BAB IV ANALISIS
4.4 Urgensi Keterlibatan DPD Dalam Seluruh
Pasal 22D UUD NRI Tahun 1945
A. Sejarah DPD
Hadirnya Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam sistem ketatanegaraan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah perkembangan kekuasaan dan lembaga negara di Indonesia, salah satunya adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam sejarah pendirian Negara Indonesia, konsep perwakilan rakyat melalui lembaga perwakilan rakyat telah disepakati oleh para founding fathers sebagai sarana menggapai cita dan membangun bangsa.92 Dengan demikian, maka disepakati bahwa MPR merupakan penjelmaan rakyat yang memegang kedaulatan rakyat diisi oleh perwakilan daerah dan golongan sebagai representasi rakyat.93
Melihat pada desain ketatanegaraan Indonesia, kehadiran Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan penghubung antara aspirasi serta kepentingan lokal berskala daerah dengan berbagai kebijakan pembagunan berskala nasional.94 DPD hadir membawa visi dan misi memajukan daerah.95 Dengan demikian, kehadiran DPD diharapkan dapat mengakomodir kepentingan dan aspirasi dalam penentuan kebijakan pusat. Secara politis, pertimbangan hadirnya DPD dalam ketatanegaraan Indonesia merupakan lembaga perekat yang diaharapkan dapat memperkuat ikatan daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.96
92 Ni Kadek Riza Sartika Setiawati, Nyoman Mas Aryani, Kewenangan DPD dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, (Fakultas Hukum Universitas Udayana: Denpasar, 2011) hlm.3 dikutip dalam Zaki Ulya, “Kontradiksi Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Ditinjau dari Segi Kemandirian Lembaga dalam Sistem Bikameral”, Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Volume II Nomor 2 Juli-Desember 2016, https://media.neliti.com/
media/publications/240371-kontradiksi-kewenangan-dewan-perwakilan-5fecd33c.pdf diakses pada 30 Juni 2020
93 Id.
94 Kelompok DPD di MPR RI, Untuk Apa DPD RI, (Jakarta: DPD RI, 2005), hlm.18 dikutip dalam Masnur Marzuki, “Analisis Kontestasi Kelembagaan DPD dan Upaya Mengefektifkan Keberadaannya”, Jurnal Hukum No.1 Vol.15 Januari 2008, hlm. 82, https://media.neliti.com/
media/publications/82970-ID-analisis-kontestasi-kelembagaan-dpd-dan.pdf diakses pada 30 Juni 2020.
95 Ni Kadek Riza Sartika Setiawati, Nyoman Mas Aryani, Supra Note. 10
96 Masnur Marzuki, “Analisis Kontestasi Kelembagaan DPD dan Upaya Mengefektifkan Keberadaannya”, Jurnal Hukum No.1 Vol.15 Januari 2008, hlm. 82, https://media.neliti.com/
Disebutkan dalam pembahasan PAH I BP MPR, kehadiran DPD merupakan bentuk perwakilan rakyat daerah serta berperan sebagai lembaga pendukung bagi DPR.97 DPD bertujuan memberikan keterlibatan unsur masyarakat daerah dalam mengambil kebijakan di tingkat nasional, khususnya terkait dengan kepentingan daerah.98 Selain itu, DPD juga hadir untuk mewujudkan sistem legislasi yang responsif dan berpihak pada kepentingan rakyat sesuai dengan tuntutan reformasi.99 DPD dipandang dapat mendorong percepatan demokrasi, pembangunan, kemajuan daerah, setya mengoptimalkan fungsi utusan daerah yang semula merupakan kewenangan MPR.100
B. Kewenangan DPD Pasca Amandemen UUD NRI 1945
Merujuk pada Pasal 22D UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dapat dilihat bahwa kewenangan DPD mencakup:
1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah
2) DPD ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah, memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN dan RUU yang berkaitan dengan pajak,
media/publications/82970-ID-analisis-kontestasi-kelembagaan-dpd-dan.pdf diakses pada 30 Juni 2020.
