TERJEMAH KITAB RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
As-Syeikh Al-Imam Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi
T AU B A T
“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (Qs. An-Nuur : 31).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik (10 H-93 H/612 M – 712 M) dari suku Khazraj golongan Anshar. Meriwayatkan 2286 hadis. Lahir di Madinah dan kemudian pergi ke Damaskus dan meninggal di Bashrah), bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang tidak berdosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.” (H.r. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).
Selanjutnya, membacakan ayat : “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah : 222).
Ketika belaiau ditanya : “Waha Rasulullah, apa pertanda bertaubat.?”, beliau menjawab : “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Tiada sesuatu yang dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.” (as-Syuyuti dalam kisah ash-Jami’ah as-Shaghir, Jilid II, hlm. 8050, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan Abul Mudzaffar as-Sam’any, dari Salman. Menurut as-Suyuthy, hadis tersebut hadis dha’if).
Oleh karena itu, taubat merupakan tingkat pertama di antara tingkat-tingkat yang dialami oleh para Sufi dan tahapan pertama di antara tahapan-tahapan yang dicapai oleh penempuh jalan Allah (salik).
Makna taubat dalama Bahasa Arab adalah “Kembali”. “Ia bertaubat” beraarti “Ia kembali”. Jadi taubat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’ menuju sesuatu yang
dipuji olehnya. Rasulullah saw. bersabda “Menyesali kesalahan merupakan sutu taubat.” (H.r. Bukhari dan Ahmad).
Para Ahli Ushul di kalangan Ahli Sunnah mengatakan : “Terdapat tiga syarat taubat yang musti dipenuhi agar taubat itu sah : Menyesali pelanggaran yang telah dilakukan; meninggalkan secara langsung penyelewengan; dan dengan mantap seseorang memutuskan tidak kembali pada kemaksiatan yang sama.”
Hadis di atas menunjukkan betapa agungnya taubat itu, sebagaimana ketika Rasulullah saw. bersabda : “Haji adalah Arafah”, maksudnya, adalah menyampaikan pesan bahwa bukannya tidak ada unsur-unsur haji yang yang lain selain wukuf di Arafah, melainkan bahwa bagian terbesar unsurnya adalah wukuf di Arafah. Demikian pulalah maksud dari pesan yang disampaikan Rasulullah saw. bahwa, “Menyesali kesalahan merupakan suatu taubat.” – bahwa bagian utama taubat adalah menyesali keselahan.”
“Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi persyaratan taubat.” Demikian kata mereka yang telah melaksanakannya, karena tindakan tersebut mempunyai akibat berupa dua persyaratan yang lain. Artinya, orang tidak mungkin bertaubat dari suatu tindakan yang tetap dilakukan atau yang ia mungkin bermaksud melakukannya. Inilah makna taubat secara global.
Sebagai penjelasan lebih lanjut, kami katakan bahwa taubat mempunyai sebab-sebab, urutan, aturan dan bagian-bagian. Sebab langsung taubat yang pertama ialah kebangunan hati dari kealpaan, menyadari bahwa hamba tersebut berada dalam perilaku buruk. Ia mencapai ini dengan batuan Allah swt. terhadap pikirannya. Ini berlangsung dengan cara mendengarkan kata hati, lantaran sebuah hadis menyatakan : “Allah mengingatkan pada kalbu Muslim.” Hadis yang menyatakan : “Ada segumpal daging di dalam jasad, yang apabila ia bagus, maka keseluruhan jasad akan bagus, dan apabila ia rusak, maka keseluruhan jasad akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” (H.r. Bukhari-Muslim).
Apabila seseorang merenungi perbuatan-perbuatan jahatnya, niscaya ia akan memahami tindakan-tindakan tercela yang dilakukannya, dan keinginan untuk bertaubat akan datang ke lubuk hatinya, bersamaan dengan tindakan menahan diri dari tindakan-tindakan tercela tersebut. Kemudan Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan niatnya yang kukuh ini, dalam menempuh jalan kembali menuju kebaikan.
Cara bertaubat pertama adalah, memisahkan diri dari orang-orang yang berbuat jahat, karena mereka akan mendorong untuk mengingkari tujuan ini, dan keraguan atas kelurusan niat yang telah teguh. Dan hal ini tidak akan lengkap kecuali dibarengi keteguhan dalam bersyahadat, secara terus menerus, dan dibarengi motif-motif yang mendorong pelaksanaan ketetapan dalam hati, yang darinya dapat memperkuat rasa khauf dan raja’. Selanjutnya, tindakan-tindakan tercela, yang membentuk simpul kebandelan dalam hati akan mengendor, ia akan menghentikan perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan kendali diri akan terjaga dari memperturutkan hawa nafsu. Kemudian, ia harus segera meninggalkan dosanya dan berketetapan hati untuk tidak kembali ke dosa-dosa serupa di masa mendatang. Apabila terus bertindak sesuai dengan tujuan yang selaras dengan kehendaknya ini, berarti bahwa ia telah dianugerahi rasa aman yang sebenarnya.
Apabila sekali waktu meredup dan hasratnya mendorong untuk melakukan penyelewengan kembali, suatu hal yang mungkin seringkali terjadi, kita harus tetap berharap orang seperti itu akan bertaubat lagi karena : “Bagi tiap-tiap masa ada ketentuannya.” (Qs. Ar.Ra’ad : 38).
Abu Sulaiman ad-Darany mengtakan : “Aku seringkali mengunjungi majelis seorang ahli kisah, kemudia kata-katanya membekas di kalbu. Tetapi, ketika aku pulang, kata-katanya itu pun lenyap. Aku menghadiri majelis untuk kedua kalinay, mendengar uacapnnay dan membekas di kalbu, lalu hingga di jalan aku lupa kembali. Bahkan aku pun hadir di majelisnya untuk yang ketiga kalinya, berulah kata-katanya membekas hingga di rumah. Selnjutnya kuhancurkan segala peralatan
yang mengarah pada dosa dan aku meneguhi Jalan. Setelah itu, kisah ini kusampaikan kepada Yahya bin Mu’adz, sembari memberi komentar atas kisah ini. :”Seekor burung pipit mengkap seekor burung gbangau : “Dengan burung pipit yang dimaksudkannya adalah si pengisah itu dan burung bangau adalah Abu Sulaiman ad-Darany sendiri.
Abu Hafs al Haddad mengatakan : “Aku meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali padanya. Kemudain perbuatan itu meninggalkanku, dan sesudah itu aku tidak kembali lagi padanya.”
Abu Amr bin Nujayd pada awal perjalanan spiritualnya, seringkali mengunjungi majelis Abu Utsman. Kata-kata Abu Utsmman amat berkesan di dalam hatinya, hingga membuatnya bertaubat. Selanjutnya ia mendapat cobaan. Ia meninggalkan Abu Utsman, dengan mengundurkan diri dari majelisnya. Pada suatu hari ketika Abu Utsman berpapasan dengannya, Abu Amr segera berpaling dan mengambil jalan lain. Abu Utsman mengikutinya, berjalan di belakangnya, seraya berkata : “Wahai anakku, jangan menjadi sahabat orang yang tidak mencintaimu, kecuali ia seorang yang bersih dari dosa! Hanya Abu Utsman yang mau membantumu dalam keadaanmu seperti sekarang ini.” Selanjutnya Abu Amr bertaubat dan kembali sebagai murid setia.
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. mengatakan : “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima cobaan. Ia bertanya dalam hati, ‘Jika aku bertaubat, bagaimana hukuman atas diriku nanti?’ Maka terdengarlah bisikan dalam jiwanya, “Hai Fulan, engkau taat kepada kami, lalu Kami terima syukurmu, kemudian engkau tinggalkan Kami, maka Kami biarkan saja dirimu. Bila engkau kembali kepada Kami, pasti Kami terima.” Akhirnya si pemuda itu pun bertaubat, kembali ke cita-cita semula.”
Apabila ia meninggalkan kemaksiatan dan melepaskan diri dari ikatan kebandelan dalam hati, lalu bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan odsa, maka pada saat itulah taubat sejati menyeleusup ke lubuk hati. Ia menyesali terhadap segala sesuatu seperti telah dilakukannya, menjauhi tindakan-tindakan
tercela, sehingga taubatnya sempurna, mujahadahnya haq, dan diganti dengan upaya uzlah. Ia menghindari sekawanan orang-orang yang jahat lewat kahlwat, ia bekerja sepanjag siang dan malam dalam keadaan sengsara, dan bertaubat dalam situasi bagaimanapun, menghapus jejak-jejak dosanya dengan linangan air mata, dan mengobati hati dengan taubatnya. Ia dikenal di antara sejawatnya karena kesintingannya, namun kurus-kering tubuhnya memberikan kesaksian kengenai kewarasannya.
