• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORITIS

Dalam dokumen Vol.15 No.3 Juli 2014 (Halaman 42-44)

KHAIRIL ANWAR

LANDASAN TEORITIS

Inlasi yaitu kenaikan harga secara umum terus menerus dalam periode tertentu atau proses kenai- kan harga umum barang-barang secara terus me- nerus. Pendapat ini sudah menjadi umum dan da- pat dilihat pada (Boediono, 1985; Nopirin, 1987; ; dan Hera Susanti et al, 1990; Hasan, 2007). Kenaikan harga barang yang terjadi hanya sekali saja, meskipun dalam persentase yang cukup be- sar, bukanlah merupakan inlasi (Nopirin, 1987), terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian se- cara keseluruhan (Gunawan, 1991)

Inlasi menurut sifatnya digolongkan dalam tiga kategori (Nopirin, 1987), yaitu Inlasi Mer- ayap adalah kenaikan harga terjadi secara lam- bat, dengan persentase yang kecil dan dalam jangka waktu yang relatif lama (di bawah 10% per tahun). Inlasi Menengah kenaikan harga yang cukup besar dan kadang-kadang berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi. Inlasi Tinggi kenaikan harga yang be- sar bisa sampai 5 atau 6 kali.

Penyebab inlasi: a) Demand Pull Inlasion. In- lasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregat demand). Sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. b) Cost pust inlation. ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Jadi inlasi yang dibarengi dengan resesi. Keadaan ini timbul dim- ulai dengan adanya penurunan dalam penawaran total (agregat supply) sebagai akibat kenaikan bi- aya produksi.

Level inlasi: Inlasi ringan (dibawah 10% se- tahun), Inlasi sedang (antara 10%-30% setahun), Inlasi berat (antara 30%-100% setahun), Hiperin- lasi ( diatas 100% setahun ).

Teori-teori tentang inlasi: a) Teori kuantitas ini menyatakan bahwa proses inlasi itu terjadi ka- rena 2 hal, yaitu jumlah uang beredar dan psikolo- gi (harapan)masyarakat mengenai kenaikan har- ga-harga (expectations). Ada 2 hal penting dari teori Kuantitas ini, adalah bahwa, pertama, inlasi terjadi jika ada penambahan volume uang beredar. Kedua, inlasi oleh harapan masyarakat mengenai kenaikan harga di masa yang akan datang (Boe- diono, 1985). b) Teori Keynes ini menerangkan bahwa proses inlasi terjadi karena permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Hal ini yang disebut juga dengan inlationary gap. c) Teori Strukturalis lebih menekankan pada faktor-faktor struktural dari perekonomian yang menyebabkan terjadinya inlasi, teori ini disebut juga teori inla- si jangka panjang karena yang dimaksud dengan faktor-faktor struktural di sini adalah faktor-faktor yang hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka yang panjang.

Jumlah Uang Beredar (JUB)

Didalam menerangkan mengenai teori kuanti- tas, yang dilakukan oleh Irving Fisher digunakan persamaan aljabar yang dinamakan persamaan pertukaran. Persamaan pertukaran tersebut pada umumnya dinyatakan sebagai berikut :

MV = PT Dimana :

M = Jumlah Uang Beredar, V = Kelanjutan Peredaran Uang, P = Tingkat Harga-harga, dan

T = Jumlah Barang dan Jasa yang diperjual be- likan dalam suatu tahun tertentu.

Teori kuantitas uang Teori ini, yang dikem- bangkan oleh Irving Fisher mengatakan bahwa “pada hakikatnya berpendapat bahwa perubahan dalam jumlah uang beredar akan menimbulkan pe- rubahan yang sama cepatnya ke atas harga-harga”. Perubahan ini maksudnya jika uang yang beredar bertambah sebanyak lima persen, maka tingkat harga-harga juga akan bertambah sebanyak lima persen atau sebaliknya. Pandangan teori kuantitas yang demikian timbul sebagai akibat dari dua per-

misalan penting teori itu mengenai kenyatan yang wujud dalam perekonomian.

Tingkat Bunga menurut Nopirin (1996) ada- lah biaya yang harus di bayar oleh pemimjam atas pinjaman yang diterima dan merupakan imbalan bagi pemberi pinjaman atas investasinya. Suku bunga mempengaruhi keputusan individu ter- hadap pilihan membelanjakan uang lebih banyak atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan. Suku bunga juga merupakan sebuah harga yang menghubungkan masa kini dengan masa depan, sebagaimana harga lainnya maka tingkat suku bunga ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran (Suhedi, 2000).

Produk Domestik Bruto (PDB) dideinisikan oleh Sukirno (1994) sebagai nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksi oleh faktor- faktor produksi milik warga negara tersebut dan warga negara asing. Sedangkan Wijaya (1997) menyatakan bahwa PDB adalah nilai uang ber- dasarkan harga pasar dari semua barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh suatu pereko- nomian dalam suatu periode waktu tertentu bi- asanya satu tahun. Secara umum PDB dapat di- artikan sebagai nilai akhir barang-barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode tertentu (biasanya satu tahun).

Menurut pendekatan produksi, produk do- mestik bruto (PDB) adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu Negara dalam jangka waktu setahun (Dumairy,1990).

Nilai Tukar Rupiah atau disebut juga kurs Rupiah adalah perbandingan nilai atau harga mata uang Rupiah dengan mata uang lain. Perdagan- gan antar negara dimana masing-masing negara mempunyai alat tukarnya sendiri mengharuskan adanya angka perbandingan nilai suatu mata uang dengan mata uang lainnya, yang disebut kurs val- uta asing atau kurs (Salvatore,1998).

Hipotesis

1. Jumlah Uang Beredar berpengaruh positif dan sifniikan terhadap inlasi di Indonesia periode 1998-2012

2. Produk Domestik Bruto berpengaruh positif dan sifniikan terhadap inlasi di Indonesia pe- riode 1998-2012

3. Tingkat bunga berpengaruh negatif dan sifnii- kan terhadap inlasi di Indonesia periode 1998- 2012

4. Kurs berpengaruh positif dan sifniikan terha- dap inlasi di Indonesia periode 1998-2012

METODE PENELITIAN

Motode analisis data di gunakan model regresi berganda, sebagai berikut:

INF= f (PDB, JUB, ECR, SBD) Dimana;

INF = Inlasi

PDB = Produk Domestik Bruto JUB = Jumlah Uang Beredar ECR = Kurs

SBD = Suku Bunga Deposito

Untuk tujuan kajian, spesiikasi model tentang faktor penyebab inlasi di Indonesia diestimasikan dalam bentuk log-linear sebagai berikut;

INF = β0 lnPDB + β1 lnJUB+ β2 ECR +

β3SBD + εt

Uji Persyaratan Asumsi Klasik

Uji autokorelasi adalah untuk menguji dalam model regresi linear adakah hubungan (korelasi) antara kesalahan penganggu pada periode t den- gan kesalahan penganggu pada periode sebe- lumya. Masalah autokorelasi dimaksudkan disini adalah untuk menguji deretan data menurut waktu (deret waktu) apakah timbul autokorelasi dikare- nakan residual (kesalahan penganggu) bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Selanjutnya, untuk mendeteksi autokorelasi dilakukan melalui uji Durbin-Watson dengan program SPSS yang dapat menyediakan fasilitas untuk uji autokorelasi tersebut. (Imam Ghozali, 2010).

Uji Multikolinieritas adalah keadaan, dimana terdapat hubungan yang linear diantara variabel- variabel bebas. Jika variabel bebas tersebut mem-

punyai hubungan yang perfect dengan variabel bebas lainnya. Gujarati (1997) mengemukakan multikolinieritas adalah adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti, diantara beberapa atau semua variabel.

Nachrowi dan Usman (2002) mengemukakan multikolinieritas menimbulkan beberapa akibat; (1). Variasi besar (dari taksiran OLS), (2). Inter- val kepercayaan lebar. (3) Uji-t (t rasio) tidak sig- niikan. (4) R2 tinggi, tetapi tidak banyak varabel yang signiikan dari uji t. (5). Terkadang taksiran koeisien yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansial, sehingga dapat menyesatkan interprestasi.

Ghozali (2010), mengemukakan langkah- langkah untuk mengatasi multikolonieritas, yai- tu; (a) menggabungkan data (pooling data), (b) keluarkan satu atau lebih variabel independen yang mempunyai korelasi tinggi dari model dan identiikasikan variabel independen lainnya un- tuk membantu prediksi, (c) transformasi variabel dengan cara mengurangi hubungan linear diantara variabel independen, (d) gunakan model dengan variabel independen yang mempunyai korelasi tinggi hanya untuk prediksi.

Dalam dokumen Vol.15 No.3 Juli 2014 (Halaman 42-44)