• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

41 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi

1. Gambaran Umum Kota Surakarta

Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan nama kota “SALA” atau

“SOLO” berada pada dataran rendah. Popularitasnya semakin menanjak dengan banyaknya nama, disebut dalam perjalanan sejarah Indonesia sebagai pusat kebudayaan Jawa maupun kesenian. Berada didataran rendah dengan ketinggian ± 92 meter diatas permukaan air laut, yang berarti lebih rendah atau sama tingginya dengan permukaan Bengawan Solo, dan dilalui beberapa sungai yaitu Kali Pepe, Kali Anyar dan Kali Jenes yang semuanya bermuara di Bengawan Solo.

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali, sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Karanganyar dan Sukoharjo. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Wilayah administrasi Kota Surakarta adalah sebagai berikut:

a. Luas wilayah : ± 4.404.0593 M2 (+ 44,040 km2).

b. Panjang maksimal : l 0,30 km (Utara - Selatan).

c. Lebar maksimal : 7,50 km (Barat - Timur).

d. Terbagi dalam 5 (lima) Kecamatan yang terdiri dari 51 Kelurahan, dengan 589 RW, 2.616 RT.

2. Gambaran Keraton Surakarta

Keraton Surakarta terletak di pusat Kota Solo, yaitu di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Pembangunan Keraton dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono II dari tahun 1743 hingga 1745. Konstruksi bangunan keraton menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat kota Wonogiri.

Arsitek keraton ini adalah Pangeran Mangkubumi (kerabat raja Solo yang memberontak dan mendirikan kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan

(2)

42

Hamengku Buwana). Sehingga tidak mengherankan jika bangunan kedua keraton memiliki kesamaan.

Keraton ini didirikan sebagai pengganti istana atau Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo) dan setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Jaman keemasan Keraton Surakarta dialami pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X di tahun 1893-1939. Keraton Surakarta melakukan restorasi besar-besaran, dengan percampuran gaya arsitektur antara Jawa dan Eropa dalam nuansa putih dan biru.

Beberapa pengertiaan Keraton menurut KRMH Suryo Adi Wijoyo, ada tujuh pengertian (saptawedha) yang tercakup dalam istilah Keraton.

Pertama, Keraton berarti kerajaan. Kedua, Keraton berarti kekuasaan raja yang mengandung dua aspek: kenegaraan (staatsrechtelijk) dan kereligiusan (magischreligieus). Ketiga, Keraton berarti penjelmaan wahyu nurbuwat dan oleh karena itu menjadi pepunden dalam Kajawen. Keempat, Keraton berarti istana, kedaton Dhatulaya (rumah). Kelima, bentuk bangunan Keraton yang unik dan khas mengandung makna simbolik yang tinggi, yang menggambarkan perjalanan jiwa ke arah kesempurnaan. Keenam, Keraton sebagai Cultuur historische instelling (lembaga sejarah kebudayaan) menjadi sumber dan pemancar kebudayaan. Ketujuh, Keraton sebagai Badan (juridische instellingen), artinya Keraton mempunyai barang-barang hak milik atau wilayah kekuasaan (bezittingen) sebagai sebuah dinasti.

3. Kondisi Kepariwisataan Kota Surakarta

Salah satu tolok ukur keberhasilan pariwisata adalah dilihat dari kunjungan wisata serta kontribusi aktifitas pariwisata dalam perekonomian di kawasan tersebut. Perkembangan pariwisata di Surakarta mengalami ketidakstabilan pada periode tahun 2010-2015.

(3)

43 Tabel IV.1

Jumlah Wisatawan Obyek Daya Tarik Wisata Di Kota Surakarta

Ket: Keraton Surakarta, Puro Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryongratan, Taman Balekambang, THR Sriwedari, Wayang Orang Sriwedari, Taman Satwa Jurug

Sumber Data: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, 2015

Wisatawan yang berkunjung ke Surakarta yaitu wisatawan mancanegara lebih banyak mengunjungi Puro Mangkunegaran dikarenakan terdapat berbagai peninggalan Jawa yang tidak banyak dipublikasikan oleh media yaitu gamelan, topeng-topeng tradisional, kitab-kitab kuno dari jaman Mataram, perhiasan emas kuno, kereta untuk upacara tradisional, pementasan wayang kulit, dan lukisan-lukisan kuno. Sedangkan wisatawan domestik banyak yang mengunjungi Taman Balekambang dikarenakan kondisi taman kota yang rindang dan alami serta banyaknya event yang diselenggarakan di Taman Balekambang seperti Sendratari Ramayana, Festival Payung dan Solo Java Jazz.

Tabel IV.2

Jumlah Kunjungan Wisatawan Keraton Surakarta Tahun Jumlah Wisatawan

Mancanegara Domestik

2010 2316 30.767

2011 1.201 30.882

2012 810 47.331

2013 1.504 66.652

2014 5.251 63.410

2015 581 53.962

Sumber Data: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, 2015 No. Tahun Wisatawan Mancanegara Wisatawan Domestik Jumlah

1 2010 22.133 988.615 1.010.748

2 2011 30.913 1.695.731 1.726.644

3 2012 26.085 2.125.698 2.151.783

4 2013 23.505 2.454.188 2.477.693

5 2014 28.622 3.236.482 3.265.104

6 2015 13.722 2.310.456 2.324.178

(4)

44

Wisatawan mancanegara paling banyak mengunjungi Keraton Surakarta tahun 2014 dan wisatawan domestik paling banyak mengunjungi Keraton Surakarta pada tahun 2013. Wisatawan mancanegara paling banyak berkunjung ke Keraton Surakarta yaitu bulan Juni, Juli dan Agustus. Wisatawan mancanegara sebagian besar tertarik dengan sejarah keraton dan bangunan keraton yang unik. Sedangkan wisatawan domestik kunjungan paling banyak yaitu pada saat libur sekolah bulan Desember dan Juli, libur lebaran serta libur Natal dan Tahun Baru yaitu bulan Desember dan Januari.

4. Struktur Lembaga Pengelola Keraton Surakarta

Lembaga pengelola Keraton Surakarta dibentuk berdasarkan Kepmen. Pariwisata dan Budaya No. 10a/U/VII/1989 tanggal 15 Agustus 1989, namun sudah tidak lama aktif dan tidak efisien. Saat ini pengelolaan keraton dipegang oleh lembaga/organisasi yang dibentuk oleh pihak keraton dengan susunan sebagai berikut:

Gambar IV.1 Struktur Lembaga Pengelola Keraton Surakarta Sumber: Data sekunder, diolah Februari 2016

(5)

45

Struktur dari organisasi internal ini pada prinsipnya membagi habis fungsi serta kegiatan keraton menjadi 4 bidang pokok. Kedudukan setiap bidang masing-masing dibawah koordinasi seorang pengageng dan langsung dibawah pengawasan Sinuhun Paku Buwono XIII. Bidang-bidang utama kegiatan tersebut sebagai berikut:

a. Parentah Keraton

Dipimpin seorang pengageng dan lembaga ini membawahi 3 sub bidang yaitu: Sitoradyo (Sekretariat), Marduyagnyo (Pemerintahan) dan Pantiwardoyo (Perbendaharaan) dengan tugas:

1) Sitaradyo, mempunyai tugas-tugas utama meliputi personalia dan ganjaran; pertanahan, pesanggrahan dan rumah-rumah milik raja;

kesehatan; dan ekspedisi (pengiriman surat-surat) umum.

2) Marduyagnyo, bertanggung jawab atas urusan umum; pranatan (peraturan-peraturan keraton); pengawasan (wismayana); keamanan keraton; kebersihan lingkungan keraton; listrik, air minum dan telepon.

3) Pantiwardoyo, mempunyai fungsi dan tugas untuk mengelola anggaran keuangan, potongan gaji, pensiunan abdi dalem dan janda abdi dalem, kas keraton (reksahardana).

b. Parentah Keputren, bertanggung jawab atas kegiatan sesaji dan dapur keraton, bedaya (wanita penari), pesinden atau waranggana, reksawanita (semacam polisi wanita keraton), kesehatan (juru rawat).

c. Sasana Wilapa, mempunyai tugas membuat surat-surat resmi dan meneruskan perintah raja.

d. Kasentanan, urusan pekerjannya meliputi segala urusan yang menyangkut keperluan putra-putra raja serta membuat surat-surat keputusan yang berkaitan dengan kepentingan putra-putra raja.

Dilihat dari struktur dan pembagian atau beban tanggung jawab, kedudukan Parentah Keraton dapat dikatakan paling pokok dan terkait erat dengan pengelolaan pariwisata, karena lingkup kerjanya meliputi pengembangan kesenian dan budaya, kehumasan, museum dan perpustakaan, pemeliharaan

(6)

46

gedung-gedung, kebersihan dan juga pengelolaan kas keraton yang didapat dari tiket masuk dan iuran para kerabat keraton.

Didalam menjalankan pengelolaan museum dan pariwisata Keraton Surakarta, pengageng atau ketua dan wakil pengageng atau wakil ketua yang mengambil seluruh kebijakan pengelolaan pariwisata Keraton Surakarta.