97 Kelompok DPD di MPR RI, Supra Note. 12
98 Firmansyah Arifin, et.al., Lembaga Negara dan Sengketa Kewenangan Antar Lembaga Negara, (Jakarta: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional bersama MK Republik Indonesia, 2005), hlm.75
99 Ni Kadek Riza Sartika Setiawati, Nyoman Mas Aryani, Kewenangan DPD dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, (Fakultas Hukum Universitas Udayana: Denpasar, 2011) hlm.3 dikutip dalam Zaki Ulya, “Kontradiksi Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Ditinjau dari Segi Kemandirian Lembaga dalam Sistem Bikameral”, Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Volume II Nomor 2 Juli-Desember 2016, https://media.neliti.com/
media/publications/240371-kontradiksi-kewenangan-dewan-perwakilan-5fecd33c.pdf diakses pada 30 Juni 2020
100 Id.
pendidikan, dan agama
3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undangundang mengenai: otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
Berdasarkan yang tercantum dalam ketentuan di atas, ditinjau dari segi kewenangannya, DPD merupakan bagian dari kekuasaan legislative bersama DPR. Keduanya memiliki kewenangan dalam membentuk undang-undang. Tetapi, disebutkan dalam Pasal 20 ayat (1) UUD NRI 1945 bahwa DPR merupakan pemegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. Dengan demikian, hal ini berpengaruh pada kewenangan DPD berdasarkan Pasal 22D adalah sebagai co legislator yang kewenangannya lebih kecil dibandingkan DPR sebagai pemegang kekuasaan legisatif.101
Dalam implementasinya, kewenangan DPD yang kian hari dinilai semakian lemah. Hal tersebut berdampak pada ketidakoptimalan fungsinya kerap menuai kontroversi. Jika dilihat dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku pasca amandemen UUD NRI 1945 dapat dilihat bahwa kedudukan DPD cenderung lemah untuk dapat bekerja secara optimal dalam membangun daerahnya masing-masing.
Merujuk pada Undang-Undang yang mengatur terkait dengan kewenangan DPD dalam hal pembentukan Undang-Undang yang diusulkan oleh DPD, keterlibatan DPD dalam pembahasan hanya sampai pada pembahasan tingkat I. Seringkali, RUU usulan DPD tidak ditindaklanjuti oleh DPR karena keterbatasan kewenangan yang dimiliki DPD. Sepanjang Oktober 2004 sampai dengan Oktober 2014, DPD mengajukan 54 RUU, 237 pandangan dan pendapat, 74 pertimbangan, dan 138 hasil pengawasan.
RUU uusul DPD dan keterlibatan DPD dalam pembahasan RUU sangat terbatas, hanay RUU kelautan yang menjadi usul inisiatif DPD dan menjadi
101 Zaki Ulya, “Kontradiksi Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Ditinjau dari Segi Kemandirian Lembaga dalam Sistem Bikameral”, Jurnal Hukum Samudra Keadilan, Volume II Nomor 2 Juli-Desember 2016, https://media.neliti.com/media/publications/240371-kontradiksi-kewenangan-dewan-perwakilan-5fecd33c.pdf diakses pada 30 Juni 2020
Undang-Undang.102
Padahal, dalam perkembangannya, kedudukan dan peran DPD telah mengalami pengubahan sejak putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 79/PUU-XII/2014. Putusan ini memberikan dampak dan konsekuensi pada kedudukan dan peran DPD, antara lain: pertama, kedudukan RUU dari DPD setara dengan RUU dari Presiden dan DPR.
Mahkamah berpendapat bahwa103 (i) kedudukan DPD sama dengan DPR dan Presiden dalam hal mengajukan RUU. (ii) DPD dapat mengajukan RUU di luar Prolegnas. (iii) usul RUU dari DPD tidak menjadi usul RUU DPR. Kemudian, pembahsan RUU dilakukan secara tripartite yaitu Presiden, DPD, dan DPR tanpa diwakili atau berhadapan dengan fraksi-fraksi di DPR.
Kedua, terkait dengan pembahasan RUU. MK berpendapat bahwa dalam hal pembahasan RUU usulan DPD harus diperlakukan sama dengan RUU dari Presiden dan/atau DPR. Termasuk dalam hal saling memberikan penjelasam dan pandangan dalam pembahasan RUU usulan DPD, DPR, dan/atau Presiden.104
4.5 Pelimpahan Kewenangan Pengujian Peraturan