Resp. NOMOR KUESIONER Total 1 2 3 4 5 6 7 1 4 4 4 5 4 5 4 30 2 5 5 5 4 5 3 3 30 3 3 3 3 4 3 4 4 24 4 4 4 4 3 4 4 4 27 5 4 4 4 4 4 5 4 29 6 5 5 5 5 5 3 3 31 7 4 4 4 4 4 4 4 28 8 3 3 3 3 3 4 4 23 9 4 4 4 5 4 4 4 29 10 5 5 5 4 5 3 3 30 11 3 3 3 4 3 5 4 25 12 4 4 4 3 4 3 3 25 13 5 5 5 5 5 4 4 33 14 4 5 5 4 5 4 4 31 15 3 4 3 4 3 5 4 26 16 5 4 5 4 5 5 5 33 17 3 4 4 3 4 5 5 28 18 4 5 5 4 5 5 5 33 19 5 4 4 5 4 4 4 30 20 3 3 3 3 3 3 3 21 21 3 4 3 4 3 5 4 26 22 4 4 4 4 4 3 3 26 23 5 5 5 5 5 4 4 33
24 5 4 4 4 4 4 4 29 25 3 3 3 3 3 5 4 24 26 4 4 4 4 4 3 3 26 27 4 5 4 5 4 4 4 30 28 3 4 3 4 3 4 4 25 29 5 4 5 4 5 5 4 32 30 4 3 4 3 4 3 3 24 31 4 4 4 5 4 4 4 29 32 5 5 5 4 5 4 4 32 33 3 3 3 4 3 4 4 24 34 4 4 4 3 4 3 3 25 35 4 4 4 4 4 5 4 29 36 5 5 5 5 5 3 3 31 37 4 4 4 4 4 4 4 28 38 3 3 3 3 3 4 4 23 39 4 4 4 5 4 5 4 30 40 5 5 5 4 5 5 5 34 41 3 3 3 4 3 5 5 26 42 4 4 4 3 4 5 5 29 43 5 5 5 5 5 4 4 33 44 4 5 5 4 5 3 3 29 45 3 4 3 4 3 5 4 26 46 5 4 5 4 5 5 5 33 47 3 4 4 3 4 5 5 28 48 4 5 5 4 5 5 5 33 49 5 4 4 5 4 4 4 30 50 3 3 3 3 3 3 3 21 51 3 4 3 4 3 5 4 26 52 4 4 4 4 4 3 3 26 53 5 5 5 5 5 4 4 33 54 5 4 4 4 4 4 4 29 55 3 3 3 3 3 5 4 24
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Semakin kompleks perekonomian suatu masyarakat dan semakin
kompleksnya transaksi keuangan yang dilakukan masyarakat tersebut, maka
mengakibatkan perlunya suatu kompentensi yang tinggi seorang auditor dalam
melakukan audit. Pencapaian keahlian tersebut harus dinilai dengan
pendidikan formal yang diperluas dengan pengalaman-pengalaman, dan
selanjutnya diterapkan dalam proses audit.
Kematangan auditor dalam melakukan audit tidak hanya ditentukan
oleh pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan namun juga tidak kalah
pentingnya adalah pengalaman yang diperoleh selama melakukan
pemeriksaan keuangan. Pengalaman merupakan salah satu elemen penting
dalam tugas audit disamping pengetahuan yang juga harus dimiliki oleh
seorang auditor. Tentu tidak mengherankan apabila cara pandang dan cara
menanggapi informasi yang diperoleh selama melakukan pemeriksaan antara
auditor yang berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman akan
berbeda, demikian pula dalam memberikan kesimpulan audit terhadap objek
yang diterima. Pengalaman disini dapat dilihat dari lamanya seorang auditor
bekerja. Semakin lama seorang auditor bekerja maka pengalaman yang
Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Standar Audit Profesional
Akuntan Publik (SPAP), akuntan dituntut dapat menjalankan setiap standar
yang ditetapkan oleh SPAP tersebut. Standar-standar tersebut meliputi standar
auditing, standar atestasi, standar jasa akuntan dan review, standar jasa
konsultasi, dan standar pengendalian mutu. Dalam salah satu SPAP diatas
terdapat standar umum yang mengatur tentang keahlian auditor yang
independen.
Dalam standar umum SA seksi 210 tentang pelatihan dan keahlian
Auditor Independen yang terdiri atas paragrap 03-05, menyebutkan secara
jelas tentang keahlian auditor disebutkan dalam pargarf pertama sebagai
berikut “audit harus dilakukan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan yang cukup sebagai seorang auditor” (SPAP, 2001).
