Hari/Tanggal : Rabu, 25 November 2009
Tujuan : Memperoleh data tentang kondisi awal siswa
Waktu : 09.30 WIB
Tempat : Kantor guru SMA Muhammadiyah 8 Kalijambe Informan : Siti Khuzaimatun, S.Pd.
Pewawancara :Umi sholikah (Mahasiswa P. Bahasa dan Sastra Indonesia)
Setting
Wawancara dilaksanakan di ruang kantor guru saat jam istirahat berlangsung. Wawancara dilaksanakan kurang lebih selama tiga puluh menit. Karena setelah wawancara guru kolaboran harus melanjutkan untuk kembali mengajar di kelas X.
Deskripsi
Peneliti mewawancarai guru kolaboran, Ibu Siti Khuzaimatun, S.Pd selaku pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Muhammadiyah 8 Kalijambe. Berikut ini adalah hasil wawancara peneliti dengan informan.
P : Selamat pagi bu. G : Selamat pagi.
P : Maaf Bu, saya di sini bermaksud untuk mewawancarai Ibu mengenai pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah ini untuk digunakan dalam penelitian saya.
G : Ya, silakan
P : Begini Bu, selama Ibu mengampu pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah ini, menurut Ibu permasalahan apa saja dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang sering dialami siswa? atau siswa merasa kesulitan saat pelajaran Bahasa Indonesia pada materi apa Bu?
G : Begini, murid-murid di sini biasanya merasa kesulitan dalam berbicara, kalau menulis atau membaca murid-murid bisa dikatakan rata-rata sudah
bisa. Tapi, kalau mengenai berbicara mereka masih sangat kurang mampu. Rata-rata mereka hanya ada satu atau dua saja yang mau berbicara. Dulu saat pelajaran pidato siswa bahkan susah sekali berbicara.
P : Menurut Ibu, apa yang menjadi hambatan siswa merasa kesulitan berbicara seperti itu?
G : Ya paling mereka merasa malu berbicara saja. Kebetulan saya guru baru di sini, kalau tidak salah menurut penuturan beberapa siswa selama diajar oleh guru sebelumnya siswa memang jarang diberi kesempatan untuk praktik berbicara. Maka dari itu, mungkin mereka sudah terbiasa seperti itu. Jadi seperti malas berbicara atau mungkin ya malu itu tadi.
P : Lalu, apa yang Ibu usahakan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam berbicara tersebut Bu?
G : Saya coba mengarahkan siswa untuk berlatih berbicara sedikit demi sedikit, misalnya saya beri pertanyaan kemudian siswa harus menjawabnya, ya seperti itu. Dari situ siswa sudah mulai belajar berbicara. Tapi ya kadang tetap saja pakai ceramah, mau gimana lagi siswa-siswanya masih terkesan tidak mau berbicara.
P : Bagaimana cara Ibu dalam mengajarkan materi berbicara selama mengajar di sini?
G : Biasanya saya memberikan materi tentang berbicara, misalnya pidato ya teknik-teknik berpidato seperti itu, setelah itu saya menyuruh siswa lihat contoh naskah pidato, lalu saya suruh salah satu untuk mencoba mempraktikkannya di depan kelas.
P : Kalau materi diskusi bagaimana selama ini Ibu mengajarkannya kepada siswa?
G : Kalau diskusi ya paling kasih materi dulu, setelah itu saya suruh mencoba berdiskusi kelompok beberapa siswa begitu.
P : Apakah dalam diskusi ibu selalu memberikan tema
G : Ya, ada temanya, tapi kadang siswa diskusi kelompok satu dengan yang lain hasilnya sama saja.
P : Lalu, apakah Ibu menyuruh siswa mempresentasikan hasil diskusi tersebut Bu?
G : Perwakilan satu atau dua kelompok saja yang mempresentasikan di depan kelas. Materi Bahasa Indonesia kan banyak, jadi waktunya ya disesuaikan. Kalau sudah ada yang maju itu sudah merupakan perwakilan.
P : Misal ada siswa yang lain yang bertanya, bagaimana penilaiannya apakah mendapat nilai tambahan atau gimana?
G : Ya mereka yang mau bertanya akan mendapat nilai tambahan. P : Kemudian cara Ibu untuk menilai siswa itu bagaimana?
G : Ya saya lihat dari hasil diskusi kelompok tersebut dan kemampuan mereka bertanya atau menjawab pertanyaan. Tapi terkadang saya sering kecolongan, kadang ada beberapa siswa yang tidak ikut diskusi saat diberikan tugas diskusi, mereka istilahnya “nitip nama” pada kelompoknya. Terus terang untuk seperti itu saya kurang tahu bagaimana mengatasinya.
P : Apa Ibu sudah mencoba mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan model pembelajaran yang berbeda seperti biasanya?
G : Belum, paling ya mengajar saya memakai model seperti tadi saya jelaskan saja.
P : Apakah Ibu pernah mengetahui model pembelajaran kooperatif, intinya dalam pembelajaran tersebut adalah adanya penekanan dalam kerja sama kelompok.
G : Ya pernah mendegar tapi belum saya coba aplikasikan di sini.
P : Misalnya dalam diskusi, saya menawarkan Ibu untuk menggunakan metode tersebut bagaimana?
G : Ya boleh saja, lalu nanti konsepnya seperti apa?
P : Begini, saya di sini melakukan penelitian berupa PTK, jadi nanti Ibu yang mengajar. Konsepnya saya mengambil salah satu dari model pembelajaran kooperatif tersebut, yaitu Think-Pair-Share. Karena saya kira ini sangat cocok untuk model diskusi.
P : Begini Bu, secara sederhana nanti diskusi dibentuk dalam kelompok kecil, namun sebelumnya siswa diberi tema kemudian berkelompok 4 siswa, namun di sini siswa memikirkan jawaban sendiri, kemudian berpasangan dalam kelompoknya, setelah itu hasil diskusi kelompok berpasangan kembali ke kelompok semula. Bagimana Bu?
G : Ya sepertinya metode itu akan lebih membantu siswa untuk berbicara. Prosedur penerapannya nanti saya minta untuk lebih memberikan penjelasan lagi bagi saya, supaya nanti dalam menjalankannya lebih mudah.
P : Baik Bu, nanti sebelum pelaksanaan siklus berlangsung tentunya saya dan Ibu mempersiapkan rancangan pelaksanaan pembelajarannya dulu secara matang dan mengupayakannya agar berjalan efektif.
P : Bu, saya rasa wawancaranya cukup sekian saja. Terima kasih atas waktunya. G : Sama-sama.
Refleksi
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan guru Bahasa Indonesia di SMA Muhammadiyah 8 Kalijambe,Ibu Siti Khuzaimatun, S.Pd. tersebut diperoleh informasi bahwa siswa selama ini mengalami kesulitan dalam pelajaran Bahasa Indonesia yaitu pada keterampilan berbicara. Menurut guru kolaboran, siswa sering marasa malu berbicara, hal tersebut karena siswa jarang mempraktikkan berbicara. Kalaupun mempraktikkan tidak semua siswa diberi kesempatan yang sama untuk berlatih berbicara. Namun, sejauh itu guru sudah berusaha memotivasi siswa untuk berlatih berbicara, meskipun hasilnya belum maksimal. Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa guru selama ini kurang mampu menggunakan metode yang lebih inovatif dalam pelajaran berbicara sehingga membuat siswa menjadi kurang aktif. Saat peneliti menyarankan sebuah model pembelajaran kooperatif teknik Think-Pair-Share guru memberi tanggapan positif sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.
Keterangan: P : Peneliti G : Guru