a. Pengertian hasil belajar
Mustaqim dan Wahib (2010:60) menyatakan beberapa pemahaman mengenai belajar sebagai berikut:
1. Belajar adalah usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi. Pandangan ini dikemukakan oleh aliran psikologi yang dipelopri oleh Thorndike, pengikut aliran koneksionisme.
2. Belajar adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai kondisi atau situasi di sekitar kita. Pandangan ini dikemukakan oleh para pengikut Behaviorisme.
3. Belajar merupakan usaha untuk membentuk refleks-refleks baru. Bagi aliran psycho refleksiologi, belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan dengan gerak refleks, yang dapat menimbulkan refleks-refleks buatan.
4. Belajar adalah usaha untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru. Pendapat ini dikemukakan oleh para ahli psikologi Gestalt.
5. Belajar adalah usaha untuk mengatasi ketegangan psikologis. Apabila orang ini mencapai tujuan, dan ternyata mendapatkan rintangan, hal ini menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu berkurang apabila rintangan itu diatasi. Usaha mengatasi rintangan inilah dinamakan belajar.
19
Belajar merupakan aktivitas yang sangat penting bagi perkembangan individu, belajar dapat dilaukan dimana saja kita berada dan kapanpun proses belajar dapat terjadi. Belajar tidak hanya terjadi secra formal saja, belajar bisa terjadi sejak anak lahir bukan sebelum lahir atau dikenal dengan pendidikan prenatal, dan akan terus berlanjut hingga ajal tiba (Sriyanti, 2013:14).
Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah memalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional (Susanto, 2013: 5) belajar itu sendiri adalah suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada insividu, hal ini seperti yang dikemukakan oleh Lester d. Crow dkk “belajar ialah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan dan sikap” (Roestiyah, 1986: 141).
Hasil belajar atau achivement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang (Sukmadinata, 2005: 102). Senada dengan hal tersebut, Syah (2008: 105) mengungkapkan bahwa hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar peserta didik (Priansa, 2017:79).
20
Hasil belajar atau learning outcome menurut Jenkins dan Uwin (Uno, 2010: 17) adalah pernyataan yang menunjukkan kegiatan belajarnya. Dengan demikian, hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh peserta didik berkat adanya usaha atau pikiran yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan, dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga tampak perubahan tingkah laku pada diri individu (Priansa, 2017: 81-82).
Berdasarkan uraian pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses perubahan dalam kepribadian manusia sebagai hasil dari pengalaman atau interaksi antara individu dan lingkungan. Perubahan tersebut disampaikan dalam buku peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku, seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan kemapuan-kemampuan yang lain. Perubahan perilaku inilah yang menjadi tolak ukur keberhasilan proses belajar yang dialami oleh peserta didik (priansa, 2017:54).
b. Ciri Belajar
Dari beberapa definisi belajar di atas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar menurut Purwanto (1990:85) adalah sebagai berikut:
1. Belajar merupakan perubahan tingkah laku, yang tidak hanya mengarah pada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah pada tingkh laku yang lebih buruk.
21
2. Belajar merupakan perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
3. Untuk disebut belajar, perubahan itu harus relatif mantap, merupakan akhir dari periode waktu yang sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari sesuatu periode yang berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, ataupun bertahun-tahun. Artinya kita harus mengesampingkan perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang pada umumnya hanya berlangsung sementara.
4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar berkaitan dengan berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap (Priansa, 2017:55-56).
c. Prinsip-prinsip Belajar
Belajar yang efektif dapat terjadi jika prinsip-prinsip belajar dapat diterapkan dengan baik. Prinsip-prinsip belajar dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
22
1. Hal apapun yang dipelajari oleh peserta didik harus dipelajari sendiri oleh peserta didik. Tidak seorang pun yang dapat memaksa peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar yang diinginkan.