Standar umum pertama menegaskan bahwa syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang akuntan untuk melaksanakan audit adalah harus memiliki pendidikkan
serta pengalaman yang memadai dalam bidang auditing. Pengalaman seorang
auditor sangat berperan penting dalam meningkatkan keahlian sebagai
perluasan dari pendidikkan formal yang telah diperoleh auditor. Sebagaimana
yang telah diatur dalam paragraf ketiga SA seksi 210 tentang pelatihan dan
keahlian independen disebutkan:
Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapatan, auditor harus senatiasa bertindak sebagai seoarang yang ahli dalam bidang akntan dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikkan formalnya yang diperluas melalui
Keahlian merupakan salah satu faktor utama yang harus dimiliki
seorang auditor, dengan keahlian yang dimilikinya memungkinkan tugas-tugas
pemeriksaan yang dijalankan dapat diselesaikan secara baik dengan hasil yang
maksimal.
Keahlian yang dimiliki auditor yang diperoleh dari pendidikan formal
dan non-formal harus terus menerus ditingkatkan. Salah satu sumber
peningkatan keahlian auditor dapat berasal dari pengalaman-pengalaman
dalam bidang audit dan akuntansi. Pengalaman tersebut dapat diperoleh
melalui proses yang bertahap, seperti: pelaksanaan tugas-tugas pemeriksaan,
pelatihan ataupun kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pengembangan
keahlian auditor.
Dalam Ananing (2006), selain faktor pengalaman yang mempunyai
peran penting bagi peningkatan keahlian auditor, pengalaman juga
mempunyai arti penting dalam upaya pengembangan tingkah laku dan sikap
seorang auditor sebagaimana dikemukakan oleh ahli psikologis, bahwa
perkembangan adalah bertambahnya potensi untuk bertingkah laku. Mereka
juga mengemukakan, bahwa suatu perkembangan dapat dilukiskan sebagai
suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu tingkah laku yang lebih
tinggi. Dalam hak ini pengembangan pengalaman yang diperoleh auditor
berdasarkan teori tersebut menunjukkan dampak yang positif bagi
penambahan tingkah laku yang dapat diwujudkan melalui keahlian yang
pengalaman-pengalaman yang didapat auditor, memungkinkan berkembanganya potensi
yang dimiliki oleh auditor melalui proses yang dapat dipelajari.
Kelebihan auditor berpengalaman dijelaskan oleh Hidayatullah
(2009:2) bahwa auditor berpengalaman akan memperlihatkan adanya
experiantial learning melebihi pengetahuan auditor yang berpengalaman. Auditor sering berhadapan dengan berbagai tekanan yang mungkin
mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi situasi konflik. Sebagai
contoh, bahkan pada saat auditor memahami tanggung jawab profesionalnya,
mereka mungkin memilih untuk bertindak secara tidak etik untuk memperoleh
penilaian kerja yang positif atau secara sederhana agar dipandang sebagai
team player. Auditor mungkin juga bertindak tidak etik dalam situasi adanya tekanan karena adanya kemungkinan kegagalan. Khotma Asyriah (2009:5)
dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bukti bahwa auditor mendapatkan
perintah tidak tepat baik itu dari atasan ataupun dari klien cenderung akan
berperilaku menyimpang dari stándar profesional. Pengaruh tekanan atasan
pada konsekuensi yang memerlukan biaya, seperti halnya tuntutan hukum,
hilangnya profesionalisme, dan hilangnya kepercayaan publik, dan kredibilitas
sosial. Hal tersebut mengindikasikan adanya pengaruh dari tekanan terhadap
opini audit.
Memang bukan hal yang mudah bagi seorang auditor untuk dapat
bertahan dalam menghadapi tekanan klien yang sudah menjadi risiko profesi
bagi seorang auditor. Auditor harus memikul tanggung jawab atau amanah,
menjalankan tugasnya (Pedoman Kode Etik Akuntan Indonesia, Pasal 1 ayat
2) dalam Triana (2010). Auditor tidak boleh menyalahgunakan kemampuan
dan keahlian yang dimilikinya untuk digunakan pada jalan yang tidak benar.
Wahyudi (2006), menyatakan bahwa profesionalisme juga menjadi
syarat utama bagi seseorang yang ingin menjadi seorang auditor eksternal.
Sebab dengan profesionalisme yang tinggi kebebasan auditor akan semakin
terjamin. Untuk menjalankan perannya yang menuntut tanggung jawab yang
semakin luas, auditor eksternal harus memiliki wawasan yang luas tentang
kompleksitas organisasi modern.
