Anggota III : Drs. Kumalo Tarigan, M.A. (
1.5 Konsep Dan Landasan Teori
1.5.5 Landasan Teori
Teori dalam disiplin sejarah biasanya dinamakan “kerangka referensi” atau “skema pemikiran”. Dalam pengertian lebih luas teori adalah suatu perangkat kaidah yang memandu sejarawan dalam penelitiannya, dalam menyusun bahan-bahan (data) yang diperolehnya dari analisis sumber, dan juga dalam
mengevaluasi hasil penemuannya (Alfian, dalam Basis, Oktober 1992:362).
Untuk memandu dalam pendekatan sejarah penulis mengacu pada
Panggabean (1994:30-39) musik populer Batak Toba dapat dibuat
penggolongannya kepada empat masa, yaitu: (a) tradisi, (b) transisi, (c) modernisasi, dan (d) konstilasi. Untuk melihat perkembangan trio pada musik populer Batak Toba pada masa modernisasi menurut penulis perlu membagi ke dalam dua sub judul (1) keberadaan vokal grup dan grup band pada musik populer Batak Toba (2) sejarah perkembangan trio pada musik populer Batak Toba. Kemudian pada sejarah perkembangan trio pada musik populer Batak Toba menurut penulis perlu membagi kedalam empat masa (1) Masa Perkembangan (1945-1950), (2) Masa Vakum (1950-1960), (3) Masa Hidup Kembali (1960-sekarang), (4) Masa Munculnya Trio Perempuan, menurut penulis ini penting karena merupakan masa munculnya trio. Dan mengkombinasikannya dengan wawancara dengan informan yang sudah ditentukan telebih dahulu.
Dalam membahas fungsi, penulis berpedoman pada teori yang
dikemukakan oleh Merriam87
87
Ibid., hal., 219-226.
yang membagi fungsi musik kedalam sepuluh fungsi, yaitu: (1) Fungsi pengungkapan emosional; (2) Fungsi penghayatan estetis; (3) Fungsi hiburan; (4) Fungsi komunikasi; (5) Fungsi perlambangan; (6)
Fungsi reaksi jasmani; (7) Fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial; (8) Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara agama; (9) Fungsi kesinambungan kebudayaan; dan (10) Fungsi pengintegrasian masyarakat.
Teori fungsi didasarkan kepada teori belajar (learning theory) dalam antropologi. Proses belajar adalah ulangan-ulangan dari reaksi-reaksi organisme terhadap gejala-gejala dari luar dirinya sedemikian rupa, sehingga salah satu kebutuhan nalurinya dapat dipuaskan. Teori ini sering juga disebut teori S-D-R (stimulus-drive-reaction). Teori ini pada prinsipnya menyatakan bahwa segala aktivitas kebudayaan sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dan kebutuhan-kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan kehidupannya misalnya: musik timbul karena pada mulanya manusia hendak memuaskan kebutuhan nalurinya akan keindahan. Dalam konteks seni trio pada musik populer Batak Toba, seni ini muncul karena berbagai kebutuhan dalam budaya Batak Toba.
Di dalam teori antropologi, ada dua aliran fungsionalisme, yaitu aliran Radcliffe-Brown88
88
Radcliffe-Brown, A.R., 1952. Structure and Function in Primitive Society. Glencoe: Free Press, h. 181.
yang mengemukakan bahwa fungsi berkaitan dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus sedangkan individu-individu dapat berganti setiap waktu. Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan dari suatu bagian aktivitas terhadap aktivitas secara keseluruhan di dalam sistem sosial masyarakatnya, untuk mencapai tingkat
harmoni atau konsistensi internal. Dan aliran Malinowski,89
Soedarsono
yang mengemukakan fungsi timbul karena kebutuhan biologis manusia.
