• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.2. Kualitas Audit

Kualitas memiliki banyak definisi untuk hal yang berbeda, dan bagi orang yang berbeda. Auditor sangat berkepentingan dengan kualitas jasa yang diberikan. De Angelo (1981) mendefinisikan audit quality (kualitas audit) sebagai probabilitas dimana seorang auditor menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran dalam sistem akuntansi kliennya. Probabilitas penemuan suatu pelanggaran tergantung pada kemampuan teknikal auditor dan independensi auditor tersebut. Beberapa penelitian seperti De Angelo (1981); Goldman & Barlev (1974); Nichols & Price (1976) umumnya mengasumsikan bahwa auditor dengan kemampuannya akan dapat menemukan suatu pelanggaran dan kuncinya adalah auditor tersebut harus independen. Tetapi tanpa informasi tentang kemampuan teknik (seperti pengalaman audit, pendidikan, profesionalisme, dan struktur audit perusahaan), kapabilitas dan independensi akan sulit dipisahkan.

AAA Financial Accounting Standards Committee (2000) dalam penelitian Christiawan (2002) menyatakan bahwa ”Kualitas audit ditentukan oleh dua hal, yaitu kompetensi dan independensi”. Kedua hal tersebut berpengaruh langsung terhadap kualitas audit. Kualitas adalah sesuatu standar yang ditetapkan oleh suatu organisasi profesi dan wajib dipatuhi oleh setiap anggota profesi agar terdapat suatu keseragaman dalam hal jasa yang dihasilkan profesi dan untuk

memperoleh kepercayaan masyarakat terhadap jasa profesi yang diserahkan (Mulyadi, 2002).

Kualitas audit tentu saja mengacu pada standar yang berkenaan dengan kriteria, atau ukuran mutu serta dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai dengan menggunakan prosedur yang bersangkutan. Di Indonesia pengendalian mutu kualitas audit yang digunakan adalah Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Dalam SPAP menyatakan bahwa kriteria atau ukuran mutu mancakup professional auditor. Kriteria mutu profesional auditor seperti yang diatur dalam Standar Auditing (SPAP : IAI, 2001; 150: 1) meliputi:

1. Standar Umum

a. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.

b. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

2. Standar Pekerjaan Lapangan

b. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus dapat diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

c. Bukti audit kompeten yang cukup harus dapat diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pan, pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.

3. Standar Pelaporan

a. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

b. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan jika ada ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.

d. Laporan auditor harus memuat pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atas suatu asersi.

Manajemen atau klien akan puas jika audit yang dilakukan oleh akuntan publik memiliki kualitas yang baik. Terdapat 7 kualitas audit yang berpengaruh signifikan terhadap kepuasan klien, yaitu: (1) atribut pengalaman melakukan audit, (2) atribut memahami industri klien, (3) atribut responsif terhadap kebutuhan klien, (4) atribut pemeriksaan sesuai dengan standar umum audit, (5) atribut komitmen kuat terhadap kualitas audit, (6) atribut keterlibatan pimpinan audit terhadap pemeriksaan, dan (7) atribut melakukan pekerjaan lapangan dengan tepat menurut Widagdo dkk (2002) dalam penelitian Christiawan (2002)). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen memiliki harapan atas kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh akuntan publik. Klien akan puas dengan pekerjaan akuntan publik jika akuntan publik memiliki pengalaman melakukan audit, responsif, melakukan pekerjaan dengan tepat dan sebagainya. Di sisi lain pemakai laporan keuangan menaruh kepercayaan yang besar terhadap hasil pekerjaan akuntan publik dalam mengaudit laporan keuangan.

2.2.3. Materialitas

Financial Accounting Standard Board (FASB) mendefinisikan materialitas sebagai: “Besarnya suatu penghilangan atau salah saji informasi akuntansi yang dipandang dari keadaan-keadaan yang melingkupinya, memungkinkan pertimbangan yang dilakukan oleh

dipengaruhi oleh penghilangan atau salah saji tersebut”. Definisi tersebut mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan (Haryono, 2001) :

1. Lingkungan yang menyangkut perusahaan klien

Sebagai contoh, suatu jumlah yang material bagi laporan keuangan suatu perusahaan tertentu, mungkin tidak material bagi laporan keuangan perusahaan lain yang mempunyai ukuran dan sifat berbeda. Selain itu apa yang material bagi laporan keuangan suatu perusahaan, bisa berubah dari periode ke periode.

