BAB III : HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Landasan keputusan pengadilan agama terhadap Produk
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006.
Di muka telah dijelaskan bahwa sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 produk keputusan Pengadilan Agama ada tiga macam, yaitu putusan, penetapan dan surat keterangan tentang terjadinya talak (STK.3). Sedangkan setelah lahirnya undang-undang tersebut, produk keputusan Pengadilan Agama hanya ada dua bentuk, seperti yang dijelaskan dalam penjelasan Pasal 60 undang-undang tersebut, yakni:
"Yang dimaksud dengan penetapan adalah putusan pengadilan atas perkara permohonan, sedangkan putusan adalah keputusan pengadilan atas perkara gugatan berdasarkan adanya suatu sengketa."
Mengenai bentuk dan isi suatu putusan atau penetapan baik sebelum maupun sesudah lahirnya undang-undang nomor 3 tahun 2006 pada dasarnya tidak terdapat perbedaan berarti.
Secara garis besar bentuk dan isi penetapan dan putusan yang dimaksud di atas adalah meliputi:
a. Bagian kepala putusan atau penetapan.
b. Nama Pengadilan Agama yang memutus dan jenis perkara.
c. Identitas pihak-pihak (dalam gugatan) atau pihak pemohon (dalam permohonan).
d. Duduk perkaranya (posita). e. Tentang pertimbangan hukum. f. Dasar hukum.
g. Dictum atau amar putusan atau penetapan. h. Bagian kaki putusan atau penetapan.
i. Tanda tangan hakim dan panitera serta rincian biaya perkara.
penetapan di alas tidaklah bertentangan dengan ukum Islam. Hal pokok yang ditentukan dalam masalah penetapan hukum menurut hukum Islam adalah, seperti yang dirumuskan oleh ulama dalam kaidah fiqih berikut ini: "Penetapan suatu hukum diperlukan adanya dalil". (MushlihUsman, 1996 : 202).
Ulama telah sepakat bahwa penetapan hukum harus didasarkan pada suatu dalil yang jelas, baik dari nash Al Quran dan As Sunnah, maupun dari dalil ijtihad.
Sebab ketentuan kaidah di atas tersebut dapat dijabarkan cakupannya meliputi duduk perkara (posita), pertimbangan hukum, dan dasar hukum sebagaimana yang telah ada dan berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama di Indonesia selama ini. Kalaupun terdapat beberapa perbedaan, hal itu dipandang hanya bersifat teknis administratif, dan kondisional.
Selanjutnya, di muka telah penulis uraikan pula bahwa sebelum Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 diberlakukan, bahkan sejak zaman penjajahan, tepatnyadengan terbitnya Staatsblad 1882 Nomor 125, telah muncul istilah executoire verklaring yang diartikan fiat eksekusi. Kemudian dengan lahirnya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 lahir pula istilah pengukuhan seperti yang dijelaskan di muka, bahwa semua keputusan Pengadilan Agama haruslah dikukuhkan di Pengadilan Negeri.
Menurut pengamatan penulis, lembaga fiat eksekusi atu pegukuhan ini justru bertentangan dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 yang menyatakan dengan tegas bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara dengan Mahkamah Agung sebagai Peradilan Negara Tertinggi. Artinya keempat lingkungan peradilan di atas adalah sejajar antar satu dengan yang lainnya.
commit to user
Peradilan Agama. Ini jelas menyalahi ketentuan Undang-undang nomor 4 Tahun 2004 di atas.
Di samping itu, fiat eksekusi atau pengukuhan juga bertentangan dengan asas umum dalam suatu peradilan, yaitu bahwa peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan. Sebab kenyataan selama ini dijumpai banyak kesulitan untuk mencapai keadilan yang menjadi harapan masyarakat dalam praktek di Pengadilan Agama dengan adanya lembaga fiat eksekusi atau pengukuhan tersebut.
Setelah diadakan penelitian, ditemukan bahwa sebab utama lahirnya istilah lembaga executoire verklaring atau pengukuhan tersebut tak lepas dari politik hukum zaman penjajahan Belanda untuk menguasai wilayah nusantara, terutama di bidang hukum.
