• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lagu Batak Toba Populer Era-Setelah 70 an

BAB III LAGU BATAK TOBA POPULER

2. Lagu Batak Toba Populer Era-Setelah 70 an

Pada bagian ini, tidak akan dibahas lagi mengenai konstruksi lagu populer secara rinci karena proses pembentukannya hampir sama dan sudah dibahas sebelumnya pada era- sebelum 70-an. Berikut ini akan dibahas mengenai isi syair dari beberapa lagu yang berhubungan dengan kepentingan tema-tema bahasan pada tesis ini.

Perkembangan yang cukup signifikan musik Populer Batak Toba dari musik tradisional terjadi pada awal abad 20.38 Kelahiran musik Populer Batak tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur musik Barat secara teoritis (melodi, harmoni, ritme). Di samping itu praktik menyanyi musik Barat tersebut telah mempengaruhi orang Batak dalam menyanyi. Lagu-lagu gereja yang diperkenalkan oleh para missionaris sekaligus mengajarkan cara menyanyikan lagu dengan 4 suara. Selain menyanyi, alat musik tiup (brass bands) telah diperkenalkan untuk mengiringi ibadah, terutama semakin populernya penggunaan alat musik organ pompa (pump organs) di gereja-gereja. “Toba Batak popular music early in the 20th century reflects at once the influence of the Protestant Church with its hymn singing, 4-part choral anthems, brass bands and pump organs.39

Usaha lain yang dikembangkan missionaris adalah penampilan Paduan Suara dengan empat suara menjadi terbiasa di ibadah-ibadah minggu di gereja-gereja. Sebagai contoh, sering terjadi secara spontan ketika ada satu orang memulai menyanyi suara satu

38

Hodges, William Robert Jr. 2009. Ganti Andung, Gabe Ende (Replacing Laments, Becoming Hymns): The Changing Voice of Grief in the Pre-funeral Wakes of Protestant Toba Batak (North Sumatra, Indonesia). Santa Barbara: Universiry of California. p. 64.

39

Hodges, W. Robert. Referencing, Reframing, and (Re)Presenting Grief Through Pop Laments in Toba Batak (North Sumatra, Indonesia) dalam, Etnomusikologi, Vol.1 No. 3, Januari 2006. p.289.

yang lainnya akan otomatis menyanyikan suara dua, tiga, atau empat. Kebiasaan menyanyi lebih dari satu suara, tidak hanya terjadi di gereja tapi juga terjadi di luar gereja dengan lagu-lagu non-religius. Harmonisasi dan cara menyanyi lebih dari satu suara yang diperkenalkan di gereja, telah turut mempengaruhi cara menanyikan lagu-lagu lagu Batak populer yang kemudian terkenal dengan kelompok penyanyi era-setelah 70-an dengan nama ‘Trio’. Model trio ini menjadi salah satu ciri khas yang sangat populer di kalangan

kelompok penyanyi orang Batak Toba.

Pada era-sebelum 70-an, Nahum Situmorang telah banyak menggunakan unsur- unsur musik Barat dan Amerika Latin dalam lagu-lagunya. Kemudian pada era-setelah 70-an lagu-lagu kembali diciptakan dengan menggunakan tangga nada tradisional 1 2 3 4 5 dan 1 2 3 5 6. Era-setela 70-an, kembali menyanyikan lagu dengan cara menyanyikan lagu andung.40 Dan gaya khas lagu rakyat yang dibawakan oleh kelompok penyanyi Opera Batak dengan karya Tilhang Gultom seperti Harambir ni Silindung menjadi marak kembali. Selain itu, kombinasi penggunaan alat musik Uning-uningan dengan alat musik modern menjadi populer. Lagu-lagu yang diciptakan kembali menggunakan variasi tangga nada tradisional pentatonik 1 2 3 4 5, dan 1 2 3 5 6.

Sebagai contoh potongan lagu Andung-andung ni Anak Siampudan berikut ini yang menggunakan tangga nada tradisional 1 2 3 5 6. Lagu yang mengisahkan tentang Anak Bungsu yang berada di perantauan mendapat khabar bahwa Ibunya meninggal dunia.41

40

Di dalam andung terdapat tangisan yang sering disebut mangangguk bobar, menangis dengan keras dan terisak-isak. Dan dalam menyanyikan lagu andung, seseorang menyanyi sambil menangis terisak-isak. 41

Meskipun lagu-lagunya sudah dikemas dengan harmonisasi musik Barat, dan iringan alat musik band, namun cara menyanyikan lagunya tetap seperti orang menangis dan inilah disebut laguandung(ratapan).42

Sesudah era-setelah 70-an, musik popoler model andung memasuki kancah lagu populer Batak Toba dengan mengadaptasi unsur ratapan dalam suasana perkabungan dalam tradisi perkabungan orang Batak, sedangkan musiknya tetap menggunakan harmonisasi musik Barat. Di dalam musik populer, lagu andung tidak lagi selalu berhubunga dengan peristiwa kematian tetapi tema-tema lagunya berkembang ke arah peristiwa kehidupan yang dialami oleh orang Batak pada umumnya, seperti lagu

42

Lihat Lampiran: pada Video Lagu Batak, Lagu Andung-andung ni Anak Siampudan yang dinyanyikan oleh The Heart: Simatupang Sister.

percintaan di kalangan muda-mudi, meskipun lagunya tetap dinyanyikan dalam gaya ratapan. Selain itu juga sangat populer tema-tema lagu kesedihan seperti kehilangan seseorang yang dicintai (orang tua yang meninggal), perpisahan dengan kekasih. Dan juga masih sangat populer mengenai hubungan keluarga, dengan tema, kemiskinan, kematian, merantau, rindu kampung halaman, berjuang untuk sekolah dan putus sekolah.

2. 1 . Kejayaan Musik Populer Batak

Musik Populer Batak atau musik yang berkembang di komunitas Batak Toba juga disebut Musik Pop Daerah Batak Toba terjadi di awal tahuan 70-an. Perkembangannya seiring dengan kemajuan industri rekaman kaset di Indonesia pada era yang sama. Dan berpengaruh kepada rekaman-rekaman lagu Batak yang semakin menjamur.43 Tidak dapat dipungkiri bahwa musik populer Batak era-setelah 70-an tidak terlepas dari pengaruh musik yang sudah muncul sebelumnya seperti musik teater rakyat yang terkenal dengan nama Opera Batak. Dan musik populer daerah Batak Toba ini juga tidak bisa dilepaskan dari kelompok penyanyi dengan identitas Vocal Group. Di antaranya, kelompok penyanyi yang banyak melanglang buana ke manca negara, seperti: Impola VG, Tarombo VG. Sedangkan yang lain lebih berkonsentrasi di Sumatera Utara seperti Maduma VG, Parisma 71 VG, dll.44Setelah masa-masa populeritas penyanyi vocal group sampai awal tahun 70-an, kemudian pada perkembangan berikutnya terjadi perubahan

43Hutagalung, R.J.M,Trio pada Musik Populer Batak Toba:Analisis Sejarah, Fungsi, dan Struktur Musik.

pp 154-184).

bentuk kelompok penyanyi baru sangat terkenal di masyarakat Batak Toba dengan menamakan diri sebagai penyanyi“Trio”.45

Pada periode awal munculnya penyanyi ‘Trio’ industri musik Pop Batak masih didominasi oleh artis penyanyi laki-laki. Tentu sangat beralasan karena laki-laki lebih mudah atau berani untuk pergi merantau untuk berjuang untuk memperoleh kemajuan ke kota besar. Sehingga penyanyi laki-laki lebih dulu mendapat pengaruh modernisasi termasuk dalam belajar musik. Identitas trio kemudian menjadi nama grup penyanyi Batak dan menjadi ciri khas kelompok penyanyi Batak. Di awal pembentukan penyanyi trio tidak dapat dilepaskan dari ide pembentukan kelompok penyanyi dengan nama ‘Trio Golden Heart’ pada awal tahun 70-an. 46Baru setelah itu, semakin banyak penyanyi- penyanyi Batak yang membentuk kelompoknya masing-masing dengan memberi identitas nama grup mereka dengan awalan trio. Di antara sekian banyak penyanyi trio, dapat disebut beberapa nama-nama trio sebagai berikut: Trio Amores, Melody Trio, Trio Friendship, Trio Melodi King (1978), Trio Amsisi (70-an), Trio Amsisi 2000, Trio Ambisi, Trio Maduma (70-an), Trio Relasi, Trio Horas (1985), Trio Amigos (1986), Trio The Stars (90-an), Trio Lamtama (1995)47, dan masih banyak trio-trio lainnya.

Kemudian perkembangan berikutnya pada tahuan 80-an muncul kembali trio baru dengan nama Trio Lasidos yang memiliki kekhasan dengan menggunakan unsur andung (ratapan) dalam lagu dan cara menyanyikan nyanyian mereka, namun, tangga nadanya tidak lagi bertahan kepada pentatonik 1 2 3 5 6, sudah benar-benar menggunakan tangga

45 Ibid. 46 Ibid. 47 Ibid.

nada diatonik Barat. Dalam menyanyi trio, mereka tetap mengekspresian tangisan sambil menceritakan isi lagu dalam bentuk ratapan. Sejak munculnya model grup penyanyi trio dan dengan cara menyanyi ala ratapan maka dalam perkembangan musik Batak Toba selanjutnya lagu-lagu Batak sangat dipengaruhi penyanyi dan kelompok penyanyi dengan gaya trio pada era 90 sampai sekarang ini. Kepopuler penyanyi trio-trio ini sampai hari belum bisa terpatahkan, bahkan sampai pada tahun 2010-an penyanyi dengan identitas trio ini terus menunjukkan keberadaannya.

Sebenarnya penyanyi trio perempuan juga mengikuti jejak penyanyi laki-laki di awal tahun 70-an, namun sangat langka, mengingat kesempatan yang mereka dapatkan tidak seluas yang diperoleh kaum lelaki. Mereka memberi ciri khas sendiri di kancah kelompok penyanyi dengan membentuk trio berdasarkan hubungan kekeluargaan atau dikenal dengan satu marga seperti Trio Sitompul Sister (70-an), Trio Nainggolan Sister (80-an). Dan pada tahuan 90-an muncul Trio The Heart (Simatupang Sister) dan Trio Simbolon Sister (2000-an).48

Setelah era 70-an, selain penyanyi yang mengidentifikasi diri sebagai penyanyi Trio, bentuk penyanyi mandiri atau penyanyi solo kemudian juga bermunculan sampai sekarang dan yang paling populer adalah: Eddy Silitonga, Victor Hutabarat, Jack Marpaung, Christine Panjaitan, Rita Butar-butar, Tetty Manurung, Herty Sitorus, Joy Tobing, Putri Silitonga, Lina Pandiangan, Margareth Siagian, Dewi Marpaung, dan Viky Sianipar.49 48 Ibid pp. 184-187. 49 http://batakmedansumut.blogspot.com/2011/04/top-koleksi-penyanyi-batak-dan-lagu_24.html. (15 Mei 2013)

Dokumen terkait