Klorofil A
Klorofil merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan produktivitas primer di laut. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait dengan kondisi oseanografi suatu perairan. Beberapa parameter fisika kimia yang mempengaruhi sebaran klorofil-a adalah intensitas cahaya dan nutrien. Perbedaan parameter tersebut menjadi penyebab bervariasinya
produktivitas primer di beberapa tempat di laut (Samawi, 2007).
Konsentrasi Klorofil-a Perairan KKP Nusa Penida dari citra MODIS Klorofil a erat hubungannya dengan
keberadaan fitoplankton. Fitoplankton dikenal sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil sehingga mampu melakukan reaksi fotosintesis. Keberadaan fitoplankton pada suatu daerah berkaitan erat dengan besar kecilnya kandungan klorofil yang berada di daerah tersebut. Secara horizontal kandungan klorofil-a lebih banyak ditemukan pada lapisan permukaan yang berada dekat dengan daratan dimana semakin menuju laut maka kandungan klorofil-a semakin rendah karena daratan banyak memberi masukan nutien kedalam perairan. Hal ini
menyebabkan suburnya perairan yang akhirnya akan bermanfaat bagi fitoplankton untuk melakukan aktivitas fotosintesis. Konsentrasi klorofil-a pada saat survei dilakukan menunjukkan konsentrasi yang tinggi. Lokasi tersebut kaya akan nutrien
Indonesia adalah adanya angin monsun. Pada bulan musim peralihan II (September-Oktober- November), pH perairan Indonesia cenderung lebih rendah karena adanya pengaruh angin monsun yang mulai berhembus dari Asia ke Australia. Angin monsun ini menyebabkan transport massa air laut dari Laut Cina Selatan yang memiliki pH yang rendah, kurang dari 8, ke perairan Indonesia (Doney, 2006). Angin monsun digerakkan oleh perubahan tekanan secara bergantian di Benua Asia dan Benua Australia akibat perbedaan posisi matahari sepanjang tahun. Angin monsun ini merupakan salah satu pembangkit arus dominan yang mampu menggerakkan massa air yang terjadi di permukaan perairan Indonesia. Monsun yang dialami perairan Indonesia yaitu monsun barat, yang terjadi di bulan Desember, Januari, dan Februari serta monsun timur yang terjadi di bulan Juni, Juli, dan Agustus. Adanya angin monsun tersebut walaupun tidak berpengaruh secara langsung terhadap nilai pH, namun dapat menyebabkan variabilitas nilai pH di permukaan air karena mampu menghasilkan transpor massa air laut dari suatu perairan ke perairan lain (BPOL, 2011).
Selain angin monsun, menurut Nybakken (2000), faktor utama yang mempengaruhi tingkat keasaman air laut di daerah pesisir adalah aktivitas fitoplankton dan
tumbuhan air, aliran yang berasal dari darat, pasang-surut dan cuaca yang mempengaruhi fluktuasi kimiawi perairan. Aktivitas fitoplankton dan tumbuhan air yang melibatkan CO2 dapat mempengaruhi keasaman perairan. Di wilayah Nusa Penida, tidak ada aliran sungai besar yang masuk ke perairannya dan run off dari perbukitan di sekitarnya juga tidak besar karena sebagian besar daratannya berupa tanah bebatuan keras, sehingga relatif tidak mempengaruhi sebaran nilai pHnya. Dinamika pasang-surut air laut sangat mempengaruhi
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar BML 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 7 - 8,5 pH 8.22 8.20 8.23 8.33 8.33 8.37 8.31 8.35 8.34
Secara umum, pH hasil pengukuran di site monitoting manta menunjukan hasil yang sesuai dengan rentang baku mutu lingkungan. pH berpengaruh secara langsung terdapat proses penyediaan makanan pada suatu ekosistem di perairan. Tingginya pH secara nyata disebabkan oleh masuknya CO2 ke perairan yang mempengaruhi respon fisik pada ikan, proses fotosintesis organisme laut, serta menghambat proses calsifikasi atau pengkapuran pada terumbu karang serta organisme lainnya. Tinggi pH dalam jangka pendek akan mempengaruhi fungsi pernafasan, peredaran darah, pertumbuhan dan reproduksi pada ikan (Guinotte JM, 2008). Derajat keasaman (pH) memiliki peranan yang penting untuk kondisi lingkungan perairan. Perubahan pH berpengaruh terhadap proses kimia maupun biologis organisme yang ada diperairan. pH mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia di perairan. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan misalnya nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Tarsim dan Wardiyanto, 2004).
