KABUPATEN KUPANG
KU TEMUKAN CINTA DI USD
(Edeltrudis Mbasi)
Pendidikan merupakan suatu bagian yang tidak terlepas dari
kehidupan manusia. Seperti pepatah yang mengatakan di mana
ada gula disitu pun ada semut. Demikianlah juga pendidikan.
Manusia hidup dan berkembang karena mengalami suatu proses yang disebut pendidikan. Pada zaman primitif pun manusia sudah mengenal pendidikan, walaupun masih bersifat tradisional. Manusia pada zaman primitif sudah dapat berpikir untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Hal itu juga merupakan bagian dari proses pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang berkualitas serta dapat mengatasi berbagai persoalan yang dialami dalam berbagai bidang kehidupan di masa mendatang.
Pendidikan dapat memberikan makna tersendiri bagi manusia. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang untuk menjadikan generasi yang
berpengetahuan dan mampu membawa pengaruh-pengaruh positif terhadap masyarakat sekitar. Melalui pendidikan diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi muda yang cerdas dan mampu membawa masyarakat menjadi lebih maju yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
Berbicara tentang pendidikan tentulah tidak bisa terlepas dengan sosok guru. Guru sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki peran yang sangat besar dalam pendidikan. Pada umumnya, guru merupakan sosok yang sangat dihormati dan dikagumi oleh masyarakat di lingkungannya berada. Bagi saya guru adalah sosok yang disegani, dikagumi, dihormati, dan ditakuti. Pengalaman saya ketika saya masih Sekolah Dasar di mana proses pendidikan yang masih didominasi dengan budaya kekerasan memberikan banyak kesan kepada saya tentang guru adalah sosok yang ditakuti. Takut dalam hal ini berarti takut dipukuli jika tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan, takut dimarahi jika berbuat salah, takut untuk dicap, dan bahkan takut bertemu ketika berpapasan. Walaupun demikian, guru tetaplah dihormati dan dihargai.
Melihat kenyataan itu, saya secara pribadi merasa tidak tertarik untuk menjadi seorang guru. Saya pernah berkata bahwa
115
“saya ingin menjadi seorang bidan atau guru. kalau pun saya menjadi seorang guru dan harus guru matematika/ geografi karena akan mengajar di jenjang sekolah menengah bukan guru Sekolah
Dasar”. Saya sepertinya tidak mempunyai sikap sabar yang tinggi
dalam mendidik siswa-siswi di sekolah. Rasa takut yang menghantui saya selama di sekolah cukuplah saya yang mengalaminya dan bukan anak didik saya. Saya takut jika salah dalam mendidik para siswa nanti.
Setapak demi setapak perjalanan pendidikan telah dilewati. Panggilan untuk menjadi seorang pendidik adalah jalan hidup saya. Pada tahun 2012, saya mengikuti salah satu beasiswa yang bernama program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi (PPGT). Program ini direkrut dan dibiayai oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui dinas pendidikan yang ada di daerah. Beasiswa tersebut diperuntukkan bagi putra-putri yang berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Tujuannya adalah agar setelah menempuh pendidikan di bangku perkuliahan dapat kembali mengabdi di daerah dan membawa perubahan bagi daerahnya masing-masing. Saya pun diterima dalam mengikuti beasiswa ini dan diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di kampus Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta pada prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saya bersama teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia (Propinsi NTT dan Papua) yang berjumlah 36 orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar di USD. Berbagai perbedaan yang kami miliki bukanlah menjadi penghalang bagi kebersamaan kami, tetapi mampu menyatukan kehidupan kami baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Kami dapat saling mengisi berbagai kekurangan yang dialami. Dengan mengenyam pendidikan di USD juga memberikan kesadaran kepada kami tentang pentingnya kebersamaan dalam keberagaman dan nilai-nilai dalam kehidupan yang pluralistik.
Universitas Sanata Dharma (USD) sebagai salah satu kampus swasta di Indonesia yang dipilih oleh pemerintah untuk menyelenggarakan perkuliahan bagi putra-putri utusan daerah memberikan pengalaman tersendiri bagi kami yang mengenyam pendidikan di kampus tersebut. Sebagai satu-satunya kampus swasta yang dipilih tentunya sudah memiliki banyak pengalaman dalam bidang kependidikan. Berbagai penghargaan yang diperoleh
116
kampus USD baik dalam bidang akademik maupun non akademik sudah tak terhitung banyaknya. Selain itu, berbagai beasiswa dari berbagai program pun banyak yang ditawarkan untuk mengenyam pendidikan di kampus USD tersebut. Pada program PPGT di bawah naungan DIKTI sampai pada tahun 2016 ini sudah bekerjasama dengan kampus USD dan telah menerima tiga angkatan beasiswa program PPGT.
Mengikuti pendidikan di bangku perkuliahan di Universitas Sanata Dharma (USD) prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Yogyakarta memberikan bekal pelajaran berharga bagi kami mahasiswa yang berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Proses pendidikan yang dilakukan oleh kampus USD sangat berbeda dengan pendidikan yang ada di daerah saya. Berbagai bentuk pelayanan yang dilakukan oleh para pegawai dan dosen sangatlah baik dan memberikan kenyamanan bagi kami mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam perkuliahan. Hubungan antara dosen dan mahasiswa terjalin akrab dan dipayungi dengan sebuah persahabatan. Tetapi bukanlah berarti bahwa mahasiswa berbuat seenaknya saja. Ada batasan-batasan tertentu yang harus ditaati mahasiswa.
Nilai pendidikan yang diperoleh selama perkuliahan di kampus USD, khususnya pada prodi PGSD-PPGT sudah tak terhitung banyaknya. Berbagai kegiatan yang diadakan baik dalam kampus maupun luar kampus memberikan manfaat dan pengaruh besar bagi pembentukan karakter saya sebagai seorang calon pendidik. Saya juga dibekali dengan nilai-nilai moral, pengetahuan, dan keterampilan baik dalam bidang akademik maupun non akademik sehingga dapat menjadikan fondasi bagi saya sebagai seorang pendidik dan pembawa agen perubahan di daerah.
Adapun dalam bidang akademik pengetahuan dan
keterampilan yang saya peroleh melalui kegiatan perkuliahan di seputar ruangan PGSD. Berbagai mata kuliah yang saya dapatkan seperti mata kuliah kependidikan untuk guru Sekolah Dasar, pengembangan kurikulum dan pembelajaran di Sekolah Dasar, permainan anak, pembelajaran inovatif, pembelajaran kelas rangkap, perspektif global, PTK, skripsi, dan lainnya. Berikut ini saya akan jelaskan secara garis besar beberapa manfaat mata kuliah yang saya peroleh selama perkuliahan.
117
1) Mata kuliah kependidikan untuk guru Sekolah Dasar. Pada mata kuliah ini saya belajar tentang berbagai materi/ konsep dalam suatu mata pelajaran. Materi yang diperoleh dalam mata pelajaran tertentu hanya seputar pada ruang lingkup untuk pembelajaran pada Sekolah Dasar. Pada mata kuliah ini bertujuan sebagai bekal bagi saya seorang calon guru dalam mendidik siswa di Sekolah Dasar tempat saya mengabdi; 2) Permainan anak. Pada mata kuliah ini mengajarkan saya tentang arti dan konsep bermain, faktor-faktor yang mempengaruhi anak untuk bermain, dan contoh-contoh permainan tradisional yang dapat memicu perkembangan otak anak saat belajar di sekolah. Jadi, tujuan permainan itu sendiri bukan hanya sekedar bermain, tetapi anak dapat belajar dari kegiatan permainan yang dilakukan. Uniknya dalam mata kuliah ini, berbagai contoh permainan diambil dari kebudayaan masing-masing daerah setiap mahasiswa, kemudian ditambahkan dengan materi-materi pembelajaran anak Sekolah Dasar. Nilai-nilai yang kami peroleh dari kegiatan tersebut adalah nilai pendidikan, saling menghargai antara kebudayaan daerah yang satu dengan daerah lain, persatuan dan kesatuan, kekompakan, dan persaudaraan sebagai sebuah keluarga; 3) Pembelajaran inovatif. Pada mata kuliah ini berkaitan dengan berbagai contoh model pembelajaran inovatif beserta langkah-langkahnya beserta cara penerapannya dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar.
