• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka

B. Landasan Teori 1. Persediaan

Persediaan merupakan barang yang disimpan untuk kemudian dijual dalam bisnis perusahaan. Persediaan sendiri memiliki peran yang sangat penting bagi perusahaan dalam hal mempermudah atau memperlancar jalannya operasi perusahaan.

No Nama

Peneliti

Judul Penelitian Metode Penelitian

EOQ Min-Max Stock

DSS Fishbone Klasifikasi ABC 5 Salam, dkk

(2018)

Pengendalian Persediaan Bahan Baku menggunakan Metode Min-Max Stock pada Perusahaan Konveksi Gober Indo

6 Wali (2019) Application Optimizing the Placement of Sfety Stock ABC Dan Optimalisasi Pengendalian Persediaan Bahan Baku Menggunakan Metode Min-Max Stock

 

Menurut Handoko (1994) dalam Vantrica (2017) persediaan adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atas sumber daya- sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Sedangkan menurut Prawirosentono (2009) dalam Topowijono (2016) persediaan adalah kekayaan lancar yang terdapat dalam perusahaan dalam bentuk persediaan bahan mentah (bahan baku/ raw material), barang setengah jadi (work in process), dan barang jadi (finish goods). Berdasarkan pemaparan dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa persediaan merupakan kekayaan perusahaan yang berupa bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi. Pada proses produksi, persediaan bahan baku berperan penting untuk mempermudah atau memperlancar jalannya proses produksi.

2. Jenis-jenis Persediaan

Dilihat dari fungsinya persediaan menurut Sofjan Assauri (2008) dalam Riani, dkk (2016) adalah sebagai berikut:

a. Persediaan bahan baku (Raw Material Stock) yaitu persediaan barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang-barang dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun dibeli dari supplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang menggunakannya.

b. Persediaan bagian produk yang dibeli (Purchased Components Stock) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri atas partus yang diterima

dari perusahaan lain, yang secara langsung di Assembling dengan partus lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya.

c. Persediaan bahan pembantu (Supplies Stock) yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi.

d. Persediaan barang setengah jadi (Work In Process/ Progres Stock) yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi.

e. Persediaan barang jadi (Finish Good Stock) yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain.

3. Bahan Baku

Kelancaran dari proses produksi sangat ditentukan oleh tersedianya bahan baku dalam jumlah dan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Bahan baku merupakan bahan yang digunakan oleh perusahaan untuk diolah menjadi bagian dari suatu produk. Proses produksi akan mengalami keterlambatan apabila bahan baku dalam suatu perusahaan tidak cukup tersedia.

Menurut Baroto (2002) dalam Renta, dkk (2013) bahan baku adalah barang-barang yang terwujud seperti tembakau, kertas, plastik, ataupun

bahan-bahan lainnya yang diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari pemasok, atau diolah sendiri oleh perusahaan untuk digunakan perusahaan dalam proses produksinya sendiri.

4. Perishable Product

Persediaan merupakan salah satu faktor penting bagi suatu perusahaan karena berkaitan dengan besarnya biaya yang ada di dalamnya. Produk-produk tertentu seperti makanan, minuman, dan obat-obatan memiliki waktu kadaluwarsa yang harus diperhatikan karena hal ini berkaitan dengan nilai dari barang tersebut. Barang-barang yang memiliki waktu kadaluwarsa atau memiliki tenggang waktu disebut perishable products.

Perishable adalah produk yang mengalami penurunan kualitas sepanjang umur produk (Chen, dkk (2018) dalam Kartika (2019)). Menurut Tersine (1994) dalam Parwati, dkk (2016) perishable goods merupakan produk atau barang atau bahan baku yang memiliki daur hidup pendek.

5. Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Persediaan akan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, namun perusahaan tetap hati-hati dalam menentukan kebijakan persediaan.

Persediaan membutuhkan biaya investasi dan dalam hal ini menjadi tugas bagi manajemen untuk menentukan investasi yang optimal dalam persediaan. Pada proses produksi, persediaan bahan baku berperan untuk mempermudah atau memperlancar jalannya proses produksi perusahaan.

Karena perannya yang sangat penting tersebut, persediaan haru direncanakan dan dikendalikan dengan baik. Menurut Suryadi

Prawirosentono (2001) dalam Maharani (2015) perencanaan dan pengendalian bahan baku adalah suatu kegiatan memperkirakan kebutuhan persediaan bahan baku, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pengendalian persediaan merupakan kegiatan inti dari proses persediaan, karena kegiatan ini mengupayakan ketersediaan bahan baku yang cukup, tidak kekurangan, tidak berlebihan dan sesuai dengan kebutuhan. Dalam perusahaan apabila persediaan yang terlalu banyak (over stock) dapat menyebabkan peningkatan biaya simpan dan biaya perawatan oleh perusahaan, hal ini dapat mengurangi efisiensi biaya perusahaan.

Sebaliknya, jika persediaan kurang atau bahkan kosong (out of stock) mempengaruhi kegiatan proses produksi menjadi kurang lancar.

Menurut Mahfud (2012) dalam Topowijono (2016) untuk melakukan perencanaan dan pengendalian persediaan terdapat beberapa faktor yaitu : a. Inventory turnover merupakan frekuensi perputaran persediaan yang

telah digantikan selama waktu tertentu.

b. Lead Time adalah interval waktu antara waktu pemesanan dan diterimanya pesanan persediaan dari pemasok.

c. Costumer service level merupakan layanan yang diberikan kepada pelanggan yang mengacu pada persentase dari pesanan berdasar tanggal tertentu yang telah disetujui.

d. Stock out cost adalah biaya atas kekurangan persediaan yang terjadi ketika permintaan melebihi tingkat persediaan yang dimiliki perusahaan.

e. Cost of inventory meliputi biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya pembayaran.

6. Analisis Klasifikasi ABC

Analisis ABC adalah metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan barang berdasarkan peringkat atau urutan nilai dari nilai yang tertinggi hingga nilai yang terendah, dan terbagi menjadi tiga kelompok yang disebut kelompok A, kelompok B dan kelompok C. Berdasarkan hukum Pareto, analisis ABC dapat menggolongkan barang berdasarkan peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan kemudian dibagi menjadi kelas-kelas yang biasanya dinamai kelas A, B, C. Menurut Gasper (2005) dalam Afianti (2017) klasifikasi ABC merupakan klasifikasi dari suatu kelompok material dalam susunan menurun berdasarkan biaya penggunaan material itu per periode waktu yaitu harga per unit material dikalikan volume penggunaan dari material itu selama periode tertentu, periode waktu yang umum digunakan dalam analisa ABC adalah satu tahun. Metode analisis Pareto ABC dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal yaitu analisis pakai, analisis investasi, dan analisis kritis (Harjono (2010) dalam Nurwulndari (2013)). Menurut Schroeder (2010) dalam Wahyuni (2015) Analisis ABC membagi persediaan menjadi tiga kelas berdasarkan besarnya nilai (value) yang dihasilkan oleh persediaan tersebut. Menurut Haizer dan Render (2010) dalam Junaidi (2019) metode analisis ABC merupakan metode yang berguna dalam memfokuskan perhatian manajemen penentuan jenis barang yang paling penting dan perlu diprioritaskan dalam persediaan.

Berdasarkan prinsip Pareto, barang dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori (Bahagia, 2006) sebagai berikut:

a. Kategori A terdiri dari jenis barang yang menyerap dana sekitar 80% dari seluruh modal yang disediakan untuk inventor dan jumlah jenis barang sekitar 20% dari semua jenis barang yang dikelola.

b. Kategori B terdiri dari jenis barang yang menyerap dana sekitar 15% dari seluruh modal yang disediakan untuk inventor (sesudah kategori A) dan jumlah jenis barang sekitar 30% dari semua jenis barang yang dikelola.

c. Kategori C terdiri dari jenis barang yang menyerap dana sekitar 5% dari seluruh modal yang disediakan untuk inventor (yang tidak termasuk kategori A dan B) dan jumlah jenis barang sekitar 50% dari semua jenis barang yang dikelola.

