• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

KUALITAS SUMBER INFORMASI PERTANIAN (X 4 )

X4.1 Ketersediaan sumber informasi

X4.2 Kemampuan menyediakan informasi

X4.3 Pelayanan

Tabel 18 menunjukkan bahwa ada hubungan antara kesadaran terhadap pentingnya informasi dengan tuntutan kebutuhan akan berbagai informasi pertanian dan tingkat keberdayaan petani sayuran .

Tabel 18 Hubungan antara Peubah Karakteristik Pribadi Petani Sayuran dengan Peubah Tuntutan Kebutuhan dan Memperoleh Informasi Pertanian

Peubah X2 Tuntutan Kebutuhan dan Memperoleh Informasi Pertanian (X2)

Peubah X1 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4 X2.5 X2.6 Total X2

Karakteristik Pribadi Petani Sayuran (X1)

1. Status Sosial Ekonomi (X1.1) 0.33 ** 0.33 ** 0.14 * 0.28 ** 0.57 ** 0.** 0.44**

2. Kesadaran Pentingnya Informasi (X1.2) 0.54 ** 0.31** 0.40 ** 0.47 ** 0.19 ** 0.** 0.49**

3. Kemampuan Mengakses Informasi (X1.3) 0.59 ** 0.56 ** 0.51 ** 0.38 ** 0.43 ** 0.** 0.64**

4. Motivasi terhadap Usahatani Sayuran (X1.4) 0.38 ** 0.35 ** 0.17 ** 0.37 ** 0.17 ** 0.** 0.43**

5. Keinovatifan (X1.5) -0.07 -0.18 ** 0.07 -0.09 -0.26 ** 0.** -0.18**

Sumber: Data Primer (diolah, 2006) Keterangan: * = Korelasi nyata ( p< 0,05) ** = Korelasi nyata ( p< 0,01)

X2.1 = Informasi Peningkatan Produksi dan Mutu Sayuran X2.2 = Informasi Ketersediaan Sarana Produksi X2.3 = Informasi Ketersediaan Permodalan X2.4 = Informasi Teknologi Pengolahan Hasil Sayuran

X2.5 = Informasi Dukungan Pemasaran Sayuran X2.6 = Informasi Metode Analisis Usahatani Sayuran

Orang tidak akan sadar terhadap kebutuhan kalau dia belum mampu mengevaluasi kondisi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, harus ada suatu strategi pemberdayaan yang dapat menyadarkan orang untuk mengevaluasi dirinya sendiri sehingga dapat mengetahui kemampuan serta kelemahannya dan pada akhirnya dia akan mampu mengidentifikasi kebutuhannya sendiri (Slamet, 2000).

Aksesibilitas Petani terhadap Informasi Pertanian

Petani yang akses terhadap sumber informasi cenderung memperoleh informasi yang lebih banyak, tetapi hal ini juga tergantung pada karakteristik sumber informasi dan kualitas sumber informasi serta interaksi antara petani dengan sumber informasi tersebut. Akses petani terhadap sumber informasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah, tingkat kemampuan petani mengakses informasi pertanian dari berbagai sumber informasi, baik melalui kontak personal maupun melalui media massa dengan indikator: (1) kemampuan memperoleh informasi, (2) kemampuan memanfaatkan informasi, (3) kemampuan memilih informasi, (4) jumlah informasi baru yang diperoleh, (5) frekuensi memperoleh informasi dari kelompoktani, frekuensi kegiatan pelatihan/penyuluhan yang

diikuti, dan (6) kemampuan biaya memperoleh informasi, seperti terlihat pada Lampiran 2. Analisis terhadap aksesibilitas petani dengan informasi pertanian, berdasarkan tipologi petani, jenis sayuran yang dihasilkan, dan lokasi petani, dapat disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19 Kemampuan Petani Sayuran Mengakses Informasi Pertanian

Uraian Tingkat Kemampuan Petani Mengakses Informasi Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) Jumlah 1. Tipologi Petani* - Petani Maju - Petani Berkembang 20 ,7 34, 1 48, 3 56, 6 31, 0 9, 3 100, 0 100, 0 2. Jenis Sayuran* - Kubis - Kentang - Cabai 10, 1 50, 7 35, 5 71, 9 38, 7 50, 0 18, 0 10, 7 14, 5 100, 0 100, 0 100, 0 3. Lokasi * - Bogor - Cianjur - Bandung 11, 3 5, 0 76, 3 56, 3 88, 8 18, 8 32, 5 6, 3 5, 0 100, 0 100, 0 100, 0 Total Petani 30, 8 54, 6 14, 6 100, 0

Sumber: Data Primer (2006)

Keterangan: * = Kemampuan mengakses informasi berbeda nyata ( p< 0,01) menurut tipologi petani, jenis sayuran, dan lokasi.

