• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH, ALAM DAN BUDAYA

2.5.2. Praktek Keagamaan dan Kepercayaan

2.5.2.5 Upacara “Bagarae Ro”

Acara “Bagarae Ro” bagi suku Sabu adalah puncak dari kedua upacara yang sudah dilalui sebelumnya, dilaksanakan 50 hari setelah upacara “Bagarae”. Maharnya lebih banyak dari hewan yang dikorbankan dalam upacara “Bagarae”. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menuntun keluarga dalam perjalanan hidup dan membentengi keluarga dari arwah yang menganggu.

Orang Sabu di Desa Kolorae memiliki tradisi budaya yang masih sangat kental, ketiga upacara diatas wajib dilakukan. Hewan sembelihan yang diberikan dalam pengorbanan ritual ditanggung oleh keluarga secara bersama. Upacara dengan menghabiskan puluhan hewan kurban berlaku untuk orang yang mampu secara finansial. Bagi orang Sabu yang belum sanggup hanya melaksanakan upacara sampai tahap pertama yaitu upacara “Bui ihi”.

Hewan persembahan dalam setiap upacara adat di Desa Kolorae adalah babi, kambing, domba dan ayam. Hewan babi dan kambing selalu diutamakan. Menurut Kepala Urusan Umum di Kantor Desa Kolorae, “babi dan kambing jika dipotong dapat daging banyak sehingga dapat menghidangkan bagi para keluarga, tamu dan undangan yang datang selama upacara berlangsung”. Selain itu babi dan kambing bisa menjadi menu makanan bagi tamu dan keluarga yang mempunyai pantangan, “ada yang pantangan/pamali makan babi, mereka akan makan daging kambing, sebaliknya begitu juga”. 2.5.2.6 Upacara “Tao Leo” dan Tari “Ledo”

“Tao Leo” merupakan perayaan peringatan kematian yang

diadakan untuk menghormati orang yang telah meninggal. Acara ini dilakukan karena orang yang telah meninggal dianggap penting dan berjasa bagi keluarga. Peringatan ini memerlukan kerjasama antara kedua

Peringatan ini hanya bisa dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju untuk melakukannya. Ketika seseorang yang dianggap berjasa meninggal maka pada waktu penguburan keluarga besar berkumpul dan berdiskusi apakah kematian orang yang meninggal tersebut akan diperingati dengan ritual “Tao Leo”.

Jika kedua belah pihak keluarga setuju maka “Tao Leo” akan dilaksanakan pada bulan “Bagarae Ae”, bertepatan dengan selesainya panen kacang hijau dan sorgum. Pada kalender masehi biasanya bulan tersebut jatuh pada bulan Juni.

“Tao Leo” merupakan peringatan adat terbesar yang masih

dilaksanakan di Pulau Raijua, terutama Raijua bagian atas yang masih memegang erat adat istiadat. Peringatan ini memerlukan banyak hewan kurban yang didukung oleh seluruh keluarga yang masih satu garis keturunan. Oleh karena itu perayaan ini melambangkan kebesaran dari

“Udu” dan “Wini” dari orang yang meninggal tersebut (Kagiya, 2010). “Tao” dalam bahasa Indonesia berarti membuat sedangkan

“Leo” berarti tenda. Persiapan “Tao Leo” memerlukan waktu yang lama, persiapan yang perlu dilakukan adalah menyediakan beras dalam jumlah besar, kain tenun tradisional, membuat tenda besar dan kandang-kandang untuk menyimpan hewan kurban.

Ketika peneliti hadir di Desa Kolorae terdapat dua perayaan “Tao

Leo” yang dinantikan oleh seluruh penduduk pulau. Peringatan ini akan

dilakukan pada awal bulan Juni, akan tetapi pelaksanaan ini kemudian diundur sehingga peneliti tidak dapat menyaksikan festival besar ini.

“Tao Leo” dapat dilaksanakan selama tiga, lima, tujuh atau

yang paling besar selama sembilan hari. Hal ini disesuaikan dengan diskusi dan kemampuan keluarga orang yang meninggal. Lamanya

“Tao Leo” yang diadakan dapat dilihat dari jumlah tiang dari pohon

lontar yang didirikan. Biasanya “Tao Leo” yang paling sering dilaksanakan adalah selama tujuh hari. Acara yang paling digemari di saat “Tao Leo” adalah pelaksanaan Tari “Ledo” yang dilakukan selama berhari-hari sesuai dengan jumlah hari perayaan “Tao Leo”.

Tari “Ledo” merupakan tarian yang dilakukan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan, dulunya tari ini dilakukan untuk memperingati kemenangan perang. Pelaksanaan “Tao Leo” selama tujuh hari diisi dengan acara sebagai berikut (Kagya, 2010):

1. Sehari sebelum pelaksanaan “Tao Leo”: Anak anjing dikorbankan sebagai persyaratan agar “Tao Leo” dapat berjalan lancar. Boneka kayu yang mirip dengan orang yang telah meninggal dibuat, boneka ini dipakaikan kain sesuai dengan motif dari “Wini” orang yang meninggal”. Jiwa orang yang telah meninggal dipanggil kembali, prosesi ini disebut “Urihaga”.

2. Hari pertama: Tenda didirikan dan tikar pandan untuk arena tari

“Ledo” digelar. Kain tenun tradisional yang dipersiapkan oleh

saudara dari garis turunan perempuan diletakkan disamping boneka kayu yang telah dibuat. Orang yang meninggal dianggap hidup ketika perayaan “Tao Leo” dimulai. Senapan ditembakkan sebagai tanda sebagai awal pembukaan “Tao Leo”. Peserta yang hadir mulai menarikan tari “Ledo”.

3. Hari Kedua: Kegiatan “Tao Leo” hanya diisi dengan menari “Ledo”. 4. Hari Ketiga: Kegiatan “Tao Leo” hanya diisi dengan menari “Ledo”. 5. Hari Keempat: “Ngaa Rai Dida” adalah hari dimana penduduk

Raijua bagian atas diberi makan daging.

6. Hari Kelima: “Ngaa Rai Wawa” adalah hari dimana penduduk Raijua bagian bawah diberi makan daging.

7. Hari Keenam: “Perihe” adalah waktu dimana boneka kayu yang menggambarkan mendiang yang meninggal akan dikuburkan. Prosesi ini dilakukan oleh paman dari pihak ibu, beliau membawa daging babi yang telah dimasak dengan keranjang di atas kepala. Hal ini dilakukan untuk memberi makan arwah orang yang telah meninggal. Sepanjang perjalanan, paman didampingi oleh orang yang mengayunkan pedang diatas keranjang untuk mencegah setan menempel di keranjang. Sebelum perjalanan menuju rumah duka dimulai, senjata ditembakan untuk mengawali kepergian rombongan tersebut. Nyanyian tradisional “Ngararai” dinyanyikan oleh penyanyi tradisional untuk mengiringi rombongan. Sesampai rombongan di rumah duka, senjata kembali ditembakkan untuk menandakan kedatangan mereka. Dari dalam rumah keluarga kemudian keluar dan menembakkan senjata untuk memberi tanda bahwa mereka siap menerima kedatangan rombongan. Kelompok kemudian dipecah menjadi dua kelompok yaitu yang menyanyikan

paman kemudian memberikan sepotong daging babi kepada boneka kayu mendiang, setelah itu boneka tersebut dikuburkan. Di saat bersamaan sejumlah hewan dikurbankan dan diberikan kepada paman.

8. Hari Ketujuh: “Peri Kebao” merupakan puncak dari “Tao Leo”. Pada hari ini lima ekor anak kerbau dikurbankan untuk diberikan ke sepuluh “udu”. Satu anak kerbau diberikan ke dua “udu” yang dipasangkan. Pada malam harinya dilakukan “Kewaro” yaitu orang yang dituakan dalam “Wini” mengiringi kepergian arwah dari pelabuhan “Ai Bego” menuju ke Pulau Dana untuk kembali ke tempat leluhur di Sumba Barat. Gong dibunyikan setelah semua orang yang mengantar selesai mengucapkan selamat tinggal kepada arwah orang tersebut.

9. Hari Kedelapan: “Wue Dare” merupakan hari dimana seluruh hewan-hewan dikurbankan, hewan yang dikurbankan bisa mencapai 60 babi, 25 kuda dan kerbau, dan 20 kambing dan domba. Hewan ini dipotong dalam bagian-bagian kecil kemudian dibagikan kepada orang-orang yang membantu pelaksanaan “Tao

Leo” dan penduduk yang terlibat dalam tari “Ledo”.

10. Hari Kesembilan: “Tao Leo” berakhir, tenda diturunkan dan tikar untuk menari “Ledo” digulung.