TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori 1. Persediaan
Persediaan (inventory) merupakan suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan (Handoko, 1994). Menurut Alexandri (2009), persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang milik perusahaan dengan tujuan untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam proses produksi. Persediaan terdiri dari simpanan bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi dan kemudian dijual ke konsumen.
Berikut merupakan fungsi-fungsi persediaan (Handoko, 1994) : 1. Fungsi Decoupling
Fungsi persediaan yaitu memungkinkan operasi-operasi perusahaan internal dan eksternal mempunyai kebebasan. Persediaan decouples ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa bergantung pada pemasok.
2. Fungsi Economic Lot Sizing
Melalui penyimpanan persediaan, perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber daya dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit.
II-2
Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan biaya penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko dan sebagainya).
3. Fungsi Antisipasi
Perusahaan sering mengalami fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau histori data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories).
2.1.2. Manfaat Persediaan
Persediaan yang diadakan mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi. Adapaun manfaat dari persediaan adalah sebagai berikut. (Rangkuti, 2007) : 1. Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang
dibutuhkan perusahaan
2. Menghilangkan risiko dari materi yang dipesan berkualitas tidak baik sehingga harus dikembalikan
3. Mengantisipasi bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada di pasaran
4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi
5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal
II-3
6. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi dengan memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut
7. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaan atau penjualannya
Terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh perusahaan jika memiliki persediaan, antara lain (Kasmir,2010) :
1. Perusahaan dapat memenuhi kebutuhan untuk bahan proses produksi secara tepat karena tersedianya bahan baku yang dibutuhkan
2. Digunakan untuk berjaga-jaga terhadap kenaikan harga bahan baku yang dapat mempengaruhi harga jual
3. Mengantisipasi terhadap kekurangan atau kelangkaan bahan baku 4. Tersedianya bahan baku dapat memenuhi pesanan secara cepat dan 5. Mampu mengatur alokasi dana untuk berbagai kebutuhan lainnya
2.1.3. Jenis-Jenis Persediaan
Terdapat beberapa jenis persediaan sebagai berikut (Keown, 2010) : 1. Persediaan bahan mentah
Persediaan ini terdiri dari bahan baku yang dibeli dari perusahaan lain untuk digunakan dalam operasi produksi perusahan
2. Persediaan barang setengah jadi (Work-in-process)
Jenis persediaan ini mencakup barang setengah jadi yang membutuhkan proses tambahan sebelum menjadi barang jadi
II-4
3. Persediaan barang jadi
Persediaan barang jadi mencakup barang yang telah selesai proses produksinya tetapi belum dijual
2.1.4. Biaya-Biaya Persediaan
Biaya-biaya variable yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi jumlah persediaan adalah sebagai berikut (Handoko,1996) :
1. Biaya Penyimpanan (Holding Costs)
Terdiri dari biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah:
a. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan seperti penerangan, pemanas atau pendingin
b. Biaya modal c. Biaya keusangan
d. Biaya asuransi persediaan e. Biaya pajak
f. Biaya penanganan persediaan dan sebagainya 2. Biaya Pemesanan
Dalam melakukan pemesan bahan, perusahaan menanggung biaya pemesanan (order costs). Biaya-biaya pemesanan secara terperinci meliputi:
II-5
a. Pemrosesan pesanan b. Upah
c. Biaya telepon
d. Pengeluaran surat menyurat e. Biaya bongkar
f. Biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan g. Biaya hutang lancar dan sebagainya 3. Biaya Penyiapan (Manufacturing)
Apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri dalam pabrik perusahaan maka perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs) untuk memproduksi komponen tertentu.
4. Biaya Kehabisan atau Kekurangan Bahan
Dari semua biaya-biaya yang berhubungan dengan tingkat persediaan, biaya kekurangan bahan (shortage costs) merupakan yang paling sulit diperkirakan.
Biaya ini timbul apabila persediaan tidak mencukupi untuk melakukan proses produksi. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut:
a. Kehilangan penjualan b. Biaya pemesanan khusus c. Selisih harga
d. Terganggunya operasi
e. Tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya
II-6
2.1.5. Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan merupakan sistem yang digunakan perusahaan sebagai laporan untuk manajemen puncak maupun manajer persediaan sebagai alat ukur kinerja persediaan dan dapat digunakan dalam membantu membuat kebijakan persediaan, seperti menjaga perusahaan agar tidak kehabisan persediaan yang akan mengakibatkan kehilangan pendapatan serta laba usaha. Jika perusahaan tidak memiliki persediaan barang dan tidak dapat memenuhi pesanan pelanggan pada saat yang tepat, maka pembeli akan berpindah ke perusahaan lain.
2.1.6. Model-Model Persediaan 2.1.6.1.Model Deterministik
Model deterministik adalah model yang menganggap semua variabel telah diketahui dengan pasti. Model deterministik dapat dibagi menjadi dua karakteristik yaitu sebagai berikut :
1. Deterministik statis
Pada model deterministik statis, permintaan diketahui dengan pasti atau total permintaan unit pada setiap periode waktu adalah diketahui dan konstan serta laju permintaan adalah sama untuk setiap periode
2. Deterministik dinamis
Dalam model ini permintaan untuk setiap periode diketahui dan konstan, tetapi laju permintaan dapat bervariasi dari satu periode ke periode lainnya.
Permintaan dalam model persediaan sederhana bersifat deterministik atau pasti, dengan pola yang berubah pada tiap periode dan penyelesaian
II-7
menggunakan teknik-teknik yang berbeda pada tiap inventori. Ketika permintaan bervariasi maka diperlukan horizon perencanaan untuk menganalisis setiap kegiatan yang dilakukan untuk perkembangan yang lebih lanjut. Pengisian kembali persediaan yang telah habis harus mulai diterapkan dengan dinamis karena program statis tidak dapat memberikan solusi pada masalah yang diterapkan.
2.1.6.2.Model Probabilistik
Model pengendalian probabilistik digunakan apabila salah satu dari permintaan, lead time atau keduanya tidak dapat diketahui dengan pasti. Suatu hal yang harus diperhatikan dalam model ini adalah adanya kemungkinan stock out atau over stock yang timbul karena pemakaian persediaan bahan baku yang tidak diharapkan atau karena waktu penerimaan yang lebih lama dari lead time yang diharapkan. Untuk menghindari kondisi tersebut maka perlu diadakan suatu fungsi persediaan pengaman yaitu suatu persediaan tambahan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya stock out.
Model ini dapat dibagi menjadi dua karakteristik yaitu sebagai berikut : 1. Probabilistik statis
Pada model ini, variabel permintaan bersifat random dan distribusi probabilistik dipengaruhi oleh waktu setiap periode.
2. Probabilistik dinamis
II-8
Model ini mirip dengan probabilistik statis, namun dengan pengecualian bahwa distribusi probabilitas permintaan dapat bervariasi dari satu periode ke periode lainnya.
2.1.7. Metode Continuous Review System
Menurut Verawaty, et.al. (2015) metode continous review merupakan metode yang mengendalikan tingkat persediaan dengan melakukan pemesanan kembali Ketika persediaan itu sudah mencapai titik reorder point atau dibawahnya yang dilakukan secara terus-menerus. Karakteristik sistem persediaan Continuous Review adalah jumlah barang yang dipesan saat pemesanan tetap. Pemesanan akan terus dilakukan hingga jumlah persediaan mencapai titik maksimum persediaan.
