• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. MASA LANJUT USIA

B. Lanjut Usia Menurut Kitab Suci

Untuk memahami sepenuhnya makna dan nilai lanjut usia, kita dikuatkan

melalui ajaran yang dituliskan dalam Kitab Suci. Ada beberapa ayat dalam Kitab Suci yang mendorong pemikiran kembali makna lanjut usia. Tulisan mengenai lanjut usia ini dapat kita temukan dalam beberapa teks Kitab Suci.

1. Im. 19:32: “Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau

Penghormatan terhadap orang tua sudah ditegaskan dan dianjurkan dari dulu pada zaman Perjanjian Lama oleh Bangsa Israel. Hal ini tertulis juga dalam hukum Taurat yakni sepuluh perintah Allah yang selalu dipedomani dan dipelihara oleh Gereja hingga saat ini. Kebudayaan hormat kepada orang tua amat terpelihara sampai saat ini khususnya budaya bagian Timur. Orang tua dianggap sebagai wakil Allah yang hidup dalam mendidik, mengajari, menasihati dan memelihara hidup bagi anak-anak dan cucu-cucunya. Orang tua selalu memberikan ajaran dan nasehat yang baik dan berguna untuk kehidupan anak-anak serta keturuna nnya di masa yang akan datang.

Kerap orang meminta pesan ataupun wejangan dari orang tua pada masa tuanya untuk dipedomani, diingat dalam masa hidupnya dan pesan itu pasti akan diingat serta dikenang selama hidupnya. Dari pengalaman ini dapat dilihat betapa manusia amat menghargai para orang tua yang sudah lanjut usia (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 24-26).

2. Mzm 92:15: “Mereka masih berbuah di masa tua”.

Sekalipun ciri khas lanjut usia adalah kelemahan-kelemahan serta rintangan-rintangan jasmani, tetapi kuasa Allah dapat juga dinyatakan dalam diri orang yang lanjut usia. Hal ini menyatakan bahwa dalam diri lanjut usia yang lemah dan kecil, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang ya ng berhikmat dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seseorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:27-29). Rencana

Allah untuk menyelamatkan juga terpenuhi dalam tubuh-tubuh ya ng rapuh, lemah dan layu, tidak berdaya dan tidak muda lagi. Dari rahim Sara yang mandul dan Abraham yang sudah tua justru lahirlah bangsa terpilih. Demikian juga dalam Perjanjian Baru yaitu Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Kristus, ia lahir dari rahim Elisabet yang sudah mandul dan Zakharia yang sudah lanjut usia (Lih. Luk 1:5-25). Maka para kaum lanjut usia yang selalu merasa hidup senantiasa diliputi kegelapan dan kelemahan sungguh dapat memandang dirinya sebagai suatu alat dalam sejarah keselamatan: “Dia akan dipuaskan dengan umur panjang dan Kuselamatkan” (Mzm 91:16), demikianlah Tuhan berjanji (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 26-27).

3. Pkh 12:1: Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu sebelum tiba hari- hari

yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kau katakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya”.

Teks Kitab Suci ini merupakan suatu peringatan terhadap lanjut usia yang amat mengejutkan, seperti yang ditambahkan Pemazmur lagi, hidup orang berakhir dalam sekejap dan hidup itu tidak selalu enak dan mudah. Perkataan Pengkotbah ini memberikan gambaran yang suram tentang lanjut usia dan melukiskan kemunduran dalam hidup yang penuh kesukaran, keresahan, dan penderitaan. Dalam mengalami semua penderitaan tersebut, Kitab Suci mengingatkan agar orang menengadah dan memandang Allah selama hidup, karena Allah satu-satu-Nya tujuan perjalanan peziarahan, terlebih- lebih saat orang merasa dicekam, takut, dan di saat masa lanjut

usia dialami sebagai cobaan yang berat (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 27-28).

4. Mzm 90:12: “Ajarilah kami menghitung hari- hari hidup kami sedemikian hingga

kami beroleh hati yang bijaksana”.

Dewan Kepausan untuk Kaum Awam (2002: 30) menuliskan bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa salah satu “kharisma hidup panjang” adalah kebijaksanaan. Akan tetapi kebijaksanaan bukan hak istimewa usia tua yang otomatis, namun kebijaksanaan merupakan anugerah Allah, yang harus diterima oleh orang-orang lanjut usia, maka mereka perlu mengusahakan memiliki kebijaksanaan sebagai tujuan hidup mereka. Hanya dengan mengejar tujuan itu mereka dapat mencapai kebijaksanaan hati yang memampukan mereka untuk “menyadari betapa singkatnya hidup mereka, yaitu untuk menghayati waktu yang diberikan oleh Penyelenggara Ilahi kepada masing- masing dengan penuh tanggungjawab. Hakekat kebijaksanaan ini merupakan penemuan makna mendalam hidup manusia dan penemuan tujuan

transendenhidup manusia dalam Allah. Kebijaksanaan ini amat penting bagi kaum

lanjut usia yang dipanggil untuk hidup tanpa melupakan “satu-satunya hal yang paling penting” (lih. Luk 10:42).

5. Mzm 71:1: “Pada-Mu ya Tuhan aku berlindung, janganlah sekali-sekali

mendapat malu”.

Mazmur yang indah ini merupakan salah satu dari banyak doa kaum lanjut

perasaan saleh yang dialami jiwa di hadirat Tuhan. Doa merupakan sarana utama untuk memperoleh pengertian rohani tentang hidup khas bagi kaum lanjut usia. Walaupun mereka tidak lagi bisa berbuat apa-apa karena kelemahan tubuh atau karena sakit, melalui doa kaum lanjut usia dapat memberikan pelayanannya terhadap tugas Gereja. Melalui doa mereka dapat terhibur dari rasa terisolasi dan ketidakberdayaan untuk merasakan sukacita orang lain (Dewan Kepausan untuk Kaum Awam, 2002: 30-32).

6. 2Tim 4:6-7: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai

persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”.

Dalam teks di atas Paulus berada di Roma dan sedang dalam penjara, namun tetap diberi kesempatan untuk mewartakan Sabda Tuhan kepada jemaat yang pada waktu itu ada di Roma. Paulus menyadari bahwa kematiannya sudah dekat, merasa tua dan sudah kehabisan tenaga. Dari penjara, dengan penuh cinta dia menulis surat kepada orang yang dikasihinya yaitu Timotius “yang dilahirkannya dalam iman” dan kemudian menjadi muridnya yang setia. Di sini Paulus menggambarkan hidupnya dalam kiasan “olahraga” yang sudah melewati garis akhir menuju Tuhan. Dengan sungguh-sungguh Paulus memelihara imannya dalam berbagai pengalaman.

Pengalaman Paulus ini, hendak menggambarkan bahwa menjadi tua serupa dengan berputarnya roda yaitu pemenuhan lingkaran kehidupan langkah demi langkah. Kesediaan menerima masa tua menjadi lebih matang karena baginya hidup

adalah suatu pesembahan dan siap sedia untuk memberi, dengan demikian hidupnya menjadi lebih bermakna.

Bertambahnya usia tidak perlu disembunyikan atau disangkal, namun dapat dimengerti, diterima dan dialami sebagai proses perkembangan. Kalau menjadi tua dapat dialami sebagai perkembangan budi, hati dan perkembangan kehidupan itu sendiri, maka bertambahnya usia dapat menjadi suatu gerak menuju saat kepenuhan.

7. Fil 1:9-12: “Tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari

padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagi pula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus”.

Dalam teks ini Paulus mengingat orang yang sungguh dikasihi yaitu Filemon yang pada waktu itu tidak bersama dia. Kepadanya Paulus menulis kutipan ini denga n memohon agar Filemon menerima seorang saudara yang sungguh berguna bagi Paulus yaitu Onesimus, yang selanjutnya akan sangat berguna juga bagi Filemon. Pada waktu itu Paulus merasa sudah tua apalagi dipenjarakan karena Kristus. Dengan mengirim Onesimus kepada Filemon, Paulus bermaksud agar mereka kerjasama untuk tugas pelayanan dalam Gereja. Dengan rendah hati Paulus mempercayakan diri kepada saudara-saudaranya, memberikan tugas dan kuasa untuk melanjutkan perutusannya. Di sini tercermin suatu hubungan dari generasi ke generasi yaitu dari masa tua ke masa yang muda. Paulus yang sudah menjadi tua menjalin hubungan dengan seorang yang lebih muda yaitu Filemon, agar dia melanjutkan tugas perutusannya bersama dengan seorang yang muda lagi yaitu Onesimus.

Menurut penulis, ini berarti bahwa ada hubungan timbal balik antara generasi tua dengan generasi muda. Dari satu pihak generasi tua membagikan pengalaman hidup dan ajaran-ajaran kepada generasi muda sebagai model hidup yang sudah dirintis dan dijalani. Sementara generasi muda memberikan perhatian kepada generasi tua sebagaimana yang diharapkan Rasul Paulus dalam suratnya kepada Filemon. Maka masa tua bukanlah alasan untuk berputus asa, melainkan masa yang seharusnya disyukuri, berkat pengalaman hidup sebagaimana dialami Rasul Paulus.

Dari pengalaman kaum lanjut usia yang ada dalam Kitab Suci ini, dapat memberi suatu pencerahan baru bahwa pada masa tuapun Allah tetap berkarya dan bahkan menampakkan karya keselamatan. Maka dari pandangan ini kaum lanjut usia boleh memandang, bahwa masa tua merupakan sesuatu yang penuh rahmat, karena itu patut diterima dengan hati terbuka dan disyukuri.

Dokumen terkait