SKRIPSI PENGARUH LABEL KEMASAN PANGAN TERHADAP KEPUTUSAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DALAM MEMBELI MAKANAN RINGAN DI KOTA BOGOR Oleh : SUSANTO F24103134 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Susanto. F24103134. Pengaruh Label Kemasan Pangan Terhadap Keputusan Siswa Menengah Atas dalam Membeli Makanan Ringan di Kota Bogor. Di bawah Bimbingan: Prof. Dr. Ir. H. Dedi Fardiaz, MSc
Ringkasan
Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan. Keberadaan label pangan pada kemasan membuat label memiliki fungsi penting baik bagi konsumen maupun bagi produsen.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan kuesioner sebagai instrumen yang digunakan untuk pengambilan data. Populasi yang digunakan sebagai sampel adalah siswa SMA di Kota Bogor yang berjumlah 22.653 orang. Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penentuan sekolah dan tahap kedua adalah penentuan siswa yang akan dijadikan responden. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin.
Sekolah yang terpilih adalah SMA N 1 Bogor dan SMA Pembangunan 1. Jumlah minimal sampel yang harus diambil adalah 100 orang (hasil pembulatan). Kuesioner yang disebar sebanyak 130 kuesioner, tetapi hanya 103 responden yang mengisi dengan benar. Sebanyak 51,5% reponden berasal dari SMA Pembangunan 1 dan sisanya, yaitu sebanyak 48,5% berasal dari SMA N 1 Bogor. Responden lakilaki berjumlah 49,5% dan responden wanita berjumlah 50,5%. Usia siswa yang dijadikan sampel penelitian antara 1419 tahun. Responden yang beragama Islam sebanyak 96,1% dan Kristen sebanyak 3,9%. Sebanyak 64,1% responden memiliki tingkat pengeluaran per bulan antara Rp. 300.000 – Rp. 500.000, sedangkan 30,1% memiliki pengeluaran <Rp. 300.000 dan sisanya, yaitu sebanyak 5,8% memiliki pengeluaran >Rp. 500.000. Pengetahuan responden tentang label kemasan pangan tergolong cukup baik. Hanya 2,9% responden saja yang memiliki pengetahuan mengenai label kemasan pangan kurang baik. Kebanyakan responden mendapatkan informasi mengenai label kemasan pangan dari media elektronik (42, 7%) dan keluarga (36,9%).
Responden yang memperhatikan label kemasan pangan sebelum membeli makanan berjumlah 61,2%. Faktor yang mempengaruhi perhatian responden terhadap label kemasan pangan adalah sumber informasi dengan nilai asymp.sig 0,01 (< α = 0,05), sedangkan faktorfaktor lainnya (jenis kelamin, asal sekolah, usia, agama, tingkat pengetahuan, dan tingkat pengeluaran) tidak berpengaruh terhadap responden.
Label kemasan pangan yang paling diperhatikan responden adalah label halal (36,5%), waktu kadaluarsa (34,9%), nama produk (20,6%), dan komposisi makanan (7,9%). Sebanyak 88,9% responden memutuskan untuk tidak jadi membeli makanan jika tidak menemukan label kemasan pangan yang dicarinya dan hanya 11,1% yang tetap membeli makanan walaupun tidak menemukan label kemasan pangan yang dicarinya. Keputusan responden untuk tidak atau tetap
membeli makanan jika tidak menemukan label kemasan pangan yang dicarinya tidak dipengaruhi oleh faktorfaktor yang diteliti pada penelitian ini.
PENGARUH LABEL KEMASAN PANGAN TERHADAP KEPUTUSAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DALAM MEMBELI MAKANAN RINGAN DI KOTA BOGOR SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor Oleh : SUSANTO F24103134 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PENGARUH LABEL KEMASAN PANGAN TERHADAP KEPUTUSAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DALAM MEMBELI MAKANAN RINGAN DI KOTA BOGOR SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor Oleh : SUSANTO F24103134 Dilahirkan pada tanggal 04 Januari 1983 Di Bogor Tanggal Lulus : Menyetujui, Bogor, Mei 2008 Prof. Dr. Ir. H. Dedi Fardiaz, MSc. Pembimbing Mengetahui, Bogor, Mei 2008 Dr. Ir. Dahrul Syah Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 04 Januari 1983. Penulis adalah anak keempat dari empat bersaudara, pasangan Darmo dan Rimah. Jenjang pendidikan yang telah ditempuh oleh penulis adalah Sekolah Dasar di SDN Sukamaju 3 (19901996), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 3 Depok (19961999), dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Depok (1999 2002). Penulis diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Isntitut Pertanian Bogor pada tahun 2003, melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
Selama kuliah, penulis aktif dalam berbagai kepanitian kegiatan di dalam kampus, diantaranya Kongres Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan (HMPPI) I (2005), Masa Perkenalan Fakultas (TechnoF) (2006), Masa Perkenalan Departemen Ilmu dan teknologi Pangan (BAUR) (2006). Selain itu, penulis juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Pertanian (2004 2006). Penulis pernah menjadi utusan BEM Fakultas Teknologi Pertanian untuk mengikuti PIMNAS XVII di Padang. Penulis juga pernah menjadi asisten mata kuliah Pendidikan Agama Islam pada tahun 2006.
Penulis melakukan penelitian sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian dengan judul PENGARUH LABEL KEMASAN PANGAN TERHADAP KEPUTUSAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DALAM MEMBELI MAKANAN RINGAN DI KOTA BOGOR di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz, MSc.
KATA PENGANTAR
Bismillahhirrahmanirrahim. Puji dan syukur penulis ucapkan atas segala nikmat, kemudahan, petunjuk, dan berbagai hal yang telah ALLAH SWT limpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Label Kemasan Pangan Terhadap Keputusan Siswa Menengah Atas dalam Membeli Makanan Ringan di Kota Bogor. Skripsi ini penulis susun dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz Muchtadi, MSc. Ucapan terima kasih ingin penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu :
1. Bapak, Mami, Bang Ndi, Bang Yono, dan Bang Icham atas segala kasih sayang, perhatian, dan do’a tiada henti kepada penulis selama ini.
2. Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz Muchtadi, MSc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan, dan saran kepada penulis dalam meyusun skripsi ini.
3. Dosendosen dan staf ITP atas ilmu dan bantuannya selama penulis kuliah. 4. Bu Marlen (SMA N 1 Bogor) dan Pak Sugeng (SMA Pembangunan 1) atas
bantuannya dalam pengambilan data.
5. Siswasiswa SMA N 1 Bogor dan SMA Pembangunan 1 yang bersedia menjadi responden.
6. Temanteman lamaku Dio, Galih, Oho, OQ, Koko, Yogi, dan Uci atas semua kelucuan, nasehat, dan dukungannya.
7. Kwintanto Sambodo, Chaerul Umam, M. Ihsanur, dan Bot Pranadi atas semua nasehatnya kepada penulis.
8. Temanteman satu bimbingan, Titin, Fanny, dan Gading atas semua kebersamaannya.
9. Temanteman satu Kost, Aliy, Ramdhan, Mamo, dan Mas Duta.
10. Temanteman Fateta, Redy, Agung, Kukuh, Isti, Bubun, Mas Hanif, Ikhlas, Tarwin.
11. Temanteman Asrama, Steph, Cholil, Susfa, Sony, Slamet, Sudar, Potel, dll. 12. M. Fachrial Thalib, atas semua cerita dan usulnya.
