BAB II LANDASAN TEOR
2. Media Pembelajaran Berbasis ICT
Informatin and Communicaton Technologies (ICT) atau dalam
bahasa Indonesia disebut dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah alat-alat seperti radio, televisi, handphone dan komputer. Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah mengubah cara belajar di ruang-ruang kelas di setiap negara di dunia. Saat ini para guru telah menggunakan teknologi untuk membantu mereka menghadapi tantangan yang diberikan oleh perubahan.
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia seringkali hanya digunakan untuk membantu kegiatan administrasi di sekolah saja. Bahkan banyak pula sekolah-sekolah maju yang memiliki laboratorium komputer dengan jumlah komputer yang memadai, hanya memanfaatkan TIK yang ada untuk mengajarkan keterampilan teknologi informasi saja seperti, pelatihan internet, perangkat perkantoran kepada siswanya, tak ubahnya seperti kelas kursus komputer pada umumnya (Gora dan Sunarto, 2010: 22).
Seharusnya perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran diruang kelas dengan cara mengintegrasikannya ke dalam kurikulum yang ada. Penggunaan teknologi berbeda dengan maksud dari integrasi teknologi. Kegiatan mengajarkan penggunaan teknologi sangat berbeda dengan kegiatan integrasi teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Integrasi teknologi adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam wilayah konten secara umum dalam pendidikan untuk memungkinkan mereka belajar keterampilan komputer dan teknologi.
The International Society for Technology in Education (ISTE)
telah membuat standar teknologi untuk siswa, guru, dan pengelola dasar kelas (K-12) di Amerika. ISTE merupakan pemimpin dalam membantu guru-guru di sana menjadi pengguna teknologi yang efektif. ISTE berpendapat bahwa integrasi kurikulum dengan pemanfaatan teknologi melibatkan infusi dari teknologi sebagai perangkat untuk meningkatkan pembelajaran dalam sebuah wilayah konten atau dalam setting multi- disiplin. Integrasi teknilogi yang efektif akan tercapai ketika siswa mampu untuk memilih perangkat teknologi untuk membantu mereka memperoleh informasi dengan cara yang tepat, melakukan analisa dan sintesa informasi, serta menyajikannya secara profesional.
Konstruktivisme merupakan komponen terpenting dari integrasi teknologi. Konstruktivisme merupakan suatu pandangan mengenai bagaimana seseorang belajar. Untuk mengimplementasikan konstruktivisme di dalam kelas, guru harus berkeyakinan bahwa peserta didik ketika datang ke kelas otaknya tidak kosong dengan pengetahuan.
Peserta didik datang ke dalam situasi belajar dengan pengetahuan, gagasan dan pemahaman yang sudah ada dalam pikiran mereka (Gora dan Sunarto, 2010: 23). Prinsip-prinsip konstriktivisme adalaha sebagai berikut:
a) Siswa membawa pengetahuan awal yang khas dan keyakinan- keyakinan pada situasi pembelajaran.
b) Pengetahuan dibangun secara unik dan individual dalam berbagai cara, lewat berbagai perangkat, sumber dan konteks.
c) Belajar merupakan proses yang aktif dan reflektif.
d) Belajar adalah proses membangun. Kita dapat mempertimbangkan keyakinan dengan mengasimilasi, mengakomodasi, atau bahkan menoilak informasi baru.
e) Interaksi sosial mengenalkan perspektif ganda pada pembelajaran. f) Belajar dikendalikan secara internal dan dimediasi oleh siswa.
Pada dasarnya peran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam PAKEM berfungsi sebagai media pembelajaran sebagai mana alat peraga. Jadi, fungsi TIK adalah untuk membantu proses pembelajaran agar menjadi lebih efektif dan lebih bermakna.
a. Pengertian Media Pembelajaran Berbasis ICT
Media pembelajaran adalah segala sesuatu, baik itu berupa alat, lingkungan, ataupun kegiatan, yang direncanakan / dikondisikan secara sengaja yang dapat menyalurkan pesan pembelajaran guna terjadinya proses pembelajaran pada siswa untuk tercapainya pembelajaran secara
efektif dan efisien. Ini artinya, media pembelajaran mencakup hardware maupun software-nya. Hardware disini contohnya LCD
proyektor, model/maket, dan poster. Software disini adalah kandungan pesan yang ingin disampaikan kepada siswa sehingga dapat terjadi perubahan perilaku (Prastowo, 2015: 295).
Media pembelajaran berbasis ICT adalah media yang didesain menggunakan perangkat lunak komputer dengan sedemikian rupa sehingga dapat menarik minat siswa untuk belajar. Media ICT yang dimaksud merupakan powerpoint interaktif yang berisikan soal-soal yang terkait dengan tema dan subtema yang digunakan, diberi animasi dan background yang menarik serta video yang sesuai dan link agar siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien. Penggunaan media pembelajaran berbasis ICT mempunyai hubungan yang signifikan dengan bidang di pelbagai kecerdasan atau multiple intelligences yang bersifat budaya pembelajaran yang tidak lagi terikat kepada pembelajaran konvensional.
Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, model pembelajaran aktif pun mulai dikembangkan dengan mengintegrasikan Information and communication technology (ICT) ke dalam
pembelajaran aktif tersebut. Tentu yang diharapkan adalah pencapaian hasil yang baik dibandingkan model pembelajaran aktif tanpa melibatkan teknologi ICT (Jasmadi, 2010: 201). Biaya yang digunakan
untuk media ini lebih murah, lebih efektif dan lebih menyenangkan bagi peserta didik.
Model pembelajaran aktif pada umumnya memiliki permainan- permainan yang akan mengasah daya pikir dan daya analisis siswa dalam kegiatan belajar mengajarnya. Penggunaan media berbasi ICT dengan media pembelajaran lain memiliki tujuan yang sama yakni mengasah kemampuan berpikir siswa serta membantu siswa agar mampu bekerja secara berkelompok. Strategi peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dengan berbagai strategi antara lain melalui pembelajaran Information and Communication Technology (ICT) dengan bersandar pada penguasaan kompetensi (competency based learning) (Susilana & Riyani, 2009 : 100).
Pelaksanaan strategi tersebut dilakukan melalui penataan kurikulum, penyusunan bahan ajar/modul, penyusunan standar pelayanan minimal (delivery sistem), penyelenggaraan pembelajaran berbasis produksi, pengembangan prosedur penilaian berbasis ICT yang bersandar pada kompetensi. Media komputer adalah media yang menarik, atraktik dan interaktif (Munir, 2009: 47). Pembelajaran melalui media komputer memberikan bekal pembelajar di berbagai karakter yang menjadi kekuatan dan kelemahan suatu media.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) sebagai bagian dari ilmu
pengetahuan dan teknologi yang secara umum adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi (Darmawan, 2011: 1). Perkembangan Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam beberapa dekade terakhir berjalan sangat cepat sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi, termasuk jaringan komputer. Berbagai teknogi dan aplikasi pendukung juga telah dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung dan mempermudah aktivitas kehidupan manusia dan oraganisasi, termasuk kegiatan belajar mengajar, dalam dunia pendidikan.
Lembaga-lembaga pendidikan yang ada, sudah selayaknya untuk memperkenalkan dan memulai pengunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai basis pembelajaran yang muthakir. Dalam menyikapi perkembangan dan kemajuan ICT tersebut, guru dituntut untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi agar dapat mengembangkan materi-materi pembelajaran berbasis ICT dan manfaat ICT sebagai media pembelajaran yang berguna.
Penggunaan media ICT ini mempunyai tujuan untuk memberikan kemudahan dan kesempatan yang lebih luas kepada pembelajar dalam kegiatan belajar mengajar. Sekarang ini, pemanfaatan media pembelajaran berbasis ICT dalam dunia pendidikan sudah mulai
sampai ke perguruan tinggi (Darmawan, 2011: 4). Teknologi komputer adalah sebuah penemuan yang memungkinkan dapat menghadirkan beberapa atau semua bentuk stimulasi agar pencapaian hasil pembelajaran dapat dilakukan secara optimal. Pengajar atau guru akan melakukan bentuk stimulasi yang dipergunakan sebagai media yang diantaranya adalah hubungan atau interaksi antar manusia, yaitu realitas gambar bergerak dan gambar diam, tulisan dan suara yang direkam.
Dengan demikian, berdasarkan pendapat para ahli yang sudah dikemukakan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis ICT adalah media pembelajaran yang melibatkan alat-alat teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer yang didesain untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Media pembelajaran ini juga dibuat untuk menarik perhatian siswa agar siswa tidak bosan dengan kegiatan pembelajaran yang disajikan oleh guru. Jadi melalui media pembelajaran berbasis ICT siswa diharapkan terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan pada akhirnya siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan.
b. Manfaata Media Pembelajaran Berbasis ICT
Adapun manfat-manfat dari media pembelajaran ICT (Arsyad, 2014: 93) adalah:
a) Menambah wawasan siswa terkait perkembangan alat teknologi yang berguna dalam dunia pendidikan.
b) Meningkatkan kulitas pendidikan dan pembelajaran. c) Memperluas akses terhadap pendidikan dan pembelajaran. d) Meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. e) Mengurangi biaya pendidikan.
