G. Pengujian kuesioner
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Pengaruh Label Kemasan Pangan terhadap Keputusan Responden
4.3.3. Label kemasan pangan dan keputusan responden
Data mengenai hubungan label kemasan pangan yang diperhatikan oleh responden dengan keputusan responden disajikan dalam bentuk tabulasi silang seperti pada tabel 19.
Tabel 19. Tabulasi silang antara label kemasan pangan yang diperhatikan dan keputusan responden
Keputusan Responden
Tetap membeli Tidak membeli TOTAL Label kemasan pangan n % n % n % Label Halal 2 3,2 21 33,3 23 36,5 Waktu Kadaluarsa 0 0,0 22 34,9 22 34,9 Nama produk 2 3,2 11 17,5 13 20,6 Ingredients 3 4,8 2 3,2 5 7,9 TOTAL 7 11,1 56 88,9 63 100,0
Hubungan antara label kemasan pangan yang diperhatikan dengan keputusan responden dianalisa lebih lanjut menggunakan uji chi square dengan program SPSS 13. Hasil uji chi square untuk mengetahui hubungan antara label kemasan pangan yang diperhatikan dan keputusan konsumen terdapat pada lampiran 12.
Hipotesis yang diajukan pada taraf signifikansi α = 0,05 adalah: H0 = Label yang diperhatikan responden dan keputusan saling bebas. H1 = Label yang diperhatikan responden dan keputusan tidak saling
bebas.
Karena nilai Asymp. Sig. < signifikansi (α = 0,05), maka kita dapat menolak H0, artinya label kemasan pangan yang diperhatikan dan keputusan responden tidak saling bebas atau dengan kata lain keduanya berhubungan. Keputusan merupakan bagian dari tindakan yang dilakukan konsumen. Ahmadi (1991) mendefinisikan tindakan sebagai tahapan dimana pengetahuan atau informasi mulai dilaksanakan oleh seseorang dalam suatu tingkah laku yang disesuaikan dengan kebutuhan dan motivasinya. Kebutuhan akan makanan yang aman mampu membuat responden mengambil pilihan
untuk tidak membeli suatu produk pangan jika mereka tidak menemukan label/keterangan yang dicari.
Berdasarkan tabel 19. semua responden yang memperhatikan label kadaluarsa sebelum membeli makanan (34,9% = 22 orang) memutuskan untuk tidak jadi membeli makanan tersebut jika tidak menemukan label kadaluarsa pada kemasannya. Hal ini bisa terjadi karena konsumen sudah paham tentang fungsi waktu kadaluarsa, yaitu sebagai waktu pembatas kualitas makanan. Jadi jika waktu kadaluarsa sudah terlewati maka makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi.
Responden yang memperhatikan label selain waktu kadaluarsa, masih ada yang merasa aman untuk membeli makanan walaupun tidak menemukan label yang dicarinya itu. Meskipun begitu, jumlah responden yang tetap membeli tergolong sedikit. Secara umum alasan yang dikemukakan responden yang memutuskan untuk tidak jadi membeli adalah karena faktor keamanan terutama dari segi mutu maupun agama. Berdasarkan hal tersebut maka keterangan mengenai waktu kadaluarsa dan juga kehalalan produk merupakan penentu keputusan apakah responden jadi membeli produk pangan tersebut atau tidak. Jika ditotal responden yang memilih waktu kadaluarsa dan label halal sebagai prioritas pertama label kemasan yang diperhatikan berjumlah 71% responden (45 orang), tetapi secara keseluruhan semua responden (63 orang) menempatkan keduanya dalam prioritas mereka walaupun bukan pada urutan yang utama. Hal ini bisa jadi karena keduanya memang menentukan dalam hal keamanan makanan. Pemberitaan di media massa beberapa waktu lalu mengenai banyaknya makanan kadaluarsa yang masih beredar di pasaran juga dapat menyebabkan meningkatnya kecenderungan responden untuk lebih berhatihati dalam membeli makanan terutama dengan memperhatikan waktu kadaluarsa makanan tersebut.
Alasan responden tetap membeli makanan yang tidak mencantumkan label kemasan pangan yang dicarinya adalah karena responden ingin mencoba makanan tersebut dan ada juga yang
disebabkan pedagang/penjualnya mengatakan makanan tersebut baru/aman. Peneliti mencoba menghubungkan keputusan responden untuk tetap membeli walaupun tidak ada label pada kemasan makanan yang dicarinya dengan atribut produk yang diperhatikan ketika akan membeli makanan dan juga tingkat ekonomi responden. Data mengenai hubungan ini terdapat pada tabel 20.
Tabel 20. Alasan responden tetap membeli makanan dihubungkan dengan atribut yang diperhatikan dan pengeluaran responden.
No Alasan Atribut produk yang
diperhatikan Pengeluaran 1 Ingin mencoba Ukuran 300000500000 2 Ingin mencoba Ukuran 300000500000 3 Ingin mencoba Ukuran 300000500000 4 Ingin mencoba Harga 300000500000 5 Ingin mencoba Kemasan 300000500000 6 Percaya pada penjual Nama Produk >500000 7 Percaya pada penjual Lainnya, rasa 300000500000
Peneliti beranggapan bahwa atribut produk yang pertama kali diperhatikan ketika akan membeli produk pangan akan berpengaruh pada keputusan konsumen untuk tetap membeli produk tersebut walaupun tidak terdapat label kemasan pangan yang dicarinya. Sebagai contoh, konsumen yang memperhatikan nama produk pangan biasanya akan sulit beralih ke produk pangan lainnya yang sejenis. Kepercayan terhadap suatu produk bisa terbentuk karena kebiasaan di dalam keluarga yang menggunakan produk tersebut. Lain lagi dengan responden yang memperhatikan harga sebelum membeli produk pangan. Akan sulit bagi responden seperti ini jika produk pangan yang tidak berlabel memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan produk yang berlabel. Akhirnya responden tetap akan membeli produk pangan tersebut walaupun tidak berlabel karena harganya lebih murah.
Tingkat pengeluaran yang rendah (tingkat pengeluaran yang rendah mengindikasikan tingkat ekonomi juga rendah) dapat membatasi pilihan responden pada barangbarang yang berharga murah saja, sedangkan responden yang memiliki tingkat pengeluaran lebih tinggi tentunya tidak terbatasi dengan harga makanan.
Sumber informasi responden merupakan satusatunya variabel yang berhubungan dengan perhatian responden terhadap label kemasan pangan. Oleh sebab itu, peneliti juga mencoba mencari tahu apakah variabel ini juga berhubungan dengan keputusan responden. Hubungan ini akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi silang dan untuk memperkuat hasil tabulasi silang, maka hubungan ini selanjutnya akan dianalisa dengan uji chi square. Tabulasi silang antara sumber informasi responden dan keputusan responden terdapat pada tabel 21, sedangkan hasil uji chi square antara keduanya terdapat pada lampiran 13.
Hipotesis yang diajukan pada taraf signifikansi α = 0,05 adalah: H0 = Sumber informasi responden dan keputusan responden saling
bebas.
H1 = Sumber informasi responden dan keputusan responden tidak saling bebas.
Tabel 21. Tabulasi silang antara sumber informasi responden dan responden Perilaku Responden Tetap membeli Tidak membeli TOTAL Sumber Informasi n % n % n % Keluarga 3 4,8 25 39,7 28 44,4 Media cetak 1 1,6 4 6,3 5 7,9 Media elektronik 3 4,8 19 30,2 22 34,9 Teman 0 0,0 4 6,3 4 6,3 Pengajar 0 0,0 4 6,3 4 6,3 TOTAL 7 11,1 56 88,9 63 100,0
Nilai asymp. Sig yang diperoleh melalui uji chi square (lampiran 13) adalah sebesar 0,818. Karena nilai asymp. Sig yang didapat lebih besar dari taraf signifiukansi yang digunakan (0,05) maka H0 diterima atau hubungan antara sumber informasi dan keputusan membeli yang dilakukan responden saling bebas (tidak berhubungan). Sumber informasi responden mengenai label kemasan pangan dapat mempengaruhi responden untuk memperhatikan label kemasan pangan sebelum membeli suatu makanan, tetapi informasi yang didapatkan dari sumber informasi tersebut tidak lagi dijadikan acuan oleh responden ketika mereka memutuskan untuk membeli ataupun tidak jadi membeli makanan tersebut. Itu berarti ada faktor lain yang yang mempengaruhi keputusan responden. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan konsumen perlu diadakan penelitian lebih lanjut.