HASIL PENELITIAN
4.3. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae
37
4.3.1. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae yang Menjalani Kemoterapi dari Dimensi Kesehatan Fisik
a. Rasa Nyeri
Rasa nyeri merupakan salah satu sakit yang dialami oleh pasien Ca. Mammae. Rasa nyeri yang dirasakan oleh partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
Ketika belum operasi nyeri setiap saat dan berkepanjangan (P1) Rasa nyeri datang tiba-tiba dan dalam durasi yang banyak, kadang sehari bisa berulang-ulang (P2)
Sebelum operasi nyeri tidak tentu, tetapi sering dan durasinya panjang (P3)
Sengkring-sengkring kaya kesetrum, lama-lama cenut-cenut (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien Ca. Mammae adalah (1) rasa nyeri setiap saat, (2) frekuensinya sering, (3) durasinya panjang, (4) terasa seperti kena strum, dan (5) cenut-cenut.
Selanjutnya rasa nyeri yang dirasakan oleh partisipan berkurang setelah menjalani kemoterapi sebagaimana dikemukakan oleh para partisipan sebagai berikut.
Setelah kemoterapi mengalami penurunan yang sangat banyak (P1) Setelah kemoterapi ada penurunan rasa nyeri (P2)
38
Setelah kemoterapi menurun (P3) Terjadi penurunan nyeri (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien Ca. Mammae menurun setelah dilakukan proses kemoterapi.
b. Perasaan Lelah
Timbulnya perasaan lelah merupakan salah satu efek yang dialami pasien setelah menjalani kemoterapi. Perasaan lelah yang dirasakan oleh partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
Lelah mbak, tetapi saya berpikir bahwa ini untuk kesembuhan saya kan? Ya harus sabar, terus anak-anak rajin menemani saya jadi saya bersemangat mbak (P1)
Lelah mbak, kadang rumaos males menawi bade kemoterapi, soale bar niku rasane awal kesel, terus bade maem niku kok yo males (P2) Lelah mbak, saya itu kadang-kadang malas kalau mau kemoterapi, soalnya setelah kemo biasanya saya merasa lelah, terus mau makan itu kok ndak nafsu ya, kadang terasa lapar, tapi kalau sudah memegang nasi, terus ndak nafsu makan (P3)
Ya itu masalahnya mbak, saya ini kalau habis kemoterapi rasanya awal meriang ndak enak semua, ndak nafsu makan, terus sudah tidur. Jadi badan saya terasa sangat lelah. (P4)
39
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mengalami rasa lelah setelah menjalani kemoterapi. Perasaan lelah tersebut disebabkan oleh beberapa hal yaitu (1) nafsu makan turun, (2) badan pegal-pegal, (3) badan meriang, dan (4) sudah tidur.
c. Aktivitas Sehari-hari
Salah satu dampak dari penyakit Ca. Mammae yang dialami oleh partisipan adalah gangguan aktivitas sehari-hari. Gangguan aktivitas sehari-hari yang dirasakan oleh partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
“Sebelum operasi aktivitas sehari-hari terganggu, setelah operasi dan kemoterapi saat ini sudah kembali beraktivitas seperti biasa” (P1) Terganggu, urusan rumah tangga sudah ditangani oleh suami (P2) Sebelum operasi sangat mengganggu, sekarang sudah mulai berangsur normal (P3)
Aktivitas sehari-hari terganggu (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mengalami gangguan dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari.
d. Pola dan Jam Tidur
Timbulnya rasa nyeri pada pasien Ca. Mammae menganggu pola tidur pasien Ca. Mammae serta menurunkan jam tidur pasien Ca.
40
Mammae. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh empat partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
“Sebelum operasi sangat terganggu, sering terjaga di malam hari, saat ini sudah sangat berkurang” (P1)
Terganggu, sebab ketika muncul rasa nyeri pasti terbangun (P2) Terganggu (P3)
Berubah, sering terjaga (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mengalami gangguan pola tidur dan penurunan jumlah jam tidur setelah mengelami Ca. Mammae.
