• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelimpahan Kewenangan Pengujian Peraturan

Dalam dokumen Academic Constitutional Drafting (Halaman 67-71)

BAB IV ANALISIS

4.5 Pelimpahan Kewenangan Pengujian Peraturan

A. Sistem Pengujian PUU saat ini

Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.105 Peraturan Perundangan-undangan sendiri memiliki jenis dan hierarki.

Hierarki yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia tahun 1945;

102 Sekretariat Jenderal DPD RI, Profil Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Tahun Sidang 2014-2015, (Jakarta: Sekretariat Jenderal DPD RI, 2015), hlm.14

103 Ronald Rofiandri, “Aktualisasi Kewenangan DPD Pasca Putusan MK Dalam Penyusunan Prolegnas 2015-2019 dan Prioritas 2015:Butuh Konsistensi dan Tindak Lanjut Pelembagaan”, 13 Februari 2015, https://pshk.or.id/blog-id/aktualisasi-kewenangan-dpd-pasca-putusan-mk- dalam-penyusunan-prolegnas-2015-2019-dan-prioritas-2015-butuh-konsistensi-dan-tindak-lanjut-pelembagaan/ diakses pada 30 Juni 2020

104 Id.

105 Lihat Pasal 1 angka 1 UU 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah diubah dalam UU No 15 tahun 2019

(2) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

(3) Undang-Undang/peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

(4) Peraturan Pemerintah;

(5) Peraturan Presiden;

(6) Peraturan Daerah Provinsi; dan (7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Selain peraturan perundang-undangan di atas, terdapat peraturan perundang-undangan lain yang diakui keberadannya dan memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan. Peraturan perundang-undangan tersebut diantaranya adalah peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.106

Produk hukum yang dihasilkan oleh lembaga negara dan badan-badan tersebut tidak bersifat mutlak karena masih terdapat mekanisme judicial review dan uji materi apabila terdapat norma-norma yang dianngap bertentang dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Mekanisme pengujian peraturan perundang-undangan saat ini dibedakan menjadi 2, yaitu di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi berwenang untuk memeriksa dan memutus judicial review terhadap UU dengan batu uji UUD NRI Tahun 1945, sedangkan Mahkamah Agung berwenang untuk memeriksa dan memutus permohonan uji materi terhadap peraturan perundang-undangan yang ada di bawah undang-undang dengan batu uji undang-undang.

106 Lihat Pasal 8 UU 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah diubah dalam UU UU No 15 tahun 2019

B. Kelemahan Penerapan Pengujian PUU di Mahkamah Agung Pengujian peraturan perundang-undangan yang di Mahkamah Agung tidak ideal jika dibandingkan dengan fungsi kerja dan jumlah hakim agung di Mahkamah Agung. Pengujian peraturan-perundangan di Mahkamah Agung bersifat tertututp sehingga sulit untuk mengawal transparansi putusannya. Hal itu dikarenakan Mahkamah Agung hanya diberikan waktu 14 hari untuk menyelesaikan perkara.107 Hal ini dinilai menyulitkan Mahkamah Agung karena disisi lain, Mahkamah Agung juga memiliki kewenangan memeriksa dan memutus perkara di tingkat kasasi dan peninjauan kembali. Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung mengungkapkan bahwa Mahkamah Agung menanggung beban berat atas melimpahnya perkara dan jumlah hakim agung yang tidak proporsional. Pada 2017, jumlah perkara yang masuk sebanyak 13.203 perkara sedangkan jumlah hakim agung hanya 44 orang.108 Hal ini tentu akan menghambat kerja baik memutus perkara pada tingkat kasasi, peninjauan kembali, maupun pengujian peraturan perundang-undangan.

C. Perlunya Pelimpahan Kewenangan Pengujian PUU dari MA ke MK

The Fundamentals of Constitutional Courts yang ditulis oleh Andrew Harding menunjukan beberapa kewenangan dari Constitutional Courts, yaitu:109

1. Constitution-drafting jurisdiction (controlling the constitution itself):

• adjudicating issues arising in the constitution-making process; and

• reviewing the constitutionality of constitutional amendments (e.g. as in Niger, Senegal and South Africa)

2. Judicial review of legislative acts (controlling the legislature):

• reviewing the constitutionality of laws in advance of legislation (ante

107 Dylan Aprialdo Rachman, “Sidang Uji Materi tertutp, MA Sebut karena Batasan Waktu” 10 April 2018, diakses pada 27 Juni 2020, https://nasional.kompas.com/read/2018/04/10/10161061/

sidang-uji-materil-tertutup-ma-sebut-karena-batasan-waktu?page=all

108 Moh. Nadir. “Hakim Agung Tak Ideal, MA Keluhkan Beban Berat Tangani Perkara” kompas.

com, 22 September 2017, diakses pada 27 Juni 2020, https://nasional.kompas.com/

read/2017/09/22/20254261/jumlah-hakim-agung-tak-ideal-ma-keluhkan-beban-berat-tangani-perkara?page=all

109 Andrew Harding, “Constitutional Brief” April 2017, diakses pada 27 Juni 2020, https://www.

idea.int/sites/default/files/publications/the-fundamentals-of-constitutional-courts.pdf

factum);

• reviewing the constitutionality of laws after legislation (ex post facto);

• reviewing the constitutionality of decisions by the legislature; and

• initiating or requiring legislation

3. Jurisdiction over officials and agencies (controlling the executive):

• reviewing the constitutionality of executive actions and decisions;

• hearing impeachment proceedings against holders of publik office;

• consideration of criminal or civil cases in respect of official corruption;

• consideration of qualifications of individuals to hold or continue to hold publik office;

• adjudication of appointment of office-holders under the constitution;

• adjudication of disputes as to the competence of organs of state; and

• adjudication of disputes between organs of state

4. Jurisdiction over political parties and elections (controlling elections):

• adjudication of the dissolution or merger of political parties and control over constitutionality of their actions;

• examining the legality of elections and election results at any level;

and

• hearing electoral petitions

Kendati tidak secara eksplisit menunjukan kewenangan menguji seluruh peraturan perundang-undangan, pada prinsipnya kewenangan tersebut memiliki misi untuk menjaga dinamika bernegara agar selalu satu koridor dengan konstitusi. Dalam tradisi Eropa Continental, pengujian hukum terpusat oleh satu badan disebut dengan istilah centralized judicial review. Pemusatan pengujian hukum tersebut dicetuskan oleh Hans Kelsen yang saat itu berperan dalam pembentukan konstitusi Austria. Ia memperkenalkan sebuah lembaga judicial review khusus yang dinamakan verfassungsgerichtshof atau Mahkamah Konstitusi.110

Berdasarkan konsep di atas, maka pelimpahan kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan dari Mahkamah Agung ke

110 Prof. Dr. Maria. Farida Indrati, S.H., M.H., dkk, “Pengujian Peraturan Perundang-undangan, Mengenal Keberadaan Konstitusi di Indonesia” Teori Perundang-undangan, diakses pada 27 Juni 2020, http://repository.ut.ac.id/4116/1/HKUM4404-M1.pdf

Mahkamah Konstitusi bukan suatu hal yang tidak mungkin. Selain mengurangi beban kerja Mahkamah Agung, pelimpahan kewenangan ini juga dapat membantu lahirnya putusan yang lebih berkualitas dan indenden karena tidak terbatas waktu dan terbuka dalam proses pemeriksaannya.

4.6 Penguatan Kewenangan Komisi Yudisial Dalam Menjaga

Dalam dokumen Academic Constitutional Drafting (Halaman 67-71)