• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Kualitas Air

Kualitas air sangat mendukung untuk pertumbuhan organisme air. Kualitas air yang diamati adalah suhu dan derajad keasaman. Untuk mengetahui suhu air keasaman air selama penelitian disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kualitas Air Selama Penelitian

Hari Pengamatan

Perlakuan

A B C D

Suhu pH Suhu pH Suhu pH Suhu pH

Awal 29 7.2 29 7,3 29 7.4 29 4.9 P I 29 7.6 29 7.5 29 7.5 29 5.7 P II 30 7.8 30 7.5 30 7.7 30 7,3 P III 30 7.8 30 7.6 30 7.7 30 7.5 P IV 30 7.9 30 7.7 30 7.8 31 7,8 P V 31 7.9 31 7.8 31 7.8 31 7.8 Kisaran 29 – 31 7.2 - 7.9 29 – 31 7.3 - 7.6 29 – 31 7,4 - 7,8 29 - 31 4,9 - 7,8 kualitas air

Pembahasan

Populasi Brachionus sp

Hasil pengamatan terlihat ada perbedaan antar perlakuan, pertumbuhan yang terbaik adalah pada perlakuan B (ampas tahu), kemudian di ikuti oleh perlakuan D (vitamin B kompleks), perlakuan C (ragi roti) dan yang terendah adalah pada perlakuan A (fitoplankton). Terjadinya perbedaan dari masing-masing perlakuan disebabkan oleh pengaruh unsur nutrient yang ada dalam media. Pakan yang mengunakan ampas tahu merupakan jenis pakan yang terbaik bagi pertumbuhan rotifera (disajikan pada lampiran 5).

Populasi dari masing-masing perlakuan adalah perlakuan ampas tahu mencapai 201 ekor/pengamatan, perlakuan vitamin B kompleks mencapai 159 ekor/pengamatan, perlakuan ragi roti mencapai 100 ekor/pengamatan. Sedangkan populasi terendah terdapat pada perlakuan fitoplankton dengan jumlah populasi hanya sebanyak 19 ekor/pengamatan.

Jika dilihat dari pertumbuhan populasi rotifera (Brachionus sp) pakan yang menggunakan ampas tahu jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan pelakuan lainnya. Tingginya pertumbuhan populasi dengan mengunakan ampas tahu dikarenakan oleh komposisi nutrient yang kandung ampas tahu masih tinggi. Ditinjau dari komposisi kimianya ampas tahu dapat digunakan sebagai sumber protein. Sesuai dengan laporan Departemen Kelautan dan Perikanan RI (2005) menyatakan bahwa kandungan ampas tahu masih mengandung protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%. Unsur ini akan dimanfaatkan

dengan kacang kedelai, protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi dari pada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Widjatmoko (1996) menambahkan bahwa ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm. Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5 % dari bobotnya.

Pada pakan jenis ragi roti yang diberikan kepada rotifera ini belum memberikan pertumbuhan yang sangat optimal. Sebenarnya menurut Wanusuari 1993 diacu oleh Pratana (2009) Ragi roti dapat membantu penguraian karbohidrat didalam saluran pencernaan juga merangsang kerja dari amylase dan sebagai protein. Ragi roti juga dapat berperan sebagai probiotik dan menurunkan aflatoksi pada pakan. Namun aktivitas ragi dapat bekerja baik bila dikombinasikan dengan pakan lain seperti bakteri, pupuk dan fitoplankton. Menurut Dahril (1996) bahwa ragi roti ini memiliki nilai gizi yang dihasilkannya rendah dan tidak mendukung pertumbuhan. Bahkan rotifer ini tidak ada yang mampu bertelur jika tidak dikombinasikan dengan jenis pakan lain seperti bakteri. Oleh karena itu dianjurkan agar keberadaan ragi roti sebagai pakan rotifera harus diseimbangkan dengan jenis pakan lain agar memiliki perkembangan yang baik dan ideal untuk hidup Brachionus sp ini.

Pakan vitamin B kompleks yang diberikan pada rotifera mengalami pertumbuhan yang juga belum dikatakan optimal. Padahal vitamin merupakan asupan penting bagi pertumbuhan. Menurut Menurut Poedjiadi (1994) dalam

dalam jumlah kecil dalam diet pakan tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan. Pada golongan ini adalah, vitamin B komplek (tiamin, rivoflavin, niasin, asam pantotenat, piridoksin, biotin, asam folat dan kobalamin) dan vitamin C. Namun Keberadaan vitamin B kompleks ini dapat serasi jika diseimbangkan dengan jenis pakan lain misalnya ragi roti. Karena kondisi yang diharapkan bukan sebagai pakan utama tapi sebagai asupan vitamin untuk pertumbuhan rotifera. Seperti yang diungkapkan Dahril (1996), bahwa vitamin bukan merupakan makanan bagi rotifer, namun rotifer sangat membutuhkan vitamin bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya.