Tabel 19 menggambarkan bahwa secara keseluruhan tingkat kemampuan petani mengakses informasi, berada pada kategori sedang atau baru 55% petani yang mampu mengakses informasi pertanian. Apabila diperhatikan menurut tipologi petani, menunjukkan bahwa tingkat kemampuan petani maju dalam mengakses informasi lebih tinggi dari petani berkembang. Pada Tabel 19 dapat diperhatikan bahwa 57% petani berkembang, tingkat kemampuannya pada kategori sedang dan 9% pada kategori tinggi, sedangkan petani maju (48%) tingkat kemampuannya pada kategori sedang dan 31% pada kategori tinggi.

Selanjutnya, hasil uji beda menunjukkan bahwa berdasarkan tipologi petani, ada perbedaan yang nyata (p<0,01) antara tingkat kemampuan mengakses informasi petani maju dengan petani berkembang. Demikian halnya, berdasarkan lokasi petani dan jenis sayuran yang dihasilkan, ada perbedaan yang nyata (p<0,01) dalam tingkat kemampuan mengakses informasi. Rendahnya modal intelektual (pendidikan) petani, membuat akses petani terhadap sumber informasi menjadi lemah sehingga mereka terisolasi dari informasi. Tabel 20 menunjukkan bahwa ada hubungan antara karakteristik pribadi petani dengan kemudahan mendapatkan informasi.

Tabel 20 Hubungan antara Peubah Karakteristik Pribadi Petani Sayuran dengan Peubah Kemudahan Mendapatkan Informasi Pertanian

Peubah X5 Kemudahan Mendapatkan Informasi Pertanian (X5)

Peubah X1 Komunikatif (X5.1 ) Penggunaan Saluran dan Alat Komu- nikasi (X5.2) Penyuluhan (X5.3 ) Keterjangkauan (X5.4) Total X5

Karakteristik Pribadi Petani Sayuran (X1)

1. Status Sosial Ekonomi (X1.1) 0.11 0.18 * -0.05 0.23 * 0.07

2. Kesadaran Pentingnya Informasi (X1.2) 0.77 * 0.78 * 0.83 * 0.41 * 0.84 *

3. Kemampuan Mengakses Informasi (X1.3) 0.55 * 0.53 * 0.61 * 0.33 * 0.63 *

4. Motivasi terhadap Ush.tani Sayuran (X1.4) 0.37 * 0.46 * 0.35 * 0.24 * 0.38 *

5. Keinovatifan (X1.5) -0.03 0.04 0.12 0.01 0.09

Sumber: Data Primer (diolah, 2006) Keterangan: * = Korelasi nyata ( p< 0,01)

Kemampuan petani utuk memperoleh, memilih, dan memanfaatkan informasi tentang usahatani sayuran juga masih kurang. Petani berkembang dengan berbagai kendala internal dan eksternal yang dihadapi, membuat mereka lebih banyak menunggu informasi. Mereka merasa agak sulit akses terhadap informasi yang dibutuhkannya. Umumnya mereka juga jarang melakukan kontak dengan sumber informasi secara personal, tetapi lebih sering melalui pertemuan kelompok atau kegiatan penyuluhan. Sedangkan petani maju, umumnya tidak terpaku dengan informasi yang tersedia di daerahnya saja tetapi mereka lebih aktif mencari informasi yang dibutuhkannya dari luar desanya, karena informasi yang ada di daerahnya sudah dianggap ketinggalan dan kurang mampu menjawab kebutuhan mereka. Dengan demikian, aksesibilitas petani terhadap sumber informasi dipengaruhi oleh kemudahan petani mendapatkan informasi ditinjau dari aspek komunikatif, penggunaan saluran dan alat komunikasi, kegiatan penyuluhan, dan keterjangkauan.