13. Temanteman golongan praktikum D, Andal, Teddy, Sarwo, Eko, Usman, Andreas, Agus, Arga, Dion, Ratna, Pauline, Andrea, Rucit, Annis, Ika, Dini, Dea, Intan, Adisti, Mardi, Angel, Eka, Prima, Mae, Gading, Lasty, Maya. 14. Temanteman TPG ’40, Aan, Aca, Iin, Indach, Oboth, Meiko, Rahmat,
Mitool, Lala, Ozan, Arie, Helmy, dan lainlain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, atas semua bantuannya kepada penulis selama ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, Maret 2008
DAFTAR ISI RINGKASAN...i RIWAYAT HIDUP...iv KATA PENGANTAR...v DAFTAR ISI...vii DAFTAR TABEL...ix DAFTAR GAMBAR...x DAFTAR LAMPIRAN...xi I.PENDAHULUAN...1 A. Latar Belakang...1 B. Perumusan Masalah...3 C. Tujuan...3 D. Kegunaan Penelitian...3 II. TINJAUAN PUSTAKA...5 A. Pangan...5 B. Label Kemasan Pangan...7 C. Perilaku Konsumen...11 1. Faktor individu konsumen...12 2. Faktor lingkungan...13 D. Remaja……….14 E. Makanan Ringan………15 III. METODOLOGI PENELITIAN...17 A. Kerangka Pemikiran...17 B. Desain Penelitian...19 C. Lokasi dan Waktu Penelitian...19 D. Populasi dan Sampel Penelitian...20 E. Pengumpulan Data...21 F. Instrumentasi...22 G. Pengujian kuesioner...22 I. Metode Analisis Data...24 DEFINISI OPERASIONAL...26
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...27 4.1 Gambaran Umum Responden...27 4.1.1 Karakteristik individu responden...27 4.1.2 Pengetahuan responden tentang label kemasan pangan...29 4.1.3 Sumber informasi responden...32 4.1.4. Perilaku responden...33 4.1.4.1. Atribut produk utama yang paling diperhatikan responden...33 4.1.4.2. Perhatian responden terhadap label kemasan pangan...34 4.2.Karakteristik Responden dan Perhatian Terhadap Label Kemasan Pangan...35 4.2.1 Asal Sekolah dan perhatian terhadap label kemasan pangan...35 4.2.2 Jenis Kelamin dan perhatian terhadap label kemasan pangan...36 4.2.3 Usia dan perhatian terhadap label kemasan pangan...38 4.2.4 Agama dan perhatian terhadap label kemasan Pangan...39 4.2.5. Tingkat pengeluaran tentang label kemasan pangan dan perhatian konsumen terhadap label kemasan pangan...39 4.2.6 Tingkat pengetahuan responden dan perhatian terhadap label kemasan pangan...41 4.2.7 Sumber informasi responden dan perhatian terhadap label kemasan pangan...42 4.3 Pengaruh Label Kemasan Pangan terhadap Keputusan Responden...43 4.3.1. Label kemasan yang paling diperhatikan responden...43 4.3.2. Pengaruh label kemasan pangan terhadap keputusan responden...44 4.3.3. Label kemasan pangan dan keputusan responden...45 V. KESIMPULAN DAN SARAN...50 A. Kesimpulan...50 B. Saran...51 VI. DAFTAR PUSTAKA...52 LAMPIRAN...56
DAFTAR TABEL Tabel 1.Sebaran konsumen berdasarkan jenis kelamin...27 Tabel 2. Sebaran konsumen berdasarkan asal sekolah...27 Tabel 3. Sebaran konsumen berdasarkan usia...28 Tabel 4. Sebaran responden berdasarkan agama...28 Tabel 5. Sebaran responden berdasarkan tingkat pengeluaran...29 Tabel 6. Sebaran responden berdasarkan pengetahuan terhadap label...30 Tabel 7. Sebaran responden berdasarkan sumber informasi...33 Tabel 8. Sebaran konsumen berdasarkan atribut produk yang paling diperhatikan...34 Tabel 9. Sebaran responden berdasarkan perhatiannya terhadap label kemasan pangan..35 Tabel 10.Tabulasi silang antara asal sekolah responden dengan perhatian terhadap label kemasan pangan...36 Tabel 11. Tabulasi silang antara jenis kelamin responden dengan perhatian terhadap label kemasan pangan...37 Tabel 12. Tabulasi silang antara usia responden dengan perhatian terhadap label kemasan pangan...38 Tabel 13. Tabulasi silang antara agama dan perhatian terhadap label kemasan pangan...39 Tabel 14. Tabulasi silang antara tingkat pengeluaran dan perhatian terhadap label kemasan pangan...40 Tabel 15. Tabulasi silang antara pengetahuan dan perhatian...41 Tabel 16. Tabulasi silang antara sumber informasi dan perhatian responden terhadap label kemasan pangan...42 Tabel 17. Sebaran responden berdasarkan label kemasan pangan yang paling diperhatikan...44 Tabel 18. Sebaran konsumen berdasarkan keputusannya...44 Tabel 19. Tabulasi silang antara label kemasan pangan yang diperhatikan dan keputusan responden...45 Tabel 20.Alasan responden tetap membeli makanan dihubungkan dengan atribut yang diperhatikan dan pengeluaran responden...48 Tabel 21.Tabulasi silang antara sumber informasi responden dan responden...50
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Daftar SMA yang ada di Kota Bogor...56 Lampiran 2. Daftar siswa yang menjadi responen pada penelitian ini...58 Lampiran 3. Kuesioner Penelitian yang digunakan untuk mengambil data...65 Lampiran 4. Perhitungan reliabilitas...71 Lampiran 5. Data responden berdasarkan jawaban yang benar pada setiap pertanyaan mengenai pengetahuan tentang label kemasan pangan.73 Lampiran 6. Uji chi square antara asal sekolah dan perhatian...74 Lampiran 7. Uji Chi Square antara jenis kelamin dengan perhatian ...75 Lampiran 8. Uji chi square antara usia dan perhatian ...76 Lampiran 9. Uji chi square antara pengeluaran dan perhatian...77
Lampiran 10. Uji Chi square antara tingkat pengetahuan dan perhatian...78
Lampiran 11. Uji Chi square antara sumber informasi dan perhatian...79
Lampiran 12. Uji chi square antara label kemasan pangan yang diperhatikan dengan keputusan responden...80
Lampiran 13. Uji chi square antara sumber informasi dengan keputusan responden...81
Lampiran 14. Hasil uji chi square antara agama responden dengan perhatian terhadap label kemasan pangan...82
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan bahan pengemas pangan berlangsung sejalan dengan upaya produsen pangan untuk mempertahankan mutu dan keamanan pangan selama mungkin. Mutu pangan yang terjaga dalam waktu yang lama akan memudahkan produsen dalam mendistribusikan produknya kepada konsumen yang letaknya sangat jauh sekalipun. Selain berfungsi menjaga mutu, kemasan pangan juga bisa dimanfaatkan oleh produsen untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen termasuk di dalamnya adalah memberikan informasiinformasi yang lebih detail mengenai produk tersebut, seperti komposisi bahan, nilai gizi dan lainlain. Selain informasi mengenai produk tersebut, produsen juga boleh mencantumkan klaimklaim yang dapat memikat konsumen, namun informasi dan klaim yang dicantumkan harus benar, jelas, dan jujur, sesuai dengan ketentuan pasal 4 undangundang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.
Informasi yang jelas dan benar yang terdapat pada label kemasan pangan akan memudahkan konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli atau tidak jadi membeli suatu produk pangan. Jika produsen sudah secara benar mencantumkan label kemasan pangan maka yang harus dicermati adalah kesadaran konsumen dalam memanfaatkan sarana tersebut. Walaupun produk pangan semakin beragam dewasa ini, tetapi hal itu tidak akan menyulitkan konsumen dalam memilih jika mereka mau memperhatikan label kemasan pangan dari produkproduk yang ada di pasaran.
