Disusun oleh
Sulis Purwanto
NIM : 511100097
JURUSAN HOSPITALITY
SEKOLAH TINGGI PARIWISATA AMPTA
YOGYAKARTA
2015
KAJIAN POTENSI DAN MODEL PENGEMBANGAN EKOWISATA DI
GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN
Disusun oleh Sulis Purwanto NIM : 511100097 Jurusan : Hospitaly
Telah Disetuhui Oleh
Pembimbing I
(Drs. Budi Hermawan, MM)
Pembimbing II
(Mona Erytrea Nur Islami, SIP, MA)
Menngetahui
Ketua Jurusan Hospitality
(Arif Dwi Saputra, S.S., M.par.) NIDN : 0525047001
GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN
Disusun oleh Sulis Purwanto NIM : 511100097 Jurusan : Hospitaly
Telah dipertahankan didepan penguji : Rabu, 07 Oktober 2015
Dan Dinyatakan : LULUS
Penguji : Nikasius Jonet,S.Sos,.M.Si
Pembimbing I : Drs. Budi Hermawan, MM
Pembimbing II : Mona Erytrea Nur Islami, SIP, MA
Mengetahui
Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
(Drs. H. Santosa, MM) NIDN : 0519045901
Nama : Sulis Purwanto
NIM : 511100097
Program Study : S1 Hospitality
Judul Tugas Akhir : KAJIAN POTENSI DAN MODEL PENGEMBANGAN
EKOWISATA DI GUNUNG API PURBA
NGLANGGERAN
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.
sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau
diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata
penulisan karya ilmiah yang telah lazim.
Yogyakarta, 07 Oktober 2015
Penulis,
Sulis Purwanto 511100097
“The experience is the best teacher”
(Pengalaman adalah Guru yang terbaik)
persembahkan kepada :
1. Orang Tua merupakan sosok terpenting dalam hidup, ada saya karena
adanya mereka yang tidak pernah lelah mendidik saya semasa hidup. saya
mengucap terimaksih kepada ibunda dan ayahanda tercinta yang selalu
mendoakan disetiap langkah saya sehingga saya dapat menyelesaikan
skripsi ini.
2. Kakak yang telah memberikan bimbingan dan motivasi untuk
menyelesaikan skripsi ini
3. adik yang selalu mendukung dan menyayangiku
4. kapala Ampta yang telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman
selama di bangku kuliah.
5. Ita Diyah Retnosari yang tidak henti-hentinya menasehati saya untuk
fokus pada skripsi.
6. Teman-teman yang telah memberi semangat dan motivasi 7. pihak lain yang mendukung penyelesaian sripsi.
karunianya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat serta
salam senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada
keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada umatnya hingga akhir zaman.
Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar sarjana pada Program Hospitality Sekolah Tinggi Pariwisata Ampta. Judul
yang penulis ajukan adalah” Kajian Potensi dan Model Pengembangan Ekowisata
di Gunung Api Purba Nglanggeran”.
Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan
ini penulis dengan senang hati menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat
1. Nikasius Jonet,S.Sos,.M.Si sebagai penguji utama yang telah meluangkan
waktu dan telah memberikan masukan terhadap penulis.
2. Drs. Budi Hermawan, MM, Sebagai Pembimbing I yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun proposal dan
penyusunan skripsi.
3. Mona Erytrea Nur Islami, SIP, MA. Sebagai dosen pembimbing II yang
telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan proposal
dan penyusunan skripsi.
4. Arif Dwi Saputra, S.S., M.par. sebagai Ketua Jurusan Prodi Hospitality
Sekolah Tinggi Pariwisata Ampta Yogyakarta yang telah membantu dan
mengarahkan penulis dalam penyusunan Skripsi.
6. Bapak Drs. Santoso, MM selaku Ketua STP AMPTA Yogyakarta yang
telah membantu penulis dalam hal perijinan.
7. Masyarakat Desa Nglanggeran yang telah membantu dalam penyelesaian
skripsi.
Penulis menyadari proposal yang disusun ini masih jauh dari
sempurna, sehingga masukan, arahan, dampingan, kritik dan saran sangat
saya butuhkan demi kelancaran dalam penuliisan skripsi ini.
Yogyakarta, 07 Oktober 2015
PERNYATAAN...iv
HALAMAN MOTTO...v
HALAMAN PERSEMBAHAN...vi
KATA PENGANTAR...vii
DAFTAR ISI...ix
DAFTAR GAMBAR...xii
DAFTAR TABEL...xiii
ABSTRAK...xiv
BAB I PENDAHULUIAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...5
C. Batasan Masalah...5
D. Tujuan Masalah...5
E. Manfaat Penelitian...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teorisasi...7
1. Pariwisata...7
a) Wisatawan...8
b) Produk Pariwisata...10
c) Ekowisata...11
d) Pengembangan dan Perencanaan Ekowisata...14
2. Kerangka Pemikiran...20
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian...21
E. Uji Keabsahan Data...23
F. Teknik Analisis Data...24
BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian...27
1. Konsisi Geografis...27
2. Profil Sosio-Demografis Masyarakat...28
3. Desa Wisata Nglanggeran...30
B. Potensi Ekowisata Gunung Api Purba...37
1. Potensi Wisata Alam...37
2. Potensi Wisata Budaya...41
3. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)...46
4. Amenitas...49
5. Aksesbilitas...50
C. Model Pengembangan Ekowisata Gunung Api Purba...51
1. Analisis Faktor IFAS...51
2. Analisis Faktor EFAS...53
3. Kuadran Analisis SWOT...56
4. Strategi Pengembangan Ekowisata Gunung Api Purba...59
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...68
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran...20
Gambar 3.1 Diagram analisis Swot...26
Gambar 4.1 Lokasi Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba...31
Gambar 4.2 Kunjungan Wisatwan Gunung Api Purba...33
Gambar 4.3 Logo Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba...35
Gambar 4.4 landscape Gunung Api Purba...37
Gambar 4.5 Pohon Ternas...38
Gambar 4.6 Kera Ekor Panjang...39
Gambar 4.7 Hutan Rakyat...40
Gambar 4.8 Kirab Budaya Rasulan...42
Gambar 4.9 Pertunjukan Kesenian Jathilan...43
Gambar 4.10 Rumah salah satu & keluarga di puncak nglanggeran...44
Gambar 4.11 Sumber Mata Air Comberan...45
Gambar 4.12 Lahan Pertanian Masyarakat Nglanggeran...46
Gambar 4.13 Dodol Kakao...49
Tabel 4.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Nglanggeran...29
Tabel 4.2 Matrik IFAS...47
Tabel 4.3 Matrik EFAS...50
Tabel 4.4 Matrik SWOT...59
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi ekowisata serta mengetahui model pengembangan ekowisata pada destinasi wisata Gunung Api Purba di Nglanggeran. Penelitian ini dilaksanakan di destinasi wisata Gunung Api Purba Desa Nglanggeran, Kec. Pathuk, Kab. Gunungkidul, D.I.Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pengambilan data primer melalui wawancara, observasi, dokumentasi, data sekunder yang didapat dari kesekretariatan pokdarwis, dinas Pariwisata Gunung Kidul, dan internet.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa: Kawasan ekowisata Gunung Api Purba memiliki banyak potensi alam seperti Gunung Api Purba, flora dan fauna meliputi tanaman pohon ternas dan kera ekor panjang, potensi hutan rakyat. Potensi budaya seperti upacara adat kirab budaya rasulan, atraksi kesenian jathilan, 7 kepala keluarga di puncak gunung nglanggeran, sumber mata air comberan. Potensi sumber daya manusia seperti potensi pertanian dan potensi kuliner. Potensi amenitas, dan aksesbilitas. Hasil analisis Tabel IFAS (internal factor strategy) dan EFAS (eksternal factor strategy) menunjukan bahwa destinasi wisata ini terletak pada kuadran 1 yang artinya pengelola mempunyai kekuatan dan peluang yang kuat untuk mengembangkan destinasi wisata secara maksimal. Model pengembangan Ekowisata yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) Strategi SO (strenght-opportunity) meliputi mempertahankan keasrian Gunung Api Purba, memberikan peluang investor untuk berinvestasi, membuat rencana jangka panjang, melakukan promosi pariwisata. 2) strategi ST (Strenght-treat) meliputi meningkatkan kenyamanan kepada wisatawan, meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam bidang ekowisata, memberlakukan peraturan adat. 3) strategi WO (Weakness-opportunity) meliputi memperbaiki akses masuk ke destinasi Gunung Api Purba dan membangun fasilitas yang sesuai dengan karakter lingkungan setempat. 4) Strategi WT (weakness-treat) meliputi meningkatkan koordinasi antar stakeholder pariwisata dan mengembangan atraksi wisata.
kata kunci : Ekowisata, Potensi, Model Pengembangan, Gunung Api Purba.
