BAB III LANDASAN FILOSOFIS
3.2 Landasan Sosiologis
Secara sosiologis, Amandemen UUD NRI Tahun 1945 dilakukan karena adanya kehendak untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat yang cita-citakan sejak 18 tahun yang lalu atau sejak amandemen UUD NRI Tahun 1945 terakhir (2002). Kebutuhan ini didasarkan pada nilai kebudayaan yang dianut suatu bangsa (latency) yang merdeka dan berdaulat seperti Indonesia. Terlebih lagi di era globalisasi, dimana persaingan ekonomi, teknologi, dan pertukaran informasi lintas batas negara semakin cepat pada saat ini. Sehingga perlu adanya konstitusi yang mengakomodir kebutuhan masyarakat dan negara tersebut dalam mengambil langkah-langkah yang baik untuk mencapai tujuan negara Indonesia. Tujuan tersebut termuat dalam Alinea keempat Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Perlu dipahami, kondisi internal masyarakat Indonesia berkembang sedemikian cepatnya seiring perkembangan yang terjadi di dunia interasional. Sehingga dengan perkembangan itu, dituntut adanya hukum yang menjamin kepastian, kemanfaatan, dan keadilan bagi masyarakat Indonesia. UUD NRI Tahun 1945 merupakan norma hukum tertinggi dalam stufentheorie, sehingga akan banyak mempengaruhi peraturan-peraturan turunan dibawahnya dalam mencapai tujuan Indonesia tersebut.56 Akan tetapi, UUD NRI Tahun 1945 amandemen terakhir (keempat) memiliki kelemahan dan permasalahan, karena tidak sesuai dengan perkembangan terkini cita sosiologis masyarakat terhadap pemenuhan kepastian, kemanfaatan, dan keadilan. Cita tersebut diwujudkan dengan penerapan konsep negara kesejahteraan (welfare staat) melalui Amandemen UUD NRI Tahun 1945. Negara kesejahteraan diperlukan mengingat angka kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia.57 Kemudian bonus demografi yang akan dialami oleh Indonesia selama 2020-2030.58 Sehingga perlu peran negara secara optimal dalam mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut, khususnya pada pengurangan angka kemiskinan dan optimalkan demografi Indonesia yang besar tersebut.
Konsep negara kesejahteraan (welfare staat) selain focus pada peran negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang erat kaitannya dengan ekonomi, juga disyaratkan adanya pemenuhan prinsip-prinsip berikut dalam mewujudkannya, diantaranya:59
1) Prinsip Hak-Hak Sosial dalam Negara Demokrasi
Salah satu hal penting dari negara demokratis adalah konsep negara kesejahteraan. Hal itu karena tidak ada negara demokrasi yang tidak memenuhi hak-hak sosial bagi warga negaranya.
Sehingga pemenuhan hak-hak sosial warga negara berbanding
56 Hans Kelsen, teori Umum Tentang Hukum dan Negara Judul Aslinya (Theory Of Law and State) Diterjemahkan Rasul Muttakin, (Bandung: Nusa Media, 2010), hlm. 179.
57 Per Maret 2019, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 9,41% atau 25,14 juta orang.
Supranote 10
58 Tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami Bonus Demografi, karena penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 60% atau lebih besar dari usia nonproduktif. Supranote 11.
59 Supranote 9, hlm. 115-119.
lurus dengan tanggungjawab negara demokratis. Oleh karena itu, demokrasi yang dimaksud tidak cukup hanya dibatasi pada penataan aturan-aturan procedural politik dalam memilih pejabat publik, melainkan pada tujuan substansial negara demokratis yakni pemenuhan standar kehidupan sosial masyarakat yang berlandas pada prinsip hak-hak sipil dan politik serta ekonomi dan budaya.
Dengan hal tersebut, maka tujuan yang hendak dicapai ialah negara dapat mengaktualisasikan segenap potensi dan kemampuan yang dimilikinya secara optimal, serta terhindar dari proses pemiskinan structural.
2) Prinsip Welfare Rights
Prinsip welfare rights berpijak pada pemenuhan nilai-nilai fundamental kemanusiaan melalui program-program social untuk memenuhi hajat hidup layak bagi setiap warganegara.
Untuk menjamin hak-hak tersebut dapat diperoleh oleh tiap-tiap warganegara, maka diperlukan inisiatif aktif dan tanggung jawab pemerintah untuk menjaga dan merealisasikan pemenuhan hak-hak sosial tersebut. Kebutuhan-kebutuhan sosial mendasar bagi tiap-tiap orang seperti pendidikan yang layak, hak untuk memperoleh barang-barang publik seperti air dan listrik, layanan kesehatan, dan hak untuk bertempat tinggal dan memiliki rumah dan kebutuhan sosial lainnya menjadi orientasi utama dari tugas Negara untuk memperjuangkannya.
3) Prinsip Kesetaraan Kesempatan Bagi Warga Negara
Seseorang ketika lahir dan tumbuh telah terikat pada posisi kelasnya masing-masing. Dalam konteks ini tidak semua orang memiliki akses yang setara untuk bekerja sesuai dengan pilihannya masing-masing.Sehingga kehadiran Negara kesejahteraan berperan untuk mengatasi hambatan-hambatan social yang harus dihadapi oleh tiap-tiap orang berkaitan dengan posisi kelas mereka.Akses kepada pendidikan yang layak dan redistribusi asset-aset produktif sangat berperan dalam pemenuhan akses kepada pekerjaan yang layak.Sehubungan dengan pemenuhan kesempatan yang setara kepada setiap warga untuk dapat bekerja secara layak ini bersifat kontekstual bagi setiap Negara. Formasi sosial yang eksis di
tiap-tiap Negara menentukan formulasi seperti apa yang cocok dalam implementasinya. Dalam kecenderungan masyarakat agraris yang dominan seperti di Indonesia misalnya, dimana akses kepada tanah menjadi fundamental agar mereka dapat hidup secara layak, maka desain reformassi agrarian yang berkeadilan menjadi salah jalan utama untuk mewujudkan kesetaraan akses bagi tiap-tiap warga Negara.
4) Prinsip Keseimbangan Otoritas Publik dan Ekonomi, dan Efisiensi Ekonomi
Pasar bebas tidak dapat dibiarkan berjalan sendirian untuk mengatur kompleksitas kehidupan publik. Pada kenyataannya mekanisme pasar bebas tidak dapat menentukan prioritas sosial dan menanggulangi persoalan-persoalan kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Ketika mekanisme pasar bebas dibiarkan berjalan tanpa batasan dan regulasi, justru semakin memperlebar jurang ketimpangan sosial, kemiskinan dan ketidakadilan. Prinsip mengejar kepentingan diri seluas-luasnya dalam arena pasar bebas, hanya akan mengakomodasi mereka yang dapat membayar dan memberi keuntungan dalam transaksi ekonomi yang diakui untuk mendapatkan fasilitas bagi kenyamanan hidupnya. Alih-alih bersikap egalitarian karena dapat memuaskan kepentingan tiap-tiap individu, mekanisme pasar bebas justru menjadi kerangka institusional yang berperan untuk mengekslusi setiap kepentingan dari mereka yang paling terpinggirkan secara ekonomi.
Oleh karena itu, pentingnya peran Negara sebagai otoritas politik berperan sebagai agensi yang menggerakkan dan mengatur kehidupan publik. Pentingnya Negara dalam prinsip welfare state tidak ditempatkan untuk menggusur peran pasar bebas, namun Negara menjadi penting guna mendorong agar pasar bebas dapat berfungsi dengan baik dan tidak meminggirkan kepentingan bersama. Dengan demikian yang menjadi perhatian dari penyeru welfare state bukanlah pengedepanan peran Negara diatas pasar, namun yang paling penting adalah bagaimana menempatkan keterlibatan pasar maupun Negara secara tepat untuk menggerakkan kehidupan publik.
Hal-hal diatas merupakan landasan sosiologis dilakukannya Amandemen Kelima UUD NRI Tahun 1945.