BAB II KAJIAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN
2. Kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah
Ditinjau dari asal katanya, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang mula-mulai digunakan dalam bidang olahraga, yaitu kata currere yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh mulai dari start sampai dengan finish. Jarak dari start hingga finish
ini disebut currere. Atas dasar tersbut pengertian kurikulum diterapkan dalam bidang pendidikan.11
Kemudian banyak ahli pendidikan dan ahli kurikulum membuat macam-macam batasan tentang kurikulum tersebut, mulai dari pengertian tradisional sampai dengan pengertian modern, mulai dari pengerian yang sederhana sampai pengertian yang kompleks. Setiap ahli memiliki versi batasan yang berbeda-beda, bahkan didalamnya seringkali terjadi ketidak samaan pengertian atau konseptualnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandang serta latar belakang keilmuan para ahli tersebut, meskipun pada intinya terkandung maksud yang sama.
Sebagai gambaran terdapat beberapa pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli. Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development, Theory, and Practice (1962) mendifinisikan kurikulum sebagai a plan for learning. Sedangkan J. F. Kerr (1966) mendifinisikan kurikulum sebagai “All the learning which is planned or guided by the school, whether it is carried on in groups or individually, inside of or outside the school”.
Definisi yang lebih kompleks tentang kurikulum dikemukakan oleh Rene Ochs (1964) yang dikutip oleh Ariech Lewy (1970) sebagai berikut “This term
often to design equally a programme for a given subject matter for the entire cycle or even the whole range of cycles. Further, the term curriculum is
sometimes used in a wider sense to cover the various educational activities through which the content is conveyed as well as materials used and method
employed”12
Oemar Hamalik melihat kurikulum dari beberapa tafsiran sebagai berikut: 1) Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran, yang berarti didalam kurikulum
terdapat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa selama mengikuti kegiatan pendidikan pada jenjang tertentu.
2) Kurikulum sebagai rencana pemebalajaran, merupakan suatu program dan rencana yang disesuaikan untuk membelajarkan siswa.
3) Kurikulum sebagai pengalaman belajar, yang berarti dirancang untuk memberikan pengalaman belajar serta mengembangkan kecakapan hidup siswa.13
Dari beberapa definisi diatas, penulis menyimpulkan bahwa kurikulum merupakan suatu aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diprogramkan bagi peserta didik dalam bimbingan sekolah baik didalam maupun diluar kelas.
Adapun secara operasional, kurikulum dapat didefinisikan sebagai berikut:
1) Suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah baik didalam maupun diluar sekolah yang dilaksanakan dari tahu ke tahun.
2) Bahan tertulis yang dimaksudkan untuk digunakan oleh guru dalam melaksanakan pengajaran untuk siswa-siswanya.
3) Suatu usaha untuk menyampaikan asas dan ciri terpenting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan guru di sekolah.
12 Ibid, h.2
13 Darwyan Syah, dkk., Perencanaan Sistem Pengajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Faza Media, 2006), Cet.1, h.11
4) Tujuan-tujuan pengajaran, pengalaman belajar, alat-alat belajar dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan.
5) Suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.14
Apabila kurikulum dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, hal ini berarti bahwa kurikulum adalah sesuatu yang sangat menentukan hasil pengajaran yang diharapkan. Atau dengan kata lain, kurikulum menunjukan kepada apa yang sebenarnya haru dipelajari oleh peserta didik (What is to be learned).
b. Kerangka Dasar & Struktur Kurikulum MDTA
Materi didalam kurikulum MDTA disusun dalam sistematika bidang studi, dalam arti bahwa bidang studi memiliki ruang lingkup materi dari beberapa disiplin ilmu (mata pelajaran) yang satu nuansa. Bidang studi dalam kerangka dasar kurikulum diniyah takmiliyah merupakan sebuah pendekatan dalam upaya mengefektifkan materi pembelajaran.
Bidang Studi didalam Kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah di Provinsi Jawa Barat terdiri dari:15
Tabel 2.1 Bidang Studi Di MDTA No Bidang
Studi
Cakupan
1 Al Qur’an Bidang Studi Al-Qur’an bertujuan membentuk peserta
didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan
benar. Al-Qur’an mencakup tajwid, kitabah/menulis, qira’ah/membaca, dan menghafal.
2 Hadist Bidang Studi Hadist bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui kemampuan membaca dan menulis hadist dengan baik dan benar.
14 Subandijah, op.cit., h.2
15 Kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah di Provinsi Jawa Barat, Kementrian Agama Kantor Wilayah Jawa Barat. 2010, h.7
No Bidang Studi
Cakupan
3 Aqidah Bidang Studi Aqidah bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui pengenalan hafalan, pemahaman dan penghayatan rukun Iman. Aqidah mencakup Tauhid.
4 Akhlak Bidang Studi Akhlak bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui pembiasaan berprilaku dengan sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak mencakup kesadaran dan wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggungjawab sosial, ketaatan kepada hukum, sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi dan nepotisme. 5 Fiqih Bidang Studi Fiqih bertujuan membentuk peserta didik
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui pengenalan dan pemahaman rukun Islam serta mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik dan benar.
6 Tarikh Islam Bidang Studi AL-Qur’an bertujuan membentuk peserta
didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui pemahaman dan penghayatan sejarah Islam. Tarikh Islam mencakup sejarah Rasulullah SAW dan perkembangan Islam di Indonesia.
7 Bahasa Arab Bidang Studi Bahasa Arab bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt yang dicapai melalui kemampuan berbahasa arab dengan benar. Bahasa Arab mencakup nahwu dan shorof.
Adapun untuk struktur kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama 6 tahun mulai kelas 1 sampai 6. Struktur kurikulum disusun berdasarkan kompetensi lulusan Diniyah Takmiliyah dan standar kompetensi kelompok mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah memuat 7 (Tujuh) bidang studi. 2. Jam pembelajaran untuk setiap bidang studi dialokasikan sebagaimana
tertera pada tabel dibawah. Diniyah Takmiliyah dimungkinkan menambah maksimum 4 jam per minggu secara keseluruhan.
3. Alokasi waktu 1 jam pembelajaran adalah 35 menit.
Tabel 2.2 Alokasi Waktu Tiap Bidang Studi
No Mata Pelajaran I II III IV V VI
1 Al-Qur’an 4 4 4 4 4 4 2 Hadist 2 2 2 2 2 2 3 Aqidah 2 2 2 2 2 2 4 Akhlak 2 2 2 2 2 2 5 Fiqih 2 2 2 2 2 2 6 Tarikh Islam 2 2 2 2 2 2 7 Bahasa Arab 2 2 2 2 2 2 8 Muatan Lokal 2 2 2 2 2 2
Jumlah Jam Pelajaran 18 18 18 18 18 18
c. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Kurikulum merupakan esensi dari kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam pelakasanaan kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah dijalankan dengan mengembangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:16
1) Fleksibilitas
Fleksibilitas menitikberatkan pada pengembangan materi dan metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana didapatkan pilihan yang tepat agar terjadi komunikasi yang baik antara guru dan santri, sehingga materi yang diberikan benar-benar dapat ditangkap dan dipahami. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan keberadaan santri dari segi kecerdasan, kemampuan, dan
16 Gagasan Standarisasi Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah, Balai Penelitian dan Pengembangan Kementrian Agama Jakarta. 2015, h.23
pengetahuan yang telah dikuasainya. Kemudian membuat pilhan bahan ajar dan metode-metode pembelajaran yang tepat dan sesuai.
2) Berorientasi Pada Tujuan
Kegiatan belajar mengajar harus berorientasi pada tujuan. Pemilihan kegiatan-kegiatan dan pengalaman belajar didasarkan pada ilmu pengetahuan dan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, sebelum menentukan waktu dan bahan pelajaran terlebih dahulu ditetapkan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh santri dalam mempelajari suatu mata pelajaran
3) Efektifitas dan Efisiensi
Struktur kurikulum madrasah diniyah takmiliyah pada dasarnya merupakan pelengkap dari Pendidikan Agama Islam yang diperoleh santri pada lembaga pendidikan formal atau sekolah umum. Meski demikian, struktur kurikulum MDTA tidaklan sederhana, sehingga memerlukan keterampilan tersendiri dalam pengorganisasiannya agar waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien tanpa mengurangi capaian-capaian dan tujuan yang diharapkan.