Label kemasan pangan adalah sumber informasi bagi konsumen tentang suatu produk makanan karena konsumen tidak bisa bertemu langsung dengan produsennya. Oleh karena itu label dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi konsumen untuk menentukan pilihan. Masyarakat di negara maju sudah terbiasa membaca label kemasan pangan dengan cermat dan teliti serta membandingkan dengan produk lain dari segi komposisi, berat bersih, serta harganya sebelum mereka membeli.
Menurut Moniharapon (1998), tujuan pemberian label kemasan pangan adalah agar masyarakat yang membeli dan mengkonsumsinya memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk pangan yang dikemas, baik menyangkut asal, keamanan mutu, kandungan gizi maupun keterangan lain yang diperlukan, sebelum memutuskan akan membeli atau mengkonsumsi produk pangan tersebut. Label kemasan pangan memiliki banyak manfaat bagi konsumen, namun seringkali isinya tidak dimengerti oleh konsumen dan bisa jadi justru mengelabui konsumen. Oleh karena itu pemerintah mengatur ketentuan pencantuman label dalam undangundang no 7 tahun 1996 tentang pangan dan juga dalam Peraturan Pemerintah no 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan dengan maksud untuk melindungi konsumen.
Walaupun sudah ada peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur pencantuman label kemasan pangan, tetapi kenyataan yang ada menunjukkan bahwa banyak informasi yang tertera dalam label kemasan pangan belum tentu sesuai dengan kandungan dalam makanan tersebut. Beberapa penelitianYayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang dilakukan pada tahun 2004 mengungkapkan banyak fakta ketidaksesuaian antara label dengan isi dalam kemasan. Seringkali ditemukan label yang kurang informatif dan bahkan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, sayangnya hanya sedikit konsumen yang peduli. Salah satu contoh penyimpangan yang dikemukakan oleh YLKI adalah pencantuman gambar, misalnya pada kemasan mie instan dicantumkan gambar mie instan dengan telur dan ayam yang menggugah selera. Gambar ini menyesatkan karena di dalam produk tersebut tidak terdapat telur dan ayam.
Kenyataankenyataan di atas tentunya sangat memprihatinkan, tetapi di sisi lain hal itu justru menggambarkan pentingnya label kemasan pangan bagi produsen untuk menarik perhatian konsumen. Sampaisampai ada produsen makanan yang rela melakukan kebohongan lewat label kemasan pangan yang dicantumkannya. Dari sisi konsumen, kebohongan tersebut tentunya sangat merugikan, tetapi hal ini hanya berlaku bagi mereka yang memperhatikan label kemasan pangan. Karena itulah, peneliti ingin mengetahui perhatian
konsumen terhadap label kemasan pangan dan pengaruh label tersebut dalam keputusan konsumen.
B. Perumusan Masalah
Pemberian label pada kemasan pangan ditujukan untuk mempermudah konsumen memilih produk pangan yang sesuai dengan keinginannya, termasuk aspek keamanan dari produk pangan tersebut. Sayangnya belum semua konsumen memanfaatkan keberadaan label secara tepat. Oleh karena itu, dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Dari sisi apa konsumen memutuskan membeli makanan?
2. Bagaimanakah hubungan antara faktor internal (karakteristik individu dan pengetahuan konsumen tentang label kemasan pangan) dan faktor eksternal dengan perilaku konsumen (perhatian konsumen pelajar terhadap label kemasan pangan)?
3. Bagaimanakah hubungan antara perhatian terhadap label kemasan pangan dengan keputusan pembelian konsumen?
C. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui urutan atribut produk dan keterangan label kemasan pangan yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli makanan ringan.
2. Untuk mengetahui hubungan antara faktor internal (karakteristik individu konsumen dan pengetahuan konsumen tentang label kemasan pangan) dan faktor eksternal dengan perilaku konsumen (perhatian konsumen terhadap label kemasan pangan).
3. Untuk mengetahui hubungan antara perhatian konsumen terhadap label kemasan pangan dengan keputusan pembelian konsumen.
D. Kegunaan Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perilaku konsumen dalam memanfaatkan label kemasan pangan.
2. Penelitian ini juga bisa menjadi bahan pelajaran bagi konsumen tentang pentingnya membaca label kemasan sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk pangan.
3. Penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi masukan bagi pihakpihak terkait untuk lebih mensosialisasikan kegunaan label kemasan pangan kepada konsumen dan juga produsen.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pangan
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan pemenuhan akan kebutuhan pangan merupakan hak asasi setiap orang, dengan demikian, pangan bagi penduduk harus tersedia setiap saat dimana saja penduduk membutuhkannya (Fardiaz dan Fardiaz, 2003). Hal serupa juga dinyatakan oleh Wirakartakusumah (2001) bahwa pangan adalah kebutuhan dasar bagi manusia dan pemenuhannya merupakan hak asasi setiap warga masyarakat, sehingga pangan harus tersedia dalam jumlah yang cukup, aman, bermutu, bergizi, beragam dengan harga yang terjangkau oleh kemampuan daya beli masyarakat. Pangan yang tersedia bagi konsumen harus bermutu dan aman berdasarkan suatu standar, sehingga tidak membahayakan dan merugikan kesehatan konsumen. Penyelenggaraan pangan juga harus dilakukan dengan jujur dan bertanggungjawab untuk mencapai tujuan pembangunan yaitu mewujudkan sumberdaya yang berkualitas.
Pangan memiliki pengertian yang luas, mulai dari pangan esensial bagi kehidupan manusia yang sehat dan produktif (keseimbangan kalori, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serat, dan zat esensial lain) serta pangan yang dikonsumsi atas kepentingan sosial dan budaya seperti untuk kesenangan, kebugaran, kecantikan dan sebagainya. Jadi pangan tidak hanya berarti pangan pokok dan jelas tidak hanya berarti beras, melainkan pangan yang terkait dengan berbagai hal lain (Krisnamurti, 2003). Harper, Deaton dan Driskel (1986) mengemukakan bahwa pangan adalah bahanbahan yang dimakan seharihari yang berguna untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jaringan tubuh yang rusak. Pangan menyediakan unsurunsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat gizi. Zat gizi tersebut berfungsi menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh, dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh.
Menurut Susanto (1989), pangan memiliki enam unsur fungsi sosial, yaitu:
1. Fungsi gastronomik
Makanan dikonsumsi dengan tujuan untuk memenuhi permintaan perut yang lapar. Selain itu makanan yang dicari umumnya yang memenuhi selera dan kesenangan orang yang mengkonsumsi. Pada umumnya kesenangan seseorang akan makanan berlandaskan pada dasar dasar psikologis, budaya, dan golongan etnik.
2. Bagian dari sistem budaya.
Makanan dapat memberikan identitas pada individu, kelompok individu atau masyarakat yang mengkonsumsi makanan tersebut.
3. Fungsi religi dan magis.
Pada masyarakat tertentu terdapat banyak sekali simbol religi dan magis yang dicerminkan melalui makanan tertentu dalam berbagai bentuk, rasa, dan warna, misalnya nasi kuning, nasi tumpeng, bubur merah dan putih, ketan kuning yang biasa disajikan dalam acara selametan.
4. Fungsi komunikasi.
Komunikasi nonverbal dapat dicerminkan dalam bentuk makanan sebagai simbol keramahtamahan.