Kemudian pengelola museum dan pariwisata Keraton Surakarta mengalami metamorfosa dan mengadopsi perkembangan struktur organisasi modern karena pariwisata keraton tidak bisa dikelola sendiri oleh ketua dan wakil ketua, yaitu ditambah dengan pamitran atau sekretaris, bendahara, manajer baik itu manajer di kantor dan manajer lapangan yang bertugas mengawasi pegawa-pegawai seperti pemandu wisata, petugas tiket, pedagang, petugas parkir, dan petugas kebersihan.

B. Hasil Penelitian

1. Keunggulan Wisata Budaya Keraton Surakarta

Keraton Surakarta yang dibuka untuk obyek wisata budaya pada tahun 1963 adalah gambaran wisata budaya dengan berbagai keunggulan seperti masih adanya Raja yang memimpin, masih menjalankan berbagai upacara adat serta kegiatan budaya secara turun temurun, masih terdapat bangunan kokoh dengan unsur benda-benda peninggalan sejarahnya.

a. Keunggulan Wisata Budaya Keraton Surakarta Menurut Pemaknaan Wisatawan

Keraton Surakarta menjadi simbol yang identik dengan wisata budaya dan sejarah di tanah Jawa. Keraton Surakarta dalam pandangan wisatawan memiliki simbol-simbol yang dapat menjadi keunggulan dari obyek wisata budaya.

1) Daya Tarik di Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

Menurut wisatawan domestik dengan golongan usia muda dan dewasa, daya tarik obyek wisata Keraton Surakarta adalah arsitektur bangunan kuno perpaduan konsep Jawa dan Eropa di Keraton Surakarta yang terkesan megah dan dulunya menjadi pusat pemerintahan Jawa

(7)

47

namun sekarang sudah jarang ditemui bangunan dengan arsitektur seperti itu. Hal ini terungkap dalam beberapa pernyataan berikut:

Ibu Endang

“Peninggalan sejarah dari jaman aku belum lahir, seneng aja lihat bangunan keratonnya yang masih klasik banget.” (Wawancara 11 Desember 2015)

Ajeng

“Bangunannya arsitekturnya klasik Jawa kuno banget.

Cuma kalau museum nggak begitu tertarik.” (Wawancara 12 Desember 2015)

Bapak Anwar

“Ngelihat bangunannya arsitekturnya yang kuno dan jarang ada bangunan sekarang yang kayak gini. Tahu keraton kayak gini isinya apa aja silsilahnya bagaimana.” (Wawancara 12 Desember 2015)

David

“Kalau menurut saya karena kesan keraton sama bentuk bangunan jadul yang memang enak buat dilihat aja sih.” (Wawancara 10 Desember 2015)

Pernyataan wisatawan domestik yang lebih menyukai bangunan dan arsitektur klasik dengan perpaduan Eropa dan Jawa di Keraton Surakarta ditambah dengan benda peninggalan sejarah sama halnya dengan pernyataan wisatawan mancanegara sebagai berikut:

Leon

“I googled Solo, and what come up first is Keraton, so I thought it’s must be good. And personally I’m into old building and stuff historical.”

(Saya mencari di Google tentang Solo dan yang pertama muncul adalah keraton, jadi saya pikir itu bagus. Dan secara pribadi tertarik dengan bangunan tua dan benda sejarah, Wawancara 13 Januari 2016)

Mr. Akio

“I think it’s architecture and the relic in the museum.”

(Saya pikir arsitekturnya dan barang peninggalan di museum, Wawancara 6 Desember 2015)

(8)

48

Sehingga beberapa wisatawan baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara tertarik untuk melihat obyek wisata budaya karena keunikan dari arsitektur bangunan Keraton Surakarta serta benda-benda peninggalan sejarah yang tersimpan di Museum Keraton Surakarta.

Berwisata ke Keraton Surakarta tidak sebatas memandang bangunan dengan arsitektur kuno dan megah, tetapi wisatawan tertarik karena masih ada kekuasaan Raja Paku Buwono XIII dan dapat mempelajari budaya, sejarah, adat istiadat sebagai simbol non fisik. Hal ini terungkap pada pernyataan wisatawan domestik sebagai berikut:

Ibu Endang

“Ada keraton yang masih ditinggalin raja sampai sekarang. Tahu kalau di Solo ada suatu peninggalan yang bisa dibanggakan. Dan kalau sama anakku aku selalu ngajak ke dalem keraton dulu, tempat tinggalnya, ada yang menikah, upacara, ada tamu yang dateng nanti acaranya di sini.”

(Wawancara 11 Desember 2015)

Simbol non fisik seperti budaya dan sejarah Jawa juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara, seperti terungkap dalam pernyataan para informan berikut:

Vanny

“I think this nice, but there is no much place to go, I don’t know why i can’t go there. But it’s nice because I like the culture and the architecture”

(Saya pikir ini bagus, tapi tidak banyak tempat untuk pergi, saya tidak tahu kenapa saya tidak dapat pergi ke sana.

Tapi ini bagus karena saya suka dengan budaya dan arsitekturnya, Wawancara 12 Desember 2015)

Anna

“Because I like history so I like this place, and the building of course.”

(Karena saya suka sejarah jadi saya suka tempat ini juga dan tentu saja bangunannya, Wawancara 12 Desember 2015)

(9)

49

Dari beberapa ulasan diatas wisatawan domestik tertarik pada arsitektur bangunan Keraton Surakarta, benda-benda peninggalan sejarah yang ada di Museum Keraton Surakarta, untuk mengetahui fungsi dari bangunan serta tertarik karena masih ada kekuasaan raja.

Sedangkan wisatawan mancanegara lebih tertarik pada arsitektur bangunan Keraton Surakarta, benda-benda peninggalan sejarah, dan cerita sejarah serta budaya di Keraton Surakarta.

Matrik IV.1

Daya Tarik di Obyek Wisata Keraton Surakarta

No. Wisatawan Domestik Wisatawan Mancanegara 1. Arsitektur bangunan Keraton

Surakarta.

Arsitektur bangunan Keraton Surakarta yang terkesan kuno dan klasik.

2. Benda-benda koleksi peninggalan sejarah di Museum Keraton Surakarta.

Benda-benda sejarah di Museum Keraton Surakarta.

3. Pengetahuan tentang fungsi dari bangunan di Keraton dan masih ada raja yang berkuasa.

Sejarah dan budaya di Keraton Surakarta.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

2) Motivasi Kunjungan Wisatawan ke Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

Wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang berwisata ke keraton memiliki ketertarikan berbeda terhadap wisata keraton. Pengetahuan yang dimiliki wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara tentang keraton sebagai obyek wisata dan sebagai pusat dari kebudayaan Jawa menimbulkan motivasi berwisata ke Keraton Surakarta. Menurut penuturan dari wisatawan domestik ketertarikan ini didasari oleh keingintahuan terhadap budaya Jawa dan keseluruhan isi

(10)

50

dari keraton serta mengenalkan Keraton Surakarta dan budaya Jawa kepada anak dan saudara atau disebut juga motivasi budaya. Motivasi budaya ini terungkap pada pernyataan berikut:

Ibu Endang

“Aku itu orang Jawa tapi nggak tahu kebudayaan sendiri, orang Solo kok belum pernah ke keraton. Kadang- kadang aku pengen ngenalin ke anakku ke saudara. Kalau ada saudara sih ngajakin ke keraton soalnya kebanyakan belum pernah ke sini. Kalau anakku aku ajakin berkali-kali mereka seneng-seneng aja.” (Wawancara 10 Desember 2015)

David

“Karena mau tahu aja keraton gimana. Katanya keraton itu bagus, berhubung gue bukan orang Jawa jadi mau tahu, isi keraton apaan aja.” (Wawancara 13 Desember 2015) Sedangkan dari penuturan informan lainnya motivasi berwisata ke Keraton Surakarta adalah motivasi fisiologis yaitu mengisi waktu libur sekolah dan mengisi waktu libur di Solo. Hal ini terungkap dalam pernyataan beberapa informan berikut:

Ajeng

“Soalnya kan lagi liburan terus pengen tahu aja beda keraton di sini sama keraton di Jogja, ya ternyata gedhean yang Jogja, bagusan yang Jogja hahaha.” (Wawancara 10 Desember 2015)

Bapak Anwar

“Pengen lihat cagar budaya yang ada di Solo sama ngisi waktu luang selama di sini.” (Wawancara 12 Desember 2015)

Perbedaan budaya dengan negara asal membuat wisatawan mancanegara tertarik dengan budaya tradisional Jawa yang sangat beragam dan masih dijaga oleh masyarakat Jawa sehingga menjadi identitas bangsa dan tertarik pada museum yang berkaitan dengan sejarah masa lampau dimana wisatawan dapat mengetahui kehidupan

(11)

51

dari suatu masyarakat tradisional di suatu tempat. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Leon

“I interested in it’s culture. Because my brother told me that in Indonesia they keep the culture as their identity.”

(Saya tertarik dengan budaya. Karena kakak saya berkata pada saya jika di Indonesia masyarakat menjaga budaya sebagai identitas mereka, Wawancara 13 Januari 2016) Mr. Akio

“I have interest in traditional culture like in my country, and i heard that in Indonesia they have many-many traditional culture. And when I visited to Yogyakarta my tour guide says that Solo Java palace also.”