A. Latar Belakang Masalah
Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu
mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja,
peningkatan penghasilan, standar hidup serta memstimulasi sektor-sektor
produktif lainya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga
merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan
cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang
sebagai industri ( Nyoman, 2008 : 32).
Pembangunan pariwisata memiliki peran signifikan terhadap aspek
ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam aspek ekonomi pariwisata dapat
memberikan pemasukan devisa bagi negara sehingga pendapatan tidak
difokuskan dari minyak bumi dan gas. Selain itu pembangunan pariwisata
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dalam aspek sosial,
pariwisata dapat memberikan lapangan pekerjaan dan peluang usaha bagi
masyarakat setempat maupun investor yang tertarik untuk mengembangkan
pariwisata sehingga angka penggangguran dapat terkurangi. selain itu adat –
istiadat masyarakat setempat dapat selalu terjaga karena menjadi salah satu
daya tarik wisata. Dalam aspek lingkungan pariwisata khususnya ekowisata
dapat mengangkat keunikan lokal dan tetap menjaga kelestarian alam dan
seni budaya tradisional.
Dalam mengembangkan pariwisata tentunya harus direncanakan dan di
konsep sedemikian rupa sehingga dampak negatif dari adanya pariwisata
dapat dikurangi, dan dampak positif dengan adanya pariwisata haruslah
dominan. Untuk merencanakan konsep pengembangan pariwisata yang tetap
memperhatikan kelestarian lingkungan dan masyarakat setempat dapat
menggunakan konsep ekowisata.
Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara
profesional, terlatih dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor/
usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan
kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumber daya
alam dan lingkungan (Nugroho, 2011 : 17).
Pada era sekarang ini ekowisata sangat berkembang sebagai salah satu
industri potensial karena ekowisata sangat mengedepankan unsur pendidikan,
kelestarian alam, sosial budaya dan yang paling penting adalah dapat
meningkatkan kesejahteraan mayarakat setempat.
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu Kabupaten di Daerah
Istimewa Yogyakarta dengan ibu kotanya Wonosari. Luas wilayah
Gunungkidul 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara kota
Yogyakarta (Ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta), dengan jarak + 34 km.
Wilayah Kabupaten Gunungkidul dibagi menjadi 18 Kecamatan dan 144
Desa.
Kabupaten Gunung Kidul mempunyai beragam potensi diantaranya
adalah mulai dari potensi pertanian, perikanan, peternakan, hutan, flora dan
pariwisata merupakan potensi yang sangat bagus untuk dikembangkan,
karena Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi pariwisata alam khususnya
ekowisata adalah seperti kawasan pegunungan kapur, Desa Wisata Bleberan,
Goa Pindul, Gunung Api Purba Nglanggeran dan Lain- lain. Dari berbagai
potensi yang ada Gunung api purba merupakan destinasi wisata yang dikelola
dengan menggunakan konsep ekowisata.
Gunung Api Purba terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk,
Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung ini
merupakan Gunung berapi aktif sekitar 60 juta tahun yang lalu. Lapisan kapur
pada Gunung Api Purba berasal dari lapisan dasar laut yang terangkat
kemudian menjadi daratan jutaan tahun lalu. Puncak dari gunung tersebut
adalah Gunung Gedhe di ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. Kawasan ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran meliliki potensi
yang sangat menarik diantaranya potensi wisata alam, wisata budaya dan
wisata pendidikan. Daya tarik utama destinasi wisata Gunung Api Purba ini
adalah Treking menuju puncak dengan ketinggian 700 meter diatas
permukaan laut. Selama perjalanan treking banyak potensi- potensi ekowisata
yang dapat dilihat misal seperti wisata pendidikan dimana Gunung Api Purba
merupakan Gunung Berapi aktif yang telah meletus jutaan tahun yang lalu.
Kemudian letusan tersebut mengeluarkan lava dan lava-lava tersebut
membentuk batu seperti kulit bawang sehingga proses terjadinya batuan yang
berbentuk seperti kulit bawang dapat memberikan pengetahuan dan
pengalaman bagi wisatawan yang merupakan bagian dari konsep ekowisata. Dengan adanya potensi - potensi wisata yang ada, maka Gunung Api
Ekowisata. Karena dengan pengembangan ekowisata dampaknya akan
dirasakan langsung oleh masyarakat setempat misal seperti kelestarian
lingkungan masih tetap terjaga dan tercipatanya langangan kerja sehingga
kesejahteraan masyarakat sekitar akan meningkat.
Dalam mengembangan kawasan ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran sudah dilakukan diantaranya fasilitas-fasilitas yang disediakan
oleh pengelola untuk menunjang wisata sudah ada seperti Gazebo, toilet,
Joglo, lapangan, outbond, jalur treking dan dalam pemasarannya sudah cukup
baik karena menggunakan media internet (website, facebook, Tweteer).
Namun dalam pengembangannya, kawasan ekowisata ini menurut hasil
observasi yang dilakukan peneliti kurang maksimal karena Fasilitas yang
disediakan kurang menganut pada kearifan lokal dan potensi potensi wisata
yang ada juga belum secara maksimal dikembangkan sehingga peneliti ingin
mengkaji lebih jauh lagi mengenai kawasan ekowisata Gunung Purba dalam
penelitian ini dengan judul “KAJIAN POTENSI DAN MODEL
PENGEMBANGAN EKOWISATA DI GUNUNG API PURBA
NGLANGGERAN”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikaji maka penulis menyimpulkan
permasalahan yang ingin dikaji antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi ekowisata pada Gunung Api Purba Nglanggeran
sebagai Daya Tarik Wisata?
2. Bagaimana Model Pengembangan Ekowisata pada Gunung Api Purba
Nglanggeran?
Adapun masalah yang akan dikaji oleh peneliti adalah mengenai potensi
wisata (meliputi potensi alam, budaya, SDM) dan model pengembangan
ekowisata di kawasan ekowisata Gunung Api Nglanggeran.
D. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin diteliti oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi potensi ekowisata pada Gunung Api Purba Nglanggeran
sebagai daya tarik wisata.
2. Mengetahui model pengembangan ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak
yang bersangkutan dalam penelitian ini, baik bagi penulis, STP AMPTA dan
juga pengelola destinasi wisata Gunung Api Purba Nglanggeran
1. Manfaat bagi Penulis, Penulis dapat memahami dan mengetahui potensi
dan model pengembangan ekowiata dan mengetahui keadaan karakter
masyarakat setempat.
2. Manfaat bagi STP AMPTA, dapat dijadikan sebagai sarana informasi
mengenai Destinasi Wisata Gununung Api Purba Nglanggeran.
3. Manfaat bagi pengelola daya tarik wisata gunung api purba Nglanggeran
adalah dapat dijadikan konsep dan pengetahuan dalam pengembangan
daya tarik wisata gunung api purba sehingga dapat lebih berhasil lagi dari
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Pariwisata
Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu
mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja,
peningkatan penghasilan, standar hidup serta memstimulasi sektor-sektor
produktif lainya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga
merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan
cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga
dipandang sebagai industri ( Nyoman, 2008 : 32)
Pariwisata adalah suatu proses kepergian sementara dari seseorang
atau lebih menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya. Dorongan
kepergianya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena
kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, keehatan
maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah
pengalaman ataupun ingin belajar (Suwantoro, 2004 : 03)
Pariwisata adalah salah satu dari industri baru yang mampu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dalam hal
kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup, dan dalam hal mengaktifkan
sektor produksi lain didalam negara penerima wisatawan (Utama, 2012:
107)
Menurut undang undang Nomor 10 Tahun 2009, pariwisata adalah
layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dah
pemerintah daerah.
a. Wisatawan
Kata wisatawan (tourist) merujuk kepada orang. Secara umum
wisatawan menjadi subset atau bagian dari traveler atau visitor.
Untuk dapat disebut sebagai wisatawan, seseorang haruslah seorang
traveler atau seorang visitor, seorang visitor adalah seorang traveler.
“a tourist can be defined, in behavioral terms, as a present traveling away from their normal residential region for a temporary period, staying away at least one night but not permanently, to the extent that the behavior involves a search for leisure experiences from interection from feature or environmental characteristic of the places they choice to visit (leiper dalam Pitana, 2009 : 35)
“Tourist is a visitor who stay in the country visited for at least
one night: for example, a visitor on a two-week vocation”(Mc Intosh
etal dalam Pitana, 2009 : 35)
Menurut ahli pendapat Theobald dalam Pitana (2009 :35)
mengemukakan beberapa element yang dipakai sebagai patokan
untuk menentukan apakah seseorang dapat dikatakan sebagai
wisatawan atau tidak menurut standar international, yaitu sebagai
berikut :
1) Tujuan perjalanan (purposive of trip). Wisatawan adalah orang
yang melakukan perjalanan selain untuk tujuan bisnis (leisure
travelling), walau ada kalanya sebuah perjalanan bisnis juga
dapat diikuti oleh kegiatan wisata (non-bisnis)
2) Jarak perjalanan dari tempat asal (distance traveled). Untuk
tujuan statistic, ketika memperhitungkan jarak perjalanan
wisata. Umumnya jarak yang dipakai bervariasi antara 0-160 km
karenanya perjalanan yang dilakukan oleh seseorang, walu
bukan untuk bisnis, tetapi bila kurang dari ketentuan yang
ditetapkan, maka orang tersebut tidak akan dihitung sebagai
wisaawan.
3) Lamanya perjalanan (duration of trip). Umumnya definisi
wisatawan mencakup perjalanan palinf tidak satu malam (over
night) ditempat yang menjadi tujuan perjalanan. Namun ada
kalanya persyaratan ini dikesmpingkan pada kasus perjalanan
wisata yang memang didesain kurang dari 24 jam tetapi
nyata-nyata berdampak pada kegiatan bisnis pariwisata, seperti
restaurant, atraksi wisata, hotel dan sebagainya, didaerah tujuan
wisata.
Berdasarkan pengertian diatas maka wisatawan dapat
disimpulkan bahwa pengertian wisatawan adalah seseorang yang
melakukan perjalanan untuk tujuan berwisata.
b. Produk Pariwisata
Wisatawan yang berada di daerah tujuan wisata (destinasi
wisata), mereka memerlukan pelayanan akomodasi, dan transportasi
untuk menjelajahi destinasi tersebut, makanan, toko souvenir, dan
sesuatu yang akan dilakukan dan yang akan dilihatnya. Singkatnya
mereka akan mengkonsumsi produk. Istilah produk mencakup segala
sesuatu yang dibeli atau dikonsumsi oleh orang yang disebut
Menurut UN-WTO dalam Nyoman (2008 : 32) produk
pariwisata didefinisikan sebagai: “any good or service purchased by,
or consumed by, a person defined as a visitor
“The combination of all the service element which a tourist
consumed from leaving home to returning” (Richardson dan Fluker,
dalam Nyoman, 2008 : 32)
Menurut Yoeti (2005 : 3) Produk industri pariwisata adalah
semua bentuk pelayanan yang dinikmati wisatawan, semenjak ia
meninggalkan tempat dimana ia berdiam, selama didaerah tujuan
wisata yang dikunjungi, hingga ia kembali pulang ketempat asalnya
semula.
Bersarkan pengertian para ahli dapat disimpulkan bahwa produk
paiwisata adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi oleh
wisatawan misal seperti akomodasi, aksesbilitas, dan lain-lain. Menurut Medlik dalam Utama (2012 : 94) ada empat aspek (4A)
yang harus diperhatikan dalam penawaran produk pariwisata sebagai
sebuah totalita produk, yakni :
1) Atractions (daya tarik), tersedianya daya tarik pada daerah
tujuan wisata atau destinasi untuk mearik wisatawan. Dapat
berupa daya tarik alam maupun masyarakat dan budayanya. 2) Accesabillity (trasportasi) tersedianya alat alat transportasi agar
wisatawan domestik dan mancanegara dapat dengan mudah
mencapai tujuan tempat wisata.
3) Amenities (fasilitas) tersedianya fasilita utama maupun
pendukung pada sebuah destinasi berupa akomodasi,restoran,
pendukung lainya yang berhubungan dengan aktivitas
wisatawan pada sebuah destinasi.
4) Ancilarry (Kelembagaan). Adanya lembaga penyelengggara
perjalanan wisatawan sehingga kegiatan wisata dapat
berlangsung. Aspek ini dapat berupa pemandu wisata, biro
perjalanan wisata, pemesanan tiket, dan ketersediaan informasi
tentang destinasi.
Menurut masyarakat international mengartikan ekowisata
sebagai perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan
cara mengonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan
mayarakat lokal (responsible travel to nature areas that
conserves the environment and improve the well-being of local
people) (dalam Danamik, 2006 : 37)
Ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang dikemas
secara profesional, terlatih dan memuat unsur pendidikan,
sebagai suatu sektor/usaha ekonomi, yang mempertimbangakan
warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal
serta upaya-upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan
(Nugroho, 2011 : 17)
Sementara itu menurut United Nations Comission on
Sustainable Development (dalam Nugroho 2011 : 16)
a) Menjamin partisipasi yang setara, efektif dan aktif dari
seluruh stakeholder,
b) Menjamin partisipasi penduduk lokal menyatakan yes atau
no dalam kegiatan pengembangan masyarakat, lahan dan
wilayah,
c) Mengangkat mekanisme penduduk lokal dalam hal kontrol
dan pemeliharaan sumber daya.
Menurut Muhammad dan Sumidi ( 2014 : 33-34) ekowisata
adalah kegiatan yang bertanggung jawab dengan prinsip sebagai
berikut :
a) Secara aktif menyumbang kegiatan konservasi alam.
b) Melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan,
mengembangkan dan pengelolaan wisata serta memberikan
sumbangan positif terhadap kesejahteraan mereka.
c) Dilakukan dalam bentuk wisata independen atau di
organisasi dalam bentuk kelompok kecil. 2) Prinsip Ekowisata
Menurut The International Ecotourism Society dalam
Danamik (2006: 39-40) prinsip-prinsip ekowisata adalah sebagai
berikut :
a) Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau
pencemaran lingkungan dan budaya lokal akibat kegiatan
wisata
b) Membangun kesadaran dan penghargaan atas lingkungan
dan budaya di destinasi wisata, baik pada diri wisatawan,
masyarakat lokal maupun pelaku wisata lainya
c) Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi
yang lebih intensif dan kerjasama dalam pemeliharaan atau
konservasi Obyek Daya Tarik Wisata
d) Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi
keperluan konservasi melaui kontribusi atau pengeluaran
extra wisatawan
e) Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi
masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang
mengedepankan nilai-nilai lokal
f) Meningkatkan kepekaan terhadap situasi sosial, lingkungan
dan politik di daerah tujuan wisata
g) Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja, dalam
arti memberikan kebebasan kepada wisatawan dan
masyarakat lokal untuk menikmati atraksi wisata sebagai
wujud hak azasi, serta tunduk pada aturan main yang adil
dan disepakati bersama dalam pelaksanaan
transaksi-transaksi wisata.
d. Pengembangan dan perencanaan Ekowisata
Menurut Nugroho (2011 : 17-18) pengembangan jasa ekowisata
harus memiliki manajemen yang profesional diantaranya adalah : 1) Pemasaran yang spesifik menuju tujuan wisata. Strategi
pemasaran menempati posisi penting untuk menjangkau dan
menarik pengunjung seluruh dunia. Mereka diharapkan menjadi
sumber informasi bagi pengunjung lainya agar dapat membantu
konservasi lingkungan dan pengembangan masyarakat lokal. 2) Ketrampilan dan layanan kepada pengunjung secara intensif.
lingkungan atau wilayah yang baru. Kepuasan pengunjung akan
tercapai melalui ragam layanan yang sabar dan efektif
3) Keterlibatan masyarakat lokal dalam memandu dan
menerjemahkan obyek wisata. Penduduk lokal akan memiliki
insentif konservasi lingkungan apabila ia dilibatkan dalam
jasa-jasa ekowisata, pemberian informasi, memperoleh manfaat yang
pantas
4) Kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi aset lingkungan
dan budaya. Kebijakan penataan ruang, pemberdayaan
kemasyarakatan atau dikombinasi dengan instrumen ekonomi,
akan mencegah mekanisme pasar beroperasi di wilayah tujuan
ekowisata
5) Pengembangan kemampuan penduduk lokal. Penduduk lokal
dan lingkungannya adalah kesatuan utuh wilayah ekowisata.