Pemerintah khawatir dengan ajaran Islam, sebab mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, di samping agama Islam itu memang bertentangan dengan agama penjajah. Ajaran Islam sangat mendambakan dan menghargai tinggi kemerdekaan manusia lain, berusaha menghilangkan perbudakan, dan lain sebagainya. Karena itu semakin sadar dan taatnya seseorang kepada ajaran Islam, semakin besar kemungkinannya unluk memusuhi penjajah.
Pemerintah Belanda (penjajah) tahu betul hal ini, karenanya mereka harus mampu menentramkan rakyat jajahan dan salah satu pancingan itu ialah mengabulkan tuntutan rakyat untuk mendirikan lembaga peradilan Islam di Indonesia. Tapi disegi lain, kalau peradilan tersebut dibebaskan bergerak sepenuhnya atau lepas dari kontrol, ia akan membahayakan, karenanya lembaga itu didirikan dengan seolah-olah luas kekuasaannya, padahal sangat dibatasi. Bahkan kalau terpaksa bertabrakan dengan aturan mereka (misalnya aturan dengan BW), maka aturan BW-lah yang harus dipakai dan aturan Islam tidak berlaku.
Di samping itu, pada lembaga-lembaga pendididkan hukum dulu-dulunya, banyak pemuda dan pelajar bangsa Indonesia, yang mereka ini sejak dini sudah dipatrikan untuk menganggap bahwa hukum Eropa itu
lebih komplit, lebih baik, lebih tinggi derajatnya dari hukum apapun yang ada, termasuk hukum bumi putra dan hukum Islam itu sendiri.
Tujuan Belanda ini sebagian berhasil baik, sehingga ketika itu banyaklah intelektual bangsa Indonesia tamatan pendidikan Belanda di Indonesia atau di negeri Belanda sendiri yang merasa amat bangga kalau mereka itu dikatakan ahli hukum Eropa, dan sebaliknya justru mereka ini merasa terhina kalau dikatakan sebagai seorang yang taat akan hukum Islam.
Angggapan bahwa siapa yang beragama Islam adalah kuno dan termasuk kelompok pemberontak, yang semula diterima dari penjajah, masih banyak secara tidak disadari dan berlanjut terus. Kelanjutan ini juga masih besar pengaruhnya zaman kemerdekaan, di mana musuh pemerintah, stempel lama yang masih dipergunakan di zaman kemerdekaan.
Hal itu dapat dibuktikan, pada awal kemerdekaan ketika Pengadilan Agama/Mahkamah Syari'ah di luar Jawa dan Madura dibentuk dengan Peratturan Pemerintah Nomor.45 Tahun 1957 yang merupakan tindak lanjut dan Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951, bahkan juga di dalam Undang-undang Darurat itu sendiri, sistem kontrol oleh Belanda ini masih dipertahankan, dengan sebutan executoir verklaring atas putusan Pengadilan Agama oleh Pengadilan Umum (dulu namanya Landraad).
Bukan hanya itu, nampaknya sistem kontrol tersebut masih dipertahankan oleh para pembuat Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 sebagai aturan pelaksanaannya, dengan apa yang disebut sebagai pengukuhan atas semua keputusan Pengadilan Agama oleh Pengadilan Umum.
commit to user
oleh Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004, menghendaki dan memerintahkan bahwa susunan, kekuasaan dan hukum cara dari masing-masing peradilan harus diatur dengan Undang-undang tersendiri, sehingga keadaan tak menentu di atas tidak berlarut-larut
Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 yang telah diperbarui dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2006, maka terkuburlah istilah lembaga fiat eksekusi atau pengukuhan tersebut. Kini Pengadilan Agama sudah dapat melaksanakan (mengeksekusi) keputusannya sendiri dan pada Pengadilan Agama sudah ada Juru Sita (Deurwarder) termasuk segala macam bentuk sila (beslag) yang diperlukan. Jadi kejurusitaan sekarang merupakan pranata baru dalam struktur organisasi pada Peradilan Agama sebagaimana yang disyaratkan oleh Pasal 107 ayat 1 butir d Undang-undang tersebut.
Dalam peradilan Islam, telah dimaklumi bahwa peradilan dilaksanakan oleh badan tertentu yang ditunjuk oleh khalifa (pemimpin) suatu negara. Dalam menjalankan tugasnya lembaga ini harus independen, bebas dan campur tangan pihak luar.