Menurut Elfarini (2007), kepercayaan yang besar dari pemakai laporan
keuangan auditan dan jasa lainnya yang diberikan oleh akuntan publik inilah
yang akhirnya mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas audit
yang dihasilkannya. Kualitas audit ini penting karena dengan kualitas audit
yang tinggi maka akan dihasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya
sebagai dasar pengambilan keputusan.
Penelitian ini adalah replikasi atau pengembangan dari beberapa
penelitian, diantaranya : Triana (2010), Aini (2009), Hasibuan (2010), Elfarini
(2007), Herman (2009), Agestino (2010), Budiman (2010) dan Hidayatullah
(2009).
Penelitian yang dilakukan Triana (2010) menunjukan bahwa tekanan
klien dan tekanan peran secara simultan dan signifikan berpengaruh terhadap
independensi auditor dan kecerdasan spiritual bukanlah variabel moderating
Aini (2009) menunjukkan bahwa independensi, pengalaman dan etika auditor
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit. Hasibuan (2010)
menunjukkan bahwa lingkungan kerja, independensi dan pengalaman auditor
berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit. Elfarini (2007)
menunjukkan bahwa Independensi mempunyai pengaruh signifikan terhadap
kualitas audit. Herman (2009) menunjukan bahwa baik secara parsial maupun
simultan pengalaman dan skeptisme profesional auditor berpengaruh secara
signifikan terhadap pendeteksian kecurangan. Agestino (2010) menunjukkan
bahwa kompetensi dan profesionalisme berpengaruh secara signifikan
terhadap kualitas audit, tetapi bonus dan batasan waktu audittidak berpengaruh
secara signifikan terhadap kualitas audit. Budiman (2010) menunjukan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan antara audit judgement, independensi dan
komitmen profesionalisme auditor terhadap kualitas audit secara parsial
maupun secara simultan. Hidayatullah (2009) menunjukkan bahwa
profesionalisme berpengaruh dalam mendeteksi kekeliruan, independensi
berpengaruh dalam mendeteksi, keahlian berpengaruh dalam mendeteksi
kekeliruan dan pengalaman auditor berpengaruh dalam mendeteksi kekeliruan.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya antara lain:
Penelitian ini menggabungkan tiga variabel independen, yaitu tekanan klien
dalam Triana (2010) dan Chirstina, pengalaman auditor dalam Hasibuan
(2010), Aini (2009) dan Herman (2009), dan profesionalisme dalam Agestino
(2010) dan Budiman (2010). Dari beberapa variabel independen ini adalah
dalam penelitian ini adalah kualitas audit. Variabel dependen ini adalah juga
variabel dependen pada penelitian sebelumnya.
Dari uraian di atas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian ini
karena cukup penting untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kualitas audit dan sejauh mana pengaruh setiap faktor terhadap
kualitas audit. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti melakukan penelitian
mengenai “Pengaruh Tekanan Klien dan Pengalaman Auditor dan
Profesionalisme Auditor terhadap Kualitas Audit”.
B. Perumusan Masalah Penelitian
Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian sebagai
berikut:
1. Apakah Tekanan Klien berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas
Audit?
2. Apakah Pengalaman Auditor berpengaruh secara signifikan terhadap
Kualitas Audit?
3. Apakah Profesionalisme Auditor berpengaruh secara signifikan terhadap
Kualitas Audit?
4. Apakah Tekanan Klien, Pengalaman Auditor, dan Profesionalisme Auditor
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan
sebagai berikut:
a. Menganalisis pengaruh tekanan klien terhadap kualitas audit.
b. Menganalisis pengaruh pengalaman auditor terhadap kualitas audit.
c. Menganalisis pengaruh profesionalisme auditor terhadap kualitas
audit.
d. Menganalisis secara simultan pengaruh tekanan klien, pengalaman
auditor, dan profesionalisme auditor terhadap kualitas audit.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi semua pihak,
diantaranya:
a. Bagi penulis
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan
penulis tentang bagaimana pengaruh tekanan klien dan pengalaman
auditor terhadap kualitas opini audit yang dilakukan perusahaan.
b. Bagi perusahaan
Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai kritikan dan saran agar
c. Bagi auditor
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
bagi auditor dalam meningkatkan kualitas jasa yang diberikan kepada
perusahaan.
d. Bagi mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi
bagi mahasiswa khususnya jurusan akuntansi untuk digunakan dalam
penelitian selanjutnya.
e. Bagi pustaka akuntansi
Selain bermanfaat bagi berbagai pihak, hasil penelitian ini juga
diharapkan dapat menambah jumlah koleksi perpustakaan akuntansi
BAB II