Kontek Sosial
2.8 Proyeksi vs Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Secara konseptual proyeksi setara dengan kalimat langsung dan tidak langsung. Dalam TLSF, parataksis setara dengan kalimat langsung, sedangkan hipotaksis setara dengan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung dan tidak langsung sudah lebih dikenal secara umum di masyarakat dibandingkan dengan proyeksi yang ada dalam TLSF.
Walaupun terdapat persamaan konsep antara proyeksi dan kalimat langsung dan tidak langsung, namun ada beberapa hal yang berbeda antara keduanya.
Perbedaan-perbedaan itu adalah: 1). dalam proyeksi, kalimat langsung disebut parataksis dan kalimat tidak langsung disebut hipotaksis; 2). Dalam kalimat langsung dan tidak langsung tidak ada istilah ‘kalimat langsung ‘ide’ atau kalimat tidak langsung ‘lokusi’, tetapi dalam proyeksi ada istilah lokusi; yaitu jika proses yang digunakan dalam klausa pemroyeksi adalah proses verbal. Contoh : Ayah berkata, “anak laki- laki itu harus pemberani”; jika proses yang digunakan dalam klausa pemroyeksi adalah proses mental, ia disebut proyeksi ‘ide’. Contoh: Dia berfikir bahwa dia harus pergi sekarang.
Ada 3 cara pengutipan dalam kalimat langsung
(http://yusbuset.wordpress.com/2008/01/22/kalimat-langsung-dan-kalimat-tak-langsung/):
1. Pengantar – Kutipan Contoh:
(1) Ibu bertanya kepadaku, “Mengapa kamu tidak belajar malam ini?” (2) Ayah berkata kepada orang itu,” Sebaiknya kamu segera pergi dari sini.”
2. Kutipan – Pengantar Contoh:
(1) “Siapa namamu?” Tanya ayah kepada temanku. (2)“Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini.” Kataku kepada mereka 3. Kutipan – Pengantar – Kutipan
Contoh:
(1) “Kamu harus belajarlah yang rajin.” Kata Ibu kepadaku,”Agar kamu lulus ujian.”
(2) “Apakah kalian mendengar bunyi ‘kring-kring’ tadi? tanya ayah kepada kami,”Sangat menakutkan!”
Dari contoh-contoh di atas, istilah ‘kutipan’ dan ‘pengantar’ pada kalimat langsung disebut dengan ‘klausa pemroyeksi’ dan klausa yang diproyeksi /terproyeksi pada proyeksi. 2.9 Penelitian Sebelumnya
Hasil penelitian sebelumnya yang menggunakan Teori Linguistik Sistemik Fungsional cukup banyak. Dalam sub- bab ini akan dipaparkan hasil-hasil penelitian yang terdiri atas dua jenis. Pertama, penelitian yang menggunakan TLSF namun menganalis kohesi, fungsi ideasional, dan fungsi tektual. Kedua, penelitian yang menggunakan proyeksi dan makna logis.
2.9.1 Kohesi pada Cerita Rakyat Melayu Serdang (Irfani, 2002)
Irfani (2002) meneliti tentang kohesi yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Melayu Serdang. Jenis cerita rakyat Melayu yang menjadi objek penelitian ini ada tiga judul, yaitu: 1) Panglima Bukit Cermin (legenda), 2) Putri Burung Kuaw (Mite), dan 3) Anak Orang Miskin (dongeng). Penelitian ini menfokuskan pada pengkajian klausa-klausa yang terdapat dalam teks-teks cerita rakyat Melayu yang dipilih untuk mengidentifikasi jenis-jenis alat kohesi yang terdapat di dalamnya.
Dari hasil hasil penelitian Irfani (2002) ditemukan bahwa alat kohesi gramatikal lebih dominan dibangkan dengan alat kohesi leksikal. Jenis alat kohesi gramatikal yang paling dominan di dalam ketiga teks cerita ini adalah alat kohesi perujuk pronomina edoforik, yaitu kata ganti diri orang ketiga.
Irfani (2002) memakai teori Linguistik Sistemik Fungsional sebagai landasan teori. Dalam penelitian ini beliau banyak merujuk kepada teori ini dalam pemberikan
definisi-defini yang berhubungan dengan kajiannya, seperti definisi-definisi klausa, wacana, teks, kohesi, dan lain-lain.
