V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil
5.1.3 Kualitas Air
Hasil kisaran kualitas air kepiting bakau terdapat pada Tabel 5.3. dan hasil kualitas air kepiting bakau selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9 dengan pemeliharaan 32 hari.
Tabel 5.3 Nilai kisaran kualitas air media pemeliharaan kepiting bakau (Scylla serrata) selama 32 Hari
Perlakuan Data Kualitas Air
Salinitas (ppt) pH Suhu (oC) DO (ppm) Amonia (ppm)
A 15-21 7,5-8,5 28-29 4 0,09-0,27
B 16-19 7,5-8 28-29 4 0,09
C 16-21 8-8,5 28-29 4 0,09-0,27
D 15-20 8-8,5 28-29 4 0,09-0,27
E 16-21 8-9,0 28-29 4 0,09-0,27
5.2 Pembahasan
5.2.1 Retensi Lemak Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Retensi lemak menggambarkan kemampuan ikan dalam menyimpan dan memanfaatkan lemak pakan. Nilai retensi lemak diperoleh dari perbandingan antara banyaknya lemak yang tersimpan dalam bentuk jaringan di tubuh ikan dan banyaknya lemak pakan yang dikonsumsi. Perhitungan nilai retensi lemak menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dari hasil penambahan Crude Fish Oil (CFO) pada pakan perlakuan percobaan. Perlakuan B(CFO 2%) memiliki nilai yang rendah namun tidak berbeda dengan perlakuan A(CFO 0%), C(CFO 4%), D(CFO 6%), E(CFO 8%) rata-rata retensi lemak tercantum pada Tabel 5.1. Perubahan nilai retensi lemak terjadi sesuai dengan peningkatan pakan yang dikonsumsi, pertumbuhan dan penambahan jumlah CFO yang ditambahkan pada pakan. Lipid yang terdapat pada pakan akan dicerna dan diserap pada organ pencernaan dan ditransport menuju sel untuk disimpan atau digunakan (Plascencia et al., 2000). Hasil pencernaan enzim dimasukkan ke bagian posterior dan berakhir pada tubules dari hepatopankreas untuk selanjutnya dicerna dan diserap (Lovell, 1998 dalam Riyadhi, 2014).
Analisis proksimat menunjukkan kadar lemak rata-rata yang dapat disimpan pada daging kepiting bakau hasil perlakuan A (CFO 0%) 7,75%, B (CFO 2%) 7,59%, C (CFO 4%) 6,62%, D (CFO 6%) 8,24% dan E (CFO 8%) 7,78%. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Aslamyah dan Fujaya (2010a) yang menyatakan kadar lemak kepiting bakau yang dipelihara sebesar 6,34%. Penyimpanan dan pemanfaatan lemak dalam tubuh kepiting memiliki hasil yang
berbeda-beda sebab kandungan lemak pada pakan setiap perlakuan memiliki perbedaan persentase penambahan CFO sebagai sumber lemak pakan. Analisis proksimat kandungan lemak dan bahan kering (BK) awal dan akhir kepiting bakau percobaan tercantum pada Lampiran 1a. Analisis proksimat dengan persamaan bahan kering (BK) tercantum pada Lampiran 1b.
Rendahnya kandungan lemak pada daging kepiting bakau dapat dijadikan kesimpulan bahwa, pakan yang dikonsumsi paling rendah, sehingga lemak yang diserap dari proses pencernaan digunakan oleh kepiting sebagai sumber energi dan proses metabolisme lain. Lipid yang tersimpan ditransportasikan pada beberapa organ dan jaringan selama waktu tertentu (Priya et al., 2013). Lemak dari pakan digunakan untuk energi dan memaksimalkan protein untuk proses pertumbuhan (Boonyaratpalin, 1996).
Kandungan retensi lemak yang tinggi pada perlakuan D (CFO 6%) ini diduga disebabkan karena enzim lipase yang bertugas untuk menghidrolisis lemak jumlahnya terbatas,sehingga penyerapan lemak tidak dapat dilakukan secara maksimal yang akan menimbulkan sisa lemak yang diretensi jumlahnya lebih banyak. Tingginya lemak yang dikonsumsi ikan dan yang tidak digunakan sebagai sumber energi kemudian disimpan sebagai lemak tubuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Aslamyah (2008) yang mengatakan bahwa salah satu fungsi dari lemak atau lipid adalah penghasil energi, tiap gram lipid menghasilkan sekitar 9-9,3 kalori, energi yang berlebihan dalam tubuh disimpan dalam jaringan adiposa sebagai energi potensial.
Hasil percobaan menunjukkan adanya kecenderungan penurunan peresentase retensi lemak seiring dengan kurangnya pakan yang dikonsumsi, pemberian lemak pakan yang rendah dan pertambahan berat tubuh yang tidak maksimal, tidak sesuai dengan pernyataan Riyadhi (2014) bahwa penurunan persentase retensi lemak seiring dengan peningkatan kandungan lemak pakan pada udang vaname.
5.2.2 Retensi Energi Kepiting Bakau (Scylla serrata)
Retensi energi menggambarkan kemampuan ikan dalam menyimpan dan memanfaatkan energi pakan. Nilai retensi energi diperoleh dari perbandingan antara banyaknya energi yang tersimpan dalam bentuk jaringan di tubuh ikan dan banyaknya energi pakan yang dikonsumsi. Perhitungan nilai retensi energi menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dari hasil penambahan Crude Fish Oil (CFO) pada pakan perlakuan percobaan. Perlakuan A(CFO 0%) memiliki nilai yang rendah namun tidak berbeda dengan perlakuan B(CFO 2%), D(CFO 6%), C(CFO 4%), E(CFO 8%) rata-rata retensi energi tercantum pada Tabel 5.2.
