Landasan teori digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah permasalahan yang diajukan. Terkait dengan rumusan permasalahan yang telah diajukan, teori yang relevan digunakan adalah strukturalisme, semiologi, dan fungsionalisme. Keputusan penggunaan tiga teori tersebut karena kajian ini berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut aspek struktur, makna, dan fungsi sastra lisan pidato adat dalam pelaksanaan tradisi MG dalam masyarakat Minangkabau.
Kajian aspek struktur dalam penelitian ini tidak dapat dilepaskan dari kajian aspek kelisanan karena bahan dasar objek penelitian ini adalah sastra lisan. Oleh karena itu, dalam kajian struktur didukung dengan penerapan konsep formula,
formula dan formulaik dalam pidato adat, sedangkan konsep performance dan transmisi diperlukan untuk menjelaskan proses penyampaian dan pewarisan pidato adat dalam masyarakat Minangkabau.
Teori semiologi diperlukan untuk menjelaskan makna dan gagasan tersembunyi di balik pidato adat yang dilakukan dalam pelaksanaan tradisi MG di Minangkabau. Teori fungsionalisme digunakan untuk menerangkan nilai guna pidato adat dan tradisi MG sebagai media penyampai pidato dalam konteks masyarakat Minangkabau. Ketiga macam teori ini, yaitu strukturalisme, semiologi, dan fungsionalisme digunakan secara menyeluruh dan saling mendukung untuk mengungkap struktur, makna, dan fungsi pidato adat di Minangkabau, yang merupakan tahapan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan pewarisan sako pada laki-laki.
1.5.1 Struktural
Penelitian struktural di bidang studi sastra dirintis oleh kaum formalis di Rusia. Konsep dasar pemikiran struktural para kaum formalis di Rusia adalah untuk membebaskan studi sastra dari belenggu ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sejarah, sosiologi, dan studi kebudayaan lainnya.
Karya sastra dipandang sebagai tanda, lepas dari fungsi referensial atau mimetiknya. Karya sastra dianggap sebagai tanda yang otonom yang hubungannya dengan kenyataan bersifat tidak langsung. Sehubungan dengan itu, disarankan bahwa studi pertama yang harus dilakukan terhadap karya sastra adalah meneliti struktur karya yang begitu kompleks dan multidimensional berdasarkan pemahaman bahwa karya sastra terdiri dari struktur yang utuh dan
lengkap. Keutuhan dan kelengkapan struktur karya itu dibangun, didukung, dan dibina oleh dirinya sendiri.
Tiap unsur dalam karya memiliki koherensi intrinsik antara satu unsur dengan unsur lain, saling berkaitan, saling mendukung, saling menyusun dengan tata aturannya sendiri. Dengan demikian, analisis struktural terhadap karya sastra harus dengan memusatkan pengamatan hanya pada karya itu sendiri, mengungkapkan unsur-unsur pembangun struktur karya dan menelitinya secara cermat untuk kemudian dilihat bentuk pertalian antara unsur yang membangunnya menjadi satu struktur yang utuh dan bulat, serta menyeluruh (Teeuw, 1988: 130; Chamamah-Soeratno, 1991: 5-16).
Teori strukturalisme memandang bahwa karya sastra merupakan struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang berjalinan erat. Unsur-unsur dalam struktur tersebut tidak memiliki makna sendiri terlepas dari yang lainnya, tetapi ditentukan oleh hubungan antara unsur tersebut dalam keseluruhannya (Hawkes, 1978:17-18).
Di dalam keseluruhan struktur, suatu unsur memiliki kegunaan sebagai pendukung terhadap makna bagian yang lain. Demikian juga sebaliknya, bagian-bagian tersebut dengan sendirinya menduduki fungsi sebagai pendukung terhadap unsur yang lain. Makna unsur-unsur tersebut baru dapat dipahami dan diberi nilai sepenuhnya jika didasarkan pada pemahaman masing-masing unsur tersebut dalam keseluruhan karya sastra (Teeuw, 1983:61; 1988:136).
