Kontek Sosial
LAMPIRAN III: ANALISIS PROYEKSI PADA BUYUNG BESAR
No Unit Jenis Proyeksi
dan Notasi
Jumlah
1. “Tidak ada paksa dicari-cari. Ada paksa dibuang-buang,” itulah syair yang dinyanyikan Buyung Besar sembari nenetak-netakkan kapaknya ke pohon
Lokusi Hipotaksis “α β
1
2. “Buyung, setiap kau di atas pohon, ayah dengar kau menyanyikan: tidak ada paksa dicari-cari, ada paksa dibuang-buang. Apa artinya nyanyianmu itu?,” tanya ayahnya suatu hari.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
3. “Tolonglah bimbing anak hamba ini, Datuk,” kata ayahnya dengan penuh pengharapan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
4. “Bisa! Aku akan membimbingnya menjadi orang yang berguna,” balas Datuk Penghulu sembari mengusap-usap jenggotnya yang putih.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
5. “Tapi, Datuk ....,” (Lokusi
Parataksis “1 2)
1
6. “Masalah biaya tak usah kau pikirkan,” (Lokusi Parataksis “1 2)
1
7. “Bukan itu maksud hamba,” (Lokusi
Parataksis “1 2)
1
8. “Katakanlah ! apa maksudmu?,” (Lokusi
Parataksis “1 2)
1
9. “Begini, Datuk, Si Buyung Besar agak aneh
tabiatnya,” (Lokusi Parataksis
“1 2)
1
10. “Mengapa rupanya?,” tanya Datuk Penghulu sedikit merasa heran.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
11. “Tak masalah itu. Percayakan sajalah padaku. Aku akan mendidik Buyung Besar dengan baik,” kata Datuk Penghulu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
12. “Buyung, maukah kau berniaga ke luar negeri?,” tanya Datuk Penghulu.
Lokusi Parataksis
13. “Nakhoda Buyung, hamba melihat pulau di seberang sana,” kata seorang pembantunya sambil menunjukkan titik hitam sebagai pertanda itu adalah sebuah pulau.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
14. “Bagus! Sekarang kita ke sana,” ujar Buyung Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
15. “Oooii ... penduduk kampung, siapa yang hendak membeli buah kelapa?”, teriak Buyung Besar dengan penuh semangat.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
16. “Kami tidak punya uang untuk membayarnya,” kata penduduk serentak.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
17. “Kalau begitu, ambillah kelapaku tanpa harus dibayar. Tapi tolong sabut dan tempurung kelapa itu kalian masukkan ke perahu hamba,” kata Buyung Besar berbaik hati.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
18. “Apa kabarmu Buyung?,” tanya Datuk Penghulu seraya berjalan berdampingan dengan Buyung Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
19 “Kabarku baik, Datuk. Cuma, hasil dagangan kita
hanya pulang modal saja.” (Lokusi Parataksis “1 2)
1
20. “Tak masalah itu bagiku. Yang penting kau
pulang dengan selamat,” (Lokusi Parataksis “1 2)
1
21. “Kalau kau masih mau berniaga keluar negeri, akan kuberikan modal,” sambung Datuk Penghulu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
22. “Aku masih capek, Datuk. Biarlah aku beristirahat dulu sambil memikirkan saran Datuk itu,” jawab Buyung Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
23. “Baiklah kalau begitu,” balas Datuk Penghulu Lokusi Parataksis
“1 2 1
24. “Kalau begitu, besok berangkatlah kau,” kata Datuk Penghulu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
25. “Kalau boleh hamba tahu, apa yang hamba
26. “Padi”, kata Datuk Penghulu. Lokusi Parataksis
“1 2 1
27. “Kami membawa banyak padi. Kalau kalian ingin menumbuk padi, ambillah. Tak usah dibayar. Berasnya untuk kalian, tapi kulit padi itu kumpulkan untukku,” seru Buyung Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
