KABUPATEN KUPANG
SEPENGGAL KISAH PERJALAN MENUJU MASA DEPAN
(Fransiska Antonia Guna)
Pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan diharapkan dapat mencerdaskan anak bangsa serta dapat memberantas kebodohan dan kekeliruan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga pendidikan bertujuan untuk memberantas hal-hal yang merugikan sehingga tidak mudah tertipu oleh orang lain yang mencari keuntungan semata.
Dalam mencerdaskan anak bangsa, beberapa pihak mengambil perannya masing-masing. Beberapa pihak mengambil peran yang penting di dalam dunia pendidikan yang disebut dengan pendidik. Para pendidik tersebut adalah guru yang sering dikenal dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Guru sering disebut pahlawan yang berjasa dalam bidang pendidikan dalam hal memerangi kebodohan. Guru dengan tugasnya yang mulia mau mencerdaskan anak bangsa, mendidik dengan penuh kasih sayang dari yang tidak tahu menjadi tahu.
Pada zaman yang semakin modern ini, cara pandang masyarakat tentang pendidikanpun semakin berbeda. Masyarakat juga berpikiran bahwa pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan. Oleh karena itu banyak kita temukan anak-anak yang mulai menempuh pendidikan demi kesejahteraan hidupnya di masa depan. Berbeda dengan cara pandang masyarakat pada zaman dahulu tentang pendidikan. Menurut masyarakat pada
zaman dahulu, pendidikan tidaklah begitu penting jika
dibandingkan dengan nilai-nilai kebudayaan yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal. Bahkan masyarakat pada zaman dahulu mempunyai pemikiran yang lebih mengedepankan sebelah pihak, bahwa pendidikan hanya dibutuhkan atau dikhususkan untuk para lelaki saja, sedangkan untuk para perempuan lebih dianjurkan untuk berada di dapur. Namun setelah R. A. Kartini berani melawan pemikiran tersebut dan berani mengambil keputusan untuk mengangkat derajat kaum wanita sehingga pada akhirnya kaum wanitapun tidak mau kalah dengan kaum pria. Bahkan pada masa sekarang kaum wanita juga berdiri dan maju bersama dan bersaing bersama kaum pria, karena kaum wanita tidak mau dianggap remeh oleh kaum pria dan
104
menunjukkan bahwa kaum wanita juga bisa berprestasi dalam bidang apapun melalui pendidikan yang diperoleh.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan anak bangsa adalah para pendidik. Pendidik memberikan cahaya untuk menerangi kegelapan dalam dunia pendidikan. Proses dari yang tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan yang paling pertama dan utama adalah keluarga. Dalam lingkungan yang kecil seperti keluarga, pendidikan yang didapat berupa nilai-nilai moral dalam keluarga, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga, dan bagaimana memberikan kasih sayang yang tulus kepada sesama. Setelah pendidikan yang diperoleh di dalam keluarga kemudian dilanjutkan ke tingkat pendidikan formal yaitu di sekolah. Pendidikan formal di Indonesia diwajibkan 9 tahun, minimal dari jenjang Sekolah Dasar (SD) selama 6 tahun dan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama 3 tahun.
Pendidikan yang disalurkan oleh para pedidik diharapkan bisa mengubah hidup kita walaupun tidak mengubah suatu hal yang besar, namun dimulai dengan hal yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak gampang ditipu dengan pintar membaca, menulis, dan berhitung. Hal ini yang diutamakan oleh pemerintah untuk masyarakatnya, minimal wajib belajar 9 tahun. Oleh karena itu, para pendidik sangat diperlukan walaupun terkadang tidak begitu diperhatikan dengan baik. Banyak yang berlomba-lomba mencari profesi yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Namun, tanpa disadari bahwa menjadi seorang guru adalah tugas yang mulia yang mampu menghasilahkan penerus bangsa dan kelak dapat berguna bagi bangsa dan negara.