2. Setiap peserta didik belajar berdasarkan tempo atau kecepatan masing-masing, yang berbeda dengan peserta didik lainnya. Tempo dan kecepatan belajar yang dimiliki oleh peserta didik itu disesuaikan dengan umur dan kemapuan pengembangan diri yang dimiliki oleh peserta didik.
3. Peserta didik akan belajar dengan lebih banyak apabila memperoleh pengetahuan (reinforcement) dalam setiap langkah dalam belajar sehingga ia termotivasi untuk mempelajarinya.
4. Penguasaan terhadap setiap langkah pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk belajar secara lebih berarti atau bermakna.
5. Apabila peserta didik diberi tanggung jawab untuk mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan dan keinginannya, ia akan termotivasi untuk belajar dan kemapuan mengingat yang dimilikinya akan lebih baik (Priansa, 2017:59).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat di bedakan menjadi tiga macam, yakni:
a. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa.
23
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan interaksi siswa dalam mengikuti pelajaran.
b) Aspek psikologis (bersifat rohaniah)
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah tingkat kecerdasan/intelegnsi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.
b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
a) Lingkungan sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa.
b) Lingkungan nonsosial
Faktor-faktor yang termaksuk lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yabg digunakan siswa.
24
c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran (Syah, 2010:145-156).
e. IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)
a. Pengertian IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)
Istilah ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan terjemahan dari apa yang ada di dunia pendidikan dasar dan lanjutan Amerika serikat dinamakan social studies. Dengan demikian sesuai isinya IPS bisa diartikan sebagai penelaahan masyarakat (Daljoeni, 1981:6).
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan pengalaman hidup manusia yang dialaminya sejak lahir. Hubungan manusia sejak lahir yang merupakan hubungan sosial itu terjadi sejak dalam kaluarga, walaupun hubungan tersebut terjadi secara sepihak. Tanpa adanya hubungan sosial seoarang bayi sulit mengalami perkembangan menjadi manusia dewasa yang sempurna (Rasimin, 2012:35).
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu seperti sejarah, ekonomi geografi, sosiologi, antropologi, dan disiplin ilmu sosial lainnya (Edi saepudin dan Andi Rusbandi, 2002:7).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa IPS adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia disuatu lingkungan tertentu.
25
Standar kompetensi dasar mata pelajaran IPS kelas II SD/MI semester 1 dalam struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan:
Tabel 2.1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS Kelas II Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Memahami peristiwa penting
dalam keluarga secara kronologis
1. Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya
2. Memanfaatkan dokumen dan benda berharga penting keluarga secara kronologis
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) f. Metode Peer Teaching
a. Pengertian peer teaching
Peer teaching adalah sebuah metode pembelajaran yang sedang menjadi tren sekarang. Peer teaching memang menjadi metode yang menjadikan siswa tidak bosan, sementara guru juga tidak suntuk. Peer teaching dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah tutor sebaya.
Menurut Kuswaya Wihardit dalam Aria Djalil (1997:3. 38) menuliskan bahwa “Pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang
26
sama”. Hisyam Zaini dalam Amin Suyitno (2004:24 dalam baliteacher.blogspot.com) menyatakan bahwa “Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa didalam mengajarkan materi kepada temannya”. Menurut Miller (1989 dalam Aria Djalil, 1997:3.34) berpendapat bahwa “setiap murid memerlukan bantuan dari murid lainnya, dan murud dapat belajar dari murid lainnya”. Sedangkan Jan Collingwood (1991:19 dalam Arial Djalil, 1997:3.34) juga berpendapat bahwa “anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya”.
Dari bebrapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tutor sebaya (peer teaching) adalah metode pembelajaran dengan pendekatan kooperatif dimana peserta didik ada yang berperan sebagai sebagai pengajar (biasanya yang lebih pandai dari siswa yang lain) dan peserta didik yang lain berperan sebagai pembelajar, baik pada usia yang sama atau pengajar berusia lebih tua dari pembelajar. Untuk membantu belajar dalam tingkat kelas yang sama, untuk mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna, karena penjelasan yang diberikan menggunakan bahasa yang lebih akrab.