28. “Pembantu-pembantunya pada pelayaran kali ini terdiri atas tukang kayu, pandai besi dan para pengukir,” kata Datuk Penghulu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
29. “Mengapa pembantu hamba yang terdahulu tidak
diikutsertakan, Datuk?” (Lokusi Parataksis “1 2)
1
30. “Mereka tak mau lagi berlayar dengan kau,” jawab Datuk
Lokusi Parataksis
“1 2 1
31. “Mengapa, Datuk?”, tanya Buyung. Lokusi Parataksis
“1 2 1
32. “Entahlah!, kilah Datuk Lokusi Parataksis
“1 2 1
33. “Kalian jangan membantah setiap perkataan Buyung Besar. Siapa berani membantahnya, bersiap-siaplah untuk dihukum. Kemudian, sebelum ada perintah dari Buyung Besar janganlah kalian mengerjakan sesuatu. Mengerti?,” bentak Datuk dengan suaranya yang keras.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
34. “Mengerti, Datuk,” kata mereka serentak. Lokusi Parataksis
“1 2 1
35. “Buyung Besar, hamba lihat di depan sana ada
bayangan hitam,” kata juru mudi. Lokusi Parataksis “1 2 1 36. “Kalau begitu ke sanalah kita,” kata Buyung
Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
37. “Kawan-kawan, ayo kita bekerja,” ajak seorang tukang.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
38. “Belum ada perintah dari Buyung Besar,” kata tukang yang lain.
Lokusi Parataksis
39. “Kalau kita bekerja tanpa perintahnya, bisa-bisa akan mendapatkan hukuman dari Datuk Penghulu,” tambah yang lain pula.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
40. “Tapi kalau menunggu perintahnya, bisa-bisa kita
tidak bekerja apa-apa di sini,” kata tukang lain. Lokusi Parataksis “1 2 1 41. “Kan kita ke sini untuk bekerja. Ayo...!,”
sambung tukang yang kumisnya lebat berbaris di atas bibirnya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
42. “Oh... Buyung Besar, di depan perahu kita ada cahaya merah seakan-akan membakar laut. Bangun, Buyung,” teriak juru mudi itu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
43. “Ada apa?”, tanya Buyung Besar yang belum mengetahui persoalannya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
44. “Lihat di depan sana,” kita ke sana,” perintah Buyung
Lokusi Parataksis
“1 2 1
45. “Tapi ....tapi.... bukankah itu api,” kata juru mudi. Quasi Proyeksi 1 46. “Jangan ada yang berani membantah. Ayo ....
layarkan perahu ini ke sana!” (Quasi Proyeksi) 1 47. “Sekarang bekerjalah kalian membuat apa saja
dan sebanyak mungkin,” Buyung Besar memerintahkan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
48. “Buatlah barang-barang untuk diri
masing-masing,” kata Buyung Besar pula. Quasi Proyeksi 1 49. “Tapi ada syaratnya,” kata Buyung Besar sembari
tersenyum kecil.
Quasi Proyeksi 1
50. “Apa syaratnya, Buyung,” seorang diantara tukang memberanikan diri bertanya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
51. “Kalian harus membuatkan aku perahu emas sebesar perahu yang kita gunakan selama ini berlayar”.
(Lokusi Parataksis “1 2)
1
52. “Cuma itu, Buyung?” tanya tukang yang lain.’ Lokusi Parataksis
“1 2 1
53. “Selain itu, buatkanlah aku sebuah peti emas yang berukuran satu meter kali dua meter yang kuncinya dari dalam”.
(Lokusi Parataksis “1 2)
54. “Kami menerima syarat itu,” kata para tukang serentak.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
55. “Kapak kesayangan saya terjatuh ke dalam laut. Saya tidak dapat terpisah dengannya. Saya akan turun ke laut untuk mengambilnya. Perahu ini tidak boleh bergerak sebelum saya kembali, walaupun setahun lamanya. Makanan dan minuman masih tersedia untuk kalian”.
(Lokusi Parataksis “1 2)
1
56. “Jika tali pemberat ini bergoyang, tanda saya akan kembali, maka tariklah pemberat tersebut,” sambung Buyung.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
57. “Bapak penjaga istana, saya Buyung Besar datang dari daratan. Maksud singgah ke kerajaan ini untuk mencari kapak saya yang terjatuh ke dasar laut,” ujar Buyung Besar memperkenalkan diri kepada penjaga pintu gerbang kerajaan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
58. “Saya tidak mengetahui itu. Ada baiknya saya sampaikan kepada raja kami,” kata penjaga dengan ramah.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
59. “Hai ... orang daratan, apa hajat datang ke kerajaan kami? Katakanlah, barangkali kami dapat membantu!” tanya raja.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
60. “Tadi yang tak hadir putri kita. Mana dia, coba panggil untuk menghadapku,” kata raja kepada permaisurinya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
61. “Apa maksud ayahanda memanggil ananda”, tanya putri mahkota dengan penuh hormat.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
62. “Ada ananda menemukan kapak kepunyaan orang
dari daratan?” (Lokusi Parataksis
“1 2)
1
63. “Ada, ayah,” jawab putri dengan jujur. Lokusi Parataksis
“1 2 1
64. “Kalau begitu, serahkanlah kapak itu kepada
pemiliknya” titah raja. Lokusi Parataksis “1 2 1 65. “Orang daratan harus menebusnya ayah”. (Lokusi
Parataksis
“1 2) 66. “Tebusan? Apa tebusannya wahai anakku?”. (Lokusi
Parataksis “1 2)
1
67. “Ayo ... katakanlah, nak,” ujar permaisuri. Lokusi Parataksis
“1 2 1
68. “Ananda menginginkan pemilik kapak itu.” (Lokusi Parataksis “1 2)
1
69. “Haa,” raja terkejut mendengarnya. Lokusi Parataksis 1 70. “Dinda tak keberatan. Berangkatlah kita”, kata
istrinya dengan penuh keikhlasan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
71. “Pergilah”, Raja mengizinkan Lokusi Parataksis
“1 2 1
72. “Ananda, lautan dengan daratan jauh berbeda. Di daratan banyak orang yang memiliki sifat dengki dan iri hati. Karenanya kenakanlah cicin itu. Cincin ini dapat berusaha memberikan makan untukmu bila kau kelaparan dan bakarlah kemenyan ini bila kau menghadapi bahaya” pesan raja kepada Buyung Besar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
73. Ini istriku”, Buyung Besar memperkenalkan yang berada didekatnya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
74. “Bukakanlah peti emas itu”, suruh Buyung Besar kepada para tukang yang juga sebagai temannya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
75. “Untuk apa, Buyung?”, tanya juru mudi, heran. Lokusi Parataksis
“1 2 1
76. “Istriku akan ku simpan di dalam peti”. (Lokusis Parataksis “1 2)
1
77. “Setelah kau tutup kuncilah peti ini dari dalam,” pesan Buyung kepada istrinya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
78. “Buyung, peti apa yang kau bawa ini. Indah
sekali,” Datuk Penghulu takjub melihatnya. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
79. “Hoo .. itu! Peti biasa. Datuk”, jawab Buyung sedikit gugup.
Lokusi Parataksis
80. “Bagaimana kalau sekarang kita bagi hasil yang hamba dapatkan ini”, Buyung mengalihkan pembicaraan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
81. “Barang yang kecil-kecil ini untuk para pekerja. Sedangkan kapal emas untuk Datuk dan peti emas untuk hamba”, sambung Buyung Besar dengan sedikit gentar.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
82. “Sebelum kusetujui usulmu itu, boleh ku ketahui
apa ini peti emas itu?”, kata Datuk Penghulu. Lokusi Parataksis “1 2 83 “Usulmu tentang pembagian harta dan
keuntunganmu berniaga, tidak dapat kuterima”, kata Datuk sambil menarik napasnya dalam-dalam.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
84. “Aku seorang Datuk. Jadi, akulah yang memutuskan”, sambung Datuk menunjukkan kekuasaannya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
85. “Bagaimana maksud, Datuk”, suara Buyung melemah.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
86. “Kapal dan peti emas untuk kau. Sedangkan
istrimu itu serahkanlah untukku”. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
87. “Hamba rela menyerahkan istri hamba kepada Datuk”, kata Buyung Besar dengan suara terbata-bata.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
88. “Bagus.... Bagus. Ini namanya murid yang
berbakti kepada gurunya”, ujar Datuk Penghulu. Lokusi Parataksis “1 2 1 89. “Jangan menangis dinda”, bujuk Datuk Penghulu. Lokusi Parataksis
“1 2 1
90. “Dinda akan bahagia di sisi kakanda”, sambung Datuk menyakinkan.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
91. “Sungguh naas nasib si Buyung. Istri yang cantik direbut penguasa”, kata seorang undangan kepada teman di sebelahnya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
92. “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Itulah takdir yang menimpa Buyung”, jawab temannya itu.
Lokusi Parataksis “1 2
93. “Barangkali ini hukuman Tuhan kepada Datuk yang telah merebut istri orang”, kata seorang pria tua kepada orang yang disebelahnya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
94. “Kurasa juga begitu”, balas orang yang di sebelah pria tua itu.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
95. “Lalu apa tindakan kita untuk membantu Datuk”, tanya seseorang yang tak berapa jauh dari pria tua tadi.
Lokusi Parataksis “1 2
96. “Aku rasa kita tak dapat berbuat apa-apa, kecuali
hanya berdoa kepada Tuhan,” kata pria tua. Lokusi Parataksis “1 2 1 97. “Apa-apaan kau Buyung”, kata Tuan Kadhi. Lokusi Parataksis
“1 2 1
98. “Apa yang kau kerjakan ini?” (Lokusi
Parataksis “1 2)
1
99. “Eee .... Aaa.... Anuuu”, Buyung Besar tak dapat menjawab.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
100. “Sadar, Buyung. Yang kau lakukan itu perbuatan setan. Syirik. Dosanya besar sekali. Allah tak mengampunkan dosa orang yang melakukan perbuatan syirik”.
(Lokusi Parataksis “1 2)
1
101. “Maaa... maafkan hamba, tuan. Hamba khilaf”. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
102. “Jangan minta maaf kepada saya. Minta ampunlah kepada yang menciptakan
langit dan bumi”, kata tuan Kadhi.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
103. “Sebenarnya hamba tak rela melakukan perbuatan terkutuk tersebut. Apa daya, tak ada jalan lain untuk menundukkan kekuasaan Datuk Penghulu”, Buyung Besar berterus terang kepada Tuan Kadhi.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
104. “Saya tahu itu. Lupakan sajalah. Yang penting sekarang kau tolong Datuk Penghulu”, kata Tuan Kadhi.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
105. “Mengapa rupanya Datuk Penghulu?”, Buyung Besar pura-pura tak tahu.
(Lokusi Parataksis “1 2)
1
106. “Akibat ulah kau, Datuk seperti orang
kesurupan”. (Lokusi Parataksis
“1 2)
107. “Ayo ... kita lihat!”, ajak Buyung. Lokusi Parataksis
“1 2 1
108. “Siapa kau?”, tanya Datuk melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
Lokusi Parataksis
“1 2 1
109. “Aku Buyung, Datuk”. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
110. “Buyung, maafkan Datuk. Maafkan Datuk,
Buyung. Datuk salah. Datuk lupa daratan”. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
111. “Sudahlah, Datuk, aku memaafkan Datuk”. (Lokusi Parataksis “1 2)
1
112. “Terima kasih, Buyung”, kata Datuk. Lokusi Parataksis