Dalam dunia pendidikan, para pendidik dituntut untuk mengembangkan kemampuan ilmu pengetahuan. Tidak hanya guru. Akan tetapi dimulai dari para calon guru dibekali dengan
pengetahuan yang mendasar agar dapat menyalurkan
pengetahuan yang diperoleh kepada peserta didik. Saya adalah salah seorang calon pendidik yang sedang menuntut ilmu di Universitas Sanata Dharma melalui Program Profesi Guru Terintegrasi (PPGT). Program ini merupakan kerjasama antara pihak pemerintah daerah daerah dengan DIKTI. Program ini bertujuan untuk mencerdaskan putera-puteri daerah yang nantinya akan membangun daerahnya masing-masing.
105
Selama mengikuti perkuliahan di Universitas Sanata Dharma, kami dibekali dengan berbagai macam kegiatan akademik maupun non akademik. Kegiatan akademik berupa kegiatan perkuliahan yang menujang dan memberikan pengetahuan dan pembelajaran seperti mata kuliah seni tari yang mengharuskan kami untu mampu menari dan melestarikan tarian daerah yang ada di daerah kami masing-masing. Selain itu juga kami dituntut untuk mampu menari sesuai dengan alunan musik agar dapat secara langsung diajarkan pada peserta didik nantinya.
Selain mata kuliah pendidikan seni tari, kami juga belajar tentang perspektif global, yaitu bagaimana kami menghadapi perkembangan global khususnya dalam bidang pendidikan, serta dalam mata kuliah pembelajaran inovatif, kami diajarkan untuk menggunakan model-model pembelajaran yang keratif dan inovatif dalam proses pembelajaran, sehingga terlihat menarik dan disenangi oleh siswa. Selain itu juga ada mata kuliah apresiasi sastra yang mengajarkan kepada kami bagaimana menuangkan perasaan yang kami rasakan dalam bentuk karangan, puisi, dan pantun. Dalam hal ini, kami diajarkan untuk mengekspresikan setiap perasaan kami dan apa yang kami rasakan dalam bentuk karya seni.
Tidak hanya itu saja, kami juga melakukan kegiatan magang mulai dari SD sampai pada magang SMP, dan juga melakukan KKN yang dilaksanakan di rumah belajar dan SD mitra. Kegiatan magang SD dilaksanakan dalam kelompok kecil yang tersebar di 7 SD mitra. Ketujuh SD mitra tersebut adalah SD Negeri Timbulharjo, SD Negeri Maguwoharjo 1, SD Negeri Kalasan 1, SD Negeri Kalasan Baru, SD Kanisius Kalasan, dan SDK E Mangunan. Kegiatan yang dilakukan selama magang antara lain melakukan bimbingan belajar bagi siswa kelas bawah maupun kelas atas, bimbingan pramuka, dan juga mengajar di semua kelas.
Selain mengajar si SD sebagai guru SD, kami juga mengajar di SMP khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebelum kami melaksanakan magang kami dibekali dengan pengetahuan yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SMP, dimulai dengan mempelajari setiap materi dari kelas VII-IX serta bagaimana kami menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk diajarkan kepada siswa.
106
Setiap proses yang kami ikuti sangat membantu kami dalam kegiatan magang SMP yang akan kami lakukan. Setelah semua persiapan dilakukan sama halnya dalam magang SMP kami juga dibagi dalam kelompok kecil dan tersebar di beberapa SMP, seperti SMP Kanisius Kalasan, SMP Kanisius Gayam, SMP Ibu Pawiyatan (Taman Siswa), dan SMP Stella Duce 2. Kami juga dituntut untuk mengajar di semua kelas dengan tingkat pemikiran yang lebih tinggi dari magang sebelumnya yaitu pada magang SD. Setelah kegiatan magang SD dan magang SMP berakhir, kami pun melanjutkan dengan kegiatan KKN. Kegiatan KKN dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu 1 bulan dilaksanakan di rumah belajar dan 1 bulan di SD mitra. Kegiatan KKN yang dilakukan di rumah belajar bertujuan untuk membimbing anak-anak diluar jam sekolah. Selain itu juga kami dituntut untuk belajar bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekitar serta membangun hubungan yang baik dengan para orangtua agar bisa mengerti akan pentingnya bimbingan lanjutan di luar jam sekolah. Kegiatan KKN pendidikan ini juga dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil
dan tersebar dalam beberapa rumah belajar, seperti
Perkampungan Sosial Pingit, Taman Bacaan Mata Aksara, Panti Asuhan Yayasan Sayap Ibu, dan yang terakhir rumah belajar Sanggar Lare Mentes.