Di bidang sastra, pengertian struktur tersebut pada dasarnya mencakup tiga konsep dasar seperti dikemukakan Piaget (1995:4-10; Hawkes, 1978:16; Teeuw,
1984:141; Pradopo, 1987:119) yang meliputi: (1) the idea of wholeness (gagasan keutuhan atau totalitas); (2) the idea of transformation (gagasan transfomasi); dan (3) the idea of self reglation (gagasan pengaturan diri sendiri). Gagasan keutuhan berarti bahwa struktur memiliki koherensi intrinsik, merupakan kesatuan yang bulat, dan bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur tersebut. Gagasan transformasi berarti memungkinkan bahwa struktur tersebut mampu melakukan prosedur transformasi terhadap bahan-bahan secara kontinyu yang diproses melalui prosedur tersebut. Di dalam gagasan pengaturan diri sendiri, struktur dituntut untuk mengatur dirinya, dalam arti mampu mempertahankan dan mengesahkan prosedur transformasinya tanpa memerlukan bantuan dari luar.
Kajian ini lebih menekankan pada gagasan pertama, yaitu gagasan tentang keutuhan karya sastra yang terdiri dari struktur yang saling berkaitan erat dalam membangun makna sebuah karya sastra. Pada kenyataannya, terdapat banyak rumusan tentang strukturalisme, tetapi ada satu kesamaan di dalamnya, yaitu mengenai objek penelitian yang menitikberatkan pada struktur.
Di bidang antropologi, strukturalisme diusung oleh seorang antropolog Perancis, Claude Levi-Strauss. Strukturalisme ini erat terkait dengan struktural-fungsional Radcliffe-Brown. Strukturalisme Levi-Strauss maupun struktural fungsional Radcliffe-Brown dipengaruhi oleh teori-teori Durkheim.
Perbedaan pokok adalah bahwa Radcliffe-Brown mempelajari keteraturan dalam tindakan sosial yang ia lihat sebagai ekspresi struktur sosial yang dibentuk oleh jaringan-jaringan dan kelompok-kelompok, sedangkan Levi-Strauss
berpendapat bahwa struktur itu berada dalam pemikiran manusia, dan memandang interaksi sosial sebagai manifestasi keluar dari strukutr kognitif tersebut (Saifuddin, 2006:192).
Levi-Strauss sangat berhati-hati merumuskan kata struktur. Keteraturan mekanisme yang berlangsung tanpa disadari dimaknainya sebagai struktur, istilah ini juga sering menimbulkan salah paham karena secara isi, maknanya berdekatan dengan istilah organisasi. Akan tetapi, dalam penggunaan kata tersebut terdapat perbedaan penting antara kedua istilah itu.
Organisasi adalah sesuatu yang secara sadar dibuat atau dirancang oleh manusia, sedangkan struktur bukanlah sesuatu yang dibuat secara sadar oleh manusia, melainkan sesuatu yang ditemukan. Di dalam struktur dikenal adanya kekuasaan untuk merangkum sesuatu hal, suatu kekuasaan yang nampaknya tidak dapat diterangkan dengan jelas karena yang diketahui mengenai itu masih sangat kurang. Jadi, struktur lebih sedikit daripada gejala yang tampak dipermukaan. Struktur menunjuk kepada sesuatu yang diduga berada di belakang gejala yang tampak. Struktur menunjuk kepada sesuatu kebutuhan atau kekuasaan tertentu, tetapi sulit untuk diterangkan. Ia ada tetapi sulit untuk dilihat atau diterangkan secara langsung. Oleh karena itu, struktur bagi Levi-Strauss harus diselidiki terlebih dahulu melalui studi atau analisis.
Pandangan Levi-Strauss berbeda dengan pandangan Brown (dalam Baal, 1988:119-120) yang menyatakan bahwa struktur dapat diamati secara langsung; bandingkan Kaplan (1999) mengatakan bahwa konsep struktur atau struktur sosial telah digunakan demikian meluas dan mencolok dalam ilmu antropologi dan ilmu
sosial umumnya sebab itu sejak awal perlu ditunjukkan perbedaan antara kedua istilah tersebut dengan ”strukturalisme” yang dikaitkan dengan Levi-Strauss beserta pengikutnya.
Segala ilmu mempersoalkan struktur, yakni cara bagian-bagian suatu sistem tertentu saling berkait. Akan tetapi ada perbedaan besar antara jenis-jenis struktur dan masalah-masalah struktural yang menarik perhatian kebanyakan antropolog dengan hal-ikhwal struktural yang telah dikembangkan Levi-Strauss menjadi teorinya yang khas.
