commit to user 77
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah novel gabungan dari serial Perang Paregrek jilid 1, 2, dan 3 yang sudah dibenahi dan tamat, kemudian diberi label Menak Jinggo, dengan subjudul Sekar Kedaton yang terbit tahun 2013. Novel Menak Jinggo Sekar Kedaton karya Langit Kresna Hariadi, yaitu karya sastra yang menceritakan perseteruan titah kerajaan Majapahit yang pada masa itu dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah di tahun 1350-1389. Dia memiliki gelar Maharaja Sri Rajasanagara. Semuanya berawal ketika Gajah Mada sebagai patih yang mendampingi Hayam Wuruk mengucapkan Sumpah Palapa yang memuat segala ambisinya untuk memperlebar dan memperluas wilayah kekuasaan Majapahit. Sang Prabu Hayam Wuruk mengetahui benar mengenai pesan-pesan terakhir dari Gajah Mada, bahwa seseorang yang akan menjadi Raja haruslaah laki-laki perkasa berotot kawat bertulang besi. Hayam Wuruk sadar bahwa usianya yang telah lanjut, harus menyerahkan tahta kepada keturunannya kelak.
Hampir semua kerabat kerajaan ribut mempersoalkan tentang siapa dari kedua anaknya yakni Kusumawardani atau Raden Wirabumi yang pantas untuk menggantikan tahta sang Prabu Hayam Wuruk. Di saat situasi mulai memuncak akhirnya sang Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk mengangkat Raden Wirabumi selaku Putra Raja dari istri mudanya Biniaji sebagai calon penggantinya kelak. Sedangkan, Kusumawardani akan dinikahkan dengan lelaki pilihannya, yakni Senopati Kuda Narapadya guna mementahkan rumor aneh dari para pihak yang menjodohkan Kusumawardani dengan Wikramawardana anak dari adiknya Dyah Nrttaja Rajasaduhistewari. Dyah Nrttaja Rajasaduhiteswari yang sejak awal memiliki ambisi agar putranya Wikramawardana dapat menjadi pewaris takhta sang Prabu, dia pun merasa keberatan jika Sekar Kedaton di nikahkan kepada selain Wikramawardana. Tetapi, Sang Prabu telah memahami tipu muslihat dari adiknya, beliau tetap bersi kukuh pada pendirian awal.
Meski Hayam Wuruk paham betul bahwa keputusannya kelak akan memunculkan konflik yang besar dalam keluarga kerajaan, pendiriannya tetap tak dapat digoyahkan.
commit to user
Dalam novel tersebut diceritakan pula beberapa tokoh lain pada kehidupan tokoh utama, Bhre Wirabumi (Menak Jinggo), baik pihak keluarga kerajaan, para emban (pelayan), bahkan para prajurit di wilayah kerajaan Majapahit. Tokoh tersebut di antaranya Hayam Wuruk, Gajah Mada, Sri Kertawardana, Sri Gitarja, Raden Kudamerta, Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, Sri Sudewi, Dyah Kusumawardani, Biniaji, Dyah Nrttaja Rajasaduhiteswari, Dyah Madudewi, Wikramawardana, Emban Ragaweni, Gajah Enggon, Gajah Narapati, Mpu Tanding, Mpu Nala, Mahisa Sura, Sunda Rupaka, Sekar Trini, dan Kiai Banjar Tarung.
Langit Kresna Hariadi menyajikan aspek sosial budaya yang menarik melalui novel Menak Jinggo Sekar Kedaton, yang menggambarkan masyarakat dalam kurun waktu tertentu yaitu pada masa Kejayaan Kerajaan Majapahit. Novel Menak Jinggo Sekar Kedaton ditulis Langit Kresna Hariadi (LKH) berdasarkan riset yang menyita waktu kurang lebih dua minggu dan membaca buku-buku penelitian profesor sejarah.
Langit Kresna Hariadi bahkan menyewa kost di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur untuk melanjutkan novel ini supaya tidak salah dalam mendekripsikan sebuah lokasi yang terdapat dalam novel. Pendekatan sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai sebuah cerminan masyarakat. Melalui sebuah karya sastra pengarang mengungkapkan sosial budaya kehidupan masyarakat, yang pengarang sendiri berada di lingkup yang sama. Sebagai penulis fiksi sejarah, LKH merasa harus patuh dengan artefak dan hasil penelitian sejarah yang ada. Fakta sejarah menurut pengarang justru harus bisa memancing imajinasi penulis. Namun LKH mengingatkan bahwa sehebat apa pun penulis roman sejarah, mereka tetaplah seorang penulis, bukan ahli sejarah.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka aspek sosial budaya yang mampu diungkapkan oleh Langit Kresna Hariadi dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton merupakan cerminan sosial budaya masyarakat kerajaan Majapahit pada masa itu. Oleh karena itu dalam bagian ini akan dianalisis aspek sosial budaya dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton menyangkut budaya yang ada di Kerajaan Majapahit.
commit to user
1. Aspek Sosial Budaya Masyarakat Kerajaan Majapahit yang Terungkap dalam Novel Menak Jinggo Sekar Kedaton Karya Langit Kresna Hariadi.
a. Sistem Religi
1) Sistem Kepercayaan
Masyarakat pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit masih terpengaruh dengan agama Hindu. Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada era Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanagara dikenal sebagai kerajaan Hindu-Budha terakhir yang menguasai Nusantara. Namun, agama Hindu merupakan agama yang dominan pemeluknya, berikut kutipan dalam novel,
Jauh sebelumnya, ketika Sang Ardhanareswari harus pulang menghadap Sang Hyang Widdi, Singasari dikepung ampak-ampak yang turun dari beberapa tempat, dari Arjuno di arah barat bahkan Semeru yang cukup jauh di arah timur ikut memberikan sumbangannya. (Hariadi, 2013: 120)
Seorang yang lain duduk di atas dampar yang lebih rendah tetapi berukir indah, yang juga merupakan hak gadis cantik itu karena ia Sekar Kedaton Majapahit, yang karena kedudukannya sebagai putri raja terlahir dari permaisuri, ke depan ia akan amat menentukan ke arah mana perjalanan Negara Majapahit sepeninggal Prabu Hayam Wuruk atau apabila Sang Prabu memutuskan lengser keprabon, misalnya karena menyerahkan diri sepenuhnya untuk mengabdikan diri pada agama yang dianut. (Hariadi, 2013: 122)
“Di atas kita, Wijayarajasa berkata,” ada Hyang Widdi yang mengatur gerak hidup seluruh umat manusia. Kelahiran, perkawinan, dan kematian adalah kewenangan para dewa yang kita sembah dan kita percayai sebagai pengatur gerak semua kehidupan. Apa yang terjadi pada Kusumawardani adalah perkawinan. Apalah yang bisa dilakukan untuk menghalanginya apabila sudah menjadi kehendak para dewa di langit? Tidak ada.” (Hariadi, 2013: 546)
Berdasarkan kutipan di atas, menunjukkan di dalam penceritaan novel, ditemukan adanya sistem keagamaan yang dianut oleh masyarakat. Kutipan naskah novel menyatakan bahwa sebagian masyarakat menganut kepercayaan Hindu.
Adapun, bukti lain masyarakat Majapahit secara umum menganut agama Hindu yaitu Hayam Wuruk sebagai sang raja juga menjadi pelindung bagi pemeluk agama lain dengan memebentuk dewan khusus, kutipan dalam novel sebagai berikut;
Duduk di dampar yang disediakan khusus untuk mereka, Sang Dharmadyaksa Kasogatan dan Dharmadyaksa Kasaiwan tidak terlihat terlalu banyak berbicara.
Dharmadyaksa Kasogatan yang mengenakan jubah berwarna kuning pucat sibuk berkomat-kamit membaca Tripitaka sambil membuat butir-butir tasbih di tangannya. Pun demikian dengan Dharmadyaksa Kasaiwan tidak henti-
commit to user
hentinya menggunakan doa dan pujian sebagaimana ajaran agama Hindu Syiwa yang dianutya. (Hariadi, 2013: 176)
Berpijak pada kutipan novel di atas, maka dapat diketahui bahwa Hayam Wuruk membentuk dewan khusus seperti Dharmadyaksa Kasaiwan untuk agama Siwa Budha, dan Dharmadyaksa Kasogatan bagi agama Budha. Kemudian keduanya dibantu pejabat keagamaan yang disebut Dharma Upapatti jumlahnya sesuai kebutuhan. Pejabat keagamaan yang dibentuk Hayam Wuruk mampu menciptakan rasa toleransi antar umat beragama pada masa kejayaan kerajaan Majapahit.
Adapun, masyarakat Majapahit yang hidup di sekitar kerajaan, masih percaya terhadap dewa-dewa, kutipan dalam novel sebagai berikut;
Ketampanan Bhre Matahun bisa diibaratkan Dewa Kamajaya sementara Dyah Madudewi banyak disebut sebagai penjelmaan Kamaratih. (Hariadi, 2013: 656) Berpijak pada kutipan novel di atas, maka dapat diketahui bahwa masyarakat Majapahit yang tinggal di sekitar istana pada umumnya masih percaya kepada dewa- dewa, seperti Dewa Kamajaya. Mereka masih mempercayai bahwa Dewa Kamajaya sebagai dewa cinta dalam metologi Hindu yang beristrikan Dewi Kamaratih.