Tingkat Motivasi Petani terhadap Usahatani Sayuran

Motivasi untuk berhasil dalam usahatani sayuran, merupakan suatu kekuatan yang mendorong petani untuk terus berupaya mencapai hasil yang lebih baik dalam berusahatani. Setiap orang mempunyai motiv tertentu untuk melakukan sesuatu, misalnya dalam bekerja kita mengenal motivasi kerja. Menurut Maslow (1970), motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Dengan demikian, motivasi berarti membangkitkan motiv (daya gerak yang

mendorong seseorang berbuat sesuatu) seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau suatu tujuan.

Tingkat motivasi petani terhadap usahatani sayuran pada penelitian ini, diukur dengan indikator: (1) minat meningkatkan produktivitas, (2) minat meningkatkan kualitas, (3) minat memperhatikan kelestarian lingkungan, (4) minat memilih jenis sayuran yang diminati pasar, (5) minat mencoba ide-ide baru, (6) frekuensi kegiatan pelatihan/penyuluhan yang diikuti, dan (6) jumlah jam per hari bekerja untuk usahatani sayuran, seperti terlihat pada Lampiran 3. Analisis terhadap tingkat motivasi petani berdasarkan tipologi petani, jenis sayuran yang dihasilkan, dan lokasi petani, dapat disajikan pada Tabel 21, Secara keseluruhan tingkat motivasi petani sayuran berada pada kategori tinggi atau 59% petani sudah tinggi tingkat motivasinya dalam berusahatani sayuran. Berdasarkan tipologi petani, menunjukkan bahwa tingkat motivasi petani maju lebih tinggi dari petani berkembang. Pada Tabel 21, dapat diperhatikan bahwa 78% petani maju tingkat motivasinya pada kategori tinggi dan 0% pada kategori rendah, sedangkan petani berkembang 53% tingkat motivasinya pada kategori tinggi dan 1% pada kategori rendah. Maknanya, motivasi untuk berhasil petani maju lebih tinggi daripada petani berkembang. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan status sosial ekonomi petani, seperti yang ditunjukkan Tabel 18 dan Tabel 20.

Tabel 21 Tingkat Motivasi Petani terhadap Usahatani Sayuran

Uraian Tingkat Motivasi

Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) Jumlah 1. Tipologi Petani * - Petani Maju - Petani Berkembang 0, 0 1, 1 22, 4 46, 2 77, 6 52, 7 100, 0 100, 0 2. Jenis Sayuran * - Kubis - Kentang - Cabai 1, 1 1, 3 0, 0 36, 0 30, 7 55, 3 62, 9 68, 0 44, 7 100, 0 100, 0 100, 0 3. Lokasi - Bogor - Cianjur - Bandung 0, 0 1, 3 1, 3 47, 5 41, 3 32, 5 52, 5 57, 5 66, 3 100, 0 100, 0 100, 0 Total Petani 0, 8 40, 4 58, 8 100, 0

Sumber: Data Primer (2006)

Keterangan: * = Tingkat motivasi petani berbeda nyata ( p< 0,01) menurut tipologi petani dan jenis sayuran

Selanjutnya, hasil uji beda menunjukkan bahwa berdasarkan tipologi petani, ada perbedaan yang nyata (p<0,01) antara tingkat motivasi petani maju

dengan petani berkembang. Berdasarkan jenis sayuran, juga ada perbedaan yang nyata (p<0,01) tingkat motivasi antara petani kubis, petani kentang, dan petani cabai. Hal ini ada kaitannya dengan perbedaan status sosial ekonomi masing- masing petani. Namun, tidak ada perbedaan yang nyata tingkat motivasi petani antar lokasi (p>0,05).

