• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

TINJAUAN PUSTAKA

3. Kualitas Hidup

3.1. Pengertian Kualitas Hidup

Kualitas hidup didefinisikan dengan cara yang berbeda oleh para ahli. Hal ini karena istilah tersebut merupakan istilah multidisipliner, tidak hanya digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, tetapi dalam konteks penelitian dihubungkan dengan berbagai macam bidang khusus seperti sosiologi, ilmu kedokteran, keperawatan dan psikologi. Selain itu adanya perbedaan etnik, budaya dan agama juga dapat mempengaruhi kualitas hidup. Oleh karena adanya perbedaan disiplin ilmu dan perspektif yang berbeda maka, kualitas hidup sulit didefinisikan secara pasti.

Ventegodt, Merrick, Niels dan Andersen ( 2003) menyatakan bahwa Kualitas hidup (QOL) berarti kehidupan yang baik. Sebuah kehidupan yang baik adalah sama dengan menjalani hidup dengan kualitas yang tinggi. Kualitas hidup merupakan jarak antara harapan dan pengalaman pasien. (Shafipour, 2010 dalam Cecilia, 2011).

Berdasarkan teori integritas dari kualitas hidup, maka kualitas hidup dapat diartikan sebagai kesejahteraan, kepemilikan, kepuasan dalam hidup serta arti dari kehidupan itu sendiri.

3.2.Komponen Kualitas Hidup

Dalam Medical Outcomes Study Short Form 36, kualitas hidup dapat disimpulkan menjadi dua komponen yaitu :

1. Kesehatan Fisik 2. Kesehatan Mental

Untuk mengkaji kulitas hidup tersebut maka didapat 36 pertanyaan tentang kemampuan pasien yang dibagi menjadi delapan subvariabel yaitu:

1. Fungsi Fisik terdiri dari beberapa pernyataan yaitu aktifitas yang memerlukan energi, aktivitas yang ringan, mengangkat dan membawa barang yang ringan, menaiki beberapa anak tangga, menaiki satu anak tangga, membungkuk, berjalan beberapa gang, berjalan satu gang dan mandi atau memakai baju sendiri.

2. Keterbatasan peran fisik terdiri dari pernyataan penggunaan waktu yang singkat, penyelesaian pekerjaan yang tidak tepat waktu, terbatas pada beberapa pekerjaan dan mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan.

3. Nyeri pada tubuh terdiri dari pernyataan seberapa besar rasa nyeri pada tubuh dan seberapa besar nyeri mengganggu aktifitas.

4. Persepsi kesehatan secara umum terdiri dari pernyataan bagaimana kondisi kesehatan saat ini dan satu tahun yang lalu, mudah terserang sakit, sama sehatnya dengan orang lain, kesehatan yang buruk dan kesehatan yang sangat baik.

5. Vitalitas terdiri dari pernyataan yang menggambarkan tentang bagaimana pasien dalam melaksanakan aktifitasnya apakah penuh semangat memiliki energi yang banyak, bosan dan lelah.

6. Fungsi sosial terdiri dari pernyataan seberapa besar masalah emosi mengganggu aktifitas sosial dan mempengaruhi aktifitas sosial.

7. Keterbatasan peran emosional terdiri dari pernyataan apakah masalah emosional mempengaruhi penggunaaan waktu yang singkat dalam pekerjaan atau lebih lama lagi melakukan pekerjaan dan tidak berhati-hati sebagaimana mestinya.

8. Kesehatan mental terdiri dari pernyataan apakah pasien sering gugup, merasa tertekan, tenang, sedih dan periang.

Pengukuran kualitas hidup menurut WHO (The World Health Organization Quality Of Life-BREF/WHOQOL-BREF) terdiri dari dua bagian (Francess Victoria Nelson Danquah, Joan Wasserman, Janet Meininger dan Nancy Bergstrom, 2010) yaitu :

a. Kualitas hidup secara keseluruhan

b. Kualitas kesehatan secara umum. Pada kualitas kesehatan secara umum terdapat 24 item yang dibagi menjadi 4 area/ domain yaitu

kesehatan fisik meliputi 7 item, kondisi psikologis meliputi 6 item, hubungan sosial meliputi 3 item dan kondisi lingkungan meliputi 8 item.

University of Toronto (2004, dalam Afuandy, 2008) menyebutkan kualitas hidup dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu internal individu, kepemilikan (hubungan individu dengan lingkungannya) dan harapan (prestasi dan aspirasi individu.

1. Internal individu

Internal individu dalam kualitas hidup dibagi 3, yaitu secara fisik, psikologis dan spiritual. Secara fisik yang terdiri dari kesehatan fisik, personal higienis, nutrisi olahraga, pakaian dan penampilan fisik secara umum

Secara psikologis yang terdiri dari kesehatan dan penyesuaian psikologis, perasaan, harga diri, kesadaran, konsep diri dan kontrol diri secara spiritual dan dari nilai nilai pribadi, standar-standar pribadi dan kepercayaan spiritual. 2. Kepemilikan

Kepemilikan (hubungan individu dangan lingkungannya) dalam kualitas hidup dibagi dua yaitu seara fisik dan sosial. Secara fisik yang terdiri dari rumah, tempat kerja/sekolah. Secara sosial terdiri dari tetangga/lingkungan dan masyarakat, keluarga, teman/rekan kerja, lingkungan dan masyarakat.