Masyarakat Majapahit masih banyak mempercayai tempat-tempat yang dianggap suci atau keramat dan masih melakukan ritual khusus, kutipannya sebagai berikut;
Di patirtan, tempat menyepi dan mengheningkan cipta, Wikramawardana justru tak mampu menghapus gundah hatinya. Sungguh amat sakit saat angan- angan yang terlanjur dibangun menjulang tinggi tiba-tiba ambruk. (Hariadi, 2013: 495)
Mahapatih Gajah Enggon sering menahan untuk tidak tidur sampai waktu beranjak dini hari dalam rangka laku tirakat atau berprihatin. (Hariadi, 2013:
503)
Menurut desas-desus yang beredar, istri termuda Raden Wijaya yang menjadi biksuni itu telah mencapai derajat arhat yang sangat tinggi karena mampu berjalan di atas air dan duduk bersila di salah satu lembar daun teratai.
Kemampuan Rajapadni Gayatri yang luar biasa itu diyakini kebenarannya karena beberapa bangunan pendukung yang dibangun atas perintahnya masih terwat dengan baik dan bahkan diperbaharui. (Hariadi, 2013: 826)
Di tepi patirtan dibangun menara panggung dari bambu yang disebut dengan nama paglak. Panggung paglak semua berjumlah cukup banyak yang digunakan menabuh gamelan, konon untuk mengiring para emban yang menari di tengah-tengah telaga. Oleh puja mantra yang dilepas Rajapadni, menjadi
commit to user
tidak masalah bagi para penari itu untuk melaksanakan tugasnya sambil melayang terbang. Puja mantra Rajapadni menyebabkan mereka kehilangan bobot. (Hariadi, 2013: 826)
Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa masyarakat Majapahit masih banyak yang mempercayai adanya tempat-tempat khusus yang dijadikan sebagai tempat suci atau keramat dan masih melakukan ritual khusus seperti, patirtan, laku, arhat, dan panggung paglak. Hal tersebut digambarkan melalui tokoh-tokoh yang melakukannya di dalam novel.
2) Sistem Nilai dan Pandangan Hidup
Filosofi pandangan hidup masyarakat Majapahit yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedatoni berkaitan dengan pembelajaran hidup adalah berani mengucap janji atau sumpah, karena dalam setiap keberhasilan memimpin memerlukan belajar dan bekerja keras, berikut kutipannya;
Pamanmu Gajah Mada amat menghayati hal itu. Itulah sebabnya dalam mengabdikan diri pada negara, pamanmu sampai mengumandangkan Hamukti Palapa di Bale Manguntur di hadapan nenek dan kakekmu, bersumpah untuk berprihatin sepanjang waktu, bahkan dengan tidak kawin. (Hariadi, 2013: 38) Dari kutipan novel di atas, maka dapat diketahui bahwa, pandangan hidup masyarakat Majapahit adalah berjanji untuk belajar bekerja keras untuk mencapai keberhasilan dan cita-cita hidup adalah kunci keberhasilan, dengan belajar dan bekerja keras, maka segala ketidakmungkinan dapat menjelma dalam setiap diri manusia. Sumpah atau janji yang diucapkan oleh Gajah Mada disebut dengan Hamukti Palapa. Sosial budaya masyarakat Majapahit yang tercermin dalam tokoh Gajah Mada sangat berpengaruh terhadap sikap dan pola pikir masyarakat Majapahit.
Adapun, masyarakat Majapahit memiliki toleransi beragama yang diberlakukan secara ketat pada zaman Gajah Mada, kutipan sebagai berikut;
Di sudut terpisah dan berhadapan langsung dengan tempat pembakaran layon, para pemuka agama dari dua agama besar yang hidup rukun di bawah naungan Tripaksa sangat larut dalam memuja doa mantra mengiringi perjalanan mantan Raja wanita Sri Gitarja yang telah dipanggil kembali menghadap pencipta-Nya.
(Hariadi, 2013: 219)
Berpijak dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa pandangan hidup masyarakat Majapahit adalah memiliki toleransi beragama yang cukup tinggi terbukti
commit to user
ketika para pemuka agama dari dua agama besar yang hidup rukun di bawah naungan Tripaksa. Tripaksa dari istilah Jawa yang berarti toleransi beragama yang diberlakukan secara ketat di pada masa zaman Gajah Mada. Sosial budaya masyarakat Majapahit yang memiliki dua agama Hindu dan Budha membuat mereka hidup rukun saling berdampingan adalah pencerminan prinsip hidup masyarakat Majapahit yang tercermin melalui tokoh Gajah Mada dan Hayam Wuruk sebagai pemimpin Kerajaan Majapahit.
3) Upacara Keagamaan a) Abiseka
Masyarakat Majapahit yang mayoritas beragama Hindu mengenal beberapa upacara keagamaan seperti Abiseka, kutipan dalam novel sebagai berikut;
Raden Kudamerta yang bernama abiseka Wijayarajasa Hyang Parameswara dan juga disebut Wijayarajasa Sang Apanji Wahninghyun menyerahkan persoalan yang akan dibicarakan sepenuhnya kepada istrinya. (Hariadi, 2013:
142)
Abiseka adalah upacara dalam agama Hindu yang dilakukan dengan cara mandi dengan air suci. Masyarakat Majapahit melakukan upacara keagaman abiseka untuk upacara penobatan yang dilambangkan dengan memercikkan air suci di atas kepala seseorang.
b) Srada
Upacara Srada adalah istilah dari bahasa Jawa yang disebut pesta rakyat semacam sekaten. Pengikat hubungan yang kuat tersebut dilakukan dengan cara menikahkan para adipati dengan keluarga raja. Guna mengawasi tingkat kesetiaan adipati, maka setiap 12 tahun sekali dilakukan upacara srada. Upacara ini adalah bentuk penghormatan terhadap arwah nenek moyang leluhur. Upacara Srada dalam novel dipersembahkan untuk mengenang kematian Biksuni Gayatri, berikut kutipannya;
Berbagai macam hiburan dan tontonan digelar tujuh hari tujuh malam di Lapangan Bubat tidak ubahnya pasar malam yang digelar di bulan karwa atau tak kalah pula dengan upacara srada yang dipersembahkan untuk mengenang kematian Biksuni Gayatri. (Hariadi, 2013: 145)
c) Upacara Pitra Yadnya (Ngaben)
Masyarakat Majapahit mayoritas menganut kepercayaan agama Hindu. Dalam agama Hindu upacara penghormatan untuk orang telah meninggal disebut dengan Upacara Pitra Yadnya (Ngaben), kutipan dalam novel sebagai berikut;
commit to user
Di bawah aba-aba yag dipimpin dengan suara sangat lantang oleh Mahapatih Gajah Enggon, penghormatan kepada layon mantan Prabu Putri diberikan.
Selanjutnya beberapa orang prajurit dengan bahu-membahu mengangkat peti ke atas tumpukan kayu yang telah disediakan dalam jumlah berlimpah untuk menjamin pembakaran layon itu berlangsung dengan sempurna. Meletakkan gendaga layon ke atas tumpukan kayu itu bukanlah pekerjaan yang gampang dan harus amat hati-hati. Untuk menjaga jangan sampai peti terguling, beberapa untai dadung digunakan mengikat peti itu dengan erat. (Hariadi, 2013: 218)
Berpijak dari kutipan di atas, masyarakat Majapahit melakukan upacara Pitra Yadnya (Ngaben) kepada layon mantan Prabu Putri Sri Gitarja. Pitra artinya arwah manusia yang sudah meninggal, sedangkan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Pitra Yadnya (Ngaben) adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dilaksanakan dengan tujuan untuk penyucian dan meralina (kremasi) serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran agama Hindu.
d) Pahargyan
Masyarakat Majapahit melakukan upacara keagamaan Pahargyan untuk melakukan penghormatan, kutipanya sebagai berikut;
Soal pahargyan, beberapa hari atau pekan yang akan datang akan diselenggarakan pahargyan itu. (Hariadi, 2013: 529)
Upacara keagamaan Pahargyan yaitu upacara keramaian pengantin atau acara resepsi pengantin. Dalam novel tercermin kegiatan upacara keagamaan pahargyan dalam upacara penghormatan pengantin baru antara Dyah Kusumarwani dengan Senopati Kuda Narapadya.
b. Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial 1) Kekerabatan dan Perkawinan
Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam masyarakat majapahit masih menganut sistem kekerabatan Jawa, berikut kutipannya;
“Nenek, apakah benar aku sekarang seorang prabu putri?” tanya Sekar Kedaton dengan suara amat santun. (Hariadi, 2013: 5)
“Bagaimana menurut Paman?” tanya Prabu Putri Sekar Kedaton, “apakah Paman juga sependapat dengan Eyang Putri, aku sekarang seorang prabu putri?” (Hariadi, 2013: 5)
commit to user
Dalam kutipan di atas, terdapat penggambaran sistem kekerabatan masyarakat Majapahit yang masih menganut sistem kekerabatan Jawa. Penyebutan kata nenek, paman dan eyang putri dalam novel yang terjadi pada masyarakat Majapahit memiliki hubungan atau sistem kekerabatan dari pihak keluarga istana, dimana nenek merujuk pada generasi di atas tercermin dalam tokoh Ibu Suri Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa.
Sedangkan paman merujuk pada generasi orang tua tercermin dalam tokoh Sang Hamancanagari.