Suatu motiv timbul berdasarkan kebutuhan hidup. Kebutuhan, merupakan unsur yang paling kuat untuk mambentuk motiv. Herzberg dalam Thoha (1996) mengidentifikasi dua perangkat kegiatan yang memuaskan kebutuhan manusia, yaitu: (1) kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan kerja (prestasi, penghargaan, tanggungjawab, kemajuan atau promosi, pekerjaan itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi), dan (2) kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja. Selanjutnya, Herzberg mengembangkan teori motivasi pada dua faktor, yaitu: faktor hygiene (syarat kerja) dan faktor motivator (pendorong). Faktor hygiene bersifat ekstrinsik yang berada di luar diri, sedangkan faktor motivator bersifat intrinsik berada di dalam diri. Faktor hygiene, misalnya: upah, kondisi lingkungan tempat bekerja kebijaksanaan administrasi tempat bekerja. Faktor motivasi, misalnya: keberhasilan, penghargaan, pekerjaannya sendiri, rasa tanggung jawab, dan faktor peningkatan. Kedua faktor tersebut perlu untuk keberhasilan suatu kegiatan, namun faktor motivator lebih besar untuk membangkitkan semangat kerja. Persoalan-persoalan semangat kerja tidak dapat diatasi hanya dengan pemberian upah dan gaji yang tinggi, insentif yang besar, dan memperbaiki kondisi tempat kerja, tetapi juga berasal dari diri sendiri.

Mc Clelland dalam Thoha (1996) dalam teorinya tentang motivasi berprestasi mengemukakan bahwa manusia pada hakekatnya mempunyai kemampuan untuk berprestasi di atas kemampuan orang lain. Seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk berprestasi, jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya yang berprestasi lebih baik dari prestasi orang lain. Kebutuhan manusia menurut Mc Clelland ada tiga, yaitu: kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk kekuasaan. Ketiga kebutuhan ini, terbukti merupakan unsur-unsur yang amat penting untuk menentukan prestasi seseorang dalam bekerja.

Beberapa karakteristik dari orang-orang yang berprestasi tinggi, antara lain adalah:

(1) Memerlukan umpan balik yang segera. Orang yang mempunyai kebutuhan prestasi tinggi, umumnya lebih menyenangi semua informasi mengenai hasil- hasil yang dikerjakan. Informasi yang merupakan umpan balik yang bisa memperbaiki prestasinya pada masa yang akan datang, sangat dibutuhkan oleh orang tersebut.

(2) Memperhitungkan keberhasilan. Seseorang yang berprestasi tinggi, pada umumnya hanya memperhitungkan keberhasilan prestasi saja dan tidak memperdulikan penghargaan-penghargaan materi.

(3) Menyatu dengan tugas. Sekali orang yang berprestasi tinggi memilih suatu tujuan untuk dicapai, maka ia cenderung untuk menyatu dengan tugas pekerjaannya sampai ia benar-benar berhasil gemilang. Hal ini berarti, bahwa ia bertekad akan mencapai tujuan yang telah dipilihnya dengan ketekatan hati yang bulat, tidak setengah-setengah.

Dengan demikian, unsur motivasi sangat penting, baik bagi kehidupan individu maupun kelompok karena dengan motivasi inilah akan timbul kekuatan potensial manusia untuk berprestasi. Motivasi yang tinggi dari petani sayuran juga akan berpengaruh, baik terhadap tuntutan kebutuhan dan memperoleh informasi maupun terhadap keinginan serta kemudahan untuk mendapatkan informasi. Tingkat Keinovatifan Petani

Persepsi seseorang tentang sesuatu, sangat dipengaruhi oleh pengetahuannya yang erat kaitannya dengan sejumlah informasi yang dimiliki. Petani yang melakukan kontak lebih intensif dengan sumber informasi, akan lebih terbuka dan memiliki persepsi lebih baik terhadap inovasi atau ide-ide baru. Tingkat keinovatifan petani sayuran pada penelitian ini diukur dengan indikator: (1) upaya mencari informasi pertanian dan (2) jumlah inovasi yang sudah dicoba, seperti terlihat pada Lampiran 4. Analisis terhadap tingkat keinovatifan petani berdasarkan tipologi petani, jenis sayuran yang dihasilkan, dan lokasi petani, dapat disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22 Tingkat Keinovatifan Petani Sayuran