Demikian pula, menurut hukum Islam eksekusi atas suatu putusan pengadilan dilaksanakan oleh badan itu sendiri, dalam hal ini adalah pengadilan dengan segenap staf-stafnya yang membantu tugas para hakim seperti Juru Sita dan lain-lain. Dengan demikian, ketentuan tentang penghapusan istilah fiat eksekusi atau pengukuhan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tampak lebih mendekati maksud dan jiwa hukum Islam dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelumnya.
Putusan atau penetapan dalam keputusan peradilan agama pada dasarnya tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam. Hal pokok yang ditentukan dalam masalah penetapan hukum menurut hukum Islam adalah, sepeni yang dirumuskan oleh ulama dalam kaidah fiqih berikut ini: "Penetapan suatu hukum diperlukan adanya dalil". (MushlihUsman, 1996 : 202).
Sebelum Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 diberlakukan, bahkan sejak zaman penjajahan, tepatnyadengan terbitnya Staatsblad 1882 Nomor 125, telah muncul istilah executoire verklaring yang diartikan fiat eksekusi. Terdapat pertentanga dalam pengukuhan keputusan peradilan agama, dimana keputusan peradilan agama harus dikukuhkan oleh pengadilan yang lebih tinggi. Sedangkan pada menurut fiat eksekusi menerangkan bahwa keputusan peradilan agama dapat dikukuhkan oleh pengadilan yang mempunyai kedudukan yang sejajar.
Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 yang telah diperbarui dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2006, maka terkuburlah istilah lembaga fiat eksekusi atau pengukuhan tersebut. Kini Pengadilan Agama sudah dapat melaksanakan (mengeksekusi) keputusannya sendiri dan pada Pengadilan Agama sudah ada Juru Sita (Deurwarder) termasuk segala macam bentuk sila (beslag) yang diperlukan. Jadi kejiirusitaan sekarang merupakan pranata baru dalam struktur organisasi pada Peradilan Agama sebagaimana yang disyaratkan oleh Pasal 107 ayat 1 butir d Undang-undang tersebut.
commit to user BAB IV PENUTUP
A. Simpulan
Dari semua penjelasan dalam pembahasan skripsi ini, penulis mencoba menarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut :
1. Landasan keputusan pengadilan agama terhadap hukum materiil pengadilan agama sebelum diberlakukannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 pada dasarnya adalah hukum Islam yang telah diserap oleh hukum adat (tidak tertulis). Dan sesudah Undang-undang tersebut berlaku, hukum materiil Pengadilan Agama adalah hukum Islam yang sebagian besar sudah dianggap sebagai hukum tertulis dan hukum yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Menurut hukum Islam, sccara prinsip hukum materiil baik sebelum maupun sesudah diberlakukannya Undang-undang tersebut, tidaklah bertentangan dengan hukum Islam.
Landasan keputusan pengadilan agama terhadap hukum formil Pengadilan Agama baik sebelum dan sesudah berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 secara prinsip tidaklah bertentangan dengan hukum Islam. Bahkan, pasca lahirnya Undang-undang tersebut terdapat beberapa khususan hukum acara. Menurut hukum Islam, hal ini justru lebih tegas dan mendekati maksud dan jiwa hukum Islam.
2. Landasan Keputusan Pengadilan AgamaTerhadap Produk Keputusan Pengadilan Agama Sebelum Dan Sesudah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama pada dasarnya produk keputusan pengadilan agama setelah berlakunya Undang-undang Nomor 3tahun 2006
lebih mendekati hukum Islam jika dibandingkan dengan produk keputusan Pengadilan Agama sebelum lahirnya Undang-undang tersebut.
B. Saran
Berdasarkan pada kesimpulan di atas, penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut:
1. Perlu penelitian dan pengkajian kembali tentang pengaruh teori resepsi yang diperkenalkan oleh Snouck Hurgronye pada zaman kolonial Belanda dan pengarunya terhadap eksistensi Peradilan Agama di Indonesia, untuk melengkapi khazanah keilmuan khususnya di kalangan praktisi hukum dan pecinta keadilan.
2. Memang terdapat beberapa langkah maju di bidang hukum formil di Pengadilan Agama. Namun Pengadilan Agama masih harus memperhatikan hukum proses menurut Islam secara murni.
3. Segenap praktisi hukum, khususnya di Pengadilan Agama, hendaknya bisa mengeluarkan produk-produk hukum yang benar-benar sesuai dengan tuntunan hukum Islam, agar keadilan dan kebenaran yang hakiki bisa diwujudkan.