• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Analisis Data

4.3.3 Kuadran SWOT

Matriks Internal Analysis Summary (IAFS) dan Matriks Eksternal Analysis Summary (EFAS) dapat dipetekan dengan cara sebagai berikut ini:

a. Sumbu horizontal (x) menunjukkan kekuatan dan kelemahan, sedangkan sumbu vertikal (y) menunjukkan peluang dan ancaman.

b. Kemudian letak nilai yang ditentukan dengan ketentuan sebagaibarikut:

a) Jika peluang >ancaman, maka y>0. Namun jika ancaman>peluang, maka y<0.

b) Jika kekuatan>kelemahan, maka x>0. Namun jika kelemahan>peluang, maka x<0.

Hasil dari analisis tabel 4.4 dan 4.5 didapat bahwa:

1. Nilai skor kekuatan sebesar 2,58 2. Nilai skor kelemahan sebesar 1,33 3. Nilai skor peluang sebesar 1,75 4. Nilai skor ancaman sebesar 0,72

Diagaram: 4.1 Diagram Analisis SWOT

II I

Mendukung Strategi Mendukung Strategi

Turn-Around Agresif

Mendukung Strategi Mendukung Strategi

Defentif Diversifikasi

III IV

Sumber: Hasil olahan data primer, 2014

Berdasarkan giagram 4.1 diagram analisis SWOT yang diatas bahwa strategi yang tepat diterapkan di usaha meubel BM. Suka Piring adalah Strategi Agresif yang terletak di Kuadran I. Opportunity  (+1,75)  Weaknesses  (‐1,33)  Strenghts  (+2,58) Threats  (‐0,72) 

Strategi Agresif atau strategi SO pada Matriks SWOT merupakan strategi yang memanfaatkan kekuatan internal yang di miliki perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Alternatif Strategi Agresif dapat dapat dijalankan dengan beberapa cara antara lain:

1. Meningkatkan volume penjualan

Langkah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan internal yang di miliki perusahaan seperti lokasi usaha yang sangat strategis, jenis dan desain produk yang beraneka ragam, produk yang di hasilkan memiliki kualitas dan mampu bersaing dengan usaha sejenis, menerima reparasi atau perbaikan semua jenis sofa dengan bahan berkualitas, memiliki bahan baku yang berkualitas, dan selalu menjaga hasil kerja dan kualitas produk. Dengan lokasi yang strategis maka dapat mempermudah konsumen dan pelanggan dapat membeli serta mereparasi sofa mereka tanpa harus melewati jalan yang jauh dari jalan raya, sambil jalan atau pulang kerja atau bepergian mereka bisa langsung turun dan bertanya-tanya kepada pemiliknya, dengan bahan yang berkualitas dan hasil kerja yang baik dan rapi dapat menjanjikan konsumen agar selalu mengingat Bm. Suka Piring untuk memesan dan mereparasi sofa tanpa harus pikir panjang ini dapat meningkatkan volume produksi meubel dengan membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, dukungan bantuan modal usaha dengan syarat

pengetahuan, dan informasi menjdai kesempatan besar untuk memenuhi permintaan akan barang meubel yang semakin meningkat.

2. Mempertahankan dan memperluas pangsa pasar

Langkah ini membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, dilakukan untuk dapat memanfaatkan peluang agar perusahaan dapat memperluas pangsa pasarnya. Peluang seperti membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, permintaan barang meubel dan reparasi sofa semakin meningkat, dukungan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan, dan informasi, melikili konsumen atau pelanggan yang setia, dan semakin menigkatnya jumlah pertumbuhan masyarakat khususnya Kota Medan Sumatera Utara yangharus dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan pangsa pasar dan daya saing perusahaan.

4.3.4 Matriks SWOT

Matriks SWOT merupakan suatu alat yang mengkombinasikan antara faktor internal dan faktor eksternal uantuk mendapatkan strategi-stategi yang dapat diterapkan di dalam perusahaan. Kombinasi tersebut menghasilkan empat (4) strategi yaitu: strategi SO, strateegi WO, strategi ST, dan strategi WT.

Pada strategi SO atau di kenal dengan strategi agresif atau strategi pertumbuhan. Perusahaan disarankan dapat memanfaatkan kekuatan internal yang di

miliki perusahaan sehingga dapat memanfaatkan yang ada dengan memperluas pangsa pasar dan volume penjualan.