Tahap Tahap pertama pertaubatana seseorang adalah menghadapi iri hati para musuhnya sebisa mungkin, dengan harapan nahwa yang dimilikinya cukup untuk memenuhi hak-hak mereka atau bahwa mereka sepakat untuk meninggalkan klaim yang bekenaan dengan dirinya dan bersedia menerimanya. Dan apabila harapannya tidak terpenuhi, ia harus menerima klaim-klaim mereka, dan kembali kepada Allah swt. dengan penuh kejujuran, disamping itu juga mendoakan mereka.
Saya mendengar Ustadz Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Taubat dibagi menjadi tiga tahap, tahap awal adalah taubat (tawbah), tahap tengah adalah kembali (inabah) dan ketiga awbah.” Ia menempatkan tawabh di awal, awbah di akhir, dan inabah di antara keduanya.
Barangsiapa bertaubat karena takut siksa, maka ia tergolong orang yang taubat. Siapa pun yang bertaubat karena ingin mendapatkan pahala Ilahi, berada dalam keadaan inabah. Siapa pun yang bertaubat lantaran mematuhi printah Ilahi, bukan karena ingin mendapatkan pahala maupun takut akan hukuman, berada dalam keadaan awbah.
Juga dikatakan, taubat adalah sifat kaum Mukminin.” Allah swt. berfirman : “Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).” (Qs. Shaad:30).
Inabah adalah sifat para Auliya’ dan Muqarrabun. Allah swt. berfirman : “Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amatlah taat (kepada-Nya).” (Qs. Shaad : 44).
Al-Junayd berkata : “Taubat itu mempunyai tiga makna. Pertama, menyesali kesalahan; kedua, berketatapan hati untuk
tidak kembali pada apa yang telah dilarang Allah swt.; dan ketiga adalah menyelesaikan/membela orang yang teraniaya.”
Sahl bin Abdullah berkata : “Taubat adalah menghentikan sikap suka menunda-nunda.”
Al-Junayd berkunjung kepada as=Sary pada suatu hari, dan mendapatinya sedang kebingungan. Ia bertanya : “Apa yang telah terjadi atas dirimu?” As-Sary menjawab : “Aku bertemu dengan seorang pemuda, dan ia bertanya tentang taubat kepadaku. Kukatakan kepadanya. “Taubat adalah bahwa engkau tidak melupakan dosa-dosamu.” Lantas ia menyanggahnya dengan mengatakan, ‘Taubat adalah justru engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu.” Al-Junayd menjawab, “Karena apabila aku berada dalam kondisi kering, lantas aku dipindahkan ke kondisi dingin, maka menyebut masa kering di masa dingin, adalah kekeringan itu sendiri.” Dan akhirnya as-Sary pun terdiam.
Abu Nashr as-Sarraj dilaporkan mengatakan : “Sahl sedang memberitahukan kondisi ruhani murid-murid dan pendatang baru, yang terus menerus berubah. Al-Junayd merujuk taubatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karena keagungan Allah Swt. yang telah meluapi hati mereka, dan senantiasa mengingat (dzikr) kepada-Nya.”
Dzun Nuun al-Mishry memberi komentar : “Taubat kalangan awam adalah taubat dari dosa, dan taubat kaum kahwash adalah taubat dari kealpaan.”
Abul Husain an-Nury mengatakan : “Taubat adalah bahwa engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah swt.”
Abdullah bin Ali bin Muhammad al-Tamimi mengatakan : “Betapa besar perbedaan antara orang yang bertaubat dari dosa, orang yang bertaubat dari kealpaan, dan orang yang bertaubat dari kesadaran akan perbuatan baiknya sendiri.”
Al-Wasithy berkata : “Taubat sejati adalah taubat yang tidak menisakan pengaruh maksiat, baik secara batin maupun lahir.”
Yahya bin Mu’adz berdoa, “ahai Tuhanku, aku tidak akan mengatakan, “Aku telah bertaubat” dan aku tidak kembali kepada-Mu hanya karena sesuatu yang menurutku adalah
kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak aka berbuat dosa lagi, karena aku mengetahui kelemahanku sendiri.”
Dzun Nuun berkata : “Permohonan ampun yang diajukan dengan tidak disertai pencabutan dosa adalah taubat para pendusta.”
Ketika al-Busyanjy ditanya soal taubat, ia menjawab : “Ketika dirimu ingat dosa, lantas tidak engkau temui manisnya ketika mengingatnya, itulah taubat.”
Dzun Nuun mengatakan : “Esensi taubat adalah bahwa bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehinngga engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu engkau merasakan jiwamu terhimpit, karena Allah swt. telah menyatakan di dalam Kitab-Nya, “Dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah : 118).
Ibnu Atha’ berkata: “Terdapat dua jenis taubat : Inabah (kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi). Dalam inabah sang hamba bertaubat karena takut akan hukuman; dalam istijabah ia bertaubat karena malu akan kemurahan-Nya.”
Abu Hafs ditanya : “Mengapa orang yang bertaubat membenci dunia?” Ia menjawab : “Karena ia merupakan tempat di mana dosa-dosa dikejar.” Dan dikatakan kepadanya : “Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Allah karena taubat.” Dikatakannya pula, “Sungguh dunia termasuk bagian dosa dengan amat yakin, tetapi mendapatkan bahaya dari penerimaan atas taubatnya.”
Sebagian kalangan Sufi mengatakan : “Taubat para pendusta berada di bibirnya, karena mereka hanya membatasi ucapannya pada Astaghfirullah.”
Diriwayatkan bahwa Allah swt. berfirman kepada Adam : “Wahai Adam, Aku telah mewariskan kepada anak cucumu beban dan penderitaan. Aku menjawab salah seorang di antara
mereka, yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada-Ku, persis sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur-kubur mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Kujawab.”
Seseorang bertanya kepada Rabi’ah Adawiyah : “Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertaubat, akankah Dia mengampuninya?” Dijawab oleh Rabi’ah, “Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.”
Ketahuilah bahwa Allah swt. berfirman : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Qs. Al-Baqarah :222). Orang yang membiarkan dirinya larut dalam kesalahan, benar-benar identik dengan menggelincirkan diri sendiri. Tetapi apabila ia bertaubat, niscaya penerimaan taubatnya oleh Tuhan diragukan, terutama karena kecintaan Tuhan kepadanya adalah satu syarat bagi penerimaan itu. Dan itu bakal terjadi pada suatu waktu sebelum si pendosa sampai pada satu titik dimana ia menjumpai tanda-tanda kecintaan Allah kepada dirinya dalam sifatnya. Tugas hamba tersebut, ketika mengetahui bahwa dirinya telah melakukan suatu tindakan yang mengharuskan taubat, ialah bertaubat secara sungguh-sungguh, dengan menolak secara gigih perbuatan odsa dan memohon ampunan, sebagaimana tertuang dalam ucapan mereka, “Seperti kesadaran akan rasa takut menjelang ajal.”
Firman Allah swt. “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Qs. Ali Imran : 31).
Di antara Sunnah Nabi saw. adalah beristighfar terus menerus.
Beliau bersabda :
“Hatiku terasa dahaga, oleh karena itu aku memohon ampunan Allah tujuhpuluh kali dalam sehari.” (Hr. Muslim dan Abu Dawud).
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Satu penyelewengan saja sesudah bertaubat lebih buruk ketimbang tujuhpuluh penyelewengan sebelum bertaubat.”
Abu Utsman berkata : “Akan halnya firman-Nya : “Kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.” (Qs. Al-An’am :36), maknanya jika mereka bebas berkeliaran melakukan perbuatan dosa.”
Abu Amr al-Anmathy berkata : “Ali bin Isa, seorang perdana Menteri, mengendari sebuah kendaraan pada suatu prosesi, dan orang-orang yang tidak mengenalnya bertanya : ‘Siapakah ia? Siapakah ia? Seorang wanita yang berdiri di sisi jalan menyahut, “Sampai kapan Anda akan mengatakan , ‘Siapakah ia? Siapakah Ia? Dialah seorang hamba yang terlepas dari perlindungan Allah swt. Dan Allah telah memberikan cobaan sebagaimana Anda lihat.’ Katika Ali bin Isa mendengar jawaban wanita tersebut, ia kembali ke rumahnya, seketika itu pula mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, lalu pergi ke Mekkah, dan menetaplah ia dikota suci itu.
MUJAHADAH
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Ankabut : 69).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khurdry, (Sa’id bin Malik bin Sanan al-Nashari al-Kahzrajy (10.sH – 74 H/613 -693 M), seorang sahabat Rasulullah saw. Ikut berperang duabelas kali, dan meriwayatkan 1170 hadis. Meninggal di Madinah). Bhawa ketika Rasulullah saw. ditanya mengenai jihad terbaik, beliau menjawab, “Adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang pengausa yang zalim.” (Qs. Hr. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Mka air mata berlinang dari kedua mata Abu Sa’id ketika mendengar hal ini.
Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata : “Barangsiapa menghiasai lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah. Siapa yang permulaannya tidak memiliki mujahadah dalam tharikat ini, ia tidak akan menemui cahaya yang mencar darinya.”
Abu Utsman al-Maghriby mengatakan : “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dirinya akan
mencapai sesuatu di jalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya, tanpa bermujahadah.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. menegaskan : “Orang yang tidak berdiri dengan mantap di awal perjalanan spiritualnya tidak akan diizinkan beristirahat pada akhir perjalanannya.” Dikatakannnya pula, “Gerak adalah suatu berkat.” Dan katanya kemudian, “Gerakan-gerakan dzahir akan melahirkan barakah-barakah batin.”
As- Sary berkata : “Wahai kaum muda, tekunlah kalian, sebelum kamu sekalian menginjak usia seperti diriku, sehingga kalian lemah dan lengah seperti diriku.” Padahal pada saat itu tidak seorang pun di antara para pemuda yang mampu menyejajari langkah as-Sary dalam bidang ibadat.
Saya mendengar al-Hasan al-Qazzaz berkata : “Jangan makan kecuali amat lapar, jangan tidur kecuali amat kantuk, jangan bicara kecuali dalam keadaan darurat.”
Ibrahim bin Adham mengatakan : “Seseorang akan baru mencapai derajat kesalehan, sesudah melakukan enam hal : (1) Menutup pintu bersenang-senang dan membuka pintu penderitaan; (2) Menutup pintu keangkuhan dan membuka pintu kerendahan hati; (3) Menutup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan; (4) Menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga; (5) Menutup pintu kemewahan dan membuka pintu kemiskinan; (6). Menutup pintu harapan duniawi dan membuka pintu persiapan menghadapi kematian.”
Abu Amr bin Nujayd berkata : “Barangsiapa menghargai hawa nafsunya berarti meremehkan agamanya dan pendengarannya.”
Abu Ali ar-Rudzbary mengatakan : “Apabila seorang Sufi – sesudah lima hari kelaparan – berkata : “Aku lapar.” Kirimlah ia ke pasar untuk mencari nafkah. Prinsip mujahadah pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebaisaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjag waktu.”
Jiwa; mempunyai dua sifat yang menghalangi dalam mencapai kebaikan; keberlarutan dalam memuja hawa nafsu dan penolakan pada tindak kepatuhan. Manakala jiwa menunggang nafsu, maka Anda harus mengendalikannya
dengan kendali takwa. Manakala jiwa bersikukuh menolak untuk selaras dengan kehendak Tuhan, maka Anda harus mengendalikannya agar menolak hawa nafsunya. Manakala Jiwa bangkit memberontak, maka Anda harus mengendalikan keadaan ini. Tiada satu hal pun yang berakibat lebih utama selain sesuatu yang muncul menggantikan kemarahan yang kekuatannya telah dihancurkan dan yang nyalanya telah ddipadamkan oleh akhlak mulia. Manakala jiwa menemukan kemanisan dalam anggur kecongkakan, niscaya ia akan merana bila tidak sanggup menunjukkan kemampuannya dan menghiasai perbuatan-perbuatannya kepada siapapun yang melihatnya. Orang harus memutuskannya dari kecenderungan seperti ini dan menyerahkannya pada hukuman kehinaan yang akan datang tatkala diingatkan akan hargadirinya yang rendah, asal-usulnya yang hina dan amal-amalnya yang emnijikan. Perjuangan kaum awam berupa pelaksanaan tindakan-tindakan; tujuan kaum khawash adalah menyucikan keadaan spiritual mereka. Bertahan dalam lapar dan jaga, adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan semua hal negatif yang melekat padanya, sangatlah sulit.
Satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit dilihat adalah ketergantungannya pada pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan mental seperti ini adalah apabila pujian orang tidak diberikan kepadanya, niscaya ia menjadi pasif dan pengecut.
Dikabarkan bahwa Abu Muhammad al-Murta’isy berkata : “Aku berangkat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa segenap upayaku terkotori oleh kegembiraanku dalam melakukannya. Hal ini kusadari saat ibu memintaku menarikan sguci air untuknya. Jiwaku merasakan hal ini sebagai beban yang berat. Saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah swt. dalam hajiku selama ini tidak lain hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas
kewajibanku sebagai suatu yang memberatkan dalam hukum syaritat.”
Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya mengenai keadaan ruhaninya. Ia menjawab : “Semasa Muda, aku berpikir bahwa keadaan-keadaan ruhani itu berasal dari kekuatan dan semangat yang tak kujumpai saat ini, ketika sudah tua, semua itu sirna sudah.”
Dzun Nuun al-Mishry berkata : “Penghormatan yang Allah berkenan memberikannya kepada seorang hamba, maka Allah menunjukkan kehinaan dirinya, penghinaan yang Allah berkenan menimpakannya kepada seorang hamba, maka Allah menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan akan kehinaan itu sendiri.”
Ibrahim bin Khawwas menegaskan : “Aku tidak menghadapi seluruh ketakutanku, kecuali secara langsung menghadapinya dengan menungganginya.”
Muhammad bin Fadhl mengatakan : “Istirahat total adalah kebebasan dari keinginan hawa nafsu.”
Saya mendengar Abu Ali ar.Rudzbary berkata : “Bahaya yang menimpa manusia datang dari tiga hal : Kelemahan watak, keterpakuan pada kebiasaan, dan mempertahankan teman yang merusak.” Saya bertanya kepadanya, “Apakah kelemahan watak itu?” Ia menjawab. “Mengkonsumsi hal-hal-yang haram.” Lalu saya tanyakan : “Apakah keterpakuan pada kebiasaan itu?” Ia berkata : “Memandang dan mendengarkan segala sesuatu yang haram dan melibatkan diri dalam firnah.” Saya bertanya : “Apakah mempertahankan teman yang merusak itu? Dijawabnya : “Itu terjadi ketika Anda menuruti hasrat nafsu dalam diri, lalu diri Anda mengikutinya.”
An-Nashr Abadzy mengatakan : “Penjara adalah jiwa Anda. Apabila Anda melepaskan diri darinya, niscaya akan sampai pada kedamaian.” Ia juga berkata : “Aku mendengar Muhammad al-Farra’ berkisah bahwa Abul Husain al-Warraq mengatakan : “Ketika kami memulai menempuh jalan-Nya lewat Tasawuf di Masjid Abu Utsman al-Hiry, praktek terbaik yang kami lakukan adalah bahwa kami mempriorotaskan kemudahan bagi orang lain; kami tidak pernah tidur dengan
menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan; kami tidak pernah menuntut balas kepada seseorang yang menyinggung hati kami, bahkan kami selalu memaffkan tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya; dan jika kami memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu lenyap.”
Abu Ja’far berkata : “Nafsu, seluruhnya gelap gulita, peliatanya adalah batinnya. Cahaya pelita ini adalah taufiq. Orang yang tidak disertai taufik dari Tuhannya, maka kegelapan akan menyelimutinya.” Ketika mengatakan, “Pelita adalah batinnya.” Dimaksudkan adalah rahasia antara dirinya dan Allah swt. yakni tempat keikhlasannya. Dengannya si hamba tersebut mengetahui bahwa semua peristiwa adalah karya Tuhan; peristiwa-peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak pula berasal darinya. Bila mengetahui hal ini, ia akan bebas dalam setiap keadaannya, dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri dalam melestarikan manfaat waktunya. Orang yang tidak disertai taufik tidak akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tentang jiwanya atau tentang Tuhannya. Itulah sebabnya mengapa para syeikh mengatakan “Orang yang tidak mempunyai sirr akan terus bersikeras menuruti hawa nafsunya.”
Abu Utsman berkata : “Selama orang melihat setiap sesuatu baik dalam jiwanya, ia tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya. Hanya orang yang berani mendakwa dirinya terus menerus selalu berbuat salahlah yang akan sanggup melihat kesalahannya itu.
Abu Hafs mengatakan : “Tidak ada jalan yang lebih cepat ke arah kerusakan, kecuali jalan orang yang tidak mengetahui kekurangan dirinya, karena kemaksiatan kepada Tuhan adalah jalan cepat menuju kekafiran.”
Abu Sulaiman berkata : “Aku tahu bahwa tidak sedikit pun kebaikan dapat ditemukan dalam suatu perbuatan yang kulakukan sendiri, aku berharap diberi pahala karenanya.”