Uraian Tingkat Keinovatifan Petani

Rendah (%) Sedang (%) Tinggi (%) Jumlah 1. Tipologi Petani - Petani Maju - Petani Berkembang 46, 6 45, 1 44, 8 45, 6 8, 6 9, 3 100, 0 100, 0 2. Jenis Sayuran - Kubis - Kentang - Cabai 44, 9 50, 7 40, 8 44, 9 41, 3 50, 0 10, 1 8, 0 9, 2 100, 0 100, 0 100, 0 3. Lokasi * - Bogor - Cianjur - Bandung 48, 8 36, 3 51, 3 41, 3 47, 5 47, 5 10, 0 16, 3 1, 3 100, 0 100, 0 100, 0 Total Petani 45, 4 45, 4 9, 2 100, 0

Sumber: Data Primer (2006)

Keterangan: * = Tingkat keinovatifan petani berbeda nyata ( p< 0,01) menurut lokasi

Dari data yang digambarkan pada Tabel 22 dapat dijelaskan, bahwa secara keseluruhan tingkat keinovatifan petani sayuran berada pada kategori rendah atau sedang atau 45% petani tingkat keinovatifannya dalam berusahatani sayuran masih rendah/sedang. Berdasarkan tipologi petani, menunjukkan bahwa tingkat keinovatifan petani maju tidak berbeda dengan petani berkembang. Pada Tabel 22, juga dapat diperhatikan bahwa 47% petani maju, tingkat keinovatifannya pada kategori rendah dan 9% pada kategori tinggi, sedangkan 45% petani berkembang tingkat keinovatifannya pada kategori rendah dan 9% pada kategori tinggi. Hal ini terjadi karena ada hubungannya dengan luas lahan yang sempit yang dimiliki petani, namun tidak ada perbedaan yang nyata antara tingkat keinovatifan petani maju dengan petani berkembang. Tingkat keinovatifan, juga akan berpengaruh terhadap tuntutan kebutuhan dan memperoleh informasi serta kemudahan untuk mendapatkan informasi, seperti yang ditunjukkan Tabel 18 dan Tabel 20.

Inovasi menurut Totok Mardikanto (1991), adalah sesuatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat, demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan. Pengertian ”baru” yang melekat pada istilah inovasi tersebut, bukan selalu berarti baru diciptakan tetapi dapat berupa sesuatu

yang sudah “lama” dikenal, diterima atau digunakan/diterapkan oleh masyarakat di luar sistem sosial yang menganggapnya sebagai sesuatu yang masih ”baru”.

Inovasi sebagai pesan penyuluhan dalam upaya pembangunan, haruslah mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan yang memiliki sifat pembaruan. Rogers (1971) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktek- praktek baru, atau obyek-obyek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan. Pengertian “baru” di sini mengandung makna bukan sekedar “baru diketahui” oleh pikiran (kognitif), akan tetapi juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat dalam arti sikap (afektif) dan juga baru dalam pengertian belum dilaksanakan/ diterapkan (psikomotorik) oleh seluruh warga masyarakat setempat.

Rogers dan Shoemaker (1981) mengemukakan bahwa perilaku komunikasi dari anggota masyarakat yang lebih inovatif adalah: (1) partisipasi sosialnya lebih tinggi, (2) lebih sering mengadakan komunikasi interpersonal dengan anggota sistem sosial lainnya, (3) lebih sering mengadakan hubungan dengan orang asing (kelompok acuan mereka kebanyakan orang di luar sistem), (4) lebih sering mengadakan hubungan dengan agen pembaruan, (5) keterdedahan dengan media massa, (6) mencari informasi tentang inovasi lebih banyak, sehingga pengetahuannya tentang inovasi lebih sempurna, (7) lebih tinggi tingkat kepemimpinannya, terutama pada sistem sosial yang normanya modern, dan (8) menjadi anggota sistem yang bernorma lebih modern, dan lebih terpadu.

Selanjutnya, hasil uji beda menunjukkan bahwa berdasarkan tipologi petani dan jenis sayuran yang dihasilkan, tidak ada perbedaan yang nyata dalam hal keinovatifannya (p>0,05). Namun, ada perbedaan yang nyata tingkat keinovatifan petani antar lokasi (p<0,01), karena ada hubungannya dengan perbedaan nyata tingkat pendidikan formal petani menurut lokasi (Tabel 16). Fakta menunjukkan, 18% petani Bandung memiliki pendidikan formal pada kategori tinggi (>9 tahun), sedangkan petani Bogor hanya 1% dan petani Cianjur 10% pada kategori yang sama (>9 tahun).