Struktur dalam pemahaman Strauss menurut Boudon (1971) dan Pouwer (dalam Koentjaraningrat, 1987:233) adalah beberapa konsep cara berpikir akal manusia yang dianggapnya elementer dan yang karena itu bersifat universal. Dengan struktur itu, dapat dipahami secara deduktif data mengenai interaksi manusia dalam kenyataan kehidupan masyarakat. Hal ini menyebabkan seorang peneliti yang mengikuti pola pemikiran Levi-Strauss tidak akan pergi ke lapangan atau ke perpustakaan untuk mencari struktur-struktur sosial baru, sebagaimana yang dianjurkan oleh Radcliffe-Brown, melainkan akan membawa struktur-struktur yang telah disusun oleh Levi-Strauss untuk lebih memahami data yang ditemukan.
Konsep itu tampak berbeda dari yang disebut dengan struktur sosial oleh Malinowski dan juga oleh Radcliffe-Brown serta para antropolog Inggris lainnya. Bila struktur dipahami oleh Malinowski dan Brown serta antropolog Inggris sebagai suatu perumusan dari jaringan hubungan interaksi antara manusia dalam kehidupan masyarakat yang didapatkan karena abstraki induktif dari data yang
nyata, bagi Levi-Strauss keadaannya justru sebaliknya. Levi-Strauss melalui pendekatan strukturalnya terhadap mitos sebagai salah satu fenomena budaya menganggap bahwa dia telah berhasil, tidak hanya dalam mengungkapkan makna-makna –dalam pengertian simbolis dan semiotis– tetapi juga berhasil mengungkapkan logika yang ada di balik fenomena mitos (Ahimsa-Putra, 1997:2).
Seorang peneliti budaya menurut Levi-Strauss, di samping menggeneralisasikan konsep, juga mempelajari struktur yang ada di balik ide manusia, seperti ahli bahasa yang mempelajari struktur bahasa, mencari logika di balik fenomena budaya. Hal ini berlandaskan pada asumsi bahwa kenyataan yang sebenarnya berada di balik kenyataan yang empiris karena kenyataan yang sebenarnya tidak dapat ditangkap secara inderawi. Di balik kenyataan empiris terdapat struktur yang melatarbelakanginya.
Disadari bahwa aktivitas masyarakat yang terlihat tampil sebagai kenyataan empiris, namun tanpa disadari masyarakat dalam beraktivitas dibatasi dengan aturan-aturan tertentu yang mengatur aktivitas itu. Aturan-aturan ini oleh Levi-Strauss disebut sebagai struktur yang berada pada tingkat kognitif atau merupakan model dari cara berfikir manusia yang dianggap mendasar dan universal (Strauss, 1978). Model atau analogi yang digunakan oleh Levi-Strauss berasal dari bahasa. Levi-Levi-Strauss menganut pandangan bahwa kebudayaan itu seperti bahasa, bukan seperti organisme seperti yang terkandung dalam fungsionalisme Durkheim. Perbedaan model inilah yang membuat strukturalisme Levi-Strauss tidak sama dengan fungsionalisme (Ahimsa-Putra, 2008: xxv).
Pemahaman mengenai aturan-aturan itu didasari oleh pemahaman mengenai bahasa yang dilakukan oleh linguist. Bahasa adalah kode komunikasi simbolis berupa seperangkat simbol dan seperangkat aturan (tata bahasa) untuk membentuk pesan
Saussure (1954: 65-66) dan Noth (1995: 60) mengatakan bahwa satuan dasar bahasa adalah tanda (sign) yang terdiri atas dua komponen yang tidak dapat dipisahkan, yaitu penanda dan petanda (signifiant dan signifie atau signifier dan
signified). Penanda (signifiant) adalah komponen bunyi atau akustik yang
menandakan, sedangkan petanda (signifie) adalah komponen mental atau konseptual dari yang ditandakan. Apabila penanda merupakan aspek material bahasa maka petanda adalah pengertian yang muncul dalam pikiran penutur atau pendengar pada saat penanda dituturkan.
Teori Saussure ini sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum. Oleh karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam penerapan teorinya dalam kajian terhadap sastra (semiotik), meminjam dari istilah-istilah dan model-model linguistik. Bahasa sebagai sistem tanda memiliki dua unsur yang tidak terpisahkan, yaitu signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Misalnya, bunyi /sepeda/, yang jika dituliskan berupa rangkaian huruf (atau lambang fonem): s-e-p-e-d-a, dapat menyaran pada makna tertentu, (sepeda!) yang tampak secara nyata. Bunyi atau tulisan “sepeda” itulah yang disebut penanda, sedangkan sesuatu yang diacu itulah petanda. Menurut Saussure, keduanya dapat disebut dwitunggal yang berhubungan secara arbitrer (mana suka).