As-Sary berkomentar : “Waspadalah terhadap orang yang suka bertetangga dengan orang kaya, pembaca-pembaca
Al-Qur’an yang sering mengunjungi pasar, dan ulama-ulama yang mendekati penguasa.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : Kerusakan merasuki diri manusia dikarenakan enam hal (1) Mereka memiliki niat yang lemah dalam melaksanakan amal untuk akhirat; (2) Tubuh mereka diperbudak oleh nafsu; (3) Mereka tidak henti-hentinya mengharapkan perolehan duniawi, bahkan menjelang ajal; (4) Mereka lebih suka menyenangkan makhluk, mengalahkan ridha Sang Pencipta; (5) Mereka memperturutkan hawa nafsunya, dan tidak menaruh perhatian yang cukup kepada Sunnah Nabi saw. (6) Mereka membela diri dengan menyebutkan beberapa kesalahan orang lain, dan mengubur prestasi pendahulunya.
KHALWAT DAN ‘UZLAH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. (Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausy (21s.H – 59H/602-679 M), seorang sahabat sejak ia yatim. Masuk Islam tahun 7 H. Dan senantiasa mendampingi Nabi saw. serta meriwayatkan 5.374 hadits), Bahwa Nabi saw. besabda :
“Di antara cara-cara terbaik bagi manusia dalam mencari penghidupan adalah seseorang mengendarai kuda di jalan Allah, dan apa bila ia mendengar suara manusia-manusia yang panik atau ketakutan dalam peperangan, ia memacu kudanya mencari mati syahid atau kemenangan di medan jihad; atau seseorang menggembalakan biri-biri dan kambing-kambingnya di puncak gunung atau di kedalamanan lembah, namum tetap mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan beribadat kepada Tuhan sampai datang suatu keyakinan. Tidak ada urusan dengan sesama manusia kecuali didasarkan pada kebaikan.” (H.r. Muslim).
Menyendiri dari pengaruh duniawi (khalwat) adalah sifat orang-orang suci. Sedangkan mengasingkan diri (‘uzla) adalah lambang orang yang ber-wushul kepada-Nya. Memisahkan diri dari manusia sangat diperlukan bagi murid pada awal kondisi ruhaninya, dan selnjutnya mengasingkan diri pada akhir kondisi ruhani, karena telah mencapai keakraban sukacita ruhani.
Sikap seorang yang layak ketika memutuskan untuk memisahkan diri dari manusia adalah meyakini bahwa masyarakat akan terhindar dari kejahatannya (dengan tindakannya memisahkan diri dari mereka), bukan bahwa ia akan terhindar dari kejahatan mereka. Sikap pertama adalah hasil dari seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri; sikap kedua adalah akibat seseorang merasa bahwa dirinya lebih baik dari masyarakat. Orang yang mengganggap dirinya tiak berharga adalah rendah hati, dan orang yang menganggap dirinya lebih bergarga ketimbang orang lain adalah takabur.
Seseorang melihat seorang rahib dan berkata kepadanya : “Anda seorang rahib.” Ia menjawab : “Bukan, aku adalah anjing penjaga. Jiwaku adalah seekor anjing yang menyerang ummat manusia. Aku telah menjauhkannya dari mereka supaya mereka aman.”
Seseorang lewat di hadapan syeikh yang shaleh. Sementara syeikh itu bergegas merapatkan jubahnya supaya tidak bersentuhan dengan pakaian orang tersebut. Orang tersebut bertanya : “Mengapa Anda menarik jubah Anda?” Pakaian saya tidak kotor.” Sang Syeikh menjawab : “Dugaan Anda salah. Saya menarik jubah supaya tidak menyentuh pakaian Anda karena jubah saya kotor, kalau tidak, jubah saya pasti mengotori pakaian Anda. Jadi bukan karena saya bermaksud menjaga jubah saya supaya tidak kotor.”
Untuk dapat ber-Uzlah dengan tepat, seseorang harus mempunyai pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, agar setan tidak menggodanya dengan bisikan-bisikannya. Ia juga harus mempunyai pengetahuan yang dapat diperolehnya dari syariat – tentang kewajibannya, sgar segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh. Sesungguhnya, ‘uzlah adalah menjauhi sifat-sifat hina, mengubah sifat-sifat hina tersebut, bukannya amenjauhkan diri lewat jarak tempat. Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan : “Siapakah orang ‘arif itu?” Mereka menjawab : “Orang yang ada dan yang jelas, yakni ada bersama makhluk, jelas namun jauh dari mereka lewt rahasianya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Aku memakai pakaian sebagaimana orang banyak memakaianya, makan makanan yang seperti mereka makan. Namun aku menyendiri dari mereka dalam rahasia.” Saya mendengar ia berkata : “Ada orang yang datang kepadaku dan bertanya, ‘engkau datang dari jarak yang jauh?” saya menjawabnya, ‘Pembicaraan ini bukannya peristiwa bepergian dengan jarak dan ukuran perjalanan.Berpisahlah dari diri Anda sendiri dalam satu langkah saja, dan Anda pasti mencapai tujuan Anda.”
Abu Yazid mengatakan : “Aku melihat Tuhan dalam mimpi, lalu aku bertanya : “Bagaimana aku musti menjumpai-Mu?” Tuhan menjawab : “Tinggalkan dirimu dan kemarilah.”
Abu Utsman al-Maghriby berkomentar : “Adalah wajar bagi seseorang yang memutuskan memisahkan diri dari kesertaan bersama sesamanya supaya bebas dari segala jenis pengingatan, kecuali pengingatan kepada Tuhan, terbebas dari semua hawa nafsu kecuali keinginan mencari ridha Tuhan, dan terbebas dari tuntutan diri akan segala sebab duniawi. Apabila tidak demikian, maka tindakannya berkhalwat hanya akan melemparkannya ke dalam cobaan atau petaka.”
Dikatakan bahwa sendiri dalam khalwat sangat dekat pada ketenangan jiwa.
Seseoarng mengunjungi Abu Bakr al-Warraq, dan sewaktu akan pulang, ia berkata : “Saya telah menemukan yang terbaik dari dunia dan akhirat dalam khalwat dan kemiskinan, dan saya telah menemukan yang terjelek dari keduanya (dunia dan akhirat) dalam pergaulan dengan manusia dan kemewahan.
Ditanya tentang ‘uzlah, Abu Muhammad al-Jurairy menjawab : “’Uzlah adalah Anda masuk ke dalam kumpulan orang banyak sambil menjaga batin Anda supaya tidak diharu-biru oleh mereka. Anda menjauhkan diri dari dosa-dossa, dan batin Anda berhubungan dengan al-Haq.”
Ada yagn mengatakan : “Siapa pun memlih ‘Uzlah akan mencapai kemuliannya.”
Sahl mengatakan : “Khalwat tidak sah, kecuali dengan memakan makanan haalal, dan memakan makanan halal tidak sempurna kecuali menunaikan Hak Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : “Aku tidak menemukan sesuatu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain kahlwat.”
Abu Abdullah ar-Ramly bekata : “Gantilah sahabat Anda dengan khalwat, makanan Anda adalah lapar, dan ucapan Anda menjadi munajat. Maka Anda akan mati atau mencapai Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : “Orang yang menyembunyikan dirinya dari sesama manusia melalui khalwat tidaklah seperti orang yang menyembunyikan dirinya dari sesamanya melalui Tuhan.”
Al-Junayd berkata : “Kesulitan dalam ‘uzlah lebih mudah diatasi ketimbang kesenangan berada bersama orang lain.” Makhul asy-Syaami mengatakan : “Memang bergaul dengan sesama manusia ada baiknya, tetapi ada rasa aman dalam ‘uzlah.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Keheningan adalah sahabat orang jujur.”
Abu Bakr asy-Syibly selalu mengatakan : “Rusak ... rusak, wahai sahabt!” Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Abu Bakr, apa pertanda kerusakan?” Ia menjawab : “Satu dari sekian kerusakan adalah berakrab-akrab dengan orang banyak.”
Yahya bin Abu Katsir berkata : “Barangsiapa bergaul dengan orang banyak haruslah menyenangkan hati mereka, dan barangsiapa menyenangkan hati mereka, berarti telah bertindak munafik.”
Sa’id bin Harb mengatakan : “Aku berangkat menemui Malik Bin Mas’ud di Kufah, dan ia sendirian di dalam rumahnya. Aku bertanya, “Apakah Anda tidak merasa takut sendirian?” Ia menjawab : “Aku tidak menganggap bahwa seseorang yang bersama Allah swt. adalah ketakutan.”
Al-Junayd berkata : “Barangsiapa menginginkan agamanya sehat dan raga serta jiwanya tenteram, lebih baik ia memisahkan diri dari orang banyak. Sesungguhnya zaman yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah yang memiliki kesendiriannya.”
Abu Ya’qub as-Susy mengatakan : “Hanya orang-orang yang sangat kuat sajalah yang harus menyendiri. Akan halnya orang-orang seperti kita, bergaul dengan orang banyak lebih menguntungkan.”