(Saya tertarik dengan budaya tradisional seperti di negara saya, dan saya mendengar jika di Indonesia terdapat banyak budaya tradisional. Dan ketika saya berkunjung ke Yogyakarta pemandu wisata saya berkata bahwa Solo adalah keraton Jawa juga, Wawancara 6 Desember 2015)

Anna

“Because I like historical museum, so every time I visit some place, I go to their museum. And I like to know how they live in this place before.”

(Karena saya suka museum sejarah, jadi setiap saya berkunjung ke suatu tempat, saya pergi ke museum. Dan saya suka untuk mengetahui bagaimana mereka hidup di tempat ini sebelumnya, Wawancara 12 Desember 2015)

Dari wisatawan mancanegara tidak semua memiliki motivasi berkunjung ke keraton. Tanpa adanya motivasi ini disebabkan ketidaktahuan dan kurangnya informasi secara detail mengenai kota Solo, sehingga wisatawan mancanegara hanya mengikuti ajakan pemandu wisata lokal dari Solo untuk berkunjung ke Keraton Surakarta. Hal ini terungkap pada pernyataan informan berikut:

Vanny

“I don’t know, because honestly I did not know anything about Solo, so I go find some local guide and they took me to this place.”

(12)

52

(Saya tidak tahu, karena jujur saya tidak tahu apa pun tentang Solo, jadi saya pergi untuk mencari pemandu wisata lokal dan mereka mengajak saya ke tempat ini, Wawancara 12 Desember 2015)

Dari beberapa uraian diatas terjadi perbedaan motivasi dari wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara meskipun keduanya memiliki ketertarikan yang sama terhadap arsitektur bangunan keraton, koleksi benda di museum keraton atau ketertarikan terhadap budaya dan sejarah. Wisatawan domestik berkunjung ke Keraton Surakarta motivasinya adalah mengenalkan budaya Jawa dengan simbol fisik bangunan serta benda koleksi di museum keraton kepada anak dan saudaranya serta ingin mengetahui tentang keraton sebagai perwujudan dari budaya Jawa. Wisatawan domestik lainnya yang mengunjungi Keraton Surakarta motivasinya adalah untuk mengisi waktu luang atau waktu libur. Wisatawan mancanegara yang baru sekali berkunjung ke Keraton Surakarta mengaku tertarik pada simbol non fisik yaitu budaya Indonesia khususnya budaya Jawa, selain itu tertarik pada sejarah Keraton Surakarta dan masyarakat di tempat tersebut.

Matrik IV.2

Motivasi Kunjungan Wisatawan

No. Jenis Motivasi Wisatawan Domestik Wisatawan Mancanegara 1. Motivasi

budaya

a) Mengenalkan

kebudayaan Jawa ke anak dan saudara.

b) Ingin tahu tentang Keraton Surakarta.

a) Ketertarikan terhadap budaya tradisional Jawa.

b) Ketertarikan terhadap sejarah dan kehidupan dari suatu tempat.

2. Motivasi fisiologis

a) Mengisi waktu luang atau waktu libur.

a) Mengikuti ajakan pemandu wisata lokal kota Solo.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

(13)

53

3) Penilaian Wisatawan Terhadap Pengelolaan dan Pelayanan Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

Pengelolaan Keraton Surakarta dari segi penyajian daya tarik untuk wisatawan, baik itu koleksi di museum dan tata letaknya, bentuk bangunannya, tata letak loket, pedagang dan tempat parkir, serta rute masuk ke pelataran keraton dan museum keraton tidak ada yang berubah.

Salah satu wisatawan domestik dan asli dari Kota Solo juga kurang memahami apakah penampilan obyek wisata Keraton Surakarta boleh diubah atau tidak dikarenakan dari aturan keraton sendiri atau karena dampak konflik dengan Pemerintah Kota Solo, sehingga pengelolaan Keraton Surakarta dan wisatanya terlihat tidak ingin mengembangkan produknya. Hal ini terungkap pada pernyataan berikut:

Ibu Endang

“Kalau aku bilang monoton dari dulu sampai sekarang sama yang disajikan. Aku nggak ngerti sih termasuk baik apa nggak. Ini udah baik apa belum boleh direnovasi atau nggak, kayak terima apa adanya gitu. Dari keratonnya yang nggak boleh apa dari pihak pemerintah yang nggak klop sama keraton, kan punya aturan sendiri-sendiri juga.” (Wawancara 11 Desember 2015)

Penilaian wisatawan lainnya mengenai pengelolaan obyek wisata Keraton Surakarta adalah keseluruhan dari bangunan yang dilihat oleh wisatawan kurang terawat, kurang dibersihkan dan kurang dikelola dengan baik oleh pihak keraton. Pada bagian dalam museum terdapat banyak sarang laba-laba yang tidak dibersihkan. Pengelola juga kurang memperhatikan dan memikirkan inovasi tampilan koleksi benda-benda sejarah Keraton Surakarta dikarenakan minimnya penerangan di museum yang menggunakan lampu pijar 5 watt. Kelemahan pengelolaan lainnya menurut wisatawan terutama saat kunjungan pertama adalah lokasi loket jauh dengan pintu masuk ke Keraton Surakarta. Seperti terungkap pada pernyataan beberapa informan berikut:

(14)

54 Ajeng

“Kalau dari tempatnya dilihat kurang terawat. Terus kalau kayak loket kejauhan sih dari loket sampai ke tempat masuknya.” (Wawancara 12 Desember 2015)

Bapak Anwar

“Kalau pengelolaan agak kurang ya soalnya kan kalau dilihat dari kondisinya kurang dikelola dengan baik dari pihak keratonnya.” (Wawancara 12 Desember 2015)

David

“Kurang kayaknya, soalnya ini aja ada dua loket, sama banyak yang nggak keurus kebersihannya, masa ada kereta kuda di sudut museum yang nggak tahu bakal diapain, terus banyak sarang laba-laba, gelap lagi soalnya cuma pakai lampu pijar 5 watt.” (Wawancara 10 Desember 2015)

Penilaian wisatawan domestik lebih menyoroti mengenai pengelolaan dari segi kebersihan, perawatan dan penampilan, sementara wisatawan mancanegara menyoroti tentang penggunaan bahasa Inggris di Keraton Surakarta. Banyak benda dan bangunan di keraton yang tidak ada penjelasan dalam Bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Inggris juga tidak terdapat pada tanda arah masuk, rute wisata keraton, tata tertib di Keraton Surakarta. Pengelolaan yang buruk lainnya adalah penggunaan bahasa Inggris pada pemandu wisata dan pengelola yang mengawasi. Jika memang Keraton Surakarta diperuntukkan untuk wisatawan mancanegara maka seharusnya pegawai mulai dari pemandu wisata, petugas tiket, pedagang dan pengawas aktif dalam berbahasa Inggris sehingga wisatawan mancanegara tidak dibingungkan dengan berbagai pertanyaan seperti apa saja yang ada di Keraton Surakarta, bagaimana sejarah keraton dan benda- benda di museum, dan apa saja aturan masuk lingkungan pelataran Keraton Surakarta. Hal tersebut seperti terungkap pada pernyataan wisatawan mancanegara sebagai berikut:

Vanny

“No it’s not good, just like I told you, just give some information.”

(15)

55

(Tidak cukup bagus, seperti yang saya bilang pada anda, hanya memberi sedikit informasi, Wawancara 12 Desember 2015) Anna

“Yaaa I am not comfortable with this place because no body can speak English and no sign with English language.”

(Yaaa saya tidak nyaman dengan tempat ini karena tidak ada seorang pun yang bisa bicara Inggris dan tidak ada tanda dengan bahasa Inggris, Wawancara 12 Desember 2015)

Leon

“If this place goal only for local tourist, I think it’s enough, but for foreign tourist like me, this place must change.

Because I can’t find any sign written with English.”

(Jika tempat ini tujuannya hanya untuk turis lokal, saya rasa sudah cukup, tapi untuk turis seperti saya tempat ini harus diubah. Karena saya tidak dapat menemukan tanda tertulis dengan bahasa Inggris, Wawancara 13 Januari 2016)

Salah satu informan mancanegara tidak terlalu mempermasalahkan dengan tanda atau orang yang dapat berbahasa Inggris tetapi lebih menyoroti perawatan bangunan terlihat kurang terawat, berbeda dengan bangunan-bangunan kuno di negara Jepang. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Mr. Akio

“As Japanese I think Indonesian people need to pay more attention to keep the building well. Because ini Japan old building such as palace was taken care well.”

(Sebagai warga Jepang saya pikir orang Indonesia harus memberikan perhatian lebih untuk menjaga bangunan ini dengan baik. Karena di Jepang, bangunan kuno seperti keraton ini dijaga dengan baik, Wawancara 6 Desember 2015)

Pengelolaan obyek wisata budaya tidak terlepas dari interaksi antara pengelola dan wisatawan. Interaksi itu melalui pelayanan pengelola terhadap wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Pelayanan pengelola obyek wisata ini dapat terlihat dari beberapa hal yaitu pelayanan petugas parkir dalam mengatur kendaraan wisatawan, pelayanan petugas tiket dengan ramah dan memberi pengarahan jalan masuk, pelayanan

(16)

56

pedagang yang menyediakan minuman, makanan ringan, dan souvenir, pelayanan pemandu wisata yang menjelaskan sejarah serta makna di bangunan dan unsur keraton lainnya.

