Konsep Jihad dalam Islam dan Implikasinya di Indonesia
A. RADIKALISME BERUJUNG EKSTREMISME
Beberapa penerapan dan pandangan jihad di Indonesia sejatinya mengalami distorsi dari konsep ajaran Islam. Asumsi ini hadir di-sebabkan oleh landasan oknum berpemahaman agama yang minim dan sempit. Tidak menjadi suatu hal yang tabu bahwa banyak media dengan ringan memberitakan isu radikalisme dan berujung pada tindak teroris di suatu negara. Permasalahan ini dimulai dari paham yang menyebar, kemudian mengidentik dengan mengatasnamakan agama, dan pada akhirnya dianut oleh masyarakat awam. Hal ini menghadirkan ideologi baru sampai mendorong peran, bahkan inisiatif, ingin mengganti ideologi negara sesuai dengan hal yang baru mereka dapati.
Tindak radikalisme sering dikaitkan dengan jihad yang merupa-kan salah satu syariat umat muslim di seluruh dunia. Radikalisme di Indonesia diawali dengan seorang awam yang belajar kepada ulama Timur Tengah. Hal yang menjadi perkara adalah jika di sebuah majelis duduk di halaqah seorang yang memiliki paham ekstrem, kemudian
Buku ini tidak diperjualbelikan.
paham tersebut disebarluaskan dengan metode syiar sampai memben-tuk kelompok khusus. Kesalahpahaman dalam beragama ini berujung pada permasalahan kriminal internasional yang disebut terorisme.
Terorisme yang terjadi di Indonesia dua puluh tahun ke belakang tidak bisa dikatakan telah berhenti total. Nyatanya, neo-terorisme masih berkembang, berupa ideologi baru yang ingin mengganti Pancasila menjadi paham lain dengan cara yang sangat sistematis dan tersembunyi. Sebagai contoh, aksi Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Sulawesi Tengah dan Jemaat Islamiyah yang disinyalir memiliki hubungan dengan Al-Qaeda dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di luar negeri.
Kitab suci Al-Qur’an jelas menyebutkan dalil yang menerangkan bagaimana syariat dalam berjihad. Ayat jihad pertama kali diturunkan saat Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah dari kota Makkah. Saat itu, penindasan terhadap kaum muslimin di Kota Makkah sudah sa-ngat berlebihan. Kemudian, turunlah ayat yang memerintahkan untuk melawan musuh-musuh Islam. Makna jihad melawan musuh-musuh Islam inilah yang menjadi landasan kelompok-kelompok ekstremis di Indonesia ingin mengubah ideologi negara. Mereka beranggapan banyak ketidakadilan dan penindasan yang terjadi di masyarakat.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al Hajj: 39:
٣٩ ٌريِدَقَل ۡمِهِ ۡصَن ٰ َ َع َ َّللٱ َّنوَإِ ْۚاوُمِلُظ ۡمُهَّنَأِب َنوُلَتَٰقُي َنيِ َّلِل َنِذُأ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”
Menurut Ibnu Abbas, ayat ini adalah ayat pertama yang mensyari-atkan perihal jihad. Wahyu ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya saat umat Islam berhijrah dari Kota Makkah.
Pada waktu itu, jumlah yang memusuhi Islam di Kota Makkah lebih banyak daripada kaum muslim itu sendiri. Perintah ini turun karena kezaliman yang dilakukan musuh Islam sudah melampaui batas. Ayat
Buku ini tidak diperjualbelikan.
ini merupakan salah satu bentuk pembelaan Allah Swt. terhadap orang-orang yang beriman kepada-Nya (Al-Sabuni, 1981).
Dalil lain yang lebih spesifik yang mengandung perintah untuk berjihad adalah surah Al-Baqarah ayat 190–193.
ُّبِ ُي َل َ َّللٱ َّنِإ ْۚآوُدَتۡعَت َلَو ۡمُكَنوُلِتٰ َقُي َنيِ َّلٱ ِ َّللٱ ِليِبَس ِف ْاوُلِتَٰقَو
ُثۡيَح ۡنِّم مُهوُجِرۡخ َ
أَو ۡمُهوُمُتۡفِقَث ُثۡيَح ۡمُهوُلُتۡقٱَو ١٩٠ َنيِدَتۡعُم ۡ لٱ
ِماَرَ ۡ
لٱ ِدِج ۡسَم ۡ
لٱ َدنِع ۡمُهوُلِتٰ َقُت َ
لَو ِۚلۡتَق ۡلٱ َنِم ُّدَشَأ ُةَنۡتِفۡلٱَو ۚۡمُكوُجَرۡخَأ ١٩١ َنيِرِفٰ َكۡلٱ ُءٓاَزَج َكِلَٰذَك ۗۡمُهوُلُتۡقٱَف ۡمُكوُلَتَٰق نِإَف ِۖهيِف ۡمُكوُلِتَٰقُي ٰ َّتَح
ٞةَنۡتِف َنوُكَت َل ٰ َّتَح ۡمُهوُلِتَٰقَو ١٩٢ ٞميِحَّر ٞروُفَغ َ َّللٱ َّنِإَف ْاۡوَهَتنٱ ِنِإَف ١٩٣ َينِمِلٰ َّظلٱ َ َع َّلِإ َنَٰوۡدُع َلَف ْاۡوَهَتنٱ ِنِإَف ِۖ َِّلل ُنيِّلدٱ َنوُكَيَو
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (190). Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu.
Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.
Demikianlah balasan bagi orang- orang kafir (191). Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (192). Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim (193).”
Ayat tersebut dengan lugas memaparkan perintah untuk berjihad.
Namun, ada persyaratan dan ketentuan jihad yang harus dipahami sebelum panggilan perang diserukan. Banyak tafsir berbeda
terha-Buku ini tidak diperjualbelikan.
dap ayat tersebut. Kelompok ekstremis yang taqlīd al-al-`a'ma atau kelompok yang mengikuti ulama secara buta tanpa mempelajari dasar pendidikan agama Islam akan membaca apa yang tertulis di Al-Qur’an secara tekstual saja. Kelompok yang terlahir dari sini sering disebut sebagai kelompok radikal atau fundamentalis. Radikalisme ialah orang atau kelompok yang berpandangan kolot dan sering melakukan aksi kekerasan dalam menyebarkan keyakinan mereka (Ummah, 2012).
Salah satu kelompok radikal atau fundamentalis yang kita kenal adalah Al-Qaeda. Kelompok ini didirikan oleh bangsawan Arab Saudi berdarah Yaman bernama Osama bin Laden. Sarjana dari Universitas King Abdul Aziz ini berhasil membuat sebuah kelompok konservatif militan yang menjunjung tinggi keautentikan hukum Islam (Johnson, 2008).
Kelompok ini berdiri karena adanya perang antara Uni Soviet dan Afghanistan pada 1979–1989. Al-Qaeda merekrut banyak muslimin dari seluruh dunia untuk ikut ke medan perang. Upaya ini kemudian membuahkan hasil dengan terusirnya Uni Soviet pada 1980.
Setelah itu, Al-Qaeda mendeklarasikan penentangan kepada seluruh rezim negara Islam yang korupsi, termasuk negara yang ada campur tangan asing (seperti Amerika Serikat) di dalamnya.
Peri ngatan keras ini dipaparkan pada 1990 di Sudan sebelum membangun kantor pusatnya di Afganistan pada 1996 di bawah perlindungan milisi Taliban (Britannica, 2019.). Pada 1998, dengan semboyan The World Islamic Front for Jihad Against the Jews and Crusaders, Osama menyerukan kepada umat muslim untuk tidak hanya memerangi Amerika Serikat, tetapi juga semua kelompok yang berafiliasi dengannya (Haynes, 2005).
Setelah perang di Afghanistan usai, seruan berkelanjutan dari Osama membuat banyak negara mudah dirasuki oleh ideologinya.
Hal ini dipicu karena saat itu banyak negara Islam yang dianggap tidak menjunjung tinggi keadilan, misalnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang berpotensi menjadi sasaran empuk ideologi Al-Qaeda. Hal ini dikuatkan dengan tindakan Amerika Serikat yang menjadikan wilayah ini sebagai second front memerangi Al-Qaeda
Buku ini tidak diperjualbelikan.
dengan militerisasi di beberapa daerah rawan. Ini didukung dengan penemuan afiliasi badan intelijen beberapa negara di Asia Tenggara terhadap kelompok Jemaah Islamiyah di Singapura. Mereka disinyalir memiliki kaitan kuat dengan Al-Qaeda. Hal ini lebih dikuatkan lagi dengan penemuan cabang kelompoknya di Indonesia dan Malaysia (Triwahyuni, 2012).
Pada prinsipnya, jihad yang dilakukan Nabi dan para sahabat terdahulu dengan yang dilakukan kelompok radikal, khususnya di Indonesia, mengalami distorsi yang sangat jauh. Penilaian ini bisa kita pahami dengan mengkaji definisi jihad menurut para ulama Islam dan bagaimana pengimplementasiannya di Nusantara. Berikut ini penulis menjabarkan bagaimana seharusnya jihad dipahami sehingga dapat membawa pada ideologi Islam yang sebenarnya, yakni rahmatan lil Aalamin.