DO
Oksigen terlarut merupakan salah satu unsur pokok sebagai regulator pada proses metabolisme organisme, terutama untuk proses respirasi dan dibutuhkan sebagai petunjuk kualitas air (Odum, 1993). Kandungan oksigen terlarut di perairan berasal dari fotosintesis dan difusi langsung dari udara (Goldman dan Horne, 1983 dalam Noor Kholidah, 2005).
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar DO 3.81 3.33 3.52 3.70 3.73 3.54 3.63 3.39 3.59 BML : Baku Mutu Lingkungan
Mengacu pada baku mutu air laut, bahwa DO terukur cenderung rendah atau dibawah standar baku mutu air laut yaitu >5. Namun hal ini tidak dapat menjadi justifikasi bahwa kualitas perairan tersebut buruk. Banyaknya zooplankton juga dapat menjadi penyebab, namun melihat dari proses rantai makanan yang akan dan parameter lainnya diketahui bahwa cukup banyak nutrien/makanan yang tersedia untuk jenis ikan khususnya pari manta.
Konduktifitas
Konduktivitas menggambarkan kadar garam-garam yang terionisasi atau terlarut dalam air. Air menjadi
Pengaruh konduktivitas terhadap hewan akuatik dihubungkan dengan kesadahan perairan, yaitu tergantung pada tinggi rendahnya konsentrasi ion-ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) (Faturrahman, 1992 dalam Alma Sina, 2005). Pengukuran konduktifitas pada saat survei dengan menggunakan TOA WQC-24 Water Quality Checker didapatkan hasil sebagai berikut :
Konduktivitas air laut bergantung pada jumlah ion-ion terlarut per volumenya dan mobilitas ion-ion tersebut. Konduktivitas bertambah dengan jumlah yang sama dengan bertambahnya salinitas sebesar 0,01, temperatur sebesar 0,01 dan kedalaman sebesar 20 meter. Secara umum, faktor yang paling dominan dalam perubahan konduktivitas di laut adalah temperatur.
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar Konduktifitas 4.87 4.16 4.15 4.72 4.82 4.79 4.84 4.86 4.84 >5
sinar yang dihasilkan karena interaksi antara sinar yang diberikan dengan partikel suspensi yang terdispersi dalam larutan. Partikel-partikel suspensi tersebut dapat berupa lempung alga, material organik, mikroorganisme, material koloid, dan sebagainya. Kekeruhan/turbiditas adalah banyaknya jumlah partikel tersuspensi molekul besar sekalipun seperti tannin dan lignin di dalam air. (Saidar,et.al, 2002). Menurut Nybakken (1992) dalam Siagian (2009), menyatakan bahwa adanya zat-zat tersuspensi dalam perairan akan menimbulkan kekeruhan pada perairan tersebut dan kekeruhan ini akan mempengaruhi ekologi dalam hal penurunan cahaya yang mencolok. Turbiditas pada ekositem perairan juga sangat berhubungan dengan kedalaman, kecepatan arus, tipe substrat dasar, dan suhu perairan. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunnya daya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan yang selanjutnya menurunkan produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan bentik. Peningkatan kekeruhan pada ekosistem perairan juga akan berakibat terhadap mekanisme pernafasan organisme perairan. Pengukuran Turbidity pada saat survei dengan menggunakan TOA WQC-24 Water Quality Checker didapatkan hasil sebagai berikut :
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar Turbiditas 3.4 3.5 28.2 0.1 0.9 1.2 0.1 0.2 0.1
di MPL 3.4 dan di MPB 3.5, namun di MBP hasil yang didapatkan lebih tinggi yaitu 28.2. Tingginya turbiditas pada lokasi tersebut dimungkinkan karena tingginya partikel suspensi seperti plankton dan mikroorganisme lainnya. Tidak terkecuali di MBP, selain disebabkan karena partikel suspensi palnkton dan mikroorganisme juga disebabkan oleh kondisi gelombang dan arus laut yang kuat sehingga pasir dan material dasar laut terangakat. Di MPL dan MBP diketahui bahwa manta menunjukan perilaku sedang makan (feeding habit) dan berenang dipermukaan. Hal ini menjadi alasan kuat bahwa di lokasi tersebut kaya akan plankton yang menjadi sumber makanan utama manta.