Adapun, bagi masyarakat Majapahit istilah sanak sedherek dalam sistem kekerabatan masih dipergunakan, kutipannya yaitu;
Dalam pemberontakan yang dilakukannya, Sora terbunuh. Ikut terpangkas nyawanya antara lain Juru Demang dan Gajah Biru. (Hariadi, 2013: 261) Tidak ada orang lain yang terlahir menjadi kembaran lelaki yang berani memutuskan hidup sendiri tanpa istri, lelaki yang dengan penuh keyakinan tanpa keraguan sanggup menggelendang Rakrian Kembar ke alun-alun karena berani melecehkan sumpahnya, sumpah sakti yang ia kumandangkan di Tatag Rambat Bale Manguntur, yang diucapkan langsung di hadapan kedua Prabu Putri, Sri Gitarja Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani dan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa, disaksikan pula oleh Arya Tadah. (Hariadi, 2013: 262) Penjelasan kutipan di atas menunjukkan istilah sanak sedherek dalam masyarakat Majapahit masih dipergunakan dalam sistem kekerabatan mereka. Sanak sedherek merupakan istilah untuk menyebut sistem kekeluargaan di luar hubungan darah. Dalam novel menunjukkan sistem kekerabatan seorang Juru Demung dan Gajah Biru adalah pendukung Raden Wijaya ketika mendirikan negara Majapahit. Tokoh Arya Tadah juga menunjukkan sistem kekerabatan karena Arya Tadah merupakan seorang Mahapatih yang mendampingi pemerintahan Tribuanatunggadewi Jayawisnuwardani.
2) Asosiasi dan Perkumpulan
Masyarakat Majapahit khususnya kaum laki-laki memiliki kebiasaan unik, yaitu berkumpul, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan melakukan perkumpulan olah kanuragan. Perkumpulan dilakukan di padepokan-padepokan yang didirikan oleh ahlinya. Sistem perkumpulan dapat dilihat pada munculnya olah kanuragan dan perkumpulan sekelompok prajurit, berikut kutipannya;
Di usia yang tidak lagi bisa dibilang muda, Mahisa Sura memiliki kemampuan olah kanuragan yang tidak bisa diremehkan. (Hariadi, 2013: 12)
commit to user
Gajah Enggon adalah mantan prajurit dari kesatuan khusus yang amat terkenal karena terbukti telah banyak sekali membuat jasa, antara lain menyelamatkan Raja Jayanegara dari pemberontakan yang dilakukan para Dharmaputra Winehsuka yang dipimpin oleh Rakrian Kuti. (Hariadi, 2013: 81)
Bertolak dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa masyarakat Majapahit khususnya kaum laki-laki memiliki kegemaran atau kebiasaan berkumpul, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan ilmu olah kanuragan dan membentuk sekelompok prajurit dari golongan Arya. Dengan bekal ilmu olah kanuragan yang dimiliki oleh masyarakat Majapahit membuat seseorang terlihat kuat dan tidak bisa diremehkan, tercermin pada sosok Mahisa Sura. Selain itu perkumpulan yang terdapat di masyarakat Majapahit yaitu sekelompok prajurit yang diberi nama Dharmaputra Winehsuka. Pararaton hanya menyebutkan bahwa para Dharmaputra disebut sebagai pengalasan winehsuka, yang artinya pegawai istimewa yang disayangi raja.
Adapun dalam kerajaan Majapahit masyarakat Majapahit masih memiliki sebuah tingkat atau strata dalam suatu wilayah tertentu seperti kademangan, berikut kutipannya;
Paling tidak, Jalak Pangging bermimpi membawahi sebuah wilayah setara perdikan atau kademangan. (Hariadi, 2013: 550)
Penjelasan dari kutipan di atas, masyarakat Majapahit masih memiliki sebuah tingkat atau strata dalam suatu wilayah tertentu seperti kademangan. Kademangan adalah sebuah wilayah, yang membawahi lurah (kalau sekarang setingkat kecamatan) yang dipimpin oleh seorang demang yang keberadaannya hanya mencakup aspek administratif. Kademangan disini menunjukkan aspek sosial budaya yaitu sistem asosiasi dan perkumpulan, karena setiap wilayah memiliki suatu perkumpulan wilayah yang disebut dengan kademangan.
3) Sistem Kenegaraan
Sistem kenegaraan masyarakat Majapahit yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton, yaitu dipimpin oleh Raja dan dibantu oleh pejabat birokrasi dalam menjalankan pemerintahan. Berikut kutipan dalam novel;
Kata demi kata telah diucapkan Permaisuri dengan amat urut, pun kata demi kata disimak dengan cermat. Mahapatih mencermati ucapan permaisuri dengan penuh minat. (Hariadi, 2013: 2)
commit to user
Para pejabat mulai dari Laksamana, hamancanagari, para dharmayaksa, dan segenap prajurit menyimak seolah tidak ingin satu kata pun lewat dan pendengaran mereka. (Hariadi, 2013: 2)
Bahkan, atas pengabdiannya yang luar biasa kepadaku selama ini, aku menganugerahkan kedudukan sebagai nyai temenggung wredha dengan nama Roga Mas. (Hariadi, 2013: 2)
Riuh dan hiruk pikuk pun terjadi ketika persiapan wisuda Sekar Kedaton akan dilakukan. Emban yang mendapat gelar nyai temenggung wredha dan diberi hadiah nama Roga Mas, emban yang sedang menjadi pusat perhatian, yang sejak awal membawa sebuah nampan yang terbungkus kain maju ke depan.
(Hariadi, 2013: 3)
Apa yang dilakukan Prabu Putri Sekar Kedaton masih menjadi pusat perhatian, juga ketika ia mendekat ke arah Wrddhamantri. (Hariadi, 2013: 6)
Petani yang berusia lebih muda itu termangu. Rasa ingin tahunya membanwanya bergeser mendekat. Ia berharap bisa menangkap apa yang dibicarakan Bhre Wirabumi dengan Jogoboyo yang berdiri di belakangnya.
(Hariadi, 2013: 12)
Di lingkungan Istana Majapahit pohon semboja ditanam berselang-seling dengan bramastana di sepanjang jalan yang membelah alun-alun yang menghubungkan pintu gerbang Purwakarta dengan bangunan Sang Panca Ri Wilwatikta. (Hariadi, 2013: 45)
Kemampuan Aryyatmaja Mpu Tanding, Aryya Wira Mandalika Mpu Nala, dan Patih Dami digabung menjadi satu ternyata tidak mampu menandingi kemampuan Gajah Mada yang hanya seorang. (Hariadi, 2013: 99)
Demikianlah seorang tandha yang bertugas menjaga lingkungan candi tiba-tiba membayangkan dari pintu-pintu candi akan keluar hantu-hantu yang menyemburkan api dengan tangan yang menari liar menggerakkan kuku- kukunya yang panjang. (Hariadi, 2013: 118)
Persiapan penyerbuan dan rancangan penyerbuannya telah disusun dengan amat teliti yang akan dipimpin langsung oleh Laksamana Nala. (Hariadi, 2013:
284)
Berpijak dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa masyarakat Majapahit masih dipimpin oleh Raja dan dibantu oleh pejabat birokrasi dalam menjalankan pemerintahan. Pejabat-pejabat yang tergambar dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton antara lain Mahapatih, Laksamana, hamancanagari, dharmadyaksa, temenggung, temenggung wredha, Wrddhamantri, Jogoboyo, Aryyatmaja Mpu Tanding, Aryya Wira Mandalika Mpu Nala, Patih Dami, tandha, Sang Panca Ri Wilwatikta, dan
commit to user
Laksamana Nala. Pejabat-pejabat dalam birokrasi Kerajaan Majapahit bagian dari kesatuan sosial budaya masyarakat Majapahit sangat berpengaruh terhadap perilaku hidup masyarakatnya, hal tersebut tercermin pada sikap selalu bermusyawarah dalam setiap menyelesaikan persoalan dan menghormati pemimpin tertinggi di kerajaan Majapahit salah satunya adalah Raja.
c. Sistem Pengetahuan 1) Pengetahuan Musim
Masyarakat Majapahit di samping bekerja pada sektor perdagangan, sebagian besar juga bermata pencaharian sebagai petani atau bercocok tanam, hal tersebut terkait kerajaan Majapahit disebut sebagai kerajaan agraris dan maritime. Mereka memiliki pengetahuan tentang musim yakni mengenali adanya musim bercocok tanam, berikut kutipan dalam novel;
Sebulan sebelumnya dengan bersama-sama pula dilakukan pembukaan lahan baru yang cukup luas agar nantinya, pada musim tanam yang akan datang, bisa ditanami padi meski masih tadah hujan karena belum ada saluran air menuju ke lahan baru itu. (Hariadi, 2013: 13)
Jogoboyo Mahisa Sura makin merasa kagum pada kemampuan langka yang dimiliki oleh tetangganya itu. Jauh sebelumnya, Kiai Praba Birawa juga menunjukkan beberapa kemampuan langkanya dalam hal ramal-meramal dan sering kali benar. Karena dianggap memiliki kemampuan khusus yang tak sembarang orang bisa, Kiai Praba Birawa sering menjadi paran jujugan bagi mereka yang butuh petunjuk, misalnya menghitung kapan sebaiknya padi mulai ditaman, juga menghitung hari baik kapan sebuah hajatan dilangsungkan. (Hariadi, 2013: 203)
Berdasarkan pada kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan musim yang dimiliki masyarakat Majapahit sangat penting, hal tersebut terkait bahwa masyarakat Majapahit yang disebut sebagai kerajaan agraris dan maritime memiliki sektor bercocok tanam dan perdagangan. Masyarakat Majapahit yang bekerja pada sektor bercocok tanam memiliki pengetahuan musim dengan mengenali adanya musim bercocok tanam yang ditandai dengan tadah hujan. Melalui tokoh Kiai Praba Birawa yang menjadi paran jujugan bagi masyarakat Majapahit yang membutuhkan petunjuk, misalnya menghitung kapan sebaiknya padi mulai ditaman, juga menghitung hari baik kapan sebuah hajatan dilangsungkan. Sosial budaya sebagian masyarakat Majapahit
commit to user
adalah sebagai petani, sehingga berpengaruh kepada pola pikir yng memperhatikan pergantian musim.
