• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. LANDASAN TEORI

Berdasarkan UU no. 16 tahun 2009, Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara dan untuk kemakmuran rakyat.

Menurut Soemitro, Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. (Mardiasmo, 2008)

Menurut Andriani (Sukrisno: 2010), Pajak termasuk iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

Pajak yaitu kontribusi wajib pajak negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Kententuan Umum dan Tata Cara Perpajakan).

commit to user

Fungsi pajak menurut Waluyo (2007) terdiri atas dua macam, a) Fungsi Budgetair: pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai

pengeluaran-pengeluarannya, b) Fungsi Regulerend: pajak sebagai alat untuk

mengatur dan melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pajak yang dikenakan terhadap penyerahan atau impor Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Objek PPN atas penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean, impor barang kena pajak, penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean, dan ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak. Barang yang dikecualikan dari pengenaan PPN a) barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, b) barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, c) uang, emas batangan, dan surat-surat berharga. Jasa dibidang pelayanan kesehatan medik, pelayanan sosial, tenaga kerja, dan perhotelan merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), pajak yang dikenakan terhadap penyerahan atau impor barang-barang berwujud yang tergolong mewah. Subjek pajaknya yaitu Pengusaha kena pajak yang menghasilkan barang kena pajak yang tergolong mewah dan pengusaha yang mengimpor barang yang tergolong mewah, sedangkan objek pajak dari PPnBM atas

commit to user

penyerahan barang berwujud yang tergolong mewah dan impor barang yang tergolong mewah.

Bea Masuk termasuk pungutan negara berdasarkan Undang-undang Pabean yang dikenakan terhadap barang impor. Bea Masuk diatur dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1995 tentang Kepabenan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan arus lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean dan pemungutan bea masuk disebut Kepabeanan. Yang menjadi daerah pabean adalah Wilayah Republik Indonesia yang meliputi darat, perairan, dan ruang udara diatasnya, serta tempat-tempat tertentu di

zona eksklusif dan landas kontinen yang didalamnya berlaku Undang-Undang

Pabean.

Kawasan Berikat

Menurut Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor 57/ BC/ 2011, Kawasan Berikat merupakan Tempat Penimbunan Berikat untuk menimbun barang impor dan atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean guna diolah atau digabungkan, yang hasilnya terutama untuk di ekspor.

Kawasan Berikat (Sani et al, 2007), Suatu bangunan, tempat, atau

kawasan dengan batas-batas tertentu yang didalamnya dilakukan kegiatan industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, dan pengepakan atas barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari Daerah Pabean Indonesia lainnya yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor.

commit to user

Penyelenggara Kawasan Berikat berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas atau Koperasi atau Yayasan yang memiliki, menguasai, mengelola, dan menyediakan sarana dan prasarana bagi pihak lain yang melakukan kegiatan usaha di Kawasan Berikat yang diselenggarakannya berdasarkan izin untuk menyelenggarakan Tempat Penimbunan Berikat (TPB) berupa Kawasan Berikat.

Pengusaha dalam Kawasan Berikat yaitu Perseroan Terbatas atau Koperasi yang melakukan kegiatan usaha industri pengolahan di Kawasan Berikat. Syarat pendirian Kawasan Berikat:

a) Perusahaan berstatus PMDN, PMA, Non-PMA/PMDN yang berbentuk PT,

Koperasi atau Yayasan.

b)Memiliki/ menguasai kawasan yang berlokasi di kawasan industri yang

ditetapkan Pemerintah Daerah Tingkat II.

c) Lokasi kawasan dapat langsung dimasuki dari jalan umum dan dapat dilalui

oleh kendaraan pengangkut barang, tidak berhubungan langsung dengan bangunan lain dan mempunyai fasilitas sistem hanya satu pintu utama untuk pemasukan dan pengeluaran barang ke/ dari KB.

d)Kawasan memiliki pagar keliling yang merupakan batas pemisah yang jelas

dengan kawasan lainnya.

e) PDKB harus memiliki secara terpisah tempat pengolahan, penimbunan

bahan baku, barang jadi, dan bahan sisa serta barang rusak/ busuk.

f) Menyediakan ruangan yang memadai bagi petugas Bea dan Cukai dalam

commit to user

g)Memasang papan nama yang dapat dibaca dan tampak jelas di depan

perusahaan.