Asy-Syibly memerintah Abu Abbas ad-Dimaghani demikian : “Praktikkan kesendirian dan hapuslah nama Anda dari khalayak, hadapkan muka Anda ke dinding sampai Anda meninggal dunia.”
Seseorang menemui Syu’aib bin Harb, yang bertanya : “Mengapa Anda ke sini?” Orang tersebut menjawab : “Wahai sahabatku! Sesungguhnya ibadat tidaklah lestari lewat bergabung dengan yang lain. Seseorang yang belum menjalin kemesraan dengan Allah swt. tidak akan menjadi mesra dengan apa-pun.”
Seseorang ditanya : “Hal mengagumkan apakah yang telah Anda temukan dalam perjalanan Anda?” Ia menjawab : “AlKhidhr menjumpaiku dan ia ingin menyertaiku. Aku khawatir ia mengacaukan tawakalku kepada Allah swt.”
Salah seorang Sufi ditanya : “Adakah seseorang atau sesuatu di tempat ini yang dengannya Anda merasa akrab?” Ia menjawab : “Ada”. Dengan meletakkan Al-Qur’an di atas pangkuannya, ia menjawab : “Ini”, Berkenaan makna ucapannya itu, para Sufi membacakan baris-baris berikut :
Buku-bukumu di sekitarku
Tidak meningglakan tempat tidurku Di dalamnya terdapat obat pelipur Bagi sakit yang kusembunyikan.
Salah seorang Sufi ditanya Dzun Nuun al-Mishry : “Kapan ‘uzlah yang tepat bagi diriku?” Ia menjawab : “Ketika Anda sanggup memisahkan diri Anda dari diri Anda sndiri.” Ditanyakan kepada Ibnul Mubarak : “Apakah obat bagi hati yang sakit?” Ia menjawab : “Berjumpa dengan sesama manusia sejarang mungkin.”
Dikatakan : “Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya.
Barangsiapa telah dianugerahi semua ini berarti telah mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat.”
T A Q W A
Allah berfirman :“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (Qs. Al-Hujarat :13).
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ak-Khudry, bahwa seseorang menghadap Nabi saw. dan berkata : “Wahai Rasulullah, nsehatilah saya!.” Beliau menjawab :
“Engkau harus mempunyai ketakwaan kepada Allah, karena ketakwaan adalah kumpulan seluruh kebaikan. Engkau harus melaksanakan jihad, karena jihad adalah kerahiban kaum Muslimin. Dan engkau harus dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu.” (H.r. Ibnu Dharies, dari Abu Said).
Anas r.a. meriwayatkan, seseorang bertanya kepada rasulullah saw. “Siaakah keluarga Muhammad?” Beliau menjawab “Setiap orang yang takwa.”
Takwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakikatnya adalah seseorang melindungi dirinya dari hukum Tuhan dengan ketundukan kepada-Nya. Asal-Usul taqwa adalah menjaga dari syirik, dosa dan kejahatan, dan hal-hal yang meragukan (syubhat), serta kemudian meninggalkan hal-hal utama (yang menyenangkan).
Menurut Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. masing-masing bagian tersebut memiliki bab tersendiri. Dan dinyatakan di dalam tafsir menganei firman Allah swt. “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran : 102), ayat ini mempunyai makna bahwa Dia harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, dan bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya, dan tidak mengufuri-Nya.
Sahl bin Abdullah menegaskan : “Tiada penolong sejati selain Allah; tidak satu pun pembimbing yang sebenarnya selain Utusan Allah; tak satu pun perbekalan yang mencukupi
selain takwa, dan tidak satu pun amal yang langgeng keteguhannya selain bersabar.
Al-Jurairy mengatakan : “Dunia dibagi secara adil sesuai dengan cobaan, dan akhirat dibagi secara adil sesuai dengan takwa.”
AL-Jurairy mengatakan : “Orang yang belum menjadikan taqwa dan muraqabah sebagai hakim, antara dirinya dan Tuhan tidak akan memperoleh musyafah dan musyahadah.”
An-Nashr Abadzy menjelaskan : “Taqwa adalah bahwa hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah swt. Barangsiapa menginginkan takwa yang sempurna, hendaknya menghindari setiap dosa. Siapa pun yang teguh dalam taqwa akan merindukan pepisahan dengan dunia, karena Allah swt berfirman : “Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya.” (Qs. Al-An’am :32).
Sebagian Sufi berkata : “Tuhan menjadikan berpaling dari dunia dengan mudah bagi orang yang benar-benar bertaqwa.” Abu Abdullah ar-Rudzbary mengatakan : “Takwa adalah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan diri jauh dari Allah swt.”
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan : “Orang yang bertakwa kepada Allah adalah orang yang tidak menodai aspek lahirian dirinya dengan sikap keras kepala, tidak pula aspek batiniahnya dengan alamat-alamat keruhanian. Ia berdiri di sisi Allah dalam keadaan selaras.”
Abul Hasan al-Farisy berkata : “Takwa mempunyai dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir adalah pelaksanaan syariah, dan aspek batinnya adalah niat dan mujahadah.”
Dzun Nuun membacakan baris-baris sejak berikut : Tak ada kehiduan
Selain bersama mereka
Yang hatinya mendambakan takwa Dan yang istirahat dalam dzikir Tentram dalam ruh keyakinan
Dikatakan : “Takwa seseorang ditandai oleh tiga sikap yang baik : Tawakal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuasa diri dengan apa yang telah dianugerahkan, dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang.”
Thalq bin Habib menjelaskan : “Takwa adalah bertindak sesuai dengan ketundukan kepada Allah sesuai dengan cahaya Allah swt.”
Abu Hafs mengatakan : “Takwa adalah sikap seseorang membatasi dirinya terhdap hal-hal yang jelas diperbolehkan, hanya itu.”
Abu Husyn az-Zanjany mengatakan : “Barangsiapa yang modal hartanya adalah takwa, ia akan lelah menghitung labanya.”
Al-Wasithy menegaskan : “Takwa adalah sikap seseorang menjauhi ketakwaannya; artinya menghindari kesadaran akan taqwa. Contoh orang yang bertakwa adalah Ibnu Sirin. Suatu saat Ibnu Sirin membeli empat puluh kaleng mentega. Ketika salah seorang membantunya menyingkirkan seekor tikus dari salah satu gucinya, Ibnu Sirin bertanya kepadanya, “Guci mana yang darinya tikus itu kamu singkirkan? Ia menjawab : “Saya tidak tau! Selanjutnya Ibnu Sirin memutuskan mengosongkan semua guci dengan menuang seluruh mentega ke atas tanah. Contoh orang saleh adalah Abu Yazid al-Bisthamy. Pada suatu hari ia membeli kunyit jingga di Hamadhan. Ia menjumpai hanya sedikit kunyit-jingga, dan ketika kembali ke Bistham, ditemukannya dua ekor semut di kunyit tersebut. Maka, ia kembali ke Hamadhan dan melepaskan kedua semut itu.”
Abu hanifah tidak pernah mau berteduh di bawah kerindangan pohon milik orang yang gberhutang kepadanya. Ia menjelaskan, “sebuah hadits menyatakan :
“Setia hutang yang pengembaliannya disertai kelebihan adalah riba” (Riwayat al-Ajluni, namun as-Suyuti menganggap hadits ini dha’if).
Abu Yazid sedang mencuci jubah di luar kota bersama seorang sahabat, ketika sahabatnya berkata : “Kita jemur jubah di dinding pagar kebun buah itu.” Abu Yazid menjawab : “Jangan menancapkan paku di dinding orang.!” Sahabatnya
menyarankan : “Jemur saja di atas pohon.” Abu Yazid menjawab : “Aku khawatir ia akan menyebabkan cabang-cabangnya patah.” Ia berkata : “Bentangkanlah ia di atas rerumputan!” Abu Yazid menjawab : “Rerumputan itu makanan hewan ternak. Jangan kita menutupi dengan jubah ini!>” Selanjutnya, ia menghadapkan punggungnya hingga satu sisi jubahnya mengering, lantas membalik sisi yang lain hingga mengering pula.
Dikisahkan, pada suatu hari Abu Yazid memasuki masjid dan menancapkan tongkatnya ke tanah. Tongkat itu roboh dan menimpa tongkat seseorang yang berusisa lanjut, yang juga menancapkannya di tanah, dan menyebabkan tongkat orang tersebut roboh. Orang tua itu membungkuk, lalu mengambil tongkatnya. Abu Yazid pergi ke rumah orang tua tersebut dan minta maaf kepadanya, dengan mengatakan : “Anda tentu merasa terganggu disebebkan oleh kelalaian saya, ketika Anda terpaksa membungkuk.