Kegiatan yang dilaksanakan selama KKN pendidikan di rumah belajar yaitu memberikan bimbingan belajar di luar jam sekolah. Namun yang dimaksud dengan bimbingan belajar ini dilakukan dengan santai dan tidak membuat anak merasa bosan. Oleh karena itu, kami sesekali mengajak anak untuk belajar secara langsung di alam dan belajar sambil bermain. Melalui kegiatan bermain, anak-anak tidak sekedar bermain untuk mencari kesenangan semata, namun anak-anak juga diajarkan untuk melihat nilai pendidikan yang dapat diambil dari pemainan yang telah dimainkan. Selain itu kami juga mengikuti rutinitas yang ada di rumah belajar kami masing-masing. Saya sendiri mendapatkan tempat KKN yang terletak di Klaten yaitu Sanggar Lare Mentes. Sanggar
107
perkumpulan anak yang menyukai musik dan ingin maju dan berkembang bersama. Anak-anak yang bergabung dalam Sanggar Lare Mentes adalah anak-anak yang kreatif dan banyak ide serta mau membantu anak-anak lain untuk belajar dan mengembangkan kemampuan seninya. Selama kami mengikuti KKN di Sanggar Lare Mentes banyak kegiatan yang kami lakukan, antara lain mengadakan bimbingan belajar, bersepeda bersama, dan upacara memperingati HUT RI. Untuk memeriakan HUT RI, kami bekerjasama dengan pihak sanggar untuk menyelenggarakan berbagai perlombaan seperi lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba memasukan paku ke dalam botol, dan lomba gigit sendok.
Selama berada di Sanggar Lare Mentes kami merasakan seperti kembali ke tempat tinggal kami, karena kami pun melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin kami lakukan di tempat tinggal kami seperti memasak, mencuci piring, mencari pakan, membersihkan kandang ternak, memanen hasil di kebun serta tidak lupa memberi makan ternak. Setiap hari, disela-sela membimbing ank-anak dalam belajar, kami juga mempunyai tugas yang tak kalah pentingnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Berproses dan berdinamika bersama selama 1 bulan membuat saya belajar banyak hal, bahwa dalam suatu kelompok kita harus saling mendengarkan dan perselisihan bahkan sering terjadi pada sekelompok orang yang sudah saling kenal dalam kurung waktu yang cukup lama, karena sudah saling mengetahui kelemahan dan kelebihannya masing-masing.
Selain itu juga dibutuhkan tenaga dan ekstra kesabaran dalam menghadapi anak-anak yang terkadang malas untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar. Di sini, saya dan teman-teman mencoba untuk mencari cara agar anak-anak kembali aktif dan senang untuk bergabung untuk mengikuti kegiatan. Saya dan teman-temanpun terkadang harus menjemput mereka di rumahnya masing-masing agar dapat belajar bersama. Disisi lain, kami juga harus berani menghadapi para orangtua yang tekadang tidak mengijinkan anaknya untuk belajar bersama di Sanggar Lare Mentes. Banyak kendala yang telah dihadapi, namun seiring berjalannya waktu semua dapat diatasi dengan baik dan dapat berakhir dengan hasil yang memuaskan pula.