Meskipun pengelolaan penampilan obyek wisata dari museum dan bangunan yang monoton, tetapi pelayanan pengelola terhadap wisatawan sudah lengkap perbagiannya yaitu ada petugas parkir, pedagang, toilet umum dan pengarahan dari loket ke pintu masuk, seperti terungkap pada pernyataan berikut ini:

Bapak Anwar

“Pelayanan udah oke. Ada petugas parkir, ada yang jual, ada toiletnya, diarahkan lewat sini pas di pintu masuk itu.”

(Wawancara 12 Desember 2015)

Interaksi melalui pelayanan pengelola yaitu pegawai terhadap wisatawan dapat terlihat dari pemandu yang menjelaskan keseluruhan isi dari Keraton Surakarta terhadap wisatawan domestik sehingga wisatawan tidak hanya melihat-lihat tapi tahu tentang maknanya. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Ibu Endang

“Kalau menurut aku baik. Kalau rombongan aku mau pakai guide biar ngerti ini apa ini apa. Guidenya pun jelasinnya bagus. Tapi kalau berdua gini apalagi sama anak muda terserah kamu mau lihat apa.” (Wawancara 11 Desember 2015)

David

“Cukup aja sih, cuman kalau mau tau isi keraton sama sejarahnya harus pake tourguide.” (Wawancara 10 Desember 2015)

Untuk salah satu wisatawan yang baru pertama kali ke Keraton Surakarta, jarak antara loket dan pintu masuk kurang petunjuk yang jelas sehingga wisatawan tidak tahu harus berjalan ke arah mana jika tidak bertanya kepada petugas tiket dan informasi di Kori Roto, seperti pernyataan informan berikut:

(17)

57 Ajeng

“Kurang gimana ya kalau yang belum pernah ke sini kayak nggak tahu jalannya. Pintu masuknya itu lewat mana.”

(Wawancara 12 Desember 2015)

Dikarenakan kurangnya petunjuk dalam bahasa Inggris baik itu dalam arah masuk, tata tertib wisatawan dan penjelasan tentang bangunan atau koleksi benda di museum, maka keseluruhan wisatawan mancanegara mengeluhkan tidak maksimalnya pelayanan pengelola obyek wisata budaya Keraton Surakarta terhadap wisatawan asing. Seolah-olah pengelola hanya mempersiapkan Keraton Surakarta untuk wisatawan domestik dan tidak melakukan persiapan matang untuk wisatawan mancanegara. Dengan sedikitnya penjelasan dalam bahasa Inggris dan sedikit yang berbahasa Inggris dengan aktif, maka pelayanan pengelola obyek wisata Keraton Surakarta dengan wisatawan mancanegara tidak cukup baik bahkan wisatawan mancanegara menjadi tidak tertarik dengan keraton. Hal ini terungkap pada pernyataan berikut:

Vanny

“I think good enough, but for foreign tourist must put any sign with English.”

(Saya pikir cukup bagus, tapi untuk wisatawan asing harus lebih banyak tanda dengan bahasa Inggris, Wawancara 12 Desember 2015)

Leon

“Not that good, but I think it’s ok. May be because there’s no tour guide that can explain this place with English well.”

(Tidak cukup bagus tapi saya pikir tidak apa-apa.

Mungkin karena tidak ada pemandu wisata yang dapat menjelaskan tempat ini dalam bahasa Inggris dengan baik, Wawancara 13 Januari 2016)

Anna

“Because there’s no who can speak English, I think I don’t like this place that much.

(Karena tidak ada yang bisa berbicara bahasa Inggris, saya pikir saya tidak terlalu suka tempat ini, Wawancara 12 Desember 2015)

(18)

58

Berbeda dengan salah satu turis asing yang cukup puas dengan pelayanan keraton karena memiliki pemandu wisata sendiri sehingga dapat menerjemahkan penjelasan pemandu wisata Keraton Surakarta menggunakan bahasa Inggris. Namun informan tersebut mengaku jika datang tanpa didampingi pemandu yang dapat berbahasa Inggris secara aktif, maka tidak akan mengerti apa-apa tentang Keraton Surakarta.

Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Mr. Akio

“It’s satisfaction enough, because I got my own guide, but if I was alone it will be a different story. Because there is no any sign write in English, especially sign about this place.”

(Cukup puas karena saya memiliki pemandu sendiri, tapi jika saya sendiri ceritanya akan berbeda. Karena banyak tanda yang tertulis tidak menggunakan bahasa Inggris, terutama tanda mengenai keraton, Wawancara 6 Desember 2015)

Wisatawan mancanegara mengeluhkan tidak dikuasainya bahasa Inggris dalam berbagai petunjuk, penjelasan atau komunikasi antara wisatawan dengan pegawai. Petunjuk atau tanda dalam bahasa Inggris hanya digunakan pada beberapa papan peringatan saja seperti “Stop Batas Pengunjung” (Stop Limit Visitor). Tidak ada tanda yang menjelaskan bangunan serta benda koleksi di museum dalam bahasa Inggris, sehingga wisatawan kurang paham mengenai fungsi dari bangunan dan benda sejarah di Keraton Surakarta.

Pengelolaan Keraton Surakarta dengan lahan yang begitu luas dan pegawai yang banyak tidak lepas dari masalah biaya operasional yang berkaitan dengan tarif masuk ke Keraton Surakarta, karena pada saat ini tiket masuk wisatawan Keraton Surakarta menjadi pendapatan utama dalam merawat keraton secara keseluruhan. Untuk wisatawan domestik, tarif masuk keraton dipatok sebesar Rp 10.000,00 dan hal ini sudah sesuai dengan apa yang didapat dan dilihat oleh wisatawan selama berwisata ke

(19)

59

Keraton Surakarta dari tampilan koleksi di museum dan bangunan keraton.

Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Ibu Endang

“Aku pribadi cukup. Nggak mahal.” (Wawancara 11 Desember 2015)

Bapak Anwar

“Kalau menurut saya sudah cukup. Karena dengan harga Rp 10.000 dibandingkan dengan kondisi lokasinya ya udah sebanding.” (Wawancara 12 Desember 2015)

Sedangkan untuk wisatawan domestik terutama yang berusia muda tarif sebesar Rp 10.000,00 mahal jika dibandingkan dengan Kota Tua Jakarta sebesar Rp 5.000,00 dan dikarenakan koleksi benda-benda di museum yang sedikit, kurang terawat, serta akses wisatawan yang hanya sampai di pelataran Keraton Surakarta. Seperti ungkapan wisatawan berikut:

Ajeng

“Kalau dari isinya museum yang belum sesuai sama tarif Rp 10.000 itu.” (Wawancara 12 Desember 2015)

David

“Mahal sih kalau cuman segini, dibanding sama museum di kota tua Jakarta, tapi ya nggakpapa lah sekalian ngisi kas keraton hehehehe.” (Wawancara 10 Desember 2015)

Teruntuk wisatawan mancanegara tarif yang dipatok lebih mahal yaitu sebesar Rp 15.000,00 namun bagi wisatawan mancanegara tarif tersebut sudah cukup dan sesuai dengan tampilan koleksi benda-benda di museum keraton, keadaan bangunan keraton serta akses wisatawan di pelataran Keraton Surakarta. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

Vanny

“Ya it’s enough and cheap.”

(20)

60

(Ya ini cukup dan murah, Wawancara 12 Desember 2015)

Anna

“About 1 dollar I think worth it with condition like this.”

(Sekitar 1 dollar saya pikir setimpal dengan kondisi seperti ini, Wawancara 12 Desember 2015)

Leon

“I think its ok, worth it for me.”

(Saya pikir ini setimpal untuk saya, Wawancara 13 Januari 2016)

Mr. Akio

“Worth it compared to this condition haha.”

(Setimpal jika dibandingkan dengan kondisi seperti ini, Wawancara 6 Desember 2015)

Matrik IV.3

Penilaian Wisatawan Terhadap Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

No. Kategori Wisatawan Domestik Wisatawan Mancanegara 1. Pengelolaan a) Tidak ada perubahan penyajian

produk wisata untuk wisatawan.

b) Kurang terawat dan kurang terjaga kebersihan di bagian museum dan bangunan.

c) Kurang penerangan untuk museum Keraton Surakarta.

d) Letak loket dan pintu masuk terlalu jauh.

e) Tarif sudah sesuai dengan tampilan obyek wisata Keraton Surakarta untuk wisatawan dewasa.

f) Tarif tidak sesuai dengan tampilan obyek wisata Keraton Surakarta untuk wisatawan muda.

a) Kurang tanda dan penjelasan terkait dengan informasi bangunan, benda, dan tata tertib wisatawan dalam bahasa Inggris.

2. Pelayanan a) Ada petugas parkir, pedagang dan fasilitas seperti toilet umum.

b) Pengarahan rute wisatawan.

c) Kurang informasi arah dari loket dengan pintu masuk terutama untuk kunjungan pertama.

d) Penjelasan pemandu wisata kepada wisatawan domestik sudah bagus.

a) Banyak pemandu wisata yang tidak bisa berbahasa Inggris.

b) Tarif sudah sesuai dengan tampilan obyek wisata Keraton Surakarta.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

(21)

61

b. Keunggulan Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta Menurut Pemaknaan Pengelola

Keraton Surakarta sebagai obyek dan daya tarik wisata budaya selalu menyajikan dua hal yaitu dari segi obyek wisata dan atraksi wisata budaya. Hal ini sudah digagas dan disadari oleh setiap pegawai dan pengelola bahwa keunggulan tersebut yang dikomersilkan kepada wisatawan. Dibalik penyajian produk-produk untuk wisatawan ada beberapa motif keraton dibuka untuk obyek wisata.