Sedangkan di perairan TN Komodo, diketahui bahwa turbiditas yang paling tinggi berada di site Shotgun yaitu 1.2, sedangkan yang lain berikisar antara 0.1 - 0.9. Arus yang kuat menjadi penyebab turbiditas di Shotgun lebih besar daripada site yang lainnya. Tidak ditemukan manta di shotgun.
Suhu
Suhu mengalami perubahan secara perlahan-lahan dari daerah pesisir menuju laut lepas. Umumnya kondisi suhu di pesisir lebih tinggi dari daerah laut yang suhunya relatif lebih rendah dan stabil. Rendahnya kisaran suhu di perairan laut karena faktor kedalaman sehingga sinar matahari tidak dapat menembus perairan,
dibandingkan dengan di perairan muara dan pesisir yang kedalamannya rendah sehingga sinar matahari dapat menembus perairan dan membuat perairan menjadi hangat. Pengukuran suhu pada saat survei dengan menggunakan TOA WQC-24 Water Quality Checker dipadatkan hasil sebagai berikut :
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu di perairan Nusa Penida yaitu 20.9oC - 23.7 oC. Bulan Oktober merupakan musim peralihan II (September-Oktober-November) dimana suhu perairan di Nusa Penida sangat dingin dibandingkan dengan suhu perairan lainnya di Indonesia. Hal ini di pengaruhi oleh posisi Nusa Penida yang merupakan perairan terbuka yang banyak dipengaruhi oleh selat Lombok yang berarus keras. Adanya arus ini menimbulkan pergerakan massa air menuju Samudera Hindia yang dapat menyebabkan upwelling dingin sehingga suhu perairan menjadi rendah. Upwelling adalah penaikan massa air laut dari
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar Suhu 21.9 20.9 23.7 26.4 26.6 26.7 27.7 29.2 27.4
Di perairan TN Komodo, pada bulan November merupakan musim peralihan II (September-Oktober-November). Dengan melihat komposisi suhu terukur pada monitoring tersebut cenderung hangat. Suhu mempengaruhi proses upwelling adalah penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke lapisan permukaan. Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang vertikal permukaan. Dalam proses upwelling ini terjadi penurunan suhu permukaan laut dan tingginya kandungan zat hara dibandingkan daerah sekitarnya. Zat hara menjadi pemicu fitoplankton dan zooplankton sebagai bagian dari rantai makanan di perairan tersebut.
Site Manta Point Lama
Manta Point Baru Manta BSPL Point Manta Alley Karang Makassar Shotgun Mauwan Pink Beach Tatawa Besar Salinitas 31.8 31.7 32.1 31.1 31.7 31.9 32.1 32.3 31.8 Salinitas adalah jumlah garam dalam gram yang
terkandung dalam satu kilogram air laut dimana iodin dan bromin digantikan nilainya oleh klorin, semua karbonat diubah menjadi oksida dan semua bahan organik teroksidasi dengan sempurna (Pickard, 1983). Salinitas akan mempengaruhi densitas, kelarutan gas, tekanan osmotik dan ionik air. Semakin tinggi salinitas, maka tekanan osmotik air akan semakin tinggi pula. Salinitas merupakan parameter kimia yang penting di laut dan menjadi faktor pembatas karena hampir semua organisme di laut hanya dapat hidup pada daerah yang perubahan salinitasnya sangat kecil, walaupun ada organisme laut yang mampu bertolerasi terhadap perubahan salinitas yang tinggi. Di perairan Indonesia yang termasuk iklim tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 30-35 o/ oo. Sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi) dan aliran sungai (run off) yang ada di sekitarnya (Nontji, 1987). Pengukuran sualinitas pada saat survei dengan menggunakan TOA WQC-24 Water Quality Checker dipadatkan hasil sebagai berikut :
Salinitas di lokasi cenderung normal, fluktuasi salinitas dapat terjadi namun pari manta memiliki rentang adaptasi yang baik terhadap salinitas.