Kandungan energi yang rendah pada daging kepiting bakau percobaan (A atau CFO 0%) dapat dijadikan kesimpulan bahwa, lemak pada pakan yang diserap dari proses pencernaan digunakan kepiting sebagai sumber energi sesuai dengan penelitian Riyadhi, (2014) bahwa hasil pemecahan lemak pakan yang diserap oleh udang digunakan sebagai sumber energi untuk proses metabolisme.
Buttery and Landsay (1980) dalam Subekti (2011) menyatakan bahwa retensi energi normal adalah 60-68%, sedangkan dari hasil penelitian persentasenya lebih kecil yaitu 17,99-30,14%. Hal ini terjadi karena energi yang dihasilkan
banyak dikeluarkan oleh tubuh dalam bentuk panas. Menurut Ville and Barnes (1988) dalam Subekti (2011) energi yang disimpan dapat dimafaatkan dalam sintesis komponen sel dan digunakan sebagai bahan bakar produksi energi sel.
Lemak pakan merupakan salah satu sumber energi, hal ini sesuai dengan pendapat Aslamyah (2008) pakan yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang sebagai sumber energi. Penambahan kandungan lemak dan karbohidrat dalam pakan dapat ditingkatkan untuk digunakan menjadi sumber energi, sehingga protein pakan dapat lebih efisien dalam metabolisme, pergantian sel atau jaringan yang rusak, aktifitas reproduksi, biosintesis dan pertumbuhan. Hal tersebut didukung oleh Djajasewaka, 1990 dalam Komariyah dan Aries (2009) penggunan lemak sebagai sumber energi sebenarnya hanya sebagai “protein sparing” yaitu lemak mempunyai fungsi untuk menggantikan protein sebagai sumber energi, sehingga penggunaan protein dapat dihemat untuk memaksimalkan pertumbuhan.
Nilai retensi energi merupakan hasil perhitungan dari kadar energi tubuh dengan berat badan. Perhitungan nilai pertumbuhan berat badan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dari hasil penambahan Crude Fish Oil (CFO) pada pakan perlakuan percobaan, namun perlakuan B(CFO 2%) memiliki nilai yang rendah namun tidak berbeda dengan perlakuan A(CFO 0%), D(CFO 6%), E(CFO 8%), C(CFO 4%) selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9.
5.2.3 Kualitas Air
Kualitas air merupakan faktor penting dalam menunjang budidaya ikan. Kualitas air yang diukur pada penelitian ini meliputi salinitas, pH, suhu, Dissolved oxygen (DO) dan amonia rata-rata kualitas air tercantum pada tabel 5.3 dan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 11.
A. Salinitas
Pemerikasaan kadar garam perairan pada penelitian menunjukkan kondisi salinitas yang stabil antara 15-21 ppt sesuai pernyataan Anon (2006) salinitas yang optimum untuk pemeliharaan kepiting bakau yaitu 10-25 ppt. Salinitas air pemeliharaan disesuaikan dengan salinitas asal untuk menghindari terjadinya stress pada kepiting akhibat perubahaan salinitas perairan.
B. pH
Kondisi pH air pada pemeliharaan selama penelitian berada pada kisaran 7,5-9 sesuai dengan kualitas air yang optimal (Anon, 2006). pH air pemeliharaan tetap stabil dimungkinkan pada air pemeliharaan kondisi parameter kualitas air lainnya stabil sehingga tidak terjadi fluktuasi pH yang besar. Fluktuasi harian nilai pH menggambarkan dinamika proses kimiawi air yang melibatkan proses fotosintesis, dekomposisi atau perubahan komposisi air dari pengaruh luar (Widigdo, 2013).
C. Suhu
Suhu air media pemeliharaan selama penelitian berada pada kisaran 28-29oC, kisaran suhu tersebut tidak banyak berpengaruh terhadap tingkat nafsu makan kepiting. Fluktuasi suhu air tidak banyak terjadi sebab pada tempat pemeliharaan
dilakukan pengkondisian lingkungan untuk menjaga kestabilan suhu dengan cara memberikan penutup pada akuarium dengan jaring warna hitam.
D. Dissolved oxygen (DO)
Oksigen terlarut atau Dissolved oxygen (DO) pemeliharaan selama penelitian yaitu 4 ppm, namun tidak sesuai dengan kualitas air oksigen terlarut yang optimal >5 ppm bagi kepiting (Anon, 2006). Oksigen dibutuhkan seperti makanan untuk proses metabolisme dan pertumbuhan (Lucas and Southgate, 2003).
E. Amonia
Kandungan amonia air pemeliharaan selama penelitian diketahui antara 0,09-0,27 mg/L. Sifat toksik amonia mulai terjadi pada konsentrasi 0,6-2 mg/L (Widigdo, 2013). Kondisi air dengan kandungan amonia yang tinggi akan berpengaruh terhadap kondisi fisiologi kepiting sehingga untuk mempengaruhi resiko peningkatan kandungan amonia dilakukan penyiponan sisa pakan dan feses pada pagi hari.