90
Membahas struktur musik dilihat dari kualitas dari karakter bunyi musikal sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh cara penggunaan, pemanfaatan serta pengolahan elemen-elemen musik. Dalam hal ini, penulis juga akan memperhatikan struktur musik yang ditawarkan oleh Wiliam P. Malm,
yang melihat fungsi seni terutama dari hubungan praktis dan integratifnya, mereduksinya menjadi tiga fungsi utama, yaitu: (1) untuk kepentingan sosial atau sarana upacara; (2) sebagai ungkapan perasaan pribadi yang dapat menghibur diri; dan (3) sebagai penyajian estetis.
Untuk menganalisis fungsi trio pada musik populer Batak Toba, penulis menyesuaikan/mengkombinasikan dengan berpedoman pada beberapa pendapat ahli di atas.
91
89
Malinowski, 1987. Teori Fungsional dan Struktural. dalam Teori Antroplologi.
90
Soedarsono, 1995. Pendidikan Seni dalam Kaitannya dengan Kepariwisataan.
91
William P. Malm, 1977. Music Cultural of the Pacific, Near East and Asia. New Jersey: Prentice Hall Englewood Cliffs, h. 15.
yang diterjemahkan oleh Rizaldi Siagian yang mengatakan bahwa beberapa bagian penting yang harus diperhatikan dalam menganalisa melodi adalah: (1) Scale (Tangga nada); (2) Pitch center (Nada pusat), reciting tone (nada singgahan yang dianggap penting); (3) Range (Wilayah nada); (4) Jumlah nada-nada (Frekuensi pemakaian nada); (5) Penggunaan interval; (6) Pola kadensa; (7) Formula melodi; (8) Melodic contour (Grafik kantur melodi)
Untuk membicarakan pendeskripsian dari ritem, analisis bentuk, frase dan motif-motif, Netll92
Untuk mendiskripsikan bentuk, harus berhadapan dengan dua masalah pokok, yakni: (1) Mengidentifikasi unsur-unsur musik yang dijadikan dasar yang merupakan tema dari sebuah komposisi; (2) Mengidentifikasikan sambungan-sambungan yang menunjukkan bagian-bagian, frase-frase dan motif-motif di dalam sebuah komposisi.
menyarankan bahwa pendeskripsian ritem sebaiknya dimulai dengan membuat daftar harga-harga not yang dipakai dalam sebuah komposisi dan menerangkan fungsi dan konteks dari masing-masing nada. Selanjutnya pola ritem yang sering di ulang sebaiknya dicatat.
93
Untuk mendukung pembahasan dari aspek musik di atas diperlukan suatu transkripsi. Pengertian dari transkripsi oleh Bruno Netll
94
adalah proses
menotasikan bunyi, membuat bunyi menjadi symbol visual. Dalam hal notasi
musik penulis mengacu pada tulisan Charles Seeger dalam Netll,95
92
Bruno Netll. Theory and Method in Ethnomusicology. New York: The Free Press, h. 148-150. 93 Ibid., hal. 148-150. 94 Ibid., hal. 99. 95 Ibid., hal. 24-34. yang mengemukakan bahwa ada dua jenis notasi yang dibedakan menurut tujuan notasi tersebut: pertama adalah notasi Preskriptif, yaitu notasi yang bertujuan untuk seorang penyaji (bagaimana ia harus menyajikan sebuah komposisi musik), selanjutnya dikatakan bahwa notasi ini merupakan suatu alat untuk membantu mengingat. Kedua adalah notasi Deskriptif, yaitu notasi yang bertujuan untuk menyampaikan kepada pembaca ciri-ciri dan detail-detail komposisi musik yang belum diketahui oleh pembaca.
Dalam kerja analisis, langkah pertama yang dikerjakan ialah mengubah bunyi musik ke dalam lambang visual melalui sebuah proses kerja yang disebut transkripsi. Transkripsi merupakan proses menotasikan bunyi dari yang kedengaran secara aural menjadi visual dalam bentuk simbol-simbol bunyi. Simbol bunyi yang terlihat tersebut dinamakan notasi musik, yang pada sistem notasi Barat, secara garis besar dibagi dalam dua jenis, yaitu notasi balok dan notasi angka.