1) Motif Keraton Surakarta Menjadi Obyek Wisata Budaya

Berbicara mengenai obyek wisata yang dulunya adalah kerajaan dan sampai saat ini masih ada Raja yang berkuasa, terdapat upaya untuk mengenalkan adat istiadat dan budaya Jawa yang kental dengan nilai, norma, sejarah serta tradisi kepada generasi penerus atau kepada masyarakat yang hidup dijaman modern. Hal ini diungkapkan oleh beberapa informan berikut:

Ibu Retno

“Mungkin maksudnya biar masyarakat tahu adat budaya keraton itu seperti apa. Masalah sejarah keraton juga ada yang ingin tahu. Biar masyarakat umum mengerti tentang adat istiadat, ini kan jadi pusat kebudayaan.” (Wawancara 6 Desember 2015)

Bapak Setiadi

“Biar masyarakat tahu kadang-kadang kan masyarakat tahunya keraton itu sudah tidak ada. Keraton itu merupakan sumber budaya Jawa, budaya yang adiluhung. Biar masyarakat itu tahu betul, karena keraton itu merupakan sumber yang utama bahkan masyarakat seluruh dunia itu tahu. Sebelum ada obyek wisata masyarakat kesannya angker, setelah jadi wisata masyarakat jadi buat penelitian, buat belajar ya buat acuan jembatan budaya Jawa.” (Wawancara 17 Desember 2015) Ibu Eni

“Karena mungkin memang masyarakat harus tahu sebenarnya budaya Jawa tidak hanya ceritanya saja itu seperti apa. Tidak hanya tahu ceritanya begini, bangunannya begini tapi tahu kalau budaya Jawa itu masih ada sampai sekarang dan dulu

(22)

62

itu ada campur tangan dari Sinuhun Paku Buwono XII.”

(Wawancara 6 Januari 2016)

Dari pernyataan diatas informan mengatakan bahwa latar belakang keraton dibuka untuk obyek wisata budaya adalah demi mempertahankan atau melestarikan dan mengenalkan pusat kebudayaan Jawa kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak hanya sekedar tahu bentuk bangunan dengan kesan kekunoan tetapi mengetahui dan paham benar mengenai sejarah dan kebudayaan Jawa.

Motif Keraton Surakarta dibuka untuk obyek wisata dengan upaya pelestarian budaya Jawa juga diungkapkan oleh pernyataan informan pendukung sebagai berikut:

KGPH Puger

“….tetapi semakin kesini agar menjaga budaya Jawa adat istiadat Jawa itu tidak hilang dengan berbagai terpaan modernisasi.” (Wawancara 14 Januari 2016)

Hal lain yang menjadi motif Keraton Surakarta menjadi obyek wisata adalah perintah dari Sinuhun Paku Buwono XII untuk memanfaatkan ruang kadipaten menjadi museum Keraton Surakarta. Hal ini diungkapkan oleh pernyataan informan sebagai berikut:

KGPH Puger

“Dulu itu dhawuh dari ayah saya Swarga Sinuhun Paku Buwono XII untuk memanfaatkan kadipaten yang sekarang jadi museum itu. Kemudian dibukalah keraton ini pada tahun 1963.

(Wawancara 14 Januari 2016) KRMH Suryo Adi Wijoyo

“Awal mulanya adalah ketika keraton itu mengalami metamorfosa yang dihadapi tetapi kurang siap. Ketika itu dhawuh dari Swarga Sinuhun Paku Buwono XII. Jadi beliau ndhawuhi setelah mengadakan rapat besar muncul dhawuh dalem dari Sinuhun disana di museumnya itu dulu adalah kadipaten, kadipaten itu adalah tempat adipati yang setelah itu menjadi Sinuhun. Jadi situ dulu adalah ndalem kadipatennya Sinuhun ke XII sebelum beliau diangkat menjadi raja. Setelah

(23)

63

itu muncul dhawuh daripada terbengkalai apalagi di keraton sendiri sudah tidak menjadi pusat pemerintahan kemudian Sinuhun diskusi dengan Sasana Wilapa siapa yang pas menjadi pengageng museum dan pariwisata keraton.

Motif lainnya adalah perkembangan pariwisata di Indonesia yang menjadikan Keraton Surakarta sebagai ikon Kota Solo oleh Soekarno berbarengan dibukanya sebagai obyek wisata. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“…..karena dulu kongres pariwisata pertama di Solo terus dibukalah ini oleh Soekarno supaya menjadi ikon dari kota Solo.” (Wawancara 13 Januari 2016)

Motif lain Keraton Surakarta disamping perintah Paku Buwono XII, pelestarian budaya, dan menjadi ikon Kota Solo adalah untuk bantuan sumber penghidupan abdi dalem karena keraton sudah tidak lagi menjadi pusat pemerintahan maka dalam hal pendanaan turut mengalami perubahan. Hal ini disampaikan oleh pernyataan informan berikut:

KGPH Puger

“….selain itu untuk membantu penghidupan abdi dalem.” (Wawancara 14 Januari 2016)

Berdasarkan pernyataan-pernyataan informan diatas, hal yang menjadi motif Keraton Surakarta menjadi obyek wisata adalah perintah dari Sinuhun Paku Buwono XII untuk memanfaatkan kadipaten yaitu rumah dari Adipati sebelum menjadi Sinuhun atau menjadi raja Keraton Surakarta, supaya tempat kadipaten tersebut tidak terbengkalai dikarenakan keraton sudah tidak lagi menjadi pusat pemerintahan di Jawa. Selain itu sedang ada Kongres Pariwisata pertama kali di Indonesia yang membuat Soekarno menjadikan keraton sebagai ikon kota Solo.

Kemudian pelestarian kebudayaan Jawa agar tidak hilang terkena

(24)

64

modernisasi. Terakhir menjadi sumber bantuan biaya operasional untuk perawatan Keraton Surakarta seluas 10 hektar dan untuk gaji abdi dalem.

Matrik IV.4

Motif Keraton Surakarta Menjadi Obyek Wisata Budaya

No. Ditinjau dari Keterangan

1. Sejarah wisata Keraton Surakarta

Menurut pengelola dan pegawai Keraton Surakarta, latar belakang dibukanya keraton menjadi obyek wisata adalah perintah Sinuhun Paku Buwono XII untuk memanfaatkan ruangan kadipaten yang sekarang menjadi museum keraton.

2. Pelestarian kebudayaan Jawa

Keraton Surakarta yang menjadi pusat kebudayaan Jawa harus dilestarikan seiring dengan terpaan modernisasi dan pengenalan kebudayaan Jawa secara lebih mendalam kepada masyarakat.

3. Ikon wisata Kota Solo

Diresmikan oleh Soekarno menjadi ikon Kota Solo saat kongres pariwisata pertama di Indonesia dan berbarengan dibuka menjadi obyek wisata.

4. Sumber pendanaan Keraton Surakarta

Untuk biaya operasional dan perawatan Keraton Surakarta seluas 10 hektar karena keraton sudah tidak menjadi pusat pemerintahan dan untuk menghidupi abdi dalem keraton.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

2) Keunggulan Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

Ketertarikan wisatawan dapat berkembang dengan melihat fungsi sebenarnya dari bangunan tersebut seperti digunakan untuk pelaksanaan upacara adat, pernikahan keraton dan penerimaan tamu.

Pihak pegawai Keraton Surakarta juga menuturkan bahwa arsitektur dan bangunan fisik keraton menjadi salah satu simbol untuk menarik wisatawan domestik dan wisatawan mancangera. Selain arsitektur dan bangunan Keraton Surakarta, pihak pengelola obyek wisata menampilkan

(25)

65

berbagai benda-benda sejarah seperti kereta kuno, kursi, perhiasan, baju khas keluarga Keraton dan lain-lain yang juga diunggulkan oleh pengelola. Hal ini terungkap pada pernyataan sebagai berikut:

Bapak Dodi

“Ya kalau keraton sajikan dari silsilahnya dari bangunannya yang masih sakral. Sama bangunan juga koleksi di museum. Nanti kan balik lagi ke wisatawan mau lihat apa.”