2. Informasi yang diperlukan oleh pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan yang diaudit.

Dalam mempertimbangkan informasi yang dibutuhkan pemakai laporan keuangan, idealnya auditor harus mempunyai pengetahuan mengenai pihak-pihak pemakai laporan keuangan klien dan keputusan yang akan dibuat oleh para pemakai tersebut.

Materialitas mendasari penerapan standar auditing, terutama yang berkaitan dengan standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Oleh karena itu materialitas merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu audit atas laporan keuangan. PSA No.25 dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP:IAI, 2001) yang menerangkan tentang ”Resiko audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit” menyatakan bahwa auditor harus mempertimbangkan materialitas dalam:

a. Merencanakan audit dan merancang prosedur audit

b. Mengevaluasi apakah laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.2.3.1. Pertimbangan awal tingkat materialitas

Idealnya auditor menentukan pada awal audit jumlah gabungan dari salah saji. Dalam laporan keuangan yang akan dipandang material. Hal ini disebut pertimbangan awal tingkat materialitas karena menggunakan unsur pertimbangan professional, dan masih dapat berubah jika sepanjang audit yang akan dilakukan ditemukan perkembangan yang baru.

Pertimbangan auditor tentang materialitas adalah suatu masalah kebijakan professional, tingkat materialitas suatu laporan keuangan tidak akan sama tergantung pada ukuran laporan keuangan tersebut. Pertimbangan awal tingkat materialitas adalah jumlah maksimum salah saji dalam laporan keuangan yang menurut pendapat auditor, tidak mempengaruhi pengambilan keputusan dari pemakai. Penentuan jumlah ini adalah salah satu keputusan terpenting yang diambil oleh auditor, yang memerlukan pertimbangan professional yang memadai.

Tujuan penetapan materialitas ini adalah untuk membantu auditor merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Jika

yang harus dikumpulkan daripada jumlah yang tinggi, begitu juga sebaliknya. Seringkali mengubah jumlah materialitas dalam pertimbangan awal ini selama audit. Jika ini dilakukan, jumlah yang baru tadi disebut pertimbangan yang direvisi mengenai materialitas. Sebab-sebabnya antara lain perubahan faktor-faktor yang digunakan untuk menetapkannya, atau auditor berpendapat jumlah dalam penetapan awal tersebut terlalu kecil atau besar. (Wahyudi dan Mardiyah, 2006)

2.2.3.2. Faktor-faktor yang menentukan tingkat materialitas

Menurut Pernyataan Standar Auditing (PSA no.25): Resiko audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit memberikan arahan bagi auditor dalam mempertimbangkan faktor-faktor kuantitatif dan kualitatif dalam menentukan materialitas suatu item. Kemudian dijelaskan juga dalam SA Seksi 312, 10 “Pertimbangan auditor mengenai materialitas merupakan pertimbangan professional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan yang memadai dan yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan. Pertimbangan mengenai materialitas yang digunakan oleh auditor dihubungkan dengan keadaan sekitarnya dan mencakup pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin

dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. Definisi tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif”.

Sebagai akibat interaksi antara pertimbangan kuantitatif dan kualitatif dalam mempertimbangkan materialitas, salah saji yang jumlahnya relatif kecil yang ditemukan oleh auditor dapat berdampak material terhadap laporan keuangan. Sebagai contoh, suatu pembayaran yang melanggar hukum yang jumlahnya tidak material dapat menjadi material, jika kemungkinan besar hal tersebut dapat menimbulkan kewajiban bersyarat yang material atau hilangnya pendapatan yang material (SA Seksi 312,11).

Kemudian di dalam SPAP pada Standar Umum ketiga dinyatakan “Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama”. Standar ini menuntut auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional auditor harus membuat perencanaan sebelum melakukan proses pengauditan laporan keuangan. Perencanaan yang dibuat di dalamnya juga menyangkut penentuan

2.2.4.Teori yang melandasi Pengaruh Profesionalisme Auditor dan

Dokumen terkait