Dalam penelitian ini, notasi lagu-lagu trio pada musik populer Batak Toba menggunakan notasi balok, dengan menggunakan garis paranada dalam kunci trebel atau kunci G. Penggunaan notasi balok ini dikarenakan: (a) lebih dikenal secara umum dalam penulisan musik baik secara nasional maupun internasional, (b) lagu-lagu trio pada musik populer Batak Toba umumnya diciptakan dengan menggunakan notasi balok atau angka seperti yang ada dalam kebudayaan Barat, (c) notasi balok Barat ini sesuai digunakan untuk musik-musik diatonik maupun mikrotonal.
Untuk mentranskripsikan lagu trio pada musik populer Batak Toba maka, berbagai langkah peneliti lakukan sebagai berikut. (a) mengupayakan pendekatan tonalitas yang paling sesuai dengan lagu asli menggunakan alat tape, VCD, alat musik gitar dan muse score yang dipandu tutorial muse score (b) mendengarkan nada secara seksama, agar dapat membedakan antara bunyi suara, alat musik dan lainnya, (c) nada yang didengar di pindahkan ke dalam bentuk tulisan, dengan menggunakan garis paranada untuk notasi balok, (d) memperlambat kecepatan tape dua kali dari kecepatan normal, kemudian menggunakan kecepatan normal,
(e) hasil transkripsi di dengar ulang lalu memeriksa kembali, lalu diteruskan pada nada lainnya.
Sebelum menganalisis lagu trio pada musik populer Batak Toba, penulis terlebih dahulu memaparkan beberapa penjelasan tentang lagu yang akan dianalisis. Kemudian menggunakan transkripsi deskriptif memakai symbol konvensional Barat (notasi balok). Adapun lagu-lagu trio pada musik populer Batak Toba yang ditranskripsi adalah lagu-lagu yang menurut hemat penulis dapat mewakili pekembangan gaya-gaya tertentu dalam perkembangan lagu trio pada musik populer Batak Toba secara umum. Teori musik ini diharapkan dapat menuntun dalam menganalisis data-data dalam tesis ini.
1.5.5.1 Teori etnomusikologi
Alan P. Marriam dalam buku the antropologi of music menggunakan teori
Etnomusikologi yang menyatakan bahwa music as sound, Music as knowledge,
music behavior.
Selanjutnya Merriam berpendapat bahwa musik adalah bunyi, sebagai suatu ekspresi. Apabila ingin memahami musik secara lebih dalam, maka di perlukan usaha menganalisa bagaimana pengelolaan elemen-elemen bunyi musikal serta bagaimana interaksinya sehingga menghasilkan suatu atmosfir khusus Music as knowledge.
Musik merupakan suatu pengetahuan yang memiliki system dan metodenya sendiri, baik musik maupun bermusik merupakan perilaku
(behaviour). Musik merupakan perilaku seseorang atau masyarakat.96
Perihal konseptual, proses pembentukan ide, (ideation), atau perilaku cultural, menyangkut konsep-konsep perihal musik yang harus di terjemahkan kedalam perilaku fisik guna memproduksi bunyi. Konsep Merriam
Bahwa musik tidak hanya terdiri atas bunyi melainkan perilaku manusia yang prakondisi untuk memproduksi bunyi. Musik dapat eksis karena kendali dan perilaku manusia, dan beberapa jenis perilaku terlibat di dalamnya, salah satu di antaranya adalah “perilaku fisik” yang ditunjukkan oleh sikap dan postur tubuh serta penggunaan otot-otot dalam memainkan instrument kemudian menegangkan pita suara dan otot-otot diafragma waktu menyanyi.