5. Fungsi status sosial ekonomi.
Hampir semua budaya masyarakat memiliki jenis makanan tertentu yang mencirikan simbol status sosialekonomi. Roti putih dipandang memberi status sosial ekonomi lebih tinggi kepada konsumennya dibandingkan roti berwarna kecoklatan di Eropa atau di Indonesia beras berwarna lebih putih mencirikan konsumennya termasuk golongan berstatus sosialekonomi lebih tinggi.
6. Simbol kekuasaan/kekuatan.
Negara besar yang biasanya memberikan bantuan kepada negara miskin yang kekurangan pangan, sewaktuwaktu dapat memberhentikan subsidi pangannya, hal ini terjadi karena negara yang dibantu tidak mendukung politik luar negeri negara tersebut.
B. Label Kemasan Pangan
Informasi tentang produk pada umumnya tertera pada label. Label dapat didefinisikan sebagai tulisan, tag, gambar atau pengertian lain yang tertulis, dicetak, distensil, diukir, dihias atau dicantumkan dengan cara apapun, pemberi kesan yang terdapat pada suatu wadah atau pengemas (Wijaya, 2001). Masih menurut Wijaya (2001), secara garis besar, tujuan pelabelan adalah sebagai berikut:
1. Memberi informasi tentang isi produk yang diberi kemasan tanpa harus membuka kemasan.
2. Memberi petunjuk yang tepat bagi konsumen sehingga diperoleh fungsi produk yang optimum.
3. Berfungsi sebagai sarana komunikasi produsen kepada konsumen tentang halhal yang perlu diketahui oleh konsumen tentang produk tersebut, terutama halhal yang tak dapat diketahui secara fisik.
4. Sarana periklanan bagi produsen. 5. Memberi “rasa aman” pada konsumen.
Berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan pasal 30 ayat 1, “Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan.” Pada pasal yang sama ayat 2, “Label memuat sekurang kurangnya keterangan mengenai nama produk; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke wilayah Indonesia; keterangan tentang halal; tanggal, bulan, dan tahun kadaluarsa”.
Menurut Wijaya (2001) kriteria penulisan label mencakup (a) tulisan menggunakan huruf latin atau arab; (b) ditulis dengan bahasa Indonesia dengan huruf latin; (c) ditulis jelas, lengkap, mudah dibaca (ukuran minimal 0,75 mm dan warna kontras); (d) tidak boleh mencantumkan segala hal baik kata, tanda, atau gambar yang menyesatkan; (e) tidak boleh mencantumkan nasihat, referensi, pernyataan dari siapapun dengan tujuan menaikkan penjualan. Adapun isi label mencakup (a) informasi yang harus dicantumkan
pada label yaitu nama makanan/produk, komposisi atau daftar ingredient, isi netto, nama dan alamat pabrik/importir, nomor pendaftaran, kode produksi, tanggal kadaluarsa, petunjuk atau cara penggunaan, nilai gizi, tulisan atau pernyataan khusus; (b) pernyataan (claim) pada label dan periklanan yaitu pernyataan tentang gizi dan pernyataan tentang kondisi dan penyakit tertentu (theurapetic claim); dan (c) gambar pada label atau iklan.
“Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.” Label makanan seharusnya mencantumkan nama makanan atau nama produk, komposisi atau daftar ingredient, isi netto, nama dan alamat pabrik atau importir, nomor pendaftaran, kode produksi, tanggal kadaluarsa, petunjuk atau cara penyimpanan, petunjuk atau cara penggunaan, nilai gizi, tulisan atau pernyataan khusus.
Nama makanan memberikan informasi mengenai sifat atau keadaan makanan yang sebenarnya. Nama makanan untuk produk dalam negeri ditulis menggunakan bahasa Indonesia dan dapat ditambah dengan bahasa Inggris. Begitu pula nama makanan bagi produk impor, menggunakan nama Indonesia atau nama Inggris.
Tanggal kadaluarsa memberikan informasi mengenai waktu atau tanggal yang menunjukkan suatu produk makanan masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi. Komposisi makanan memberikan informasi daftar lengkap ingredient penyusun makanan termasuk bahan tambahan makanan dengan urutan menurun mulai dari bagian yang terbanyak, kecuali vitamin dan mineral. Bahan tambahan makanan harus mencantumkan nama golongan, misalnya pemanis buatan, antioksidan, anti kempal, pengukur keasaman dan lainlain. Khusus untuk pewarna disebutkan nomor indeksnya. Penyedap rasa alamiah identik dan sintetik harus ditulis berbeda. Nilai gizi yang harus dicantumkan pada label makanan yaitu nilai gizi makanan yang diperkaya, nilai gizi makanan diet, dan makanan lain yang ditentukan Menteri Kesehatan, mencakup jumlah energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan
mineral atau kadar komponen tertentu. Petunjuk atau cara penyimpanan memberikan informasi mengenai hal yang mungkin mempengaruhi sifat dan mutu dari produk makanan, seperti produk susu, daging, dan lainlain (POM, 2004).
Menurut Engel et. Al., (1995), konsumen memberikan perhatian pada label kemasan dengan anggapan bahwa informasi yang tertera dalam label mungkin benar, namun informasi pada kemasan tersebut lebih banyak digunakan oleh konsumen dengan status sosioekonomi tinggi. Status sosioekonomi diantaranya ditunjukkan dari pendidikan, pekerjaan dan pendapatan yang dimiliki konsumen. Konsumen yang memiliki pendidikan lebih tinggi biasanya lebih terbuka menerima informasi yang baru dalam hal ini konsumen akan memiliki perhatian yang lebih terhadap label. Disamping itu konsumen, konsumen akan memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan penghasilan lebih baik. Namun demikian, label biasanya tidak digunakan setuntas mungkin oleh konsumen, sehingga tidak jarang informasi pada label dipandang secara keliru, digunakan sebagian atau di abaikan sama sekali.
Peranan label pada suatu produk sangat penting untuk memperoleh produk yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Label produk yang dijamin kebenarannya akan memudahkan konsumen dalam menentukan beragam produk dan subtitusi di pasaran. Selain sebagai sarana pendidikan pada masyrakat, label juga dapat memberikan nilai tambah bagi produk. Kompetitor produk di pasaran yang semakin bertambah dapat menjadikan label sebagai strategi yang menarik dalam pemasaran. Meskipun dengan label pula, pihak produsen dapat secara sadar atau tidak sadar mengelabui atau bahkan mengorbankan konsumen.
1. UndangUndang (UU) Republik Indonesia (RI) dan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Label Pangan
Undangundang RI no 7 tahun 1996 tentang pangan pasal 30 ayat 1: Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib
mencantumkan label pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan.” Penjelasan pasal 30 ayat 1 menyatakan bahwa tujuan pemberian label pada pangan dikemas adalah agar masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi pangan memperoleh informasi yang benar dan jelas tentang setiap produk pangan yang dikemas baik menyangkut asal, keamanan, mutu, kandungan gizi, maupun keterangan lain yang diperlukan sebelum memutuskan akan membeli atau mengkonsumsi pangan.
Undangundang RI no 7 tahun 1996 tentang pangan pasal 30 ayat 1 menyatakan bahwa label memuat sekurangkurangnya keterangan mengenai nama produk; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke wilayah Indonesia; keterangan tentang halal; tanggal, bulan, dan tahun kadaluarsa.