Pertumbuhan rotifera pada pakan fitoplankton sangat rendah, namun tergolong masih bisa tumbuh hidup. Hal ini disebabkan kurangnya kepadatan fitoplankton yang diberikan kepada rotifera. Kepadatan fitoplankton juga sangat mempengaruhi pertumbuhan rotifera ini. Seperti yang dikatakan Dahril (1996) bahwa kepadatan fitoplankton dapat mempengaruhi pertumbuhan rotifer. Akan tetapi apabila kepadatan fitoplankton telah mencapai batas optimal, maka pertumbuhan rotifera akan tetap.

Sesuai pendapat yang telah disampaikan diatas, maka rendahnya pertumbuhan Rotifera (Brachionus sp) pada perlakuan fitoplankton disebabkan oleh populasi fitoplanktonnya masih rendah sehingga asupan pakan tidak terpenuhi, begitu juga dengan perlakuan ragi roti, karena ragi roti dapat menghambat pembentukan telur sehingga Brachionus sp tidak dapat berkembang

satu vitamin yang dibutuhkan dalam pakan. Akibatnya Brachionus sp tidak dapat berkembang secara baik.

Secara keseluruhan hasil analisis menunjukan bahwa F tabel lebih kecil dari pada F hitung sehingga tidak terdapat perbedaan yang nyata dari perlakuan, namun setelah diuji lebih dalam dengan perbandingan antar perlakuan maka hasilnya sebagai berikut: terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan fitoplankton dan ampas tahu, fitoplankton dan vitamin B kompleks, sedangkan antara perlakuan fitoplankton dengan ragi roti, perlakuan ampas tahu dengan ragi roti, perlakuan ragi roti dengan vitamin B kompleks dan perlakuan vitamin B kompleks dengan ampas tahu tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hasil analisis disajikan pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.

Hasil analisis menunjukan bahwa penggunaan ampas tahu dan vitamin B komplek jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pengunaan fitoplankton dan ragi roti. Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk membudidayakan Brachionus sp sebaiknya mengunakan pakan yang berasal dari ampas tahu. Hal ini disebabkan selain pertumbuhannya lebih cepat juga mudah didapat serta biayanya murah. 2. Pertumbuhan Harian Brachionus sp

Selama pengamatan puncak pertumbuhan populasi terjadi pada hari ke-8. Jika diamati pada hari ke dua pertumbuhannya masih lambat, sedangkan pada hari ke-4 pertumbuhan perlakuan ampas tahu dan vitamin B kompleks sudah mulai naik lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan fitoplankton dan ragi roti. Walau terjadi kenaikan pada perlakuan vitamin B kompleks pada hari ke-4, namun pada hari ke-6 terjadi penurunan yang tajam, kemudian pada hari ke-8

ragi roti, sedangkan perlakuan fitoplankton masih rendah jika dibandingan dengan perlakuan lainnya ( disajikan pada Gambar 4 ).

Pertambahan populasi rotifera sudah tampak pada hari ke-2 sedangkan puncaknya terjadi pada hari ke-8. Hal ini disebabkan adanya batas masa pertumbuhan dari rotifer ini. Menurut Dahril (1996) pada penelitian yang dia lakukan bahwa Brachionus Calyciflorus yang dipelihara selama delapan hari dengan kepadatan yang tertinggi pada hari kedelapan. Sutomo dkk. (2007) menambahkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa pertumbuhan rotifer Brachionus rotundiformis yang diperkaya dari jenis pakan mikroalga yang berbeda terjadi puncak populasi pada hari ke-7 diikuti pada hari ke-8. Pertumbuhan yang baik terjadi pada pakan jenis ampas tahu. Ampas tahu yang diberikan kepada rotifera (Brachionus sp) yang berupa ampas tahu dalam keadaan basah berjumlah 2 gr. Untuk pemberian makanan dilakukan secara rutin selama 10 hari. Jumlah populasi rotifera dari hari ke-2 sampai ke-8 mengalami perkembangan yang sangat baik (disajikan pada Gambar 4). Ampas tahu merupakan produk kedelai yang kemungkinan sifat proteinnya sama dengan protein kedelai walaupun telah banyak mengalami perubahan. Ampas tahu itu memiliki kandungan protein. Menurut koeswara (1992) diacu oleh Yulisnawati (2006) Protein kedelai itu sebagian besar adalah Globulin, protein ini tidak larut dalam air di sekitar titik isoelektriknya.