3. Harapan

Harapan (prestasi dan aspirasi individu) dalam kualitas hidup dapat dibagi dua secara praktis dan secara pekerjaan. Secara praktis yaitu rumah tangga, pekerjaan, aktifitas sekolah atau suka rela dan pencapaian kebutuhan atau sosial. Secara pekerjaan yaiutu aktifitas peningkatan pengetahuan dan

kemampuan serta adaptasi terhadap perubahan dan penggunaan waktu santai, aktifitas relaksasi dan reduksi stres.

Kualitas hidup dapat juga ditinjau dari 4 dimensi, seperti yang terdapat dalam instrumen pengukuran kualitas hidup WHOQOL BREF (Francess Victoria Nelson Danquah, Joan Wasserman, Janet Meininger dan Nancy Bergstrom, 2010). Masing-masing dari keempat dimensi tersebut yaitu:

1. Kesehatan Fisik.

Kesehatan fisik merupakan salah satu yang paling dikenal sebagai indikator yang secara tradisional digunakan. Hal ini meliputi, nyeri dan rasa tidak nyaman, ketergantungan pada terapi medis, energi dan kelelahan, mobilitas, tidur, aktivitas sehari-hari, dan kemampuan kerja

2. Kesejahteraan Psikologis

Kesejahteraan psikologis mengacu pada afek positif, spiritualitas, berfikir, belajar, memori dan konsentrasi, gambaran diri dan penampilan, harga diri, dan efek negatif.

3. Hubungan Sosial

Hubungan sosial meliputi hubungan pribadi (personal), aktivitas seksual, dan dukungan sosial.

4. Lingkungan

Aspek lingkungan terdiri dari keselamatan dan keamanan fisik, lingkungan fisik, sumber keuangan, kesempatan untuk mendapatkan informasi baru dan keterampilan tertentu, peran serta dan kesempatan untuk rekreasi atau aktivitas

santai, lingkungan rumah, kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan dan sosial, serta transportasi (WHOQoL Group, 1994).

3.3.Kualitas Hidup Dalam Kesehatan

WHO (World Health Organization Quality of Life) (WHOQOL,1997) mendefenisikan kualitas hidup adalah persepsi individu tentang posisinya dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai dimana ia tinggal,dan dalam hubungannya dengan tujuan, pengharapan, standar dan perhatian. Menurut Hermann (1993 dalam Robert, 2007) defenisi kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan dapat diartikan sebagai respon emosi dari penderita terhadap aktivitas sosial, emosional, pekerjaan dan hubungan antar keluarga, rasa senang atau bahagia, adanya kesesuaian antara harapan dan kenyataan yang ada, adanya kepuasan dalam melakukan fungsi fisik, sosial dan emosional serta kemampuan mengadakan sosialisasi dengan orang lain.

Kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (health-related quality of life/HRQOL) menggambarkan pandangan individu atau keluarganya tentang tingkat kesehatan individu tersebut setelah mengalami suatu penyakit dan mendapatkan suatu bentuk pengelolaan. Health-related quality of life menggambarkan komponen sehat dan fungsional multidimensi seperti fisik, emosi, mental, sosial dan perilaku yang dipersepsikan oleh pasien atau orang lain di sekitar pasien.

Dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup menunjukkan suatu konsep dari paduan multidimensional, yang secara umum telah ditetapkan sebagai kebahagiaan atau kepuasan hidup. Kualitas hidup ditetapkan secara berbeda

dalam penelitian lain. Dalam penelitian ini kualitas hidup ditetapkan sebagai persepsi atau penilaian individu terhadap kehidupannya.

3.4.Penilaian Kulitas Hidup

Semua agama besar dan filsafat memiliki gagasan tentang kehidupan yang baik mulai dari mengatakan bahwa kehidupan yang baik dicapai dengan kode etik praktis, permintaan untuk terlibat secara positif dalam sikap hidup tertentu atau mencari dalam diri sendiri. Gagasan tentang kehidupan yang baik adalah terkait erat dengan budaya yang telah menjadi bagian dari hidup. Seperti ketika orang-orang dalam budaya Barat melihat kehidupan yang baik, pengkondisian budaya membuat mereka cenderung untuk memasukkan kebahagiaan, pemenuhan kebutuhan, berfungsi dalam konteks sosial, dll.