Analisis ABC berdasarkan nilai investasi dapat diketahui bahan baku mana saja yang memiliki nilai investasi yang tinggi, sedang, atau rendah.

Pemilihan barang atas nilai investasi dari beberapa kategori dilakukan dengan cara sebagai berikut (Bahagia, 2006):

a. Hitung jumlah penyerapan dana untuk setiap jenis barang per tahun (Mi) yaitu dengan mengalikan antara jumlah pemakaian tiap jenis barang per tahun (Di) dengan harga satuan barang (pi), secara matematis dapat dinyatakan:

Mi = Di ×pi ... (1) b. Hitung jumlah total penyerapan dana untuk semua jenis barang.

M = ∑𝑀𝑖 ... (2)

c. Hitung persentase penyerapan dana untuk setiap jenis barang (Pi) Pi = Mi/M × 100% ... (3) d. Hitung persentase setiap jenis item:

Ii = 1/N × 100% ; di mana N jumlah jenis item barang ... (4) e. Urutkan persentase penyerapan dana sesuai dengan urutan besarnya

persentase penyerapan dana, dimulai dari persentase penyerapan dana terbesar sampai yang terkecil.

f. Hitunglah nilai kumulatif persentase penyerapan dana dan nilai kumulatif persentase jenis barang berdasarkan urutan.

g. Tentukan kategori barang berdasarkan prinsip pareto.

Analisis ABC berdasarkan persentase jumlah pemakaian dapat diketahui bahan baku mana saja yang memiliki tingkat perputaran yang tinggi, sedang, atau rendah. Menentukan klasifikasi ABC berdasarkan nilai pakai/ jumlah pemakaian barang dilakukan dengan prinsip pareto (Russel &

Taylor (2011) dalam Hudori (2017)) sebagai berikut:

a. Tentukan barang.

b. Tentukan jumlah pemakaian barang.

c. Urutkan barang berdasarkan jumlah pemakaian dari nilai yang terbesar hingga nilai yang terkecil.

d. Hitung total pemakaian suruh barang.

TPM = ∑ JPM...(5) TPM = Total pemakaian seluruh barang

JPM = Jumlah pemakaian setiap barang

e. Hitung persentase pemakaian pada setiap barang terhadap total pemakaian.

PPM = (𝐽𝑃𝑀

𝑇𝑃𝑀) × 100% ...(6) PPM = Persentase pemakaian barang

f. Hitung persentase kumulatif pemakaian pada setiap jenis barang.

KPMj = KPMj-1 + PPMj ...(7) KPM = Persentase kumulatif pemakaian barang

j = Nomor urut barang berdasar hasil pengurutan g. Tentukan klasifikasi barang berdasarkan kriteria berikut:

1) Klasifikasi A adalah seluruh barang yang memiliki persentase kumulatif pemakaian ≤ 80%.

2) Klasifikasi B adalah seluruh barang yang memiliki persentase kumulatif pemakaian antara 80% hingga 95%.

3) Klasifikasi C adalah seluruh barang yang memiliki persentase kumulatif pemakaian > 95%.

7. Safety Stock

Safety Stock atau persediaan pengaman merupakan persediaan barang yang diadakan sebagai cadangan jika pemesanan barang datang lebih lama dari waktu tunggu (lead time). Dengan adanya safety stock maka perusahaan dapat meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan karena adanya kedatangan bahan baku yang yang tidak pasti yang akhirnya dapat menyebabkan bahan baku stock out atau habis.

Menurut Fien Zulfikarijah (2005) dalam Renta (2013) persediaan pengaman (safety stock) adalah persediaan tambahan yang tujuannya adalah untuk meminimalkan terjadinya stock out (kehabisan persediaan) dan mengurangi penambahan biaya penyimpanan dan biaya stock out.