Pada pakan vitamin B kompleks ini terjadi proses pertumbuhan yang mengalami penaikan dan penurunan. Pada Hari ke-2 jumlahnya sedikit kemudian

berlebihan sehingga menjadi racun bagi perkembangan Brachionus sp ini. Pada hari ke empat dilakukan pemberian vitamin B komplek, diduga pemberian vitamin melebihi dosis karena mungkin di dalam media masih banyak namun karena perlakuan maka tetap diberikan. Seperti yang diungkapkan Dahril (1996) apabila vitamin diberikan dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan keracunan bagi rotifera. Begitu pula dengan vitamin B kompleks yang tidak dicampur dengan jenis pakan lain akan terlalu larut dalam kondisi yang asam dan berindikasi buruk bagi rotifera.

Pemberian pakan ragi roti belum berkembang dengan baik karena peran ragi roti tidak bisa bekerja sendiri harus ditambahi dengan pakan lain seperti bakteri, pupuk dan fitoplankton. Padahal Kandungan yang ada didalam ragi roti ini sangat banyak. Menurut wanusuria (1993) Ragi roti membantu dalam penguraian karbohidrat didalam saluran pencernaan juga merangsang kerja dari amylase dan sebagai protein sehingga akan memperkaya kandungan protein. Menurut Dahril (1996) tidak ada satu pun yang mampu melepaskan telur namun jika ragi roti dikombinasikan dengan bakteri atau dengan fitoplankton di kolam peliharaan dapat memberikan pertumbuhan yang baik bagi rotifera.

Pada pakan perlakuan fitoplankton pertumbuhan populasi Brachionus sp masih rendah. Hal ini diduga akibat kepadatan fitoplankton sebagai pakan masih rendah, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan populasi rotifera. Namun walau dalam jumlah rendah dan pertumbuhannya lambat puncak populasi terjadi pada hari ke-8. Kepadatan fitoplankton dalam media akan mempengaruhi pertumbuhan populasi Brachionus sp.

Rendahnya pertumbuhan pada awal penelitian disebabkan karena pada awalnya jumlah populasi masih sedikit dan Brachionus sp masih melakukan adaptasi, sehingga belum melakukan perkembangbiakan, namun seiring dengan pertambahan waktu dan sudah beradaptasinya Brachionus sp dengan media maka, Brachionus sp akan melakukan pemijahan. Menurut Dahril (1996) keberadaan rotifer di suatu perairan sangat ditentukan oleh fekunditas. Fekunditas yang dimaksud disini adalah kemampuan satu individu rotifer untuk menghasilkan telur atau keturunan. Selama masa hidupnya angka fekunditas untuk jenis Brachionus Calyciflorus adalah 29,7 butir untuk amiktik dan 12,5 butir untuk induk miktik. Bagi betina amiktik dari jenis Brachionus Plicatilis ditemukan fekunditas sebesar 21.2 butir, betina miktik menghasilkan 21,8 butir telur haploid dan telur dorman 2,8 butir. Balai Penelitian dan Pengembangan Laut (2005) menjelaskan bahwa daur hidup Brachionus Plicatilis unik, dimana dalam keadaan normal Brachionus Plicatilis berkembang secara parthogenesis (bertelur tanpa kawin). Brachionus Plicatilis betina yang amiktik akan menghasilkan telur yang berkembang amiktik pula. Namun dalam keadaan yang tidak normal, misalnya terjadi perubahan salinitas, suhu air, intensitas cahaya, dan kualitas pakan maka telur Brachionus Plicatilis amiktik tadi dapat menetas menjadi betina miktik. Betina miktik ini kemudian akan menghasilkan telur yang kemudian akan berkembang menjadi hewan jantan. Bila Brachionus Plicatilis jantan dan betina miktik kawin maka akan menghasilkan telur kista. Telur kista akan dapat menetas lagi bila perairan sudah kembali normal.

delapan hari dengan kepadatan yang tertinggi pada hari kedelapan mencapai 976,8 individu/ml dan jumlah telur yang dihasilkan mencapai 124,2 butir/ml.

3. Kualitas Air

Kualitas air mempunyai peranan penting terhadap laju perkembangan makhluk hidup, terutama pada rotifera ini. Parameter yang diamati pada kualitas air ini yaitu suhu dan pH.