Penelitian ini memberi kontribusi yang berarti kepada penulis, yaitu berupa semangat untuk menjadikan sastra daerah sebagai objek penelitian.
2.9.2 Logical Relations in Cosmolopolitan Magazine Advertisements (Perangin- angin, 2008)
Perangin-angin (2008) menggunakan teori LSF sebagai landasan teori untuk meneliti jenis-jenis hubungan logis yang ada dalam iklan-iklan yang ada dalam majalah Cosmopolitan.
Penelitian ini menemukan bahwa jenis hubungan logis yang paling banyak ditemukan adalah ekspansi; khususnya terkait dengan konjungsi yang menghubungkan 2 atau 3 klausa. Kesulitan yang ditemukan dalam memahami klausa kompleks pada iklan-iklan dimajalah ini adalah karena banyaknya terdapat klausa kompleks yang berlapis 1, 2 dan 3.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis ekspansi ada dalam iklan-iklan di majalah ini. Dari iklan-iklan yang diteliti, iklan kosmetik mendominasi dengan menggunakan klausa satu tingkat; alasannya karena karena jenis klausa ini paling sederhana dibandingkan dengan klausa kompleks dan lebih mudah dipahami pembaca.
Penelitian ini memberi manfaat kepada penulis berupa penjelasan yang cukup terang tentang hubungan semantik logis.
2.9.3 Representasi Idealogi Masyarakat Melayu Serdang dalam Teks, Situasi, dan Budaya (Zein, 2009)
Penelitian ini mengkaji tentang fenomena Semiotik Sosial Melayu Serdang (MS) yang difokuskan pada representasi Ideologi dalam bahasa (teks), situasi, dan budaya. Adapun data yang digunakan Zein (2009) adalah satuan-satuan klausa transitivitas yang muncul dalam teks syair Melayu, pantun, mantra, cerita rakyat, pidato, khotbah jum’at dan wawancara. Data pendukung juga diambil dari informasi yang didapat dari responden tertentu sebagai narasumber.
Zein (2009) menggunakan teori Linguisstik Sistemik Fungsional untuk menganalisis kajiannya. Adapun temuan beliau adalah, Ideologi Masyarakat Melayu Serdang direpresentasikan oleh trilogi Melayu Serdang melalui dimensi hubungan manusia dengan Pencipta (Tuhan), manusia denan alam, dan manusia dengan makhluk, yang terdiri atas manusia, hewan, dan makhluk ghaib dalam pengalaman, situasi dan budaya.
Menurut Zein (2009), ideologi Masyarakat Melayu Serdang (MMS) diwarnai dan diwataki oleh tiga proses, yakni: proses material, relasional, dan proses mental karena MMS selalu mengorientasikan diri mereka untuk berbuat, bergerak, bekerja, berkegiatan, bertindak, dan bereaksi. Dan menurut beliau lagi bahwa pencirian idealogi MMS oleh ketiga jenis proses transitivitas ini dimotivasi oleh realita sosial MMS, yang menganut dan mengamalkan trilogi MMS sebagai ideologinya dalam berbagai peritiwa dan kegiatan situasi dan budaya.
Zein (2009) mengatakan bahwa pada tataran konteks budaya teks merepresentasikan fungsi sosial, struktur generik dan ciri linguistik teks MS. Menurut beliau lagi ketujuh teks yang terdiri atas pantun, syair, mantra, cerita rakyat, pidato, khotbah jum’at, dan
percakapan degan nelayan dan pentani MS menjadi bagian budaya dan produk budaya MS.
Pemaparan tentang proses-proses dalam sistem transitivitas, bahasa dalam konteks budaya dan situasi secara khusus mencerahkan penulis dalam proses penulisan tesis ini.
2.9.4 Proyeksi dalam Teks Berita dan Tajuk Rencana dalam Harian Waspada (Nurlela, 2002)
Dalam penelitiannya, Nurlela mengkaji proyeksi yang ada dalam Teks Berita dan Tajuk Rencana pada Harian Waspada. Adapun variabel yang diteliti adalah: Lokusi Parataktik, Lokusi Hipotaktik, Ide Hipotaktik dan Relasional.