Harapannya dengan menerapkan model pembelajaran inovatif dapat melatih kebiasaan siswa untuk berpikir dan menyelesaikan suatu masalah secara sistematis, terciptanya suasana belajar yang menyenangkan, meningkatnya motivasi belajar siswa di kelas, dan menghilangkan suasana jenuh atau bosan karena siswa dapat belajar secara bervariasi; 4) Pembelajaran kelas rangkap (PKR). PKR adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang merujuk pada upaya guru dalam menyikapi dan memperlakukan siswa sesuai dengan keadaannya sehingga tercipta suasana belajar yang mendukung tercapainya tujuan belajar secara optimal. Mempelajari mata kuliah ini sangatlah penting bagi saya yang berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), di mana minimnya tenaga pendidik yang menjadikan daerah saya mengalami ketertinggalan yang cukup jauh dibandingkan dengan daerah yang ada di Pulau Jawa. Jadi, dengan adanya pendekatan PKR dapat mengatasi vakumnya tenaga pendidik di sekolah dan
118
kebutuhan setiap siswa untuk belajar secara optimal dapat terealisasikan; 5) Pembelajaran yang mendidik. Pada mata kuliah ini mengajarkan saya sebagai calon pendidik baik dalam ruang lingkup sekolah, masyarakat, maupun keluarga. Dilihat dari kata
mendidik, memiliki arti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai
hidup. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan pembelajaran bukan hanya semata-mata untuk memberikan teori kepada siswa tetapi dari teori tersebut dikaitkan dengan nilai-nilai dalam kehidupan. Diharapkan kedepannya siswa dapat menerapkan dan mengembangkannya dalam kehidupannya. Adapun nilai yang saya peroleh melalui mata kuliah ini yaitu tentang nilai-nilai hidup sebagai manusia dewasa; 6) Perspektif global. Tujuan utama adanya mata kuliah ini adalah untuk mendorong kesadaran kami tentang adanya masalah-masalah global serta mencari solusinya melalui berbagai bentuk tindakan nyata. Pada mata kuliah ini mengajarkan saya untuk ikut terlibat dalam situasi dalam kehidupan global. Oleh karena itu, sebelum berpikir tentang dunia global, saya akan berusaha memulainya dari dunia kecil saya yaitu lingkungan daerah kelahiran saya. Sesuai dengan peran saya sebagai seorang calon pendidik, saya akan berusaha untuk menjadi seorang pendidik yang berguna bagi daerah saya. Pendidik yang mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif di sekolah dengan nilai-nilai positif yang didapat selama pendidikan di bangku perkuliahan. Itulah penjelasan sekilas terkait beberapa manfaat dari mata kuliah yang saya peroleh selama berproses di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta.
