tunisia, bahkan beberapa tokoh yang setia menemani Ben Ali, pun berbalik menentangnya (Sahide dkk., 2015).

Karena desakan massa yang begitu kuat, era tangan besi Ben Ali akhirnya usai pada 14 Januari 2011 saat ia menyatakan mundur dari kursi Presiden Tunisia.

Mundurnya Presiden Ben Ali disambut gegap gempita oleh rakyatnya. Gerakan massa yang berlangsung berjilid-jilid tersebut menginspirasi negara-negara Arab lain untuk melakukan hal serupa.

Mereka juga dalam puncak kejengkelan terhadap rezim otoriter, ekonomi yang memburuk, serta pelanggaran HAM yang merajalela.

Tak ayal, gerakan rakyat Tunisia itu menjalar ke negara-negara, seperti Mesir, Suriah, Yaman, Maroko, Yordania, dan Libya. Meski tidak semuanya berhasil menggulingkan pemimpinnya.

Di Mesir, gerakan demonstrasi menuntut Presiden Hosni Mubarak juga terjadi. Hal yang melatarbelakanginya serupa dengan yang terjadi di Tunisia. Seorang pemuda Mesir bernama Khaled Said meninggal dunia akibat penyiksaan oleh intelijen Mesir (Syukur, 2013). Gerakan di Mesir juga memiliki kesamaan dengan Tunisia, yakni tidak digerakkan oleh tokoh khusus dan benar-benar berasal dari gejolak di akar rumput yang kemudian dituntun oleh perge-rakan di media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan telepon seluler.

Pemerintahan Presiden Mubarak semakin tersudut dengan bersatunya kekuatan masyarakat yang menuntut dirinya untuk turun.

Media massa dan media sosial memegang peranan penting dalam Arab Spring yang berlangsung sejak awal 2011. Beberapa pengamat bahkan menyebut istilah internet revolutions (Ramadan, 2012). Media massa terbukti efektif dan masif dalam menyampaikan protes rakyat terhadap rezim Ben Ali di Tunisia ke seluruh negara Arab, bahkan dunia.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Aksi unjuk rasa berjilid-jilid dengan tujuan utama meminta presiden mereka mundur akhirnya tunai dan tuntas. Aksi itu ber-hasil memaksa pemimpin-pemimpin otoriter tersebut turun dari kekuasaan nya. Dalam membaca gerakan perlawanan oleh rakyat negara-negara Arab sejak 2011 lalu, L. Wilardjo memberikan analogi balon yang ditekan terus akhirnya meletus. Demikian pula masyarakat yang ditindas terus oleh penguasa akhirnya tidak tahan lagi, lalu pecahlah perlawanan (Wilardjo, 2014).

Penulis tinggal di Maroko sejak tahun 2016, walau tidak dalam periode panas Arab Spring, demonstrasi sering terjadi. Tuntutannya bermacam-macam, dari sektor pendidikan, ekonomi, hingga politik.

Tuntutan agar Raja Mohammad VI turun dari takhtanya pernah digaungkan, tetapi berhasil diredam dengan pendekatan persuasif sehingga tidak sebesar yang terjadi di negara-negara Arab lain, seperti Tunisia, Mesir, dan Libya.

Tabel 2.1 Daftar negara Timur Tengah yang mengalami gelombang Arab Spring

No Negara Pemimpin yang jatuh Populasi

1. Tunisia Zein al-Abidin Ben Ali 10,1 juta (2009)

2. Mesir Husni Moubarak 80,1 juta (2009)

3. Libya Moammar Khadafi 6,1 juta (2009)

4. Suriah Bassar Ashad (Masih bertahan) 20,5 juta (2009) Sumber: Augusta dan Sahrasad (2016), Ramadan (2012)

Dalam dokumen INDONESIAEMAS BERKELANJUTAN 2045 (Halaman 40-43)