• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPAR DAN MENINGGALKAN SYAHWAT

Dalam dokumen TERJEMAH KITAB.docx (Halaman 64-75)

Allah berfirman :

“Dan, sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sebagian ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta,

jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah :155).

Berikanlah kabar gembira dengan pahala yang indah karena kesabaran mereka dalam menanggung lapar. Allah swt. berfirman :

“Dan mereka memprioritaskan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka beikan itu).” (Qs. Al-Hasyr :9).

Anas bin Malik menuturkan bahwa ketika Fatimah r.a. (Fatimah az-Zahra’ (18 s.H – 11 H/605 – 632 M). Putri Rasulullah saw. keturunan Bani Hasyim, suku Quraisy. Ibundanya Khadijah binti Khuwailid. Fatimah dinikahkan Ali bin Abu Thalib r.a. melahirkan Hasan dan Husein, Ummu Kaltsum dan Zainab). Fatimah r.a. memberikan sekerat roti bagi Rasulullah saw. beliau bertanya : “Apa ini, wahai Fatimah?” Fatimah menjawab : “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak dapat tenang sebelum memberikan roti ini kepadamu.”

Beliau menjawab : “Ini adalah sepotong makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari ini.” (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Harits bin Abu Usamah dalam Musnad-nya, melalui sanad yang dha’if, namun memiliki bukti kebajikan sanad dalam maknanya).

Alasan inilah yang menjadikan lapar termasuk dalam sifat kaum Suf dan salah satu tiang mujahadah. Para penempuh suluk selangkah demi selngkah membiasakan berlapar-lapar menahan diri dari makan, dan mereka menemukan mata air kebijaksanaan di dalam lapar. Cerita tentang mereka dalam hal ini cukup banyak.

Ibnu Salim berkata : “Etika berlapar diri adalah bahwa seseorang terus menerus tidak mengurangi porsi makanannya, kecuali sebesar telinga kucing (amat sedikit).” Dikatakan bahwa Sahl bin Abdullah tidak makan, kecuali setiap limabelas hari. Manakala Bulan Rmadhan tiba, ia bahkan tidak makan sampai melihat bulan baru. Dan tiap kali berbuka hanya minum air putih saja.

Yahya bin Mu’adz menjelaskan : “Seandainya orang dapat membeli lapar di pasar, maka para pencari akhirat niscaya tidak akan perlu membeli sesuatu yang lain di sana.”

Sahl bin Abdullah berkomentar : “Ketika Allah swt. menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, dan menepatkan kebijaksanaan dalam lapar.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Lapar bagi para penempuh jalan Allah (murid) adalah olah ruhani (riyadah), sebuah cobaan bagi orang-orang yang berTaubat, dan siasat bagi para zahid, tanda kemuliaan bagi para ahli ma’rifat.”

Yeikh Abu Ali ad.-Daqqaq menuturkan : “Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat sang syeikh menangis, ia bertanya, ‘Mengapa Anda menangis?’ Sang Syeikh menjawab : “Aku lapar.” Ia mencela, “Seorang seperti Anda, menangis karena lapar?” Sang Syeikh balas mencela : “Diamlah! Engkau tidak mengetahui bahwa tujuan-Nya menjadidkan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Dawud bin Mu’adz mengisahkan, bahwasanya Mukahllid mengabarkan : “Al-Hajjah bin Furafishah sedang berada bersama kami si Syam, dan selama lima puluh malam ia tidak minum air ataupun mengisi perut dengans esuap makanan pun.”

Abu Abdulalh Ahmad bin Yahya al-Jalla’ berkata : “Abu Turab an-Nakhsyaby datang mengarungi padang pasir Bashrah ke Mekkah – Semoga Allah melindungi kota ini – dan kami bertanya kepadanya tentang makanannya. Ia menjawab : “Aku meninnggalkan Bashrah, makan di Nibaj dan kemudian di Dzat Araq. Dari Dzat Araq aku datang kepada kalian.” Jadi, ia menyebari padang itu dengan hanya makan sebanyak dua kali.”

Setiap kali Sahl bin Abdullah lapar, ia tegar, dans etiap kali makan, ia menjadi lemah.