f) Menjawab keharusan berpartisipasi dalam ICT.
g) Mengembangkan keterampilan ICT (ICT Skills) yang diperlukan siswa ketika bekerja dan dalam kehidupannya nanti. c. Tujuan Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis ICT
Pada umumnya, tujuan pengembangan media pembelajaran berbasis ICT sama dengan pengembangan media pembelajaran lainnya. Oleh karena itu, peneliti hanya akan menjelaskan sedikit tujuan dari media ICT. Media pembelajaran berbasis ICT dibuat dengan tujuan sebagai beikut:
a) Mempermudah siswa untuk memahami materi pembelajaran. b) Menarik perhatian siswa selama proses pembelajaran.
c) Meningkatkan kualitas pembelajaran. d) Meningkatkan mutu pendidikan.
d. Indikator Kualitas Media Pembelajaran Berbasis ICT
Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan pada saat membuat naskah menjadi media presentasi yang dikemukakan oleh Daryanto (2013: 72) adalah sebagai berikut:
a) Pilih jenis huruf (font) yang tingkat keterbacaannya tinggi, misalnya Arial, Verdana atau Tahoma. Gunakan ukuran huruf (font size) 17-20 untuk isi teks, sedang sub judul 28 dan untuk judul 30.
b) Untuk memperjelas dan memperindah tampilan, gunakan variasi warna, gambar, foto, animasi dan video.
c) Area tampilan frame yang ditulis jangan melebihi ukuran 16 x 20 cm.
d) Usahakan dalam satu slide / frame tidak memuat lebih dari 18 baris teks.
e) Dalam satu frame usahakan hanya berisi satu topik atau sub topik pembahasan.
f) Beri judul pada setiap frame.
g) Perhatikan komposisi warna, keseimbangan (tata letak), keharmonisan, dan kekontrasan pada setiap tampilan.
h) Variasi memang perlu, tetapi harus juga diperhatikan prinsip kesederhanaan.
i) Artinya jangan membuat tampilan slide yang terlalu rumit, ramai dan penuh warna warni, karena hal ini justru akan mengganggu pesan utama yang disajikan.
Sanjaya (2012: 234) kriteria yang dapat digunakan untuk menilai sebuah media interaktif adalah, sebagai berikut:
Artinya bahwa program multimedia interaktif harus dirancang agar dapat digunakan siapa saja. Jadi orang yang akan menggunakan multimedia yang kita buat tidak harus belajar terlebih dahulu. Pengguna mulitimedia harus merasa mudah dan dapat langsung menggunakannya.
(b) Kelengkapan Bahan Pembelajaran.
Multimedia yang dikembangkan memiliki banyak materi pelajaran yang akan siswa pelajari, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengetahuan siswa. Sebaiknya isi multimedia tidak sebatas data dan fakta tetapi juga harus berisi konsep, prinsip, generalisasi bahkan mungkin teori.
(c) Komunikatif.
Multimedia yang dikembangkan harus komunikatif. Artinya baik bahasa maupun format penampilan harus dapat “berbicara”, harus mengajak pengguna untuk melakukan sesuatu, bukan hanya diajak untuk mendengar saja. Dengan demikian format penyajian multimedia jangan bersifat deskriptif yang menempatkan pengguna sebagai objek belajar akan tetapi juga sebagai subjek belajar.
(d) Belajar mandiri.
Multimedia interaktif yang baik dirancang untuk dapat digunakan secara mandiri tanpa bantuan orang lain termasuk guru. Format penyajian harus disusun lengkap mulai
dari petunjuk penggunaan, isi pelajaran, sampai pada alat evaluasi beserta kunci jawaban sehingga pengguna dapat menentukkan sendiri keberhasilan penggunanya.
(e) Belajar setahap demi setahap.
Pembelajaran melalui multimedia adalah proses belajar setahap demi setahap. Oleh sebab itu, materi harus disusun dari yang sederhana menuju ke yang kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak.
(f) Unity
Multimedia adalah penggabungan dari beberapa jenis media. Oleh sebab itu, pemakaian berbagai jenis media seperti media audio, video, foto, film dan sebagainya harus ditata secara serasi dan seimbang dengan tidak mengabaikan unsur artistik dan estetiknya.
(g) Kontinuitas.
Melalui multimedia harus dapat mendorong secara terus-menerus untuk belajar, sehingga dapat menumbuhkan minat belajar lebih lanjut. Selain itu, melalui multimedia harus dapat meninggalkan bekas. Artinya setelah menggunakan program itu, orang akan tetap mengingat bahwa dirinya pernah menggunakan program itu.