POTRET KESEHATAN
3.3 PENYAKIT TIDAK MENULAR
3.3.6 Sehatdi Usia Tua “Senja di antara pohon lontar”
3.3.6.3 Lanjut usia dan hasil rontgennya
Masih menurut Papalia,2003.Usia 75-84 tahun disebut “Tua-tua” (old-old). Meskipun tidak ada data statistik pada “SDKI” tahun 2006, dapat diperkirakan bahwa jumlah mereka tidak sebanyak yang tergolong “Young-old” pembahasan kali ini membahas dan menitkberatkan pada kelompok usia “Old-old”.
1932. Pada tahun 1942 ia masuk ke Sekolah Dasar Bogi dan bersekolah sampai dengan kelas 3 SD. Ia tidak mempunyai anak kandung tapi mempunyai banyak keponakan dari adik dan kakak kandungnya. Kekerabatan yang sangat kuat membuatnya tidak merasa kesepian karena menganggap bahwa keponakan adalah anak-anak mereka sendiri.
Gambar 3.27 Lansia dan hasil rontgennya. Sumber : Dokumentasi Penelitian , 2015.
Bapak Harun dulunya merupakan seorang pelaut yang bekerja membawa penumpang dan barang dari Pulau Raijua ke Sumba dari tahun 1968 sampai dengan tahun 1975. Pada tahun 1980 sampai 1990, ia mulai beralih dengan membawa perahu motor untuk mengangkut penumpang dan barang. Sejak tahun 1975 Bapak Dema tidak lagi bekerja. Ia sudah dilarang untuk bekerja di laut maupun mengiris lontar oleh keponakan-keponakan yang sudah dianggap anak sendiri. Sekarang ini kegiatannya sehari-hari adalah menganyam tikar. Menganyam tikar ia lakukan pada pagi, siang dan malam hari. Dalam waktu seminggu ia bisa menyelesaikan satu tikar jika tidak ada pekerjaan lain yang ia lakukan. Merasa baik-baik saja ketika tidak diperbolehkan bekerja oleh keluarga, satu syarat yang ia minta yaitu anak-anak mampu menggantikan pekerjaannya.
Diusianya yang ke 83 tahun, ia sudah merasa tidak sehat seperti dahulu. Tulang belakangnya sakit dan harus menggunakan tongkat jika berjalan. Selain itu ia juga mengalami gangguan di perutnya, sampai sekarang perutnya masih sering sakit.Pernah
memeriksakan penyakitnya ini di Rumah Sakit di Maumere. Ia telah diberi obat namun tidak sembuh sehingga tidak lagi mau melanjutkan pengobatan ke Puskesmas setempat karena merasa badannya akan bertambah sakit dimana tubuh terguncang-guncang di dalam kendaraan akibat kondisi jalan yang rusak.Sakit yang informan alami sudah dianggap biasa.
Sejak dahulu hingga sekarang bapak Harun meminum air tuak dan gula Sabu agar selalu sehat dan kuat. Untuk makanan sehari-hari ia makan nasi dengan ikan saja, jika ikan terlalu mahal maka ia hanya makan nasi ditambah cabai atau garam. Dalam sehari ia makan nasi dua kali, berbeda dengan zaman dahulu dimana ia hanya makan nasi seminggu sekali karena sulit untuk mendapatkan beras. Dalam kurun waktu seminggu itu, terkadang hanya makan sorgum dan kacang hijau atau meminum air gula Sabu. Tentang kesehatan menurut bapak Harun cukup penting “Supaya tetap hidup sampai tua”, hal tersebut ditandai dengan kesadaran akan pemeriksaan kesehatan dan Chek Up di fasilitas kesehatan walaupun harus mengeluarkan biaya yang besar 3.3.6.4 Cerita di hari tua dari pasangan lanjut usia
Usia diatas 85 tahun menurut Papalia, 2003 di sebut “Sangat tua” (oldest-old) kelompok ini menunjukan tanda-tanda menjadi rapuh secara fisik. Kemunduran secara fisik pada umumnya akan mengganggu kualitas hidup seseorang karena dalam usia “Sangat tua” berbagai kerapuhan biasanya membatasi kegiatan seseorang.
Tenaga kesehatan yang turun ke Desa untuk Posyandu Lansia terdiri dari bidan, perawat dengan dibantu oleh dua kader Posyandu yang berasal dari masyarakat setempat. Dalam menjalankan pelayanan kesehatan ternyata terdapat hambatan bahasa. Tenaga kesehatan mengalami kesulitan dalam memahami bahasa setempat sehingga harus diterjemahkan oleh kader Posyandu setempat.