Dari penelitiannya ditemukan 119 unit proyeksi dari 7 Teks Berita dan 34 unit dari 7 Teks Tajuk Rencana yang dianalisis. Perbedaan proyeksi yang amat signifikan ini disebabkan oleh fungsi kedua jenis teks yang menyebabkan rasio hampir 1:4. Dari empat variabel yang diamati dari semua teks hanya ditemukan tiga variabel, yaitu: Lokusi Hipotaktis, Ide Hipotaksis dan Relasional, sedangkan Lokusi Parataksis sama sekali tidak digunakan oleh wartawan dalam kedua jenis teks.
Proyeksi Relasional mendominasi dalam Teks Berita dengan proporsi 53% dan sangat rendah pemakaiannya dalam Teks Tajuk Rencana dengan proporsi 15%. Proyeksi Lokusi Hipotaksis dominan dalam Teks Berita dengan proporsi 41%. Proyeksi Ide Hipotaksis menempati urutan kedua dalam Teks Tajuk Rencana dengan proporsi 32% dan hanya menjadi pelengkap dalam Teks Berita dengan proporsi 7%. Perbedaan proyeksi dari kedua jenis teks yang dianalisis bersifat kuantitatif.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan tentang ‘Proyeksi dan Cerita-cerita Rakyat Melayu adalah dalam penelitian ini tidak ditemukan jenis proyeksi
‘lokusi parataksis’ sedangkan di tesis ini jenis ini yang paling dominan. Setelah diamati dan disimak ternyata hal itu disebabkan oleh objek penelitian yang berbeda. Dalam tesis Nurlela, proyeksi relasional dan proyeksi lokusi hipotaksis mendominasi karena dalam objek yang dikaji adalah berupa berita dalam harian waspada yang lebih banyak melaporkan daripada mengutip kata-kata secara langsung.
Manfaat yang didapat penulis setelah menelaah tesis ini adalah penyajian isi Tesis ini yang begitu sistematis dan pemilihan kata-katanya yang komunikatif sehingga pembaca pembaca terbantu untuk memahami isinya. Selain bersifat komunikatif, tesis ini juga tergolong menggunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pemaparan tentang proyeksi sendiri terpapar dengan terperinci di tesis ini sehingga memberikan inspirasi kepada penulis dalam memaparkan kerangka teori dan pembahasan dalam tesis penulis.
2.9.5 Klausa Kompleks dan Realisasi Pengalaman dalam Teks Peradilan (Kasus Bom Bali I): Sebuah Analisis LFS (Setia, 2008)
Setia (2008) melakukan penelitian mengenai klausa kompleks dan realisasi pengalaman pada teks peradilan. Beliau menganalisis tentang salingketergantungan klausa yang satu dengan yang lainnya yang disebut taksis. Sturktur taksis ada dua jenis; yaitu parataksis dan hipotaksis. Bagian teks peradilan yang dianalisis adalah hubungan semantik/makna logisnya; yaitu ekspansi dan proyeksi. Dalam ekspansi dianalasis elaborasi, eksistensi, dan ganda. Sedangkan dalam proyeksi dianalisis lokusi dan ide. Kedua makna logis ini diteliti baik yang dalam bentuk parataksis dan hipotaksis.
Setia (2008) mengambil data berupa klausa dan klausa kompleks dari sebelas teks. Data tersebut dianalisis berdasarkan pada permasalahan yang dipilih dengan menggunakan metode kuantitatif dengan merujuk pada metode yang digunakan oleh Nesbitt dan Plum
(1988). Tujuannya untuk mendapatkan tafsiran idealogi teks. Teori, metode dan cara analisis berlandaskan pada teori, metode, dan cara analisis yang diadobsi dari Halliday (1994, 2004, 2005, 2006), Martin (1992, 2000), Eggins (1994, 2004) dan lain-lain. Untuk mendapatkan interpretasi ideologi, teori yang digunakan adalah teori Fairclough (1989, 1995, 2001, dan 2004), Wodak (1996), dan Young dan Brigid (2006).