Peraturan Pemerintah no 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan menyatakan bahwa label pada produk pangan merupakan keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan, baik yang berupa makanan maupun minimum hasil dari cara dan metode produksi tertentu. Peraturan ini juga menyatakan bahwa tujuan pencantuman label adalah sebagai berikut: (1) terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab, (2) label dan iklan merupakan sarana yang penting, sehingga perlu diatur agar informasinya benar dan tidak menyesatkan, (3) masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar dan tidak menyesatkan mengenai pangan yang akan dikonsumsinya, khususnya yang disampaikan melalui label dan iklan pangan.
Peraturan Pemerintah no 69 tahun 1999 bab II mengenai label pangan pada pasal 2 menyebutkan bahwa produsen atau importir wajib mencantumkan label dan label harus tidak mudah lepas, luntur atau rusak dan terletak pada bagian kemasan yang mudah dilihat dan dibaca. Pasal 3 menyebutkan bahwa: (1) label berisi tentang keterangan pangan, (2) syarat
minimum keterangan mencakup nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat produsen/importir, tanggalbulantahun kadaluwarsa.
C. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului tindakan ini (Engel et. al, 1995). Sikap biasanya memainkan peranan utama dalam membentuk perilaku. Menurut Engel et. al. (1995) sikap yang positif akan menimbulkan perilaku yang positif dan sikap yang negatif akan menimbulkan perilaku yang negatif. Perilaku muncul sebagai hasil interaksi antara individu dan lingkungannya. Sehingga perilaku juga bisa dikatakan sebagai reaksi yang terjadi karena adanya stimulus atau interaksi antara individu dengan lingkungannya dan benarbenar dilakukan seseorang dalam bentuk tindakan.
Menurut Hersey dan Blanchard (1991) perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan, dengan kata lain perilaku pada umumnya dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Satuan perilaku yang utama adalah aktivitas. Nyatanya semua perilaku merupakan suatu rangkaian aktivitas. Perilaku diarahkan untuk mencapai tujuan dan di dalamnya mencakup caracara bagaimana mencapai tujuan tersebut. Menurut Engel et. al. (1995) tahapan ini meliputi pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan terakhir yaitu hasil penilaian konsumen terhadap produk yang telah dibeli. Tahapantahapan ini tidak selalu dilakukan oleh konsumen, kecuali untuk produkproduk yang relatif baru di pasaran, sedangkan untuk produkproduk yang sudah biasa dikonsumsi oleh konsumen biasanya ada proses yang tidak dilakukan, seperti pencarian informasi.
Perilaku konsumen dalam memilih produk selalu berbedabeda, jika dicermati, perilaku konsumen dipusatpusat perbelanjaan modern atau tempat lainnya, akan didapatkan setidaknya tiga kelompok. Pertama, konsumen yang hanya mempertimbangkan faktor harga (murah atau tidak).
Kedua, konsumen yang hatihati dalam memilih produk karena dorongan agama. Ketiga, konsumen yang membeli karena faktor kesehatan, atau karena kualitas dan lebih tertarik pada tabel komposisi bahan yang tertera pada kemasan produk (AlAsyhar, 2002).
Tindakan membeli yang dilakukan oleh konsumen berwujud pada pilihanpilihan konsumen terhadap merk, jumlah produk, tempat, waktu dan frekuensi pembelian. Keputusan konsumen yang dilaksanakan dalam bentuk tindakan membeli tidak muncul begitu saja, tetapi melalui suatu tahapan tertentu seperti telah dijelaskan di atas. Selain itu keputusan pembelian oleh konsumen juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Setidaknya ada dua faktor yang menentukan, yaitu pengaruh lingkungan dan perbedaan individu (Engel et. al., 1995). Konsumen yang berasal dari golongan pelajar umumnya bisa dilihat perbedaannya dari segi usia, jenis kelamin, pengetahuan, dan tingkat ekonomi (pengeluaran ataupun pendapatan pada rentang waktu tertentu).
1. Faktor individu konsumen
Faktor individu (karakteristik demografi konsumen) terdiri dari jenis kelamin usia, pengeluaran, dan pengetahuan konsumen. Karakteristik demografi konsumen akan menggambarkan adanya pertukaran nilai, kebutuhan, kebiasaan maupun perilaku yang berbeda antara suatu kelompok konsumen dengan lainnya (Mowen dan Minor, 2002).
Jenis kelamin. Jenis kelamin mempunyai pengaruh dalam keputusan pembelian oleh konsumen. Konsumen wanita umumnya memiliki lebih banyak kriteria dalam membeli suatu produk.
Usia. Konsumen melakukan pembelian sepanjang hidupnya dan setiap tahapan kehidupan dari mulai bayi hingga dewasa akan membeli barang atau jasa sesuai dengan adanya perbedaan kebutuhan. Pemilihan dan selera terhadap pangan dan barang lainnya dipengaruhi oleh faktor usia (Kotler, 2002).
Pengeluaran. Keputusan dalam membeli suatu produk dan merk sangat dipengaruhi oleh sumberdaya ekonomi yang dimiliki sekarang atau pada masa yang akan datang. Sehubungan dengan hal tersebut, keadaan
sosial ekonomi merupakan variabel pertama yang dianalisis di dalam studi perilaku konsumen (Engel et al., 1995).
Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki konsumen dapat meningkatkan kemampuan konsumen untuk mengerti suatu pesan, membantu mengamati logika yang salah, dan dapat menghindari penafsiaran yang tidak benar (Engel et al., 1995). Menurut Setiadi (2003), pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan unsur dari kepribadiannya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki seseorang maka akan semakin mantap serta lebih berhatihati dalam menentukan keputusan.
2. Faktor lingkungan
Pengaruh lingkungan merupakan faktor diluar individu yang akan mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan. Berbagai rangsangan ataupun stimulus diluar individu tersebut dapat berupa iklan ataupun promosi yang dapat dijadikan sumber informasi bagi konsumen (Kotler, 2002).
Sumber informasi. Sumber informasi diartikan sebagai subjek ataupun karakter penyampai pesan. Keahlian dan validitas sumber informasi sangat mempengaruhi konsumen. Semakin ahli dan terpercaya sumber informasi maka konsumen akan semakin percaya (Mowen dan Minor, 2002). Menurut Kotler (2002), sumber informasi dapat dikelompokkan menjadi empat:
1. Sumber pribadi, yaitu informasi yang berasal dari keluarga, teman, tetangga maupun kenalan.
2. Sumber komersial, yaitu informasi yang berasal dari iklan, wiraniaga, distributor, kemasan maupun model produk yang dipajang.
3. Sumber publik, yaitu media massa maupun organisasi. 4. Sumber pengalaman, yaitu evaluasi dan pemakaian produk. Karakteristik konsumen dan produk akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap sumber informasi yang digunakan. Sebagian besar konsumen memperoleh informasi dari sumber komersial. Akan tetapi
sumber informasi yang efektif berasal dari sumber pribadi. Sumber komersial umumnya berperan sebagai pemberi informasi, sedangkan sumber pribadi berperan sebagai evaluator. Pada kondisi tertentu, konsumen mencari informasi secara aktif yaitu dengan mencari bahan bacaan, menelpon teman, maupun mengevaluasi produk dengan berkunjung ke toko (Kotler, 2002)
D. Remaja
Secara psikologis remaja adalah tahaptahap umur yang datang setelah masa kanakkanak berakhir, ditandai oleh perubahan fisik yang cepat (Daradjat, 1995). Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja membawa akibat yang tidak sedikit terhadap perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. Hal inilah yang menyebabkan para pakar pendidikan dan psikologi menyebut remaja sebagai tahap peralihan dari anakanak, serta persiapan memasuki usia dewasa yang mempunyai ciriciri tersendiri. Sarwono (1993) membagi perkembangan remaja dibagi atas dua tahap yaitu tahap remaja awal (umur 1417 tahun untuk anak lakilaki dan umur 1317 tahun untuk anak perempuan) dan tahap remaja akhir (umur 1821 tahun). Ciriciri remaja menurut Soekanto (1991) adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan fisik yang cepat
2. Keinginan yang kuat untuk berinteraksi sosial dengan kalangan yang lebih matang kepribadiannya
3. Keinginan yang kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan dewasa.
4. Mulai memikirkan kehidupan secara mandiri
5. Adanya perkembangan intelekualitas untuk mendapatkan identitas diri 6. Menginginkan sistem kaidah nilai yang serasi dengan kebutuhan atau
keinginan yang tidak selalu sama dengan orang dewasa.