Mereka perlu dikembangkan potensi dan partisipasinya untuk
memperoleh keuntungan agar tercipta insentif dan motivasinya
untuk ikut mengkonservasi lingkunganya.
Perencanaan manajemen ekowisata dapat dilakukan dengan
deskripsi panduan sebagai berikut (Nugroho, 2011 : 48-51) :
1) Faktor ekologi dan sosial merupakan dasar tata nilai
pengelolaan. Implikasinya dua faktor terebut dapat diposisikan
sebagai sumber daya kritikal pengelolaan. Konsekuensinya
pihak manajemen dapat menggunakan sebagai pusat perhatian
pertanyaan-pertanyaan seperti: (i) bagaimana fungsi pengadilan,
(ii) apakah pelaksanaan manegemen sudah menyesuaikan
dengan yang seharusnya, dan (iii) sejauh mana resiko atau
ancaman akan terjadi. Faktor sosial dan ekologi hendaknya
senantiasa dalam keadaan (study state) yang optimal untuk
mendukung pengelolaan jasa ekowisata adalah sejalan dengan
upaya pemeliharaan faktor sosial dan lingkungan.
2) Organisasi manajemen ditujukan untuk melindungi tata nilai
asli saat area dikembangkan. Sarana akomodasi, SDM, produk
jasa, kepemimpinan, produk dan kemasan, seyogyanya secara
hati-hati dikembangkan dengan mengadopsi tata nilai asli serta
melibatkan penduduk lokal.
3) Produk atau jasa ekowisata sendiri memiliki karakteristik lokal
dan khas dan berbeda dengan jasa pariwisata pada umumnya.
Seluruh jasa layanan dalam ekowisata dilandasi oleh filosofi
lokal dalam kaidah-kaidah konservasi
4) Karakteristik layanan jasa ekowisata terletak pada kualitas,
pengendalian pada manfaat (light quality, low volume dan high
value added). Hal ini memerlukan investasi yang tinggi dalam
arti ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam perencanaan
manejemen, return investasi tersebut menjadi unsur penting
untuk keberlanjutan pengelolaan, tentu saja diharapkan dari
partisipasi pengunjung.
5) Perencanaan manajemen hendaknya berada dalam konteks
ekosistem adalah wilayah pertanian dan perkotaan. Perencanaan
manajemen perlu memanfaatkan potensi dan manfaat
wilayah-wilayah tersebut secara optimal untuk mendukung manajemen
dan pemerkaya ragam layanan.
6) Perencanaan manajemen ekowisata pada dasarnya adalah
berjangka panjang. Hal ini perlu dibangun dalam kerangka
sistem pengelolaan yang terintegrasi dan bertanggung jawab.
Sistem penyajian peran , tanggung jawab dan perolehan atau
distribusi manfaat masing-masing stakeholder.
Menurut Muhammad dan Sumidi (2014 : 51-52) ada beberapa
guideline atau arahan yang didasarkan sebagai pedoman bagi standarisasi
hubungan isu-isu setempat yang spesifik khusunya bangunan dan model
design fisik lainya serta ciri-ciri ekologis kawasan. Beberapa pedoman
tersebut antara lain :
1) Rancangan bangunan harus menggunakan teknik-teknik
konstruksi bahan-bahan dan gambaran kebudayaan setempat,
sejauh pendekatan tidak mengganggu kehidupan dan ekosistem
didalam kawasan tersebut.
2) Bentuk design fisik harus selaras dengan lingkungan alam
sekitar
3) Perancangan design fisik berupa bangunan harus sesuai dengan
standar-standar jangka panjang (terutama dengan material yang
dipegunakan).
4) Sedapat mungkin menggunakan teknik-teknik yang berteknik
5) Pemeliharaan ekosistem harus merupakan prioritas diatas
segalanya
6) Produk rancangan sedapat mungkin bertema dan dramatik 7) Sarana-sarana sedapat mungkin harus mementingkan
bahan-bahan setempat termasuk para pengrajin.
8) Pertimbangan terhadap struktur bangunan tahan gempa
9) Spesifikasi-spesifikasi kontruksi harus mencerminkan
kepentingan lingkungan dalam hubunganya dengan
menggunakan bahan-bahan kayu dan bahan-bahan lainya untuk
kontruksi
10) Penggunaan produk-produk energi intensif dan bahan-bahan
berbahaya harus dihindari
11) Rencanakan pertumbuhan dari sarana-sarana fisik di masa yang
akan datang untuk menekan serendah mungkin
perombakan-perombakan dengan merobohkan bangunan yang akan
menimbulkan limbah
12) Elemen-elemen lanskap harus ditempatkan sedemikian rupa
untuk mendorong pertukaran udara alami dari sarana-sarana dan
menghindari konsumsi energi yang tidak perlu
13) Saluran air dan jalan air harus diletakan sedemikian rupa untuk
menekan sekecil mungkin kerusakan – kerusakan tanah didekan
jalan –jalan setapak
14) Penyusunan design fisik untuk pekerjaan arsitektur harus
konsisten dengan filosoofi lingkungan atau alasan ilmiah dan
Gunung Api Purba
Alam
Kebudayaan SDM
Aksesbilitas Amenitas
Potensi Ekowisata
Konsep Pengembangan
Ekowisata
Pariwisata
2. Kerangka Pemikiran
Untuk mempermudah penyajian data dan memahami isi dari
penelitian ini maka berikut ini merupakan kerangka berfikir yang disusun
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, menurut Meleong ( 2009 :
06) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami
fonomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya,
perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang
alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
B. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini mengambil lokasi daya tarik wisata gunung api
purba yang terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten
Gunungkidul, D.I. Yogyakarta.
Alasan mengambil daya tarik wisata Gunung Api Purba karena daya tarik
wisata ini merupakan wisata alam yang memiliki potensi-potensi ekowisata
yang sangat menarik untuk dikembangkan dan destinasi wisata ini juga
tergolong destinasi baru dalam pengembangan konsep ekowisata.
C. Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung dari
sumber tempat penelitian dengan cara wawancara mendalam (indepth
interview).
Dalam penelitian ini beberapa orang yang dipilih untuk dijadikan
informan diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Tokoh Masyarakat ( Kepala Desa, Ketua RT, dan Masyarakat
yang memiliki peran penting dalam pengembangan kawasan
2) Kelompok Sadar Wisata
3) Pegawai Dinas Pariwisata (Bagian pengembangan Daya Tarik
Wisata) Kab. Gunung Kidul 4) Pemilik Warung/Restauran 5) Pemilik Homestay
6) Pedagang 7) Pemandu Wisata
8) Wisatawan (Wisatawan yang dianggap mengerti tentang
ekowisata) b. Data Sekunder
Data yang diperoleh melalui kajian pustaka yang relevan dengan
masalah yang diteliti dan diperoleh dari sumber yang kedua. Data ini
dapat berupa data teks, yakni berupa penelitian sebelumnya, catatan,
D. Teknik Pengumpulan Data
a. kuisoner
Kuisoner merupakan instrumen pengumpulan data atau informasi
yang dioperasionalisasikan ke dalam bentuk item pertanyaan.
penyusunan kuisoner dilakukan dengan harapan dapat mengetahui
variabel-variabel apa saja yang menurut respondes merupakan hal yang
penting. b. Observasi
Observasi adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara mengamati mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki
(Utama, 2012 :52)
c. Wawancara
Menurut Moleong (2009 : 221) wawancara adalah percakapan
dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak,
pewawancara dan (interviewer) yang men gajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
itu.
d. Dokumentasi
Salah satu teknik pengumpulan data dengan cara mencatat
arsip-arsip, surat dan dokumen lain yang mendukung penelitian seperti koran,
majalah, artikel, dan juga buku-buku yang berhubungan dengan apa yang
dikaji dalam penelitian.
E. Uji keabsahan data
Dalam penelitian ini uji kebsahan data yang digunakan penulis adalah
Trianggulasi. Menurut Meleong (2009 : 332) Trianggulasi adalah teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar
Pengumpulan Data
Display Data
Penggambaran Kesimpulan Reduksi Data
itu. Dengan kata lain dengan triangulasi, peneliti dapat me-rechek temuan
dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau
teori. Untuk itu maka dapat dilakukan dengan jalan : 1. Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan, 2. Mengeceknya dengan berbagai sumber data,
3. Memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat
dilakukan.
F. Teknik Analisis Data
a. Analisis Data Model Miles and Huberman
Untuk mengetahui potensi Ekowisata pada daya tarik wisata Gunung
Api Purba adalah dengan menggunakan konsep analisis data kualitatif.
Miles and Huberman dalam Sugiono (2011:246) mengemukakan bahwa
aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah
jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data (data reduction),
Display data (data display), dan penggambaran kesimpulan (Conclusion
Drawing/verification) langkah analisis dapat dilihat pada gambar sebagai
berikut.
Komponen Dalam analisis data (interaktif model)
Teknis analisis yang digunakan untuk mengembangkan model
pengembangan ekowisata adalah dengan menggunakan analisis
SWOT. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan (rangkuti, 1997 :
19). SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strenght dan
weakness serta lingkungan eksternal peluang (opportunities) dan
ancaman (threat). Analisis SWOT membandingkan antara faktor
eksternal peluang (opportunities) dan Ancaman (threat) dengan
faktor internal kekuatan (strenght) dan kelemahan (weakness). Faktor internal dimasukan kedalam bentuk matrik faktor IFAS
(Internal strategic faktor analisis summary). Faktor eksternal
dimasukan kedalam matrik yang disebut matrik faktor eksternal atau
EFAS (Eksternal strategic faktor analisis summary). Setelah matrik
faktor strategi internal dan internal disusun kemudian hasilnya
dimasukan kedalam kuadran SWOT dan Matrik SWOT.
Gambar 3.1
EFAS STRENGHT (S)Tentukan 5-10
Nglanggeran merupakan Desa yang secara administratif terletak di
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta. Kawasan
Ekowisata Gunung Api Purba memiliki luas 48 ha. Sedangkan wilayah
Desa Nglanggeran memiliki luas 762,0990 ha dengan tata guna lahan
sebagian besar digunakan untuk lahan pertanian, perkebunan, ladang dan
pekarangan. Pola pemilikan tanah tersebut didominasi oleh tanah kas
desa.
Jarak Desa Nglanggeran dari ibukota kecamatan adalah 4 km, 20 km
dari ibukota kabupaten dan berjarak 25 km dari ibukota propinsi. Batas
administratif Desa Nglanggeran adalah :
1. Sebelah utara : Desa Ngoro-oro
2. Sebelah timur : Desa Nglegi 3. Sebelah selatan : Desa Putat
4. Sebalah barat : Desa Salam
Desa Nglanggeran terdiri dari 5 dusun/pedukuhan yaitu Dusun
Karangsari, Dusun Doga, Dusun Nglanggeran Kulon, Dusun
Nglanggeran Wetan dan Dusun Gunungbutak. Pusat pemerintahan desa
terletak di Dusun Doga.
Desa Nglanggeran berada di dataran tinggi 200-700 meter dari
permukaan laut. Memiliki bentang wilayah berupa bukit - bukit dengan
ketinggian dan lembah-lembah serta memiliki potensi flora dan fauna
yang sangat beragam. Jenis flora yang dapat ntumbuh dengan baik di
Desa Nglanggeran antara lain jenis pepohonan seperti pohon jati, sono
keling, akasia, mahoni dan sebagainya ; jenis tanaman buah/perkebunan
keanekaragaman jenis fauna yang dimiliki meliputi beragam jenis
burung, kera ekor panjang, tupai, ayam hutan dan sebagainya.
2. Profil Sosio-demografis Masyararakat
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan peneliti dapat terkumpul
data sosio demografis masyarakat Desa Nglanggeran. Desa Nglanggeran
memiliki jumlah penduduk sebanyak 2.725 jiwa dengan jumlah kepala
keluarga sebanyak 689 kepala keluarga. Seluruh penduduk Desa
Nglanggeran adalah Warga Negara Indonesia (WNI), dengan komposisi
perbandingan laki-laki 1.363 jiwa, sedangkan perempuan 1.362 jiwa. Dalam segi agama atau kepercayaan yang dianut masyarakat,
sebanyak 97,8% masyarakat Desa Nglanggeran beragama Islam, sisanya
1,9 % beragama Kristen, dan 0,4% beragama Katholik.
Tingkat pendidikan masyarakat Desa Nglanggeran pada umumnya
memiliki tingkat pendidikan rendah sampai sedang, dengan proporsi
tamatan Sekolah Dasar (SD) sebesar 29,67%, Tamatan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Sebesar 23,87%, Tamatan Sekolah Menengah
Atas (SMA) sebesar 21,12%, berpendidikan tinggi sebesar 2,85%, dan
sisanya sebesar 15,73 % tidak tamat Sekolah Dasar (SD) bahkan 6,76 %
tidak pernah sekolah sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa kualitas
sumber daya manusia Desa Nglanggeran masih tergolong rendah. Tabel 4.1
No Tingakat Pendidikan Masyarakat Prosentase
1. Tidak Pernah Sekolah 6,76%
2. Tidak Tamat SD 15.73%
3. Tamat SD/Sederajat 29,67%
4. Tamat SMP / Sederajat 23,87%
5. Tamat SMA/ Sederajat 21,12%
Gunung Nglanggeran dan kini lebih dikenal dengan sebutan Gunung Api
Purba. Secara fisiografi Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Zona
Pegunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur (Van Bemmelen 1949)
atau tepatnya di Sub Zona Pegunungan Baturagung (Baturagung
Range) dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut dan
kemiringan lerengnya curam-terjal (>45%). Gunung Nglanggeran
berdasarkan sejarah geologinya merupakan gunung api purba yang
berumur tersier atau 0,6 – 70 juta tahun yang lalu.
Material batuan penyusun Gunung Nglanggeran merupakan endapan
vulkanik tua berjenis andesit (Old Andesite Formation). Jenis batuan
dan lava bantal. Singgapan batuan vulkanik klastik yang ditemukan di
Gunung Nglanggeran kenampakannya sangat ideal oleh karena itulah
satuan batuan yang ditemukan di Gunung tersebut menjadi lokasi tipe
(type location) dan diberi nama Formasi Geologi Nglanggeran.
Beberapa bukti lapangan menunjukkan bahwa dahulu pernah ada
aktivitas vulkanis yaitu banyaknya batuan sedimen vulkank klastik
seperti batuan breksi andesit, tufa dan adanya aliran lava andesit di
Gunung Nglanggeran. Bentuk kawah Gunung Api Purba Nglanggeran
dapat ditemukan di puncak Gunung Nglanggeran.
Selain potensi gunung api purbanya, di Kawasan Gunung Api Purba
Nglanggeran juga dijumpai fauna dan flora langka, seperti tanaman
tremas (tanaman obat yang hanya hidup dikawasan ekowisata Gunung
Api Purba), kera ekor panjang serta di Gunung Api Purba berkembang
kegiatan seni dan budaya lokal seperti bersih desa dan lain-lain. Ada 2
potensi pengembangan yaitu Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba dan
Desa Wisata Pesona Purba Nglanggeran. Desa wisata dikembangkan
menuju desa budaya dan desa pendidikan, dimana bisa melakukan
aktivitas belajar tentang flora fauna, cocok tanam, seni budaya dan juga
belajar hidup bermasyarakat dengan tatakrama (unggah-ungguh).