Selama pemeriksaan, pada umumnya keluhan dari para Lansia adalah badan teras pegal-pegal, sesak nafas, sakit pinggang, batuk-batuk dan sakit kepala. Walau para Lansia mempunyai keluhan Kesehatan rata-rata para Lansia yang hadir di Posyandu tergolong sehat. Sebagian besar berat badan para Lansia berkisar antara 40 sampai dengan 51 kilogram. Tekanan darah juga tergolong terkontrol,
beberapa Lansia dengan tekanan darah rendah dibawah 100/70mili meter merkuri (hidrargirum).
Di Posyandu ditemukan Lansia yang termasuk kategori Old –
Oldest yang berusia 85-94 tahun. Lansia ini bernama ibu Wahi Bei
yang berusia 88 tahun, ia tidak tahu tanggal lahirnya karena orang zaman dahulu tidak mencatat.Beliau mengaku tidak sekolah sehingga tidak bisa berbicara bahasa Indonesia namun sangat terbuka. Informan bersedia berinteraksi dan menjawab pertanyaan dari peneliti dengan bantuan temannya yang bisa berbahasa Indonesia.
Ibu Wahi Bei mempunyai empat anak yaitu dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Terlihat masih sehat dan aktif dengan penglihatan dan pendengaran yang baik. Responden datang dengan membawa seorang cucu karena memang sekarang pekerjaannya mengasuh cucu. Sudah sekitar lima tahun tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena tidak diperbolehkan lagi oleh anak sulungnya untuk bekerja. Tugas rumah tangga yang masih lakukannya adalah memasak nasisehari sekali di pagi hari dan makan sesukanya. Nasi yangdi masaknya terkadang dicampur kacang hijau ataupun kacang merah. Akan tetapi lauk yang dimakan terbatas, setiap hari makan selang seling antara nasi kosong dengan ikan. Untuk menjaga kesehatan, informan meminum gula sabu satu gelas setiap harinya.
Dahulu ia pernah menderita penyakit yang cukup parah dan mengaku pernah hampir mati karena penyakit itu.Gejala yangdirasakan waktu itu adalah pusing, muntah-muntah dan batuk-batuk namun anaknya datang membawa obat cina yang tidak diketahui merknya sehingga ia bisa kembali sembuh. Sekarang ini ibu Wahi Bei merasa sehat-sehat hanya saja ada keluhan gatal-gatal di kulit bagian tangan jika mengkonsumsi daging babi.
Gambar 3.28 Pasangan Lansia.
Sumber : Dokumentasi Penelitian , 2015.
Adapun penyakit rabun mata “Katarak” akibat bertambahnya usia membuat fleksibilitas mata yaitu ketebalan dan kejernihan mengalami penurunan. Selaput putih yang menutupi bagian lensa hitam pada bola mata sebelah kanan yang menghabat aktivitas informan berjalan ke luar rumah. Menderita penyakit mata “Katarak”sejak tahun 1992 silam bagi pasangan setia ini dianggap akibat dari menjual barang-barang adat atau pusaka ke luar dari pulau Raijua.
Kedua sejoli ini semasa perkawinan hingga sekarang tidak di karuniai keturunan, tidak ada kesunyian saat menghampiri pondok sederhana mereka, canda tawa dan senyuman menyambut setiap tamu yang datang tetap tergambar di wajah keriput mereka. Kesetiaan di penghujung hari tua diisi dengan komunikasi berupa cerita-cerita antara keduanya. Menemukan pasangan setia ini tidaklah mudah dijumpai di masa sekarang karena data identitas jarang dimunculkan dalam data statistik. Mungkin karena usia lanjut yang hidup sehat dan damai ini dianggap tidak banyak jumlahnya, sehingga orang banyak tidak berpikir untuk meneliti jumlahnya secara khusus untuk menyusun kebijakan yang dapat dijadikan contoh yang dapat meningkatkan kualitas hidup dengan sasaran individu dan kelompok.
Pulau Raijua merupakan salah satu pulau dimana populasi Lansia tergolong tinggi. Banyak Lansia yang dijumpai terlihat mengalami penyakit Katarak. Informasi mengenai pengobatan dan
sudah disampaikan oleh petugas kesehatan sewaktu jadwal Posyandu Lansia. Operasi mata tersebut akan berlangsung bulan juni 2015 di Sabu Menia (ibu kota Sabu Raijua). Hal tersebut di dengar namun apadaya tangan tak sampai, selepas informasi, semua informan menjawab “Terlalu jauh karena harus langgar ke pulau seberang”.
Secara keseluruhan individu-individu berumur panjang ini memiliki kesehatan fisik, mental dan psikologi yang baik. Tidak hanya memiliki pengalaman masa muda yang terbiasa hidup keras dan terbatas namun juga memiliki latar belakang pola makan yang alami dari alam tanpa campuran bahan kimia. Kata kunci yang bisa dimaknai dari semua informan Lansia adalah “Menikmati hidup secara sehat dengan mensyukuri anugerah Tuhan Yang Maha Esa”.