Abu Utsman al-Maghriby berkata : Orang yang mengabdi kepada Tuhan (rabbany) hanya makan setiap empat puluh hari, dan orang yang mengabdi kepada Yang Abadi (Shamadany) hanya makan setiap delapan puluh hari.”

Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : “Kunci dunia ini adalah mengisi perut, dan kunci akhirat aalah lapar.”

Sahl bin Abdullah ditanya : “Bagaimana pendpat Anda tentang orang yang makan sekali sehari?” Dijawabnya : “Itulah makan orang beriman.” Bagaimana dengan yang makan tiga kali sehari?” Ia mencela : “Suruh saja orang membuat gentong makanan untukmu.”

Yahya bin Mu’adz berkomentar : Lapar adalah pelita, dan kenyang adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api yang berkobar, dan tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.”

Abu Nash as-Sarraj ath-Thausy menuturkan : “Seorang laki-laki dari kaum Sufi datang menemui seorang syeikh dan menyuguhkan sedikit makanan. Lalu ia bertanya : “Sudah berapa lama Anda tidak makan?” Sang Syeikh menjawab : “Lima hari.” Si Sufi berkata : “Lapar Anda adalah lapar orang bakhil> Anda memakai pakaian (bagus) sementara Anda lapar. Itu bukanlah lapar orang fakir!”

Abu Sulaiman ad-Darany menegaskan : “Bahwa meninggalkan sepotong daging di waktu makan malam lebih kusukai daripada melakukan shalat sepanjang malam.”

Berkata Abul Qasim Ja’far bin Ahmad ar-Razy : “Beberapa hari Abul Khayr al-“Asqalany ingin sekali mengkonsumsi ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ke tangannya melalui jalan yang halal. Tetapi ketika tangannya meraih ikan itu untuk dimakannya, lalu ia berkata : “Ya Alalh, jika hal ini menimpa orang yang mengulurkan tangannya karena ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi kepada orang yang mengulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram?”

Saya mendengar Rustam asy-Syirazy as-Shufy menuturkan : “Abu Abdullah bin Khafif sedang menghadiri jamuan makan, tiba-tiba salah seorang muridnya bermaksud mengambil makanan mendahului sang syeikh, karena laparnya. Salah seorang murid syeikh, yang ingin menegus atas ketidak sopanannya itu, meenpatkan sedikit makanan di hadapan si fakir itu. Menyadari bahwa dirinya dicela karena kurang beradab, si fakir itu lalu tidak mau makan selama limabelas

hari sebagai hukuman dan pendisiplinan jiwanaya, serta sebagai tanda Taubat atas ketidak sopanannya itu. Padahal selama ini ia telah menderita kelaparan.”

Malik bin Dinar berkata : “Barangsiapa telah mengalahkan syahwat dunia, maka itulah tindakan yang dapat memisahkan setan dari lindungannya.”

Abu Ali ar-Rudzbary mengajarkan : “Jika seorang Sufi setelah lima hari tidak makan, mengatakan ‘aku lapar’ maka kirimlah ia ke pasar agar mendapatkan pekerjaan.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan ucapan seorang syeikh, bahwa penghuni neraka telah dikalahkan oleh syahwatnya atas kewaspadaan mereka, hingga mereka tercela. Beliau juga berkata : “Seseorang bertanya kepada salah seorang syeikh : “Apakah Anda tidak enginginkan sesuatu?” Sang Syeikh menjawab, ‘Aku menginginkannya, akan tetapi aku menahan diri.”

Syeikh yang lain ditanya : “Adakah sesuatu yang tuan inginkan?”

Jawabnya : “Aku menginginkan untuk tidak ingin lagi.”

Abu Nashr at-Tammar mengatakan : “Pada suatu malam Bisyr datang kepadaku, dan aku berkata : “Segala Puji Bai Allah yang telah membawamu ke sini. Sejumlah kapas dari Khurasan telah sampai kepada kami; budak wanita telah menenunnya, menjualnya dan membeli sedikit daging untuk kita. Engkau bisa berbuka puasa dengan kami. Ia menjawab : “ Jika aku mesti makan dengan seseorang, aku akan memilih makan denganmu.” Lalu ia menjelaskan : “Telah bertahun-tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya. Lalu aku menjawab : “Ada terung yag halal dalam makanan ini.” Ia menjawab : “Bahkan sampai bersih dari bijinya.”

Saya mendengar Abu Ahmad ash-Shagir berkata : “Abu Abdullah bin Khafi menyuruhku menyuguhinya sepuluh butir kismis untuk buka puasa setiap malam. Suatu malam aku merasa kasihan kepadanya, dan kusuguhkan limabelas butir kismis. Ia memandangku dan bertanya : “Siapa yang

menyuruhmu (memberi lima belas kismis?)’ Lalu dimakannya sepuluh butir dan membiarkan sisanya.”

Abu Turab an-nakhsyaby berkomentar : “Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsu kecuali sekali saja : Aku ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Lalu aku pun memasuki sebuah kampung. Seseorang gbangkit dan memegang tanganku sambil berkata : “Orang ini adalah salah seorang dari perampok itu!” Lalu oang-orang itu memukuliku tujuhpuluh kali. Seseoang-orang laki-aki di antara mereka mengenaliku dan menyela, Ini adalah Abu Thurab an-Nakhsyaby!” Mendengar itu, mereka cepat-cepat meminta maaf kepadaku, dan laki-laki itu lalu membawaku ke rumahnya karena rasa hormat dan kasihan kepadaku, dan ia menjamu aku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diri sendiri : “Makanlah, seteelh tujuh puluh kali pukulan!.”

KHUSYU’ DAN TAWADHU’

Allag swt. berfiman :

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, mereka yang khusyu dala shalatnya.” (Qs. Al-Mu’minun :-1-2).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda :

“Tidak akan masuk surga, barangsiapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sekecil biji sawi, dan tidak akan masuk neraka barangsiapa yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sekecil biji sawi.” Seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang suka berbapakain bagus?” Beliau menjawab : Allah swt. Maha Indah dan menyukai keindahan; sombong adalah berpaling dari Al-Haq dan mencemooh manusia.” (H.r. Muslim).

Anas bin Malik mengabarkan : “Rasulullah saw. suka mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, mengendari keledai dan memenuhi undangan budak-budak.”

Dalam peperangan melawan bani Quraidhah dan bai nadhir, Rasul mengendari seekor keledai yang diberi tali kendali dari ijuk korma dan di atasnya diberi pelana ijuk pula.”

Khsyu’ adalah berkaitan kepada Allah swt. dan tawadhu’ adalah menyerah kepada Allah dan menjauhi sikap kontra dalam menerima hukum.”

Hudzaifah berkata : “Khusyu’ adalah hal yang pertama-tama hilang dari agamamu.” Ketika salahs eorang Sufi ditanya tentang khusyu’, ia menjawab : “Khusyu’ adalah tegaknya hati di hadapan Allah swt.”

Sahl bin Abdullah menegaskan : Setan tidak akan mendekati orang yang hatinya khusyu’. Dikatakan : “Di antara tanda-tanda kehusyu’an hati seorang hamba adalah manakala ia diprovokasi, disakiti hatinya atau ditolak, maka ia, semua itu diterimanya.”

Salah seorang Sufi berkomentar : “Kekhusyu’an hati adalah menahan mata dari melirik ke sana ke mari.

Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menjelaskan : “Khusyu’ adalah begini : Jika api hawa nafsu dalam diri seseorang padam, asap dalam dadanya reda dan cahaya kecemerlangan bersinar dalam hatinya, lalu hawa nafsunya mati, dan hatinya hidup khusyu’lah semua angota badannya.”

Al- Hasan al-Bashry berkata : “Khusyu’ adalah rasa takut yang terus menerus dalam hati.”

Ketika al-Juany ditanya tentang khusyu’, ia menjawab : “Khusyu’ adalah jika hati menghinakan dirinya di hadapan Yang Maha Tahu kegaiban.” Allah swt. berfirman :

“Hamba-hamba Ar-Rahman yaitu orang-orang yang bejalan di muka bumi dengan sikap rendah hati.” (Qs. Al-Furqan :63).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : Bahwa makna ayat ini adalah hamba-hamba Allah itu berjalan di muka bumi dengan penuh khusyu’ dan tawa dhu’.

Saya juga mendengar beliau mengatakan, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memperdengarkan bunyi sandal mereka ketika berjalan.

Kaum Sufi sepakat bahwa tempat khusyu’ adalah di dalam hati.

Ketika salah seorang Sufi melihat seorang laki-laki yang memperlihatkan sikap rendah hati dalam perilaku lahiriahnya, dengan mata yang memandang ke bawah dan bahu yang rendah, ia berkata kepadanya. “Wahai sahabat, khusyu’ itu di sini.” Sambil menunjuk ke dadanya, “bukan di sini, sambil menunjuk bagunya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki sedang mengelus-elus jenggotnya dalam shalat, dan beliau lalu bersabda :

“Jika hatinya khsyu, niscaya anggota badannya juga akan khusyu’.” (Hr. Tirmidzi).

Dikatakan : “Khusyu’ dalam shalat berarti seseorang tidak menyadari siapa yang sedang berdiri di sebelah kanan atau kirinya.”

Syeikh ad-Daqqaq berkata : “Khusyu’ mirip dengan perkataan, bahwa hati nurani seseorang dikhidmatkan sambil musyahadah kepada Allah swt.” Dikatakan “Khusyu’” adalah perasaan papa dan hina yang meresap ke dalam hati manakala menyaksikan Allah swt.”

Dikatakan pula : “Khusyu’ adalah kegentaran hati di kala hati dikuasai hakikat.”

Khusyu’ adalah mukadimah bagi luapan anugerah.

Dikatakan : “Khusyu’ adalah kegentaran hati secara tiba-tiba ketika Kebenaran terungkapkan secara tba-tiba.

Fudhail bin ‘Iyadh menegasskan, bahwa dirinya tidak senang melihat seseorang terlihat lebih khusyu’ daripada batinnya.

Abu Sulaiman ad-Darany berkata : Seandainya semua manusia bersatu padu untuk menghinakan aku, niscaya mereka tidak akan mampu mencapai kedalaman dimana aku menghinakan diriku sendiri.”

Dikatakan : “Orang yang tidak merendahkan dirinya, orang lain tdak akan menghormatinya pula.”

Umar bin Abdul Aziz tidak mau bersujud kecuali hanya di tanah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda : “Tidak akan masuk surga oang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (H.r. Abu Dawud).”

Mujahid berkata : “Ketika Allah swt. menenggelamkan kaum Nabi Nuh, gunung-gunung bersikap congkak dan meninggikan diri, tetapi Bukit Judy merendahkan dirinya. Karena itu Allah swt. menjadikannya sebagai tempat mendaratnya perahu Nabi Nuh as.” (Bukit Judy berada di sebelah timur laut Jazirah Ibnu Umar, Ketingginya dari permukaan laut 4.000 meter. Diriwayatkan bahwa perahu Nabi Nuh pernah melintasi bukit ini kertika terjadi banjir bandang).

Umar bin Khaththab r.a. selalu berjalan cepat-cepat, tentang ini dijelaskannya bahwa berjalan secara demikian akan membawanya lebih cepat kepada kebutuhan dan menjaganya dari keangkuhan.

Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz, r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Meliaht lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri : “Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.” Tapi Umar menjawab : “Jangan, tidaklah ramah menjadidkan tamu sebagai pelayan.” Maka si tamu lalu berkata : “Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.” Umar menolak : “Jangan, ia baru saja pergi tidur.” Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dn mengisi lampu itu. Si tamu berseru : “Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahai Amirul Muminin?” Umar berkata kepadanya : “Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagai Umar pula.”