Umumnya, petani yang mempunyai tingkat kreativitas yang lebih tinggi akan sering melakukan kegiatan uji coba inovasi baru yang sering dilakukan pada skala terbatas sebelum diterapkan keseluruh lahan usahata ninya. Maknanya pada

penelitian ini adalah, keinovatifan petani akan mempengaruhi tingkat keberdayaannya dalam kemampuan merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengatasi masalah usahataninya, seperti ditunjukkan pada Tabel 23.

Tabel 23 Hubungan antara Peubah Karakteristik Pribadi Petani Sayuran dengan Peubah Tingkat Keberdayaan Petani

Peubah Y1 Tingkat Keberdayaan Petani Sayuran (Y1)

Peubah X1 Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4 Total Y1

Karakteristik Pribadi Petani Sayuran (X1)

1. Status Sosial Ekonomi (X1.1) 0.45 ** 0.47 ** 0.21 ** 0.29 ** 0.46 **

2. Kesadaran Pentingnya Informasi (X1.2) 0.14 * 0.09 0.18 ** 0.01 0.13 *

3. Kemampuan Mengakses Informasi (X1.3) 0.24 ** 0.31 ** 0.34 ** -0.02 0.31 **

4. Motivasi terhadap Usahatani Sayuran (X1.4) 0.33 ** 0.28 ** 0.35 ** 0.18 ** 0.35 **

5. Keinovatifan (X1.5) -0.21** -0.09 -0.01 -0.08 -0.13 *

Sumber: Data Primer (diolah, 2006)

Keterangan: * = Korelasi nyata ( p< 0,05) dan ** = Korelasi nyata ( p< 0,01) Y1.1 = Kemampuan Merencanakan; Y1.2 = Kemampuan Melaksanakan Sayuran Y1.3 = Kemampuan Mengevaluasi; Y1.4 = Kemampuan Mengatasi Masalah

Dengan demikian, adopsi inovasi oleh petani sayuran pada hakekatnya merupakan proses perubahan perilaku pada diri petani setelah menerima inovasi. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain sebagai cerminan dari adanya perubahan: sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.

Tingkat Kebutuhan Petani Sayuran terhadap Berbagai Informasi Pertanian

Pada penelitian ini, jenis-jenis informasi pertanian merupakan indikator yang akan dilihat tingkat kebutuhannya bagi petani sayuran, yaitu informasi tentang: peningkatan produksi dan mutu sayuran, ketersediaan sarana produksi, ketersediaan permodalan, teknologi pengolahan hasil sayuran, dukungan pemasaran sayuran, dan metode analisis usahatani sayuran. Analisis terhadap tingkat kebutuhan dan memperoleh berbagai informasi pertanian berdasarkan tipologi petani, jenis sayuran yang dihasilkan, dan lokasi, dapat disajikan pada Tabel 24.

Secara keseluruhan petani, informasi ‘Metode Analisis Usahatani Sayuran’ merupakan jenis informasi yang tingkat kebutuhannya berada pada kategori tinggi atau 59% petani, tingkat kebutuhannya terhadap informasi tersebut pada kategori tinggi. Kondisi ini menunjukkan rendahnya kemampuan petani menganalisis

kebutuhan biaya dan keuntungan yang akan diperoleh secara tepat, dan diduga ada hubungannya dengan rendahnya tingkat pendidikan petani. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan petani dalam merencanakan usahatani sayuran.

Tabel 24 Tingkat Kebutuhan Petani Sayuran terhadap Berbagai Jenis Informasi Pertanian

Uraian

Tingkat Kebutuhan Petani

Rendah (%) Sedang(%) Tinggi (%) Jumlah (%) 1. Tipologi Petani *

1.1 Petani Maju

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran 1.2 Petani Berkembang

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran

1, 7 0, 0 81, 0 63, 8 29, 3 0, 0 15, 9 4, 4 88, 5 87, 4 31, 9 0, 5 63 ,8 51, 7 15, 5 32, 8 55, 2 37, 9 78, 6 58, 2 9, 3 12, 6 64, 3 41, 2 34, 5 48, 3 3, 5 3, 4 15, 5 62, 1 5, 5 37, 4 2, 2 0, 0 3, 8 58, 3 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 2. Jenis Sayuran * 1.1 Kubis

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran 1.2 Kentang

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran 1.3 Cabai

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran

9, 0 2, 3 85, 4 82, 0 23, 6 1, 2 14, 7 8, 0 82, 6 78, 7 44, 0 0, 0 14, 4 0, 0 92, 1 84, 2 27, 6 0, 0 75, 3 43, 8 13, 5 16, 9 68, 5 44, 9 77, 3 65, 3 10, 7 20, 0 50, 7 32, 0 72, 4 63, 2 7, 9 15, 8 65, 8 43, 4 15, 7 53, 9 1, 1 1, 1 7, 9 53, 9 8, 0 26, 7 6, 7 1, 3 5, 3 68, 0 13, 2 36, 8 0, 0 0, 0 6, 6 56, 6 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 Total Petani

- Inf. Peningk.Prod. dan Mutu Sayuran - Inf. Ketersediaan Sarana Produksi - Inf. Ketersediaan Permodalan - Inf. Teknologi Pengolahan Hasil - Inf. Dukungan Pemasaran

- Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran

12, 5 3, 3 86, 7 81, 7 31, 2 0, 4 75, 0 56, 7 10, 8 17, 5 62, 1 40, 4 12, 5 40, 0 2, 5 0, 8 6, 7 59, 2 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 100, 0 Sumber: Data Primer (2006)

Keterangan: * = Tingkat kebutuhan petani berbeda nyata ( p< 0,01) menurut tipologi petani dan jenis sayuran

Sedangkan informasi yang terendah tingkat kebutuhannya, adalah informasi tentang: ketersediaan permodalan (87%) dan teknologi pengolahan hasil

(82%). Hal ini, ada hubungannya dengan kurangnya minat petani berurusan dengan lembaga keuangan formal untuk meminjam modal karena prosedur yang berbelit-belit dan harus meminjam dalam jumlah yang relatif besar. Apabila mereka membutuhkan modal, dapat dengan cepat diperoleh dari tengkulak dan ada jaminan pasar hasil sayurannya.

Pada dasarnya, petani membutuhkan berbagai informasi pertanian untuk usahataninya karena mereka juga ingin meningkatkan pendapatannya, hanya saja faktor modal merupakan penghambat. Jenis-jenis informasi pertanian ini semuanya dibutuhkan, baik oleh petani maju maupun petani berkembang. Petani maju (62%) dan petani berkembang (58%) membutuhkan informasi ‘Metode Analisis Usahatani Sayuran’ dengan tingkat kebutuhan berada pada kategori tinggi. Sedangkan, tingkat kebutuhan terhadap informasi teknologi pengolahan hasil, juga masih rendah (82%) karena faktor keterbatasan modal yang dimliliki petani, termasuk belum memikirkan menghasilkan sayuran dalam bentuk olahan.

Pada Tabel 24, juga dapat diperhatikan bahwa tingkat kebutuhan petani maju (81%) akan informasi ketersediaan permodalan dan informasi teknologi pengolahan hasil (64%) berada pada kategori rendah. Sedangkan petani berkembang (89%), tingkat kebutuhan akan informasi ketersediaan permodalan dan informasi teknologi pengolahan hasil berada pada kategori rendah. Kebutuhan, tidaklah selalu bersifat absolut namun masalah akan dapat terjadi apabila usulan yang disampaikan oleh petani kepada penyuluh/agen pembaruan bukan ‘kebutuhan’ tetapi ‘keinginan’ mereka. Kebutuhan, merupakan kesenjangan atau jarak antara pengukuran atau persepsi terhadap performan yang diharapkan dengan performan yang teramati atau yang aktual.

Adanya perbedaan tingkat kebutuhan terhadap berbagai jenis informasi pertanian akan mempengaruhi upaya penyediaan berbagai informasi yang dibutuhkan petani. Di sini, penyuluh sedapat mungkin membantu petani untuk mengenali secara tepat berbagai informasi yang dibutuhkannya. Tabel 25 menunjukkan bahwa ada hubungan antara tuntutan kebutuhan dan memperoleh informasi pertanian dengan penyediaan informasi pertanian.

