• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA 43 LAMPIRAN

4.6 Kualitas Air Hasil Filtras

Kualitas air ditentukan beberapa parameter, parameter biologi, parameter kimiawi, parameter radioaktif, dan parameter fisika. Dalam penelitian ini, hasil filtrasi akan dibandingkan dengan standar kualitas air bersih sesuai dengan Kepmenkes 416/Permenkes/IX/1990.

Parameter fisik yang penting untuk memenuhi standar air bersih mencakup kekeruhan, warna dan suhu. Kekeruhan merupakan karakteristik yang terlihat pertama kali saat mengukur kualitas air. Air tampak keruh, jika dalam air tersebut terdapat partikel-partikel koloid. Pengukuran kekeruhan dilakukan dengan mengukur transmisi cahaya menggunakan sumber cahaya standar. Uji tersebut

Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4, membran polisulfon dapat menurunkan nilai kekeruhan hingga 2 NTU.

Kualitas air hasil filtrasi membran PST 3% mampu menurunkan nilai kekeruhan dari 33 NTU menjadi dibawah 1 NTU. Persyaratan air bersih menurut Kepmenkes 416/Permenkes/IX/1990 adalah 5 NTU. Dalam Ahn (1999) mengungkapkan bahwa membran mikrofiltrasi dapat menurunkan kekeruhan air hingga dapat digunakan sebagai air baku. Hal ini menunjukkan bahwa membran dengan pendoping TiO2 mampu menurunkan kekeruhan air mentah.

Warna adalah parameter pertama yang dapat dinilai dari air baku. Warna air dipengaruhi salah satunya hasil dari suspensi koloid. Selain itu Warna dapat juga dihasilkan dari bahan-bahan terlarut, misalnya bahan organik. Beberapa limbah industri dapat menyebabkan perubahan warna yang mencolok dan jika tidak ditangani dengan tepat dapat berkontribusi terhadap wama air badan air penerima yang digunakan sebagai air baku dalam instalasi pengolahan air bersih / air minum. Tabel 3 menunjukkan membran polisulfon murni maupun membrane yang didoping TiO2 dapat menurunkan dari warna air dari 5 TCU menjadi lebih kecil dari 5 TCU.

Tabel 4 Kualitas hasil filtrasi membran polisulfon murni dan membran polisulfon didoping dengan TiO2 dengan pretreatment karbon aktif.

Parameter Satuan Permenkes

Air Sungai

Perlakuan (pre-treatment arang aktif)

arang PST 0% PST 3% PST 10% Fisika Kekeruhan NTU 25 33 2 3 17 2

Warna Skala TCU 50 5 5 <5 <5 <5

Suhu C 27±3 25 25 25 25 25 Kimia Besi (Fe) mg/L 1 0.22 0.05 <0.05 <0.05 0.26 Mangan (Mn) mg/L 0.5 <0.25 <0.25 <0.5 <0.5 <0.5 Nitrit mg/L 1 0.11 <0.02 <0.02 0.05 <0.02 Tembaga (Cu) mg/L 2 <0.2 <0.2 <0.2 <0.2 <0.2

Parameter kimia meliputi kandungan besi, mangan, nitrit dan tembaga pada tabel 3 dan 4 menunjukkan membran polisulfon murni maupun membran

yang didoping dengan TiO2, mampu menurunkan kandungan logam-logam tersebut. Walaupun ada beberapa hasil penyaringan yang mengalami kenaikan setelah penyaringan yang disebabkan karena kesalahan teknis.

Tabel 5 Kualitas hasil filtrasi membran polisulfon murni dan membran polisulfon didoping dengan TiO2

Parameter Satuan Permenkes

Air Sungai Perlakuan PST 0% PST 3% PST 10% Fisika Kekeruhan NTU 25 33 3 <1 3 Warna Skala TCU 50 5 5 5 5

Suhu C 27±3 25 25 25 25 Kimia Besi (Fe) mg/L 1 0.22 0.78 0.04 0.4 Mangan (Mn) mg/L 0.5 <0.25 <0.25 <0.25 <0.25 Nitrit mg/L 1 0.11 0.03 0.02 0.06 Tembaga (Cu) mg/L 2 <0.2 3.92 <0.2 <0.2

Tabel 5 menunjukkan membran polisulfon dengan doping TiO2 3% mampu menurunkan kandungan besi pada air sungai dari 0.22 mg/L menjadi 0.04 mg/L dan kandungan nitrit dari 0.11 mg/L menjadi 0.02 mg/L. Sedangkan nilai Mangan dan Tembaga tidak berubah.

didoping dengan TiO2 secara fisik terlihat berwarna putih. Konsentrasi pendadahan yang lebih tinggi menyebabkan membran menjadi lebih kaku. Pada lapisan aktif terlihat lebih mengkilap karena jumlah pori-pori yang padat dibandingkan dengan sisi pasif yang terlihat lebih buram. Sedangkan hasil foto morfologi SEM terlihat substruktur membran bunga karang dengan rongga- rongga kecil takberaturan dan asimetris.

Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa membran polisulfon murni maupun membran polisulfon yang didoping TiO2 tidak berbeda nyata dalam kinerja fluks dan konduktansi. Pendopingan TiO2 mampu meningkatkan sifat mekanik membran, terbukti semakin tinggi konsentrasi pendoping, semakin tinggi pula gaya tekan dan gaya tariknya.

Dari segi kualitas air dengan mengukur kualitas air sebelum dan sesudah filtrasi, membran polisulfon yang didoping TiO2 mampu menurunkan nilai kekeruhan, warna, kandungan besi dan nitrit pada air sungai yang tercemar.

5.2 Saran

Membran polisulfon dengan pendoping TiO2 10% b/b dapat diaplikasikan sebagai membran filtrasi untuk pembersihan air, namun diperlukan pengembangan dan penelitian lebih lanjut mengenai sintesis membran agar titanium yang ditambahkan dapat terdistribusi dengan baik dan mengenai kualitas hasil saringannya.

Baker RW. 2004. Membrane Technology and Application. 2nd Edition. England: Wiley.

Brock, T.D. 1983. Membrane filtration: a user's guide and reference manual. Science Tech. Universitas Michigan.

Chen Xiaobo, and Mao Samuel S. 2007. Titanium Dioxide Nanomaterials: Synthesis, Properties, Modifications, and Applications. Chemicals Review, 2007, 107 (7)

Cheryan, M. 1986. Ultrafiltrasi Handbook. Tecknomic publishing Co., Basel. Giancoli DC. 1991. Fisika jilid 1 edisi kelima. Jakarta: Erlangga.

Henry, J. D. 1988. Crossflow Filtration. The Rheological of Pressure Driven Crossflow Process. IOP Publishing Lth., England.

Jeon Jae-Deok, Myung-Jin Kim, Seung-Yeop Kwak. 2006. Effects of addition of TiO2 nanoparticles on mechanical properties and ionic conductivity of solvent-free polymer electrolytes based on porous P(VdF-HFP)/P(EO-EC) membranes. Journal of Power Sources 162 pp 1304–1311.

Kawamura, Susumu, Integrated Design of Water Treatment Facilities, John Wiley & Sons, Inc., New York, 1991

Kertesz S, Laszlo Z, Horvath Z, Hodur C. 2009. Clarification of Dairy Model Wastewaters by Membran Filtration. Series Chemistry 18(2):35-42.

Kesting RE. 1993. Synthetic Polymerric Membranes: A Structural Perspective. 2nd Edition. England: Wiley.

Li NN, Fane AG, Winston Ho WS, Matsuura T. 2008. Advance Membrane Technology and Applications. New Jersey: Wiley.

Mallevialle, J., Odendall, P. E., and Wiesner, M. R. 1996. Water treatment membrane processes. McGraw - Hill, NewYork.

Mulder M. 1991. Basic Principle of Membrane Technology. Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

Mulder, M. 1996. Basic Principles of Membrane Technology. Kluwer Academic Publishers. Dordrecht. Netherlands.

Porter MC. 1990. Handbook of Industrial Membrane Technology. New Jersey: Noyes.

Prihasa, Novan. 2009. Magic Box sebagai Pereduksi Polutan Udara. http://novanprihasa.files.wordpress.com / 2009 / 03 / magic box sebagai pereduksi polutan udara. pdf. [20 Desember 2009]

Radiman CL, Yuliany, Suendo V, 2002. Pengaruh Media Perendam Terhadap Permeabilitas Membran Polisulfon. Jurnal Matematika dan Sains 7(2):77-83.

Romli M, Suprihatin, Indrasti NS. 2006. Pengembangan Proses Pembuatan Membran Ultrafiltrasi Polimerik dengan Metode Inversi Fase: Efek Komposisi Larutan Polimer pada Struktur dan Kinerja Membran. Bogor: LPPM Institut Pertanian Bogor.

Scott K. 1995. Handbook of Industrial Membranes: Membrane Materials, Preparation and Characterisation. Netherlands: Elsevier.

Scott K, Hughes R. 1996. Industrial Membrane Seperation Technology. London: Blackie Academic and Professional.

Seader, J. D. dan Ernesrt, J. H. 1998. Separation Proses Principles. John Wiley and Son Inc. New York.

Sembiring, R Sari. 2005. Preparasi dan Karakterisasi Membran Berbahan Dasar Polisulfon Menggunakan Pelarut Dimethyilacetamid (DMAc). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian BogorSmith JR, Dahlan K, Coster HGL. 1992. The estimation of pore diameters by electrical measurements. Di dalam: International Membrane Science and Technology Conference; Sydney, 10-12 Nov 1992. Sydney: University of New South Wales.

Smith JR, Dahlan K, Coster HGL. 1992. The estimation of pore diameters by electrical measurements. Di dalam: International Membrane Science and Technology Conference; Sydney, 10-12 Nov 1992. Sydney: University of New South Wales.

Wei Chang, Wen Yuan Lin, 1994, Bacterial activity of TiO2 photocatalyst in

Aqueous Media, Environment Science Technology, 28(5), pp. 934-938. Wenten IG. 1999. Teknologi Membran Industrial. Bandung: Teknik Kimia ITB. .

Dokumen terkait