Allen, G.R dan M.V. Erdman. 2008. Reef fish of Nusa Penida, Indonesia. Final Report to Conservation International. 22 hal. 234 Anderson RC, Adam MS, Goes JI (2011) From monsoons to mantas: Seasonal distribution of Manta alfredi in the Maldives. Fish Oceanogr 20: 104–113.
Bigelow H.B., and Schroeder W.C., 1953. Sawfish, guitarfish, skates and rays. In: Tee-Van (ed.) Fishes of the Western North Atlantic, Part 2. Sears Foundation for Marine Research, Yale University, New Haven, pp 508 – 5145 on rocky intertidal communities. Journal of Aquatic Ecosystem Stress and Recovery 7: 273-297.
BPOL. 2011. Laporan Penelitian Studi Operasional Oseanografi Untuk Konservasi Ekosistem Terumbu Karang. Darma dkk, 2010 Darma, I.M., R. Basuki, dan M. Welly. 2010. Profil
Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali. xii + 78 hal. Deakos, M.H., J.D. Baker and L. Bejder, 2011. Characteristics of a manta ray Manta alfredi population off Maui, Hawaii, and implications for management. Mar. Ecol. Prog. Ser. 429:245-260.
Doney, Scott C. 2006. The Danger of Ocean Acidification. Scientific American , March 2006. Guinotte JM, 2008
Germanov ES, Marshall AD (2014) Running the Gauntlet: Regional Movement Patterns of Manta alfredi through a Complex of Parks and Fisheries. PLoS ONE 9(10): e110071. doi: 10.1371/journal.pone.0110071
Homma K, Maruyama T, Itoh T, Ishihara H, Uchida S (1997) Biology of the manta ray, Manta birostris, Walbaum, in the Indo-PaciWc. In:
Lazuardi. ME, M Welly, W Sanjaya, P Bassett, H Mitchell, N Karyawan, 2015. Peran KKPD Nusa Penida dalam Konservasi dan Wisata Pari Manta di Kawasan Lesser Sunda. Prosiding Simposium Hiu Dan Pari Di Indonesia Hal.189-198
Matinaud, C. 2013. Manta Matcher, its comptent les Mantas. http://www.plongeur.com/ magazine/ 2013/03/24/mantamatcher-identification-manta/
Marshall AD, Dudgeon CL, Bennett MB (2011) Size and structure of a photographically identified population of manta rays Manta alfredi in southern Mozambique. Mar Biol 158: 111–1124. Nybakken, J.W. 2000. Biologi Laut Suatu Pendekatan
Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. Odum, 1993
Pickard, G.L., and W.J. Emery, 1993: Descriptive Physical Oceanography, 5th enlarged edition, 320pp, Pergamon Press.
Speed, C., M. Meekan, and C. Bradshaw. 2007. Spot the match: wildlife photo-identification using information theory. Front. Zool. 4:1–11. doi: 10.1186/1742- 9994-4-2
Samawi, MF. 2007. Hubungan Antara Konsentrasi Klorofil-a dengan Kondisi Oseanografi di Perairan Pantai Kota Makasar . Unhas. Makasar
Tito CK dkk, 2013 Kondisi Ph Dan Suhu Pada Ekosistem Terumbu Karang Di Perairan Nusa Penida Dan Pemuteran, Bali. Journal BPOL
Turak, E., DeVantier, L. 2009. Biodiversity and conservation priorities of reef- building corals in the Papuan Bird’s Head Seascape. In: L.S. Katz, A, Firman M.V. Erdmann (eds.) A Rapid Marine Biodiversity Assessment of Teluk Cendrawasih and the FakFak-Kaimana Coastline of the Papuan Bird's Head