TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Pariwisata
Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta memstimulasi sektor-sektor produktif lainya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri ( Nyoman, 2008 : 32)
Pariwisata adalah suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya. Dorongan kepergianya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, keehatan maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun ingin belajar (Suwantoro, 2004 : 03)
Pariwisata adalah salah satu dari industri baru yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup, dan dalam hal mengaktifkan sektor produksi lain didalam negara penerima wisatawan (Utama, 2012: 107)
Menurut undang undang Nomor 10 Tahun 2009, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dah pemerintah daerah.
a. Wisatawan
Kata wisatawan (tourist) merujuk kepada orang. Secara umum wisatawan menjadi subset atau bagian dari traveler atau visitor. Untuk dapat disebut sebagai wisatawan, seseorang haruslah seorang traveler atau seorang visitor, seorang visitor adalah seorang traveler.
“a tourist can be defined, in behavioral terms, as a present traveling away from their normal residential region for a temporary period, staying away at least one night but not permanently, to the extent that the behavior involves a search for leisure experiences from interection from feature or environmental characteristic of the places they choice to visit (leiper dalam Pitana, 2009 : 35)
“Tourist is a visitor who stay in the country visited for at least one night: for example, a visitor on a two-week vocation”(Mc Intosh etal dalam Pitana, 2009 : 35)
Menurut ahli pendapat Theobald dalam Pitana (2009 :35) mengemukakan beberapa element yang dipakai sebagai patokan untuk menentukan apakah seseorang dapat dikatakan sebagai wisatawan atau tidak menurut standar international, yaitu sebagai berikut :
1) Tujuan perjalanan (purposive of trip). Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan selain untuk tujuan bisnis (leisure travelling), walau ada kalanya sebuah perjalanan bisnis juga dapat diikuti oleh kegiatan wisata (non-bisnis)
2) Jarak perjalanan dari tempat asal (distance traveled). Untuk tujuan statistic, ketika memperhitungkan jarak perjalanan wisata. Umumnya jarak yang dipakai bervariasi antara 0-160 km (0-100 mil) tergantung ketentuan masing-msing negara. Oleh
karenanya perjalanan yang dilakukan oleh seseorang, walu bukan untuk bisnis, tetapi bila kurang dari ketentuan yang ditetapkan, maka orang tersebut tidak akan dihitung sebagai wisaawan.
3) Lamanya perjalanan (duration of trip). Umumnya definisi wisatawan mencakup perjalanan palinf tidak satu malam (over night) ditempat yang menjadi tujuan perjalanan. Namun ada kalanya persyaratan ini dikesmpingkan pada kasus perjalanan wisata yang memang didesain kurang dari 24 jam tetapi nyata-nyata berdampak pada kegiatan bisnis pariwisata, seperti restaurant, atraksi wisata, hotel dan sebagainya, didaerah tujuan wisata.
Berdasarkan pengertian diatas maka wisatawan dapat disimpulkan bahwa pengertian wisatawan adalah seseorang yang melakukan perjalanan untuk tujuan berwisata.
b. Produk Pariwisata
Wisatawan yang berada di daerah tujuan wisata (destinasi wisata), mereka memerlukan pelayanan akomodasi, dan transportasi untuk menjelajahi destinasi tersebut, makanan, toko souvenir, dan sesuatu yang akan dilakukan dan yang akan dilihatnya. Singkatnya mereka akan mengkonsumsi produk. Istilah produk mencakup segala sesuatu yang dibeli atau dikonsumsi oleh orang yang disebut pengunjung atau wisatawan.
Menurut UN-WTO dalam Nyoman (2008 : 32) produk pariwisata didefinisikan sebagai: “any good or service purchased by, or consumed by, a person defined as a visitor
“The combination of all the service element which a tourist consumed from leaving home to returning” (Richardson dan Fluker, dalam Nyoman, 2008 : 32)
Menurut Yoeti (2005 : 3) Produk industri pariwisata adalah semua bentuk pelayanan yang dinikmati wisatawan, semenjak ia meninggalkan tempat dimana ia berdiam, selama didaerah tujuan wisata yang dikunjungi, hingga ia kembali pulang ketempat asalnya semula.
Bersarkan pengertian para ahli dapat disimpulkan bahwa produk paiwisata adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi oleh wisatawan misal seperti akomodasi, aksesbilitas, dan lain-lain.
Menurut Medlik dalam Utama (2012 : 94) ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam penawaran produk pariwisata sebagai sebuah totalita produk, yakni :
1) Atractions (daya tarik), tersedianya daya tarik pada daerah tujuan wisata atau destinasi untuk mearik wisatawan. Dapat berupa daya tarik alam maupun masyarakat dan budayanya. 2) Accesabillity (trasportasi) tersedianya alat alat transportasi agar
wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah mencapai tujuan tempat wisata.
