BAB II LANDASAN TEOR
5. Kurikulum SD 2013
a. Konsep kurikulum SD 2013
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajarn serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No. 20 Tahun 2003 tentang SPN). Kurikulum SD 2013 menekankan pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik secara holistik (seimbang). Kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap pertama
kali dikemukakan oleh Bloom (1965) dan sudah menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum sejak kurikulum 1973 (Kurikulum PPSP). Akan tetapi, dalam implementasinya pada umumnya guru-guru tidak mengembangkan kompetensi tersebut karena tidak ditagih dalam rapor sehingga tidak merupakan penentu kenaikan kelas atau syarat kelulusan. Pada kurikulum SD 2013 kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap ditagih dalam rapor dan merupakan penentu kenaikan kelas dan syarat untuk kelulusan sehingga guru-guru wajib mengimplementasikannya dalam pembelajaran dan penilaian (Widyastono, 2014: 119).
Secara konseptual kurikulum adalah suatu respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya. Secara yuridis kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan pada dasar filosofis bangsa dan keputusan yuridis dibidang pendidikan. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional maka pengembangan kurikulum haruslah berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa masa kini dan kehidupan bangsa dimasa mendatang (Daryanto, 2014: 1).
b. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, dan konseptual (Mulyasa, 2014: 64). Berikut akan dijelaskan landasan pengembangan Kurikulum 2013.
1) Landasan filosofis
a) Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
b) Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat. 2) Landasan yuridis
a) RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang Perubahan Metodologi Pembelajaran dan Penataan Kurikulum.
b) PP No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan c) INPRES Nomor 1 tahun 2010, tentang Percepatan
Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.
3) Landasan konseptual
a) Relevansi Pendidikan (link and match) b) Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
d) Pembelajaran aktif (student active learning) e) Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.
c. Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum difokuskan pada pembentukkan kompetensi dan karakter peserta didik berupa panduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang didemonstrasikan sebagai wujud pemahamannya terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual. Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan bahwa “ Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi”. Pada penjelasan Pasal 35 menyatakan bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.” Maka dari itu diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk “ Melanjutkan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan secara terpadu (Mulyasa, 2014: 65). Pencapaian tujuan ini tersebut menuntut perubahan pada aspek lain, terutama dalam implementasinya di lapangan.
Sukmadinata (dalam Widyastono, 20014: 38) menjelaskan prinsip kurikulum secara umum dan secara khusus. Prinsip kurikulum secara umum adalah sebagai berikut:
1) Prinsip relevansi yang meliputi relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal yakni semacam analisis horizontal yaitu kesuaian anatara komponen-komponen dalam kurikulum itu sendiri seperti tujuan, isi pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar serta minggu, bulan, semester yang sama dalam mata pelajaran yang sama. Relevansi eksternal maksudnya kesesuaian dengan tuntutan, kebutuhan, perkembangan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga kesesuaian antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lainnya.
2) Prinsip fleksibilitas artinya kurikulum memungkinkan terjadinya penyesuaian dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik, sekolah, kondisi dan potensi daerah.
3) Prinsip kontinuitas maksudnya semacam analisis vertikal. Artinya saling berkesinambungan isi antar semester, antarkelas, antarsatuan pendidikan dan antar jenjang pendidikan. Sebaiknya pengembangan kurikulum dilakukan secara serempak dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi.
4) Prinsip praktis atau efisiensi, artinya mudah dilaksanakan menggunakan peralatan dan biaya yang murah. Kurikulum
meskipun harus ideal, tetapi juga harus praktis. Prinsip efektifitas berarti meskipun murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan.
Prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan yang menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan.
2) Pemilihan isi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan. 3) Pemilihan proses pembelajaran yang mempertimbangkan
kecocokan bahan ajar, perbedaan individual anak, menciptakan pengembangan dalam diri anak, serta penerapan pendekatan pembelajaran aktif dan saintifik. 4) Pemilihan media dan alat pembelajaran yang tepat untuk
mendukung proses pembelajaran yang efektif. 5) Pemilihan kegiatan penilaian.
e. Standar Penilaian Dalam Kurikulum 2013 1) Pengertian Penilai
Kurinasih dan Berlin (2014: 47) mengatakan bahwa ada dua macam penilaian dalam kurikulum 2013, antara lain:
a) Penilain (assesment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajara peserta didik.
b) Penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran yang meliputi ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan.