Gambar 4.1
Sumber : Pokdarwis Desa Wisata Nglanggeran,2015
a. Sejarah Pengelolaan
Pengembangan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba diawali
oleh Kelompok Pemuda Karang Taruna desa Nglanggeran sejak
tahun 1999, dengan adanya kesadaran peduli lingkungan bersama
masyarakat menanam pohon-pohon di area gunung yang merupakan
gunung yang gundul/gersang diantara bongkahan-bongkahan batu
pencakar langit. Dengan berbagai kegiatan aktif dilakukan oleh
kelompok pemuda dan masyarakat selanjutnya pemerintah Desa
Nglanggeran mempercayakan pengelolaan lahan seluas 48 Ha untuk
dikelola pemuda (Karang Taruna Bukit Putra Mandiri) yang tertuang
dalam SK Kepala Desa Nglanggeran No.05/KPTS/1999 tertanggal
Desa 12 Mei 1999.
Penghijauan mulai dilakukan oleh warga masyarakat dan karang
taruna di lahan seluas 48 Ha. dengan adanya penghijauan tersebut
dan menarik untuk menjadi daya tarik wisata. kegiatan tersebut
mendapatkan dukungan dari Dinas Budpar Gunungkidul melalui
promosi (FAM Tour) pada tahun 2007. Dalam meningkatkan
kapasitas sumber daya manusia, pemuda nglanggeran melakukan
studi atau pembelajaran dan pengenalan teknologi informasi. Melalui
teknologi informasi dapat mengenalkan pariwisata Gunung Api
Purba secara luas.
Sebelum 2007 terjadi kevakuman pengelolaan saat setelah
terjadi gempa 26 Mei 2006 hingga ditahun 2007, dan karang taruna
mulai lagi muncul kepermukaan untuk melakukan pengelolaan
kawasan wisata dengan pendampingan dari Dinas Budpar
Gunungkidul sejak tahun 2007. Dibentuklah sebuah lembaga BPDW
(Badan Pengelola Desa Wisata) yang melibatkan seluruh komponen
masyarakat dari Ibu PKK, kelompok tani, pemerintah desa dan juga
pemuda karang taruna.
Setelah terbentuk BPDW disepakati dan ditetapkan untuk
pengelola teknis lapangan adalah pemuda-pemudi karang taruna
selaku pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba. Dengan
mendapatkan beberapa pelatihan dari Dinas Budpar Gunungkidul
dan Dinas Pariwisata DIY serta adanya beberapa SDM dari pengurus
yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi maka
perkembangan wisata di Desa Nglanggeran bisa dikatakan memiliki
perkembangan positif yang signifikan. Peningkatan jumlah
2010 2011 2012 2013 2014
b. Visi , Misi, Tujuan dan Sasaran Desa Wisata Nglanggeran 1) Visi
“Menjadikan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran menjadi kawasan wisata unggulan berwawasan
lingkungan berbasis masyarakat”.
2) Misi
Misi dari Pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Nglanggeran adalah :
a. Meningkatkan SDM dan pengelolaan Kawasan Ekowisata
Gunung Api Purba
d. Melindungi lingkungan di Kawasan Ekowisata Gunung Api
Purba, baik kebudayaan, flora, fauna dan juga keunikan
e. Melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan dan perbaikan/evaluasi terhadap
kinerja pengelolaan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba f. Melakukan promosi secara efektif dan intensif
g. Meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay) di
Kabupaten Gunungkidul dan Provinsi DIY
c. Tujuan
Tujuan dari kegiatan pengembangannya Kawasan Ekowisata
Gunung Api Purba Nglanggeran adalah meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dengan segala potensi alam dan budaya yang ada
sekaligus menjaga kelestariannya.
d. Logo Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Konsisten dari sejak berdirinya pengelolaan Kawasan Ekowisata
Gunung Api Purba, salah satu wisata yang berada di Gunungkidul,
kawasan ini juga memiliki logo seperti kebanyakan tempat wisata
lain. Berikut adalah logo Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba.
Gambar 4.3
Logo Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba
Arti logo tersebut yaitu sebagai berikut:
1) Dua garis lengkung dengan adanya tulisan kawasan ekowisata
warna hijau ditengahnya melambangkan kebersamaan menuju
kawasan ekowisata dengan jalan sesuai aturan yang berlaku dan
menjunjung tinggi nilai-nilai kelestarian lingkungan dan alam. 2) Gunung ditengah dan tulisan Gunung Api Purba warna merah
memiliki arti pusat daya tarik dan ekosistem yang dikelola
adalah gunung api purba beserta seluruh potensi yang ada
didalammya.
3) Tulisan Nglanggeran berwarna merah, berlapis warna putih dan
hitam dengan bentuk simetris melambangkan hasil dari kegiatan
yang dilakukan bertujuan untuk mensejahterakan seluruh lapisan
masyarakat di desa Nglanggeran khususnya dan bangsa
Indonesia pada umumnya.
4) Warna Kuning melambangkan pengelola yang optimis, percaya
diri, memiliki kekuatan emosional, keramahan, dan kreativitas
untuk selalu berkembang.
5) Warna Merah pada tulisan Gunung Api Purba Nglanggeran
mengartikan energi, daya, semangat, dan keberanian untuk
melakukan inovasi mengelola Gunung Api Purba Nglanggeran. 6) Tulisan www.gunungapipurba.com merupakan media informasi
dan publikasi yang digunakan untuk mengenalkan kawasan
Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran.
a. Gunung Api Purba
Potensi pariwisata di Desa Nglanggeran yaitu adanya Gunung
Nglanggeran dan kini lebih dikenal dengan sebutan Gunung Api
Purba. Secara fisiografi Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di
Zona Pegunungan Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur (Van
Bemmelen 1949) atau tepatnya di Sub Zona Pegunungan
Baturagung (Baturagung Range) dengan ketinggian 700 meter dari
permukaan laut dan kemiringan lerengnya curam-terjal (>45%).
Berdasarkan sejarah geologinya Gunung Nglanggeran merupakan
gunung api purba yang berumur tersier ( Oligo- Miosen) atau 0,6 –
70 juta tahun yang lalu.
Gambar 4.4
Lanscape Gunung Api Purba
Sumber : Dokumentasi penelitian 2015
Material batuan penyusun Gunung Nglanggeran merupakan
endapan vulkanik tua berjenis andesit (Old Andesite Formation).
Jenis batuan yang ditemukan di Gunung Nglanggeran antara lain
breksi andesit, tufa dan lava bantal. Singkapan batuan vulkanik
klastik yang ditemukan di Gunung Nglanggeran kenampakannya
Gunung tersebut menjadi lokasi tipe (type location) dan diberi
nama Formasi Geologi Nglanggeran. b. Flora dan Fauna
1) Tanaman / pohon ternas
Gambar 4.5 Pohon Ternas
Sumber : Dokumentasi penelitian,2015
Potensi flora yang terdapat di kawasan gunung api purba
nglanggeran salah satunya adalah pohon ternas. pohon ternas ini
hidup menempel di lereng Gunung Api Purba Nglanggeran,
tanaman ini diyakini oleh masyarakat mampu menyembuhkan
beberapa penyakit melalui getah tanaman tersebut. Tamanam ini
berbentuk menjalar dan hanya juru kunci yang dapat mengambil
getah ini agar dapat digunakan sebagai obat untuk segala
penyakit. Beberapa macam penyakit yang dapat disembuhkan
oleh khasiat dari getah ini diantaranya lever, stroke,a mbien,
Menurut salah seorang tokoh masyarakat sekitar yaitu bapak
Mujiono mengenai pohon ternas :
“ pohon ternas itu hidupnya dilereng gunung di dekat pendopo namun sekarang ada yang tumbuh dipindahkan oleh juru kuncinya dekat dengan tempat tinggalnya. Khasiatnya katanya dapat menyembuhakan semua penyakit kayak liver, banyak orang – orang dari jakarta, bandung dll kesini untuk berobat”(wawancara tanggal 23 mei 2015).
2) Kera ekor panjang
Gambar 4.6 Kera Ekor Panjang
Sumber : Dokumentasi Penelitian,2015
Kera ekor panjang merupakan jenis kera yang mempunyai
panjang ekor lebih kurang sama dengan panjang tubuh, yang
diukur dari kepala hingga ujung tubuhnya. Panjang tubuh
berkisar antara 385 – 648 mm. Panjang ekor pada jantan dan
betina antara 400- 655 mm. Kera ekor panjang hidup pada hutan
primer maupun sekunder mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.
Kera ekor panjang banyak dijumpai di Kawasan Gunung
Api Purba Nglanggeran sehingga dapat dijadikan sebagai daya
tarik ekowisata sehingga dapat memberikan pengetahuan bagi
wisatawan mengenai fauna yang dapat hidup di kawasan gunung
c. Potensi Hutan Rakyat
Gambar 4.7 Hutan Rakyat
Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2015
Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang besar
peranannya dalam berbagai aspek kehidupan baik aspek ekonomi,
sosial, pembangunan dan lingkungan. Luas hutan yang ada sekarang
ini jauh dari harapan karena setiap tahun hutan selalu berkurang,
maka harus direncanakan dengan memperluas hutan rakyat. Hutan
rakyat sangat bermanfaat bagi aspek ekonomi maupun alam.
Di sekitar kawasan Wisata Gunung Nglanggeran terdapat Hutan
rakyat yang cukup luas, hutan ini milik masyarakat sekitar. Banyak
tanaman yang tumbuh ditanam oleh pemilik hutan rakyat seperti
jenis pohon mangga, durian, jati, sengon, akasia, mahoni dan
sebagainya. hutan ini dimanfaatkan oleh masyarakat apabila sudah
waktunya untuk dipanen kemudian mereka panen dan ditanam lagi
pohon yang baru.
Atraksi yang dapat dinikmati pada hutan rakyat ini adalah untuk
pendidikan bagi wisatawan tentang jenis tanaman yang tumbuh dan
pemanfaatan hutan bagi kelangsungan ekonomi dan lingkungan.
pembuatan arang ini menarik untuk dilihat dan dapat dijadikan
pendidikan bagi wisatawan.
Berikut merupakan pernyataan Bapak aris selaku pengelola pokdarwis Nglanggeran : “potensi hutan rakyat ini sangat bagus untuk dikembangkan, dalam hal ini wisatawan kita ajak menyusuri hutan. Kalau wisatawan dari kota senang diajak susur hutan kemudian mereka melihat proses pembuatan arang yang dilakukan oleh masyarakat sekitar”(wawancara tanggal 05 juni 2015)
2. Potensi Wisata Budaya
a. Upacara Adat Kirab Budaya Rasulan
Gambar 4.8 kirap Budaya Rasulan
Sumber : Pokdarwis Desa wisata Nglanggeran
Rasulan adalah tradisi yang sudah lama diselenggarakan oleh
masyarakat Nglanggeran. Rasulan juga disebut sebagai upacara
bersih desa yang dilakukan oleh para petani setelah masa panen tiba.
Upacara adat rasulan dilaksanakan sekitar bulan Juni dan Juli yang
biasanya berlangsung selama beberapa hari, diawali dengan kerja
membuat atau mengecat pagar pekarangan serta membersihkan
makam.
Puncak dari upacara adat rasulan terjadi pada saat
diselenggarakan kegiatan kirab. Kirab adalah semacam karnaval atau
arak-arakan mengelilingi desa dengan membawa tumpengan atau
sajian berupa hasil panen seperti pisang, jagung, padi, ayam
panggang, dan sebagainya.
Tradisi rasulan ini menjadi potensi daya tarik ekowisata
sehingga dapat mendatangkan wisatawan untuk melihat atau
mengikuti acara kegiatan rasulan ini.
Bapak Aris Selaku Pengelola Pokdarwis menyatakan bahwa : “ budaya rasulan ini sudah dilakukan sejak lama sudah ada sebelum saya lahir, dengan adanya upacara adat rasulan diharapkan dapat menarik wisatawan untuk mengunjungi atau mengenal gunung api purba nglanggeran, budaya rasulan ini juga kita laksanakan setahun sekali banyak acara-acara yang dilakukan dan puncaknya adalah arak-arakan”(wawancara tanggal 05 juni 2015).
b. Atraksi kesenian jathilan
Gambar 4.9
Pertunjukan kesenian Jathilan
Sumber : Dokumentasi pokdarwis, 2015
Jathilan adalah sebuah tarian tradisional jawa menampilkan
sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini
dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi
rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang digelung di
kepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka
warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan
prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping
juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan
magis seperti atraksi makan beling dan kekebalan tubuh terhadap
deraan pecut.
c. 7 Kepala keluarga Di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran Gambar 4.10
Rumah salah satu 7 kepala keluarga di Puncak Nglanggeran
Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2015
Di Puncak Gunung Api Nglanggeran terdapat keunikan yang
sampai saat ini masih tetap terjaga kelestariannya, yaitu sebuah
kawasan yang hanya boleh dihuni 7 kepala keluarga saja.
Kepercayaan tersebut sudah turun temurun dan harus ditaati, sesuai
pesan dari sesepuh pepunden dari dusun Tlogo tersebut, yaitu eyang
Iro Dikromo yang dipercaya lokasi tersebut hanya boleh dihuni oleh
Mpu Pitu (kelompok tujuh/7 kepala keluarga). Tempat ini bagus
Berikut merupakan pendapat Bapak Mujiono selaku ketua RT 004 : “ cerita tentang 7 keluarga ini sudah ada sejak sebelum saya lahir, dari dulu yang tinggal di sana hanya 7 keluarga, apabila salah satu anak dari keluarga tersebut menikah pasti tinggal diluar situ, jadi masih tetap hanya 7 keluarga sampai sekarang”(wawancara tanggal 23 mei 2015)
d. Sumber Mata Air Comberan
Gambar 4.11
Sumber Mata Air Comberan
Sumber : Dokumentasi penelitian, 2015
Merupakan mata air yang tidak pernah mengalami kekeringan di
Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran. Disamping sumber
Comberan terdapat tempat pertapaan untuk melakukan ritual
“prihatin” tapak syahadatin (R. Siswolaksono) dipasang pada bulan
suro 2008 oleh 9 orang. Mereka memasang tapak syahadatin di
lokasi comberan dengan melakukan ritual selama 3 hari 3 malam.
Tempat ini digemari wisatawan karena cuaca iklim yang sejuk dan
terdapat tangga tataran yang di buat pada zaman jepang yang
dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian tentara jepang.
Air di sumber comberan diyakini dapat membuat awet muda jika
yang sedang menstruasi dilarang masuk atau berada di sumber
Comberan. 3. Potensi SDM
Sumber daya manusia yang merupakan penggerak dari adanya
ekowisata selain menjadi pengelola obyek wisata, sumber daya manusia
juga memiliki potensi ekowisata yang dapat dijadikan daya tarik
pendukung. Kebanyakan masyarakat setempat belum sadar bahwa
aktivitas yang biasa mereka lakukan merupakan daya tarik yang unik
yang dapat dinikmati oleh wisatawan misal seperti pertanian, pembuatan
kuliner khas lokal dan lain - lain. Berdasarkan hasil observasi yang
dilakukan oleh peneliti dapat merangkum beberapa potensi sumber daya
manusia diantaranya adalah sebagai berikut : a. Potensi Pertanian
Gambar 4.12
Lahan pertanian Masyarakat Nglanggeran
Sumbe : Dokumntasi penelitian, 2015
Pertanian merupakan kegiatan masyarakat desa Nglanggeran
dari mulai kegiatan bertani seperti menanam padi. Kegiatan ini
merupakan potensi yang tidak disadari dimana aktivitas yang
dilakukan merupakan suatu hal yang menarik yang dapat dijadikan
sebagian orang sekitar terlihat biasa namun tidak biasa bagi
wisatawan yang datang dari perkotaan seperti Jakarta, Bandung, dan
kota-kota besar lainya.