Stock out atau persediaan habis disebabkan oleh beberapa faktor yaitu demand yang tidak menentu, forecast yang tidak akurat, lead time yang bervariasi. Dalam industri manufaktur harus memiliki jumlah bahan baku yang selalu tersedia untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Oleh karena itu untuk kelancaran dalam proses produksi, perusahaan harus menentukan besarnya Safety stock secara tepat.

8. Metode Min-Max Stock

Metode Min-Max merupakan metode yang digunakan untuk menentukan jumlah persediaan minimum dan maksimum yang ada di storage. Metode ini dilakukan dengan mengendalikan jumlah minimum dan jumlah maksimum persediaan dengan mengatur rencana pemesanan persediaan (plan order) agar tidak terjadi kekurangan (stock out) atau kelebihan persediaan (over stock)

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2004) dalam Prabawa, dkk (2018) metode Min-Max metode dengan konsep persediaan minimum dan maksimum tidak berdasarkan perhitungan secara berkala tetap, tetapi dapat dilakukan setiap waktu, dengan konsep titik pemesanan kembali atau re order point dan memperhitungkan persediaan pengaman. Cara kerja metode Min-Max berdasarkan Fadillah, dkk (2008) dalam Rizky, dkk (2016) yaitu:

Apabila persediaan telah melewati batas-batas minimum dan mendekati batas Safety Stock, maka Re Order harus dilakukan, jadi batas minimum adalah batas Re Order Level, betas maksimum adalah batas kesediaan perusahaan atau manajemen menginvestasikan uangnya dalam bentuk persediaan bahan baku.

Pengendalian persediaan menggunakan metode min-max stock (Kinanthi, 2016) meliputi beberapa tahapan yaitu:

a. Menentukan Persediaan Pengaman (Safety Stock). Safety stock atau persediaan pengaman adalah persediaan ekstra yang perlu ditambah untuk menjaga sewaktu-waktu ada tambahan kebutuhan atau keterlambatan kedatangan barang.

b. Menentukan Persediaan Minimum (Minimum Inventory). Minimum Inventory adalah saat atau titik di mana pemesanan kembali harus diadakan sehingga kedatangan atau penerimaan bahan tepat pada waktunya di mana jumlah persediaan sama dengan Safety stock. Dalam metode persediaan yang lain, minimum stock biasanya disebut dengan Re Order Point.

c. Menentukan Persediaan Maksimum (Maximum Inventory). Maximum Inventory adalah jumlah maksimum yang diperbolehkan untuk disimpan dalam persediaan.

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2005) dalam Ariesty (2016) perhitungan metode Min-Max adalah sebagai berikut:

a. Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Safety Stock adalah persediaan ekstra yang perlu ditambah untuk menjaga sewaktu-waktu ada tambahan kebutuhan atau keterlambatan kedatangan barang.

Safety Stock = (Pemakaian maksimum – T) × C ... (8) Keterangan:

T = Pemakaian barang rata-rata per periode C = Lead Time

b. Persediaan Minimum (Minimum Inventory) = Re Order Point (ROP) Minimum Inventory adalah saat atau titik di mana pemesanan kembali harus diadakan sehingga kedatangan atau penerimaan bahan tepat pada waktunya. Dalam metode persediaan lain, minimum inventory biasanya disebut dengan Re Order Point.

Minimum Inventory = (T × C) + S ... (9) Keterangan:

T = Pemakaian rata-rata per periode C = Lead Time

S = Safety Stock

c. Persediaan Maksimum (Maximum Inventory)

Maximum Inventory adalah jumlah maksimum yang diperbolehkan disimpan dalam persediaan.

Maximum Inventory = 2 × (T × C) ... (10) Keterangan:

T = Pemakaian rata-rata per periode C = Lead Time

d. Jumlah Pemesanan Kembali

Jumlah pemesanan kembali adalah jumlah yang perlu dipesan untuk pengisian persediaan kembali.

Q = Max – Min ... (11) Keterangan:

Q = Tingkat pemesanan persediaan kembali Max = Persediaan Maksimum

Min = Persediaan Minimum

22 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait