• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Pustaka

1. Kurikulum

ingin dicapai (Taba, 1962:11).

2) Kurikulum sebagai pengaturan. Pengaaturan dalam kurikulum dapat diartikan sebagai pengorganisasian materi pembelajaran pada arah horizontal (ruang lingkup dan integrasi) dan vertikal (urutan dan kontinuitas).

3) Kurikulum sebagai cara. Pengorganisasian kurikulum mengisyaratkan penggunaan metode pembelajaran yang efektif berdasarkan konteks pembelajaran. Pemilihan metode mengajar

erat hubungannya dengan sifat materi pelajaran atau pratikum dan tingkat penguasaan yang ingin dicapai.

4) Kurikulum sebagai pedoman. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran harus memiliki kejelasan tentang gagasan-gagasan dan tujuan yang hendak dicapai melalui penerapan kurikulum.

c. Perkembangan Kurikulum

Kurikulum yang diterapkan sudah mengalami beberapa pergantian yang dikelompokan berdasarkan tiga kelompok kurikulum, yaitu rencana pelajaran, kurikulum berbasis tujuan, dan kurikulum berorientasi kompetensi. Adapun perkembangan kurikulum yang telah terjadi di Indonesia (Kurniasih, 2014:10-22) adalah sebagai berikut: 1) Kurikulum Rencana Pembelajaran (1947-1968)

Dari rentang waktu 1947-1968 telah terjadi beberapa pergantian kurikulum, diantaranya adalah:

a) Kurikulum Tahun 1947 (Rencana Pembelajaran 1947)

Rencana pembelajaran 1947 sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda dan kurikulum ini tujuannya tidak menekankan pada pendidikan pikiran, tetapi yang diutamakan adalah pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, karena hal itulah yang mendesak pada saat itu. Dalam kurikulum ini terdapat dua hal pokok yaitu: (1) daftar

mata pelajaran dan jam pelajarannya, dan (2) garis – garis besar pengajaran

Rencana pembelajaran 1947 baru dilaksanakan oleh sekolah- sekolah pada tahun 1950.

b) Kurikulum 1952 (Rencana Pembelajaran Terurai)

Pada tahun ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dijabat oleh Mr. Soewandi melakukan usaha untuk mengubah sistem pendidkan dan pengajaran. Kemudian dibentuklah Panitia Penyelidik Pengajaran dalam merangka mengubah sistem pendidikan kolonial ke dalam sistem pendidikan nasional. Hasil dari panitia tersebut adalah menyangkut kurikulum rencana pembelajaran pada setiap tingkat pendidikan harus mempertahankan hal-hal sebagai berikut (Depdikbud,1979: 108): (1) pendidikan pikiran harus dikurangi, (2) isi pelajaran harus dihubungkan terhadap kesenian, (3) pendidikan watak, (4) pendidikan jasmani, dan (5) kewarganegaraan dan masyarakat. Maka setelah undang–undang Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4 Tahun 1950 dikeluarkan, maka lahirlah beberapa hal penting:

(1) Kurikulum pendidikan rendah ditunjukkan untuk menyiapkan anak memiliki dasar–dasar pengetahuan, kecakupan, dan ketangkasan baik lahir maupun batin serta mengembangkan bakat dan kesukaanya.

(2) Kurikulum pendidikan menengah ditunjukkan untuk menyiapkan pelajar ke pendidikan tinggi serta mendidik tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus sesuai dengan bakat masing- masing dan kebutuhan masyarakat.

(3) Kurikulum pendidikan tinggi ditujukan untuk menyiapkan pelajaran agar dapat menjadi pimpinan dalam masyarakat, dan dapat memelihara kemajuan ilmu, dan kemajuan hidup kemasyarakatan.

c) Rencana Pembelajaran 1964

Rencana Pendidikan 1964 melahirkan kurikulum yang menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karya dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana, karena lima kelompok bidang studi, yaitu kelompok perkembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keterampilan, dan jasmaniah. Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak.

d) Kurikulum 1968

Pada kurikulum ini lebih menitik beratkan pada mempertinggi mental-moral budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, membina atau mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur pendidikan dan Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar dan kecakupan khusus. Dilihat dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: (1) kelompok pembinaan pancasila, (2) pengetahuan dasar, (3) kecakapan khusus (dengan total jumlah pelajaranya sembilan).

2) Kurikulum Berorentasi Pancapaian Tujuan (1975-1994)

Dari rentang waktu 1975-1994 telah terjadi beberapa pergantian kurikulum, diantaranya adalah:

a) Kurikulum 1975

Pada kurikulum inilah untuk pertama kalinya terlihat dengan jelas tujuan pendidikan. Dari tujuan pendidikan tersebut dijabarkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai seperti tujuan intruksional umum, tujuan intruksional khusus dan berbagai rincian lainnya sehingga jelas apa yang akan dicapai melalui kurikulum tersebut.

Kurikulum 1975 dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah yang secara umum mengharapkan lulusannya: (a) memiliki sifat-sifat dasar sebagai negara yang baik, (b) sehat jasmani dan rohani, (c) memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, (d) bekerja di masyarakat, dan (e) mengembangkan diri sesuai asas lingkungan hidup.

b) Kurikulum 1984

Pada dasarnya materi pada kurikulum 1984 ini tidak banyak berbeda dengan materi Kurikulum 1975, yang berbeda adalah organisasi pelaksanaanya saja, sehingga dengan demikian Kurikulum 1984 dapat dilaksanakn dengan memanfaatkan bahan-bahan dan buku-buku yang telah ada sebelumnya. Kemudian semua pendekatan dalam proses pembelajaran pada Kurikulum Sekolah Dasar 1984 diarahkan guna membentuk keterampilan murid untuk memproses.

Hal yang menonjol dalam pelaksanaan kurikulum ini adalah adanya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dan sistem spiral. Disini peserta didik akan lebih dilibatkan dalam pengembangan proses belajar mengajar. Meski sistem instruksional masih tetap dipertahankan namun peserta didik diberi kebebasan untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu, ada pula sistem spiral yang setiap jenjang pendidikan mata pelajaran akan berbeda dari segi

kedalaman materi. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, maka materi yang diberikan akan semakin dalam dan detail.

c) Kurikulum 1994

Lahirnya Undang-Undang Pokok Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional maka dirasa perlu menyusun suatu kurikulum baru sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 1984. Kurikulum ini dilaksanakan dan diberlakukan mulai tahun 1994/1995 dan secara bertahap. Dimulai pada tahun 1994/1995 Kurikulum 1994 untuk kelas 1 dan 4 SD, kelas 1 SMP, dan kelas 1 SMA . Dengan demikian di dalam jangka waktu seluruh Kurikulum 1994 itu telah dilaksanakan.

3) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004

Kurikulum 1994 digantikan oleh Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), seiring pergantian kekuasaan. Kurukulum ini mengharapkan agar siswa yang mengikuti pendidkan di sekolah memmilki kompetensi yang diinginkan karena konsentrasi kompetensi adalah pada perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, nilai serta sikap yang ditunjukkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mencakup beberapa kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa. Dan kegitan pembelajaran pun diarahkan untuk

membantu siswa mengusai kompetensi-kompetensi agar tujuan pembelajaran tercapai.

4) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP) ini disusun untuk menjalankan amanah yang tercamtum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (Muslich 2009:1). Guru memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik peserta didik dan lingkungan di sekolah masing-masing.

5) Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 menekankan pengembangan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara seimbang.

Terdapat empat aspek yang menjadi fokus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan Kurikulum 2013:

a) Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar yang menyangkut metodologi pembelajaran yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi baru mencapai rata-rata 46,66. b) Kompetensi akademik dimana guru harus menguasai metode

c) Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertinadak asosial kepada peserta didik dan sederajat lainnya. d) Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagai

seorang yang akan digugu dan ditiru peserta didik. 6) Kurikulum 2013 Edisi Revisi

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan resmi meluncurkan revisi Kurikulum 2013 di Depok pada tanggal 20 Februari 2016. Mulai Juli 2016, Kurikulum 2013 Edisi Revisi akan diberlakukan secara nasional. Perubahan Kurikulum 2013 pada tahun 2016 memiliki pokok bagian penting yang harus guru cermati. Berbagai perubahan kompetensi pada Kurikulum 2013 antara lain:

a) Nama Kurikulum menjadi Kurikulum 2013 Edisi Revisi yang berlaku secara Nasional.

b) Penilaian sikap KI 1 dan KI 2 sudah ditiadakan di setiap mata pelajaran, hanya mata pelajaran agama dan PPKn namun KI tetap dicantumkan dalam penulisan RPP.

c) Jika ada dua nilai praktik dalam 1 KD, maka yang diambil adalah nilai yang tertinggi. Perhitungan nilai keterampilan dalam 1 KD ditotal (praktik, produk, dan portofolio) dan diambil nilai rata-rata. Perhitungan nilai pengetahuan bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester sama.

d) Pendekatan saintifik 5M bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan susunannya tidak harus berurutan.

e) Silabus Kurikulum 2013 edisi revisi lebih ramping hanya 3 kolom, yaitu KD, meteri pembelajaran dan kegiatan pembelajaran.

f) Perubahan terminology ulangan harian menjadi penilaian harian, UAS menjadi penilaian akhir semester untuk semester 1 sedangkan penilaian akhir tahun untuk semester 2 dan sudah tidak ada lagi UTS langsung ke penilaian akhir semester.

g) Dalam RPP tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut rubrik penilaiannya (jika ada).

h) Skala penilaian menjadi 1-100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi.

i) Remedial diberikan untuk nilai siswa dibawah KKM namun sebelumnya peserta didik diberikan pembelajaran ulang. Nilai remedial inilah yang dicantumkan dalam hasil.

d. Perbaikan dalam Kurikulum 2013

Dari perkembangan kurikulum yang telah dilakukan dari masa ke masa, terdapat empat poin perbaikan dalam dokumen kurikulum (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2016: 6):

1) Kompleksitas pembelajaran dan penilaian sikap spiritual dan sikap sosial,

2) Ketidakselarasan antara KI-KD dengan silabus dan buku,

3) Penerapan proses berpikir 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan) sebagai metode pembelajaran yang bersifat prosedural dan mekanistik, dan

4) Pembatasan kemampuan siswa melalui pemenggalan taksonomi proses berpikir antar jenjang.

Dari permasalahan tersebut maka maka dilakukan perbaikan dan pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu:

1) Penataan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial pada semua mata pelajaran, dilakukan sebagai pembelajaran tidak langsung dan tidak dinilai secara langsung oleh guru mata pelajaran,

2) Koherensi KI-KD penyelerasan dokumen dengan adanya penjelasan mengenai karakteristik mata pelajaran yang berisi tentang ruang lingkup materi, tata urutan penyajian pembelajaran, dan pentahapan per jenjang,

3) Pemberian ruang kreatif kepada guru dalam mengimplementasikan kurikulum tidak hanya menggunakan metode pembelajaran 5M yang dianggap sebagai satu-satunya pendekatan dalam pembelajaran di semua mata pelajaran, dan

4) Penataan kompetensi yang tidak dibatasi oleh pemenggalan taksonomi proses berpikir dan pada perbaikan Kurikulum 2013 menuntut kecakapan berpikir tingkat tinggi yang ingin dibangun sejak dini pada siswa jenjang pendidikan dasar.

e. Struktur Kurikulum SMK/MAK

Kurikulum 2013 dirancang dengan pandangan bahwa SMA/MA dan SMK/MAK pada dasarnya adalah pendidikan menengah, pembedanya hanya pada pengakomodasian minat peserta didik saat memeasuki pendidikan menengah. Untuk mewadahi konsep kesamaan muatan antara SMA/MA dan SMK/MAK, maka dikembangkan stuktur kurikulum pendidikan menengah, terdiri atas kelompok mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Mata pelajaran wajib mencakup sembilan mata pelajaran dengan beban belajar 24 jamper minggu. Isi kurikulum (KI dan KD) dan mata pelajaran pilihan akademik untuk SMA/MA serta pilihan akademik dan vokasional untuk SMK/MAK. Mata pelajaran pilihan ini memberi corak kepada fungsi satuan pendidikan dan didalamnya terdapat pilihan sesuai minat peserta didik. Beban belajar di SMA/MA untuk tahunX, XI, dan XII masing-masing 42, 44, dan 44 jam pelajaran per minggu satu jam belajar adalah 45 menit. Sedangkan beban belajar untuk SMK/MAK adalah 48 jam pelajaran per minggu. Oleh karena itu, struktur umum SMK/MAK sama dengan struktur umum SMA/MA, yakni ada tiga kelompok mata pelajaran: Kelompok A (Mapel Wajib A), B (Mapel

Wajib B), dan Kelompok C (Peminatan). Adapun contoh struktur umum program keahlian SMK/MAK (Panduan Penilaian Pada SMK, 2015: 6) terlihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1

Struktur Kurikulum Kelompok Mata Pelajaran Pendidikan Menengah MATA PELAJARAN ALOKASI WAKTU PER MINGGU X XI XII Kelompok A (Wajib)

1. Pendidikan Agama dan Budi

Pekerti 3 3 3

2. Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan 2 2 2 3. Bahasa Indonesia 4 4 4 4. Matematika 4 4 4 5. Sejarah Indonesia 2 2 2 6. BahasaInggris 2 2 2 Kelompok B (Wajib) 7. Seni Budaya 2 2 2

8. Pendidikan Jasmani, Olahraga,

dan Kesehatan 3 3 3

9. Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2 Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan

B per minggu 24 24 24

Kelompok C (Peminatan)

Mata Pelajaran Peminatan Akademik

(SMA/MA) 18 20 20

Mata Pelajaran Peminatan Akademik

dan Vokasi (SMK/MAK) 24 24 24

Jumlah Jam Pelajaran Yang Harus

Ditempuh Perminggu (SMA/MA) 42 44 44

Jumlah Jam Pelajaran Yang Harus

2. Implementasi Kurikulum 2013

Dokumen terkait