Salah satu prinsip penting dalam analisis struktural adalah melihat sesuatu dalam konteks yang lebih luas, yakni dalam konteks relasi sintagmatik dan paradigmatik. Dalam analisis struktural atas fonem, suatu fonem tidak dilihat sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri, tetapi dilihat dalam konteks relasi. Suatu fonem sebenarnya merupakan kumpulan dari ciri pembeda, dan ciri pembeda sebuah fonem hanya dapat diketahui jika ia ditempatkan dalam sebuah konteks, atau suatu jaringan relasi, dengan fonem-fonem yang lain dalam suatu bahasa. Demikian juga halnya dengan tanda-tanda atau simbol. Maknanya tergantung pada relasi dengan fenomena lain yang setara (Ahimsa dalam Paz, 1997).
Dalam penelitian ini, pengertian struktur lebih ditekankan pada konsep struktur yang kedua, yakni struktur sebagaimana dipahami oleh Levi-Strauss, yaitu struktur yang dipandang sebagai konsep cara berpikir akal manusia yang dianggapnya elementer dan yang karena itu bersifat universal. Alasan pemilihan struktur pada konsep yang kedua karena kajian struktural dalam penelitian ini tidak dapat dilepaskan dari konteks kelisanan dan masyarakat pemilik sastra lisan pidato adat tersebut. Kajian struktural, khususnya yang terkait dengan aspek-aspek kelisanan pidato adat harus membawa serta hal-hal yang disebut Lord (1976) dengan istilah formula; atau Sweeney (1973) menyebutnya dengan schematic
composition yang diambil dari konteks budaya atau tradisi masyarakat pemilik
sastra lisan tersebut. Oleh karena itu, kajian struktural terhadap sastra lisan pidato adat tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial masyarakatnya, yaitu masyarakat Minangkabau. Ini sejalan dengan pernyataan Teeuw (1983:61) bahwa analisis
struktural yang menekankan otonomi karya sastra memiliki beberapa kelemahan pokok, yaitu melepaskan diri dari situasi sejarah dan kerangka sosial budayanya.
Pradopo (1991:41) juga menegaskan bahwa karya sastra merupakan hasil ciptaan pengarang, dimana pengarang sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, karya sastra tidak lahir dalam kekosongan sehingga selalu berada dalam situasi kesejarahan dan kerangka sosial budaya. Oleh sebab itu, untuk menginterpretasikan makna karya sastra tidak dapat tercapai sepenuhnya tanpa mengikutsertakan aspek kemasyarakatan. Analisis struktural dalam kajian ini tidak dapat dilepaskan dari konteks kelisanan sehingga analisis struktural terhadap pidato adat dimaksudkan sebagai kajian struktural terhadap pidato adat sebagai sastra lisan.
Akhirnya, diperlukan suatu cara untuk mengintegrasikan penilaian dalam pendekatan struktural yang menganggap teks sebagai satu koherensi, kebulatan makna, dan keseluruhan struktur ke dalam satu pendekatan historis yang sinkronik dan diakronik. Sastra sebagai sistem tanda, menempatkan karya sastra pada pusat tanpa melepaskannya dari latar belakang sosial budaya. Oleh sebab itu, gagasan dasar teori struktural dalam konsep yang pertama (dalam studi sastra) tidak diabaikan sepenuhnya dalam penelitian ini, tetapi dikembangkan lebih luas. Kecenderungan suatu teks ke arah sebuah tanda yang otonom dikurangi.
Dari sudut pandang struktural, penelitian ini memandang karya sastra sebagai suatu proses komunikasi, sebagai suatu dialog terus-menerus antara pengarang (penampil sastra lisan) dan pembaca (pendengar atau penonton). Tanda tekstual mempertahankan kemerdekaannya dengan perhatian pada proses
komunikasi. Meskipun posisinya dalam proses komunikasi adalah sentral dan merdeka, teks kehilangan karakter absolutnya, yakni konstruksi formal yang ditetapkan selamanya (Segers, 1978: 35-36).