4.3.2. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae yang Menjalani Kemoterapi dari Dimensi Kesehatan Psikologi
a. Penerimaan Diri
Diagnosa Ca. Mammae yang dialami oleh pasien Ca. Mammae serta dengan adanya proses pengobatan yang cukup panjang dan melelahkan akan berpengaruh pada penerimaan diri pasien Ca. Mammae terhadap kondisinya. Penerimaan diri yang dialami oleh keempat partisipan dalam penelitian ini ternyata tidak sama, terdapat tiga partisipan yang sudah mau menerima keadaan dirinya dan satu lainnya belum dapat menerima.
Gambaran penerimaan diri ketiga partisipan sebagaimana hasil wawancara berikut.
41
Awalnya sedih, tetapi berkat dukungan anak-anaknya, sekarang sudah dapat menerima dan sabar menjalani pengobatan (P1)
Berusaha untuk menerima, hal tersebut ditunjukkan dengan kesabarannya berusaha untuk mencari pengobatan (P2)
Menerima dengan ikhlas (P3)
Berdasarkan pernyataan ketiga partisipan dapat disimpulkan bahwa rasa penerimaan diri didasarkan kepada adanya faktor pendukung yang baik dari anggota keluarga serta faktor dorongan dari dalam diri responden yaitu adanya sikap ikhlas dalam menerima cobaan.
Sedangkan satu orang partisipan yaitu partisipan nomor empat belum dapat menerima sepenuhnya kondisinya dengan sebagaimana petikan wawancara berikut.
Belum bisa menerima sepenuhnya, karena merasa punya anak kecil
(P4)
Berdasarkan pernyataan partisipan keempat tersebut menunjukkan faktor yang membuat partisipan belum menerima kondisinya saat ini karena adanya pikiran atau pertimbangan tentang keadaan anggota keluarganya yaitu anaknya yang masih kecil.
b. Hal yang Mendukung (Menggembirakan)
42
serta proses pengobatan yang dijalani tentunya berdampak pula terhadap perubahan sikap keluarga kepada pasien. Perubahan sikap tersebut disatu sisi dapat menjadi pendorong atau faktor penggembira dari pasien.
Berdasarkan hasil wawancara ternyata dua partisipan menyatakan tidak memiliki hal yang mendukung atau menggembirakan terhadap kondisinya saat ini. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh dua partisipan sebagai berikut.
Menawi seneng ngeh mboten wonten mbak, rasane sedih, kulo kepiringan awak kulo pripun niki sak teruse.(Kalau sedang yang tidak mbak, saya selalu memikirakan anak saya ini bagaimana nanti kehidupannya). (P2)
Ya ndak ada mbak, saya itu sering sedih sendiri mbak, soalnya saya selalu kepikiran anak saya, kalau suami saya banyak membantu dan mendorong saya, tapi saya sendiri yang banyak kepikiran mbak. (P4)
Hasil jawaban partisipan pertama dan keempat menunjukkan bahwa kesedihan yang dialaminya disebabkan kedua partisipan selalu memikirkan dan mengkhawatirkan keadaan anaknya.
Selanjutnya dua partisipan lainnya mengungkapkan adanya kegembiraan yang dialaminya saat ini sebagaimana disebutkan dalam hasil wawancara berikut.
43
pengobatan saya (P1)
Dulu sedih, sekarang dengan adanya peningkatan kesehatan menjadi bergembira. (P3)
Hasil jawaban partisipan pertama dan ketiga menunjukkan bahwa kegembiraan yang dialami oleh partisipan yaitu adanya dukungan dari anak-anak partisipan serta adanya peningkatan kondisi kesehatan yang dialami selama pengobatan.
c. Perilaku Mendekatkan Diri Kepada Tuhan
Perilaku mendekatkan diri kepada Tuhan adalah tindakan-tindakan atau aktivitas yang dilakukan pasien Ca. Mammae yang berupa tindakan ibadah yang khusus dilakukan berhubungan dengan penyakitnya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa keempat partisipan setelah mendapatkan diagnosa Ca. Mammae semuanya berperilaku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, hal tersebut sebagaimana ditampilkan dalam petikan wawancara sebagai berikut.
Ya, semakin dekat dan banyak berdoa” (P1)
Lebih mendekatkan diri dengan melakukan sholat malam (P2) Ya, sekarang rajin beribadah (P3)
Berusaha untuk selalu mendekatka diri kepada Tuhan (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan memiliki perilaku lebih mendekatkan diri kepada Tuhan setelah mengalami diagnosa penyakit Ca. Mammae
44
serta pada proses pengobatan. Kedekatan diri pasien Ca. Mammae kepada Tuhan bertujuan untuk meminta doa kepada Tuhan, serta meminta diberi kesabaran dalam menjalani cobaan yang mereka hadapi saat ini.
d. Kesulitan Konsentrasi
Kesulitan konsentrasi pada pasien Ca. Mammae disebabkan adanya rasa nyeri atau sakit yang diderita pasien Ca. Mammae. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh empat partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
“Ketika sebelum operasi sangat terganggu, sekarang sudah membaik”
(P1)
Ya mengalami kesulitan konsentrasi sehingga menganggu pekerjaan
(P2)
Ya ada gangguan konsentrasi (P3) Ada kesulitan (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mengalami gangguan konsentrasi setelah mengelami Ca. Mammae.
e. Persepsi tentang Citra Diri (Body Image)
Dampak yang dialami oleh pasien Ca. Mammae antara lain adalah perubahan pada bentuk tubuh bisa berupa tubuh menjadi kurus, adanya kehilangan bagian anggota butuh bila sudah dioperasi, serta
45
dampak-dampak lain selama menjalani kemoterapi seperti rambut rontok. Dampak yang dialami oleh pasien Ca. Mammae yang berhubungan dengan kondisi fisik atau tubuhnya tentunya akan berhubungan dengan persepsi pasien Ca. Mammae terhadap citra diri (body image) pasien Ca. Mammae. Selanjutnya persepsi partisipan terhadap citra diri atau body image adalah sebagai berikut.
“Saat ini sudah tidak, karena tetangga sudah tahu dan tidak perlu malu (P1)
Awalnya merasa malu karena badan semakin kurus, sekarang sudah terbiasa (P2)
Karena merasa sudah tua, maka perasaan terhadap citra diri diabaikan (P3)
Belum ada perubahan, sebab belum operasi dan benjolan kecil (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan saat ini tidak mengalami dengan persepsi citra diri, beberapa faktor yang menyebabkan citra diri keempat partisipan masih baik adalah faktor sudah terbiasa, faktor usia yaitu merasa sudah tua sehingga tidak citra diri sudah diabaikan, dan belum adanya perubahan bentuk tubuh karena penyakit yang diderita belum lama. f. Perasaan Sedih terhadap Proses Pengobatan
46
pengobatan awal, operasi hingga kemoterapi memerlukan waktu yang lama, sehingga menyebabkan pasien Ca. Mammae harus banyak menghabiskan waktunya untuk proses pengobatan tersebut. Proses pengobatan yang cukup lama tersebut berdampak pada timbulnya perasaan sedih yang dialami oleh pasien Ca. Mammae dalam proses pengobatan.
Perasaan sedih yang dialami pasien Ca. Mammae dalam proses pengobatan sebagaimana diungkapkan oleh keempat partisipan sebagai berikut.
Perasaan sedih ada, karena khawatir proses pengobatannya mengganggu aktivitas kerja anaknya (P1)
Merasa sedih, karena memikirkan keberlangsungan kehidupan anggota keluarga lainnya (P2)
Sebelum operasi merasa sedih sebab proses pengobatannya yang dahulu digunakan tidak ada dampaknya, setelah operasi dan banyak peningkatan kondisi kesehatan menjadi lebih bersemangat (P3)
Sedih, karena memikirkan anak (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mengalami perasaan sedih selama pengobatan. Faktor yang membuat mereka sedih adalah kekhawatiran terhadap proses pengobatan Ca. Mammae tersebut mengganggu aktivitas atau keadaan rumah tangga. Hal ini disebabkan semua
47
partisipan adalah ibu yang masih memiliki tanggungan anak baik yang sudah besar maupun masih kecil.
Sedangkan pada hasil wawancara tersebut terdapat satu partisipan yang menyatakan bahwa walaupun awalnya sedih, namun dengan adanya peningkatan kesehatan dirinya menyebabkan dirinya menjadi bergembira dan bersemangat dalam menjalani proses pengobatan.