Adapun hasil penelitian yang didapat adalah berupa konstruksi kompleks dan realisasi pengalaman dan stuktur generik tiap-tiap teks beserta tafsiran ideologinya.
Penelitian ini begitu banyak membantu penulis dalam memahami tentang klausa dan klausa kompleks, parataksis dan hipotaksis dalam proyeksi.
2.9.6 Ideational Functions in Motivational Speech of Martin Luther King Jr. “I HAVE A DREAM” and Winston Shurchill “BLOOD TOIL TEARS AND SWEAT” (Suryani, 2011)
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi fungsi logis dan fungsi eksperensial yang terdapat dalam pidato-pidato Raja Martin Luther Junior dan Winston Shurchill. Pemilihan pidato-pidato yang memberikan semangat ini bertujuan agar dapat diimplementasikan oleh pemimpin dan para guru dalam membimbing murid-muridnya.
Dalam penelitian ini ditemukan data dari fungsi logis dan fungsi eksperensial. Dari fungsi eksperiensial ditemukan 6 proses; proses yang paling mendominasi adalah proses material sekitar 47,57% dan yang terendah adalah prores behavioral yaitu hanya mencapai jumlah 1,62%. Dari fungsi logis ditemukan keberadaan hipotaksis 35% dan parataksis 65%. Ekspansi 98,70% dan proyeksi hanya 1,3 persen. Setelah diamati kenapa proyeksi dalam tesis ini hanya mendapat porsi yang kecil, ditemukan jawaban bahwa tesis ini
meneliti pidato-pidato yang memberi motivasi kepada orang lain. Oleh karena itu ekspansi lebih banyak ditemukan.
Penganalisisan data untuk mengidentifikasi jenis-jenis ekspansi dan proyeksi yang terdapat dalam pidato-pidato yang diteliti memperjelas pengetahuan penulis dalam menganalisis data proyeksi yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Melayu yang dipilih.
2.9.7 Fungsi dan Implikasi Makna Logis Pantun Melayu dan Serdang (Mulyani. 2012)
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menggali bentuk wacana budaya Melayu Deli dan Serdang, yaitu pantun, dan diharapkan dapat memberi kontribusi untuk pemertahanan budaya daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi logis yang direalisasikan pantun Melayu dan Serdang, dan mengiterpretasikan implikasi makna logis dari pantun Melayu Deli dan Serdang.
Mulyani (2012) memakai metode deskriptif kuantitatif dalam penelitiannya. Beliau mengambil data pantun tertulis, yang terdiri dari: dua puluh pantun anak-anak (PAA), dua puluh pantun orang muda (POM), dan dua puluh pantun orang tua (POT). Tiap-tiap pantun terdiri dari empat klausa kompleks, semuanya berjumlah 239. Kemudian data pantun lisan (berbalas pantun) berjumlah sepuluh bait pantun, dan pantun adat pernikahan berjumlah dua belas bait.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa pada hubungan logis, sampiran (1) – (2) dalam PAA, POM, dan POT yang terdiri atas masing-masing 20 klausa kompleks, dan semuanya berjumlah 60 klausa kompleks, setelah direalisasikan ke dalam 10 jenis fungsi logis, didapati bahwa fungsi logis yang dominan ada dua, yaitu ganda hipotaktik (αxβ), dan
ekstensi parataktik, yaitu sama-sama berjumlah 21 (35%). Pada hubungan logis sampiran (1) – (2) dan isi (3) – (4) ada empat hubungan logis yang kosong, yaitu lokusi parataktik (1”2), lokusi hipotaktik (α”β), ide parataktik 1’2) dan ide hipotaktik (α’β).
Dari hasil penelitian didapati bahwa hubungan logis ekspansi yang paling banyak terdapat dalam pantun-pantun yang diteliti dan tidak ditemukan jenis proyeksi baik dalam parataksis maupun dalam hipotaksis.
Penelitian ini memberikan kontribusi kepada penulis bagaimana cara mepaparkan, menganalisis secara terstruktur dan terperinci. Penyajian tentang teori Linguistik Sistemik Fungsional juga dalam disertasi ini cukup memberi penyegaran tentang teori ini.
BAB III