2) Flora dan Fauna
Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara terbesar yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Pada masa Kerajaan Majapahit yang tercermin dalam novel juga menunjukkan keanekaragamn flora dan fauna khususnya di daerah pulau Jawa. Berikut kutipannya;
Udara yang sangat panas meski matahari telah doyong ke arah barat tidak mampu menggangu minat dan perhatian setiap orang, tidak jelas apa penyebabnya serombongan burung emprit tiba-tiba terbang berhamburan dari pohon jambe yang menjadi sarangnya. (Hariadi, 2013: 1)
Kereta kuda milik Kiai Ander Denta itu sangat bermanfaat ketika disewa beramai-ramai ke kotaraja, misalnya untuk membeli benih palawija dan atau berbelanja ke pasar daksina. (Hariadi, 2013: 34)
Nun jauh, Bhre Wirabumi melihat seseorang sedang duduk di atas seekor kuda.
(Hariadi, 2013: 34)
Di lingkungan Istana Majapahit, bunga semboja ditanam di sepanjang jalan yang membujur ke Purwakarta berselang-seling dengan pohon tanjung, tetapi di luar istana semboja banyak dtanam di kuburan-kuburan. Di lingkungan Istana Majapahit pohon semboja ditanam berselang-seling dengan bramastana di sepanjang jalan yang membelah alun-alun yang menghubungkan pintu gerbang Purwakarta dengan bangunan Sang Panca Ri Wilwatikta. (Hariadi, 2013: 44)
Salah satu kandang berisi burung rajawali yang setiap hari menghabiskan seekor ayam sebagai santapannya. (Hariadi, 2013: 51)
Burung gagak yang tidak diketahui berada di sebelah mana itu yang memberi jawabnya. Suaranya yang menggetarkan udara bergerak dari arah kanan ke kiri, dengan demikian bisa diketahui burung gagak itu sedang terbang melintas di atas rumah mereka. (Hariadi, 2013: 164)
Di langit pula tiga ekor cataka sedang merasa takjub melihat begitu banyak orang yang harus mengalir menyuuri jalan-jalan kotaraja dengan arah tujuan ke alun-alun istana, alun-alun kama dan utama yang terletak di depan Bale Manguntur. (Hariadi, 2013: 208)
Hayam Wuruk akhirnya tahu, pihak yang menurunkan kelapa itu bukan manusia, tetapi seekor beruk yang agaknya memang terlatih untuk keperluan itu. (Hariadi, 2013: 244)
commit to user
Ada sayur bening daun bayam dan kacang panjang, juga ada botok mlanding, lalu sambal dengan lalapan daun kemangi. (Hariadi, 2013: 272)
Dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa Kerajaan Majapahit memiliki keanekaragaman Flora dan Fauna yang beranekaragam. Karena letak kerajaan Majapahit terdapat di Indonesia yang merupakan salah satu dari tiga negara terbesar yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna. Terbukti sejak periode protosejarah yang tercermin dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton yang menunjukkan adanya keanekaragaman Flora dan Fauna di Kerajaan Majapahit seperti; burung emprit, pohon jambe, palawija, kuda, bunga semboja, pohon tanjung, bramastana, burung rajawali, ayam, burung gagak, cataka, beruk, mlanding. Sosial budaya Kerajaan Majapahit dalam sistem pengetahuan Flora dan Fauna sudah tinggi, hal ini berpengaruh terhadap nilai budaya masyarakat Majapahit yang memiliki sifat melestarikan keanekaragaman Flora dan Fauna yang digambarkan dalam novel.
3) Waktu, Ruang, dan Bilangan
Sistem pengetahuan dalam hal ini berhubungan dengan perihal pengetahuan masyarakat Majapahit tentang waktu, ruang, dan bilangan. Dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton tercermin bagaimana masyarakat Jawa berbicara tentang waktu, angka, ruang, dan bilangan, kutipannya sebagai berikut;
Sanga turangga paksawani adalah tahun yang tidak mungkin Ayah lupakan sampai kapan pun. (Hariadi, 2013: 38)
Berbagai macam hiburan dan tontonan digelar tujuh hari tujuh malam di Lapangan Bubat tidak ubahnya pasar malam yang digelar di bulan karwa atau tak kalah pula dengan upacara srada yang dipersembahkan untuk mengenang kematian Biksuni Gayatri. (Hariadi, 2013: 145)
Sejak pranyatan kamardikan dikumandangkan Raden Wijaya di tanah Trowulan pada hari dan tanggal ri purneng karttikamasa pancadasi, berulang kali Majapahit diuji oleh makar yang lagi-lagi dilakukan atas nama nafsu ingin berkuasa. (Hariadi, 2013: 282)
Bukan usaha tandha itu yang menyebabkan ia berhasil menempatkan diri, melainkan karena prajurit melihat payung yang dibawanya adalah Songsong Kiai Mendung, itulah payung yang dulu pernah digunakan mewisuda Prabu Hayam Wuruk, bahkan Raden Wijaya ketika mendirikan Majapahit di tahun Ri Purneng Kartikkamasa Pancadasi. (Hariadi, 2013: 880)
commit to user
Dari kutipan di atas dapat diketahui pula bahwa sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat Majapahit mengenai waktu, ruang, dan bilangan sangat unik. Unik disini dijelaskan masyarakat Jawa pada umumnya menyukai sastra, bahkan untuk menyatakan bilangan-bilangan mereka menggunakan bahasa (kata) yang indah-indah sebagai pengganti angka dengan menggunakan bahasa Jawa. Berikut adalah sistem pengetahuan masyarakat Majapahit dalam pengetahuan waktu, ruang, dan bilangan yang terkutip dalam novel seperti; Sanga turangga paksawani, bulan karwa, tanggal Ri Purneng Kartikkamasa Pancadasi, tahun Ri Purneng Kartikkamasa Pancadasi. Sosial budaya masyarakat Majapahit dalam sistem pengetahuan waktu, ruang, dan bilangan sangat baik, hal ini berpengaruh terhadap nilai budaya masyarakat Majapahit karena merupakan masyarakat Jawa Kuno yang menyukai sastra.
4) Perilaku Antar Sesama Manusia (a) Adat Memanggil
Adat panggil memanggil dalam masyarakat Majapahit yang masih kental dengan istilah istana sentris budaya Jawa. Masyarakat Majapahit mempunyai nama- nama yang sudah diatur dalam kerajaan Majapahit, berikut kutipannya;
Setelah berteriak dengan suaranya yang lantang agar disimak oleh semua orang, emban itu duduk kembali. Ia benar-benar emban luar biasa karena sesungguhnya tidak seorang emban pun boleh duduk di kursi. (Hariadi, 2013:
1)
“Yang pertama,” lanjut Permaisuri,” melalui hak dan kedudukanku sebagai garwa padmi, aku memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan emban pelayan pribadiku dan untuk selanjutnya aku minta kepada siapa pun jangan sampai ada yang mengusiknya lagi. (Hariadi, 2013: 2)
Wirabumi tidak merasa perlu untuk menoleh karena ia merasa bukan pemilik nama Jinggo. (Hariadi, 2013: 7)
Sebaliknya, para petani Pendukuhan Bendasari merasa heran dan tidak kunjung memahami, mengapa Bhre Wirabumi, anak raja yang karena kedudukannya bisa saja diangkat menjadi raja menggantikan Sri Rajasanegara yang makin sakit-sakitan itu, mau-maunya bergaul dengan mereka. (Hariadi, 2013: 10) Sejak meninggalnya Mahamantrimukya beberapa tahun yang lalu, banyak sekali masalah yang muncul. (Hariadi, 2013: 13)
Padahal, baik Sunda Rupaka maupun Sekar Trini sangat ingin berada pada jarak dekat dengan anak Raja Majapahit itu, syukur kalau Bhre Wiabumi
commit to user
tertarik, syukur kalau berminat mengambilnya sebagai istri, syukur walau ditempatkan sebagai garwa ampil, lebih-lebih bila diletakkan pada derajat garwa padmi. (Hariadi, 2013: 16)
Ken Dedes yang berkedudukan sebagai permaisuri semula hanyalah seorang gadis desa, pun demikian dengan Biniaji, istri muda Sri Baginda Rajasanegara semula hanyalah seorang gadis anak Brahmana yang bertempat tinggal di padepokan terpencil menjorok masuk tak jauh dari Teluk Pangpang. (Hariadi, 2013: 16)
Namun, ayah kedua gadis itu juga sedang bingung karena lelaki penanggap kali ini benar-benar lelaki pilihan, anak Raja Majapahit, anak Sang Prabu Janeswara. (Hariadi, 2013: 23)
Bhre Wirabumi menyimak ucapan ayahnya dengan penuh perhatian. Dari mendiang Dang Acarya Narendra, Bhre Wirabumi mengetahui dengan lengkap bagaimana kisah Bubat itu terjadi. (Hariadi, 2013: 38)
“Bagaimana menurutmu?” Sang Prabu bertanya. “Apakah menurutmu Prabu Hayam Wuruk harus mengambil kedua gadis itu sebagai menantu? Lalu, bagaimana dan di mana Bhre Wirabumi menempatkan kakak beradik itu?