3) Amenities (fasilitas) tersedianya fasilita utama maupun pendukung pada sebuah destinasi berupa akomodasi,restoran, fasilitas penukaran valas, pusat oleh-oleh, dan fasilitas
pendukung lainya yang berhubungan dengan aktivitas wisatawan pada sebuah destinasi.
4) Ancilarry (Kelembagaan). Adanya lembaga penyelengggara perjalanan wisatawan sehingga kegiatan wisata dapat berlangsung. Aspek ini dapat berupa pemandu wisata, biro perjalanan wisata, pemesanan tiket, dan ketersediaan informasi tentang destinasi.
c. Ekowisata
1) Pengertian Ekowisata
Ekowiata merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumber daya pariwisata (Danamik, 2006 : 37).
Menurut masyarakat international mengartikan ekowisata sebagai perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan cara mengonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan mayarakat lokal (responsible travel to nature areas that conserves the environment and improve the well-being of local people) (dalam Danamik, 2006 : 37)
Ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangakan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan (Nugroho, 2011 : 17)
Sementara itu menurut United Nations Comission on Sustainable Development (dalam Nugroho 2011 : 16) menyatakan ekowisata adalah :
a) Menjamin partisipasi yang setara, efektif dan aktif dari seluruh stakeholder,
b) Menjamin partisipasi penduduk lokal menyatakan yes atau
no dalam kegiatan pengembangan masyarakat, lahan dan wilayah,
c) Mengangkat mekanisme penduduk lokal dalam hal kontrol dan pemeliharaan sumber daya.
Menurut Muhammad dan Sumidi ( 2014 : 33-34) ekowisata adalah kegiatan yang bertanggung jawab dengan prinsip sebagai berikut :
a) Secara aktif menyumbang kegiatan konservasi alam.
b) Melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan, mengembangkan dan pengelolaan wisata serta memberikan sumbangan positif terhadap kesejahteraan mereka.
c) Dilakukan dalam bentuk wisata independen atau di organisasi dalam bentuk kelompok kecil.
2) Prinsip Ekowisata
Menurut The International Ecotourism Society dalam Danamik (2006: 39-40) prinsip-prinsip ekowisata adalah sebagai berikut :
a) Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau pencemaran lingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan wisata
b) Membangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan dan budaya di destinasi wisata, baik pada diri wisatawan, masyarakat lokal maupun pelaku wisata lainya
c) Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi wisatawan maupun masyarakat lokal melalui kontak budaya
yang lebih intensif dan kerjasama dalam pemeliharaan atau konservasi Obyek Daya Tarik Wisata
d) Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi keperluan konservasi melaui kontribusi atau pengeluaran extra wisatawan
e) Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal
f) Meningkatkan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan dan politik di daerah tujuan wisata
g) Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja, dalam arti memberikan kebebasan kepada wisatawan dan masyarakat lokal untuk menikmati atraksi wisata sebagai wujud hak azasi, serta tunduk pada aturan main yang adil dan disepakati bersama dalam pelaksanaan transaksi-transaksi wisata.
d. Pengembangan dan perencanaan Ekowisata
Menurut Nugroho (2011 : 17-18) pengembangan jasa ekowisata harus memiliki manajemen yang profesional diantaranya adalah : 1) Pemasaran yang spesifik menuju tujuan wisata. Strategi
pemasaran menempati posisi penting untuk menjangkau dan menarik pengunjung seluruh dunia. Mereka diharapkan menjadi sumber informasi bagi pengunjung lainya agar dapat membantu konservasi lingkungan dan pengembangan masyarakat lokal. 2) Ketrampilan dan layanan kepada pengunjung secara intensif.
lingkungan atau wilayah yang baru. Kepuasan pengunjung akan tercapai melalui ragam layanan yang sabar dan efektif
3) Keterlibatan masyarakat lokal dalam memandu dan menerjemahkan obyek wisata. Penduduk lokal akan memiliki insentif konservasi lingkungan apabila ia dilibatkan dalam jasa-jasa ekowisata, pemberian informasi, memperoleh manfaat yang pantas
4) Kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi aset lingkungan dan budaya. Kebijakan penataan ruang, pemberdayaan kemasyarakatan atau dikombinasi dengan instrumen ekonomi, akan mencegah mekanisme pasar beroperasi di wilayah tujuan ekowisata
5) Pengembangan kemampuan penduduk lokal. Penduduk lokal dan lingkungannya adalah kesatuan utuh wilayah ekowisata. Mereka perlu dikembangkan potensi dan partisipasinya untuk memperoleh keuntungan agar tercipta insentif dan motivasinya untuk ikut mengkonservasi lingkunganya.