Dari aktivitas yang dilakukan masyarakat, wisatawan bisa
mengikuti aktivitas tersebut sehingga wisatawan tersebut akan
mendapat pengalaman dan pelajaran berharga yang mungkin belum
pernah dia lakukan sebelumnya. Selain itu dapat dijadikan sebagai
pengetahuan tentang pendidikan bagi wisatawan.
Pendidikan yang diajarkan ketika menanam padi mulai dari
membajak sawah, memilih jenis padi yang ditanam, hingga panen
apabila telah tiba waktunya untuk dipanen. Ketika wisatawan
melakukan aktivitas menanam padi dapat diberikan penjelasan
tentang jenis padi yang ditanam dan berapa lama padi akan siap
dipanen. b. Potensi kuliner
Makanan khas lokal yang dikelola oleh ibu – ibu PKK adalah
Gambar 4.13 Dodol Kakao
Sumber : Dokumentasi Penelitian
Gambar 4.9 merupakan hasil dari proses pengelolaan dodol
kakao yang merupakan makanan khas lokal. Proses pembuatan dodol
kakao menarik untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata, karena
mengajarkan pengalaman bagi wisatawan.
Proses pembuatan dodol kakao mirip dengan pembuatan dodol
pada umumnya. Biji kakao dikeluarkan dari kulit luarnya dan
dikupas dari kulit bijinya. untuk mempermudah pengupasan dapat
menggunakan abu agar kulit kakao tidak licin, setelah dikupas biji
kakao dihaluskan dengan blender. untuk satu resep dodol kakao
membutuhkan beberapa komposisi, yakni 250 gram kakao, 1 kg gula
pasir, santan dari 2 butir kelapa, tepung beras, dan garam. proses
untuk memasukan komposisi bertahap mulai dari kakao dimasak
mendidih lalu ditambah santan dan garam dan ditunggu hingga
mendidih terakhir baru ditambahkan tepung beras dan diaduk hingga
mengental dan matang 4. Amenitas
a) Homestay
Homestay merupakan tempat tinggal sementara untuk tamu
yang disediakan secara sederhana, dan tamu tinggal bersama pemilik
rumah. Homestay yang disediakan oleh pengelola bekerjasama
dengan masyarakat setempat, sangat cukup untuk kebutuhan
pengunjung karena jumlah homestay yang tersedia pada saat ini
kurang lebih sekitar 80 homestay dengan fasilitas yang sudah
memenuhi standart untuk wisatawan. Pada umumnya bentuk
bangunan homestay masih tradisional walaupun ada sebagian yang
sudah modern. fasilitas yang disediakan homestay berbeda – beda
mulai dari kamar mandi, tempat tidur, air conditioner(AC), Shower,
Bathup, dan lain-lain. Untuk tarifnya perhomestay Rp 30.000 /pax
dan untuk makan Rp 15.000 sekali makan.
Gambar 4.14
Sumber : Dokumentasi Penelitan, 2015
5. Aksesbilitas
Aksesbilitas merupakan salah satu pendorong orang atau wisatawan
untuk datang ke suatu daerah tujuan wisata, karena akan berhubungan
dengan jarak, kualitas jalan, lama perjalanan, jenis transportasi, dan lain
sebagainya. Faktor ini sangat mempengaruhi keinginan wisatawan untuk
melakukan perjalanan wisata ke suatu tempat. Berkaitan dengan hal
tersebut maka penulis akan menyampaikan gambaran mengenai
aksesbilitas yang telah dibangun oleh pemerintah.
Akses jalan menuju destinasi wisata mudah dilalui namun kondisi
jalan yang sempit dan bergelombang sangat mengganggu bagi
pengendara sepeda motor atau mobil pribadi, karena dibutuhkan
kehati-hatian yang lebih. Selain itu angkutan umum yang menuju kawasan
wisata Gunung Api Purba Nglanggeran tidak ada, sehingga wisatawan
yang ingin mengunjungi harus mengeluarkan uang lebih untuk
B. Model Pengembangan Ekowisata Gunung Api Purba
Dalam menentukan model pengembangan Ekowisata maka harus di
lakukan analisis internal dan eksternal sehingga dapat ditentukan langkah dan
strategi apa yang harus dilakukan dalam pengembangan kawasan.
1. Analisis faktor IFAS (Internal Factor Analisis Summary) dan Faktor Efas (External Factor Analisis Summary)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dapat dilihat
faktor kekuatan dan kelemahan pada destinasi wisata gunung api purba.
Dari beberapa faktor yang ditentukan oleh peneliti menunjukkan hasil
nilai yang berbeda-beda beda antara faktor satu dengan yang lain, hal itu
menunjukkan bahwa pengaruh dari setiap faktor juga berbeda, ada
pengaruhnya yang sangat kuat dan sangat lemah. Berdasarkan tabel 4.2
maka faktor dari kekuatan terbesar yang menunjukkan nilai tertinggi
adalah keramahan masyarakat dengan nilai 1,0 dan kekuatan terkecil
adalah destinasi wisata sudah memiliki DED (Detail Engineering
Design) dengan nilai 0,24. sedangkan yang menjadi kelemahan
terkuatnya adalah tidak adanya angkutan umum menuju kawasan wisata
dengan skor 0,8, dan yang menjadi kelemahan terkecilnya adalah adanya
pembangunan yang tidak sesuai dengan karakter lingkungan setempat
dengan skor 0,2. Selisih pada faktor analisis internal 0,38, hal itu
Tabel 4.2
Matrik IFAS (Internal Factor Analisis Strategi)
STRENGTH (KEKUATAN) N
o Uraian Bobot Rating
Nilai Skor
1. Panorama alam gunung api purba masih
alami 0.20 3 0,6
2. Memiliki atraksi alam yang unik seperti
karakter batuan, jenis flora dan fauna. 0.20 3
0,5 4
3. Memiliki seni budaya tradisi yang
beraneka ragam 0.15 3 0,3
4. Keramahan masyarakat sangat terlihat
terhadap wisatawan 0,20 4 1
5. Tersedianya fasilitas pendukung yang cukup memadai di destinasi wisata Gunung Api Purba seperti, homestay, MCK, lahan parkir dan lain-lain.
0.15 4 0,6
6. Sudah memiliki DED (Detail Engineering
Design) dari Dinas Pariwisata Gunung Kidul
0.1 2 0,24
Total 1 3,2
8
WEAKNESS (KELEMAHAN)
1. Tidak ada pembatasan jumlah pengunjung
wisatawan 0,2 3 0,6
2. Souvenir yang berasal dari lokal masih
kurang 0,2 2 0,4
3. Kualitas sumber daya manusia yang
mengetahui tentang ekowisata masih rendah
0,15 3 0,45
4. Adanya pembangunan fasiltas yang tidak
motor untuk menuju kawasan wisata
Nilai Skor Kekuatan – Kelemahan 0,3
8
2. Faktor Efas (External Factor Analisis Summary)
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka
dapat dihasilkan nilai dari faktor EFAS (Eksternal faktor analisis
Summary) dari Kawasan Wisata Gunung Api Purba. Dengan demikian
akan terlihat apakah peluang lebih besar dari ancaman maupun
sebaliknya. Untuk peluang nilai terbesarnya adalah tingginya jumlah
mahasiswa di Yogyakarta yang dapat mendorong pasar ekowisata lebih
luas dengan nilai 1,2 dan peluang terkecilnya adalah terciptanya peluang
untuk investasi. Dapat menarik investor yang ingin berkerjasama dalam
bidang ekowisata yang mementingkan keberlanjutan lingkungan dengan
nilai 0,2. Sedangkan faktor ancaman terbesarnya adalah Adanya
wisatawan yang tidak bertanggung jawab yang mencemari lingkungan
seperti membuang sampah sembarangan dan aksi vandalisme masih
tinggi dengan nilai 0,9. Faktor ancaman terlemahnya adalah rentan
terjadinya kebakaran hutan dengan nilai 0,2. Selisih dari nilai antara
jumlah faktor peluang dikurangi ancaman adalah 0,35, hal ini
menunjukan bahwa kawasan gunung api purba berada di posisi positif
pada lingkungan eksternal.