Utbah al-Ghulam tampak bercucuran keringat di musim dingin. Ketika orang-orang di sekitarnya menanyakan hal itu kepadanya, ia memberikan penjelasan. “Ini adalah tempat di mana aku telah bermaksiat kepada Allah swt.” Ketika diminta memberikan penjelasan lebih lanjut, ia mengatakan : “Aku mengambil sebongkah lempung dari dinding ini, supaya tamuku dapat membersihkan tangan dengannya, tetapi aku tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik dinding ini.”
Ibrahim bin Adham berkaa : “Pada suatu malam aku menggisi waktu di bawah kubah Masjid Kubah Batu Karang di Baitul Maqdis. Di tengah malam sepi turun dua malaikat. Malaikat pertama bertanya kepada sahabatnya : “Siapakah orang yang berdiam di sini? Sahabatnya menjawab : “Ibrahim bin Adham.” Malaikat pertama itu berkata : “Inilah orang yang derajatnya telah diturunkan Allah swt. satu tingkat! Maka, Malaikat ke dua bertanya : “Mengapa? Ia menjawab : “Karena ketika ia membeli sedikit kurma di Nashrah, sebutir kurma bercampur menjadi satu dengan kurma yang dibelinya, ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya.”
Kemudia Ibrahim melaporkan : “Aku berangkat ke Bashrah, membeli kurma dari orang tersebut, dan menjatuhkan se butir kurma ke dalam kurma-kurma miliknya. Aku kembali ke Yerusalem dan dan mengisi malam hariku di Masjid Kubah Batu Karang. Ketika sebagian malam berlalu, aku melihat dua malaikat turun dari langit, dan malaikat yang satu bertanya kepada sahabatnya : “Siapakah orang yang berdiam di sini? Sahabatnya menjawab : “Ibrahim bin Adham.” Malaikat yang bertanya berkata lagi : “Ini adalah orang yang telah dikembalikan dan dinaikan derajatnya oleh Allah swt.”
Dikatakan bahwa takwa mempunyai bermacam-macam aspek; bagi kaum awam taqwa adalah menghindari syirik, bagi kaum terpilih (khawash) adalah menghindari dosa-dosa, bagi para auliya’ adalah menghindari ketergantungan pada amal, dan bagi para Nabi menghindari menisbatkan amal kepada selain Allah swt. Sebab taqwa mereka datang dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. berkata : “Kaum termulia di dalam dunia adalah kaum dermawan dan yang paling mulia di akhirat adalah kaum yang taqwa.”
Diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahwa Nabi. Saw. menegaskan :
“Apabila seseorang menatap kecantikan seorang wanita dan kemudian menundukkan matanya setelah tatapan pertama, maka Allah menjadikan tindakannya itu suatu ibadat yang rasa manisnya dirasakan oleh hati orang yang melakukannya.” (Hr. Ahmad dalam Musnad-nya).
Al-Junayd sedang duduk-duduk bersama Ruwaym, Al-Jurairy dan Ibnu Atha’. Al-Junayd berkata : “Seseorrang tidak akan selamat kecuali bila berlindung secara ikhlas kepada Allah.” Allah swt. berfirman : “Dan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta (berjihad), hingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Qs. At-Taubah :118).
“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa kaena kemenagan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (Qs. Az-Zumar : 61).
Al-Jurairy berkata : “Seseorang akan selamat hanya dengan tekun beribadat. Allah swt. berfirman : “.... (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (Qs. Ar-Ra’ad :20).
Ibnu Atha’ menegaskan : “Seseorang akan tidak selamat kecuali dengan sikap malunya di hadapan Allah swt. Allah swt. berfirman : “Tidakkah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya.” (Qs. Al’Alaq :14). “Bahwa sanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.: (Qs. Al-Anbiya :101).
Dikatakan, seseorang tidak akan selamat kecuali dengan pilihan yang telah ditetapkan atas dirinya. Allah swt. berfirman : “Dan kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-nabi dan Rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Qs. Al-An’am :87).
W A R A’
Diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghiffary, (Abu Dzar adalah Jundub bin Junadah al-Ghiffary (wafat 23 H/652 M.) dari bani Ghiffar, seorang sahabat yang telah dulu masuk Islam. Beliau sangat jujur dan memiliki keteladanan. Tinggal di Damaskus), bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sebagian dari kebaikan tindakan keIslaman seseorang adalah bahwa ia menjauhi segala sesuatu yang tidak berarti.” (H.r. Malik Bin Anas, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Syeikh Abu Ali ad.daqqaq mengatakan : “Wara’ adalah meninggalkan apa pun yang syubhat.” Dmeikian pula, Ibrahim bin Adham memberika penjelasan : “Wara’ adalah
meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan.”
Abu Bakr ash.Shiddiq r.a. berkaa : “Kami dahulu selalu meninggalkan tujuhpuluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal yang dihal-halalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang haram.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda :
“Bersikaplah wara’, dan kamu akam nejadi orang yang paling taat beribadat di antara ummat manusia.” (H.r. Ibnu Majah, Thabrani dan Baihaqi).
As. Saru berkata : “Terdapat empat orang yang wara’ di zaman mereka : Hudzaifah al-Murta’isy, Yusuf bin Asbat, Ibrahim bin Adham dan Sulaiman al-Khawwas. Mereka bersikap wara’. Dan apabia usaha untuk mendapatkan sesuatu yang halal begitu sulit bagi mereka, mereka mencarinya seminimal mungkin.”
Asy-Syibli berkomentar : “Wara’ adalah sikap menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.”
Ishaq bin Khalaf mengatakan : “Wara’ dalam bicara lebih sulit ketimbang menjauhi emas dan perak, dan zuhud dari kekuasaan lebih sulit ketimbang menyerahkan emas dan perak, karena Anda siap mengorbankan emas dan perak demi kekuasaan.”
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan : “Wara’ adalah titik tolak zuhud, sebagaimana sikap puas terhadap apa yang ada adalah bagian utama dari ridha.”
Abu Utsman mengatakan : “Pahala bagi wara’ adalah kemudahan penghitungan amal di akhirat.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Wara’ adalah berpangku pada batas ilmu tanpa menakwilkannya.”
Dikatakan : “Sekeping uang loga kecil milik Abdullah bin Marwan jatuh ke dalam sebuah sumur yang berisi kotoran, lalu ia meminta bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan membayarnya tiga belas dinar. Ketika seseorang bertanya kepadanya, ia memberikan penjelasan : Nama Allah swt. tertera pada uang itu.”
Yahya bin Mu’adz menegaskan : “Ada dua jenis wara’ : Wara’ dalam pengertian dzahir, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain karena Allah swt. dan wara’ dalam pengertian batin, yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memasuki hati Anda kecuali Allah swt.”
Ia juga berkata : “Orang yang tidak memeriksa dan meahami seluk beluk wara’ tidak akan mendapatkan anugerah.”
Dikatakan : “Orang yang pandangan atas agama jeli, akan memperoleh peringkat yang tinggi di Hari Kebangkitan”
Yunus bin Ubaid mengatakan : Wara’ berarti keluar dari segala syubhat, dan merefleksikan diri dalam setiap pandangan.”
Sufyan ats-tsaury berkomentar : “Aku belum pernah melihat sesuatu yang mudah selain wara’. Apap pun yang diinginkan oleh hawa nafsu Anda, tinggalkanlah!.”
Ma’ruf al-Karkhy mengajarkan : “Jagalah lidah Anda dari pujian, sebagaimana Anda menjaganya dari cacian.”
Bisyr ibnul Harits berkata : “Hal-hal paling sulit untuk dilaksanakan, ada tiga : Dermawan di masa-masa sulit, wara’ adalah khalwat, dan menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang Anda takuti dan Anda jadikan harapan.
Saudara wanita Bisyr al-Hafi mengunjungi Ahmad bin Hanbal dan memberitahukan kepadanya : “Kami sedang memintal di atas atap rumah, ketika obor kaum Dzahiriyah berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah diperbolehkan bagi kami memintal di dekat cahaya mereka?” Ahmad bertanya : “Siapakah Anda, (semoga Allah menjaga kesehatan Anda)?” Ia menjawab : “Saya adalah saudara wanita Bisyr al-Hafi.” Ahmad menangis, lau berkata, “Wara’ yang jujur muncul dari keluarga Anda. Jangan memintal di dekat cahaya itu!.”
Ali al-Atthar berkata : “Suatu ketika aku sedang berjalan melewati Bashrah melintasi sebuah jalan, dan aku melihat beberapa orang Syeikh sedang duduk, sementara beberapa pemuda bermain di dekatnya. Oleh karena itu aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah Anda sekalian tidak malu bermain di
depan Syeikh-Syeikh ini? Salah seorang pemuda tersebut menjawab, ‘Wara’ para syeikh ini demikian kecil sehingga kami memandang kecil mereka.”
Dikatakan bahwa Malik Bin Dinar tinggal di Bashrah selama empatpuluh tahun, ia tidak pernah memakan kurma kering maupun yang masih segar dari kota tersebut. Sampai saat musim berlalu, ia berkata, ‘Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku, tidak kurang juga tidak pernah bertambah!.”
Seseorang bertanya kepada Ibrahim bin Adham, “Mengapa Anda tidak minum Zam-zam?” Ia menjawab : “Apabila aku mempunyai timba, aku akan meminumnya.”
Apabila al-Harits al-Muhasiby mengambil makanan yang syubhat, maka urat di ujung jarinya berdenyut, dan ia menganggap bahwa makanan tersebut syubhat.
Suatu ketika Bisyr al-Hafi diundang ke jamuan makan, dan dihidangkan makanan di depannya. Ia hendak menyantap makanan itu, tetapi tangannya tidak dapat digerakkan, Ia berusaha menggerakkannya hingga tiga kali. Seseorang yang akrab dengan situasi ini mengatakan : “Tangannya tidak pernah mengambil makanan yang syubhat. Percuma saja tuan mengundang Syeikh ini.”
Ketika Sahl bin Abdullah ditanya tentang halal yang murni, ia menjawab : “Yaitu yang di dalamnya tidak pernah dicampuri maksiat kepada Allah swt. Dan Halal yang murni adalah yang Allah tidak dilupakan di dalamnya.”
Hasan al-Bashry memasuki Mekkah, ia melihat salah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib r.a. bersandar ke Ka’bah dan berceramah di hadapan sekumpulan orang. Hasan bergegas menghampirinya, lalu bertanya : “Siapakah yang menguasai agama-agama?” Ia menjawab : “Orang wara’.” Hasan bertanya lagi : “Apakah yang merusak agama?” Ia menjawab : “Kesereakahan.” Maka Hasan mengaguminya, seraya berkata : “Bobot sebutir wara’ yang cacat adalah lebih baik ketimbang bobot seribu hari berpuasa dan shalat,”
Abu Hurairah mengatakan : “Sahabat-sahabt dalam majelis Allah swt, di akhirat adalah orang-orang yang wara’ dan zuhud.”
Sahl bin Abdullah berkata : “Apabila wara’ tidak menyertai seseorang, ia tidak akan pernah merasa kenyang, sekalipun diwajibkan baginya makan kepala gajah.”
Sedikit minyak kasturi yang berasal dari rampasan perang dibawa ke hadapan Umar bin Abdul Aziz. Katanya : “Manfaat satu-satunya adalah aroma keharumannya, dan aku tiak ingin hanya diriku sendiri yang mencium aromanya, sementara seluruh kaum Muslim tidak berbagi mambauinya.”
Ketika ditanya tentang wara’ Abu Utsman al-Hiry berkata : “Abu Shalih Hamdunal al-Washshar berada bersama salah seorang sahabatnya yang sedang menjelang maut. Orang tersebut meninggal, dan Abu Shalih memadamkan lampu. Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu ia mengatakan. “Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu ini menjadi milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan miliknya!.”
Hamisan berkata : “Aku meratapi dosaku selama empatpuluh tahun. Salah seorang sauddara mengunjungiku, dan kubelikan sepotong ikan rebus untuknya. Ketika ia selessai memakannya, aku mengambil sebongkah lempung dinding milik tetanggaku, sampai ia dapat membersihkan tangannya, dan aku belum meminta haalnya.”
Seseorang sedang menulis suatu catatan saat ia tinggal di sebuah rumah swa dan ingin mengeringkan tulisannya dengan debu yang dapat diperoleh dari dinign rumah tersebut. Ia teringat bahwa rumah yang ditempatinya adalah ruamh sewa, akan tetapi ia bependapat bahwa hal itu tidaklah penting. Karenanya, ia pun menegeringkan tulisan tersebut dengan debu. Kemudian ia mendengar sebuah suara mengatakan : “Orang meremehkan debu akan melihat betapa lama perhitungan amalnya kelak.”
Ahmad bin Hanbal – semoga Allah melimpahkan kasih sayang kepadanya – menggadaikan sebuah ember kepada seorang penjual bahan makanan di Mekkah. Ketika ingin menebusnya, penjual bahan makanan tersebut mengeluarkan dua ember, sembari mengatakan “Ambillah, yang mana ember milik Anda.?” Ahmad menjawab : “Saya ragu. Oleh karena itu,
simpan saja, baik kedua meber maupun uang itu untuk Anda!” Penjual makanan tersebut memberri tahu, “Inilah ember Anda. Saya hanya ingin menguji Anda.” Ahmad menyahut : “Saya tidak akan mengambilnya.” Lalu pergi, dengan meninggalkan ember kepunyaannya kepada si penjual bahan makanan.
Sayyab Ibnul Mubarak membiarkan kudanya yang mahal berkeliaran dengan bebas ketika ia sedang melkukan shalat dzuhur. Kuda tersebut merumput di ladang milik Kepala Desa. Akhirnya, Ibnul Mubarak meninggalkan kuda tersebut dengan tidak mengandarainya. Dikatakan bahwa Ibnul Mubarak sutu ketika pergi pulang dari Marw ke Syria, gara-gara telah meminjam sebuah pena dan lupa mengembalikannya.
An-Nakha’y menyewa seekor kuda. Ketika cambuknya terlepas dari tangan dan jatuh, ia pun turun seraya mengikat kudanya, dan berjalan untuk memungut cambuk tersebut. Seseoang berkomentar, “Akan lebih mudah sandainya Anda mengendalikan kuda Anda menuju tempat di mana cambuk itu jatuh dan kemudain mengambilnya.” An-Nakha’y menyahut : “Aku menyewa kuda itu untuk pergi ke arah sana, bukan ke arah sini.”
Abu Bakr ad-Daqqaq berkata : “Aku berkelana di padang belantara bani Israil selama limabelas hari, dan ketika tiba di sebuah jalan, seorang prajurit menemuiku dan memberi seteguk air minum. Air itu menumbuhkan penderitaan dalam hatiku, dan aku menderita selama tigapuluh tahun.”
Rabi’ah Adawiyah menjahit bajunya yang sobek di dekat lampu sultan, tiba-tiba ia tersentak den kemudian sadar. Maka, Rabi’ah pun menyobek pakaiannya, dan menemukan hatinya.
Sufyan ats-tsaury suatu ketika bermimpi mempunyai sepasang sayap yang dapat digunakan untk terbang ke surga. Kemudian ia ditanya : “Dengan apa hingga Anda dianugerahi ini?” Dijawabnya : “Wara.”
Ketika Hissan bin Abi Sinan menghampiri murid-murid al-Hasan, ia bertanya : “Hal apakah yang paling sulit bagi Anda?” Mereka menjawab : “Wara”, Ia berkata : “Tiada sesuatu yag paling mudah bagiku selain ini (wara’). Mereka bertanya : “Mengapa demikina?” Hissan bin Abi Sinan menanggapi : “Aku
belum pernah minum air dari mata air milik Anda semua selama empatpuluh tahun.”
Hissan bin Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makan-makanan berlemak atau minum air dingin selama empat puluh tahun. Seseorang bermimpi bertemu dengan Hissan bin Abi Sinan, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya. Dijelaskan oleh Hissan bin Abi Sinan : “Baik, kecuali bahwa pintu surga tertutup bagiku, karena jarum yang pernah kupinjam belum ku kembalikan.”
Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pembantu rumah tangga yang bekerja kepadanya selama bertahun-tahun dan beribadah secara khusyu’ selama empat puluh tahun. Sebelumnya ia adalah seorang penimbang gandum. Dan ketika ia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Ditanya tentang apa yang telah Allah lakukan atas dirinya?” Dijawabnya : “Baik, kecuali bahwa aku dihalangi memasuki pintu surga, disebabkan oleh debu pada timbangan gandum yang dengannya aku menimbang empatpuluh porsi gandum.
Ketika Isa putra Maryam a.s. melewati sebuah makam, seseorang berteriak dari dalam kuburnya. Allah swt. menghidupkannya kembali dan Isa bertanya kepadanya : “Siapakah Anda? Ia menjawab : “Aku adalah seorang kuli, dan pada suatu hari, saat aku mengantarkan kayu bakar untuk seseorang, aku mematahkan sepotong kayu kecil. Sejak aku meninggal, aku dianggap bertanggung jawab atas hal itu.”
Abu Sa’id al-Kharraz berbicara tentang wara’, ketika Abbas bin la-Muhtadi berlalu dihadapannya. Ia bertanya : “Wahai Abu Sa’id, apakah anda tidak mempunyai rasa malu? Anda duduk di bawah atap Abu ad-Dawaniq, minum dari penampungan air Zubaydah, berniaga dengan riba, tetapi berbicara tentang wara’.
ZUHUD
Nabi saw. bersabda :“Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah ia, karena ia dibimbing oleh hikmah.” (H.r. Abu Khallad dan di-Takhrij oleh Abu Nu’im dan Baihaqi).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Pada umumnya banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Sementara orang ada yang mengatakan, ‘Zuhud bersangkutan dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah swt. Apabila Allah swt. memberikan berkat kepada hamba-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur kepada-Nya atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya.”
Sebagian yang lain mengatakan : “Zuhud terhadap perkara yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan. Apabila hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang telah dianugerahkan Allah swt. kepadanya maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia.”
Allah swt. telah menghimbau ummat manusia untuk bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan, melalui firmannya :
“Katakanlah, Kesenangandi dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. An-Nisa’:77).
Banyak ayat lainnya yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk bersikap zuhud terhadapnya.
Sebagian orang yang mengatakan : “Apabila seorang hamba membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah swt. bersabar, dan tiak mengajukan keberatan terhadap larangan-larangan syariat untuk dilakukannya dalam menghadapi kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap zuhud terhadap harta yang dihalalkan.”
Sebagian yang lain berkomentar : “Seyogyanya bagi seorang hamba memutuskan untuk tidak memilih meninggalkan yang halal dengan bebannya, dan tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluannya harta yang halal, ia harus bersyukur kepada-Nya. Apabila Allah swt menentukan dirinya berada pada batas kecukupan hidup, maka hendaknya tidak memaksakan diri mencari kemewahan, karena kesabaran merupakan suatu yang paling utama bagi pemilik harta yang halal.”
Sofyan ats-Tsauri berkata : “Zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.
Sari as-Saqathy menegaskan : “Allah SWT. menjauhkan dunia dari para auliya’-Nya, menjauhkan dari makhluk-makhluk-Nya yang berhati suci, dan menjauhkannya dari hati mereka yang dicintai-Nya lantaran Dia tidak memperuntukkannya bagi meraka.”
Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firman-Nya, (“Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Qs. Al-Hadid :23). Sebab sang hamba tidak gembira atas apa yang dimilikinya di dunia, dan tidak pula bersedih atas apa yang tiada dimilikinya.
Abu Utsman berkata : “Zuhud alah hendaknya Anda meninggalkan dunia dan kemudian tidak peduli dengan mereka yang mengambilnya.”
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Zuhud adaah hendaknya Anda meninggalkan dunia sebagaimana adanya. ia bukan berkata “Aku akan membangun pondok Sufi (ribath) atau mendirikan masjid.”
Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Zuhud menyebabkan kedermawwanan berkenaan dengan hak milik, dan cinta yang mengantarkan pada semangat kedermawanan.”
Ibnul Jalla’ berkomentar : “Zuhud adalah sikap Anda memandang dunia ini hina di mata Anda, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi diri Anda.”
Ibu Khafif berkata : “Pertanda zuhud adalah adanya sikap tenang ketika berpisah dari harta milik.” Dikatakannya pula : “Zuhud adalah ketidak senangan jiwa pada dunia, dan melepaskan urusan hak milik itu.”
An-Nashr Abadzy berkata : “Orang zuhud selalu asing di dunia dan seorang ahli ma’rifat )’arif) adalah orang asing di akhirat.”
Dikatakan : “Bagi orang yang benar-benar bersikap zuhud, dunia akan menyerahkan diri kepadanya dengan penuh kerendahan dan kehinaan.” Oleh sebab itu, dikatakan : “Apabila sebuah topi jatuh dari langit, ia akan jatuh di atas kepala seseorang yang tidak menghendakinya.”
Al-Junayd mengajarkan : “Zuhud adalah kekosongan hati dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.”
Ulama salaf berbeda pendapat soal zuhud. Sufyan ats-Tsaury; Ahmad bin Hanbal; Isa bin Yunus dan lain-lainnya menegaskan bahwa zuhud di dunia berarti membatasi angan-angan dan keinginan. Ungkapan sebagaimana mereka tegaskan, cenderung dipahami sebagai faktor-faktor penyebab zuhud, sekaligus sebgai faktor pembangkit zuhud dan makna esensial yang mencakup disiplin zuhud itu sendiri.
Abdullah ibnul Mubarak berkomentar : “Zuhud adalah tawakkal kepada Alalh swt. dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran.
Syaqiq al-Balkhy dan Yusuf bin Asbat juga mengatakan demikian. Jadi, ini juga merupakan satu dari tanda-tandan zuhud, lantaran si hamba tidak mampu merelakan kecuali dengan tawakkal kepada Allah swt.
Abdul Wahid bin Zaid memberikan penjelasan : “Zuhud, adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Anda dari Allah swt.”
Ketika AL-Junayd bertanya soal zuhud, Ruwaym menjawab, “Zuhud adalah meremehkan dunia dan menghapus bekas-bekasnya dari hati.”
As-Sary berkata : “Kehidupan seorang zahid tidak akan baik apabila dirinya terpalingkan dari kepedulian terhadap jiwanya, dan kehidupan seorang ‘arif tidak akan baik apabila terlalu mementingkan jiwanya.”
Al-Junayd berkata : “Zuhud adalah mengosongkan tangan dari harta dan mengosongkan hati dari kelatahan.”
Ditanya tentagn zuhud, asy-Syibli menjawab : “Zuhud adalah hendaknya Anda menjauhkan diri dari segala sessuatu selain Allah swt.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Tidak akan sempurna zuhud seseorang, kecuali memiliki tiga karakter ini : Berbuat tanpa diserta keterikatan, berbicara tanpa disetai ambisi, dan kemudian tanpa adanya kekuasaan atas orang lain.”
Abu Hafs mengatakan : “Tidak ada zuhud kecuali dalam perkara yang halal, dan di dunia ini tiada yang halal, karena tiada pula zuhud.”
Abu Utsman berkata : “Allah swt. memberi seorang zahid sesuatu lebih daripada sekedar yang diinginkannya, dan Dia memberikan sesuatu kepada hamba yang dicintai-Nya kurang dari yang ia inginkan, Dia memberi hamba yang mustqim sesuai yang diinginkannya.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Orang zuhud adalah yang mengusik hidung Anda dengan bau cuka, tetapi kaum ‘arif menyebarkan keharuman minyak kasturi.”
Hasan al-Bashry berkata : “Zuhud di dunia, hendaknya Anda membenci muatan dan pendukungnya.”
Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry : “Kapan aya dapat menjauhkan diri dari dunia?” Daun Nuun menjawab : “Ketika Anda menjauhkan diri dari Nafsu.”
Muhammad ibnul Fadhl mengatakan : “Sikap memprioritaskan orang lain bagi kaum zuhud adalah pada waktu mereka berkecukupan, sedangkan kaum ksatria adalah pada waktu sangat membutuhkan.”
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Qs. Al-Hasyr : 9).
Al-Kattany mengatakan : “Sesuatu yang tidak ditentang oleh orang Kufah, tidak oleh orang Madinah, orang Irak, juga tidak oleh orang Syria, adalah zuhud terhadap dunia, kedermawanan dan berdoa supaya ummat manusia mendapatkan kebaikan.” Artinya, tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal-hal ini tidak terpuji.”
Seseorang bertanya kepada Yahya bin Mu’adz : “Bilakah saya akan memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud dan duduk dalam majelis bersama kaum zuhud?” Yahya menjawab : “Ketika Anda tiba pada suatu keadaan dalam olah ruhani (riyadhah) dalam diri Anda secara rahasia, sehingga sampai pada batas ketika Allah memutuskan rezeki kepada Anda sebelum tiga hari tidak merasakan lemah. Tetapi apabila tujuan ini tidak tercapai, maka duduk di atas karpet kaum zuhud hanyalah kebodohan, dan saya tidak dapat menjamin bahwa diri Anda tidak akan terhinakan di tengah-tengah mereka.”
Bisyr al-Hafi menegaskan : “Zuhud adalah seorang raja yang tidak menempati suatu tempat selain hati yang kosong.”
Muhammad ibnul Asy’ats al-Bikandy berkata : “Barangssiapa berbicara tentang zuhud dan menyeru manusia kepada zuhud disamping juga menginginkan sesuatu yang mereka miliki, maka Allah swt. akan melepaskan kecintaan pada akhirat dari hatinya.”
Dikatakan : “Manakala seoarang hamba menjauhkan diri dari dunia, maka Allah swt. mempercayakan dirinya kepada malaikat yang menanamkan kebijaksanaan di dalam hatinya.”
Seorang ‘Sufi ditanya : “Mengapa Anda menolak dunia>” Ia menjawab : “Karena ia telah menolakku.”
Ahmad bin Hanbal memberikan penjelasan : “Ada tiga macam zuhud : Bersumpah menjauhi perkara yang haram adalah zuhud kaum awam; Bersumpah menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam perkara yang halal adalah zuhud kaum terpilih (Khawash), dan bersumpah menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah swt. adalah zuhud kaum ‘Arifin.”