Abu Sa’id al-Khudry r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. selalu memberi makan unta-unta, menyapu lantai rumah, memperbaiki sandal, menambal baju, memerah susu, makan bersama pelayan dan membantunya menggiling gandum jika pelayan lelah. Beliau tiak pernah merasa malu membawwa barang-barang beliau sendiri dari pasar untuk keluarganya. Beliau biasa berjabat tangan dengan orang kaya maupun miskin, dan lebih dahulu memberi salam jika bertemu. Nabi saw. tiak

pernah mencela makanan apa yang dihidangkan kepada beliau, sekalipun hanya berupa kurma kering. Beliau sangat sederhana dalam hal makanan, lemah lembut dalam berperilaku, mulia dalam sikap, baik dalam berteman, wajahnya bercahaya, tersenyum tapi tanpa terrtawa, sedih tapi tiak cemberut, rendah hati tapi tidak lembek, murah hati tetapi tidak boros. Rasulullah saw. juga berhati lembut dan kasih sayang kepada setiap Muslim. Tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda telah makan kenyang, dan juga tidak pernah mengulurkan tangan dengan rakus.

Fudhail bin “Iyadh berkata : “Para Umala dari Yang Maha Pengasih memiliki sikap khusyu’ dan tawadhu’, sedangkan para ulama penguasa memiliki sikap takjub dan sombong.” Ia juga berkomentar : “Barangsiapa menganggap dirinya masih berharga, berarti tidak memiliki sifat tawadhu’ sama sekali.”

Ketika Fudhail ditanya tentang tawadhu’, ia mengajarkan : “Pasrahlah kepada kebenaran; patuh dan terimalah ia dari siap pun yang mengatakannya.” Ia juga mengatakan : “Allah swt. mewahyukan kepada gunung-gunung : “Aku akan berbicara dengan soerang Nabi di salah satu puncak di antaramu.” Maka, gunung-gunung itu lalu berlomba-lomba meninggikan diri dengan sobongnya, sedangkan Gunung Thursina justru merendahkan dirinya dengan penuh kerendahan hati. Maka Allah swt. lalu Berbicara kepada Musa as, di puncka gunung ini, dikarenakan ketawadhu’annya.”

Ketika al-Junayd ditanya tentang tawadhu’, ia menjawab : “Tawadhu’ adalah merendahkan sayap terhadap semua makhluk dan bersikap lembut kepada mereka.”

Wahb berkata : “Teah tertulis dalam salah satu kitab suci, “Sesungguhnya Aku mengambil sari zat dari tulang sulbi Adam, dan Aku tidak menemukan hati yang lebih tawadhu’ daripada hati Musa as. Maka Ku pilih ia dan Aku aku berbicara langsung dengannya.”

Ibnul Mubarak mengatakan : “Kesombongan terhadap orang kaya dan rendah hati terhadap yang miskin adalah bagian dari sifat tawadhu’.

Au Yazid ditanya : “Bilakah seseorang mencapai sifat tawadhu?” Dijawabnya : “Jika ia tidak menisbatkan dirinya pada suatu maqam dan haal, serta menganggap bahwa tidak seorang pun di antara ummat manusia di dunia ini yang lebih buruk dari dirinya.”

Dikatakan : “Tawadhu’ adalah anugerah Allah yang tidak pernah diiri dengki orang dan kesombongan adalah penderitaan yang tidak membangkitkan belas kasihan. Kemudian terletak pada sikap tawadhu’ dan orang yang mencari kemuliaan dalam kesombongan tidak akan pernah mendapatkannya.”

Ibrahim bin Syaiban menegaskan : “Kehormatan terletak di dalam sikap tawadhu’, kemuliaan di dalam takwa, dan kemerdekaan di dalam qnaah.”

Abu Sa’id A’raby mengatakan, telah sampai kepadanya tentang Sufyan ats-Tsaury yang berkata : “Ada lima macam manusia termulia di dunia ini : Ulama yang zuhud, seorang faqih yang Sufi, seorang kaya yag rendah hati, seorang fakir yang bersyukur, dan seorang bangsawan yang mengikuti sunnah.”

Yahya bin Muadz menegaskan : “Kerendahan hati adalah sifat yang sangat baik bagi setiap orang, tapi ia paling baik bagi seorang yang kaya. Kesombongan adalah sifat yang menjijikan bagi setiap orang tetapi ia paling menjijikan jika terdapat pada orang yang miskin.”

Ibnu Atha’ bekomentar : “Tawadhu’ adalah menerima kebenaran dari siapapun datangnya.”

Dikisahkan, ketika Zaid bin Tsabit sedang mengendari kuda, Ibnu Abbas datang mendekatinya agar dapat memegang kendali kudanya. Maka Zaid lalu mencegahnya : “Jangan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas berkata : “Itulah yang diperintahkan kepada kami terhadap para ulama kami.” Maka, Zaid bin Tsabit meraih tangan Ibnu Abbas lalu menciuminya, sambil berkata : “Ini adalah yang diperintahkan untuk kami lakukan terhadap keluarga Rasulullah saw.”

Urwah bin az-Zubair menuturkan : “Ketika aku melihat Umar bin Khaththab memikul segantang air di atas pundaknya, aku berkata kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin, pekerjaan ini tidak patut bagi Anda,” Beliau menjawab : “Ketika para delegasi datang kepadaku, mendengarkan dan menaatiku, suatu perasan sombong merasuk ke dalam hatiku, dan kini aku ingin menghancurkannya. “ Beliau terrus memikul air an membawanya ke rumah seorang wnita Anshar dan mengisikannya ke dalam genthong milik wanita itu.”

Abu Nashr as-Sarraj at-Thausy mengabarkan : “Ketika Abu Hurairah r.a. menjabat Amir di Madinah, ia pernah terlihat sedang memikul seikat kayu di atas punggungnya, danberteriak-teriak.” Beri jalan untuk amir.”

Abdullah ar-Razy menjelaskan : “Tawadhu adalah tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan.”

Abu Sulaiman ad-Darany berkata : “Barangsiapa yang masih memberikan nilai kepada dirinya sendiri tidak akan merasakan manisnya ibadat.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Keangkuhan terhadap oang yang bersikap sombong terhadapmu dikaernakan kekayaannya, adalah sikap tawashu’.

Seorang laki-laki datang kepada Ay-Syibly dan bertanyalah kepadanya : “Sipakah engkau?” Ia menjawab : “Wahai tuanku, sebuah titik di bawah (ba’).” Lalu laki-laki itu berkata :”Engkau adalah saksiku, sepanjang engkau mengangap rendah kedudukan dirimu sendiri.”

Ibnu Abbas r.a. mengatakan : “Salah satu bagian tawadhu’ adalah bahwa orang yang meminum sisa minuman yang ditinggalkan oleh saudaranya.”

Bisyr mengajarkan : “Berilah salam kepada para pecinta dunia dengan cara tidak memberi salam kepada mereka.”

Syu’aib bin Harba menuturkan : “Ketika aku sedang melakukan thawaf di Ka’bah, seorang buruh laki-laki menyikutku, dan aku menoleh kepdanya. Ternyata orang itu adalah Fudhail bin ‘Iyadh, yang berkata : “Wahai Abu Shalih, jika engkau berpikiran bahwa di antara manusia yang melakukan ibadat haji ini ada yang lebih hina daripada dirimu atau diriku, maka betapa buruknya pikiranmu itu.”

Salah seorang Sufi mengatakan : “Aku melihat seorang laki-laki ketika sedang melakukan thawaf di Ka’bah. Ia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang menjunjung dan memujinya. Karena ulah mereka itu, hingga menghalangi orang lain dari melakukan thawaf. Sedang beberapa waktu setelah itu, kau melihat ia meminta-minta kepada orang-orang yang lewat di sebuah jembatan di Baghdad. Aku terkejut dan heran. IA lalu berkata kepadaku : “Aku dulu membanggakan diri di tempat di mana manusia-manusia mestinya merendahkan diri, maka Alalh swt. lalu menimpakan kehinaan kepadaku di tempat di mana manusia berbangga diri>” Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah sorang putranya telah membeli sebuah permata yang sangat mahal seharga seribu dirham. Beliau lalu menulis surat kepadanya : “Aku telah mendengar bahwa engkau telah membeli sebutir permata seharga seribu dirham. Jika surat ini telah sampai kepadamu, juallah cincin itu dan berilah makan seribu

Dalam dokumen TERJEMAH KITAB.docx (Halaman 64-75)

Dokumen terkait