Daradjat (1995) menambahkan bahwa para remaja mengalami perubahan pada karakteristik fisik, psikis, aturan sosial, dan tanggung jawab. Satu hal penting akibat dari perubahan tersebut adalah kontrol yang berlebihan terhadap pola makan. Makanan yang dikonsumsi tidak hanya bergantung dari
pengaruh pola makan keluarga, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk image diri, teman sebaya, media, budaya, dan harapan sosial dalam hubungannya dengan bentuk dan ukuran tubuh.
Pada masa remaja berhubungan dengan teman sebaya menjadi sangat penting dan lingkungan sosial dimana para remaja berada sangat mempengaruhinya. Menurut Soemardjan (1991), pengaruh modernisasi dapat mengubah pribadi remaja dengan terbukanya kerterasingan fisik dan budaya masyarakat karena datangnya ajaranajaran modern melalui pendidikan sekolah. Tiga sumber kekuatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi jiwa remaja adalah kekuatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial yang mengelilinginya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masa remaja dan akan menjadi konstan setelah dewasa. Remaja mempunyai kebutuhan yang tidak jauh beda dengan teman sebayanya. Remaja akan menyesuaikan diri dengan teman sebayanya, hal ini sangat kuat tercermin pada pemilihan makanan baik di sekolah maupun di lingkungan sosial (Barasi & Mottram, 1987).
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja yang sedang tumbuh menuju kedewasaan, antara lain perkembangan teknologi, termasuk teknologi komunikasi massa, stress atau emosional, situasi ekonomi, gaya hidup, mobilitas geografis, dan kehidupan keluarga. Hal demikian secara tidak langsung akan mempengaruhi orang tua dalam membesarkan dan memperlakukan remajanya (Adelas, 1995).
E. Makanan Ringan
Makanan ringan atau dikenal dengan sebutan snack food adalah makanan yang dikonsumsi selain atau antara waktu makan utama dalam sehari. Oleh karena itu, makanan ini biasa juga disebut snack yang berarti sesuatu yang dapat mengobati kelaparan dan memberikan suplai energi yang cukup untuk tubuh (Anonim, 2007).
Dewasa ini makanan ringan sudah menjadi bagian yang tidak dapat ditinggalkan dalam kehidupan seharihari, terutama pada kalangan anakanak dan remaja. Muchtadi et. al., (1988) menyatakan bahwa snack
merupakan makanan ringan yang dikonsumsi dalam waktu antara ketiga makanan utama dalam sehari. Jenis makanan ringan sangat beragam dilihat dari segi bentuk maupun cara pengolahan dan penyajiannya. Selain itu makanan ringan juga bisa dibedakan menjadi dua macam berdasarkan bahan baku yang digunakannya. Kelompok pertama yaitu kelompok makanan ringan yang menggunakan satu bahan baku utama seperti jagung dan beras yang hanya ditambahkan bahan pecita rasa seperti garam, gula, dan bumbu laiinnya. Kelompok kedua yaitu kelompok makanan ringan yang menggunakan bahan baku dan bahan tambahan lain yang dicampur untuk memperoleh produk yang mempunyai nilai gizi yang baik, daya cerna dan mutu fisik atau organoleptik yang lebih tinggi. campuran dari beberapa sumber pati seperti gandum, jagung dan beras, bahkan dicampur pula dengan kacangkacangan seperti kedelai dan lainnya. Matz (1984) menambahkan makanan ringan dapat pula ditambah dengan kalsium dan fosfor untuk meningkatkan kandungan gizi, biasanya yang sering ditambahkan adalah trikalsium fosfat.
Menurut Harper (1981) makanan ringan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah makanan ringan konvensional seperti keripik kentang, keripik singkong, dan crackers. Kelompok kedua dibuat lewat ekstrusi saja, dengan berbagai bentuk sederhana dan tambahan flavor, contohnya cheese ball. Kelompok ketiga adalah makanan ringan yang setelah mengalami proses ekstrusi masih butuh pengolahan lanjutan, contohnya onion ring.
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Kerangka Pemikiran
Perhatian terhadap label kemasan pangan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal konsumen. Faktor internal konsumen pelajar terdiri dari jenis kelamin, usia, dan pendapatan serta pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan tentang label kemasan pangan. Keterangan label yang dipakai adalah nama produk, tanggal kadaluarsa, ingredients, berat bersih, nama dan alamat produsen, label halal dan informasi nilai gizi.
Sumber informasi adalah subjek yang menyampaikan informasi kepada konsumen. Informasi mengenai label kemasan pangan bisa bersumber dari keluarga, teman, media cetak (koran, majalah, dsb.), media elektronik (televisi, radio, internet, dsb), dan lainlain. Sumber informasi akan membentuk pengetahuan konsumen mengenai label kemasan pangan yang nantinya bisa mempengaruhi konsumen untuk memperhatikan label kemasan pangan. Setelah itu konsumen sendirilah yang akan menentukan apakah akan menggunakan informasiinformasi yang telah didapatnya atau tidak. Alur kerangka pemikiran penelitian ini terdapat pada gambar 1
Gambar 1. Alur kerangka pemikiran penelitian
Ada dua hipotesa yang bisa diambil berdasarkan kerangka pemikiran di atas, yaitu :
1. Terdapat hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan perhatian terhadap label kemasan pangan.
2. Terdapat hubungan antara perhatian terhadap label kemasan pangan dengan keputusan membeli yang dilakukan oleh konsumen. Faktor Internal 1. Karakteristik konsumen: Ø Usia Ø Pendapatan Ø Jenis kelamin 2. Pengetahuan tentang label kemasan pangan Keterangan label kemasan pangan: 1. Nama produk 5. Nama dan alamat produsen 2. Tanggal kadaluarsa 6. Label halal 3. Ingredients 7. Informasi Gizi 4. Netto Perhatian terhadap label kemasan pangan Faktor eksternal 1. Sumber informasi Keputusan pembelian
B. Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun dan Effendi, 1995). Menurut Umar (2002), survei digunakan untuk mengukur gejalagejala yang ada tanpa menyelidiki kenapa gejalagejala tersebut ada dan merupakan salah satu metode deskriptif. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional survey, yaitu pengambilan data yang dilakukan dalam satu kurun waktu saja (Umar, 2002).
Variabel yang diteliti terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1. Faktor internal yang meliputi : karakteristik individu responden (jenis kelamin, usia, dan pengeluaran per bulan) dan pengetahuan responden tentang label kemasan pangan (nama produk, waktu kadaluarsa, daftar bahan penyusun makanan, berat bersih, nama dan alamat produsen, informasi nilai gizi, dan label halal)
2. Faktor eksternal yang meliputi : sumber informasi konsumen.
3. Perilaku responden. Perilaku yang ingin diketahui adalah perhatian responden terhadap label kemasan pangan dan keputusan yang diambil oleh responden jika label yang dicarinya tidak ditemukan pada produk pangan ingin dibeli.