Pihak yang akan menjadi Penyelanggara Kawasan Berikat sekaligus Pengusaha Kawasan Berikat mengajukan permohonan untuk mendapatkan persetujuan penetapan tempat sebagai Kawasan Berikat dan Pemberian Izin Penyelenggara Kawasan Berikat sekaligus izin Pengusaha Kawasan Berikat kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui Kantor Pabean yang mengawasi dengan melampirkan: 1) Surat Permohonan Penetapan sebagai Kawasan Berikat serta persetujuan sebagai Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB)/ PKB merangkap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB), 2) Daftar isian Kelengkapan Permohonan untuk memperoleh persetujuan sebagai PKB/ PKB merangkap PDKB, 3) Fotokopi Izin Usaha dan persetujuan lain yang diperlukan dari instansi teknis terkait, 4) Fotokopi Akte Pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang, 5) Fotokopi bukti/ dokumen kepemilikan atau penguasaan lokasi KB, 6) Fotokopi surat pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), Fotokopi NPWP, dan fotokopi SPT PPh Wajib Pajak Tahun Terakhir (jika perusahaan belum aktif beroperasi kewajiban melampirkan SPT diganti dengan Surat Pernyataan bermaterai yang menyatakan perusahaan belum beroperasi), 7) Rekomendasi Kepala KPPBC dan Berita Acara Pemeriksaan dari KPPBC setempat yang mengawasi disertai dengan lampirannya berupa peta lokasi/ denah/ tata letak dan foto-foto tentang lokasi yang akan dijadikan KB yang telah ditandasahkan/ distempel oleh KPPBC, 8) Analisa Mengenai Dampak

commit to user

Lingkungan, 9) Surat Pernyataan mengenai jenis hasil produksi perusahaan sesuai izin usaha industrinya, 10) Fotokopi Surat Pemberitahuan Registrasi (SPR).

Di Kawasan Berikat, pengusaha wajib a) Memasang tanda nama perusahaan serta nomor dan tanggal izin sebagai Pengusaha Kawasan Berikat dan PDKB pada tempat yang dapat dilihat dengan jelas oleh umum, b) Membuat rekapitulasi secara periodik atas pemasukan dan pengeluaran barang, bahan, dan mesin, serta menyampaikan rekapitulasi tersebut kepada Kantor Pelayanan Utama atau Kantor Pabean yang mengawasi, c) Menyediakan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pertukaran data secara elektronik untuk Pengusaha Kawasan Berikat atau PDKB yang diawasi oleh kantor Pabean yang menerapkan sistem Pertukaran Data Elektronik (PDE) untuk Kawasan Berikat, d) Mendayagunakan teknologi informasi untuk pengelolaan pemasukan dan pengeluaran barang yang dapat diakses untuk kepentingan pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) dalam hal jenis Hasil Produksi di Kawasan Berikat adalah Barang Kena Cukai (BKC), e) Melakukan pencacahan (stock opname) terhadap barang-barang yang mendapat fasilitas kepabeanan, cukai, dan perpajakan dengan mendapatkan pengawasan dari Kantor Pabean yang mengawasi, f) Menyimpan dan memelihara dengan baik pada tempat usahanya buku dan catatan serta dokumen yang berkaitan dengan kegiatan usahanya selama 10 tahun, g) Menyelenggarakan pembukuan mengenai pemasukan dan pengeluaran barang

commit to user

ke dan dari Kawasan Berikat serta pemindahan barang dalam Kawasan Berikat, h) Menyerahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan Kawasan Berikat apabila dilakukan audit oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Pengusaha di Kawasan Berikat dilarang memasukkan barang yang dilarang untuk impor dan mengekspor barang yang dilarang untuk di ekspor tanpa persetujuan Dirjen atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk.

Dalam hal Pengusaha di Kawasan Berikat tidak melaksanakan kewajibannya, maka izin sebagai Pengusaha di Kawasan Berikat akan dibekukan dan dicabut.

Fasilitas Perpajakan di Kawasan Berikat

a. Diberikan fasilitas penangguhan Bea Masuk, tidak dipungut PPN, PPnBM,

dan PPh Pasal 22 Impor atas:

1) Impor barang modal atau peralatan perkantoran yang semata-mata

dipakai oleh Pengusaha di Kawasan Berikat.

2) Impor barang modal dan peralatan pabrik yang berhubungan langsung

dengan kegiatan produksi PDKB dan semata-mata dipakai di PDKB.

3) Impor barang dan atau bahan untuk diolah di PDKB.

b. Diberikan fasilitas tidak dipungut PPN dan PPnBM atas:

1) Pemasukan Barang Kena Pajak (BKP) dari Tempat Lain di Dalam

Pabean (TLDDP) ke PDKB untuk diolah lebih lanjut.

2) Pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk

commit to user

3) Pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri

di TLDDP atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak.

4) Penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan subkontrak oleh PDKB

kepada PDKB asal.

5) Peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak

dari PDKB kepada perusahaan industri di PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.

Dokumen terkait