108
Setelah menghabiskan waktu 1 bulan di masing-masing rumah belajar, kami pun kembali dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang berbeda pula dari kelompok sebelumnya, dan saya mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hal dari para guru SD Negeri Kalasan 1. Berbeda dari kegiatan magang SD sebelumnya yang sering melakukan kegiatan akademik dan beberapa kegiatan non akademik, kali ini kegiatan KKN pendidikan di SD lebih difokuskan pada kegiatan non akademik. Berbagai kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan penghijauan, pengecatan lapangan sekolah, kegiatan menyampul dan mengkatalogan buku, serta pembuatan mading bagi setiap kelas khususnya kelas atas. Kegiatan KKN pendidikan di SD memberikan kami banyak pengalaman dalam melakukan kegiatan kecil dan bagaiman menjalin kerjasama yang baik dalam kelompok.
Selama KKN rumah belajar dan KKN pendidikan SD dilakukan, kami pun diminta untuk meluangkan waktu disela-sela kesibukkan tersebut untuk menyususn skripsi. Awalnya saya merasa sulit, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun karena sebuah tuntutan, saya mencoba mengambil waktu yang kosong untuk mengerjakan skripsi. Dalam menyususn skripsi kami pun dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dengan judul yang berbeda. Saya mendapatkan judul skripsi tentang “Pengembangan LKS Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Subtema Manusia dan Lingkungan untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar”. Langkah-langkah penyusunan tugas akhir/skripsi ini dimulai dengan melakukan analisis kebutuhan, yaitu dengan mewawancarai wali kelas V SD Negeri Kalasan 1. Kegiatan analisis kebutuhan dilakukan untuk mengumpulkan informasi awal untuk penyusunan tugas akhir pada BAB I penelitian. Setelah itu saya mencoba mengumpulkan buku-buku sumber yang berkaitan dengan judul skripsi yang tentunya sangat dibutuhkan dalam penyusunan kajian teori (BAB II).
Setelah mengumpulkan berbagai sumber yang diperlukan dalam penyusunan tugas akhir pada BAB II, saya kembali menyusun dan membuat persiapan yang akan dilakukan, seperti langkah-langkah yang akan dilakukan, perencanaan seperti jadwal penelitian, model pengembangan yang akan dimuat dalam LKS, serta bagaimana mempersiapkan instrumen-instrumen untuk
109
memvalidasi setiap produk yang akan dihasilkan berdasarkan judul skripsi yang saya buat. Sebelum melakukan validasi, saya harus membuat produk terlebih dahulu berupa 6 buah RPP lengkap dengan LKS. RPP dan LKS yang sudah jadi kemudian diberikan kepada dosen dan guru kelas, selaku vadidator yang akan memvalidasi produk yang telah dibuat. Produk yang telah dibuat mendapatkan komentar dan masukan-masukan yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan produk yang telah ada, dan hasilnya dapat dituangkan pada BAB IV dan dapat ditarik kesimpulannya pada BAB V.
Proses demi proses dapat dilalui dengan baik dan akhirnya saya dan teman-teman bisa melewati satu tahap (awal) dengan baik dan menyelesaikan program S1. Ternyata tidak berhenti sampai di sini. Sebagai calon pendidik, kami juga mengikuti salah satu kegiatan atau program yang disebut program profesi guru. Dalam program ini banyak tuntutan yang harus kami jalani, mulai
dari mengikuti kegiatan workshop dengan menyususn 16 SSP dan
PTK. Kegiatan workshop ini dilakukan selama ± 4 bulan sebelum
terjun ke tempat PPL PPG di masing-masing sekolah yang
telah ditentukan. Proses
penyusunan SSP mengikuti
kurikulum yang berlaku di
sekolah tempat PPG. Oleh
karena itu dari ke-16 SSP tersebut saya menyusun SPP
berdasarkan kurikulum 2013
untuk kelas I dan IV, sedangankan KTSP tematik untuk kelas II dan III dan KTSP untuk kelas V. Dari ke-16 SSP yang harus dibuat terdiri dari 4 SSP kurikulum 2013, 4 SSP KTSP Tematik, 4 SSP PTK, 2 SSP kurikulum lain (yang berbeda), dan SSP untuk ujian kompetensi mengajar yang akan dinilai langsung oleh dosen pembimbing dan kepala sekolah di lapangan.
Setelah semuanya telah dipersiapkan denga baik, kami pun diterjunkan ke tempat-tempat PPL, tempat yang tidak asing lagi bagi saya, karena di sekolah-sekolah inilah kami juga melakukan kegiatan magang. Kegiatan PPL-PPG dilaksanakan selama 4 bulan dan saya mendapat PPL di SD Negeri Kalasan Baru. Selama berproses di SD Negeri Kalasan Baru kami melakukan
110
kegiatan-kegiatan seperti yang telah dijadwalkan dalam setiap agenda harian kelompok. Kami mulai mengajar di setiap kelas,
dimulai dari kelas I – V mengikuti jadwal yang telah ada dan
disesuaikan dengan jadwal guru. Selain itu juga selama melaksanakan kegiatan PPL-PPG di SD Negeri Kalasan Baru, kami juga ikut membantu sekolah dalam perlombaan sekolah sehat, perlombaan MTQ, dan perlombaan gerak jalan untuk memeriahkan HUT RI. Dengan adanya berbagai kegiatan yang dilaksanakan dan perlombaan yang diikuti, saya pun merasakan suatu hal yang berbeda dan saya bisa belajar dari setiap pengalaman yang baru ini, yang belum saya dapat sebelumnya. Tahap demi tahap dapat terlaksana dengan baik termasuk pelaksanaan PTK. Proses yang telah kami lewati akhirnya disusun dalam bentuk laporan PTK dan laporan PPL-PPG.
Setiap proses yang kami tempuh sebagai seorang calon guru di Universitas Santa Dharma memberikan banyak manfaat dan pelajaran dalam hidup untuk membangun daerah kami nantinya. Kami menjadi calon guru yang diasah dengan berbagai kegiatan akademik dan non akademik dan dari sesuatu yang benar-benar kami tidak tahu menjadi tahu. Banyak manfaat yang dapat kami petik dan dapat kami terapkan di daerah kami nantinya. Namun dari semua rangkain kegiatan yang telah dilewati tidak semuanya serta merta berjalan dengan lancar. Ada berbagai kendala yang saya hadapi selama mengikuti setiap kegiatan yang telah dilewati. Dimulai dengan kendala yang dihadapi dalam proses perkuliahan,
magang SD-SMP, kegiatan KKN, dan kegiatan workshop PPG.
Kendala yang saya hadapi yaitu bagaimana melawan rasa malas yang ada dalam diri dan hanya mau bersantai serta menunda-nunda pekerjaan dan beranggapan bahwa semuanya pasti akan terselesaikan tepat pada waktunya. Setiap tugas perkuliahan yang diberikan semakin banyak dan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan menjadikan pekerjaan yang awalnya sedikit menjadi banyak dan membebankan diri sendiri. Kebiasaan yang buruk membuat tugas yang dikerjakan tidak maksimal dan terburu-buru. Tidak hanya dalam kegiatan perkuliahan saja, dalam kegiatan magang SD dan SMP terdapat beberapa kendala yang saya hadapi, salah satunya menghadapi anak-anak yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda dan tingkat keaktifannya yang berbeda-beda pula. Saya dihadapkan pada situasi yang
111
sebelumnya saya belum pernah alami dan saya tidak tahu bagaimana cara agar saya bisa mengatasinya. Selain itu juga saya dihadapkan dengan sikap dan perilaku siswa SMP yang sebelumnya belum pernah saya temui dan bahkan mampu membuat saya cukup gugup karena ternyata fisik mereka lebih besar dari saya serta mereka terkadang ingin mencoba guru dengan berbagai pertanyaan. Mau tidak mau sebagai seorang calon guru, saya harus benar-benar siap dengan situasi apapun yang datang. Seorang calon guru harus pandai dan punya inisiatif yang tinggi untuk bisa mengatasinya. Di sinilah saya merasakan bahwa menjadi seorang guru tidaklah mudah, harus selalu siap dengan segala konsekuensi yang datang tidak terduga, dan harus mampu mengatasinya.
Kendala yang dihadapi tidak berhenti sampai di sini. Saya juga menemukan kendala selama kegiatan KKN pendidikan di Sanggar Lare Mentes Klaten. Baru mendengar nama tempatnya yang jauh dari asrama langsung membuat saya kehilangan semangat untuk berlama-lama di sana. Apalagi selama di sana saya dan teman harus benar-mengikuti kebiasaan yang ada di sana, beda dengan yang sudah sering dilaksanakan di asrama yang terlihat lebih santai dan banyak waktu untuk beristirahat. Selain itu, dalam kelompok kecil ini sering terjadi kesalahpahaman dan pemikiran keras kepala yang mengikuti ego masing-masing dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan dalam kelompok kecil yang sudah saling mengenal dengan baik pun sering terjadi
cekcok dan perbedaan pendapat yang membuat hubungan di
antara kami tidak baik. Namun, semuanya dapat diatasi dengan cara melakukan kegiatan refleksi bersama dan menyampaikan semua perasaan yang mengganjal di dalam hati, sehingga semuanya dapat terselesaikan dengan baik.
Dari masalah ini saya belajar bahwa mendengarkan orang lain sepertinya begitu sulit dan hal ini tidak hanya terjadi dalam
kegiatan KKN saja, tetapi juga dialami pada kegiatan workshop
PPG. Setiap orang menganggap bahwa pendapatnya atau apa yang dilakukannya merupakan hal yang paling benar sehingga terjadilah kesalahpahaman dalam kelompok. Tidak hanya berkaitan dengan kendala yang ada dalam diri kami masing-masing, akan tetapi juga kendala yang timbul dari luar seperti jadwal mengajar yang tidak sesuai atau bertabrakan dengan
112
kegiatan siswa, sehingga harus ditunda atau bahkan dimajukan. Selain itu juga kendala yang dihadapi adalah ketika melakukan praktik mengajar tidak ditemani atau dinilai oleh guru kelas/guru pamong. Dalam hal ini saya dan beberapa teman harus mengajar mandiri tanpa diamati oleh guru karena berhalangan. Namun semua masalah tersebut dapat diatasi karena guru yang berhalangan meminta bantuan pada guru lain untuk mangamati.
Berdasarkan pengalaman yang telah saya dapatkan selama berdinamika di Universitas sanata Dharma, setiap ilmu yang saya dapatkan dan juga pengalaman yang saya alami dari berbagai kegiatan akademik maupun non akademik dapat saya terapkan nantinya ketika saya kembali ke daerah saya. Setiap pengalaman yang didapat dijadikan dasar untuk membangun sesuatu yang baru di sana yang belum pernah ada dan belum dilakukan di sana, sehingga mampu memperbaiki pendidikan di daerah saya khususnya di tempat saya akan mengabdi nantinya. Semuanya berawal dari hal kecil dan kemudian dari hal yang kecil mampu membawa perubahan ke hal yang lebih besar. Ilmu yang saya dapatkan semoga bermanfaat demi pengembangan pendidikan di daerah saya.
Dengan mengikuti pendidikan di Universitas Sanata Dharma, saya merasakan banyak perubahan dalam diri saya. Salah satunya cara pandang saya tentang guru. Setelah saya belajar banyak hal, saya mulai memahami bahwa menjadi seorang guru merupakan sesuatu yang berbeda dan sangat menyenangkan. Menjadi seorang guru harus mampu menjadi pribadi yang disenangi oleh siswa dan menjadi teman bagi siswa, sehingga siswa akan terbuka dan tidak takut. Menjadi guru adalah mau menerima segala perbedaan yang ada dan mampu menyatukan setiap perbedaan dalam diri setiap siswa dan mampu mengubah