(Wawancara 7 Desember 2015) Ibu Retno

“Ya apa ya mungkin sejarahnya, bangunannya, acara suro itu.” (Wawancara 6 Desember 2015)

Ibu Eni

“Ya seperti yang dilihat sendiri di dalam yang disajikan bisa dilihat langsung oleh wisatawan museum dan koleksinya sama bangunan keraton. Kalau misalnya wisatawan ingin melihat gamelan atau koleksi buku-buku di keraton kan juga tidak bisa.” (Wawancara 6 Januari 2016)

“Sepertinya bangunan, bangunan yang masih kuno dan belum berubah sama koleksi benda-benda di museum dan kalau wisatawan pakai guide jadi tau sejarahnya.” (Wawancara 6 Januari 2016)

Simbol fisik berupa bangunan dan benda koleksi di museum sebagai daya tarik untuk wisatawan juga didukung oleh pernyataan informan sebagai berikut:

KGPH Puger

“Bicara unggulan dan daya tarik itu banyak. Dari museumnya sendiri disitu ada benda-benda koleksi yang tidak hanya dipajang tetapi ada maknanya ada sejarahnya dan ada manfaat dijamannya. Kemudian dari bangunan keraton itu sendiri yang dibangun oleh Paku Buwono II tahun 1746 ada filosofinya juga.” (Wawancara 14 Januari 2016)

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“...barang-barang yang ada di keraton dulu dan sekarang sudah tidak diproduksi.” (Wawancara 13 Januari 2016)

(26)

66

Berbicara mengenai Keraton Surakarta tidak hanya mengenai arsitektur bangunan yang berdiri dengan kokoh dan megah. Tetapi pemaknaan simbol fisik tersebut adalah bangunan serta koleksi benda- benda di museum Keraton Surakarta dianggap sakral dan tidak boleh dipegang sembarangan. Benda-benda peninggalan sejarah di museum keraton seperti baju keraton, pusaka keraton, prasasti Jawa, senjata perang prajurit keraton, perhiasan putri keraton, miniatur rumah adat Jawa termasuk mobil kuno dan kereta kuno menjadi daya tarik wisata budaya selanjutnya dikarenakan benda-benda tersebut saat ini sudah tidak diproduksi lagi dan menjadi bukti bahwa benda-benda peninggalan sejarah memiliki masa jaya pada jamannya.

Selain itu daya tarik yang ada di Keraton Surakarta adalah pengetahuan pada bidang seni yaitu seni karawitan, seni tari, seni wayang, seni bicara Jawa yang hanya bersumber di Keraton Surakarta.

Seperti pernyataan informan berikut:

Bapak Setiadi

“Yang disajikan sebagai daya tarik sebenarnya banyak sekali. Namun tidak semua orang tahu. Disini ada semua terutama dibidang seni, ada seni karawitan, seni tari, seni wayang, seni bicara Jawa kalau dikelola betul keraton sumbernya. Nah itu daya tarik untuk umum.” (Wawancara 17 Desember 2015)

Berkaitan dengan obyek wisata Keraton Surakarta yang disajikan untuk pengunjung tidak hanya benda-benda dan bangunan, tetapi pihak pengelola juga menyajikan cerita sejarah, filosofi dan pengetahuan tentang keraton, unsur keaslian dari keraton seperti prajurit, filosofi bangunan, dan suasana masuk keraton. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“Kita itu harus punya produk yang tidak keluar jalur dari aturan-aturan keraton supaya ada pengunjung. Dari segi histori terus ada guide juga salah satu produk yang harus kita

(27)

67

tonjolkan supaya jangan sampai kok keraton cuma gini-gini aja.

Dan keraton itu banyak historisnya banyak pengetahuannya maka setiap pengunjung itu saya tawari guide kalau nggak mereka hanya tau bangunannya seperti itu saja kemudian foto udah. Jadi itu yang jadi unggulan dari cerita sejarahnya, filosofinya dan juga dari pengetahuannya.” (Wawancara 13 Januari 2016)

“Daya tarik di keraton itu dari segi histori setelah itu yang asli dari keraton seperti prajurit kita tampilkan memang udah dari dulu ada di Brojonolo juga tidak hanya di Kori Kamandungan, jadi setiap titik perhentian abdi dalem mesti ada yang jaga. Dan juga setiap bangunan yang tinggi besar itu punya arti sendiri ada filosofinya. Selain itu kita juga menyajikan suasana, masuk keraton itu pagi siang sore malem itu situasinya beda-beda.” (Wawancara 13 Januari 2016)

Simbol non fisik sebagai daya tarik wisata budaya keraton yang paling utama adalah cerita sejarah, filosofi dan pengetahuan, silsilah raja- raja Mataram dan raja Keraton Surakarta, serta makna disetiap bangunan dan benda-benda pusaka keraton, sehingga tersedia pemandu wisata yang akan menjelaskan secara detail makna dari bangunan dan benda dari setiap rute. Daya tarik wisata budaya keraton juga tersaji dalam suasana berbeda di lingkungan Keraton Surakarta dengan ketenangan yang akan didapat oleh wisatawan.

Dari uraian diatas disebutkan bahwa Keraton Surakarta memiliki keunggulan wisata budaya yang kental akan suasana adat Jawa kuno dan disajikan untuk wisatawan. Beberapa hal dapat dilihat dan dapat dikunjungi setiap hari oleh wisatawan berupa simbol benda yaitu bangunan keraton dan benda-benda peninggalan sejarah keraton. Wujud budaya berupa kesenian menjadi daya tarik cukup kuat namun saat ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat seperti seni wayang, seni karawitan, seni tari, seni musik berupa gamelan, dan seni berbicara Jawa.

Namun daya tarik paling utama dan tidak kalah penting adalah cerita sejarah, filosofi serta pengetahuan dari setiap bangunan keraton dan benda-benda peninggalan sejarah keraton serta suasana masuk keraton.

(28)

68

Matrik IV.5

Keunggulan Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta No. Ditinjau dari Obyek Wisata

1. Simbol Fisik a) Arsitektur bangunan Keraton Surakarta.

b) Benda-benda peninggalan sejarah Keraton Surakarta.

c) Prajurit Keraton Surakarta.

2. Simbol Non Fisik a) Sejarah, filosofi, pengetahuan Keraton Surakarta.

b) Bidang seni (seni tari, seni karawitan, seni wayang, seni bicara Jawa)

c) Suasana di Keraton Surakarta.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

3) Keunggulan Atraksi Wisata Budaya Keraton Surakarta

Disisi lain terlepas dari museum dan pariwisata keraton sebagai simbol fisik unggulan dan daya tarik wisata budaya, keraton secara rutin melaksanakan sekaten yang ditutup dengan turunnya gamelan yang ditabuh satu minggu di Masjid Agung kemudian dikeluarkannya gunungan yang disebut Gerebeg Mulud. Kegiatan budaya yang juga rutin diselenggarakan oleh keraton dan dilihat oleh wisatawan adalah adalah Kirab Pusaka 1 Suro, Gerebeg Idul Adha dan Gerebeg Pasa. Hal tersebut terungkap pada pada pernyataan informan berikut:

Bapak Dodi

“...upacara 1 Suro, sekaten” (Wawancara 11 Januari 2016)

Bapak Setiadi

“Daya tarik budaya contohnya turunnya gamelan selama seminggu ditabuh di Masjid Agung itu termasuk budaya yang setahun sekali ditampilkan. Puncaknya nanti ada gunungan.

Kemudian sekaten, itu event yang paling besar. Namun daya tarik

(29)

69

paling besar ya keraton beserta isinya itu tadi.” (Wawancara 17 Desember 2015)

Hal senada diungkapan pula oleh KGPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta sebagai berikut :

KGPH Puger

“...selain itu ada juga acara-acara budaya kirab pusaka, gerebeg mulud, yang sekaten itu juga.” (Wawancara 14 Januari 2016)

Simbol berupa kegiatan adat dipercaya masih mengandung nilai tradisi dan kesakralan adat Jawa sehingga upacara adat tersebut tidak boleh hilang dan tetap dilestarikan. Mengingat keberadaan budaya Jawa sudah mulai hilang terkena arus modernisasi, sehingga dengan pelestarian diharapkan budaya Jawa yang bersumber di Keraton Surakarta tidak akan punah. Seperti terungkap dalam pernyataan informan berikut:

Bapak Setiadi

“Ya itu tadi pelestarian, biar budaya tidak punah karena keraton sumber segala macam budaya.” (Wawancara 17 Desember 2015)

Pelaksanaan upacara adat dan kebudayaan budaya dari jaman keraton masih dalam masa kejayaannya dan menjadi pusat pemerintahan sampai sekarang sudah tergantikan oleh pemerintahan modern, tidak ada yang berubah karena harus dilakukan pelestarian kebudayaan Jawa yang sesuai dengan aturan keraton dan hal ini diperkuat oleh pernyataan informan berikut:

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“Sedangkan kegiatan adat itu sebenarnya bukan masuk ranah museum dan pariwisata keraton tapi masuk ranah agenda tahunan wisata kalau wisata di keraton kan harian, kalau agenda itu seperti gunungan, sekaten, suro, wiyosan jumenengan yang

(30)

70

tidak boleh diubah-ubah supaya yang ditampilkan tetap sesuai dengan koridor keraton. Kegiatan budaya itu terutama jangan sampai hilang karena kalau hilang bahaya nanti, wong Jawa ilang Jawane. Kalau ditambahi malah nggakpapa tapi dalam koridor keraton seperti tarian, wayang, gamelan dan sebagainya.” (Wawancara 13 Januari 2016)

Meskipun bukan termasuk ke dalam ranah pengelolaan museum dan pariwisata Keraton Surakarta, gelaran upacara adat dan kegiatan budaya menjadi agenda rutin keraton setiap tahun. Kegiatan budaya dan upacara adat tradisi menjadi sumber peradaban masyarakat Jawa.