Perencanaan manajemen ekowisata dapat dilakukan dengan deskripsi panduan sebagai berikut (Nugroho, 2011 : 48-51) :
1) Faktor ekologi dan sosial merupakan dasar tata nilai pengelolaan. Implikasinya dua faktor terebut dapat diposisikan sebagai sumber daya kritikal pengelolaan. Konsekuensinya pihak manajemen dapat menggunakan sebagai pusat perhatian pengelolaan, sekaligus menjadi jalan keluar atau jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan seperti: (i) bagaimana fungsi pengadilan, (ii) apakah pelaksanaan manegemen sudah menyesuaikan dengan yang seharusnya, dan (iii) sejauh mana resiko atau ancaman akan terjadi. Faktor sosial dan ekologi hendaknya senantiasa dalam keadaan (study state) yang optimal untuk mendukung pengelolaan jasa ekowisata adalah sejalan dengan upaya pemeliharaan faktor sosial dan lingkungan.
2) Organisasi manajemen ditujukan untuk melindungi tata nilai asli saat area dikembangkan. Sarana akomodasi, SDM, produk jasa, kepemimpinan, produk dan kemasan, seyogyanya secara hati-hati dikembangkan dengan mengadopsi tata nilai asli serta melibatkan penduduk lokal.
3) Produk atau jasa ekowisata sendiri memiliki karakteristik lokal dan khas dan berbeda dengan jasa pariwisata pada umumnya. Seluruh jasa layanan dalam ekowisata dilandasi oleh filosofi lokal dalam kaidah-kaidah konservasi
4) Karakteristik layanan jasa ekowisata terletak pada kualitas, pengendalian pada manfaat (light quality, low volume dan high value added). Hal ini memerlukan investasi yang tinggi dalam arti ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam perencanaan manejemen, return investasi tersebut menjadi unsur penting untuk keberlanjutan pengelolaan, tentu saja diharapkan dari partisipasi pengunjung.
5) Perencanaan manajemen hendaknya berada dalam konteks pengembangan wilayah. Lebih tinggi dari pengelolaan tingkat
ekosistem adalah wilayah pertanian dan perkotaan. Perencanaan manajemen perlu memanfaatkan potensi dan manfaat wilayah-wilayah tersebut secara optimal untuk mendukung manajemen dan pemerkaya ragam layanan.
6) Perencanaan manajemen ekowisata pada dasarnya adalah berjangka panjang. Hal ini perlu dibangun dalam kerangka sistem pengelolaan yang terintegrasi dan bertanggung jawab. Sistem penyajian peran , tanggung jawab dan perolehan atau distribusi manfaat masing-masing stakeholder.
Menurut Muhammad dan Sumidi (2014 : 51-52) ada beberapa guideline atau arahan yang didasarkan sebagai pedoman bagi standarisasi hubungan isu-isu setempat yang spesifik khusunya bangunan dan model design fisik lainya serta ciri-ciri ekologis kawasan. Beberapa pedoman tersebut antara lain :
1) Rancangan bangunan harus menggunakan teknik-teknik konstruksi bahan-bahan dan gambaran kebudayaan setempat, sejauh pendekatan tidak mengganggu kehidupan dan ekosistem didalam kawasan tersebut.
2) Bentuk design fisik harus selaras dengan lingkungan alam sekitar
3) Perancangan design fisik berupa bangunan harus sesuai dengan standar-standar jangka panjang (terutama dengan material yang dipegunakan).
4) Sedapat mungkin menggunakan teknik-teknik yang berteknik sederhana.
5) Pemeliharaan ekosistem harus merupakan prioritas diatas segalanya
6) Produk rancangan sedapat mungkin bertema dan dramatik 7) Sarana-sarana sedapat mungkin harus mementingkan
bahan-bahan setempat termasuk para pengrajin.
8) Pertimbangan terhadap struktur bangunan tahan gempa
9) Spesifikasi-spesifikasi kontruksi harus mencerminkan kepentingan lingkungan dalam hubunganya dengan menggunakan bahan-bahan kayu dan bahan-bahan lainya untuk kontruksi
10) Penggunaan produk-produk energi intensif dan bahan-bahan berbahaya harus dihindari
11) Rencanakan pertumbuhan dari sarana-sarana fisik di masa yang akan datang untuk menekan serendah mungkin perombakan-perombakan dengan merobohkan bangunan yang akan menimbulkan limbah
12) Elemen-elemen lanskap harus ditempatkan sedemikian rupa untuk mendorong pertukaran udara alami dari sarana-sarana dan menghindari konsumsi energi yang tidak perlu
13) Saluran air dan jalan air harus diletakan sedemikian rupa untuk menekan sekecil mungkin kerusakan – kerusakan tanah didekan jalan –jalan setapak
14) Penyusunan design fisik untuk pekerjaan arsitektur harus konsisten dengan filosoofi lingkungan atau alasan ilmiah dan konstektual.
Gunung Api Purba Alam Kebudayaan SDM Aksesbilitas Amenitas Potensi Ekowisata Konsep Pengembangan Ekowisata Pariwisata 2. Kerangka Pemikiran
Untuk mempermudah penyajian data dan memahami isi dari penelitian ini maka berikut ini merupakan kerangka berfikir yang disusun berdasarkan tujuan dari penulis.
BAB III
METODE PENELITIAN