2) Prinsip dan Pendekatan Penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut (Kurinasih dan Berlin, 2014: 49):
a) Objektif, artinya penilaian berbasis pada standar (prosedur dan kriteria yang jelas) dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
b) Terpadu, artinya penilaian dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran dan berkesinambungan.
c) Ekonomis, artinya penilaian yang efektif dan efisien dan perencanaan, pelaksanaan dan pelaporannya.
d) Transparan, artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak.
e) Akuntabel, artinya penilaian dapat dipertanggungjawabkan. f) Sistematis, artinya penilaian dilakuan secara berencana dan
g) Edukatif, artinya dapat mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
3) Ruang lingkup, teknik dan instrumen penilaian a) Ruang lingkup penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran atau kompetensi muatan atau kompetensi program dan proses (Kurinasih dan Berlin, 2014: 51)
b) Teknik dan instrumen penilaian
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian sikap, pengetahuan dan keterampialan adalah sebagai berikut:
(1) Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri (self assesment), penilaian teman sejawat (peer assesment) oleh peserta didik, dan jurnal (Kurinasih dan Berlin, 2014: 51).
(2) Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung
berdasarkan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perlaku yang diamati (Kurinasih dan Berlin, 2014: 51). Kriteria instruman obsservasi antara lain:
(a) Mengukur aspek sikap yang dituntut pada Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.
(b) Sesuai dengan kompetensi yang diukur
(c) Memuat indikator sikap yang dapat diobservasi (d) Mudah atau feasible untuk digunakan.
(e) Dapat merekam sikap peserta didik.
(3) Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakankelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan dapat berupa lembar penilaian diri. Keuntungan penilaian ini adalah dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa, peserta didik mampu menyadari kelemahan dan kelebihannya, dan dapat mendorong, membiasakan dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur (Kurinasih dan Berlin, 2014: 52)
(4) Penilaian antar peserta didiik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen ang
digunakan dapat berupa lembar penilaian antar peserta didik (Kurinasih dan Berlin, 2014: 53).
(5) Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasl pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal dapat memuat penilaian peserta didik terhadap aspek tertentu secara kronologis (Kurinasih dan Berlin, 2013: 54).
f. Pendekatan Tematik Integratif
1) Pengertian pembelajaran tematik integratif
Model pembelajaran tematik integratif (PTT) atau integrated thematic instruction (ITI) dikembangkan pertama kali
pada awal tahun 1970-an. Belakangan PTT diyakini sebagai salah satu model pembelajaran yang efektif (highly effective teaching model), karena mampu mewadahi dan menyentuh secara integratif
dimensi emosi, fisik dan akademik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Model PTT ini pun sudah terbukti secara empirik berhasil memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik (enhance learning and increase long-term memory capabilities of leaners) untuk waktu yang panjang (Majid,
Pembelajaran tematik terpadu adalah salah satu bentuk atau model dari pembelajaran terpadu yaitu model terjala (webbed). Inti dari model ini menekankan pada pola pengorganisasian materi yang terintegrasi dipadukan oleh suatu tema.
2) Kelebihan dan kekurangan pembelajaran tematik a) Kelebihan
Majid (2014: 129) mengemukakan bahwa pembelajaran integratif memiliki kelebihan sebagai berikut:
(1) Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak. (2) Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat
dan kebutuhan peserta didik.
(3) Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
(4) Pembelajaran integratif menumbuhkembangkan keterampilan berfikir dan sosial peserta didik.
(5) Pembelajaran integratif menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik. (6) Jika pembelajaran integratif dirancang bersama, dapat
meningkatkan kerja sama antar guru bidang studi terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan
peserta didik, peserta didik/guru dengan narasumber sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna. b) Kekurangan
Majid (2014: 130) mengatakan bahwa pembelajaran memiliki kekurangan sebagai berikut:
(1) Aspek guru
Guru harus berwawasan luas memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu. (2) Aspek peserta didik
Pembelajaran integratif menuntut kemampuan belajar peserta didik yang lebih ”baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran integratif menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan),
kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali).