Sehingga upaya pelestarian harus tetap terlaksana mengingat sudah semakin terlupakan nilai luhur budaya Jawa. Pelestarian ini bertujuan untuk mempertahankan kebudayaan Jawa dan diharapkan ada penambahan-penambahan kegiatan budaya dan diperkenalkan kepada masyarakat seperti tarian, gamelan, dan wayang sehingga mengedukasi masyarakat semakin menarik minat wisatawan untuk berwisata ke Keraton Surakarta.

Berbeda dengan pernyataan informan sebelumnya, upacara adat dan kegiatan budaya sampai jaman modern ini tetap dilaksanan dan tidak diubah karena untuk menjaga kesakralan dari sebuah adat yang sudah diturunkan dari para leluhur Jawa. Pengubahan atau peniadaan upacara adat dikhawatirkan oleh pihak keraton akan mengganggu ketentraman dan keselamatan keluarga keraton hingga masyarakat karena masih kuatnya kepercayaan terhadap hal mistis. Hal ini tersampaikan pada pernyataan beberapa informan sebagai berikut:

Bapak Dodi

“Kan dari dulu keraton itu sakral umpamanya dirubah kan nggak berani nanti kalau ada apa-apa resiko kan ada.”

(Wawancara 21 Desember 2015) Ibu Retno

“Itu nggak mungkin dirubah. Soalnya udah dari sana dari para leluhur harus seperti itu. Jadi mereka tidak berani merubahnya. Takut nanti ada apa-apa. Kayak suro kayak ngasih

(31)

71

bunga-bunga. Kalau nggak kok mesti ada kenapa-kenapa.”

(Wawancara 6 Desember 2015) Ibu Eni

“Udah dari jaman raja-raja dulu gitu jadi kalau mau merubah atau menghilangkan tidak berani.” (Wawancara 6 Januari 2016)

Dari beberapa ulasan diatas upacara adat tradisi dan kegiatan budaya Jawa terus bersaing dengan budaya modern. Kecenderungan masyarakat saat ini hanyut dalam budaya modern tidak dapat ditekan lagi. Untuk itulah langkah yang diambil oleh Keraton Surakarta adalah melestarikan kebudayaan Jawa mulai dari upacara adat hingga kegiatan budaya yang berhubungan dengan kesenian dan dikemas dalam bidang pariwisata. Disamping dari sisi pelestarian, Keraton Surakarta tidak berani mengubah atau menghilangkan upacara adat dan kebudayaan Jawa karena berkaitan erat dengan nilai kesakralan dari budaya Jawa.

Matrik IV.6

Keunggulan Atraksi Wisata Budaya Keraton Surakarta No. Atraksi Wisata Tujuan Menjadi Agenda Rutin

1. Kirab Pusaka 1 Suro, Sekaten, Gunungan, Upacara Gerebeg

a) Pelestarian budaya Jawa

b) Menjaga nilai kesakralan kegiatan budaya dan upacara adat tradisi

c) Tidak berani merubah atau menghilangkan tradisi yang telah turun temurun

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

4) Pemilihan Pengelola dan Pegawai Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

Konsistensi Keraton Surakarta untuk berada dikoridor adat Jawa dengan sedikit adopsi organisasi modern adalah kebijakan pengelola Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta yang berasal dari keluarga

(32)

72

keraton seperti Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta merupakan adik dari Sinuhun Paku Buwono XIII, selain itu Wakil Pengageng, Sekretaris, Bendahara dan Manajer juga termasuk ke dalam keluarga keraton. Alasan utama pengelola museum dan pariwisata berasal dari keluarga keraton karena mengetahui seluk beluk, nilai, dan aturan Keraton Surakarta sehingga memahami betul apa saja yang harus disajikan kepada wisatawan. Tidak semua bagian dari Keraton Surakarta boleh dikomersilkan kepada wisatawan, karena tujuan utama dari pariwisata keraton adalah wisata pengetahuan supaya sumber budaya dan adat istiadat Jawa tetap terlestarikan. Pernyataan ini seperti yang disampaikan oleh KRMH Suryo Adi Wijoyo seperti berikut:

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“Karena keraton itu tidak disebut obyek wisata seperti Jurug, Sangiran katakanlah jadi tujuan orang lebaran pulang kampung atau lewat mampir dengan tujuan utama di Solo itu Klewer dan kuliner, kalau keraton jadi murni obyek wisata sini udah dirombak dikasih orang jualan atau apa. Soalnya kalau di sini dijadikan murni obyek wisata sumbernya orang Jawa nanti hilang, memang kita memarkan koleksi dari keraton ada mobil kuno, kereta jaman dulu tetapi di situ ada sisi historisnya dari setiap benda dan bangunan. Makanya kalau di keraton itu bukan wisata senang-senang tapi kaitannya dengan wisata pengetahuan.” (Wawancara 13 Januari 2016)

Pada hakikatnya berwisata ke Keraton Surakarta adalah untuk wisata pengetahuan mengetahui histori dan filosofi budaya Jawa sehingga orang yang bekerja atau menjadi pengelola dari pariwisata keraton harus paham betul mengenai seluk beluk dari bangunan dan benda peninggalan sejarah. Untuk itulah bagi pegawai yang bekerja keraton tidak dapat sembarangan orang karena dapat menyebabkan salah persepsi jika informasi yang disampaikan kepada wisatawan tidak benar.

Sehingga dalam hal ini pegawai yang bekerja di Keraton Surakarta direkrut sendiri oleh KGPH Puger selaku Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton dengan pertimbangan dari pengelola lain namun yang

(33)

73

direkrut paling utama adalah abdi dalem yang sudah lama ikut keraton atau keluarganya menjadi abdi dalem dan merasa mampu bekerja sebagai pegawai museum dan pariwisata keraton. Cara pemilihan pegawai seperti ini kemudian turun temurun sejak keraton dibuka untuk obyek wisata.

Seperti yang terungkap dalam pernyataan beberapa informan tersebut:

Bapak Dodi

“Sini dulu kan pengunjung belum ramai, terus kebanyakan yang kerja di sini dari dulu udah ikut sama keraton jadi abdi dalem entah orangtuanya atau saudaranya terus diajak buat kerja di sini tapi istilahnya bukan kerja tapi mengabdi.”

(Wawancara 7 Desember 2015) Ibu Retno

“Kalau seperti guide itu ibaratnya ada yang turun temurun, dulu mbahnya guide turun temuurun itu ada. Ada yang dari pihak luar, dari pariwisata tapi jarang banget. Kebanyakan dari abdi dalem yang ada di sini mbak yang sudah lama kalau mereka merasa mampu mereka dapat direkrut jadi guide di sini.

Dan mereka juga pegawai tetap. Kalau yang mengelola wisata keraton ini biasanya direkrut orang dalem, putra-putrinya PB XII dari jaman dulu mereka yang mengelola. Kayak Sasana Wilapa seperti struktur pemerintahan itu Gusti Wandansari, kalau kayak museum dan wisata ini Gusti Puger. Jadi masih orang keraton sendiri.” (Wawancara 6 Desember 2015)

Bapak Setiadi

“Itu yang menentukan Gusti Puger. Contoh saya sendiri mengabdi di Keraton dari tahun 1997 sampai 2000. Dulu saya pelukis kemudian saya dikasih rambu-rambu Gusti Puger untuk membuat lamaran biar nanti menjadi abdi dalem. Saya diberi tugas penjaga sampai tahun 2001 kemudian saya resmi menjadi abdi dalem. Terus tahun 2005 saya menjadi pemandu wisata.”

(Wawancara 17 Desember 2015) Ibu Eni

“Itu yang milih dari Gusti Puger langsung dengan pertimbangan dari anak-anaknya juga, karena anak-anaknya juga bantu menglola wisata keraton.” (Wawancara 6 Januari 2016)

(34)

74

Pemilihan pegawai Keraton Surakarta yang berasal dari abdi dalem atau orang terdekat Keraton Surakarta juga dibenarkan oleh pernyataan Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Puger sebagai berikut:

KGPH Puger

“Kalau pemilihan itu dari musyawarah bersama, ada yang ditunjuk oleh saya dan sebagian besar abdi dalem, saya tanya mampu tidak kalau mereka mampu mereka pindah ke bagian museum dan pariwisata, tapi mereka harus tanggung jawab dengan tugasnya tidak boleh neko-neko.” (Wawancara 14 Januari 2016)

Hal serupa juga diungkapkan oleh Manajer Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta yaitu Kanjeng Raden Mas Haryo Suryo Adi Wijoyo jika yang bekerja sebagai pegawai museum dan pariwisata Keraton Surakarta berasal dari orang terdekat keraton yaitu dari pawiyatan atau sekolah pembicara khusus untuk Keraton Surakarta sehingga sudah paham mengenai keraton.

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“...kalau pegawai-pegawai yang sudah ada ini kebanyakan dari pawiyatan atau sekolah yang mencetak pembicara khusus untuk keraton yang memang orang-orang terdekat, dan kalau sudah paham keraton maka sudah paham seperti ini, kalau untuk tiket seperti mbak Eni kita butuh penyegaran yang bisa memahami hak yang diterima segini aja kalau mau ya monggo.” (Wawancara 13 Januari 2016)

Dapat disimpulkan bahwa pemilihan pengelola obyek wisata keraton merekrut dari keluarga Keraton Surakarta yang sedari kecil sudah paham mengenai keraton dan adat Jawanya, sedangkan untuk pegawai seperti pemandu wisata, petugas tiket, pedagang dan petugas parkir direkrut sendiri oleh ketua pengelola pariwisata yang berasal dari abdi dalem dan orang-orang terdekat Keraton Surakarta.