Hasil pengamatan untuk parameter suhu air, kisaran yang diperoleh masih dalam ambang optimal bagi pertumbuhan rotifera (Brachionus sp) yakni dalam kisaran 29 – 31 0C. seperti yang dikatakan Hirayama dan Kusono diacu oleh Dahril (1996), bahwa diperkirakan suhu optimal untuk pertumbuhan Brachionus berkisar antara 25 s/d 30 0 C. sedangkan pada suhu 10 s/d 150 C rotifera tidak dapat bergerak tumbuh secara optimal. pH yang diperoleh pada pengamatan juga masih dalam kisaran yang baik untuk pertumbuhan rotifera. Kisaran pH yakni untk fitoplankton 7,7 – 7,9, untuk pakan jenis ampas tahu yaitu 7,3 – 7,6, untuk pakan ragi roti yakni 7,4 – 7,8 dan untuk pakan vitamin B komplek yaitu 4,9 –

7,8. Untuk semua media perlakuan dapat dikatakan baik. Untuk lebih jelas hubungan kualitas air terhadap populasi pertumbuhan rotifera (Brachionus sp) disajikan pada Gambar 5 untuk pengukuran suhu dan untuk pengukuran pH pada Gambar 6.

28 28.5 29 29.5 30 30.5 31 31.5 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 A 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

Suhu Jumlah Rotifera

28 28.5 29 29.5 30 30.5 31 31.5 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 B 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00

Suhu Jumlah Rotifera

5.a 5.b 28 28.5 29 29.5 30 30.5 31 31.5 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 C 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

Suhu Jumlah Rotifera

28 28.5 29 29.5 30 30.5 31 31.5 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 D 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

Suhu Jumlah Rotifera

5.c 5.d

Gambar 5. Hubungan Suhu Terhadap Populasi Brachionus sp Pada Setiap Perlakuan

Gambar 5.a untuk perlakuan fitoplankton terjadi peningkatan populasi pada hari ke-8 dengan suhu adalah 300 C. Pada Gambar 5.b untuk perlakuan ampas tahu terjadi peningkatan populasi dengan suhu 300 C . Pada Gambar 5.c juga terjadi peningkatan populasi dengan suhu 300 C . Selanjutnya untuk Gambar 5.d juga terjadi puncak populasi pada hari ke-8 dengan suhu 300 C. Suhu yang baik akan memberikan perkembangan yang baik bagi rotifera ini. Untuk itu pada pertumbuhan Brachionus sp yang baik dan cepat berkembang terjadi pada suhu

Kenaikan suhu antara 15-350 C akan menaikkan laju reproduksinya. Kisaran suhu antara 22-300 C merupakan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan reproduksi. 6.8 7 7.2 7.4 7.6 7.8 8 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 A 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 pH Jumlah Rotifera 7 7.1 7.2 7.3 7.4 7.5 7.6 7.7 7.8 7.9 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 B 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 pH Jumlah Rotifera 6.a 6.b 7.2 7.3 7.4 7.5 7.6 7.7 7.8 7.9 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 C 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 pH Jumlah Rotifera 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 H-0 H-2 H-4 H-6 H-8 H-10 D 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah Rotifera pH 6.c 6.d

Gambar 6. Hubungan pH dengan Pertumbuhan Brachionus sp pada Setiap Perlakuan

Jika diamati pada grafik diatas bahwa kita lihat pada Gambar 6.a pertumbuhan puncak sudah dimulai pada hari ke-6 dan hari ke-8 dengan keadaan pH 7,7 – 7,8. Pada Gambar 6.b untuk perlakuan ampas tahu pH pada pertumbuhan puncak yang sudah dimulai hari ke-6 dan hari ke-8 yakni 7,6 -7,7.

pada hari ke 6 dan di puncak populasi terjadi pada hari ke-8 dengan pH 7,7 – 7,8. Pada Gambar D peningkatan populasi pada hari ke-8 dengan pH 7,8. Penurunan yang terjadi pada hari ke-6 bukan faktor pH yang buruk akan tetapi karena pemberian dosis pakan yang diberikan terlalu banyak. Terjadi pertumbuhan itu didukung oleh adanya pengaruh pH air terhadap pertumbuhan populasi Brachionus. Pertumbuhan populasi akan terjadi jika pH mendekati normal. Hal itu terjadi pada hari ke 6 dan ke 8 pertumbuhan Brachionus terjadi baik dengan kisaran pH 7-7,8. Hal ini Sesuai yang diungkapkan Schluler dan Groeneweg (1981) diacu oleh Dahril (1996) yaitu populasi rotifera tertinggi dapat ditemukan dalam keadaan pH 6 s/d 8. Sedangkan populasi rotifera semakin menurun apabila dalam keadaan pH dibawah 4,5 dan diatas 9,5. Oleh karena itu didalam pengamatan kisaran pH baik bagi lingkungan hidup rotifera.

Dokumen terkait