(3) Aspek sarana dan sumber pembelajaran
Pembelajaran integratif memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya dan mempermudah pengembangan wawasan.
(4) Aspek kurikulum
Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pebncapaian target penyampaikan materi). Guru perlum diberi kewenangan dalam mengembangkan materi dan metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
(5) Aspek penilaian
Pembelajaran integratif membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi
dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
3) Karakteristik Pembelajaran Tematik
Kurniawan (2014: 95) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu: tematik memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Berpusat pada anak. Dalam proses pembelajaran, anak menjadi pertimbangan utama dalam proses pembelajaran. b) Memberi pengalaman langsung. Dalam pembelajaran
tematik, sejauh mungkin diupayakan memberikan pengalaman langsung atas materi belajar.
c) Pemisahan mata pelajaran tidak jelas. Terjadi fusi atau integrasi sejumlah mata pelajaran yang dibahas, sesuai dengan kebutuhan dan tema.
d) Penyajian berbagai konsep mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran. Karenanya adanya tema dan pembahasan memerlukan penjelasan dari berbagai sudut pandang, maka dengan sendirinya akan terjadi penyajian konsep yang bersamaan dari beberapa mata pelajaran.
e) Fleksibel. Artinya tidak mengikuti pola bahasan yang ada pada struktur mata pelajaran, penggunaan tema yang bisa bervariasi, dalam pemilihan dan penggunaan media dan metode pembelajaran.
f) Hasil belajar dapat berkembang sesuai minat dan kebutuhan anak. Karena pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa.
Menurut Depdiknas dalam Trianto (2010: 91) pembelajaran tematik memiliki beberapa ciri khas antara lain: (1) pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar, (2) kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa, (3) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama, (4) membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa, (5) menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya, dan (6) mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
4) Pelaksanaan dalam pembelajaran a) Menentukkan tema
Dalam menentukan tema, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:
(1) Mempelajari standar kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
(2) Menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan. Untuk menentukan tema tersebut, guru bekerrja sama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
b) Prinsip penentuan tema
Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam nenentukan tema antara lain sebagai berikut:
(1) Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa.
(2) Dari yang termudah menuju yang sulit. (3) Dari yang sederhana menuju yang kompleks. (4) Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
(5) Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir dari siswa.
(6) Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa termasuk, minat, kebutuhan dan kemampuannya.
c) Menetapkan jaring tema
Jaring tema dibuat untuk menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu. Melalui jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antartema, kompetensi dasar, dan indikator dari setiap mata pelajaran. jaringan tema ini
dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema (Hosnan, 2014:366).
g. Pendekatan Saintifik
1) Pengertian Pendekatan Saintifik
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, pengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan (Hosnan, 2014:34).
2) Karakteristik Pembelajaran Dengan Metode Saintifik.
Hosnan (2014: 36) mengemukakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki karakter sebagai berikut:
a) Berpusat pada siswa.
Artinya dalam pembelajaran menggunakan media siswa akan terlibat aktif dalam pembelajaran. Guru hanya sebagai fasilitator. Guru hanya mendampingi dan siswa yang melakukannya sendiri.
b) Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
Penggunaan media pembelajaran juga dapat melibatkan keterampilan. Artinya selama proses pembelajaran siswa tidak hanya dituntut untuk berpikir tetapi juga untuk mengembangkan keterampilannya dengan cara mempraktikkan sesuatu yang berhubungan dengan materi yang diajarkan.
c) Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat inggi siswa.
Siswa memang dilatih untuk berpikir dalam proses pembelajaran. Akan tetapi dengan penggunaan media pembelajaran dengan metode santifik siswa bahkan dilatih untuk berpikir tingkat tinggi. Maksudnya siswa harus berpikir lebih spesifik lagi dari materi yang dipelajarinya bukan hanya mempelajarinya secara umum.
d) Dapat mengembangkan karakter siswa.
Pembelajaran saaat ini tidak hanya untuk melatih siswa berpikir dan melakukan percobaan tetapi karakter siswa juga perlu dikembangkan. Bahkan perubahan karakter siswa dalam pembelajaran sangat diperlukan.