Apakah sebagai grawa padmi atau garwa ampean? Bagaimana pendapatmu, Raden Gajah?” (Hariadi, 2013: 50)
Kalau Kalagemet saja bisa menjadi Prabu Jayanegara atau Wiralandagopala, mengapa Wirabumi tidak boleh? (Hariadi, 2013: 65)
Dulu ketika Sanggramawijaya meninggal dunia, Majapahit sedang ditenggelamkan ke dalam kabut yang demikian tebal. (Hariadi, 2013: 119) Jogoboyo Mahisa Sura tanggap dan bersiul nyaring melalui menekuk lidah dan menghembuskanudara amat kuat. Seorang magersari yang dengan setia melayani kebutuhan Ki Jogoboyo bergegas berlari mendatangi isyarat itu.
(Hariadi, 2013: 202)
“Mari silahkan duduk, Rayi,” Biniaji menyela,” kebetulan kami semua sedang makan bersama. Mari aku silakan Rayi untuk ikut bergabung.” (Hariadi, 2013:
272)
“Punten dalem sewu, Ndara Putri,” ucapanya dengan sangat santun, “ hamba baru saja mendengar kabar yang aneh dan sulit dipercaya.” (Hariadi, 2013:
432)
Berpijak dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa adat memanggil harus sesuai peraturan dari kerajaan Majapahit yang menganut sistem Jawa, hal itu berpengaruh terhadap sikap perilaku dan norma masyarakat Majapahit yang harus ditaati oleh semua masyarakatnya. Sikap sopan santun dan taat dalam adat memanggil
commit to user
disebutkan dalam kutipan novel di atas seperti; emban, garwa padmi, wirabumi, Sri Rajasanegara, Mahamantrimukya, garwa ampil, biniaji, Janeswara, Dang Acarya Narendra, garwa ampean, Wiralandagopala, Sanggramawijaya, Magersari, Rayi, dan ndara putri..
(b) Panggilan Sayang
Kebiasaan masyarakat Majapahit menyatakan sayang pada anggota keluarga ataupun kepada orang yang disayang dengan menggunakan panggilan Jawa, kutipannya;
“Apakah tidak sebaiknya AnakMas pulang ke istana?” (Hariadi, 2013: 12)
“Tidak, jawabnya, “Kangmbok berwajah cantik. Menurutku Kangmbok memiliki wajah lebih cantik daripada wajahku.” (Hariadi, 2013: 22)
“Seharian kemarin hamba bersama Kangmas Wirabumi berada di Bendasari.
Kangmas bahu-membahu bersama penduduk desa itu membenahi pematang dan membuat saluran air. (Hariadi, 2013: 47)
“Apakah di hatimu sudah ada nama seseorang, Cah Ayu?” tanya suami mantan Prabu Putri Bhre Daha itu. (Hariadi, 2013: 143)
“Sejak kapan, Ndhuk?” ulang kakeknya. (Hariadi, 2013: 388)
“Oh, ngger, kesalahan apa yang telah kaubuat yang menyebabkan Raja begitu murka kepadamu? Bukankah aku dulu pernah beroesan agar berhati-hati, ditimbang dulu sebelum melangkah dan bertindak?” (Hariadi, 2013: 487) Penjelasan dari kutipan di atas bahwa kebiasaan masyarakat Majapahit yang memiliki panggilan sayang kepada seseorang yang disayang atau kepada anggota keluarganya dengan menggunakan istilah Jawa atau bahasa Jawa yang halus seperti;
AnakMas, Kangmbok, Kangmas, Cah Ayu, ndhuk, dan ngger. Bentuk sosial budaya yang tercermin kepada masyarakat Majapahit yang masih menggunakan istilah Jawa untuk panggilan sayang kepada anggota keluarga atau seseorang yang disayang menunjukkan rasa sayang dengan ucapan yang halus.
d. Bahasa
Bahasa dalam unsur kebudayaan yang di kemukakan oleh Koentjaraningrat ada dua macam, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa yang terdapat dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton ini adalah bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang sangat komunikatif.
commit to user
Kekuatan itulah yang membuat novel Langit Kresna Hariadi menjangkau semua kalangan, menginspirasi, dan berbobot. Meskipun dalam ceritanya memakai bahasa Indonesia, Langit Kresna Hariadi menghiasi novel ini dengan menggunakan beberapa dialog dalam bahasa Jawa Kuno.
1) Lisan
Bahasa Lisan adalah suatu bentuk komunikasi yang unik dijumpai pada manusia yang menggunakan kata-kata yang diturunkan dari kosakata yang besar bersama-sama dengan berbagai macam nama yang diucapkan melalui atau menggunakan organ mulut. Meskipun dalam novel keseluruhan memakai bahasa Indonesia, tetapi bahasa lisan yang digunakan juga yang memakai dialog dalam bahasa Jawa Kuno. Hal ini terdapat pada kutipan novel sebagai berikut;
“Sesorah dari Permaisuri,” teriak emban yang dalam sebulan terakhir ini sedang menjadi pusat perhatian. (Hariadi, 2013: 1)
“Itu lampor?” letup gadis itu amat takut dengan tangan gemetar. (Hariadi, 2013: 31)
“Telik sandi telah memberikan laporannya,” kata Prabu Hayam Wuruk.
(Hariadi, 2013: 36)
“Punten dalem sewu, Raden,” kata Gajah Enggon menyela,” apakah saat ini di hati sanubari Anakmas Prabu kembali muncul sebuah nama sebagaimana dulu ada nama Dyah Pitaloka?” (Hariadi, 2013: 72)
Dengan apa yang menimpa kedua waranggana kesukaannya itu Kangmas Bhre Wirabumi pasti sangat terpukul. (Hariadi, 2013: 107)
“Hujan deras yang terjadi semalam masih ditambah dengan munculnya sebuah cleret tahun menyebabkan rumah Jogoboyo ambruk,” Bhre Wirabumi yang menempatkan diri di sebelah Raden Gajah menjelaskan. (Hariadi, 2013: 111)
“Dengan menjadi istriku, dengan menjadi istri Sima Nendra, namamu nanti akan berubah menjadi Nyai Trusthi Nendra dan setiap malam aku akan selalu bersamamu di loka nendra. (Hariadi, 2013: 234)
“Ada apa?” balas Hayam Wuruk sedikit kaget melihat sikap adik kandungnya yang kehilangan suba sita. (Hariadi, 2013: 268)
“Apa dibawa dhemit ya? Ucap seorang emban. (Hariadi, 2013: 302)
“Menurut yang hamba dengar,” ucapnya dengan kata-kata tertata dan amat hati-hati,” Garwa Anem Sang Prabu telah mengambil Emban Ragaweni dari pakunjaran, dan berita yang telah mengejutkan lagi, Sang Prabu telah
commit to user
menjatuhkan perintah pada Mahapatih Gajah Enggon untuk mempersiapkan sebuah pesta perkawinan.” (Hariadi, 2013: 433)
“Hamba, Tuanku,” jawab Kiai Tura Bremi,” Kedatangan hamba menghadap Sang Prabu adalah kamera hangebun-ebun enjang hajejawah sonten, ditangi oleh anak lelaki hamba semata wayang, Kuda Narapadya yang tak mampu mengukur derajatnya yang berasal dari lumpur sawah, yang telah lancang berani mengangankan hidup berdampingan dengan Sang Kusumaning Ayu.”
(Hariadi, 2013: 512)
“Lalu, siapa lelaki yang demikian beruntung ketiban pulung dipilih Sekar Kedaton sebagai suaminya?” (Hariadi, 2013: 548)
“Jangan khawatir , kekasihku, aku akan menemanimu di alam pangratunan,”
lanjut Kuda Narapadya. (Hariadi, 2013: 839)
Bahasa lisan yang terdapat dari beberapa kutipan di atas adalah dialog masyarakat Majapahit dalam berbicara sehari-hari. Bahasa Jawa Kuno yang tercermin dalam bahasa Lisan yang digunakan masyarakat Majapahit antara lain; sesorah, lampor, telik sandi, punten dalem sewu, waranggana, cleret tahun, loka nendra, suba sita, dhemit, pakunjaran, hangebun-ebun enjang hajejawah sonten, Sang Kusumaning Ayu, ketiban pulung, dan pangratunan. Sosial budaya bahasa yang dipakai oleh masyarakat Majapahit dan keturunan Jawa menunjukkan sikap saling menghormati, kaidah dalam berbicara bahasa Jawa membawa diri manusia untuk selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Terhadap orang yang lebih tinggi statusnya, masyarakat Majapahit menunjukkan rasa hormat dan sungkan dengan menggunakan bahasa Jawa halus.
Penggunaan bahasa lisan peribahasa dan idiom Jawa juga diselipkan dalam novel ini, berikut kutipannya;
Persahabatan itu menyebabkan Emban Ragaweni keladuk kurang duga, ia kehilangan tata krama yang celakanya, Sri Sudewi membiarkan perbuatan itu.