27
b. Langkah-langkah metode peer teaching
1. Guru menjelaskan topik, tujuan pembelajaran, dan langkah/ kegiatan yang akan dilaui siswa.
2. Membagi siswa menjadi beberapa kelompok (tiap kelompok terdapat siswa yang pintar).
3. Di dalam kelompoknya siswa belajar dari dan dengan sesama teman lain dengan cara yang saling menguntungkan serta berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman masing-masing.
4. Setiap anggota kelompok dituntut memberikan tanggapan serta pendapat mereka sendiri yang nantinya akan disatukan dalam satu kesimpulan.
5. Setiap kelompok diminta untuk memberikan tanggapan
6. Perbedaan pendapat didiskusikan sampai permasalahan terpecahkan 7. Setiap masalah baru yang muncul dicatat oleh guru dan diberikan
solusinya.
8. Guru memberikan kesimpulan permasalahan dan pemecahannya, sehingga pemahaman setiap siswa merata.
c. Kelebihan dan kelemahan metode peer teaching 1) Kelebihan metode peer teaching
a) Adanya kemandirian para peserta didik karena di latih untuk mandiri oleh guru yang membimbingnya.
b) Peserta didik akan lebih dewasa dalam mebgikuti pembelajaran. c) Meningkatkan rasa tanggung jawab pada peserta didik.
28
d) Meningkatkan rasa setia kawan pada peserta didik karena selalu bekerja sama.
2) Kekurangan metode peer teaching
a) Siswa yang dipilih sebagai tutor dan berprestasi baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan siswa yang dibantu. b) Siswa yang dipilih sebagai tutor belum tentu bisa
menyampaikan materi dengan baik (Djamaroh dkk, 2006:35) g. Materi Dokumen dan Benda Berharga
(Sumber: Buku Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SD/MI Kelas II) 1. Dokumen dan Benda Berharga
Dokumen adalah surat penting atau surat berharga. Dokumen banyak jenisnya. Ada dokumen pribadi. Ada juga dokumen keluarga. Dokumen pribadi adalah surat berharga tentang identitas diri. Dokumen keluarga merupakan kumpulan surat berharga milik keluarga. Dokumen dokumen sebaiknya disimpan agar tidak rusak atau hilang. Dokumen bisa disimpan di map atau lemari. Dokumen dapat dilaminasi agar tidak mudah rusak.
Ayo, pelajari bersama contoh dokumen pribadi 2. Dokumen pribadi
a. Akta kelahiran
Setiap anak memiliki akta kelahiran. Akta kelahiran merupakan bukti kelahiran seseorang. Akta kelahiran berisi nama,
29
hari kelhiran, dan nama orang tua. Selain itu, akta kelahiran juga berisi nama kota tempat akta itu dibuat.
Akta kelahiran dibuat di kantor catatan sipil. Akta kelahiran merupakan salah satu dokumen penting seseorang. Akta kelahiran harus dijaga agar tidak hilang.
b. Rapor
Hari ini, ada pembagian rapor di sekolah mita. Rapor berisi hasil penilaian hasil belajar. Rapor merupakan dokumen penting bagi seorang siswa. Rapor diberikan setiap akhir semester. Rapor harus diambil oleh orangtua atau wali siswa. Rapor mita diambil oleh ayah dan ibunya. Mita sangat bersemangat. Ia ingin mengetahui hasil belajarnya selama satu semester ini.
Mita mendapatkan nilai terbaik di kelas. Ia sangat senang. Mita memang selalu giat belajar. Orangtua mita sangat bangga kepada mita.
Ibu guru memberi ucapan selamat kepada mita. c. Kartu pelajar
Mita dan teman-temannya mengantre untuk difoto. Foto itu akan digunakan untuk membuat kartu pelajar. Mita dan teman-teman sangat senang karena akan memiliki kartu pelajar. Kartu pelajar adalah kartu identitas diri seorang siswa disebuah sekolah. Kartu pelajar berisi informasi pribadi seperti nama, jenis kelamin,
30
dan agama. Selain itu, kartu pelajar juga berisi alamat rumah dan tempat tanggal lahir.