4.3.3. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae yang Menjalani Kemoterapi dari Dimensi Hubungan Sosial
a. Hubungan Emosional dengan Suami
Adanya diagnosa Ca. Mammae serta proses pengobatan yang dilakukan oleh pasien Ca. Mammae tentunya akan berdampak pada adanya perubahan perilaku atau emosional anggota keluarga terhadap pasien, salah satunya adalah suami pasien Ca. Mammae. Dalam penelitian ini terdapat tiga orang partisipan yang masih memiliki suami, dari ketiga partisipan tersebut mengungkapkan perubahan hubungan emosional dengan suaminya setelah didiagnosa Ca. Mammae dan proses pengobatan Ca. Mammae sebagaimana ditampilkan pada hasil wawancara sebagai berikut.
Hubungan secara emosional dengan suami semakin dekat (P2)
Secara keseharian atau emosional lebih dekat, sebab suami sering menemani ketika menjalani pengobatan (P3)
48
Hubungan emosional baik, dekat (P4)
Berdasarkan pernyataan ketiga partisipan dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan hubungan emosional pasien Ca. Mammae dengan suami, dimana ketiga partisipan menyatakan bahwa hubungan emosional mereka dengan suami semakin baik atau semakin dekat. b. Hubungan Seksual dengan Suami
Perubahan kondisi kesehatan dan bentuk tubuh pasien Ca. Mammae berdampak pada perubahan pola hubungan seksual pasien Ca. Mammae dengan suami. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh ketiga partisipan dalam hasil wawancara sebagai berikut.
Kulo ngeh bingung mbak, kulo jane isin kaleh bojo kulo soale awak kulo niki lemas, terus bentuke lak ngeh mboten enak disawang to mbak, tapi kadang-kadang ngeh pripun jenenge bebojoan kan ngeh butuh hubungan suami istri, tapi malah bojo kulo sing sabar sanjang ampun mikir sing ngoten-ngoten. (saya juga bingung mbak, saya sebenarnya malu sama suami karena badan saya lemas, terus bentuk tubuh saya sudah tidak enak dipandang, tapi saya juga berpikir bahwa juga harus berhubungan layaknya suami istri karena saya dan suami adalah suami istri, tapi justru suami saya yang sabar dan bilang jangan memikirkan hal itu dulu (P2)
Kalau hubungan suami istri pas sakit dulu saya ndak mau mbak, soalnya saya malu sama suami. Terus sekarang setelah operasi dan
49
sudah sembuh, pernah beberapa kali mencoba, tapi saya ya tidak menikmati mbak, saya cuma khawatir kalau suami tidak saya layani bagaimana? (P3)
Alhamdulillah saat ini ndak begitu terganggu mbak, soalnya secara fisik saya belum ada perubahaan yang berbeda banyak. Cuma kadang kalau pas nyerinya datang saya malam nglayani suami, yang kadang suami terus kesal begitu (P4)
Hasil jawaban partisipan menunjukkan dua orang partisipan yaitu nomor dua dan tiga menyatakan mengalami gangguan dalam aktivitas seksual, hal tersebut disebabkan adanya rasa lemas yang dialami oleh partisipan serta rasa malu terhadap bentuk tubuh yang sudah berubah. Namun walaupun demikian kedua partisipan menyatakan berusaha untuk melayani kebutuhan seksual suami karena demi kepentingan keluarga. Sedangkan satu partisipan yaitu nomor 4 menyatakan belum mengalami masalah dalam hubungan seksual karena belum mengalami perubahan bentuk tubuh yang mencolok, sehingga masih memiliki kepercayaan diri untuk berhubungan seksual dengan suami.
c. Peran Anggota Keluarga Lain terhadap Proses Pengobatan
Peran anggota keluarga lain dalam proses pengobatan pasien Ca. Mammae pada keempat partisipan ditampilkan pada hasil wawancara sebagai berikut.