Proses komunikasi antara pengarang (dalam hal ini penutur) dan pembaca (dalam konteks ini penonton) dapat dipahami melalui pembacaan karya sastra sebagai artefak dan objek estetik. Artefak merupakan dasar material objek estetik. Objek estetik merupakan representasi artefak dalam pikiran pembaca (penonton) atau dalam apa yang disebut kesadaran kolektif, yang dalam satu ruang kesadaran sekelompok manusia dapat disistematisasikan. Dengan demikian, karya sastra sebagai artefak memilki nilai potensial. Pembentukan objek estetik oleh pembaca (penonton) disebut konkretisasi (Ingarden dalam Segers, 1978:36-37).
Proses komunikasi pengarang (penutur) dan pembaca (pendengar) dibina dan ditentukan oleh kode. Kode yang dipilih pengarang (penutur) dan diketahui atau sebahagian diketahui pembaca memungkinkan pembaca (pendengar) untuk mengkodekan kembali tanda-tanda tekstual dan mengaitkan makna dengan materi teks (Segers, 1978:24). Karya sastra merupakan aktualisasi seperangkat konvensi. Kepentingan konvensi bagi sebuah karya sastra adalah untuk dapat dikenali oleh pembaca (pendengar). Gejala ini dimanfaatkan oleh pengarang (penutur). Pemilihan konvensi sastra tertentu merupakan pengarahan oleh pengarang kepada pembaca (pendengar). Penggunaan konvensi yang berkenaan dengan pembaca (pendengar) diharapkan dapat menangkap makna teks seperti yang dimaksud. Akan tetapi, diingat pula bahwa horizon harapan pengarang (penutur) tidak selalu sama dengan horizon harapan pembaca (pendengar). Walaupun demikian,
pemenuhan dan pemberontakan terhadap konvensi merupakan bagian dari proses komunikasi antara pengarang (penutur) dengan pembaca (pendengar) (Chamamah-Soeratno, 1991: 17). Hal terpenting adalah kode yang dibuat pengarang (penutur) dapat dipahami penikmat (pendengar) (Abdullah, 1991: 12).
Pidato adat adalah salah satu hasil kesusasteraan (lisan) Minangkabau. Ada beberapa bentuk atau ragam hasil kesusasteraan Minangkabau, jika disesuaikan dengan pembagian genre kesusasteraan pada umumnya. Pada genre puisi, dikenal bentuk pantun, talibun, pepatah dan petitih; pada genre prosa ditemukan bentuk kaba, pidato adat, tambo, cerita rakyat; dan pada genre drama ditemukan naskah randai. Pidato adat sebagai suatu genre sastra lisan Minangkabau dibangun oleh unsur-unsur yang saling berkaitan dan berjalin erat satu sama lain.
Bangunan pidato adat terdiri dari rangkaian kalimat, frasa, kata, pantun, talibun dan juga bagian-bagian yang bersifat prosais. Jalinan dari berbagai kalimat, frasa, dan kata, serta pantun, pepatah, petitih dan juga unsur-unsur yang bersifat prosais membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain. Artinya, pidato adat baru dapat dipahami bila dilihat dalam kesalinghubungan antarunsur yang membangun strukur pidato adat tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Hawkes (1978:17-18) bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang berjalinan erat. Unsur-unsur yang membangun struktur tidak mempunyai makna sendiri bila terlepas dari unsur yang lainnya. Masing-masing unsur dapat bermakna bila dilihat dalam relasinya dengan unsur-unsur yang lain. Di dalam keseluruhan struktur, suatu unsur memiliki kegunaan sebagai pendukung terhadap makna
bagian yang lain. Demikian juga sebaliknya, bagian-bagian tersebut dengan sendirinya menduduki fungsi sebagai pendukung terhadap unsur yang lain.
Teks pidato adat yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini, dibangun oleh percampuran genre puisi dan prosa. Percampuran kedua genre menyebabkan sifat teks pidato adat tidak sepenuhnya naratif. Artinya, secara tekstual perwajahannya tidak berwujud naratif yang menghadirkan tokoh dan penokohan, alur, setting, dan klimaks. Akan tetapi, teks pidato adat termasuk ke dalam kategori prosa liris karena ada unsur penceritaan atau pengisahan, walaupun tanpa kehadiran tokoh. Secara perwajahan, teks pidato adat tersusun atas baris-baris yang mirip puisi panjang dan bercampur dengan pantun-pantun.
Pidato adat sebagai salah satu bagian dari kekayaan khasanah sastra Minangkabau, yang secara wujud tidak sepenuhnya naratif, termasuk kedalam kategori teks sastra lisan, karena sebagaimana dinyatakan oleh Zaimar (dalam Pudentia, 2008: 321), sastra lisan tidak mesti selalu bersifat naratif. Teks-teks yang tidak tertulis dan tidak berbentuk naratifpun dapat dipandang sebagai teks sastra lisan, contohnya teks lagu-lagu, teka-teki, humor, jampi-jampi dukun pada waktu mengobati orang sakit dan lain-lain. Dengan demikian, teks pidato adat yang menjadi objek material penelitian ini pun termasuk ke dalam teks sastra lisan.
Berdasarkan hakekatnya sebagai teks sastra lisan, maka harus dilihat aspek-aspek yang melekat pada dirinya sebagai teks sastra lisan. Beberapa aspek teks sastra lisan yang penting untuk diamati menurut Finnegan (dalam Pudentia, 2008: 321) adalah aspek komposisi, cara penyampaian, dan cara pertunjukan
teks-teks sastra lisan tersebut. Ketiga aspek ini penting diteliti dalam rangka memahami struktur teks pidato adat sebelum dilanjutkan ke tahap penafsiran makna teks pidato adat.
Hal yang juga penting dikaji berkenaan dengan struktur teks sastra lisan adalah formula. Konsep formula pertama kali dikemukakan oleh Milman Parry13 dan dikembangkan lebih lanjut oleh Albert B. Lord. (Parry dalam Lord, 1976). Pengkajian terhadap epos-epos Homerus membuatnya menyimpulkan bahwa terdapat pemanfaatan dan penggalian kekayaan tradisi lisan sezaman epos Homerus dalam penciptaan karya-karya Homerus. Kekayaan tradisi lisan itu telah menyediakan formula-formula tertentu yang dipakai dalam menciptakan epos. Formula itu adalah suatu kekayaan tradisi yang sudah siap pakai. Persediaan formula ini oleh Parry dan Lord disebut sebagai stock-in-trade seorang guslar (penyanyi), yang sekaligus menjadi modalnya. Akan tetapi, seorang guslar memiliki kemungkinan variasi yang jauh lebih besar dari pada yang terdapat dalam karya-karya Homerus.
Lord mendefinisikan formula sebagai kata atau kelompok kata yang secara teratur digunakan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan ide tertentu yang hakiki. Ekspresi formulaik didefinisikan Lord sebagai larik atau setengah larik yang disusun sesuai dengan pola formula.
13
Studi Milmand Parry dilanjutkan dan dibukukan oleh muridnya Albert B. Lord. Parry meninggal dunia sebelum studinya selesai dan berhasil dipublikasikan. Albert B. Lord menuliskan studi Milmand Parry dalam buku yang diterbitkan Lord dengan judul The Singer of Tales (1960).
1.5.2 Semiologi
Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi (Littlejohn, 1996: 64). Manusia dengan perantaraan tanda-tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya (Sobur, 2006: 15). Semiotika adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang dipakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Eco (1979: 4-5) menyatakan bahwa tanda dapat dipergunakan untuk menyatakan kebenaran sekaligus kebohongan. Semiotika menurut Eco adalah disiplin ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mendustai, mengelabui, atau mengecoh.
Penelitian yang akan dilakukan ini juga menggunakan teori semiologi. Ada dua istilah yang dikenal, yaitu semiotik dan semiologi. Istilah yang dipakai dalam penelitian ini adalah semiologi. Alasannya, konsep-konsep dan kerangka teoretis yang dipakai dalam penelitian ini mengacu kepada pemikiran Barthes. Barthes memakai istilah semiologi dalam bukunya Mythologies (1993). Kedua istilah itu tidak dipersoalkan perbedaannya dalam usulan penelitian ini. Akan tetapi, paling tidak, perbedaan kedua istilah itu mencerminkan perumusnya dan orientasi yang berbeda. Istilah semiotik dirumuskan oleh Charles Sanders Pierce (1839-1914), seorang ahli filsafat, sedangkan yang satunya oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), seorang ahli linguistik. Kajian semiotik yang dikembangkan oleh Pierce sering disebut sebagai analytical semiotics, sedangkan oleh Saussure disebut
structural semiotics. Keputusan Barthes memilih istilah semiologi, serta merta
Alasan penulis menggunakan teori semiologi yang dikemukakan oleh Roland Barthes sebagai pisau analisis yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah karena teori semiologi Barthes dipandang akan mampu mengungkapkan jawaban-jawaban permasalahan yang ingin dilacak dalam penelitian ini. Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa penelitian ini difokuskan pada