Keunggulan dari sistem continuous review yaitu persediaan akan selalu tersedia sehingga permintaan akan selalu terpenuhi dan barang yang disimpan relatif lebih sedikit. Langkah-langkah menggunakan metode continous review dalam memecahkan permasalahan adalah sebagai berikut (Pulungan dan Fatma, 2018) :
1. Menghitung total kebutuhan rata-rata menggunakan rumus:
X̅= ∑nXi
2. Menghitung standar deviasi
σ = √∑(Xi-X)2 n-1
3. Menentukan ukuran lot pemesanan (q01)
Menghitung nilai q01 awal dengan formula Wilson adalah sebagai berikut:
II-9
2. Menentukan besarnya nilai kekurangan persediaan (α) kemudian menentukan titik pemesanan kembali (r1)
α = hq01
cuD+hq01
𝑟1 = DL+Zα S√L Keterangan :
Cu = biaya kekurangan produk (Rp) Zα = deviasi normal
r1 = reorder point atau titik pemesanan kembali 4. Menghitung kembali nilai α dan r2
𝑟 2= DL+Zα S√L
II-10
Keterangan :
Zα = deviasi normal 5. Bandingkan nilai r1 dan r2
Bandingkan nilai r1 dan r2, jika harga relatif sama dengan r1 iterasi selesai dan akan diperoleh r1= r2 dan q1=q2. Jika tidak, kembali ke langkah 3 dengan menggantikan nilai r1= r2 dan q1=q2. (Sari, et.al., 2016)
Untuk menghitung total biaya persediaan menggunakan rumus sebagai berikut:
OT = Dp+AD qo +h (1
2qo+r-DL) + (CuDN qo )
2.1.8. Metode Periodic Review System
Pada metode periodic review system, persediaan diperiksa secara berkala (periodic) setiap satu jangka waktu tertentu dan panjang waktunya tidak berubah dari waktu ke waktu. Pemesanan kembali dilakukan dengan jumlah pemesanan yang berubah-ubah tetapi dengan jarak waktu yang tetap antara dua pemesanan yang berurutan. Metode periodic review adalah mengendalikan persediaan berdasarkan interval waktu (T). Pemesanan dilakukan dengan jumlah pemesanan (q) yang bervariasi dengan periode pemesanan tetap (Syamil, et.al., 2018).
Kelebihan dari periodic review system adalah pengelolaan persediaan tidak perlu dipantau secara terus menerus tetapi diperiksa dalam jangka waktu tertentu.
Hal tersebut disebabkan oleh ukuran pesanan (q) ditentukan berdasarkan ukuran persediaan maksimum (R) dikurangi dengan posisi persediaan pada saat dilakukan pemesanan. Langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut :
1. Menghitung nilai T
II-11
T =√2xA Dh Keterangan :
T = interval waktu antar pemesanan A = ongkos setiap kali pesan
D = jumlah permintaan H = holding cost 2. Menghitung α
α= T.hCu
Keterangan :
Cu = kekurangan biaya persediaan 2. Menghitung R (Persediaan maksimum)
Dimana nilai R mencakup kebutuhan selama (T+L) periode dan dinyatakan dengan:
R = D(T+L)+Zα√T+L Keterangan :
L = lead time
Zα = nilai Z pada distribusi normal standar untuk tingkat α 3. Menghitung kemungkinan terjadinya shortage (N)
N=S√T+L (F(Zα)-(Zαxψzα)) Keterangan :
S = standar deviasi F(Zα) = ordinat
II-12
𝜓 zα = ekspektasi parsial 4. Menghitung Ot Periodic Review
OT = Dp+A
T+h (R-DL+DT
2 )+ (CuN T )
Lead time atau waktu tunggu merupakan waktu yang diperlukan untuk menunggu mulai dari pemesanan dilakukan sampai dengan barang diterima.
(Wawan, 2007). Dalam masalah inventory, lead time yang digunakan adalah waktu dalam satuan horizon perencanaan. Dalam pemenuhan atau pengisian kembali persediaan terdapat suatu perbedaan waktu yang cukup lama antara saat mengadakan pesanan (order) untuk pengisian kembali persediaan dengan saat penerimaan barang-barang yang dipesan tersebut diterima dan dimasukkan ke dalam persediaan, perbedaan waktu inilah yang disebut sebagai lead time (Gaspersz, 2004).