Pada strategi WO atau di kenal dengan strategi trun-around. Perusahaan tergantung pada lingkungan yang ada. Kondisi ini dapat menguntungkan dan merugikan perusahaan.Oleh sebab itu strategi ini diterpakan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada, dengan cara mengatasi kelemahan-kelemahan yang di miliki.

Pada strategi ST atau di kenal dengan strategi strategi diversifikas. Perusahaan di sarankan untuk melakukan diversifikasi pada produk yang di hasilkan. Alternatif strategi ini memang memiliki resiko yang besar karena kelemahan yang di miliki perusahaan. Dimana strategi diversifikasi ini sering digunakan oleh perusahaan besar pada saat pasar jenuh dengan produk yang dihasilkan.

Pada strategi WT atau yang di kenal dengan strategi defentif. Strategi dfentif merupakan strategi bertahan perusahaan yang mengalami permasalahan di dalam lingkungan internal terhadap kurangnya meramal ke depan mengenai perkembangan produk di pasar. Strategi ini dapat menyelamatka perusahaan karena mengurangi kerugian perusahaan dan memotong biaya-biaya variabel.

Faktor Internal Kekuatan (S)

1. Lokasi usaha yang sangat strategis

2. Jenis atau desain produk meubel yang beraneka ragam

3. Produk yang di hasilkan memiliki kualitas dan mampu bersaing dengan produk usaha sejenis

4. Menerima jasa layanan mereparasi atau perbaikan segala jenis sofa

5. Memiliki bahan baku yang berkualitas

6. Selalu menjaga hasil kerja dan kualitas produk 7. Memiliki komunikasi dan hubungan kerja yang baik dengan pekerja di

Kelemahan (W)

1. Tidak memiliki legalisi izin usaha

2. Sistem penjualan hanya

dengan menunggu konsumen datang atau pesanan dari pelanggan 3. Varian produk belum sesuai dengan daya jangkau atau kebutuhan konsumen

4. Tidak memiliki SDM yang tetap dan kurangnya ahli yang kompeten

5. Tidak memiliki manajemen dan sistem laporan keuangan yang dikelola secara sistematis 6. Pembuatan kerangka masih tergantung pada

Faktor Eksternal BM. Suka Piring pihak lain sebagai pemasok

Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O 1. Menambah jenis atau

model dan produk lainnya yang lebih unik dan menarik

2. Membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda 3. Mendapatkan kredit kembali dari bank-bank yang memberikan kredit pada UKM (Usaha Kecil Menengah)

4. Permintaan barang meubel dan reparasi sofa semakin meningkat

5. Kemajuan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan, dan

1. Meningkatkan volume produksi penjualan (S1, S2, S3, S4, S5, S6, O2, O5, dan S6)

2. Mempertahankan dan memperluas pangsa pasar (S2, S3, S4, S5, S6, O2, O4, O5, O6, dan O7)

1. Memperbaiki manajemen perusahaan

(W2, W3, W4, W5, W6, O5, dan O6)

2. Mengadakan Sumberdaya manusia yang tetap (W2, W4, O2, dan O3)

3. Mengadakan promosi penjualan (W1, W4, W6, O1, O2, dan O3)

6. Memiliki konsumen atau pelanggan yang setia 7. Semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan masyarakat khususnya Kota Medan Sumatera Utara.

Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T

1. Pelaku bisnis baru pada usaha sejenis

2. Kehilangan pelanggan karena berpindah kepada pesaing baru

3. Persaingan harga antara usaha sejenis

4. Kelangkaan bahan baku 5. Adanya sales meubel door to door

6. Semakin canggihnya

teknologi dalam pembuatan perabot dari

1. Menjalin hubungan yang baik dengan konsumen, pemasok, dan mitra usaha (S2, S3, S4, S5, S6, T3, T4, T5, dan T6)

2.Mengadakan

pengembangan pasar dan melakukan pengembangan produk (S2, S3, S5, S6, T1, T2, T6 dan T7) 1. Menghemat biaya pengeluaran perusahaan ( W4, W6, T3, T4, dan T 5) 2. Menjalin hubungan yang baik dengan mitra kerja dan menigkatkan daya saing (W1, W5, T3, dan T4)

bahan lain

7. Metode pemasaran yang lebih modern

Sumber: Hasil Penelitian, 2014

Tabel 4.5 Matriks SWOT

1. Strategi SO

Strategi SO merupakan strategi yang memanfaatkan peluang dan kekuatan perusahaan. Alternatif strategi antara lain:

1. Meningkatkan volume penjualan

Langkah ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan internal yang di miliki perusahaan seperti lokasi usaha yang sangat strategis, jenis dan desain produk yang beraneka ragam, produk yang di hasilkan memiliki kualitas dan mampu bersaing dengan usaha sejenis, menerima reparasi atau perbaikan semua jenis sofa dengan bahan berkualitas, memiliki bahan baku yang berkualitas, dan selalu menjaga hasil kerja dan kualitas produk. Dengan lokasi yang strategis maka dapat mempermudah konsumen dan pelanggan dapat membeli serta mereparasi sofa mereka tanpa harus melewati jalan yang jauh dari jalan raya, sambil jalan atau pulang kerja atau bepergian mereka bisa langsung turun dan

Bm. Suka Piring untuk memesan dan mereparasi sofa tanpa harus pikir panjang ini dapat meningkatkan volume produksi meubel dengan membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, dukungan bantuan modal usaha dengan syarat dan kredit yang ringan, kemajuan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan, dan informasi menjdai kesempatan besar untuk memenuhi permintaan akan barang meubel yang semakin meningkat.

2. Mempertahankan dan memperluas pangsa pasar

Langkah ini membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, dilakukan untuk dapat memanfaatkan peluang agar perusahaan dapat memperluas pangsa pasarnya. Peluang seperti membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, permintaan barang meubel dan reparasi sofa semakin meningkat, dukungan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan, dan informasi, melikili konsumen atau pelanggan yang setia, dan semakin menigkatnya jumlah pertumbuhan masyarakat khususnya Kota Medan Sumatera Utara yangharus dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan pangsa pasar dan daya saing perusahaan.

2. Strategi ST

Strategi ST merupakan strategi yang memanfaatkan peluang untuk mengatasi ancaman perusahaan. Alternatif strategi antara lain:

1. Mejalin hubungan yang baik dengan konsumen, pemasok dan mitra kerja

Strategi ini bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan komsumen dan mitra kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha.Dalam mengelola usaha di perlukan pemasaok yang menyuplai bahan baku untuk kegiatan produksi usaha dan mitra kerja usaha yang memesan produk meubel. Hubungan dengan konsumen juga sangat penting dibangun untuk membangun kedekatan agar konsumen merasa nyaman dan setia pada saar membeli, memesan produk kita serta mereparasi sofa mereka.

2. Mengadakan pengembangan pasar dan melakukan pengembangan produk

Penelitian dilakukan untuk mencari desain-desain dan bentuk meubel terbaru dan termode pada saat sekarang ini yang sering di gunakan konsumen, sehingga dapat meningkatkan volume penjualan barnag meubel.

3. Strategi WO

Strategi WO merupakan strategi yang dipergunakan untuk memperkecil kelemahan perusahaan dengan memanfaatkan peluang yang ada. Alternatif strategi antara lain:

sangat rendah yang di tandai dengan tidak adanya pencatatan transaksi keuangan, dokumenatsi dan sebagainya. Usaha meubel BM. Suka Piring akan kesulitan untuk mendapatkan informasi dan mengambil suatu keputusan dalam kegiatan produksi usaha.

2. Mengadakan sumber daya manusia yang tetap

Usaha meubel BM. Suka Piring tidak memiliki karyawan yang tetap karena kurangnya dana untuk menggaji karyawan dan jumlah permintaan yang tidak tetap. Pengadaan karyawan perlu dilakukan untuk dapat membantu dalam mengelola usaha ketika pemilik mengalami keadaan yang kurang baik atau musibah.

3. Mengadakan promosi penjualan

Usaha meubel BM. Suka Piring tidak memiliki promosi yang besar separti perusahaan-perusahaan besar, usaha meubel BM. Suka Piring hanya mengadalkan promosi dari mulut ke mulut dan pamplet di depan toko. Sehingga usaha meubel BM. Suka Piring kesulitan dalam memperkenalkan produknya kepada konsumen.

4. Strategi WT

Strategi WT merupakan strategi yang digunakan untuk bertahan demi dari ancaman dengan kelemahan yang dimiliki peusahaan. Alternatif strategi antara lain:

1. Menghemat biaya pengeluaran perusahaan

Perusahaan menekan seluruh biaya-biaya yang tidak perlu agar dapat memperkecil pengeluaran karena kekurangan modal yang di miliki. Inin merupakan altenatif cerdas agar perusahaan tetap dapat berlangsung.

2. Menjalin hubungan yag baik dengan mitra kerja dan menigkatkan daya saing

Strategi ini dilakukan untuk memperkecil tingginya akan ketergantungan perusahaan terhadap pemasok dalam memesan rangka meubel dan meningkatkan produksi perusahaan agar memiliki daya saing.

4.4 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pada usaha meubel BM. Suka Piring di Jl. Jamin Ginting No. 580 Padang Bulan Medan. Usaha Meubel BM. Suka Piring adalah salah satu usaha yang bergerak dibidang perabot rumah tangga dengan menggunakan keahlian tangan manusia atau skill yang memiliki dua kegiatan, yaitu

1. Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal usaha meubel BM. Suka Piring, yaitu:

Pada kondisi faktor lingkungan internalnya yang menurut Jatmiko (2004: 68), yaitu:

1. Aspek Pemasaran, pada usaha meubel BM. Suka Piring ini menggunakan empat unsur dalam pemasaran yaitu: produk (product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion).

2. Aspek Keuangan dan Akuntansi, pada usaha meubel BM. Suka Piring belum memiliki sistem laporan keuangan secara sistematis.

3. Aspek Sumber Daya manusia, pada usaha meubel BM. Suka Piring tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup besar.

4. Aspek Produksi/Operasi dan Penelitian Pengembangan, pada usaha meubel BM. Suka Piring belum memiliki produksi yang tetap, karena produksi hanya menunggu pembeli atau pelanggan datang.

5. Aspek Sistem Informasi, pada usaha meubel BM. Suka Piring belum memiliki sistem informasi yang canggih.

Dan menurut Jatmiko (2004: 38) Lingkungan eksternal terdiri dari dua yaitu: lingkungan eksternal makro dan lingkungan eksternal mikro. Lingkungan eksternal makro yang terdiri dari: faktor fisik, faktor ekonomi, faktor sosial, faktor politik dan

mikro yang terdiri dari: ancaman pendatang baru, kekuatan pemasok (powerful of suppliers), kekuatan pembeli/pelanggan (power of buyers), ancaman produk pengganti, pesaing dalam industri.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap faktor lingkungan perusahaan yaitu lingkungan internal dan lingkungan eksternal bahwa pada tabel 4.2, yaitu matriks Matriks Internal Analysis Summary (IFAS), faktor kekuatan mendapatkan subtotal senilai 2,58 dan faktor kelemahan 1,33. Sedangkan pada tabel 4.3, yaitu matriks Matriks Eksternal Analysis Summary (EFAS) didapatkan hasil faktor peluang mendapatkan subtotal senilai 1,75 dan faktor ancaman senilai 0,72. Sehingga dapat disimpulkan bahwa posisi usaha meubel BM. Suka Piring berada pada Diagram Analisis SWOT terletak dikuadran I dengan Strategi Agresif atau Strategi Pertumbuhan.

2. Strategi yang tepat dalam upaya pengembangan usaha meubel BM. Suka Piring, yaitu:

Menurut Jatmiko (2004: 116), strategi agresif atau strategi pertumbuhan atau strategi ekspansi merupakan saatnya perusahaan untuk melakukan pertumbuhan dengan sasaran perusahaan yang beragam. Pertumbuhan perusahaan merupakan hasil dari variabel internal dengan dukungan keterampilan yang dimiliki untuk membaca kondisi lingkungan eksternal perusahaan. Terdapat beberapa strategi perusahaan yang

1. Pertumbuhan Konsentrasi

Pertumbuhan konsentrasi atau strategi penetrasi pasar merupakan strategi perusahaan yang memfokuskan pada bisnis produk atau jasa tunggal atau sejumlah kecil produk yang saling berkaitan.

2. Strategi Integrasi Vertikal

Integrasi vertikal terjadi apabila suatu bisnis atau perusahaan bergerak ke wilayah yang melayani pasokan bahan baku atau mendekatkan produk atau jasa ke arah pelanggan. Strategi Integrasi Vertikal membutuhkan finansial yang besar.

3. Strategi Diversifikasi

Strategi diversifikasi merupakan perusahaan menghasilkan produk dan jasa yang berbeda-beda dari bisnis semula.