4) Kontinuitas
Kurikulum MDTA dikembangkan dengan pendekatan hubungan hirarki fungsional yang menghubungkan antar jenjang dan tingkatan yakni MDTA, MDTW, MDTU. Oleh karena itu, perencanaan kegiatan belajar mengajar harus dibuat seoptimal dan sesistematis mungkin, sehingga memungkinkan terjadinya proses peningkatan, perluasan serta pengalaman yang terus berkembang dari suatu pokok bahasan mata pelajaran.
5) Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan merupakan kewajiban yang utama bagi umat Islam. Bahkan dalam ajaran Islam menyatakan bahwa pendidikan harus dialami oleh setiap orang selama masa hidupnya. Slogan masyarakat dunia “education for all” yang ditetapkan oleh UNESCO juga mengandung prinsip pelajaran seumur
hidup tersebut. Oleh karena itu, materi yang diberikan di MDTA, selain dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman keilmuan kepada santri, juga harus dikembangkan sebagai pendorong utama bagi tumbuhnya semangat tiada henti dan untuk semua lapisan masyarakat.
d. Standar Kompetensi Lulusan
1) Standar Kompetensi Lulusan Diniyah Takmiliyah
Standar Kompetensi Lulusan Diniyah Takmiliyah program Awaliyah dikembangkan berdasarkan tujuan pendidikan Diniyah Takmiliyah itu sendiri yaitu dengan landasan A-Qur’an dan Hadist, peserta didikan beriman
dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam sekitar, mampu membaca, mampu beribadah, dan bermuamalah dengan baik dan benar.
Adapun standar kompetensi lulusan dniyah takmiliyah program awaliyah selengkapnya adalah :
a) Mampu membaca dan menulis Al-Qur’an denga benar.
b) Hapal hadist-hadist pilihan.
c) Beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul, hari kiamat dan qadha qodhar.
d) Terbiasa berperilaku dengan sifat-sifat terpuji dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
e) Menganl rukun Islam dan mampu melaksanakan shalat, shaum, zakat, memahami ibadah haji, dan bermuamalah sesuai tuntunan syariah.
f) Mengahayati, mengagumi dan meneladani nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
g) Mampu melafazhkan bahasa arab dengan benar. 17
17 Kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah di Provinsi Jawa Barat, Kementrian Agama Kantor Wilayah Jawa Barat. 2010, h.3
2) Standar Kompetensi Bidang Studi
Standar Kompetensi Bidang Studi adalah kompetensi minimal yang harus dikuasai peserta didik setelah menempuh pendidikan Diniyah Takmiliyah program Awaliyah. Kompetensi minimal atau kompetensi dasar yang dimaksud dikelompokkan kedalam 7 (tujuh) unsur pokok pendidikan MDTA yaitu : Al-Qur’an, Hadist, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh Islam, dan Bahasa Arab.18
3) Beban Belajar dan Kalender Pendidikan
Diniyah Takmiliyah Awaliyah menyelenggarakan pendidikan program menggunakan sistem paket. Sistem paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan, untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum. Penyelesaian program pendidikan awaliyah ini dengan menggunakan sistem paket adalah 6 tahun. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Beban belajar setiap bidang studi pada sistem paket dinyatakan dalam satu jam pempelajaran. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh siswa untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara siswa dengan guru. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pelajaran ditetapkan selama 35 menit. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh guru. Sedangkan
18 Ibid, h.3
kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran pendalaman materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh siswa. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak tesrtruktur bagi siswa maksimum 40% dari jumlah kegiatan tatap muka pada bidang studi bersangkutan.
Adapun kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran siswa selama 1 tahun pelajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif hari libur.
Permulaan tahun pelajaran adalah bulan juli setiap tahun dan berakhir pada bulan juni tahun berikutnya. Hari libur ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku dari pemerintah.19