BAGIAN II KEGIATAN PEMBELAJARAN
H. Refleksi dan Tindaklanjut
I. Kunci Jawaban
2 D 3 A 4 B 5 6 D A
Kegiatan Pembelajaran 2: Pelaksanaan Supervisi Akademik (13 JP)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan Kegiatan Pembelajaran 2, Saudara diharapkan mampu melaksanakan supervisi akademik dengan mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK yang bersifat spesifik berdasarkan perilaku yang teramati (moral action) sesuai dengan karakteristik masing-masing tujuan sebagai berikut:
1. Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran
2. Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter, gotong royong, dan integritas. 3. Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan atau mata
pelajaran berlandaskan standar isi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP dengan mengintegrasikan nilai utama karakter, nasionalis, dan integritas.
4. Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi peserta didik melalui tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter nasionalis, gotong royong, dan integritas.
5. Membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter, nasionalis, gotong royong, dan integritas.
6. Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas, laboratorium, dan/ atau di lapangan) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter nasionalis, dan integritas. 7. Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan
media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter nasionalis, dan integritas.
B. Indikator Pencapaian Tujuan
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran 2, saudara diharapkan mampu:
1. membimbing guru untuk menentukan materi pelajaran sesuai konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku.
2. membimbing guru untuk menerapkan proses pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran berdasarkan konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai utama karakter gotong royong, nasionalis dan integritas. 3. membimbing guru dalam menyusun silabus tiap bidang pengembangan atau mata
pelajaran berdasarkan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan Kurikulm dengan membangun persahabatan, kerja sama, memberi contoh keteladanan, mengikuti aturan yang berlaku, dan profesional. 4. membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan menghargai perbedaan, membangun kreatifitas.
5. membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan menjalin kerja sama, memberi kesempatan membangun kreatifitas, mengikuti aturan yang berlaku dan profesional 6. membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di kelas,
laboratorium,dan/atau di lapangan) untuk tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan menjalin persahabatan, kerja sama, memberi contoh keteladanan, memberi kesempatan membangun kreatifitas, menghargai martabat individu/inklusif, mengikuti aturan yang berlaku dan profesional.
7. membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap bidang pengembangan atau mata pelajaran dengan menjalin persahabatan, kerja sama, memberi contoh keteladanan, memotivasi untuk bekerja keras, mengikuti aturan yang berlaku , tanggung jawab dan professional.
C. Uraian Materi
1. Pendekatan Supervisi
Berdasarkan cara bagaimana pengawas sekolah bersama guru melakukan perbaikan dan siapa yang lebih dominan di antara keduanya, maka dibedakan tiga macam pendekatan, yaitu direktif, kolaboratif dan non-direktif.
a. Pendekatan Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada pengawas sekolah. b. Pendekatan Kolaboratif: Tanggung Jawab terbagi relatif sama antara supervisor
dan guru
c. Pendekatan Non-Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada guru
Karakteristik dari tiga macam pendekatan supervisi akademik tersebut, tertuang dalam tabel 3 berikut. (Glickman, 1981)
Tabel 3 Pendekatan Supervisi Akademik Pendekatan Supervisi Tanggung jawab Supervisor (Pengawas Sekolah/Kepala Sekolah) Tanggung jawab yang disupervisi Metode Supervisi
Non Direktif Rendah Sedang Self Assesment
Kolaboratif Sedang Sedang Mutual Contrac
Direktif Tinggi Rendah Delineated standars
Ketepatan penggunaan pendekatan dalam melaksanakan supervisi akademik sangat tergantung pada kemampuan pengawas mengenal karakteristik perilaku guru. Dalam hal ini, pengawas harus dapat menghargai perbedaan karakteristik perilaku guru dan tetap dapat bersifat adil dalam pembinaan dalam pelaksanaan supervisi. Beberapa perilaku yang menjadi karakteristik dalam pendekatan supervisi akademik, dapat dilihat seperti dalam Tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4 Karakteristik Perilaku Pendekatan Supervisi Akademik
Prilaku Direktif Kolaboratif Non-Direktif
Clarifying (Mengklarifikasi)
Presenting (Pemaparan)
Directing (Mengarahkan) - -
Demonstrating (Memperagakan) - -
Setting the Standards (Menetapkan
Standar-standar) - -
Reinforcing (Memberi Penguatan)
Listening (Mendengarkan) -
Problem Solving (Pemecahan Masalah) -
Negotiating (Perundingan) - -
Encouraging ( Mendorong) - -
Keterkaitan supervisi dengan karakteristik guru dilakukan dengan menggunakan variabel pengembangan, yaitu: tingkat kompetensi/berpikir abstrak dengan tingkat komitmen guru dalam melaksanakan tugas. Melalui penggunaan variabel pengembangan itu pengawas sekolah dapat mengadakan klasifikasi guru-guru yang ada. Pengukuran dapat dilaksanakan dengan menggunakan sebuah paradigma/model dengan menggambarkan persilangan dua garis, yaitu garis tingkat kompetensi/berpikir abstrak secara vertikal, yang bergerak dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih
tinggi, dan garis komitmen yang secara horisontal bergerak dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi.
Atas dasar itu maka dapat dikategorikan empat sisi (kuadran) dan empat prototipe guru: a. Kuadran I (Guru Professional)
Guru yang profesional memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang tinggi dan tingkat komitmen yang tinggi. Ia benar-benar profesional melalui peningkatan kemampuan yang terus menerus. Orang yang profesional selalu punya kemampuan untuk mengembangkan dirinya terus menerus.
Ia tidak hanya mampu mencetuskan ide-ide, aktivitas maupun sarana penunjang tetapi ia juga terlihat secara aktif dalam melaksanakan suatu rencana sampai selesai. Ia adalah seorang pemikir dan sekaligus pelaksana.
b. Kuadran II (Guru Analytical Observer)
Guru Analytical Observer memiliki tingkat kompetensi/abstaksi tinggi tetapi tingkat komitmen rendah. Ia pandai, sangat suka mengkritik, mempunyai kemampuan bicara yang tinggi, selalu mencetuskan ide-ide yang besar tentang apa yang bisa dikerjakan di kelas atau secara keseluruhan di sekolah. Ia bisa mengajukan ide atau rencana-rencana besar secara gamblang dan memikirkan langkah-langkah pelaksanaannya demi tercapainya program itu. Ide-idenya tak pernah/jarang terwujud. Ia tahu apa yang harus ia kerjakan tetapi tidak bersedia mengorbankan waktu, energi dan perhatian khusus untuk melaksanakannya.
c. Kuadran III (Guru Drop-Out)
Guru Drop-Out mempunyai tingkat kompetensi/abstraksi dan tingkat komitmen yang rendah. Ia termasuk guru yang kurang bermutu. Guru seperti ini memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu: hanya melakukan tugas rutin tanpa tanggung jawab, perhatiannya hanya sekedar untuk mempertahankan pekerjaannya, memiliki sedikit sekali inovasi untuk memikirkan perubahan apa yang perlu dibuat dan puas dengan melakukan tugas rutin yang dilakukan dari hari kehari.
d. Kuadran IV (Guru Unfocused Worker)
Guru Unfocused Worker memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang rendah, tetapi tingkat komitmennya tinggi. Ia terlalu sibuk, sangat energetik, anthusias dan penuh kemauan. Ia berkeinginan untuk menjadi guru yang lebih baik dan membuat situasi kelas lebih menarik sesuai dengan keadaan peserta didiknya. Ia bekerja sangat keras dan biasanya meninggalkan sekolah penuh dengan pekerjaan yang akan dibuat di rumah. Sayangnya tujuan-tujuan yang baik tersebut terhalang oleh
Kompetensi/ Abstraksi Guru Profesional Guru Unfocused Worker Guru Dorp Out Guru Analytic observer
kurangnya kemampuan guru untuk menyelesaikan persoalan dan jarang sekali melaksanakan segala sesuatu secara realistis.
Kategori guru sesuai dengan karakteristiknya ditunjukan pada gambar dibawah ini.
Kategori Guru
Komitmen
Gambar 4.Karakteristik Guru 2. Model Supervisi
Berdasarkan bagaimana cara memahami atau memastikan masalah, darimana datanya diperoleh dan dengan cara apa memperbaikinya, maka dibedakan tiga model supervisi akademik, yaitu model saintifik, model artistik dan model klinik. Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga model supervisi akademik tersebut.
a. Model Supervisi Saintifik
Menurut Sahertian (2008) model supervisi ilmiah adalah sebuah model supervisi yang digunakan oleh supervisor untuk menjaring data atau informasi dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket.
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Dilaksanakan secara berencana dan berkelanjutan.
2) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu 3) Menggunakan instrumen pengumpulan data
4) Dapat menjaring data yang obyektif.
b. Model Supervisi Artistik
Model supervisi artistik menuntut seorang supervisor dalam melaksanakan tugasnya harus berpengetahuan, berketerampilan, dan memiliki sikap arif. Seperti
diungkapkan oleh Jasmani dan Mustofa (2013; 31) model supervisi artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang lain (working for the other), bekerja dengan orang lain (working with the other), dan bekerja melalui orang lain (working through the other). Oleh karena itu, pelaksanaan supervisi tentunya mengandung nilai seni (art).
Menurut Sergiovanni model supervisi artistik memiliki beberapa ciri khas, antara lain:
1) Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. 2) Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup.
3) Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda
4) Menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas.
5) Memerlukan suatu kemampuan berkomunikasi yang baik dalam cara mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu.
6) Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang diungkapkan.
c. Model Supervisi Klinik
Menurut Acheson dan Gall (1987), supervisi klinik adalah sebuah model alternatif dari supervisi yang lebih interaktif, demokratis, dan berpusat pada kebutuhan guru. Supervisi klinik ini pada dasarnya merupakan pembinaan performansi guru mengelola proses belajar mengajar (Cogan, 1973).
1) Karakteristik supervisi klinik yaitu:
a) Adanya kerjasama yang saling mempercayai dan menghargai, b) Berbagi kepakaran atas dasar kemitraan, dan
c) Suatu anggapan bahwa guru bukan penerima pasif, tetapi partner aktif yang berperan serta dalam keberhasilan supervisi.
2) Tahap-tahap Supervisi Klinik
Supervisi klinik terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap pertemuan awal (Pre-Observational Conference), tahap observasi pembelajaran (Observation) dan tahap pertemuan akhir/ balikan (post-observational Conference), lebih jelasnya, ketiga tahapan tersebut dapat dilihat seperti nampak pada gambar berikut.
Gambar 5.Tahapan Pelaksanaan Supervisi Klinik 3. Teknik Supervisi Akademik
Berdasarkan jenis kegiatannya teknik supervisi akademik dapat dibedapak atas 2 jenis yakni; teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok, baik di dalam ataupun di luar kelas.
Pelaksanaan kedua teknik supervisi tersebut lebih jelas dapat dilihat pada gambar 6 berikut.
Gambar 6. Teknik Supervisi Akademik
a. Teknik Supervisi Individual
Teknik supervisi individual merupakan supervisi yang diberikan kepada individu guru yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Dalam hal ini
Pengawas sekolah hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu.
Teknik-teknik supervisi individual di antaranya meliputi kunjungan kelas, kunjungan observasi, pertemuan individual, dan kunjungan antar-kelas.
1) Kunjungan Kelas (Classroom Visitation)
Pengawas sekolah datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya perlu diperbaiki.
Tahap-tahap kunjungan kelas terdiri atas empat tahap, yaitu:
(a) tahap persiapan. Pada tahap ini, pengawas sekolah merencanakan waktu, sasaran, dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas,
(b) tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, pengawas sekolah mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung,
(c) tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, pengawas sekolah bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi, dan tahap tindak lanjut.
2) Kunjungan Observasi (Observation Visits)
Pada kegiatan supervisi dalam bentuk kunjungan kelas/observasi guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah:
(a) Usaha-usaha dan aktivitas guru-peserta didik dalam proses pembelajaran, (b) Cara menggunakan media pengajaran,
(c) Variasi metode,
(d) Ketepatan penggunaan media dengan materi, (e) Ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan
(f) Reaksi mental para peserta didik dalam proses belajar mengajar.
3) Pertemuan Individual
Pertemuan individual merupakan satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara pengawas sekolah dan guru.
Tujuannya adalah:
(a) Mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik, (b) Meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran, dan (c) Memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan diri guru.
Hal yang dilakukan pengawas sekolah dalam pertemuan individu: (a) Berusaha mengembangkan segi-segi positif guru,
(b) Memotivasi guru mengatasi kesulitan-kesulitannya, (c) Memberikan pengarahan, dan
(d) Menyepakati berbagai solusi permasalahan dan menindak-lanjutinya.
4) Kunjungan Antar Kelas
Kunjungan antar kelas adalah seorang guru berkunjung ke kelas yang lain (guru lainnya) di sekolah yang sama. Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dalam pembelajaran. Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut:
(a) Jadwal kunjungan harus direncanakan.
(b) Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi. (c) Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi. (d) Sediakan segala fasilitas yang diperlukan.
(e) Pengawas sekolah hendaknya mengikuti acara ini dengan pengamatan yang cermat.
(f) Lakukan tindak lanjut setelah kunjungan antar kelas selesai, misalnya dalam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu. (g) Segera aplikasikan ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan
pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
(h) Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
5) Menilai diri Sendiri
Menilai diri sendiri adalah satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Menilai diri sendiri merupakan kegiatan memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metode pengajarannya dalam mempengaruhi siswa. Ada beberapa cara/alat untuk menilai diri sendiri yaitu:
(a) Membuat suatu daftar yang disampaikan kepada murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktifitas (buat dalam bentuk pertanyaan baik pertanyaan tertutup atau terbuka).
(b) Melakukan alisis hasil tes terhadap unit kerja.
(c) Membuat catatan aktifitas siswa, baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.
b. Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama.
Pelaksanaan teknik supervisi kelompok dapat dilakukan dengan cara pertemuan atau rapat, diskusi kelompok, dan mengadakan pelatihan-pelatihan/workshop atau kegiatan lain yang rerevan.
(1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting): Seorang pengawas sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Termasuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. Dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi.
(2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions): Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, pengawas sekolah memberikan pengarahan, bimbingan, nasehat-nasehat dan saran-saran yang diperlukan.
(3) Mengadakan pelatihan (inservice-training): Teknik ini dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, misalnya pelatihan untuk guru mata pelajaran tertentu. Mengingat bahwa pelatihan pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas pengawas sekolah adalah mengelola dan membimbing implementasi program tindak lanjut (follow-up) dari hasil pelatihan.
4. Pembelajaran
Dalam Permendikbud RI no 103 tahun 2014 di sebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan tenaga pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Konsep Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter setiap peserta didik sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat. Proses tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk
bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Keluarga merupakan tempat pertama bersemainya bibit sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Oleh karena itu, peran keluarga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sekolah.
Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan suatu strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan karekteristik masing-masing peserta didik. Dalam penyusunan program pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, hendaknya guru memiliki data pribadi setiap anak berkebutuhan khusus, yang di dapat dari hasil asesmen. Data pribadi berkaitan dengan karateristik spesifik, kemampuan dan kelemahanya, kompetensi yang dimiliki, dan tingkat perkembanganya. Karakteristik pada umumnya berkaitan dengan tingkat perkembangan fungsional. Karaktristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan sensori motor, kognitif, kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan berinteraksi social serta kreativitasnya.
Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan peserta didik yang dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
a. Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan melalui mata pelajaran.
Kegiatan kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang terkait langsung dengan mata pelajaran, misalnya tugas individu, tugas kelompok, dan pekerjaan rumah berbentuk proyek atau bentuk lainnya. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang bersifat umum dan tidak terkait langsung dengan mata pelajaran, misalnya kepramukaan, palang merah remaja, festival seni, bazar, dan olahraga.
Masyarakat merupakan tempat pendidikan yang jenisnya beragam dan pada umumnya sulit diselaraskan antara satu sama lain, misalnya media massa, bisnis dan industri, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan. Untuk itu para tokoh masyarakat tersebut semestinya saling koordinasi dan sinkronisasi dalam memainkan perannya untuk mendukung proses pembelajaran.
Singkatnya, keterjalinan, keterpaduan, dan konsistensi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat harus diupayakan dan diperjuangkan secara terus menerus karena tripusat pendidikan tersebut sekaligus menjadi sumber belajar yang saling menunjang.
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana di mana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar. Peserta didik mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi, di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Proses tersebut berlangsung melalui kegiatan tatap muka di kelas, kegiatan terstruktur, dan kegiatan mandiri. Terkait dengan hal tersebut, maka pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan berperadaban dunia.
Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar benarbenar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.
b. Prinsip Pembelajaran Saintifik
Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip sebagai berikut:
(1) Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu; (2) Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar; (3) Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah; (4) Pembelajaran berbasis kompetensi;
(5) Pembelajaran terpadu;
(6) Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi;
(7) Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
(8) Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-hard-skills;
(9) Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
(10) Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
(11) Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; (12) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
(13) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik; dan
(14) Suasana belajar menyenangkan dan menantang.
c. Pendekatan Saintifik Pada Pembelajaran dan Model-model Pembelajaran Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan antara peserta didik dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pendekatan pembelajaran merupakan cara pandang pendidik yang digunakan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dan tercapainya kompetensi yang ditentukan. Pada pelaksanaan pembelajaran Kurikulum 2013 digunakan pendekatan saintifik (scientific approach) dalam pembelajaran dan model-model pembelajaran seperti: problem -based learning, project-based learning dan inquiry/discovery learning. 1) Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik merupakan suatu pendekatan dengan berbasis proses keilmuan dilaksanakan melalui pembelajaran langsung atau tidak langsung sebagai landasan dalam menerapkan berbagai strategi dan model pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP. Capaiannya Kompetensi Inti (KI-3) dan Kompetensi Inti (KI-4).
Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect). Capaiannya Kompetensi Inti (KI-1) dan Kompetensi Inti (KI-2).
2) Karakteristik Pendekatan Saintifik
a) Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
b) Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
c) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berlatih berfikir tingkat tinggi/ higher order thinking skills (hots), berpikir secara kritis, analistis, dan tepat