Faktor internal dan faktor eksternal merupakan variabel bebas, sedangkan perilaku konsumen merupakan variabel terikat.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor, tepatnya di Sekolah Menengah Atas yang berada di kota tersebut. SMA yang terpilih sebagai sampel adalah SMA Negeri 1 Bogor dan SMA Pembangunan 1. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai Januari 2008.
D. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang dipakai pada penelitian ini adalah siswasiswa Sekolah Menengah Atas di kota Bogor. Pemilihan sampel dilakukan secara multistage sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan lebih dari satu tahap. Tahap pertama adalah pemilihan sekolah. Pemilihan sekolah dilakukan secara simple random sampling, yaitu sebuah sampel diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Simple random sampling merupakan probability sampling, sehingga hasilnya dapat dievaluasi secara obyektif (Singarimbun dan Effendi, 1995). Sebelum itu sekolahsekolah yang ada dibagi dalam dua subpopulasi, yaitu SMA unggulan dan SMA non unggulan. Hal ini dilakukan agar sampel yang terpilih bisa mewakili populasi siswa SMA kota Bogor. Daftar sekolah yang ada di Kota Bogor terdapat pada lampiran 1.
Tahap kedua adalah pemilihan siswa yang akan dijadikan responden dalam penelitian ini. Pemilihan siswa menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara sengaja atas dasar pertimbangan tertentu (Umar, 2002). Pertimbangan yang diambil adalah kegiatan pengambilan data (pengisian kuesioner oleh responden) tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar siswa yang bersangkutan. Atas dasar ini maka peneliti memilih siswasiswa yang yang sedang belajar Bimbingan Konseling (BK). Oleh karena itu siswa yang terpilih sebagai responden berasal dari kelas yang sama. Kelas yang terpilih di SMAN 1 Bogor adalah kelas X8 dan X6, sedangkan di SMA Pembangunan 1 adalah kelas XIIIPA dan X IPS1. Daftar nama, asal sekolah dan kelas siswa yang dipilih sebagai sampel penelitian terdapat pada lampiran 2.
Penentuan jumlah sampel didasarkan pada pendapat slovin dalam Umar (2002), yaitu dengan menggunakan rumus:
n = N 1 + N e 2
dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi
e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel.
Berdasarkan data yang diperoleh dari dinas Pendidikan Kota Bogor jumlah siswa SMA di kota Bogor untuk tahun pelajaran 2007/2008 adalah 22.653 orang. Persentase kelonggaran yang digunakan adalah 10%, sehingga diperoleh jumlah sampel minimal sebanyak:
n = 22653/1 + (22653x0,1 2 )
n = 99,56 sampel (dibulatkan menjadi 100 sampel)
Dalam pelaksanaannya, peneliti membagikan kuesioner kepada 130 orang responden sebagai antisipasi jika ada kesalahan dalam pengisian. Kuesioner yang diisi secara benar berjumlah 103 buah.
E. Pengumpulan Data
Jenis data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi :
1. Faktor internal, yaitu karakteristik responden dan pengetahuan tentang label kemasan pangan. Karakteristik responden yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia, dan pendapatan. Pengetahuan tentang label kemasan pangan meliputi label yang wajib dicantumkan menurut Peraturan Pemerintah no 69 tahun 1999, yaitu nama produk, daftar bahan penyusun makanan, berat bersih, waktu kadaluarsa, nama dan alamat produsen. Selain itu ditambahkan juga label nilai gizi dan halal.
2. Faktor eksternal, yaitu sumber informasi. 3. Perilaku responden.
Datadata primer tersebut diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Data sekunder yang dipakai adalah data jumlah siswa di kota Bogor dari dinas pendidikan kota Bogor.
F. Instrumentasi
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner untuk keperluan pengumpulan data. Kuesioner yang digunakan terdiri atas dua bagian, yaitu :
1. Bagian pertama berisi pertanyaan mengenai karakteristik, perilaku, dan sumber informasi responden.
2. Bagian kedua berisi pertanyaan mengenai pengetahuan responden tentang label kemasan pangan.
Tingkat pengetahuan diukur berdasarkan kemampuan responden menjawab pertanyaan pada bagian dua. Jawbaan benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0. Kemudian jawaban tersebut ditotal dan dibuat persentasenya lalu digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu baik (>80%), cukup (60%80%), dan kurang (<60%) (Khomsan, 2000).
G. Pengujian kuesioner
Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini sebelumnya diuji terlebih dahulu. Uji yang dilakukan meliputi uji validitas dan reliabilitas. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kelebihan suatu instrumen. Suatu instrumen dianggap valid bila mampu mengukur apa yang ingin diukur atau dengan kata lain mampu memperoleh data yang tepat dari variabel yang diteliti apabila penyusunan pertanyaan telah sesuai dengan prosedur maka kuesioner telah memenuhi validitas logis. Validitas logis sangat dipengaruhi oleh kemampuan peneliti dalam memahami masalah penelitian, mengembangkan variabel, dan menyusun kuesioner. Akan tetapi, validitas logis belum memiliki bukti yang kuat (Singarimbun dan Effendi, 1995).
Oleh karena itu, untuk mendapatkan bukti kevalidan yang lebih kuat peneliti melakukan uji coba dengan menyebarkan kuesioner kepada responden dengan jumlah terbatas terlebih dahulu. Uji validitas dilakukan dengan cara menanyakan langsung kepada responden tentang pertanyaan yang kurang dimengerti atau yang menimbulkan bias, sehingga dapat diperbaiki
berdasarkan saran dari responden tersebut. Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dua kali. Contoh kuesioner yang telah diperbaiki berdasarkan kedua uji validitas dan merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengambil data pada penelitian ini terdapat pada lampiran 3.
Uji validitas pertama dilakukan terhadap 15 murid SMA di sekitar kampus. Berdasarkan hasil uji ini, peneliti perlu melakukan beberapa perbaikan. Perbaikan yang dilakukan antara lain:
1. Menambahkan petunjuk pengisian setelah pertanyaan nomor 6 bagian I dengan kalimat “jika tidak terdapat kemasan pangan pada jawaban anda maka langsung ke no 11.” 2. Menambahkan petunjuk pengisian pada pertanyaan nomor 9 bagian I dengan kalimat “urutkan hanya jika jawaban anda lebih dari satu” 3. Memperbaiki kalimat pertanyaan nomor 7 bagian II 4. Memperbaiki kalimat pertanyaan nomor 9 bagian II. 5. Menambahkan kata “(tanggal, bulan, dan tahun)” pada pertanyaan nomor 13.
Uji validitas kedua dilakukan pada siswasiswa yang mengikuti bimbingan belajar karena pada saat itu sedang masa libur sekolah. Jumlah siswa yang diambil sebagai responden 15 orang. Berdasarkan uji validitas kedua, peneliti hanya perlu melakukan sedikit perbaikan, seperti memperbaiki kesalahan pengetikan pada beberapa pertanyaan.
Setelah dilakukan uji validitas pada kuesioner penelitian, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau handal. Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama (Singarimbun dan Effendi, 1995). Teknik pengukuran reliabilitas yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik testretest (pengukuran ulang). Teknik ini dilakukan dengan cara meminta responden yang sama menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner sebanyak dua kali dalam suatu rentang waktu. Selang waktu yang digunakan adalah 15 hari (Singarimbun dan Effendi, 1995).
Hasil pengukuran pertama dan kedua dikorelasikan menggunakan teknik korelasi product moment. Nilai korelasi (r) yang diperoleh akan dibandingkan dengan angka kritis dalam tabel nilai “r”. Bila nilai korelasi (r) yang diperoleh lebih besar dari angka kritis, maka korelasi tersebut signifikan. Hal tersebut berarti hasil pengukuran pertama dan kedua relatif konsisten atau reliabel.
Adapun rumus teknik korelasi product moment yang digunakan adalah: N (ΣXY) – (ΣX.ΣY) r = √[NΣX 2 – (ΣX) 2 ] [NΣY 2 – (ΣY) 2 ] Keterangan : X = skor total pengukuran pertama Y = skor total pengukuran kedua N = jumlah pengamatan r = koefisien korelasi
Menurut Singarimbun dan Effendi (1995), sangat disarankan agar jumlah responden untuk reliabilitas kuesioner adalah minimal 30 orang. Dengan jumlah minimal 30 orang responden tersebut maka distribusi skor akan mendekati kurva normal. Asumsi kurva normal ini sangat diperlukan di dalam perhitungan statistik.
Nilai koefisien korelasi (r) yang didapat untuk kuesioner ini adalah 0,840. Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan nilai r tabel pada selang kepercayaan 5% untuk n2 (0,361). Karena itu kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi atau disebut reliabel. Contoh perhitungan reliabilitas terdapat pada lampiran 4.
I. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pada umumnya, analisis data menggunakan metode statistik. Salah satu fungsi pokok statistik adalah menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi
informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, metode statistik memungkinkan peneliti dapat membandingkan hasil yang diperoleh dengan hasil yang terjadi secara kebetulan, sehingga memungkinkan peneliti untuk menguji apakah hubungan yang diamati memang betul terjadi karena adanya hubungan sistematis antara variabelvariabel yang diteliti atau hanya terjadi secara kebetulan (Singarimbun dan Effendi, 1995).
Data yang diperoleh dalam penelitian ini terlebih dahulu akan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi yang bertujuan untuk menganalisa frekuensi setiap variabel yang diteliti dan disusun secara tersendiri. Setelah itu data disajikan dalam bentuk tabulasi silang, yaitu metode analisa yang paling sederhana, tetapi cukup kuat untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih variabel yang diteliti. Selain itu, untuk memperkuat kesimpulan suatu tabel silang peneliti juga melakukan pengolahan data secara statistik menggunakan program SPSS for windows 13.0, dengan model uji chi square.
Uji chi square adalah uji yang dapat digunakan untuk memeriksa ketidaktergantungan dan homogenitas. Pada kedua hal tersebut di atas, prosedur uji chi square selalu melakukan perbandingan antara frekuensi frekuensi yang diamati dan frekuensi yang diharapkan dengan hipotesis awal (Sulaiman, 2003).
DEFINISI OPERASIONAL
Atribut produk adalah unsurunsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Atribut produk tersebut meliputi merk, harga, kemasan, pelayanan, dan sebagainya. Berat bersih adalah berat produk tanpa kemasan.
Daftar bahan yang digunakan adalah susunan bahan yang dipakai untuk membuat suatu produk pangan.
Informasi nilai gizi adalah keterangan yang memuat kandungan energi yang terdapat pada produk pangan tersebut.
Keterangan label adalah informasi yang dicantumkan pada label, seperti waktu kadaluarsa, nama produk, dan sebagainya.
Label halal adalah keterangan yang menyatakan tentang kehalalan suatu produk berdasarkan ajaran Islam.
Label kemasan pangan adalah tulisan, tag, gambar atau pengertian lain yang tertulis, dicetak, distensil, diukir, dihias atau dicantumkan dengan cara apapun, pemberi kesan yang terdapat pada suatu wadah atau pengemas. Nama dan alamat produsen adalah nama dan alamat lengkap pihak yang
memproduksi suatu produk pangan.
Nama Produk adalah tanda yang dipakai untuk membedakan produk pangan yang diperjualbelikan.
Pengetahuan mengenai label kemasan pangan adalah pengertian responden mengenai label kemasan pangan yang diukur berdasarkan pertanyaan pertanyaan yang telah disusun.
Responden penelitian adalah remaja lakilaki dan perempuan yang berstatus sebagai pelajar Sekolah Menengah Atas di Kotamadya Bogor.
Sumber informasi adalah media penyampai pesan yang akan meningkatkan pengetahuan konsumen terhadap label kemasan pangan.
Waktu kadaluarsa adalah tanggal yang menunjukkan batas akhir suatu produk makanan masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi sepanjang penyimpanannya benar.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Responden
4.1.1 Karakteristik individu responden
Responden dalam penelitian ini berjumlah 103 orang dengan 49,5% responden (51 orang) diantaranya berjenis kelamin lakilaki dan 50,5% responden (52 orang) berjenis kelamin perempuan. Data sebaran responden berdasarkan jenis kelamin terdapat pada tabel 1.
Tabel 1. Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin
No Jenis kelamin n %
1 lakilaki 51 49,5
2 wanita 52 50,5
TOTAL 103 100,0
103 orang responden penelitian ini berasal dari 2 sekolah, yaitu SMA N I Bogor dan SMA Pembangunan I. Responden yang berasal dari SMA N I Bogor berjumlah 50 orang, sedangkan responden yang berasal dari SMA Pembangunan I Bogor sebanyak 53 orang. Data sebaran responden berdasarkan asal sekolah terdapat pada tabel 2. Tabel 2. Sebaran responden berdasarkan asal sekolah No Sekolah n % 1 SMA I Bogor 50 48,5 2 SMA Pembangunan I 53 51,5 TOTAL 103 100,0 Rentang usia responden antara 1419 tahun. Responden diambil dari kelas X dan kelas XII. Responden yang berusia 17 tahun merupakan responden terbanyak dengan jumlah 38,8% responden, disusul oleh responden yang berusia 15 tahun sebanyak 35,9%, responden yang berusia 16 tahun sebanyak 12,6%, dan responden yang berusia 18 tahun sebanyak 8,7%. Responden dengan usia 14 dan 19
tahun masingmasing sebanyak 1,9% responden. Berdasarkan usianya responden yang dijadikan obyek penelitian ini berada pada fase remaja. Definisi remaja menurut Daradjat (1995) adalah masa dalam kehidupan manusia yang datang setelah masa kanakkanak dan ditandai dengan perubahan fisik yang cepat. Kisaran usia remaja adalah 1421 tahun (Sarwono, 1993). Data sebaran responden berdasarkan usia terdapat pada tabel 3.
Tabel 3. Sebaran responden berdasarkan usia
No Usia n % 1 14 tahun 2 1,9 2 15 tahun 37 35,9 3 16 tahun 13 12,6 4 17 tahun 40 38,8 5 18 tahun 9 8,7 6 19 tahun 2 1,9 TOTAL 103 100,0
Berdasarkan agamanya responden terbagi menjadi dua kelompok, yaitu responden beragama Islam dan responden beragama Kristen. Responden yang beragama Kristen hanya terdapat di SMA Negeri 1 Bogor, sedangkan di SMA Pembangunan 1 secara total jumlah pemeluk agama selain Islam hanya 3 orang. Data sebaran responden berdasarkan agama terdapat pada tabel 4. Tabel 4. Sebaran responden berdasarkan agama no Agama n % 1 Islam 99 96,12 2 Kristen 4 3,88 TOTAL 103 100 Karakteristik responden lainnya yang juga ingin diketahui pada penelitian ini adalah tingkat pengeluaran. Tingkat pengeluaran