• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH, ALAM DAN BUDAYA

2.5.2. Praktek Keagamaan dan Kepercayaan

2.5.2.2 Upacara Peringatan Kematian

Upacara Kematian di Raijua bagian atas (Desa Kolorae, Desa Bolua, Desa Ballu) pada umumnya sama. Ketiga desa tersebut memiliki adat istiadat dari satu nenek moyang. Di Desa Kolorae ada tiga tahap upacara untuk memperingati hari kematian, yaitu upacara

“Bui ihiMade”, “Bui ihi Muri”, “Bagarae” dan “Bagarae Ro”. 2.5.2.3 Upacara “Bui’ihi Made”

“Bui ihi Made” adalah upacara untuk memperingati hari

kematian seseorang yang masih menganut kepercayaan Jingitiu. Peringatan hari kematian ini biasanya tergantung dari kesepakatan keluarga. Biasanya dilakukan setelah satu tahun kematian di bulan

“Banga Liwu” yang jatuh pada bulan April.

Gambar 2.28

“Nga’a Bui ihi Made” (makan bersama dalam peringatan kematian)

Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2015.

Acara makan siang secara adat untuk upacara peringatan kematian disebut “Nga’a Bui ihi Made”. Makanan yang tersedia terdiri dari potongan daging babi, daging kambing serta sorgum dihidangkan dalam tempat yang disebut “Kerigi Wore”. Hewan yang disembelih ditanggung oleh pihak keluarga inti dengan sistem tanggungan bersama “Tepo Bui ihi”.

Dalam upacara adat makanan yang dihidangkan adalah sorgum. Nasi (beras) yang merupakan makanan pokok tidak

beras atau nasi”. Sebelum makanan ini disajikan, malam sebelumnya, keluarga dari sanak saudara datang berkumpul di rumah duka selain untuk bela sungkawa, mereka juga datang dengan membawa kue cucur, ketupat dan dodol yang disebut “Tekkar Roke Nana”. Kue tersebut dimakan bersama saat malam hari dan tidak boleh tersisa, jika tersisa maka dianggap melanggar aturan adat dengan denda adat berupa hewan dan diperuntukan untuk tuan rumah.

Setelah menghidangkan makanan “Tekar Roke Nana”, keesokan harinya, tepat pukul 12.00 WITA. Pihak keluarga yang berduka menghidangkan, “Nga’a Bui ihi” kepada semua keluarga yang hadir. Saudara dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan yang hadir duduk secara terpisah, karena saudara dari pihak perempuan akan meminta kembali “istri” (dari suami yang meninggal), diakhir acara dengan cara duduk bernegosiasi bersama saudara dari almarhum. Sebagian besar hasil rapat biasanya disetujui. Kepala Desa wajib hadir sebagai penengah dalam pengambilan keputusan.

Keluarga inti yang sedang meratapi kepergian almarhum selama sehari penuh berada dalam rumah adat. Mereka diberi makanan yang dinamakan “Gatti” sebagai penghiburan bagi keluarga yang berduka.

Gambar 2.29

Makanan yang disebut “Gatti” untuk keluarga inti yang berduka Sumber : Dokumentasi Penelitian, 2015.

Saat observasi terlihat keluarga inti memberikan barang berupa rokok kepada salah seorang tamu. Rokok tersebut dibungkus menggunakan kain putih ketika diserahkan. Informan BNL (60 tahun) menjelaskan penggunaan kain putih tersebut dilakukan sebagai “lambang ketulusan dan keiklasan dari keluarga yang sedang berduka kepada tamu atau keluarga yang meminta sesuatu”.

Informan juga menjelaskan sebab kematian dari almarhum. “Almarhum bernama RT, berusia sekitar 57-58 tahun, bekerja sebagai petani -kerja iris tuak (mengumpulkan air sadapan pohon lontar), tofa (bersih) kebun- meninggal tahun lalu sekitar bulan April- meninggal karena sakit demam, malaria, sudah di bawa ke rumah sakit (maksudnya Puskesmas Ledeunu), rawat selama tiga hari disana, tidak ada perubahan, belum sembuh-bawa pulang kembali, tandatangan surat pernyataan, bawa pulang ke Kolorae, pake obat tradisional, “kerei kepoke” (upacara menanyai tombak) di dukun pengobat”. Untuk nama dukun di Dusun Satu bernama bapak BT, Dusun Empat bernama bapak DN”.

Peneliti tidak sempat mendokumentasikan saat upacara penguburan berlangsung. Saat pemakaman jenazah laki-laki Jingitiu, kepalanya akan dipakaikan kain “destar”, wajah dilukis dengan ludah sirih pinang yang disebut “Pedate”. Wajah almarhum diberi gambar motif dari “Huri Hebe” atau “Huri Higi” (motif khas sarung adat Pulau Raijua)” dengan sirih pinang menggunakan lidi pohon lontar. Hal ini juga dilakukan agar nenek moyang di kehidupan selanjutnya mengenal wajah almarhum.

Badan dan kaki akan diikat dengan tali dan kemudian di bungkus dengan sarung khas Raijua “istilahnya disebut wutu”. Posisi kepala almarhum harus tertunduk bertemu dengan lutut kedua kaki dan badan yang di ikat dalam satu ikatan, menurut “Rohaleo”atau perwakilan pemangku adat setempat “orang “Jingitiu” di kenal sebagai orang yang sering membuat masalah di dunia sehingga harus di belenggu sampai akhirat-kepala tertunduk agar jalan menghadap ke Tuhan menunduk”.

tambahan lain dari informan TK (38 Tahun) bahwa ketika di belenggu dengan tali lontar semua tubuh, sesampainya di dalam liang kuburan akan dilepas talinya dengan maksud agar semua dosa sewaktu dia hidup di dunia akan terlepas dengan tali tersebut”. Saat di makamkan kepala orang yang meninggal diharuskan mengarah ke Pulau Dana, karena dipercaya setelah meninggal arwahnya akan terlihat di pulau yang belum berpenghuni tersebut ditandai dengan adanya bunyi teriakan hewan babi, kambing dan kokok ayam setelah meninggal, kemudian arwahnya akan meneruskan perjalanan setelah di jemput oleh nenek moyang menuju “tanjung uju”, “Nguju” (sumba Timur) dan berakhir di “Jami Leba” (Sumba Barat).

Sebelum mayat di masukan ke dalam kubur, mayat tersebut dibaringkan dengan kepala menghadap ke tiang rumah adat (tiang utama) sebagai simbol pengenalan kepada nenek moyang sebelum di jemput arwahnya. Jenazah kemudian diletakan di liang lahat dan di timbun tumpukan tanah. Sebagai penutup keluarga akan memberi sorgum dan kacang hijau untuk bekal perjalanan arwah almarhum. Kedua sajian di tutup oleh tempurung kelapa dengan tujuan agar sorgum dan kacang hijau tidak tumbuh keluar.

Kuburan berbentuk bulat dan ditutup dengan semen seperti . Di Desa Kolorae, perbedaan bentuk kuburan bulat dan bentuk kuburan pada umumnya menjadi penanda orang yang meninggal sebagai “Jingitiu” atau orang yang beragama resmi pemerintah.

Gambar 2.30

Bentuk kuburan aliran Jingitiu (kiri), bentuk kuburan orang yang beragama resmi pemerintah (kanan).