Dengan demikian, gagasan tentang penilaian kualitas hidup yang baik dapat ditinjau dari beberapa aspek (Ventegodt, Merrick, Niels dan Andersen, 2003):

1. Kualitas hidup subjektif yaitu seberapa baik kehidupan yang dirasakan oleh setiap individu. Setiap individu secara pribadi mengevaluasi bagaimana pandangannya terhadap sesuatu, bagaimana pendapat serta perasaanya dalam menilai suatu hal.

2. Kualitas hidup eksistensial. Dalam hal ini, kualitas hidup seberapa baik kehidupan seseorang pada ingkat yang lebih dalam. Hal ini diasumsikan dengan sifat yang lebih dalam bahwa individu layak untuk dihormati dan hidup dengan harmonis antara satu dengan yang lainnya.dalam hal ini Individu juga berfikir bahwa beberapa kebutuhan kita seperti yang

bersifat biologis harus dipenuhi, beberapa faktor seperti kondisi pertumbuhan harus dioptimalkan, atau bahwa semua harus hidup sesuai dengan spiritual tertentu dan cita-cita agama yang ditetapkan sesuai dengan yang diyakini.

3. Kualitas hidup secara objektif adalah bagaimana kehidupan seseorang dipersepsikan oleh dunia luar atau sekitarnya. Pandangan ini dipengaruhi oleh budaya dimana seseorang tinggal. mengungkapkan diri seseorang dalam kemampuannya untuk beradaptasi dengan nilai-nilai budaya dan akan memberitahukan sedikit tentang kehidupan orang tersebut. Contoh mungkin status sosial atau simbol status seseorang menunjukkan seseorang merupakan anggota yang baik dari budaya tersebut.

3.4. Alat Ukur Kualitas Hidup

Pengkuran kualitas hidup dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengukuran kualitas hidup secara menyeluruh dan pengukuran kualitas hidup berdasarkan pada aspek-aspek tertentu saja.

Banyak instrumen penelitian untuk menilai kualitas hidup yang telah berkembang seperti Medical Outcomes Study Short Form (SF-36), World Health Organization Quality of Life (WHOQOLBREF), McGill Quality-of-Life Questionnaire (MQOL), The Satisfaction with Quality-of-Life Scale (SWLS), The Psychological Adjustment to Illness Scale (PAIS) dll. (Danquah, Wasserman, Meininger dan Bergstrom, 2010).

Pada tahun 1991 bagian kesehatan mental WHO memulai proyek organisasi kualitas kehidupan dunia (WHOQoL). Tujuan dari proyek ini adalah untuk

mengembangkan suatu instrumen penilaian kualitas hidup (QOL) yang dapat dipakai secara nasional dan secara antar budaya. Instrumen WHOQoL ini telah dikembangkan secara kolaborasi dalam sejumlah pusat dunia. Setelah melalui beberapa tingkatan hasil akhir adalah 100 versi dari instrumen, yang dikeluarkan dengan WHOQoL-BREF untuk mengukur kualitas hidup pasien gagal ginjal dengan terapi hemodialisis. Instrumen WHOQoL-BREF terdiri dari 26 item, merupakan instrumen kualitas hidup paling pendek, namun instrumen ini bisa mengakomodasi ukuran dan kualitas kehidupan seperti yang ditunjukkan dalam sifat psikometrik dan hasil pemeriksaan internasional versi pendek ini lebih sesuai. Praktis dan sedikit memakan waktu dibandingkan WHOQoL-100 item atau instrumen lainnya.

3.5. Kualitas Hidup Berdasarkan Dimensi Hubungan Sosial

Manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individual. Sebagai makhluk sosial manusia memiliki motif untuk mengadakan hubungan dan hidup bersama dengan orang lain. Manusia sebagai makhluk individu memiliki motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri. Hubungan sosial merupakan salah satu dimensi kualitas hidup menurut WHOQOL-BREF. Hubungan sosial tersebut meliputi hubungan pribadi atau hubungan personal, aktivitas seksual, dan dukungan sosial.

3.5.1. Hubungan Pribadi (Personal)

Ruang personal (pribadi) adalah ruang disekeliling individu yang selalu dibawa kemana saja orang pergi, dan orang akan merasa terganggu jika ruang tersebut diinterferensi. Artinya, kebutuhan terhadap ruang personal terjadi

ketika orang lain hadir. Ketidakhadiran orang lain, kebutuhan tersebut tidak terjadi. Ruang personal biasanya berbentuk buble dan bukan semata-mata ruang personal tetapi lebih merupakan ruang interpersonal. Kehadiran orang lain dalam hal ini juga akan menciptakan suatu hubungan yang disebut hubungan interpersonal (Helmi, 1999).

Berdasarkan penjelasan diatas, maka hubungan personal tidak terlepas dari hubungan yang terjadi antara individu dengan orang lain disekitarnya. Hubungan antarpribadi (hubungan interpersonal) merupakan hal yang hidup dan dinamis. Hubungan ini selalu berkembang (DeVito, 2011 : 250).

Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan .

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal (Sulistiyorini, 2012), yaitu:

Dokumen terkait