97
Pada bagian lain, Merriam
menunjukkan bahwa ada jiwa dan nilai yang mendasari musik, yang artinya musik tersebut juga tercermin dalam perilaku dari komunitas dan budayanya. Dalam hal ini tercermin dalam perilaku penciptaan lagu-lagu trio. Oleh sebab itu, berarti system yang di terapkan atau yang terjadi dalam musik tersebut di pengaruhi oleh perilaku serta corak hidup dari penciptanya.
98
96
William P. Malm, 1964. The Antropology Of Musik. Evaston: Northwestern University Press, h. 20-23.
97
Ibid., hal., 5.
98
Ibid., hal., 7.
juga menjelaskan bahwa etnomusikologi merupakan studi musik dalam kebudayaan, ia juga mengemukakan pendapat Mantle Hood yang menyatakan bahwa etnomusikologi adalah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai tujuan penyelidikan seni musik fenomena fisik, psikologis, estetik dan cultural.
Shin Nakagawa menjelaskan teks artinya kejadian akustik, sedangkan konteks adalah suasana, yaitu keadaan yang dibentuk oleh masyarakat pendukung musik tersebut. Kegiatan itu baru disebut kegiatan etnomusikologi ketika kita menghubungkannya dengan unsur kebudayaan lain atau menghubungkan teks dengan konteksnya. Kita harus menganalisis teks dalam rangka menganalisis konteks.
Mantle Hood juga mengemukakan bahwa studi ini diarahkan untuk mengerti tentang musik yang di pelajari dari segi struktur musik dan juga untuk memahami musik dalam konteks masyarakatnya. Teori ini kiranya cocok di pakai dan dikolaborasikan dalam teori musik dalam rangka menemukan struktur musik adalah bunyi. Teori ini perlu juga untuk mengetahui fungsi dalam hubungan musik dengan perilaku manusia termasuk di dalamnya soal memahami makna, peran serta kegunaan.
1.5.5.2 Pengertian teks
Dihubungkan dengan syair atau teks adalah kata-kata yang asli dibuat pengarang lagu.99
99
Badudu Zain, 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, h. 1455.
Syair adalah teks atau kata-kata lagu, dengan kata lain suatu komposisi puisi yang sering dilagukan. Syair yang memperkuat komposisi musik, dapat dikatakan tanpa syair akan sulit mengetahui makna atau tujuan dari sebuah komposisi musik, karena syair merupakan inti dari sebuah lagu. Sigmund Freud
dalam Migdolf mengemukakan bahwa syair lagu adalah kata yang keluar dari hati dan keluar dari mulut serta diiringi oleh lidah.100
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Lexi. J. Moeloeng
Menurut penulis syair atau teks adalah rangkaian kata-kata yang memperkuat sebuah komposisi musik dan juga merupakan sarana komunikasi si pencipta lagu, melalui syair maka dapat diketahui makna, pesan dan tujuan dari sebuah lagu atau banyak hal yang bisa diungkapkan dan di komunikasikan lewat syair atau teks.
Secara umum sangat banyak teks lagu trio pada musik populer Batak Toba. Namun berdasarkan temanya biasanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) tentang kasih sayang seorang ibu (b) tema percintaan, (c) tema perjuangan, (d) tema gambaran keindahan alam, (e) tema religi, dan lainnya. (Tambunan 1982:89) mengemukakan: Lagu-lagu ciptaan tersebut memiliki teks-teks yang akrab dengan keindahan dan kecintaan kepada alam tanah Batak, lagu-lagu perjuangan, kerinduan kepada kampung halaman, kerinduan kepada keluarga terdekat, pergaulan hidup, kata-kata nasehat, filosofi, ratapan (andung-andung), sejarah marga, ungkapan kegembiraan, percintaan, keluh kesah dan lain-lain. Dalam sub bab ini penulis hanya membahas berdasarkan tema dalam beberapa klasifikasi teks lagu trio pada musik populer Batak Toba.