Hosnan (2014: 37) mengatakan bahwa pedekatan saintifik dalam pembelajaran memiliki beberapa prinsip antara lain sebagai berikut:
a) Pembelajaran berpusat pada siswa
b) Pembelajaran membentuk students self concept. c) Pembelajaran terhindar dari verbalisme
d) Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum dan prinsip.
e) Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa
f) Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru.
g) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi
h) Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
4) Langkah-langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik (a) Mengamati
Mengamati merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam pendekatan saintifik. Metode observasi/mengamati adalah salah satu strategi pembelajaran
yang menggunakan pendekatan kontekstual dan media asli dalam rangka membelajarkan siswa yang mengutamakan kebermaknaan proses belajar. Dengan metode observasi, siswa akan merasa tertantang mengeksplorasi rasa keingintahuannya tentang fenomena dan rahasia alam yang senatiasa menantang. metode observasi mengedepankan siswa untuk mengamati langsung objek yang akan dipelajari sehingga siswa mendapatkan fakta berbentuk data yang objektif kemudian data tersebut dianalisis sesuai dengan kebutuhan siswa. Item yang dianalisis kemudian digunakan sebagai bahan evaluasi siswa (Hosnan, 2014: 39).
Kegiatan mengamati bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas tersebut, dan makna yang terjadi berdasarkan perspektif yang mengamati. Oleh karena itu, deskripsi harus kuat, faktual, sekaligus faktual tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang relevan. Selain melihat tujuan dalam kegiatan mengamati, pengamat juga perlu memperhatikan langkah-langkah dalam kegiatan mengamati. Adapun langkah-langkah tersebut adalah a) menentukan objek apa yang akan diamati, b) membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi, c) menentukan secara jelas data-data
apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder, d) menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi, e) menentukan secara jelas bagaiman observasi akan dilakukan dengan mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar, dan f) menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tuli lainnya. Manfaat
dari kegiatan observasi yaitu untuk memenuhi rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.
(b) Menanya
Langkah kedua pada pendekatan saintifik adalah menanya. Kegiatan belajar dalam langkah kedua ini adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati mulai dari pertanyaan faktual sampai pertanyaan hipotetik. Kompetensi yang akan dikembangkan adalah kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaaan untuk membentuk pikiran yang kritis yang perlu untuk hidup yang cerdas dan belajar sepanjang hayat. Bertanya merupakan salah satu pintu masuk untuk memperoleh pengetahuan. Dengan demikian bertanya dalam kegiatan pembelajaran
merupakan kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Demikian pula bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran inquiry, yaitu menggali informasi,
mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui (Hosnan, 2014: 48).
Penggunaan model menanya dengan baik dan tepat, akan dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan model menanya adalah, sebagai berikut:
(1) Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai aplikasi tinggi
(2) Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan yang jawabannya banyak).
(3) Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
(4) Dilakukan dengan teknuk bertanya yang baik (Depdikbud dalam Hosnan (2014: 51)
Kegiatan menanya memiliki kriteria pertanyaan yang baik. Kriteria yang dimaksud adalah pertanyaan harus
singkat dala jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat probing dan divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemapuan kognitif, dan merangsang proses interaksi.
(c) Menalar
Menalar merupakan langkah ketiga dalam pendekatan saintifik. Istilah menalar (association) dalam kerangaka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan peserta aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meskipun penalaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat (Hosnan, 2014: 67).
(d) Mencoba
Langkah keempat dalam pendekatan saintifik adalah mencoba. Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi / eksperimen. Kegiatan belajarnya adalah
melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek atau kejadian / aktivitas, wawancara dengan narasumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat. Pada langkah pembelajaran ini, setiap siswa dituntut untuk mencoba mempraktikan apa yang dipelajari (Hosnan, 2014: 58).
(e) Mengomunikasikan
Pada pendekatan saintifik, guru diharapkan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengomunikasikan hasil pekerjaan yang telah disusun baik secara bersama-sama dalam kelompok dan atau secara individu dari hasil kesimpulan yang telah dibuat bersama. Kegiatan mengomunikasikan ini dapat diklarifikasikan oleh guru agar peserta didik mengetahui secara benar apakah jawaban yang telah dikerjakan sudah benar atau ada yang perlu diperbaiki. Hal ini dapat diarahkan pada kegiatan mencari informasi