Proses pendidikan yang dilakukan di kampus pada suatu jenjang tertentu biasanya akan diakhiri dengan suatu kegiatan penelitian yang kita kenal dengan SKRIPSI. Skripsi merupakan suatu mata kuliah yang memmpunyai bobot sks paling tinggi yaitu 6 sks. Penentuan berhasil tidaknya seorang mahasiswa adalah dilihat dari nilai skripsi. Pada proses penyusunan skripsi ini saya mengerjakannya ± 1 semester. Rasa ingin tahu dan ingin cepat diselesaikannya pekerjaan tertanam kuat di dalam hati saya. Setelah jam kuliah berakhir, saya selalu menyempatkan waktu mengunjungi perpustakaan untuk mencari bahan referensi terkait penelitian saya. Selain itu, saya juga mencari berbagai sumber yang berasal dari internet maupun hasil koleksi perpustakaan berkaitan dengan penelitian yang saya lakukan. Pengalaman ini
119
menjadikan kebanggaan
tersendiri buat saya. Saya
melakukan penelitian
tentang pengembangan
LKS dengan pendekatan saintifik pada siswa kelas II Sekolah Dasar. Berbagai usaha dan niat yang saya lakukan untuk menghasilkan sebuah produk skripsi yang menarik. Berbagai revisi dan
masukan dari dosen pembimbing, dan dari guru Sekolah Dasar menggunggah semangat saya untuk melakukan perbaikan pada LKS yang dibuat agar menjadi lebih baik. Berkat usaha, kesabaran, kerja keras, dan dukungan dari berbagai pihak, saya pun dapat menyelesaikan skripsi saya. Saya sangat bangga dengan produk yang saya buat. Akhirnya, pada awal Februari tepatnya pada tanggal 2 Februari 2016 saya dapat mengikuti ujian skripsi sebagai bentuk pertanggungjawaban saya terhadap produk yang telah dibuat. Saya pun dinyatakan lulus dengan perolehan nilai pada mata kuliah skripsi yaitu A. Nilai yang sangat indah bagi siapa pun tuan pemilik nilai tersebut.
Adapun kendala yang saya temui selama kegiatan penyusunan skripsi adalah kurangnya buku-buku sumber terkait, terbatasnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam
menyusun skripsi sampai menghasilkan sebuah produk,
kurangnya bimbingan yang intensif dengan dosen pembimbing, manajemen waktu yang belum teratur dengan baik, dan kurangnya kesadaran akan tugas yang diemban. Berbagai masalah yang saya temui tersebut saya mencoba untuk mengatasinya dengan baik. Masalah tersebut dapat menjadikan pelajaran bagi saya agar menjadi lebih baik di kemudian hari.
Selain kegiatan dalam bidang akademik, pengalaman saya di USD juga terwujud dalam kegiatan non akademik. Berbagai pengalaman berharga yang saya peroleh melalui keikutsertaan saya dalam kegiatan non akademik. Contoh-contoh kegiatan non akademik yang diadakan oleh kampus USD yaitu magang SD I-magang SD III, I-magang SMP, KKN di lingkungan masyarakat, KKN pendidikan di sekolah, PPKM 1-3, dan PPL. Kegiatan
120
magang SD I dilakukan pada semester II yang bertempat di SD Negeri Kalasan 1. Bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan selama magang SD I yaitu mengamati sosok pendidik di ruang lingkup Sekolah Dasar, mengetahui tentang karakteristik peserta didik di usia Sekolah Dasar, dan memberikan gambaran tentang hubungan sosial yang terjadi di sekolah. Melalui kegiatan magang SD I memberikan pengalaman kepada saya tentang gambaran SD yang sesungguhnya dan proses interaksi yang terjadi di sekolah baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan guru dengan guru. Kegiatan magang SD II dilakukan pada semester III yang bertempat di SD Kanisius Eksperimental Mangunan. Mendapatkan tempat magang di sekolah ini merupakan sebuah kesempatan yang bernilai karena pendidikan yang dilakukan di sekolah sangat berbeda dengan sekolah yang pernah ditemui. Cikal bakal berdirinya sekolah ini adalah diperuntukkan bagi
keluarga yang kurang mampu. Siswa Mangunan tidak
mengenakan pakaian seragam saat berangkat ke sekolah. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak terikat dengan kurikulum yang berlaku. Hubungan antara guru dan siswa terjalin sangat akrab dan terciptanya rasa persaudaraan yang tinggi. Melalui magang SD II ini dapat memberikan pengalaman kepada saya tentang kegiatan pendidikan yang terjadi di sekolah tanpa terikat oleh kurikulum yang berlaku tetapi dinilai berkualitas. Selain itu, melalui kegiatan bimbingan belajar dengan siswa SD kelas bawah dapat menambah keterampilan saya dalam mengajar siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Kegiatan magang SD III dilakukan pada semester IV yang bertempat di SD Negeri Kalasan I. Sekolah tersebut adalah tempat kedua saya melakukan kegiatan magang. Pada kegiatan magang SD III ini kami melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan menjadi asisten guru. Melalui pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dapat memantapkan jati diri saya sebagai seorang calon pendidik. Saya dapat berbicara di depan siswa-siswi dan menyalurkan ilmu pengetahuan kepada mereka. Walaupun dengan keragu-raguan yang saya miliki, tetapi saya mempunyai niat yang tulus untuk mengajar dan membimbing siswa-siswi di kelas dan berusaha untuk memberikan yang terbaik buat mereka. Kegiatan magang SMP dilakukan pada semester V dan bertempat di Taman Dewasa Ibu Pawiyatan. Tujuan utama kegiatan magang
121
SMP adalah untuk mengetahui tentang gambaran SMP dan penerapan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Sekolah tersebut merupakan sekolah inklusif karena menggabungkan
siswa berkebutuhan khusus dengan siswa yang tidak
berkebutuhan khusus. Kondisi ini menimbulkan rasa takut dalam diri saya. Dalam hati kecil saya termenung tentang cara memberikan bimbingan kepada siswa-siswi tersebut. Tetapi, seiring berjalannya waktu saya mulai memberanikan diri untuk dekat dan berkomunikasi dengan siswa berkebutuhan khusus. Akhirnya, saat praktik pelaksanaan pembelajaran di kelas saya menjadi berani dalam mendidik mereka. Kesulitan yang saya alami saat praktik di kelas adalah
saya kurang melakukan
bimbingan dan perhatian
khusus kepada siswa
berkebutuhan khusus
sehingga mereka kurang
terlibat dalam kegiatan
pembelajaran.
Berikutnya, Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan di lingkungan masyarakat (Taman Bacaan Masyarakat Mata Aksara/ TBMMA) dan KKN pendidikan di sekolah (SD Negeri Kalasan Baru) memberikan kesempatan kepada kami mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang kami peroleh selama kegiatan perkuliahan pada tempat KKN yang ditempati. TBMMA merupakan sebuah taman bacaan yang menyediakan berbagai macam buku bacaan bagi masyarakat di sekitarnya. Adapun kegiatan yang dilakukan selama KKN di TBMMA adalah melakukan bimbingan belajar
untuk kelas I-VI, mendata jumlah koleksi buku yang ada di TBMMA, melakukan
pelatihan menulis cerpen
bagi siswa-siswa kelas I-VI, mengadakan kegiatan lintas sektoral dengan tema “Ayo
Gemar Makan Ikan”,
122
kegiatan seni suara yang berkaitan dengan lagu-lagu daerah dari Provinsi NTT. Melalui kegiatan KKN di lingkungan masyarakat dapat memberikan pengalaman kepada saya dalam berdinamika bersama kelompok masyarakat yang berada di lingkungan tempat KKN. Kami peserta KKN dapat diberikan kepercayaan untuk mendidik dan mengajar putra-putri mereka di TBMMA saat di luar jam sekolah. Kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kedekatan kami dengan peserta didik dan lebih mengenal berbagai karakteristik peserta didik. Selain mengikuti KKN masyarakat, saya juga mengikuti KKN pendidikan yang bertempat di SD Negeri Kalasan Baru. Berbagai macam kegiatan yang diadakan selama kegiatan KKN di sekolah. Bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh selama perkuliahan, kami terapkan dalam kegiatan KKN di sekolah. Pada akhir kegiatan KKN, kami peserta KKN sangat senang karena keberhasilan dan suksesnya pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan.
Kegiatan non akademik berikutnya adalah Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM). PPKM tersebut dilaksanakan selama 3 tahap yaitu dari PPKM 1 sampai PPKM 3. Melalui keikutsertaan saya dalam kegiatan PPKM dapat memperkenalkan saya dengan teman-teman yang berasal dari luar daerah NTT dan Papua. Saya menjadi lebih mengenal karakteristik dari setiap daerah yang ada di Indonesia. Pengalaman berharga yang saya peroleh selama PPKM adalah tentang pengenalan diri. Melalui kegiatan tersebut saya dapat melihat berbagai kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Selain itu, orang lain juga dapat melihat berbagai kekurangan dan kelebihan diri kita juga. Hal tersebut dapat meyakinkan saya tentang diri saya. Saya diajarkan untuk bersyukur dan menghargai anugerah yang saya miliki. Nilai-nilai yang diperoleh selama mengikuti kegiatan PPKM yaitu cinta diri, peduli dan memiliki sikap empati dengan sesama, mencintai sesama manusia dengan tulus, manajemen dan pengelolaan diri, dan lainnya. Semua nilai-nilai tersebut digunakan untuk membentuk karakter dan kepribadian seseorang dan sebagai pedoman dalam bertingkah laku di mana pun kami berada.
Pengalaman demi pengalaman yang saya dapat selama mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, Universitas Sanata Dharma untuk menjadikan saya sosok pendidik yang profesional akan segera diaplikasikan. Sekarang saya sudah berada pada
123
jarak yang akan mendekati garis finish. Para pemerintah daerah
kabupaten sudah menantikan kepulangan putra-putri kebanggaan daerahnya. Jeritan-jeritan suara sudah terngiang di telinga kami. Rasa ingin pulang kembali ke kampung halaman dengan membawa segudang ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki akan segera diwujudkan. Sebagai seorang pendidik, saya ingin menata kembali pendidikan yang ada di daerah saya. Pendidikan yang tidak menggunakan budaya kekerasan. Pendidikan yang tertib. Pendidikan yang mampu membuat siswa dapat menjadi sahabat guru. Oleh karena itu, pertama-tama langkah yang harus dilakukan adalah dimulai dari diri saya sendiri. Saya harus menunjukkan perilaku dan kebiasaan yang baik di sekolah, seperti datang ke sekolah sebelum pelajaran dimulai, meninggalkan sekolah setelah pelajaran usai, dekat dan bersahabat dengan siswa, memberikan pelajaran kepada siswa dengan penuh cinta dan kesabaran, serta mampu menciptakan
kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa
(mengurangi budaya ceramah). Itu adalah hal-hal dasar yang harus saya terapkan di Sekolah Dasar yang terdapat di daerah saya. Apabila hal-hal tersebut sudah menjadi kebiasan bagi seluruh penghuni sekolah maka akan tercipta lingkungan sekolah yang ideal dan efektif.
Niat saya berikutnya yaitu menghadirkan budaya membaca bagi siswa. Saya memiliki cita-cita ingin mengadakan berbagai koleksi buku bacaan yang dekat dengan kehidupan anak. Hal tersebut tidaklah mudah bagi saya. Saya harus dapat bekerjasama dengan para pemerintah agar dapat memberikan bantuan guna untuk menyediakan berbagai koleksi buku-buku cerita, buku-buku pelajaran, komik, dan lainnya. Buku-buku tersebut akan diletakkan di sekolah. Ruangan tempat penyimpanan buku akan selalu terbuka sepanjang hari. Setiap siswa yang berkunjung harus mematuhi aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Dengan kegiatan tersebut, siswa dapat dibiasakan untuk membaca berbagai buku, menata kembali buku pada rak bukunya masing-masing, dan menjaga kebersihan ruangan tempat penyimpanan buku. Lingkungan yang bersih dan rapi akan menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.
Poin terakhir dari niat saya yaitu melakukan kegiatan bimbingan belajar. Saya akan membuka tempat untuk kegiatan
124
bimbingan belajar. Saya tidak membeda-bedakan karakteristik setiap siswa. Mereka yang ingin belajar, mengalami kesulitan dalam belajar, mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah, dan lainnya dapat ikut serta dalam kegiatan bimbingan belajar yang saya adakan. Selama saya dapat mengatasi kesulitan yang dialami siswa, saya akan menerimanya dengan tangan terbuka serta memberikan bimbingan dengan tulus dan ikhlas. Berbagai niat yang telah dipaparkan di atas kiranya dapat saya wujudkan pada tanah kelahiran saya. Niat-niat tersebut dapat