Dari ketiga strategi yang digolongkan oleh Jatmiko diatas, strategi agresif yang tepat untuk diterapkan di usaha meubel BM. Suka Piring adalah strategi agresif pertumbuhan konsentrasi.

Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan bisnis di usaha meubel BM. Suka Piring adalah meningkatkan volume produksi penjualan dan mempertahankan dan memperluas pangsa pasar. Desain strategi tersebut dapat diterapkan di usaha meubel BM. Suka Piring di masa yang akan datang agar dapat tetap bertahan dengan memaksimalkan kekuatan yang tersedia dengan

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari penelitian bab sebelumnya melalui analisis SWOT

(Strengths, Weaknesses, Opportunity, and Threats Analysis) maka peneliti akan mengambil kesimpulan pada usaha meubel BM. Suka Piring sebagai berikut:

1. Kondisi dari faktor lingkungan internal dari usaha meubel BM. Suka Piring di Jl. Jamin Ginting No. 580 Medan:

a) Kekuatan (Strengths)

Salah satu kekuatan (strengths) usaha meubel BM. Suka Piring antara lain:

1. Lokasi usaha yang sangat strategis, yaitu memberikan dampak positif bagi usaha meubel BM. Suka Piring sehingga tetap dapat bertahan.

2. Jenis atau desain produk meubel yang beraneka ragam, yaitu memberikan desain motif yang lebih inovatif sehingga diminati oleh konsumen atau pembeli atau pelanggan dan terus tetap diingat

3. Produk yang di hasilkan memiliki kualitas dan mampu bersaing dengan produk usaha sejenis, yaitu dengan kualitas yang baik membuat usaha meubel BM. Suka Piring mampu untuk bertahan hingga sekarang.

4. Menerima jasa layanan mereparasi atau perbaikan segala jenis sofa, yaitu dengan adanya layanan jasa mereparasi usaha meubel BM. Suka Piring memiliki penghasilan yang tidak pernah berhenti karena usaha meubel BM. Suka Piring selalu memberikan hasil kerja dan kualitas bahan baku yang baik dalam mereparasi sofa sehingga tidak mengecewakan konsumen.

5. Memiliki bahan baku yang berkualitas, yaitu bahan baku yang digunakan usaha meubel BM. Suka Piring selalu menggunakan bahan baku yang berkualitas sehingga selalu diingat dibenak konsumen dan tetap bertahan hingga sekarang.

6. Selalu menjaga hasil kerja dan kualitas produk, yaitu usaha meubel BM. Suka Piring selalu menjaga hasil kerja para pekerja dengan selalu mengontrol kerja mereka.

7. Memiliki komunikasi dan hubungan kerja yang baik dengan pekerja di BM. Suka Piring, yaitu pemilik usaha meubel BM. Suka Piring memiliki komunikasi yang baik dengan para pekerjanya

b) Kelemahan (Weaknesses)

Salah satu kelemahan (weaknesses) usaha meubel BM. Suka Piring antara lain:

1. Tidak memiliki legalisi izin usaha, yaitu kurangnya pengetahuan dan permodalan untuk membuat surat izin usaha.

2. Sistem penjualan hanya dengan menunggu konsumen datang atau pesanan dari pelanggan, yaitu karena kurangnya modal membuat usaha meubel BM. Suka Piring harus menunggu pesanan dari konsumen baru melakukan kegiatan produksi. Hal ini juga disebabkan karena tidak adanya karyawan tetap di dalam usaha meubel BM. Suka Piring sehingga mengalami kesulitan.

3. Varian produk belum sesuai dengan daya jangkau atau kebutuhan konsumen, yaitu dengan keterbatasan modal dan ahli yang kompeten dalam memproduksi membuat usaha meubel BM. Suka Piring memiliki keterbatasan untuk menjual dan memproduksi produk yang bervariasi.

4. Tidak memiliki SDM yang tetap dan kurangnya ahli yang kompeten, yaitu dengan keterbatasan modal membuat usaha meubel BM. Suka Piring sulit untuk merekrut karyawan tetap dan

5. Tidak memiliki manajemen dan sistem laporan keuangan yang dikelola secara sistematis, yaitu kurangnya ilmu pengetahuan membuat pemilik usaha meubel BM. Suka Piring kesulitan dalam melakukan manajemen dalam pengmabilan keputusan serta pelaporan transaksi keuangan secara sistematis.

6. Pembuatan kerangka masih tergantung pada pihak lain sebagai pemasok, yaitu karena kurangnya ahli yang kompeten dalam pembuatan meubel dan bahan baku yang langka membuat usaha meubel BM. Suka Piring harus mengimpor kerangka untuk sofa dari luar.

2. Kondisi dari faktor lingkungan eksternal dari usaha meubel BM. Suka Piring di Jl. Jamin Ginting No. 580 Medan:

a) Peluang (Opportunity)

Salah satu peluang (opportunity) usaha meubel BM. Suka Piring antara lain:

1. Menambah jenis atau model dan produk lainnya yang lebih unik dan menarik, yaitu semakin banyaknya jumlah pertumbuhan masyarakat, perumahan-perumahan baru dan teknologi canggih merupakan peluang besar bagi usaha meubel BM. Suka Piring untuk dapat memberikan model-model yang lebih unik dan inovatif

2. Membuka usaha sejenis di lokasi yang berbeda, yaitu semakin banyaknya jumlah pertumbuhan masyarakat, perumahan- perumahan baru merupakan peluang bagi usaha meubel BM. Suka Piring untuk membuka usaha baru agar lebih mempermudah dan mengakses lebih dekat.

3. Mendapatkan kredit kembali dari bank-bank yang memberikan kredit pada UKM (Usaha Kecil Menengah), yaitu dengan adanya sistem kredit melalui perbankan maka memberikan peluang besar bag usaha meubel BM. Suka Piring untuk menambah permodalan usaha yang digunakan untuk merekrut karyawan tetap sehingga dapat memperluas pangsa pasar.

4. Permintaan barang meubel dan reparasi sofa semakin meningkat, yaitu dengan semakin meningkatnya pertumbuhan masyarakat maka semakin meningkat pula permintaan akan kebutuhan barang mewah seperti meubel karena barang meubel bukan lagi sebagai elemen pendukung bagi masyarakat tetapi barang meubel kini telah menjadi produk fashion, model dan juga gaya hidup masyarakat.

5. Kemajuan teknologi yang semakin canggih, ilmu pengetahuan, dan informasi, yaitu dengan semakin berkembangnya kemajuan zaman dan teknologi pada saat sekarang ini membuat seluruh

6. Memiliki konsumen dan pelanggan yang setia, yaitu dengan memberikan kualitas yang baik akan membuat konsumen loyal dengan usaha kita dan selalu diingat dibenak konsumen.

7. Semakin meningkatnya jumlah pertumbuhan masyarakat khususnya Kota Medan Sumatera Utara, yaitu hal ini merupakan peluang besar bagi pengusaha meubel untuk terus berkembang dan berkarya untuk meningkatkan pendapatan perusahaan dan keberlangsungan hidup pengusaha.

b) Ancaman (Threaths)

Salah satu ancaman (threaths) usaha meubel BM. Suka Piring antara lain:

1. Pelaku bisnis baru pada usaha sejenis, yaitu banyakanya pelaku bisnis usaha sejenis membuat pengusaha meubel semakin berkurang karena banyaknya pelaku usaha yang menawarkan harga yang lebih murah dan kegunaan akan barang yang sama.

2. Kehilangan pelanggan karena berpindah kepada pesaing baru, yaitu semakin meningkatnya persaingan membuat pelaku usaha lainnya membuat produk, harga, kualitas dan promosi yang menarik konsumen sehingga konsumen berpindah kepada pesaing

3. Persaingan harga antara usaha sejenis, yaitu dengan semakin meningkatnya jumlah usaha sejenis pengusaha bersaing dalam menentukan harga yang lebih murah dengan kualitas dan kegunaan akan barang yang sama.

4. Kelangkaan bahan baku, yaitu semakin menigkatnya perumahan- perumahan baru dan properti-properti baru mengakibatkan kelangkaan bahan baku akibat penebangan hutan liar.

5. Adanya sales meubel door to door, yaitu persaingan, teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin pesat dan canggih membuat pengusaha meubel semakin menurun.

6. Semakin canggihnya teknologi dalam pembuatan perabot dari bahan lain, yaitu dengan adanya teknologi yang semakin canggih membuat konsumen beralih pindah ke produk yang lebih murah namun kegunaan akan barangnya sama.

7. Metode pemasaran yang lebih modern, yaitu banyaknya pelaku- pelaku usaha yang semakin pintar membuat pelaku usaha lainnya mengalami ketertinggalan karena kurangnya ilmu pengetahuan dan informasi yang akurat.

Dokumen terkait