(Hariadi, 2013: 362)
“Hari ini, kotaraja akan diguncang berita yang amat mengangetkan, bumi gonjang-ganjing geger genjik, semua orang akan kaget mendengar berita tentang Sekar Kedaton yang mengakhiri masa lajang. (Hariadi, 2013: 533) Dalam kutipan novel di atas terdapat penggunaan peribahasa Jawa yang merupakan betuk peribahasa yang berisi makna kiasan sebagai sarana mempermudah penggambaran suatu keadaan. Peribahasa Jawa yang tercermin dalam novel yaitu
commit to user
keladuk kurang duga yang memiliki arti kebablasan. Sedangkan penggambaran idiom dalam bahasa Jawa terdapat pada kutipan geger genjik yang diibaratkan seperti geger anak-anak babi. Jadi ungkapan idiom jawa geger genjik merupakan pilihan kata yang sempurna menjadi sebuah kalimat berirama yang menghasilkan idiom berarti keributan yang amat dahsyat. Sosial budaya bahasa yang dipakai oleh masyarakat Majapahit dan keturunan Jawa dengan penggunaan peribahasa dan idiom Jawa menunjukkan sikap kreativitas bahasa yang penuh dengan budaya Jawa.
2) Tulisan
Bahasa kedua menurut Koentjaraningrat adalah bahasa tulisan. Bahasa tulisan yaitu bahasa dalam wujud tulisan dengan memanfaatkan tulisan huruf sebagai unsur dasarnya. Meskipun dalam novel keseluruhan memakai bahasa Indonesia, tetapi bahasa tulisan yang digunakan juga yang memakai dialog dalam bahasa Jawa Kuno. Hal ini terdapat pada kutipan novel sebagai berikut;
Udara bagaikan bergolak uleng-ulengan berasal dari angin yang berputar di tengah alun-alun yang melibas dedaunan kering dan debu-debu. (Hariadi, 2013: 3)
Kekuasaan yag sejatinya tanpa batas, meski kekuasaan itu hanya sepenginang.
(Hariadi, 2013: 7)
Bhre Wirabumi yang sekujur tubuhnya penuh lumpur itu memandang para petani di sekelilingnya dengan wajah sumringah. (Hariadi, 2013: 13)
Pagelaran tayub di rumah Jogoboyo Mahisa Sura itu dilakukan sebulan sekali ketika hari dan pasaran Saniscara Paing tiba. (Hariadi, 2013: 15)
Tampak sekali Bhre Wirabumi amat menikmati pasugatan yang agak berbeda itu, pun demikian dengan para penduduk Bendasari yang jarang-jarang menonton tontonan berbentuk legendrian. (Hariadi, 2013: 17)
Sunda Rupeaka bergegas turun dari pembaringan dan membuka pintu. Dalam siraman cahaya lampu ublik yang mendrip-mendrip Sunda Rupaka dan adiknya siap menyimak apa yang akan disampaikan ayahnya. (Hariadi, 2013: 24) Para penabuh gamelan pengiring tayub itu rupanya memiliki kenangan buruk yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, ketika menjadi saksi betapa dahsyat kekuatan angin lesus ketika ber-triwikrama. (Hariadi, 2013: 28)
commit to user
Trengginas dan cekatan Bhre Wirabumi meloncat ke atas punggung kuda dan memacu kencang ke arah di mana seseorang menunggu di atas kudanya.
(Hariadi, 2013: 35)
Kini ia datang dengan bermanis-manis di mulut, sebagaimana kata pepatah, pasti ada udang di balik batu, udang ndhelik. (Hariadi, 2013: 484)
Dalam kedudukannya sebagai suami, Kuda Narapadya memang berhak mengendalikan perbuatan istrinya dan juga bisa memahani sikap cuucnya yang dalam melakukan sesuatu, seizin dan manut miturut apa kata suaminya.
(Hariadi, 2013: 605)
Kaget geger genjik poyang–payingan para emban penghuni istana kanan mendengar berita itu, yang juga sama sekali tidak menyangka bakal terjadi perebutan kekuasaan yang demikian dahsyat. (Hariadi, 2013: 865)
Bahasa tulisan yang terdapat dari beberapa kutipan novel di atas adalah cerminan dari bahasa masyarakat Majapahit dalam berbicara sehari-hari. Bahasa Jawa Kuno yang tercermin dalam bahasa tulisan yang digunakan masyarakat Majapahit antara lain; uleng-ulengan, sepenginang, sumringah, saniscara paing, pasugatan, ublik, mendrip-mendrip, triwikrama, trengginas, ndhelik, manut miturut, dan poyang- payingan. Sosial budaya bahasa yang dipakai oleh masyarakat Majapahit dan keturunan Jawa menunjukkan sikap saling menghormati, kaidah dalam berbicara bahasa Jawa membawa diri manusia untuk selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Terhadap orang yang lebih tinggi statusnya, masyarakat Majapahit menunjukkan rasa hormat dan sungkan dengan menggunakan bahasa Jawa halus itu tercermin dalam penggambaran bahasa tulisan yang diciptakan pengarang.
Adapun penggunaan bahasa tulisan peribahasa dan kiasan Jawa juga diselipkan dalam novel ini, berikut kutipannya;
Rambutnya panjang dan lurus melampaui pantat, matanya membelalak indah, ayunan tangannya gemulai dengan leher jenjang, dari pinggangnya nawon kemit. (Hariadi, 2013: 89)
Prameswari Sri Sudewi memiliki tubuh yang tinggi semampai dengan ayunan tangan yang lemah gemulai, lehernya jenjang, dan tatapan mata yang ndamar kanginan membuat iri siapa pun, apalagi Sri Sudewi memiliki kulit yang sangat bersih yang diperoleh melalui perawatan sepanjang hari dan tanpa henti.
(Hariadi, 2013: 183)
commit to user
Jika tidak senang pada seseorang, Emban Ragaweni bisa mencelakainya dengan cara nabok nyilih tangan. (Hariadi, 2013: 256)
Dalam kutipan novel di atas terdapat penggunaan peribahasa Jawa yang merupakan betuk peribahasa yang berisi makna kiasan sebagai sarana mempermudah penggambaran suatu keadaan. Keadaan bisa berupa fakta realitas yang tidak biasa terjadi, sindiran, sarkarme, dan suatu kenyataan yang paradoksial. Dirangkau dalam gaya bahasa, kata dan kalimat yang indah, lembut agar tidak mudah menyinggung perasaan orang namun mudah sebagai pengingat. Peribahasa Jawa yang tercermin dalam novel yaitu nabok nyilih tangan yang identik dengan lempar batu sembunyi tangan. Sedangkan penggambaran kiasan dalam bahasa Jawa terdapat pada kutipan nawon kemit merupakan kiasan bahasa Jawa yang berasal dari kata tawon kemit, jenis tawon yang memiliki pinggang kecil. Terdapat juga kiasan Jawa ndamar kanginan yang bermakna lampu sumbu tertiup angin. Sosial budaya bahasa yang dipakai oleh masyarakat Majapahit dan keturunan Jawa dengan penggunaan peribahasa dan kiasan Jawa menunjukkan sikap kreativitas bahasa yang penuh dengan budaya Jawa.
e. Kesenian
Kesenian merupakan salah satu unsur yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Kesenian yang terdapat dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton berupa kesenian lukis dan gambar, rias, seni musik, bangunan, dan kesusasteraan.
1) Lukis dan Gambar
Seni lukis merupakan suatu cabang dari seni rupa. Seni lukis adalah pengembangan lebih jauh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga domensi untuk mendapat kesan tertentu. Dalam novel ini terdapat sebuah profesi masyarakat Majapahit menjadi juru sungging, berikut kutipannya;
Ketika itu, meski belum pernah bertemu secara langsung dengan anak gadis Prabu Maharaja Linggabuana dari Sunda Galuh, Hayam Wuruk benar-benar merasa telah jatuh cinta setelah melihat wujud gambar hasil rautan juru sungging yang dikirim ke Ciamis. (Hariadi, 2013: 68)
Pejelasan juru sungging yang terdapat pada kutipan di atas dalam bahasa Jawa berarti ahli lukis atau tukang ukir. Pada masa kerajaan Majapahit juru sungging sangat
commit to user
berfungsi sebagai pelukis rautan wajah seseorang. Hal itu menunjukkan kreativitas masyarakat Majapahit dalam seni lukis dan menggambar sangatlah tinggi.
2) Tata Rias
Tata rias merupakan seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan. Dibutuhkan alat-alat yang dapat mendukung terciptanya tata rias tersebut. Berikut alat-alat rias yang digunakan masyarakat Majapahit yang tergambar di dalam novel;
“Apakah aku kurang cantik?” tanya Rupaka di depan benggala pada diri sendiri. (Hariadi, 2013: 21)
Air diletakkan di kemaron dibiarkan sampai tenang barulah digunakan berkaca.
(Hariadi, 2013: 21)
Alat-alat rias yang masih digunakan oleh masyarakat Majapahit pada umumnya di wilayah kerajaan seperti benggala dan kemaron. Bentuk sosial dan budaya dengan perlengkapan yang masih tradisional yang tercermin dalam masyarakat Majapahit menunjukkan kesan seadanya dan sederhana.
3) Bangunan
Selanjutnya bangunan dalam unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat ini merupakan kesenian. Bangunan yang digambarkan dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah bangunan-bangunan yang masih ada pasa masa kerajaan Majapahit dengan menggunakan istilah Jawa, berikut kutipan dalam novel;
Akan tetapi, emban ini, karena kedekatannya dengan istri utama raja, boleh duduk di dampar, bahkan dampar yang dibuat khusus untuknya sejajar tingginya dengan dampar milik permaisuri. (Hariadi, 2013: 1)
Pameran kekuatan yang ia lakukan di luasnya alun-alun halaman balaiurang hingga ke Purawaktra beberapa hari yang lalu adalah untuk mengingatkan pada siapa pun agar jangan menganggapnya tidak ada. (Hariadi, 2013: 2) Saat dari sebuah ujung terdengar tepuk tangan, bagai gayung bersambut suasana di Tatag Rambat Bale Manguntur itu menjadi ingar-bingar. (Hariadi, 2013: 4)
Yang penting peralatan itu harus terlindung dari hujan. Peralatan itu pun disimpan di pringgitan. (Hariadi, 2013: 21)
Sepasang pintu berbentuk bentar yang disebut Waringin Lawang juga tenggelam. (Hariadi, 2013: 119)
commit to user
Kabut yang tebal itu melayang di Masigit Agung menyebabkan tidak ada kegiatan apa pun di tempat itu, bahkan obor yang dipasang di sepanjang tepi jalan tidak mampu mewartakan keberadaannya. (Hariadi, 2013: 163)
Bhre Wirabumi bergegas akan menuju pakiwan untuk membersihkan tubuhnya yang kotor, tetapi sekali lagi perhatiannya tersita oleh suara seekor kuda yang berderap kencang bagaikan kekurangan waktu. (Hariadi, 2013: 202)
Dengan tidak mengurangi kecepatan, ia membalap dan baru menarik kendali kudanya setelah berada di depan regol rumah Jogoboyo Mahisa Sura. (Hariadi, 2013: 202)
Berawal pada suatu hari ketika Sekar Kedaton Kusumawardani ingin melihat secara langsung perbaikan Candi Bajang Ratu yang retak diguncang gempa, empat orang prajurit mengawalnya yang dimpin langsung oleh Senopati Kuda Narapadya. (Hariadi, 2013: 296)
“Sudah, Sri Baginda, Dharmadyaksa Kasaiwan sudah hadir. Beliau sekarang sedang berada di sanggar pamujan dan siap melaksanakan tugasnya.” (Hariadi, 2013: 506)
Dari beberapa kutipan diatas yang terdapat dalam novel penggambaran bangunan-bangunan bersejarah yang berada di kerajaan Majapahit masih menggunakan istilah-istilah Jawa. Wujud bangunan yang digambarkan dalam novel antara lain berupa dampar, purwaktra, Tatag Rambat Bale Manguntur, pringgitan, bentar, Masigit Agung, pakiwan, regol, Candi Bajang Ratu, dan sanggar pamujan. Sosial budaya masyarakat Majapahit yang beragam sangat berpengaruh terhadap perilaku dan pola pikir masyarakat Majapahit. Perpaduan arsitektur yang masih kuno atau tradisional sebagai tempat aktivitas sehari-hari masyarakat Majapahit merupakan salah satu bukti bentuk kerukunan yang terjalin selama ratusan tahun, seperti pada kutipan novel di atas.
4) Seni Musik
Seni musik yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah tembang dan gamelan, kutipan dalam novel sebagai berikut;
Aku ingin menikmati tembang yang dialunkan Rupaka dan Trini sampai terkantuk-kantuk, apalagi bukankah malam nanti Paman pasti menyediakan wedang jahe kesukaanku? (Hariadi, 2013: 12)
Suara gamelan sederhana mengalun di rumah Jogoboyo Mahisa Sura. (Hariadi, 2013: 14)
Pagelaran terus bergerak menuju malam, alunan gending alusan mengiringi gerak tarik dan adakalanya berubah menjadi sebuah legendrian sederhana yang bertutur tentang Panji Asmarabangun dan Sekar Taji. (Hariadi, 2013: 17)
commit to user
Tidak boleh terlalu larut pada hal-hal yang mudah memancing air mata.
Bukankah jenis tembang tertentu, megatruh, misalnya, sangat mudah memancin tangis? (Hariadi, 2013: 37)
Masyarakat Majapahit sebagian besar menyukai seni, terutama tembang jawa.
Seni musik tembang Jawa didendangkan melalui seni musik seperti gamelan. Seni sebagai bagian sosial budaya masyarakat Majapahit sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Istilah-istilah yang digunakan dalam seni musik Jawa antara lain; tembang, gamelan, alunan gending alusan, legendrian, dan megatruh.
5) Kesusastraan
Kesenian yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah kesusastraan berupa mitos dan jagad pewayangan, kutipannya sebagai berikut;
Hari itu, sepanjang jalan antara Lapangan Bubat menuju istana telah dipenuhi rakyat yang berjejal-jejal yang ingin melihat dari dekat rombongan temanten dari Ciamis, terutama calon temanten putri yang konon memiliki kecantikan tak kalah dari kecantikan Batari Supraba. (Hariadi, 2013: 138)
Agaknya Sri Gitarja dalam keadaan senang ketika Dewa Yamadipati datang untuk mencabut nyawanya. (Hariadi, 2013: 169)
Para hantu yang menempati pohon itu serentak merasakan udara panas yang melebihi derajat panas kawah jonggring salaka, sementara berbagai berbagai jenis ikan yang berenang ke sana kemari mengalami kebahagiaan yang luar biasa mendapatkan tontonan yang jarang-jarang terjadi. (Hariadi, 2013: 827) Adapun penjelasan dari kutipan novel di atas adalah bentuk kesenian berupa kesusastraan masyarakat Majapahit. Bentuk kesusastraan yang tergambar dalam novel antara lain Batari Supraba, Dewa Yamadipati, dan kawah jonggring salaka. Sosial budaya kesusastraan tercermin dalam masyarakat Majapahit yang beragam sangat berpengaruh terhadap perilaku dan pola pikir masyarakat Majapahit. Kesusastraan bagi masyarakat Majapahit merupakan mitos atau penggambaran tokoh jagad wewayangan yang dapat diteladani kisah maupun keyakinan akan dewa-dewa di agama Hindu dan Budha yang mereka anut.
f. Sistem Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian merupakan tujuh unsur budaya yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Corak masyarakat Majapahit dapat dibedakan dari segi sumber
commit to user
penghidupannya. Jenis-jenis mata pencaharian pokok adalah bercocok tanam atau bertani, pegawai pemerintahan, buruh atau pegawai, dan nelayan atau perikanan.
Sistem mata pencaharian yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah, bercocok tanam atau bertani, pegawai pemerintahan, buruh atau pegawai, dan nelayan atau perikanan.
1) Becocok Tanam atau Bertani
Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara maritim. Mata pencaharian sebagian masyarakat Majapahit adalah bercocok tanam atau bertani. Hasil pertaniannya adalah padi, lada, dan bahan makanan lainnya, berikut kutipannya;
Wirabumi melanjutkan kegiatannya hingga peluh terperas tuntas dari sekujur tubuhnya. Cangkulnya terus mengayun dan mengayun mebolak-balik tanah basah berlumpur. Tanah sawah itu nantinya akan ditanami padi. Sampai sejauh itu, tanah sawah itu hanya mengandalkan hujan. Tidak ada hujan, sawah tidak bisa ditanami. (Hariadi, 2013: 7)
Sebaliknya, para petani Pendukuhan Bendasari merasa heran dan tidak kunjung memahami, mengapa Bhre Wirabumi, anak raja yang karena kedudukannya bisa saja diangkat menjadi raja menggantikan Sri Rajasanegara yang makin sakit-sakitan itu, mau-maunya bergaul dengan mereka. (Hariadi, 2013: 10)
“Dengan jawabanmu itu kau berniat menjelaskan anakku terjun langsung melakukan hal yang sama dengan para petani itu? Turun ke lumpur mencangkul tanah, ikut membajak, dan angler? Semua yang dilakukan petani, Wirabumi lakukan?” (Hariadi, 2013: 48)
“Pertama yang harus dilakukan adalah mengairi sawah sampai berlimpah- limpah. Selain itu, sawah yang telah dibasahi, dibajak. Kami menyebutnya di- singkal karena tanah dibolak-balik menggunakan singkal yang ditarik oleh kerbau. Selanjutnya, tanah diairi lagi dan diratakan. Kami menyebutnya angler karena menggunakan angler yang memiliki ruji-ruji mirip sisir itu. selanjutnya, benih padi yang semula disemaikan di tempat terpisah ditanam seperti yang kita lakukan sekarang. Berikutnya, tanaman padi selalu dijaga kebutuhan airnya sampai kemudian masa panen tiba tiga bulan kemudian.” (Hariadi, 2013: 640)
Mata pencaharian bertani sebagai bagian dari sosial budaya bertani masyarakat Majapahit sangat berpengaruh terhadap sifat, pola hidup dan pola pikir masyarakatnya.
Sifat sabar dan tekun, serta pola hidup dan pola pikir sederhana yang dimiliki petani dipengaruhi oleh pola tanam dalam pertanian yang teratur. Diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk menunggu masa panen. Kehidupan perekonomian Kerajaan Majapahit menitikberatkan pada bidang pertanian karena Majaphit merupakan negara agraris.
commit to user 2) Pegawai/Petugas Pemerintah
Pegawai pemerintahan daerah merupakan mata pencaharian yang terdapat dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton. Pegawai daerah ini adalah mata pencaharian seorang Mahisa Sura. Mahisa Sura adalah seorang Jogoboyo dan Jogotirto. Hal ini sesuai dengan kutipan dalam novel sebagai berikut;
Kedudukanya sebagai jogoboyo-lah yang menyebabkan Mahisa Sura harus tetap menjaga kebugara tubuhnya. (Hariadi, 2013: 12)
“Jogotirto Pedukuhan Ngale bertindak semena-mena, Tuanku,” jawab petani itu sambil kembali menyembah. (Hariadi, 2013: 78)
Sebagian kecil masyarakat Majapahit ada yang mengabdikan diri bekerja sebagai pegawai pemerintahan seperti menjadi seorang Jogoboyo dan Jogotirto.
Jogoboyo disini merupakan orang yang mengatur penjagaan keamanan di Kerajaan Majapahit. Sedangkan Jogotirto merupakan petugas pemerintahan di Kerajaan Majapahit yang mengatur pembagian air sawah. Adapun pegawai atau petugas pemerintahan yang juga terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton adalah seorang pekatik. Pekatik disini merupakan petugas atau buruh pemerintahan di Kerajaan Majapahit yang bertugas merawat kandang kuda di Kerajaan. Hal ini sesuai dengan kutipan dalam novel sebagai berikut;
“Jika Anakmas Prabu menginginkan,” Gajah Enggon menawarkan, “seorang pekatik akan mengirim kuda itu ke kandang kuda istana. (Hariadi, 2013: 75)
3) Nelayan atau Perikanan
Majapahit merupakan negara agraris dan juga sebagai negara Maritim.
Kedudukan sebagai negara maritim tampak dari kesanggupan angkatan laut kerajaan itu untuk menanamkan pengaruh Majapahit di seluruh nusantara. Terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton wilayah nusantara Kerajaan Majapahit meliputi wilayah seluruh Jawa, pulau Sumatra (Melayu), Pulau Kalimantan (Tanjungnegara), Semenanjung Melayu (Malaka), sebelah timur Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian (Barat). Penguasa daerah Blambangan adalah Bhre Wirabumi, anak dari prabu Hayam Wuruk dari istri keduanya. Blambangan adalah nama lain dari daerah Banyuwangi.
Blambangan sendiri berpusat di suatu pelabuhan nelayan kecil. Sebagian besar masyarakat Blambangan juga bermata pencaharian sebagai nelayan, karena terletak di sekeliling pesisir. Berikut kutipan yang terdapat dalam novel;
commit to user
Pada saat yang demikian, Bhre Wirabumi memanfaatkan waktunya untuk banyak belajar tentang khasiat daun-daunan sebagai bahan obat. Kenangan anak kandung Hayam Wuruk terhadap kampung halaman ibunya menyebabkan pemuda tampan itu banyak bertanya bagaimana keadaan Blambangan setta bagaiman keadaan pelabuhan ikan Hamuncar yang selalu ramai oleh lalu lalang perahu-perahu besar dan kecil. Brahamana Prabaswara pun bercerita banyak hal. Lelki tua itu bercerita tentang para nelayan yang selalu panen sepanjang tahun, tentang ombak besar yang sering mencelakakan para nelayan atau bencana yang pernah terjadi di Blambangan pesisir selatan yang pernah disapu ombak besar setinggi pohon kelapa. (Hariadi, 2013: 814)
Sebagian kecil masyarakat Majapahit yang memiliki kekuasaan di Blambangan ada yang mengabdikan diri bekerja sebagai nelayan atau perikanan.
g. Sistem Peralatan Hidup atau Teknologi
Sistem peralatan hidup dan teknologi merupakan tujuh unsur kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Sistem peralatan hidup dan teknologi ini berhubungan dengan transportasi, peralatan komunikasi, peralatan konsumsi dalam bentuk wadah, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung atau perumahan, dan senjata.
Hal ini dapat terlihat pada kutipan novel sebagai berikut;
1) Transportasi
Kereta Kuda merupakan alat trasnportasi yang masih banyak digunakan masyarakat Majapahit pada jaman dulu, berikut kutipannya;
Di samping pedati yang ditarik sapi, Kiai Ander Denta juga memiliki kereta yang ditarik dua ekor kuda. Kereta kuda milik Kiai Ander Denta itu sangat bermanfaat ketika disewa beramai-ramai ke kotaraja, misalnya untuk membeli benih palawija dan atau berbelanja ke pasar daksina. (Hariadi, 2013: 34)
Bhre Wirabumi segera bersiul amat nyaring, ditujukan siulan itu pada kudanya yang sedang merumput di kejauhan. (Hariadi, 2013: 35)
Dipayungi sebuah songsong kebesaran bernama Kiai Udan Riwis, sebuah Rata Pralaya bergerak pelan ditarik oleh enam ekor kuda yang masing-masing di kiri kanan kereta dikawal oleh prajurit dari kesatuan kehormatan, itulah pasukan khusus Bhayangkara yang telah mencatatkan diri dalam berbagai pengabdian. (Hariadi, 2013: 214)
Transportasi sebagai bagian dari sosial budaya masyarakat Majapahit sangat berpengaruh terhadap pola hidup yang sederhana. Alat transportasi darat di kerajaan Majapahit jaman dahulu belum bermesin. Untuk menggerakkannya menggunakan
commit to user
tenaga hewan, seperti sapi, kerbau, kuda, keledai dan sebagainya. Alat transportasi Kerajaan Majapahit jaman dahulu bernama kereta, delman, gerobak, dan pedati.
2) Peralatan Komunikasi
Kehidupan masyarakat Majapahit yang terungkap dalam novel Menak Jinggo Sekar Kedaton, digambarkan sebagai masyarakat yang masih sederhana dan tradisional, berikut kutipannya;
Maka pagi itu istana disentakkan oleh suara sangkakala yang menjerit melengking, sebuah pertanda duka nestapa sedang terjadi. Sangkakala itu berlanjut dengan bau dupa dan berpikul-pikul kemenyan yang dibakar di tengah alun-alun. Tambur dan bende yang ditabuh berderap dengan nada khusus mengagetkan siapa pun yang mendengarnya, apalagi ketika angin sejuk berembus membawa bau sangat khas ke segala penjuru. (Hariadi, 2013: 170) Peralatan komunikasi yang digunakan dalam kutipan novel Menak Jinggo Sekar Kedaton di atas adalah tambur dan bende. Bende adalah sejenis gong kecil yang dapat dijumpai di hampir seluruh kepulauan Nusantara, dari Sumatera hingga Maluku dan Papua. Pada masa lalu, bende biasanya digunakan untuk memberikan penanda kepada masyarakat untuk berkumpul di alun-alun terkait informasi dari penguasa, untuk menyertai kedatangan raja atau penguasa ke daerah tersebut, atau menandai diadakannya pesta rakyat.
3) Peralatan Konsumsi dalam Bentuk Wadah a) Nampan
Nampan adalah sebuah wadah yang biasa digunakan untuk membawa piring dang gelas, biasanya digunakan pada masyarakat Majapahit, seperti kutipan berikut;
Emban yang mendapat gelar nyai temenggung wredha dan diberi hadiah nama Roga Mas, emban yang sedang menjadi pusat perhatian, yang sejak awal membawa sebuah nampan yang terbungkus kain maju ke depan. (Hariadi, 2013: 3)
Dari kutipan di atas, maka dapat diketahui bahwa alat konsumsi sebagai bagian sosial budaya masyarakat Majapahit berpengaruh terhadap pola hidup yang sederhana.
Hal tersebut ditunjukkan melalui alat konsumsi yang dipergunakan masyarakat Majapahit seperti terdapat pada kutipan novel di atas. Masyarakat Majapahit masih menggunakan alat konsumsi tradisional. Nampan adalah salah satu tempat tradisional
commit to user
untuk menyajikan makanan dan minuman. Nampan masih digunakan oleh masyarakat Majapahit. Hal ini terkait dengan Kerajaan Majapahit yang menganut budaya Jawa dan tradisional.
b) Bumbung
Bumbung adalah tempat minum yang terbuat dari bambu, biasanya digunakan pada masyarakat Majapahit, seperti kutipan berikut;
Seorang pemuda yang masih kerabat Jogoboyo Mahisa Sura keluar dari dalam rumah dengan membawa bumbung. (Hariadi, 2013: 17)
Mengacu pada kutipan di atas, maka bumbung adalah sebagai simbol peradaban dari suatu masyarakat yang tradisional. Bumbung sebagai salah satu alat konsumsi yang berfungsi untuk minum yang terbuat dari bambu, alat konsumsi yang merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat Majapahit berpengaruh pada pola hidup, semua masyarakat Majapahit menggunakan bumbung sebagai alat minum.
4) Pakaian dan Perhiasan
Pakaian adalah mahkota yang digunakan untuk menutupi badan. Dan perhiasan adalah sebuah benda yang digunakan untuk merias atau mempercantik diri. Pakaian dan perhiasan yang digunakan masyarakat Majapahit masih menunjukkan bagian dari perlengkapan pada acara-acara yang dianggap penting di Kerajaan Majapahit, berikut kutipannya;
Perlahan Permaisuri membuka selubung kain penutup itu dan terlihatlah sebuah mahkota yang akan menggiring kenangan siapa pun pada sosok yang pernah mengenakannya di rentang waktu puluhan tahun yang lalu. (Hariadi, 2013: 4)
“Mau ke mana?” tanya orang yang mengenakan kalung samir di lehernya itu.
(Hariadi, 2013: 184)
Tradisi berpakaian dan perhiasan merupakan bagian sosial budaya masyarakat Majapahit yang berpengaruh pada pola hidup dan pola pikirnya, hal tersebut digambarkan pada kutipan novel di atas bahwa semua masyarakat Majapahit di kalangan kerajaan memakai pakaian dan perhiasan untuk menunjukkan bahwa orang tersebut bagian dari orang penting di kerajaan Majapahit. Pakaian dan perhiasan yang tergambarkan dalam novel seperti samir dan mahkota. Kedua benda tersebut secara tradisional merupakan sebuah lambang bagi kekuasaan, legitimasi, keabadian, kejayaan, kemakmuran, kejayaan, dan kehidupan setelah kematian.