(35)

75 Matrik IV.7

Pemilihan Pengelola dan Pegawai Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta

No. Cara Pemilihan Keterangan

1. Hubungan Keluarga Menjadi Pengageng (Ketua), Wakil Pengageng (Wakil Ketua), Sekretaris, Bendahara dan Manajer.

2. Abdi Dalem Menjadi pemandu wisata, petugas tiket dan informasi, pedagang, petugas parkir, serta petugas kebersihan.

Sumber: Data primer, diolah Februari 2016

5) Sumber Daya Manusia di Obyek Wisata Budaya Keraton Surakarta Dalam obyek wisata budaya ada peran dari sumber daya manusia yang mengorganisir, mengelola sekaligus melestarikan obyek wisata budaya. Pelestarian ini terwujud dalam dibukanya Keraton Surakarta menjadi obyek wisata dan agenda tahunan wisata keraton seperti Kirab Pusaka 1 Suro dan Sekaten yang dikelola oleh Sasana Wilapa dengan melibatkan seluruh keluarga keraton serta abdi dalem.

Tanpa adanya sumber daya manusia, maka usaha keraton dalam melestarikan obyek wisata Keraton Surakarta tidak akan membuahkan hasil. Sumber daya manusia yang dipilih juga tidak sembarangan dan terbukti bahwa yang bekerja di Keraton Surakarta terutama dibagian museum dan pariwisata Keraton Surakarta sudah bekerja cukup lama sekitar 7 tahun sampai 18 tahun. Seperti yang terungkap dalam pernyataan berikut:

Bapak Dodi

“Sudah berapa lama ya, pokok’e dari tahun 2000.”

(Wawancara 7 Desember 2015)

(36)

76 Ibu Retno

“Sudah 10 tahun nggih mbak.” (Wawancara 6 Desember 2015)

Bapak Setiadi

“Saya bekerja di sini tahun 1997. Jadi udah 18 tahun, kalau pemandu wisatanya berarti udah 10 tahun mbak.”

(Wawancara 17 Desember 2015) Ibu Eni

“Kerja di sini dari tahun 2008 jadi udah 7 tahun.”

(Wawancara 6 Januari 2016)

Cukup lamanya bekerja di Keraton dengan istilah mengabdi kepada Keraton Surakarta dan kepada Paku Buwono XIII membuktikan bahwa ada alasan lain pegawai-pegawai tersebut mampu bertahan bekerja di keraton dalam ranah pariwisata setelah sekian lama. Alasan bekerja di keraton adalah orangtua dulunya menjadi abdi dalem dan keraton sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi penjaga parkir ketika mulai dibukanya keraton menjadi obyek wisata, kemudian menyebabkan pegawai parkir tersebut mengajukan diri dan sebagai bentuk pengabdian turun temurun, seperti terungkap dalam pernyataan berikut:

Bapak Dodi

“Dulu kan saya masih punya anak kecil terus orangtua saya abdi dalem di sini terus di sini butuh orang buat bantu bersih-bersih terus saya bantuin lama-lama butuh penjaga parkir juga akhirnya saya yang jaga parkir.” (Wawancara 7 Desember 2015)

Alasan lain bekerja selama 10 tahun di Keraton Surakarta adalah mendapat kepercayaan langsung dari pihak pengelola museum dan pariwisata serta pihak keraton untuk mengelola barang jualan seperti minuman, cinderamata, buku sejarah keraton serta baju batik yang bekerja sama dengan putri keraton sekaligus mengawasi wisatawan.

Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

(37)

77 Ibu Retno

“Apa ya saya ngikut suami mbak. Suami saya kan ikut Sinuhun istilahnya ajudannya. Terus kita dipercaya ngelola ini sambil ini lihat-lihat ngawasi gitu.” (Wawancara 6 Desember 2015)

Selain turun temurun dari orang tua dan mendapat kepercayaan untuk mengelola barang jualan, alasan salah satu pemandu wisata ini adalah pengabdian dengan loyalitas tinggi kepada Keraton Surakarta dan kepada Paku Buwono XIII serta sudah lama menjadi abdi dalem Keraton Surakarta, seperti yang terungkap dalam pernyataan sebagai berikut:

Bapak Setiadi

“Saya dulu abdi dalem. Jadi pengabdian kepada keraton.” (Wawancara 17 Desember 2015)

Berbeda lagi dengan informan berikut yang mengenal salah satu keluarga keraton kemudian mendapat penawaran untuk bekerja di keraton, seperti terungkap pada pernyataan berikut ini:

Ibu Eni

“Kalau saya ya dulu kenal lah sama salah satu keluarga keraton terus kemudian cerita kalau mau ada penambahan loket.

Terus saya ditawarin mau nggak bekerja di keraton.”

(Wawancara 6 Januari 2016)

Sedangkan untuk pengelola Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta yang berasal dari pihak keraton terjadi karena ada hubungan dekat yaitu bapak dan anak dengan Pengageng Museum dan Pariwisata serta memiliki gelar Sarjana Ekonomi sehingga ditugaskan untuk mengawasi bagian manajemen mulai dari administrasi, kinerja pegawai, personalia, hingga perputaran tiket. Selain adanya hubungan dekat dengan ketua museum dan pariwisata, pemilihan pengelola dari keluarga Keraton Surakarta didasarkan pada gelar sarjana yang dimiliki, sehingga dapat memberi masukan terhadap kinerja dan rencana kedepan dari

(38)

78

Keraton Surakarta dari sisi penyesuaian pengelolaan terhadap modernitas jaman. Seperti terungkap pada pernyataan berikut:

KRMH Suryo Adi Wijoyo

“Saya itu dari tahun 2010 awal dan saya sebetulnya sama saya mendudukkan diri sebagai pegawai atau abdi dalem tetapi tatarannya karena saya ada gradenya otomatis saya diberi wewenang lebih karena dengan ilmu yang saya punya untuk mengawasi dan memanajemen dari perputaran tiket.”

(Wawancara 13 Januari 2016)

Bekerja di Keraton Surakarta berdasarkan pada pengabdian yang sudah turun temurun dari keluarga dan adanya hubungan deket antara keluarga Keraton Surakarta. Kemudian mengenai kesejahteraan pegawai wisata keraton sudah diperhatikan dan mengalami peningkatan setelah pengelolaan dibawah naungan Gusti Puger. Hal ini terungkap pada pernyataan pemandu wisata serta petugas tiket dan informasi sebagai berikut:

Bapak Setiadi

“Itu diperhatikan oleh pihak keraton. Dibawah naungan Gusti Puger sudah ada peningkatan lagi.” (Wawancara 17 Desember 2015)

Ibu Eni

“Cukup diperhatikan kalau saya rasa tapi tidak tahu dengan pegawai lain.” (Wawancara 6 Januari 2016)

Namun sangat berbeda dengan pernyataan diatas bahwa yang terjadi selama bekerja di Keraton Surakarta, kesejahteraan pegawai kurang diperhatikan oleh pihak keraton. Hal ini terjadi pada petugas parkir dan pedagang di lingkungan Keraton Surakarta dimana pegawai tersebut dibiarkan bekerja tanpa ada jaminan kesejahteraan seperti pelayanan kesehatan. Seperti terungkap pada pernyataan informan berikut:

Gambar

Tabel IV.2
Gambar IV.1 Struktur Lembaga Pengelola Keraton Surakarta  Sumber: Data sekunder, diolah Februari 2016
Gambar IV.2   Gambar IV.3
Gambar IV.4  Toilet Umum
+7

Referensi

Dokumen terkait

Desa Tanjung Pasir memiliki pantai wisata dengan luas sebesar 10 ha yang menawarkan wisata panorama alam dengan ombak yang tenang, dan ada pasir pantai yang putih,

Maka dapat disimpulkan bahwa guru setuju buku cerita bergambar yang telah dikembangkan layak dan sangat sesuai untuk digunakan sebagai media pembelajaran buku

Jimat merupakan sebuah kertas yang di tulisi Asmak, huruf-huruf, angka-angka atau simbol-simbol khusus yang bisa dibuat seperti bantalan kecil yang dibungkus oleh kain hitam

Marlina (2019: 18) menyatakan bahwa diferensiasi dalam produk ini dapat berupa laporan, brosur, sandiwara, dsb.; produk yang dihasilkan adalah cerminan pemahaman siswa;

Pengembangan Kawasan Obyek Wisata Umbul Ponggok yang dirasa telah sesuai dengan harapan para pelaku wisata karena bertambahnya pengunjung dari tahun ke tahun belum

Hasil penelitian menyebutkan bahwa tindak lanjut atau umpan balik dari hasil supervisi akademik SMK Mataram Semarang yang dilakukan oleh kepala sekolah berupa pemberian

Yo koyok alang- kui.” Dari paparan di atas dapat di pahami bahwa , simbol simbol budaya jamu tradisional adalah bahan – bahan baku untuk membuat jamu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan

menunjukan simbol “ x ” 15 P Kalau karcis kelasII 16 NI Ini bu menunjukan simbol “ y ” 17 P Oke bagus Keterangan: P : Peneliti NI : Subjek berkemampuan matematika rendah