Tabel 25 Hubungan antara Peubah Tuntutan Kebutuhan dan Memperoleh Informasi dengan Peubah Penyediaan Informasi Pertanian

Pe ubah X6 Penyediaan Informasi Pertanian (X6)

Peubah X2 Relevansi (X6.1) Akurasi (X6.2) Kelengkapan (X6.3) Ketajaman (X6.4) Ketepatan (X6.5) Keterwakilan (X6.6) Total X6

Tuntutan Kebutuhan Inf. Pertanian (X2)

1. Inf. Peningk. Produksi dan Mutu Sayuran (X3.1) 0.37 ** 0.14 * 0.37 ** 0.38 ** 0.39 ** 0.38 ** 0.39 **

2. Informasi Ketersediaan Sarana Produksi (X2.2) 0.52 ** -0.04 0.47 ** 0.53 ** 0.51 ** 0.54 ** 0.53 **

3. Informasi Ketersediaan Permodalan (X2.3) 0.27 ** 0.08 0.26 ** 0.29 ** 0.33 ** 0.28 ** 0.31 **

4. Inf. Teknologi Pengolahan Hasil Sayuran (X2.4) 0.35 ** 0.17 ** 0.37 ** 0.39 ** 0.38 ** 0.39 ** 0.40 **

5. Informasi Dukungan Pemasaran Sayuran (X2.5) 0.51 ** 0.05 0.47 ** 0.53 ** 0.52 ** 0.55 ** 0.54 **

6. Inf. Metode Analisis Usahatani Sayuran (X2.6) -0.04 0.14 * 0.02 -0.03 -0.06 -0.003 -0.02

Total X2 0.49 ** 0.09 0.47 ** 0.51** 0.51** 0.52 ** 0.53 **

Sumber: Data Primer (diolah, 2006) Keterangan: * = Korelasi nyata ( p< 0,05) ** = Korelasi nyata ( p< 0,01)

Selanjutnya, hasil uji beda menunjukkan bahwa berdasarkan tipologi petani, ada perbedaan dalam hal tingkat kebutuhan akan berbagai jenis informasi pertanian, yaitu berbeda nyata (p<0,01) untuk informasi: peningkatan produksi dan mutu sayuran, teknologi pengolahan hasil, dan informasi dukungan pemasaran, tetapi tidak berbeda nyata (p>0,05) untuk informasi: ketersediaan sarana produksi, ketersediaan permodalan, dan metode analisis usahatani sayuran.

Berdasarkan jenis sayuran yang dihasilkan, kebutuhan informasi petani kubis, petani kentang, dan petani cabai berbeda nyata (p<0,01) untuk informasi: ketersediaan sarana produksi dan dukungan pemasaran, tetapi tidak berbeda nyata (p>0,05) untuk informasi: peningkatan produksi dan mutu sayuran, ketersediaan permodalan, teknologi pengolahan hasil, dan metode analisis usahatani sayuran. Selanjutnya berdasarkan lokasi, tingkat kebutuhan akan berbagai informasi berbeda nyata (p<0,01) untuk informasi: peningkatan produksi dan mutu sayuran, ketersediaan sarana produksi, ketersediaan permodalan, teknologi pengolahan hasil, dan dukungan pemasaran, tetapi tidak berbeda nyata (p>0,05) untuk informasi metode analisis usahatani sayuran.

Dengan demikian, penyuluh dituntut untuk selalu memperbarui atau mengkaji ulang kebutuhan informasi dari petani sebagai komunitas binaannya secara periodik, karena seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan lingkungan sosial (kondisi sosial ekonomi), maka kebutuhan petani dapat saja berubah. Hal ini diperlukan agar komunitas binaan (petani dan kelompoknya) merasakan adanya perhatian dan keseriusan penyuluh terhadap mereka.

Jika kebutuhan informasi petani sayuran dikaitkan pemanfaatannya dengan aspek-aspek manajemen usahatani sayuran (merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengatasi masalah usahatani) pada penelitian ini, maka informasi yang dibutuhkan pada masing-masing aspek adalah:

Perencanaan usahatani, membutuhkan informasi: (1) peningkatan

produksi dan mutu sayuran, yakni: rencana produksi, jenis sayuran yang diminati pasar, pola tanam satu tahun, prakiraan iklim/cuaca, jenis, dan dosis/jumlah sarana

Dokumen terkait