50
Ngeh mbak, kalau anak-anak niki alhamdulillah sami mendukung, pokoke diusahan wonten sing ngeterke kulo, menawi biaya alhamdulillah kulo tesih gadah, tapi anak-anak sok-sok ngeh maringi kulo arto (Ya mbakm, anak-anak saya ini alhamdulillah semua mendukung, selalu diusahakan ada yang mengantar saya, kalau biaya alhamdulilah saya masih ada, tapi anak-anak kadang-kadang juga memberi saya uang).” (P1)
Ngeh mendukung mbak, biasane sering tanglet utawi ngelingke, sesok kemo lo ojo lali ngoten biasane (Ya mendukung mbak, biasaya sering bertanya atau mengingatkan kapan harus kemoterapi agar tidak lupa)
(P2)
Alhamdullillah mendukung, anak-anak itu rewel kalau saya telat minum obat, mesti pada bilang “ibu opo ra pingin mari, ora pingin ngancani anak-anake?” saya terus berusaha minum obat. Saya malas minum obat soalnya obatnya banyak sih mbak (Alhamdulillah mendukung, anak-anak itu selalu mengingatkan saya untuk selalu minum obat tepat waktum, saya sendiri malas minum obat karena banyak sekali obatnya).(P3)
Alhamdullillah mendukung, ya itu kalau saya mau kemoterapi anak saya ikut ibu saya (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa semua partisipan mendapatkan dukungan keluarga dalam
51
proses pengobatan, antara lain bentuk dukungan tersebut adalah mengantar pasien berobat, mengingatkan untuk kemoterapi agar tidak telat, mengingatkan pasien untuk mengkonsumsi obat, serta menjaga anggota keluarga lainnya jika pasien sedang menjalani pengobatan atau kemoterapi.
d. Dukungan Suami dalam Proses Pengobatan
Dukungan suami selama proses pengobatan yang dialami oleh pasien Ca. Mammae sebagaimana dikemukakan oleh tiga partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
Suami sangat mendukung (P2) Sangat mendukung (P3) Sangat mendukung (P4)
Berdasarkan pernyataan ketiga partisipan dapat disimpulkan bahwa ketiga partisipan mendapatkan dukungan yang baik dari suami mereka.
4.3.4. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae yang Menjalani Kemoterapi dari Dimensi Lingkungan
a. Perasaan Takut Ditinggal Sendiri
Perasaan takut yang dialami oleh pasien Ca. Mammae disebabkan adanya kekhawatiran mereka terhadap kondisi kesehatan mereka. Hal tersebut sebagaimana ditampilkan pada hasil wawancara
52 sebagai berikut.
Takut, sebab khawatir kalau-kalau penyakitnya kambuh dan tidak ada yang menemani (P1)
Takut, sebab takut kalau sewaktu-waktu pingsan dan tidak ada orang, inginnya selalu ditemani (P2)
Dahulu takut, sekarang setelah kondisi kesehatan semakin baik, sudah tidak takut (P3)
Tidak ada, karena kondisi saya masih baik (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki rasa takut jika ditinggal sendiri, hal tersebut disebabkan adanya kekhawatiran jika terjadi kegawatan akibat penyakit mereka tidak ada orang atau anggota keluarga yang menemaninya.
Sedangkan satu orang partisipan yang merasa tidak takut ditinggal sendiri disebabkan kondisi kesehatannya masih baik, sehingga masih mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
b. Anggota Keluarga yang Selalu Menemani
Ada tidaknya anggota keluarga yang selalu menemani pasien Ca. Mammae sebagaimana dikemukakan oleh keempat partisipan dalam hasil wawancara sebagai berikut.
53
Ada, paling sering suami dan anak-anak (P2) Tidak selalu ada (P3)
Tidak ada secara khusus, ya Cuma anaknya yang masih kecil (P4)
Hasil jawaban partisipan menunjukkan dua orang partisipan yaitu nomor satu dan dua menyatakan selalu ada anggota keluarga yang menemaninya sedangkan dua lainnya menyatakan tidak ada. c. Upaya Menghibur Diri
Kondisi penyakit yang dialami dan proses pengobatan menyebabkan timbulnya kesedihan pada pasien Ca. Mammae. Kondisi ini menyebabkan pasien Ca. Mammae berusaha mencari cara untuk menghibur diri mereka. Cara-cara pasien Ca. Mammae untuk menghibur diri ditampilkan pada hasil wawancara sebagai berikut.
Menawi sedih ngeh sholat mbak, terus dongo nyuwun diparingi sabar, ngeh ngobrol kaleh anak-anak, nek rekreasi mboten mbak. (Kalau sedih ya sholat mbak, terus berdoa minta diberi kesabaran, ya ngobrol sama anak-anak, kalau rekreasi tidak mbak). (P1)
Biasane ngeh sholat mbak, nyuwun dikuwatke lan nyuwun diapuro doso kulo. (Biasanya sholat mbak, minta dikuatkan danminta diampuni dosa saya.) (P2)
Pergi keluar rumah dengan suami (P3)
Ya kadang-kadang mbak, pergi ke mana sama suami dan anak, ke Tawangmangu atau kemana ya biar hati senang. (P4)
54
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa dua orang partisipan memilih untuk melakukan kegiatan ibadah yaitu sholat untuk menghibur diri mereka, sedangkan dua lainnya dengan menambah melakukan rekreasi keluar rumah baik dengan suami ataupun dengan keluarga.
d. Kesulitan Biaya Pengobatan
Kesulitan biaya pengobatan yang dialami oleh pasien Ca. Mammae sebagaimana dikemukakan oleh empat partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
Tidak ada, sebab pakai BPJS, Cuma biaya transportasi (P1) Tidak ada, sebab menggunakan BPJS (P2)
Tidak ada, sebab menggunakan BPJS (P3)
Tidak ada (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa keempat partisipan tidak mengalami permasalahan atau kesulitan biaya dalam proses pengobatan kemoterapi karena semuanya menggunakan program jaminan kesehatan BPJS.
e. Dampak Biaya Pengobatan terhadap Ekonomi Keluarga
Dampak biaya pengobatan terhadap ekonomi keluarga pada pasien Ca. Mammae sebagaimana dikemukakan oleh empat partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
55
Tidak menimbulkan dampak yang serius pada ekonomi keluarga (P1) Tidak berdampak pada ekonomi keluarga (P2)
Sudah tidak berdampak pada ekonomi keluarga (P3) Tidak berdampak (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa keempat partisipan tidak mengalami permasalahan atau kesulitan ekonomi keluarga selama proses pengobatan kemoterapi.
56 BAB V PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang mencoba menggambarkan kualitas hidup pasien Ca. Mammae yang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini menggambarkan kualitas hidup pasien Ca. Mammae dalam empat dimensi yaitu dimensi kesehatan fisik, dimensi kesehatan psikologis, dimensi dukungan social, dan dimensi lingkungan. Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya maka pembahasan hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut.
5.1. Kualitas Hidup Pasien Ca. Mammae yang Menjalani Kemoterapi dari Dimensi Kesehatan Fisik
a. Rasa Nyeri
Rasa nyeri merupakan salah satu sakit yang dialami oleh pasien Ca. Mammae. Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien Ca. Mammae adalah (1) rasa nyeri setiap saat, (2) frekuensinya sering, (3) durasinya panjang, (4) terasa seperti kena strum, dan (5) cenut-cenut.
Selanjutnya rasa nyeri yang dirasakan oleh partisipan berkurang setelah menjalani kemoterapi sebagaimana dikemukakan oleh para partisipan sebagai berikut.
57
Setelah kemoterapi ada penurunan rasa nyeri (P2) Setelah kemoterapi menurun (P3)
Terjadi penurunan nyeri (P4)
Berdasarkan pernyataan keempat partisipan dapat disimpulkan bahwa rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien Ca. Mammae menurun setelah dilakukan proses kemoterapi.
b. Perasaan Lelah
Timbulnya perasaan lelah merupakan salah satu efek yang dialami pasien setelah menjalani kemoterapi. Perasaan lelah yang dirasakan oleh partisipan sebagaimana dikemukakan oleh partisipan sebagai berikut.
Lelah mbak, tetapi saya berpikir bahwa ini untuk kesembuhan saya kan? Ya harus sabar, terus anak-anak rajin menemani saya jadi saya bersemangat mbak (P1)
Lelah mbak, kadang rumaos males menawi bade kemoterapi, soale bar niku rasane awal kesel, terus bade maem niku kok yo males (P2)
Lelah mbak, saya itu kadang-kadang malas kalau mau kemoterapi, soalnya setelah kemo biasanya saya merasa lelah, terus mau makan itu kok ndak nafsu ya, kadang terasa lapar, tapi kalau sudah memegang nasi,