Antara obyek wisata dengan daya tarik wisata, kunjungan atau kondisi wisatawan lebih banyak pada saat atraksi wisata budaya seperti sekaten, kirab pusaka, dan gunungan. Hal ini karena atraksi-atraksi wisata tersebut hanya berlangsung sekali dalam setahun dan hanya atraksi wisata itulah yang dapat dilihat secara langsung oleh wisatawan. Atraksi wisatawan yang biasanya berlokasi di alun-alun, Masjid Agung, halaman depan keraton
124
atau arak-arakan di Jalan Slamet Riyadi disaksikan oleh ratusan orang, seperti terungkap pada pernyataan informan berikut:
Bapak Dodi
“Wah nggak tahu pastinya tapi bisa ratusan orang.”
(Wawancara 7 Desember 2015) Ibu Retno
“Ya banyak banget mbak, apalagi kirab sama gunungan itu ramai banget sampai penuh.” (Wawancara 6 Desember 2015) Bapak Setiadi
“Itu bisa diperkirakan lebih dari seratus orang. Mungkin bisa sampe 500 orang terutama saat rebutan gunungan itu, kirab dan sekaten.” (Wawancara 17 Desember 2015)
Ibu Eni
“Jelas banyak sekali. Berapa-berapanya saya nggak tahu.”
(Wawancara 6 Desember 2015)
Antusiasme masyarakat melihat atraksi wisata budaya Keraton Surakarta yang berjumlah ratusan orang didukung oleh pernyataan berikut:
KGPH Puger
“Diperkirakan bisa mencapai 500 orang bahkan lebih, karena kegiatan itu diadakan setahun sekali jadi masyarakat antusias sekali.” (Wawancara 14 Januari 2016)
KRMH Suryo Adi Wijoyo
“Wah ya nggak ngitung saya mbak haha. Tapi yang jelas mencapai ratusan wisatawan. Antusiasme masyarakat sini tinggi sekali, terutama yang disajikan itu tidak bisa dilihat tiap hari kayak kirab pusaka, sekaten dan gunungan Gerebeg Mulud dan Gerebeg Besar Idul Adha.” (Wawancara 13 Januari 2016)
Masyarakat atau wisatawan antusias menyaksikan gelaran kegiatan adat dan tradisi seperti sekaten, kirab pusaka, gunungan dan gerebeg yang diadakan setahun sekali. Beberapa kegiatan yang boleh dilihat secara langsung oleh wisatawan mendapat apresiasi yang tinggi terbukti setiap
125
gelaran kegiatan adat dan tradisi jumlah wisatawan yang melihat dapat mencapai ratusan orang.
Melihat perkembangan tata kelola Keraton Surakarta dari segi sedikitnya jumlah wisatawan, maka tindakan yang diambil pihak pengelola Keraton Surakarta adalah memberikan pemahaman kepada wisatawan berupa pemahaman keraton dan pemahaman Jawa, sehingga wisatawan harus didampingi oleh pemandu wisata, serta perbaikan dari segi pelayanan kepada wisatawan mulai dari ketua pengelola wisata hingga pegawai-pegawainya. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:
KRMH Suryo Adi Wijoyo
“Kalau langkah selanjutnya kita memberikan pemahaman keraton bukan pemahaman individu kepada masyarakat ketika berkunjung ke keraton didampingi dengan guide. Kita juga memberi perbaikan disegi pelayanan seperti istilahnya front office ini diberi pemahaman bagaimana seharusnya front office itu.”
(Wawancara 13 Januari 2016)
Tindakan pihak pengelola wisata Keraton Surakarta kedepannya selain pemaknaan pelestarian budaya Jawa dan perbaikan dari segi sumber daya manusia adalah terkait pembiayaan yang hanya mengandalkan tiket masuk wisata keraton serta bantuan dari kerabat Keraton Surakarta. Dalam hal ini pihak pengelola wisata Keraton Surakarta akan melakukan kerjasama dengan investor untuk mengelola dan berinvestasi dengan landasan pelestarian budaya. Tindakan yang digagas berikutnya adalah kerjasama dengan daerah lain seperti Yogyakarta dan Bali antara pemerintah daerah atau agen wisata untuk membuat rute perjalanan wisata. Hal tersebut terungkap pada pernyataan berikut Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta sebagai berikut:
KGPH Puger
“Jadi gini sudah saatnya pihak pengelola wisata keraton memikirkan sumber pembiayaan lain dari yang sudah ada, tidak hanya mengandalkan kalau dulu masih ada subsidi pemerintah tapi kalau sekarang hanya tiket masuk saja. Nah salah satu cara yang
126
sebenarnya ingin sekali dilakukan adalah menggandeng investor atau pihak ketiga untuk ikut mengelola atau menanamkan investasinya, dalam kerangka ikut melestarikan budaya. Jangan sampai investor yang masuk menganggu atau merusak cagar budaya yang sudah ada. Disamping itu kerjasama dengan daerah sekitarnya yang sudah lebih maju wisatanya misal Yogyakarta atau Bali antara pemerintah daerah atau agen perjalanan wisata untuk menentukan rute perjalanan wisata.” (Wawancara 14 Januari 2016) Dengan pemaknaan pelestarian oleh pihak pengelola wisata Keraton Surakarta serta berbagai kendala yang dihadapi, sudah seharusnya Keraton Surakarta untuk berbenah diri dengan melirik inovasi-inovasi serta ajaran-ajaran ilmu modern dalam struktur organisasinya. Sumber daya manusia sudah selayaknya untuk diperbaharui dengan pemikiran yang lebih maju karena saat ini keraton menjadi obyek dan daya tarik wisata serta sumber budaya Jawa. Kerjasama dengan investor atau pemerintah daerah lain harus segera direalisasikan untuk meningkatkan kondisi obyek wisata keraton dan meningkatkan kunjungan wisatawannya.
C. Pembahasan
Keraton Surakarta adalah peninggalan sejarah dan warisan budaya yang sampai saat ini masih dipimpin oleh Raja dan kaya dengan aset budaya, maka keraton menjadi tempat wisata yang kental akan simbol-simbol budaya. Keraton Surakarta menjadi simbol dari sumber kebudayaan Jawa dengan berbagai bentuk yaitu bangunan, benda sejarah, benda pusaka, kegiatan budaya dan upacara adat tradisi, bidang kesenian, bahasa, dan norma serta nilai yang melekat pada kehidupan masyarakat. Dalam mengkaji makna tersebut penulis menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Menurut Mead, tindakan sosial kemudian dilihat sebagai perilaku simbolik, dan interaksi lebih didasarkan pada makna-makna simbolik yang dibagi-bagi.
Begitu pula dengan obyek dan daya tarik wisata budaya di Keraton Surakarta. Tindakan wisatawan untuk berwisata secara berkeluarga atau dari pihak akademisi merupakan perilaku simbolik dari keingintahuan terhadap warisan budaya Jawa. Tindakan wisatawan yang berwisata ke Keraton Surakarta
127
didasari pada ketertarikan terhadap unsur-unsur sejarah dan unsur-unsur budaya.
Keraton Surakarta sejauh ini menyajikan dua simbol untuk wisatawan, yaitu simbol fisik berupa bangunan dan benda sejarah serta simbol non fisik yaitu kegiatan budaya, upacara adat, bidang kesenian, cerita sejarah, filosofi dari setiap bangunan dan ilmu pengetahuan Jawa.
Dalam teori interaksionisme simbolik, menurut Mead mengkaji simbol dalam kehidupan manusia menjadi penting, disebabkan makna yang ditunjukkan.
Bentuk-bentuk seperti objek, gagasan, keyakinan, orang, nilai-nilai dan kondisi sesuatu, semuanya bisa diakui keberadaannya oleh manusia. Begitu pula pemaknaan wisatawan terhadap simbol Keraton Surakarta yang terbagi dua simbol yaitu simbol fisik berupa bangunan keraton dan benda-benda-benda sejarah di museum keraton serta simbol non fisik berupa upacara adat, kegiatan budaya, bidang kesenian, aturan keraton, dan interaksi dengan keluarga keraton.
Klasifikasi ini terjadi karena pengelola Keraton Surakarta menyajikan dua simbol tersebut kepada wisatawan. Semua ketertarikan wisatawan didasari oleh motivasi untuk berwisata ke Keraton Surakarta. Pemaknaan terjadi pada motivasi dan pengambilan keputusan wisatawan dalam berwisata ke Keraton Surakarta. Wisatawan dalam memutuskan berwisata ke Keraton Surakarta karena ingin melihat bangunan kuno, mengenal budaya Jawa, dan mengetahui cerita sejarah dari suatu tempat. Pemaknaan terhadap atraksi wisata budaya adalah sebagai kekayaan adat dan tradisi Jawa yang hanya dilihat wisatawan setahun sekali.
Keragaman simbol di Keraton Surakarta dimaknai secara berbeda oleh pengelola obyek dan daya tarik wisata. Keragaman simbol baik simbol fisik dan simbol non fisik dimaknai oleh pengelola sebagai suatu hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan budaya Jawa. Simbol fisik berupa bangunan dan benda memiliki makna yaitu tempat megah yang menjadi simbol kekuasaan dan keluhuran budaya Jawa. Sedangkan simbol non fisik sebagai upaya menjaga upacara adat tetap berada pada aturannya, pelestarian budaya Jawa, menjaga keselamatan dan upaya pendekatan diri pada Tuhan.
Pemaknaan simbol non fisik seperti sejarah Keraton Surakarta dan
128
pengetahuan budaya Jawa, bidang-bidang kesenian seperti tarian dan gamelan dipercaya bahwa nilai kesakralan masih ada dalam setiap unsurnya dan sebagai upaya pelestarian warisan budaya Jawa. Sama halnya dengan upacara adat dan kegiatan budaya. Kegiatan budaya seperti sekaten dan gerebeg mulud menjadi simbol ucap syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai upaya pelestarian serta kirab pusaka 1 suro untuk memperingati tahun baru Jawa dan penyucian benda-benda pusaka serta kerbau bule. Sedangkan upacara adat seperti wiyosan jumenegan dalem menjadi simbol peringatan hari ulang tahun raja yang berkuasa dan ditampilkan tarian bedaya kethawang serta sesaji mahesa lawung sebagai simbol dari upacara untuk membangun kekuatan spiritual dalam menjaga keselamatan keraton dan masyarakat.
Pemaknaan simbol non fisik oleh pengelola juga terwujud dalam komunikasi terhadap keluarga Keluarga Keraton Surakarta seperti Pengageng Museum dan Pariwisata dan Pengageng Sasana Wilapa. Bagi pihak-pihak luar keraton yang memiliki kepentingan, harus memberikan surat perijinan melalui bagian tiket dan informasi kemudian disampaikan kepada keluarga keraton yang terkait. Pihak-pihak berkepentingan tidak bisa secara langsung menemui keluarga keraton dikarenakan bangunan keraton yang masih sakral untuk dimasuki sembarangan orang, dan merupakan suatu bentuk penghormatan masyarakat kepada keluarga keraton karena masih ada anggapan bahwa keluarga keraton memiliki status lebih tinggi. Hal ini termasuk pemaknaan simbol non fisik yang berkaitan dengan bentuk penghormatan yang terpengaruh oleh kontruksi budaya Jawa.
Bentuk penghormatan terhadap Keraton Surakarta dan adat istiadat Jawa juga terbentuk melalui pemaknaan simbol fisik berupa aturan-aturan tertulis dibenda-benda koleksi museum dan ditempat-tempat yang tidak boleh dilalui oleh wisatawan. Komunikasi secara tertulis ini berisi larangan untuk tidak memegang benda-benda peninggalan, duduk dibeberapa bangunan keraton atau melewati batas pengunjung. Hal ini merupakan interpretasi suatu tindakan dari pihak pengelola dalam menghormati sesuatu yang tidak kasat mata sekaligus mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan larangan memegang benda-benda
129
koleksi museum untuk mencegah terjadinya kerusakan-kerusakan dan masih mengandung hal-hal mistis sehingga untuk mencegah sesuatu yang buruk pada wisatawan.
Untuk itulah setiap simbol baik fisik berupa benda dan bangunan dan simbol non fisik berupa bidang kesenian, upacara adat dan kegiatan budaya tetap ditampilkan sesuai dengan aturan dari pertama kali Keraton Surakarta berdiri. Hal ini dikarenakan pengelola wisata percaya bahwa masih terdapat campur tangan hal mistis. Pengelola wisata memaknai unsur di Keraton Surakarta tidak hanya sebatas bangunan saja, tetapi sebagai suatu simbol dari budaya Jawa yang kaya cerita sejarah dan kaya pengetahuan yang sangat sakral sehingga menyebabkan tidak adanya perubahan simbol di Keraton Surakarta. Selain itu menjadi pengelola obyek dan daya tarik wisata tidak sebatas bekerja saja tetapi dimaknai oleh pengelola dan pegawai sebagai pengabdian yang tulus dan murni terhadap Keraton Surakarta.
Adanya informasi yang diteruskan dari generasi-generasi baik secara tertulis maupun lisan merupakan sebuah bentuk interaksi dalam upaya membagikan makna-makna simbolik yang ada pada simbol tersebut. Simbol merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat utamanya dalam masyarakat multi etnik. Orang menggunakan simbol-simbol untuk mengkomunikasikan sesuatu tentang diri mereka. Dalam teori interaksionisme simbolik Mead, yang menjadi perhatian utama yaitu dampak dari arti-arti dan simbol-simbol dalam aksi dan interaksi manusia (Ritzer, 2010:294).
Hal ini berkaitan dengan proses interaksi sosial, dimana manusia mengkomunikasikan arti-arti melalui simbol-simbol, selanjutnya simbol-simbol tersebut diinterpretasikan oleh orang-orang lain yang akhirnya mengarahkan tingkah laku mereka berdasarkan interpretasi mereka yang telah dilakukan.
Proses interaksi pengelola Keraton Surakarta yang masih menjadi bagian dari keluarga keraton dan telah mengalami proses sosialisasi serta penanaman pengetahuan keraton sejak kecil, menginterpretasikan hal tersebut kedalam tata kelola Keraton Surakarta. Dalam hal ini produk wisata untuk wisatawan disajikan unsur keasliannya beserta dengan makna-maknanya. Dalam pemaknaan simbol di
130
Keraton Surakarta antara pihak keraton dengan wisatawan terjadi secara lisan dan langsung melalui pemandu wisata. Melalui pengelola ini terjadi interaksi langsung kepada wisatawan untuk memberikan pemahaman dan pemaknaan mengenai ilmu pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Jawa serta menjelaskan bangunan, benda koleksi, serta sejarah keraton dan silsilah raja-raja Keraton Surakarta.
Interaksi juga terjadi saat kegiatan budaya dan upacara adat tradisi berlangsung.
Pihak keraton mengenalkan secara langsung tradisi yang sudah temurun beserta unsur-unsurnya yaitu benda pusaka, kerbau bule, dan gunungan kepada masyarakat.
Interaksi ini merupakan upaya Keraton Surakarta supaya wisatawan paham mengenai sejarah dan pengetahuan, seperti sejarah munculnya Keraton Surakarta, kegunaan benda-benda koleksi, fungsi dari bangunan museum keraton yang menjadi tempat kediaman calon raja berkuasa, silsilah raja yang berkuasa di Keraton Surakarta, nilai-nilai yang dianggap benar dan norma yang mengatur perilaku masyarakat. Pengelola berusaha untuk menyajikan tata kelola obyek dan daya tarik wisata sebagai suatu yang murni dari Keraton Surakarta dimana wisatawan dapat mengenal lebih dalam mengenai suatu tempat bersejarah.
Disamping interaksi dengan pemandu wisata, pihak pengelola wisata Keraton Surakarta menerapkan aturan sebagai salah satu bentuk dari penghormatan terhadap keraton yang memiliki simbol budaya Jawa yang kentul.
Aturan tersebut berupa aturan pakaian wisatawan yaitu wisatawan tidak boleh memakai sandal, memakai celana atau rok pendek, memakai kacamata hitam dan topi ketika memasuki pelataran keraton. Aturan ini mengandung unsur nilai kesopanan sebagai bentuk penghormatan terhadap keraton. Pihak pengelola ingin segala sesuatu yang berkaitan dengan budaya modern selaras dengan budaya Jawa.
Tata kelola Keraton Surakarta yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa dikatakan sebagai tindakan penyelaras. Yang berarti bahwa tata kelola Keraton Surakarta tidak hanya mementingkan nilai komersil tetapi lebih mementingkan dan menjaga pendekatan terhadap Tuhan, penyeberluasan pengetahuan budaya Jawa dan upaya pelestarian budaya, adat tradisi, serta nilai
131
dan norma. Pemaknaan simbolik Keraton Surakarta yakni sumber kebudayaan dan pusat pengetahuan budaya Jawa sudah sepantasnya untuk dilestarikan dan diajarkan kepada masyarakat modern.
Matrik IV.19
Makna Simbol Keraton Surakarta
Sumber: Data primer, diolah Februari 2016
No. Simbol Makna Pengelola Makna Wisatawan
1. Simbol fisik berupa bangunan keraton.
Sebagai pengetahuan, filosofi, cerita sejarah, dan pelestarian budaya Jawa. dijamannya dan pelestarian peninggalan budaya Jawa.
Sebagai penghormatan terhadap segala sesuatu yang tidak terlihat atau menjaga nilai kesakralan dan menjaga sikap hormat terhadap raja.
Aturan dimaknai untuk menjaga kesakralan keraton.
4. Simbol non fisik berupa upacara adat keraton.
Upaya pendekatan pada kekuatan spiritual, penghormatan kepada leluhur (raja-raja yang berkuasa), dan pelestarian budaya Jawa.
Sebagai penguatan pengetahuan dan kekayaan moral budaya Jawa.
5. Simbol non fisik berupa kegiatan budaya sekaten dan kirab pusaka.
Sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, mendekatkan diri kepada Tuhan, menjaga keselamatan keraton dan masyarakat, dan pelestarian budaya Jawa.
Sebagai penguatan pengetahuan dan kekayaan moral budaya Jawa.
6. Simbol non fisik berupa bidang kesenian.
Wujud kekayaan ilmu
pengetahuan dan pelestarian budaya Jawa.
Sebagai bentuk penghormatan adat keraton yang turun temurun.
Sebagai adat istiadat yang menjadi kebiasaan.
Sebagai bentuk pengabdian kepada Keraton Surakarta.