Seluruh siswa wajib memiliki kartu pelajar jika kartu pelajar hilang, siswa harus melapor ke sekolah.
d. Ijazah
Mita mempunyai dokumen pribadi berupa ijazah. Mita mempunyai ijazah taman kanak-kanak ijazah dikenal juga dengan STTB, yaitu surat tanda tamat belajar, ijazah diperoleh seseorang saat lulus sekolah.
Ijazah merupakan dokumen pribadi yang berharga. Ijazah berguna untuk mengetahui kapan seseorang lulus sekolah. Ijazah juga diperlukan untuk melanjutkan pendiikan yang lebih tinggi, misalnya, ijazah TK diperlukan untuk melanjutkan ke sekolah dasar (SD). Ijazah SD digunakan untuk melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP).
e. piagam
disekolah bayu akan diadakan lomba melukis. Bayu akan mengikuti lomba tersebut. Bayu mempersiapakansemua peralatan melukis. Saat hari lomba melukis tiba, bayu mengikuti lomba dengn semangat. Bayu meraih juara pertama. Ia sangat senang. f. Kartu tanda penduduk (KTP)
Kartu pelajar mita sudah jadi. Sepulang sekolah ia menunjukkan kartu pelajar miliknya kepada ibu. Mita bertanya
31
kepada ibu, apakah ibu memiliki kartu pelajar. Ibu menjelaskan bahwa ibu sudah tidak memiliki kartu pelajar. Namun, ibu memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
KTP adalah kartu yang berisi identitas pribadi. Setiap orang yang telah berusia 17 tahun wajib memiliki KTP, KTP termasuk dokumen yang berharga.
g. Surat Izin Mengemudi
Setiap hari, ayah mengantar mita kesekolah. Ayah mengendarai sepeda motor. Ayah dan mita memakai helm. Ayah juga tidak lupa membawa SIM.
SIM merupakan dokumen penting bagi pengendara. Saat berusia 17 tahun, ayah mengikuti tes untuk mendapatkan SIM. SIM dikeluarkan oleh kantor samsat.
SIM bermacam-macam. Ada SIM A, SIM B, dan SIM C. SIM A untuk mengendara mobil.
SIM B untuk pengendara kendaraan berat, seperti BUS dan truk. SIM C untuk pengendara sepeda motor.
3. Dokumen keluarga
Dokumen keluarga merupakan kumpulan surat berharga milik keluarga. a. Kartu keluarga (KK)
Bayu menemani ibu ke kantor kelurahan. Mereka mengambil kartu keluarga (KK). Setiap keluarga harus memiliki KK. KK berguna untuk mengetahui jumlah keluarga. Dalam KK terdapat
32
informasi tanggal lahir, pekerjaan, dan anggota keluarga. Bayu melihat nama ayah tertulis paling atas dalam KK.kemudian nama ibu, nama bayu, lalu Lala. Dalam KK terdapat tanda tangan kepala keluarga dan kepala dinas kependudukan.
b. Surat tanda nomor kendaraan (STNK)
Bayu ingin membeli buku di toko buku. Ayah mengantar bayu ke toko buku. Ayah mengendarai sepeda motor. Setelah selesai, mereka menuju ketempat parkir. Ketika akan membayar parkir,ayah menunjukan STNK kepada petugas parkir. STNK merupakan tanda kepemilikan sebuah kendaraan bermotor.dalam STNK tercantum nama pemilik kendaraan dan nomor polisi kendaraan. Setiap pemilik kendaraan bermotor harus memiliki STNK. Kendaraan yang tidak memiliki STNK tidak dapat keluar dari area parkir.
4. Benda berharga
Benda berharga adalah benda-benda yang sangat penting bagi pemiliknya. Benda berharga dianggap penting bisa karena mahal harganya, sulit diperoleh, atau mempunyai kenangan. Benda yang mahal harganya misalnya perhiasan emas atau barang antik. Benda yang sulit diperoleh misalnya piala atau medali. Benda yang mempunyai kenangan misalnya foto pernikahan orangtua.
33
5. Merawat dokumen dan benda berharga a. Merawat dokumen
Dokumen dan benda berharga harus dijaga dan disimpan dengan baik. Ibu menyimpan semua dokumen keluarga dalam map. Map-map itu disimpan ibu dalam laci pertama di lemari. Laci kedua berisi fotocopy dokumen-dokumen tersebut. Ibu menyimpan dengan rapi. Saat memerlukan, ayah dan ibu mudah menemukannya.
Mita tidak ingin benda berhaga milik keluarganya rusak atau hilang. Mita menaruh buku-bukunya di rak buku. Buku-buku mita tidak ada yang rusak. Buku-buku mita mudah ditemukan saat diperlukan. Mita juga rajin merapikan rak bukunya. Mita memiliki banyak mainan. Mita selalu merapikan mainannya setelah bermain. Mita tidak ingin mainannya rusak atau hilang. Mita menyimpan mainanya di kotak maina. Ada beberapa dokumen yang disimpan di dompet. Ayah menyimpan KTP, SIM, dan STNK di dalam dompetnya. SIM dan STNK harus selau dibawa ayah saat mengendarai kendaraan bermotor. KTP juga diperlukan pada saat-saat tertentu. Misalnya untuk membeli tiket pesawat atau kereta api.
b. Merawat benda berharga
Ibu mempunyai benda berharga. Benda itu berupa perhiasan seperti kalung dan anting. Ibu menyimpannya dalam kotak perhiasan. Kotak perhiasan disimpan dalam lemari. Perhiasan aman dan tidak rusak. Ibu dan ayah memiliki foto pernikahan. Foto dimasukkan
34
dalam figuran agar tidak kotor dan tidak cepat rusak. Ibu dan ayah memasang foto pernikahan di dinding. Ibu juga menyimpan foto-foto masa kecil mita. Ibu menaruhnya dalam album foto agar tidak rusak atau hilang. Mita juga mempunyai benda berharga berupa piala. Mita memperoleh piala saat menjadi juara lomba menyanyi. Mita meletakkan pialanya dalam lemari kaca. Mita membersihkan pialanya sebulan sekali. Piala mita bersih dan terawat dengan baik.
B. Kajian Pustaka
Peneliti yang relevan adalah:
Penelitian yang dilakukan oleh Ari Retno Satriyanto (2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Ari Retno Satriyanto (2013) dengan judul Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya terhadap Peningkatan Prestasi Belajar IPA Pokok Bahasa Alat Indra Bagi Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Ulum Desa Jembrak KEC. Pabelan Kab. Semarang Tahun Ajaran 2013/2014. Dengan rumusan masalah apakah Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA materi Alat Indra Bagi Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Ulum Desa Jembrak. Penerapan metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar. Berdasarkah hasil pengamatan dan pembahasan yang diperoleh bahwa: dengan metode tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV Tarbiyatul Ulum Desa Jembrak, kec. Pabelan kab. Semarang. Hasil tes siswa sikulus I sebesar 46,7%, siklus II 66,7% dan siklus III sebesar 86,7%. Yang dibuktikan dengan adanya peningkatan
35
kemampuan siswa dari sebuah penerapan metode tutor sebaya yaitu siklus I sebesar 7 siswa, siklus II sebesar 10 siswa dan siklus III sebesar 13 siswa yang memenuhi KKM dengan nilai (70). Dengan metode pembelajaran ini telah mencapai ketuntasan kelas, terbukti siswa dapat mencapai KKM yang telah ditentukan >85% (86,7%).
Penelitian yang dilakukan oleh Ari Retno Satriyanto (2013) berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan penerapan metode peer teaching (tutor sebaya).
36 BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN