• Tidak ada hasil yang ditemukan

ZUHUD Nabi saw. bersabda :

Dalam dokumen TERJEMAH KITAB.docx (Halaman 30-64)

“Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah ia, karena ia dibimbing oleh hikmah.” (H.r. Abu Khallad dan di-Takhrij oleh Abu Nu’im dan Baihaqi).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Pada umumnya banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Sementara orang ada yang mengatakan, ‘Zuhud bersangkutan dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah swt. Apabila Allah swt. memberikan berkat kepada hamba-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur kepada-Nya atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya.”

Sebagian yang lain mengatakan : “Zuhud terhadap perkara yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan. Apabila hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang telah dianugerahkan Allah swt. kepadanya maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia.”

Allah swt. telah menghimbau ummat manusia untuk bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan, melalui firmannya :

“Katakanlah, Kesenangandi dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. An-Nisa’:77).

Banyak ayat lainnya yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk bersikap zuhud terhadapnya.

Sebagian orang yang mengatakan : “Apabila seorang hamba membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah swt. bersabar, dan tiak mengajukan keberatan terhadap larangan-larangan syariat untuk dilakukannya dalam menghadapi kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap zuhud terhadap harta yang dihalalkan.”

Sebagian yang lain berkomentar : “Seyogyanya bagi seorang hamba memutuskan untuk tidak memilih meninggalkan yang halal dengan bebannya, dan tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluannya harta yang halal, ia harus bersyukur kepada-Nya. Apabila Allah swt menentukan dirinya berada pada batas kecukupan hidup, maka hendaknya tidak memaksakan diri mencari kemewahan, karena kesabaran merupakan suatu yang paling utama bagi pemilik harta yang halal.”

Sofyan ats-Tsauri berkata : “Zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.

Sari as-Saqathy menegaskan : “Allah SWT. menjauhkan dunia dari para auliya’-Nya, menjauhkan dari makhluk-makhluk-Nya yang berhati suci, dan menjauhkannya dari hati mereka yang dicintai-Nya lantaran Dia tidak memperuntukkannya bagi meraka.”

Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firman-Nya, (“Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Qs. Al-Hadid :23). Sebab sang hamba tidak gembira atas apa yang dimilikinya di dunia, dan tidak pula bersedih atas apa yang tiada dimilikinya.

Abu Utsman berkata : “Zuhud alah hendaknya Anda meninggalkan dunia dan kemudian tidak peduli dengan mereka yang mengambilnya.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Zuhud adaah hendaknya Anda meninggalkan dunia sebagaimana adanya. ia bukan berkata “Aku akan membangun pondok Sufi (ribath) atau mendirikan masjid.”

Yahya bin Mu’adz mengatakan : “Zuhud menyebabkan kedermawwanan berkenaan dengan hak milik, dan cinta yang mengantarkan pada semangat kedermawanan.”

Ibnul Jalla’ berkomentar : “Zuhud adalah sikap Anda memandang dunia ini hina di mata Anda, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi diri Anda.”

Ibu Khafif berkata : “Pertanda zuhud adalah adanya sikap tenang ketika berpisah dari harta milik.” Dikatakannya pula : “Zuhud adalah ketidak senangan jiwa pada dunia, dan melepaskan urusan hak milik itu.”

An-Nashr Abadzy berkata : “Orang zuhud selalu asing di dunia dan seorang ahli ma’rifat )’arif) adalah orang asing di akhirat.”

Dikatakan : “Bagi orang yang benar-benar bersikap zuhud, dunia akan menyerahkan diri kepadanya dengan penuh kerendahan dan kehinaan.” Oleh sebab itu, dikatakan : “Apabila sebuah topi jatuh dari langit, ia akan jatuh di atas kepala seseorang yang tidak menghendakinya.”

Al-Junayd mengajarkan : “Zuhud adalah kekosongan hati dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.”

Ulama salaf berbeda pendapat soal zuhud. Sufyan ats-Tsaury; Ahmad bin Hanbal; Isa bin Yunus dan lain-lainnya menegaskan bahwa zuhud di dunia berarti membatasi angan-angan dan keinginan. Ungkapan sebagaimana mereka tegaskan, cenderung dipahami sebagai faktor-faktor penyebab zuhud, sekaligus sebgai faktor pembangkit zuhud dan makna esensial yang mencakup disiplin zuhud itu sendiri.

Abdullah ibnul Mubarak berkomentar : “Zuhud adalah tawakkal kepada Alalh swt. dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran.

Syaqiq al-Balkhy dan Yusuf bin Asbat juga mengatakan demikian. Jadi, ini juga merupakan satu dari tanda-tandan zuhud, lantaran si hamba tidak mampu merelakan kecuali dengan tawakkal kepada Allah swt.

Abdul Wahid bin Zaid memberikan penjelasan : “Zuhud, adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Anda dari Allah swt.”

Ketika AL-Junayd bertanya soal zuhud, Ruwaym menjawab, “Zuhud adalah meremehkan dunia dan menghapus bekas-bekasnya dari hati.”

As-Sary berkata : “Kehidupan seorang zahid tidak akan baik apabila dirinya terpalingkan dari kepedulian terhadap jiwanya, dan kehidupan seorang ‘arif tidak akan baik apabila terlalu mementingkan jiwanya.”

Al-Junayd berkata : “Zuhud adalah mengosongkan tangan dari harta dan mengosongkan hati dari kelatahan.”

Ditanya tentagn zuhud, asy-Syibli menjawab : “Zuhud adalah hendaknya Anda menjauhkan diri dari segala sessuatu selain Allah swt.”

Yahya bin Mu’adz berkata : “Tidak akan sempurna zuhud seseorang, kecuali memiliki tiga karakter ini : Berbuat tanpa diserta keterikatan, berbicara tanpa disetai ambisi, dan kemudian tanpa adanya kekuasaan atas orang lain.”

Abu Hafs mengatakan : “Tidak ada zuhud kecuali dalam perkara yang halal, dan di dunia ini tiada yang halal, karena tiada pula zuhud.”

Abu Utsman berkata : “Allah swt. memberi seorang zahid sesuatu lebih daripada sekedar yang diinginkannya, dan Dia memberikan sesuatu kepada hamba yang dicintai-Nya kurang dari yang ia inginkan, Dia memberi hamba yang mustqim sesuai yang diinginkannya.”

Yahya bin Mu’adz berkata : “Orang zuhud adalah yang mengusik hidung Anda dengan bau cuka, tetapi kaum ‘arif menyebarkan keharuman minyak kasturi.”

Hasan al-Bashry berkata : “Zuhud di dunia, hendaknya Anda membenci muatan dan pendukungnya.”

Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry : “Kapan aya dapat menjauhkan diri dari dunia?” Daun Nuun menjawab : “Ketika Anda menjauhkan diri dari Nafsu.”

Muhammad ibnul Fadhl mengatakan : “Sikap memprioritaskan orang lain bagi kaum zuhud adalah pada waktu mereka berkecukupan, sedangkan kaum ksatria adalah pada waktu sangat membutuhkan.”

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Qs. Al-Hasyr : 9).

Al-Kattany mengatakan : “Sesuatu yang tidak ditentang oleh orang Kufah, tidak oleh orang Madinah, orang Irak, juga tidak oleh orang Syria, adalah zuhud terhadap dunia, kedermawanan dan berdoa supaya ummat manusia mendapatkan kebaikan.” Artinya, tidak seorang pun yang mengatakan bahwa hal-hal ini tidak terpuji.”

Seseorang bertanya kepada Yahya bin Mu’adz : “Bilakah saya akan memasuki kedai tawakal, mengenakan jubah zuhud dan duduk dalam majelis bersama kaum zuhud?” Yahya menjawab : “Ketika Anda tiba pada suatu keadaan dalam olah ruhani (riyadhah) dalam diri Anda secara rahasia, sehingga sampai pada batas ketika Allah memutuskan rezeki kepada Anda sebelum tiga hari tidak merasakan lemah. Tetapi apabila tujuan ini tidak tercapai, maka duduk di atas karpet kaum zuhud hanyalah kebodohan, dan saya tidak dapat menjamin bahwa diri Anda tidak akan terhinakan di tengah-tengah mereka.”

Bisyr al-Hafi menegaskan : “Zuhud adalah seorang raja yang tidak menempati suatu tempat selain hati yang kosong.”

Muhammad ibnul Asy’ats al-Bikandy berkata : “Barangssiapa berbicara tentang zuhud dan menyeru manusia kepada zuhud disamping juga menginginkan sesuatu yang mereka miliki, maka Allah swt. akan melepaskan kecintaan pada akhirat dari hatinya.”

Dikatakan : “Manakala seoarang hamba menjauhkan diri dari dunia, maka Allah swt. mempercayakan dirinya kepada malaikat yang menanamkan kebijaksanaan di dalam hatinya.”

Seorang ‘Sufi ditanya : “Mengapa Anda menolak dunia>” Ia menjawab : “Karena ia telah menolakku.”

Ahmad bin Hanbal memberikan penjelasan : “Ada tiga macam zuhud : Bersumpah menjauhi perkara yang haram adalah zuhud kaum awam; Bersumpah menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam perkara yang halal adalah zuhud kaum terpilih (Khawash), dan bersumpah menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah swt. adalah zuhud kaum ‘Arifin.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Salah seorang Sufi ditanya : “Mengapa Anda menolak dunia ?” Dijawab sang Sufi : “Karena aku menarik diri dari kemewahan dan menolak menginginkannya barang sedikit pun.”

Yahya bin Mu’adz berkata : “Dunia ini bagaikan pengantin wanita. Orang yang menerimanya akan membelai rambutnya penuh kelembutan. Sedang bagi si zahid, di dalamnya akan tampak kusam, mengacak-acak rambutnya, dan membakar gaunnya. Kaum ‘Arifin, senantiasa sibuk dengan Allah swt. tidak sedikit pun menoleh pada sang pengantin wanita.”

As-Sary berkata : “Aku melaksanakan seluruh aturan zuhud dan dianugerahi segala sesuatu yang kuminta dalam doa, keculai zuhud terhadap masyarakat. Aku belum mencapai ini, dan aku pun belum sanggup menanggungnya.”

Dikatakan : “ Kaum zuhud teleh mengucilkan diri dan berkumpul hanya dengan sesama mereka saja, sebab mereka menjauhi nikmat-nikmat sementara, demi nikmat-nikmat yang abadi.”

An-Nashr Abadzy berkomentar : “Zuhud adalah memelihara darah kaum zahidin dan menumpahkan darah kaum ‘Arifin.”

Hatim al-Asham mengatakan : “Kaum zuhud menghabiskan isi dompetnya sebelum dirinya, dan orang yang berperilaku zuhud menghabiskan dirinya sebelum dompetnya.”

Al-Fudhailbin ‘Iyadh berkata : “Allah swt. menempatkan seluruh kejahatan dalam satu rumah dan menjadikan kecintaan kepada dunia sebagai kuncinya. Dia amenempatkan seluruh kebaikan di rumah yang lain dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.

D I A M

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Bahwa Rasulullah saw.

bersabda :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghomati tamunya. Dan barangsiapa beriman Kepada Allah dan Hari Akhir,

hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud).

Dari Abu Umamah, bahwasanya ‘Uqbah bin ‘Amir bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”

Beliau menjawab : “Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa-dosamu.” (Hr.Tirmidzi).

Syeikh ad.Daqqaq berkata : “Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan; penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara’, perintah-perintah dan larangan-larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Dalam waktu yang tepat adalah termasuk siffat para tokoh. Begitu pun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.”

Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan : “Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran dalah setan yang bisu.”

Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman : “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rakhmat.” (Qs. Al-A’raf :204). Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin dan Rasul saw. Firman-Nya, “ ... maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)” (Qs. Al-Ahqaf :29). Allah swt. berfirman : “... dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (Qs. Thaaha :108).

Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair berikut ini :

Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita berpisah,

Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba, Tiba-tiba kulupakan ketika kita berjumpa,

Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata-kata hampa. Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini :

Betapa banyak kata-kata yang inginn kucurahkan padamu, Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,

Segalanya jadi kelu. Juga baris berikut ini :

Kulihat bicara menghiasi orang muda,

Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang,

Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut, Dan betapa banyak pembicara yang berangan

Seandainya ia bisa DIAM.

Ada dua jenis diam : Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus pebuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh-Nya.

Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan.

Allah saw. berfirman :

“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan pra Rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka), ‘Apa jawaban kamu terhadap (seruan)mu?” Para Rasul menjawab, ‘Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu)” (Qs. Al-Maidah :109).

Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu bicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya. Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran

orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.

Ketika Dawud ath-Tha’y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia memutukan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah seorang muridnya. Ia duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber’uzlah.

Bisyr ibnu Harits mengajarkan : “Apabila berbicara menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda , berbicaralah.”

Sahl bin Abdullah menegaskan : “Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya.”

Abu Bakr al-Farisy mengatakan : “Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan.”

Salah seorang Sufi berkata : “Orang yag tidak menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol.”

Mumsyad ad-Dinawary berkata : “Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi.”

Ketika Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya : “Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan masa depan.” Dikatakannya pula : “Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan-keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.

Mu’az bin Jabal r.a. berkata : “Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat-Nya.”

Dzun Nuun al-Mishry ditanya : “Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?” Dijawab Dzun Nuun : “Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya.”

Ibnu ma’ud berkata : “Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama-lama lebih dari lidah.”

Ali bin Bukkar mencatat : “Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.”

Konon Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. (Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. adalah Abdullah bin Abi Quhaah (51 s.H – 13 H/ 573 – 634 M) Khalifah pertama dari Khulafaur Rasyidin. Orang pertama yang masuk Islam. Lahir di Mekkah, merupakan tokoh Quraisy. Beliau memerangi orang murtad dan membuka syria dan Irak), biasa engulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara.

Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya : “Engkau berbicara, dan bicaranya sangat bagus. Sekarang tinggalah bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!” Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampai wafat menjemputnya.

Manakalah asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan : “Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa).” (Qs.An-Naml:85). Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.

Ibnu Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu’adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetapi Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab : “Sudah sepatutnya begini.” Orang-orang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majelis Yahya dan duduk di pojok di mana Yahya tidak akan dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, naum secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan

: “Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku.” Dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata : “Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini.”

Terkadang seoarng pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang gyang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu. Shingga Allah swt. menjaganya terhadap pendengar yang bukan kompetennya.

Para Syeikh yang ahli mengenai tharikat ini telah menjelaskan, “Terkadang alasan diamnya seseoang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan : “Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku : “Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis-majelis dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah-ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu!.”

Salah seorang ahli hikmah berkata : “Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara.”

Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketia ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata : “Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu.” Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt. :

“Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu.” (Qs. Al-Hujurat :12).

Salah seorang Sufi berkata : “Diam adalah bahasa ketabahan.”

Sebagian mereka mengatakan : “Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam menguatkanmu.”

Dikatakan : “Menjaga lisan adalah lewat diamnya.” Ada yang mengatakan : “Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu ikat, akan menyerangmu.”

Abu Hafs ditanya : “Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali, diam atau berbicara?” Ia menjawab : “Jika si pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. Agar dapat berbicara (agar bisa menunjukkan kebaikan).”

Dikatakan : “Diam bagi kaum awam dengan lidahnya; diam bagi kaum yang ma’rifat kepada Allah swt, dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari meraka.”

Sebagian Sufi mengisahkan : “Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapan kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tiga puluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali ucapanku.”

Salah seorang Sufi mengatakan : “Jika lidah Anda didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata-kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan jika Anada berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda, sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.”

Dikatakan : “Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya.” Dikatakan juga : “Jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang ‘arif berdiam diri, ia akan berkuasa.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka

Dalam dokumen TERJEMAH KITAB.docx (Halaman 30-64)

Dokumen terkait